Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

BIOGRAFI

Sekitar abad 18, kepulauan Pasifik dikenal sebagai surganya bumi pada saat itu. Banyak penjelajah dan pedagang yang singgah di kepulauan tersebut selalu terpana dengan keindahan dari kepulauan ini. Termasuk juga para penulis antara lain: William Melville, Robert Louis Stevenson, dan James Michener mengungkapkan dengan piawai melalui novel-novel tulisan mereka.

Meskipun demikian, ada banyak jiwa yang tinggal di kepulauan Pasifik tersebut sedang sekarat karena belum mengenal Kristus. Banyak lembaga misi yang rindu untuk melayani di kepulauan ini dan banyak sumber daya manusia dibutuhkan untuk mendukung penginjilan yang dilakukan. Namun para misionaris yang diutus terkadang hanya sebentar melakukan pelayanannya. Selain karena faktor geografis yang agak sulit untuk menjangkau kepulauan-kepulauan tersebut pada masa itu, faktor terbesar yang membuat penduduk menolak kehadiran para misionaris adalah karena sikap dari para pedagang dan pelaut yang singgah di wilayah ini. Mereka datang untuk mengeksploitasi para penduduk -- termasuk dengan maraknya perdagangan budak pada masa itu -- dan sumber daya alam yang ada.

Pentingnya kebutuhan akan pilot mekanik yang ahli telah menjadi kerinduan bagi para pekerja MAF di bulan-bulan pertama mereka merintis pelayanan misinya. Pesawat pertamanya yang jatuh mengakibatkan MAF untuk sementara menghentikan pelayanannya karena tidak ada seorang pun dari pilotnya yang mempunyai keahlian untuk memperbaiki kerusakan pesawat tersebut. Dia adalah Nate Saint yang diutus ke Meksiko untuk melakukan perbaikan yang diperlukan, dan akhirnya Nate Saint menjadi salah satu pilot mekanik yang paling ahli dan inovatif sepanjang sejarah pelayanan misi penerbangan. Meskipun pernah suatu saat muncul perasaan bahwa "menjadi montir pesawat bagi Allah merupakan suatu panggilan yang kurang bermutu", Nate dan para misionaris yang bergantung pada dia mulai menyadari pentingnya pelayanan mekanik yang mereka lakukan itu.

Baru pada abad ke-20, negara-negara Indo Cina yang berlatar belakang Budha, yaitu Vietnam, Laos, dan Kamboja, dimasuki oleh para misionaris, itu pun kebanyakan merupakan pekerja dari satu badan saja, Christian & Mission Alliance (C&MA). Indo Cina merupakan daerah yang sulit bagi para misionaris. Sejak awal, tidak ada masa yang bebas dari penganiayaan hingga misionaris diusir dari negeri itu pada tahun 1970. Dalam banyak peristiwa, penduduk setempat terbuka terhadap Injil, hanya para penguasa, baik itu Perancis, Jepang, atau pun komunis, merasa terancam oleh para misionaris itu.

Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Helen Keller dilahirkan di Tuscumbia, Alabama. Pada usia 19 bulan, ia terserang suatu penyakit yang membuatnya menjadi tuli dan buta. Pada saat Helen berusia 7 tahun, orang tuanya mempekerjakan Anne Sullivan sebagai guru privatnya. Ia seorang lulusan dari Institut Perkins untuk Orang Buta. Setelah mengajar Helen selama 2 minggu, terjadi sebuah terobosan besar; Helen mampu mengerti kata "air" yang diperagakan Anne melalui tangannya dan membentuk suatu ikatan seumur hidup antara guru dan murid.

Anda mengenalku sebagai Maria Magdalena. Padahal namaku Maria. Titik. Dan aku lebih suka dipanggil begitu.

Disebut "Magdalena" karena aku berasal dari Magdala. Dan terus terang, hal itu sungguh tidak menguntungkan, sebab sekalipun kota asalku itu sebuah kota yang makmur serta merupakan pusat pertanian, industri perkapalan, dan perdagangan di Provinsi Galilea, aku tidak pernah bangga dikenal sebagai "orang Magdala". Anda barangkali mengetahui, bahwa kota Magdala memunyai reputasi buruk. Magdala, kata orang, dikenal sebagai kota yang amoral.

Marianna dibesarkan di Philadelphia, di mana ia menyelesaikan kuliahnya untuk kemudian mengambil kursus di Sekolah Alkitab Philadelphia. Ayahnya adalah seorang profesor dan penulis yang produktif. Meski demikian, kecintaan Marianna pada bahasa dan menulis tampaknya memang muncul secara alamiah. Ketika baru mulai menjadi mahasiswi, ia merasa bahwa Tuhan menuntunnya untuk terlibat dalam pelayanan penerjemahan bahasa suku. Ketika lulus, ia mengikuti Camp Wycliffe dan bergabung dengan pelayanan Wycliffe Bible Translation pada musim panas tahun 1940. Tugas pertamanya adalah menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku Chol yang tinggal di ujung selatan wilayah Chiapas di Meksiko. Jarak wilayah tersebut hanya satu hari mendaki ke wilayah suku Tzeltal tempat Bill Bentley, seorang pemuda yang pernah dikenal Marianna di Camp Wycliffe, mengerjakan proyek terjemahan juga.

Meskipun Betty Greene tidak menganggap dirinya sebagai pendiri MAF (Mission Aviation Fellowship), namun pada kenyataannya dialah yang bekerja paling banyak pada tahun-tahun pertama pengajuan konsep organisasi misi penerbangan (mission aviation) sebagai sebuah pelayanan misi khusus. Lebih jauh lagi, dia adalah staf pekerja full- time pertama dan pilot pertama yang terbang pada saat organisasi itu baru terbentuk. Meskipun dia seorang wanita, pengalaman dan keahliannya sebagai pilot tidak diragukan lagi. Betty bekerja di Air Force selama bulan-bulan pertama Perang Dunia II, menerbangkan misi- misi radar dan terakhir dia ditugaskan untuk mengembangkan beberapa proyek termasuk menerbangkan pesawat-pesawat pengebom B-17. Namun pelayanan di dunia militer bukanlah pilihan karir Betty. Oleh karena itu sebelum PD II berakhir dia telah meninggalkan dunia militer dan memulai pelayanan seumur hidupnya sebagai seorang pilot misionaris.

Dua bayi perempuan dilahirkan di tengah keluarga William (W.E.N) dan Fanny Nightingale dalam suatu perjalanan panjang keliling Eropa. Parthenope, anak pertama, lahir di Napoli, Yunani. Putri kedua diberi nama sesuai dengan nama sebuah kota di Italia, tempat dia dilahirkan pada tanggal 12 Mei 1820: Florence.

"By blood, I am Albanian. By citizenship, an Indian. By faith, I am a Catholic nun. As to my calling, I belong to the world. As to my heart, I belong entirely to the Heart of Jesus."

Lucy Jane Rider Meyer, seorang pekerja dan pengacara yang tidak kenal lelah membela perkara-perkara orang Kristen, sangat dikenal sebagai seorang diakon Metodis dan pekerja sosial. Dia dilahirkan di New Haven, Vermont, dan belajar pada beberapa perguruan tinggi, termasuk Oberlin (A.B., 1872), Philadelphia Medical School, dan Massachusetts Institute of Technology. Tahun 1879, dia menjadi profesor bidang kimia di McKendree College, Lebanon, Illinois. Tahun 1880 dia dianugerahi gelar M.A dari Oberlin dan mengikuti "World Sunday School Convention" di London. Kemudian, dia menulis literatur sekolah minggu dan menjadi sekretaris di Illinois Sunday School Association dari 1880 hingga 1884.

(Riwayat Hidup Sumi San dari Negeri Jepang) Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Sumi San dilahirkan dalam keluarga yang sederhana, ayahnya seorang pedagang pipa air, sedang ibunya adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Semasa remaja, ia harus hidup berkekurangan karena ayahnya mengalami kerugian besar dalam berdagang. Dampaknya, orang tua Sumi harus menanggung utang yang tidak sedikit jumlahnya. Demi membantu meringankan beban orang tuanya, Sumi meninggalkan kampung halamannya dan bekerja di sebuah perusahaan tekstil di Kobe. Tidak ada waktu baginya untuk memikirkan hal-hal lain di luar rutinitasnya. Waktunya ia habiskan untuk bekerja dan belajar. Semangat dan kemauan yang begitu kuat menyebabkan ia tidak memedulikan kondisi kesehatannya. Tanpa disadari, ia menderita penyakit bronkitis dan beri-beri yang menyebabkan ia harus dirawat di sebuah rumah sakit selama tiga bulan. Setelah sembuh dari sakitnya, ia dikeluarkan dari pekerjaannya. Hal ini membuatnya sangat sedih karena pekerjaan tersebut sangat ia butuhkan dan merupakan satu-satunya cara agar ia dapat membantu meringankan beban orang tuanya.

"Hana membiarkan hatinya yang remuk memaksa dia untuk datang kepada Tuhan .... Kita yang sedang mengalami berbagai tragedi -- khususnya Anda, para janda -- ketahuilah bahwa tidak ada yang dapat menyembuhkan luka seperti jika kita mendekatkan diri kepada Tuhan." (Eugenia Price)

Hana, ibu Nabi Samuel, adalah wanita mandul. Keputusasaannya untuk memiliki anak telah membuatnya mengalami depresi. Dia menangis, kehilangan selera makan, dan merasa patah hati.

Lukas 1:5-80

Elisabet adalah seorang wanita yang saleh. Perhatikan kesaksian Alkitab mengenai karakternya.

"Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat." (Lukas 1:6)

Saya tidak tahu dengan Anda, tapi terkadang saya bisa menjadi orang yang pesimis. Maksud saya, jika Anda datang kepada saya dan mengatakan bahwa Anda menemukan sepasang sepatu "Nine West" di keranjang diskon yang harganya hanya .99, bisa dipastikan, saya akan bersikeras bahwa Anda berbohong sampai saya melihat nota pembeliannya. Jika seseorang mengatakan pada saya bahwa mereka akan mengajak saya berpesiar selama 2 minggu, saya mungkin tidak akan terlalu antusias hingga saya benar-benar berada di atas kapal. Apa yang bisa saya katakan? Saya tidak suka dikecewakan.

Pages