Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Loading

Cara Berkomunikasi

Untuk berkomunikasi secara efektif kita tidak bisa hanya menyatakan apa yang kita terima melalui pancaindra, menuangkan pikiran, perasaan dan kemauan kita dalam bentuk perkataan atau tulisan, serta menjelaskan tindakan kita. Kita perlu belajar berbicara untuk diri kita sendiri dengan menggunakan kata ganti "aku, saya, -ku", atau menggunakan apa yang dinamakan pesan aku, bukan pesan kamu. Misalnya, "Saya saat ini masih harus menyelesaikan tugas ini dahulu. Bagaimana kalau kita membicarakannya setelah makan malam nanti?" "Saya ingin memikirkannya dahulu." "Ini harapanku." Dengan berbicara untuk diri sendiri bukannya kita lebih mementingkan diri sendiri, tetapi kita sendiri bertanggung jawab atas apa yang kita katakan. Setiap pribadi bertanggung jawab sendiri atas perkataannya sendiri. Dengan menggunakan pesan aku kita tidak membuat orang lain salah paham, bahkan marah, karena sebenarnya kita justru menghormati orang lain.

Dengan pesan aku orang lain tidak berbicara untuk kita. Banyak orang memunyai perasaan tidak senang karena haknya dilanggar bila orang lain berbicara untuknya. Orang dapat merasa dirinya dituduh bila orang lain berbicara untuknya. Misalnya "Anda tidak mendengar apa yang saya katakan!" akan dijawab dengan jengkel, "Jangan bicara sembarangan! Saya mendengarkan dengan baik!" "Itu sesungguhnya bukan apa yang kaukehendaki." Pernyataan seperti itu mungkin akan dibalas dengan agak kesal, "Tidak! Justru itulah yang kukehendaki."

Kedua, untuk berbicara secara efektif, kita perlu mengatakan dengan jelas kepada orang lain apa yang kita lihat, dengar, cium, raba, dan rasakan, termasuk segala sesuatu yang nyata dan informasi yang kita terima dari sumber lain. Misalnya, "Saya melihat lingkaran hitam di sekitar mata Anda pagi ini. Kelihatannya Anda lelah. Saya lihat Anda telah bekerja sangat keras dalam seminggu ini." Cara berkomunikasi dengan memberitahukan apa yang kita terima melalui pancaindra kita, membuat pesan kita lebih jelas dan lebih dapat diterima.

Ketiga, orang yang berbicara secara efektif mengungkapkan pikirannya, yaitu apa yang menjadi kepercayaan, tafsiran, dan pengharapannya. Misalnya, "Saya kira ini sangat penting." "Saya harap Anda menyukainya."

Keempat, orang yang membagikan perasaannya kepada orang lain akan lebih efektif dalam berkomunikasi dibandingkan dengan orang yang selalu memendam perasaannya. Bila kita menyatakan perasaan kita secara langsung, perasaan itu dapat lebih dimengerti oleh orang lain. Misalnya, "Saya sangat gembira dengan cara kita mendekor tempat ini." "Saya sangat kecewa akhir-akhir ini Anda terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga kita sama sekali tidak ada waktu untuk berkomunikasi." Perlu diperhatikan bahwa mengungkapkan perasaan tidak sama dengan menyatakan pikiran. Kadang-kadang perasaan dapat dinyatakan dengan bahasa non verbal, tetapi ini kurang efektif karena kurang jelas dan tidak ada kesempatan untuk berdiskusi.

Kelima, untuk berkomunikasi secara efektif kemauan dan keinginan kita perlu diungkapkan. Dengan demikian diharapkan orang lain dapat mengerti secara langsung apa kemauan kita untuk menjadi, melakukan, atau memiliki. Misalnya, "Pekerjaan ini menuntut Anda sering keluar kota. Saya dan anak-anak sangat kehilangan Anda dan merasa kesepian. Bila memungkinkan saya harap Anda dapat pindah pekerjaan." "Saya harap kita berdua dapat sungguh-sungguh saling memercayai." Dengan mengungkapkan kemauan, suami atau istri dapat mengetahui dengan jelas apa yang dikehendaki oleh pasangannya dan mungkin dapat membantu realisasi kemauan mereka berdua.

Keenam, komunikasi yang efektif mengungkapkan dan menjelaskan tindakan. Tindakan yang diungkapkan itu dapat berupa tindakan yang telah lampau, saat ini sedang dilakukan, atau tindakan yang akan datang. Misalnya, "Maaf, tadi saya sedang memikirkan apa yang terjadi di kantor, jadi saya tidak mendengar apa yang Anda katakan. Tolong saya diberitahu sekali lagi." Menyatakan tindakan juga mengutarakan kita sadar akan tingkah laku kita. Hal ini menunjukkan kita menghomati orang lain. Demikian juga kalimat "Saya menguap terus karena saya baru tidur pukul dua pagi. Saya bukannya bosan dengan pembicaraan kita" akan mengurangi kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Komunikasi yang menggunakan keenam cara ini pesannya dapat disampaikan dengan jelas dan sempurna. Dalam komunikasi yang penting bukan berapa panjang pesan kita, tetapi berapa jelas pesan yang kita sampaikan. Mungkin dengan mengombinasikan dua Cara atau lebih, pesan kita dapat dimengerti oleh orang lain dengan lebih jelas.

Yang tidak kalah pentingnya dalam komunikasi adalah mendengar. Suami atau istri yang sungguh-sungguh mendengar apa yang dikatakan pasangannya, bisa mengerti apa pikiran, perasaan, kemauan, dan tindakan pasangannya. Sebagai pendengar yang baik kita berhenti sejenak dari kegiatan yang sedang kita lakukan, menatap mata orang yang berbicara kepada kita, dan mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakannya.

Suami istri yang mendengarkan dengan baik, memberi kesempatan pada pasangannya untuk berbicara sampai selesai. Pembicaraan pasangannya tidak dipotong di tengah jalan dengan mengatakan, "Sudahlah! Cukup! Saya sudah mengerti kemauanmu dan apa yang akan Anda katakan" lalu cepat-cepat pergi. Orang yang berbicara seperti ini sering kali dapat memicu kesalahpahaman dan ketidakpuasan. Dia akan dijawab dengan kesal, "Hem ... Bagaimana kau dapat mengerti kalau mendengar penjelasan saya sampai selesai saja tidak mau!"

Pendengar yang baik aktif berpartisipasi dengan apa yang dikatakan orang lain. Dia bertanya bila merasa kurang jelas, memberikan reaksi dan tanggapan tentang apa yang dia dengar, serta orang lain diperhatikan dengan serius. Bila Anda berusaha berkomunikasi seperti disebutkan di atas, maka tunangan Anda dan kelak pasangan Anda akan merasa lebih dimengerti, lebih diperhatikan, dan komunikasi yang lebih terbuka dalam keluarga Anda dapat dijalankan.

Diambil dari:

Judul buku : Bimbingan Pranikah: Buku Kerja bagi Pasangan Pranikah
Judul artikel : Cara Berkomunikasi
Penulis : Dr. Vivian A. Soesilo
Penerbit : SAAT, Malang 1998
Halaman : 48 -- 50

Komentar


GUBUK

Gudang Buku Kristen

  • Wanita Pilihan Allah
  • A Woman and Her God
  • Wanita Unik
  • Perjalanan Hidup Wanita Menuju Hati Allah Woman After God's Own Heart What Happens When Woman Pray Disciplines of the Beautiful Women