Apa yang Duka Ajarkan kepada Saya tentang Kasih Karunia

Saya tidak menyadari kalau saya memiliki mentalitas keselamatan berdasarkan-perbuatan, sampai saya kehilangan bayi saya tahun lalu. Saya menerima Yesus ke dalam hati saya di usia muda dan terus-menerus menerima pengajaran Alkitab yang kuat dari berbagai komunitas Kristen. Saya tahu keselamatan tidak diperoleh melalui perbuatan. Bahkan, tidak diusahakan sama sekali. Keselamatan adalah sebuah karunia.

"Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Efesus 2:8-9 (NLT)

Meskipun saya tahu kata-kata itu adalah benar, keadaan tragis yang saya hadapi membuat saya berjuang dengan rasa bersalah dan stres yang luar biasa. Dunia saya tampaknya jatuh dari porosnya setelah saya mengetahui bayi saya akan meninggal. Saya tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkan hal itu terjadi. Saya tidak mengerti bagaimana saya harus melanjutkan hidup. Saya ingat bertanya kepada konselor kedukaan, "Apa yang harus saya lakukan dengan diri saya?"

Salah satu hal yang paling sulit tentang berduka adalah menunjukkan kasih karunia kepada diri saya. Ketika kami berada dalam kondisi terguncang mengetahui bayi kami akan meninggal dan menunggu hal itu terjadi, saya sering merasa terlalu kewalahan untuk berdoa atau membaca Alkitab selama lebih dari beberapa menit. Saya menjadi lebih tidak sabar, lebih mudah marah dan lebih mudah menangis. Saya menjadi lesu dan merasa seperti tidak berbuat banyak. Kecenderungan ini meningkat setelah John, anak kami, meninggal. Bahkan ketika saya tahu bahwa saya harus beristirahat agar pulih dari operasi caesar saya, saya masih merasa gagal karena tidak menghasilkan uang, tidak membersihkan rumah, tidak melakukan saat teduh dengan konsisten, tidak memasak untuk suami saya atau tidak pergi ke gereja. Saya merasa seperti orang yang payah-orang Kristen yang payah.

Saya mengaku kepada salah satu pendeta saya, bahwa saya menghadapi perasaan bersalah. Saya merasa frustrasi dan marah karena saya terus-menerus harus bergumul dengan godaan untuk berbuat dosa. Saya berduka untuk bayi saya yang meninggal. Tidak bisakah saya berhenti saja?

Saya tidak akan pernah melupakan apa yang ia katakan sebagai jawaban balik. Ia berkata, "Kami (gereja) menerima Anda dalam kelemahan Anda, dalam kerentanan dan rasa sakit Anda." Untuk beberapa alasan, kata-kata itu mengirimkan sentakan yang menyadarkan saya: saya diterima oleh gereja karena saya diterima oleh Tuhan.

Anda mungkin berpikir bahwa seseorang yang telah lama menjadi orang percaya seperti saya tidak akan pernah melupakan realitas kasih Allah bagi kita, bahwa keselamatan saya dibeli oleh darah Kristus dan bukan oleh usaha saya untuk menjadi "baik." Namun, tragedi kehilangan anak membuat saya berjuang untuk berpikir mudah, dan kebohongan yang dijejalkan oleh Setan kepada saya (Anda tidak cukup baik, mengapa Anda tidak bisa lebih baik) membuat saya merasa malu dan putus asa. Kata-kata ramah dari pendeta saya mengingatkan saya untuk berpegang teguh kepada Tuhan dan berdiam di dalam jaminan kasih dan keselamatan-Nya.

"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi. " Roma 8:35,37

Kristus mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa saya. Ketika saya menerima Dia sebagai Juruselamat saya, Dia mengampuni semua dosa saya - dulu dan sekarang. Ketidaksabaran, kemarahan dan berbagai pergumulan yang saya hadapi tahun lalu tidak menyebabkan Allah mengangkat tangan-Nya dan berkata, "Aku menyerah berurusan dengan dia! Dia berantakan! "Saya membayangkan Tuhan melihat saya sebagai anak-Nya, putri-Nya yang baru saja kehilangan bayi, dan Dia berkata, “Aku mencintainya. Aku telah menyelamatkannya. Aku tidak akan kehabisan kasih karunia untuknya."

Saya mulai menyadari masalah sebenarnya yang saya hadapi bukanlah bergumul dengan dosa - tetapi adalah bergumul untuk mengingat bahwa Tuhan telah mengampuni saya dan telah menambahkan kasih karunia-Nya kepada saya. Tuhan tidak menyelamatkan saya dari kematian supaya saya berjalan di bumi meremas-remas tangan saya dan fokus pada segala sesuatu yang tidak saya miliki. Dia menyelamatkan saya dari kematian sehingga saya bisa menjalani kehidupan yang penuh kebebasan di dalam Kristus. Ini tidak berarti bahwa berbuat dosa tidak apa-apa, melainkan bahwa kita bukanlah hamba dosa.

“Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Galatia 5:1 (NIV)

“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,” Roma 5:20 (NIV)

Perjalanan untuk menempatkan-diri-kembali di dalam kasih karunia Allah benar-benar luar biasa. Ia telah merendahkan hati saya, menguatkan saya, memberi saya alasan untuk beryanyi ketika saya tergoda untuk putus asa, dan pada akhirnya menjadi hal yang paling membantu dalam pemulihan dari rasa kehilangan anak saya. Kasih karunia Allah ada untuk saya, entah saya bekerja sepanjang hari dan membuat makanan untuk suami saya, atau ketika saya mengambil cuti, berseru kepada-Nya dalam kesedihan dan kemudian bepergian.

Apakah Anda ingin bergabung dengan saya berjemur dalam kebebasan dan kasih karunia Allah? Dia memberikan perhentian atas beban kita, kasih karunia ketika kita gagal dan kebebasan dari rasa bersalah.

"Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku." Mazmur 94:18-19

"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." 2 Korintus 12:9 (NIV)(t/Jing Jing)

Diambil dari:

Nama situs : I Believe
Alamat URL : http://www.ibelieve.com/faith/what-grief-taught-me-about-grace.html
Judul asli artikel : What Grief Taught Me about Grace
Penulis artikel : Laura Rennie
Tanggal akses : 2 April 2014

Komentar