Ditemukan

Di dalam Kitab Injil kita membaca bagaimana Maria Magdalena pergi hendak mengurapi tubuh Yesus dengan rempah-rempah. Saat itu masih dinihari sebelum fajar. Maria sudah pergi ke tempat kubur lebih dini, dimana Yusuf dan Nikodemus membaringkan mayat Yesus di dalamnya. Ia heran, karena batu sudah terguling dari pintu, dan Yesus hilang. Kebingungan, ia lari menuju Simon Petrus dan Yohanes dan memberitahukannya. Memang benar: yang tersisa dalam kubur hanya kain linen yang membungkus tubuh Yesus. Mayat Yesus sudah tidak ada.

Maka para murid memutuskan untuk pulang kembali ke rumah mereka di Galilea. Namun Maria, tinggal di luar kubur dan menangis. Sambil menangis, ia membungkuk untuk melihat sekali lagi ke dalam kubur. Apakah Dia benar-benar hilang? Kali ini ia melihat dua malaikat berjubah putih duduk di tempat Yesus dibaringkan sebelumnya. “Hai perempuan, mengapa kamu menangis?” mereka bertanya kepadanya. “Mereka telah mengambil Tuanku,” jawabnya, "dan aku tidak tahu dimana mereka meletakkan-Nya.”

Maria hilang akal, sangat berduka, karena tidak dapat menemukan Tuannya. Lalu tiba-tiba ia memperhatikan seseorang di belakangnya – tukang kebun mungkin? “Hai perempuan, mengapa kamu menangis?” Dia bertanya kepadanya. “Tuan, jika Engkau telah membawanya pergi, katakan kepadaku dimana Engkau meletakkan Dia, dan saya akan mengambil-Nya.” Maria akan melakukan apapun dan pergi kemanapun untuk mendapatkan tubuh Yesus kembali. Dia, seperti manusia lainnya layak mendapatkan tempat peristirahatan yang sepantasnya.

Kemudian ia mendengar namanya, “Maria.” Seketika itu Maria mengenali Tuannya. Dia memeluk-Nya dan tidak mau melepaskan-Nya.

Ketika Yesus menyebut namanya – “Maria” – segalanya berubah. Ia mencari Yesus, namun Yesus yang menemukannya. Marialah yang terhilang, bukan Dia. Marialah yang membungkuk dengan putus asa di kubur yang butuh untuk diangkat. Yesus, yang hidup, bangkit dari kematian, menemukan Maria dan mengubah hidupnya.

Demikian juga dengan murid-murid Yesus yang lain. Kleopas sedang dalam perjalanan menuju Emaus, sedang memikirkan bersama dengan seorang teman mengenai semua yang telah terjadi terhadap Yesus. Murid-murid yang paling dekat dengan Yesus meringkuk bersama-sama di balik pintu yang terkunci di Yerusalem, berkabung dan ketakutan kalau-kalau mereka juga akan ditangkap. Yang lain kembali pulang menangkap ikan, tidak tahu lagi apa yang bisa dilakukan. Namun, entah itu di jalan menuju Emaus, kebingungan, atau ketakutan di dalam ruangan yang terkunci, atau di kapal mereka, bekerja dan frustrasi karena usaha yang mengecewakan menangkap ikan, Yesus datang kepada umat kepunyaan-Nya. Di tengah kebutuhan mereka Dia menyebut nama mereka – “Tomas,” “Simon Petrus,” “Kleopas” – dan mata mereka dicelikkan, hati mereka berkobar-kobar, dan mereka percaya.

Murid-murid, terserak dan tanpa tujuan, masing-masing dengan caranya sendiri ditemukan oleh Yesus, dibawa kembali pada kehidupan oleh Dia yang terus melakukan pekerjaan Bapa-Nya. “Mengapa mencari di antara orang mati?” dua malaikat itu bertanya kepada Maria. “Dia tidak ada di sini; Dia telah bangkit!”

Ya, Yesus tidak ada, hilang. Namun Dia hidup. Satu per satu murid-murid-Nya bertemu dengan-Nya, diperbarui, dan diubahkan untuk selamanya. Yesus yang bebas, mencari semua orang yang tidak dapat menemukan Dia, mencari semua orang yang tidak bisa lagi mencari, menampakkan diri-Nya kepada orang yang harapan dan kepercayaannya telah sirna.

Seperti kepada Maria, Yesus juga datang kepada kita. Namun jika kita tidak berhati-hati, kita mungkin tidak akan melihat Dia. Kita juga mungkin terlalu sibuk dengan dunia materi, membungkuk karena beratnya hal-hal yang tidak abadi. Mungkin bahkan kita mencari-cari dimana Yesus tidak dapat ditemukan: dalam gedung dan buku-buku, tempat-tempat suci dan waktu-waktu teduh, pengakuan dosa dan pengakuan iman. Yesus tidak ada di sana.

Dan Dia pun pergi di depan kita ke berbagai “Galilea” kita yang bermacam-macam, untuk mengubah tempat-tempat yang biasa itu dimana kita merasa aman dan selamat namun di situ, meskipun dengan semua usaha baik kita, tetap saja kosong. Dia menembus tembok-tembok yang di baliknya kita bersembunyi sehingga kita bisa percaya lagi. Dia menyela kita dalam perjalanan kita sehari-hari, di tengah-tengah kebingungan dan perselisihan, untuk membuka hati dan pikiran kita bagi kerajaan Allah.

Paskah tidak boleh menjadi suatu peringatan, sekedar sebuah perayaan, atau lebih parah, sebuah diskusi atau perdebatan. Karena Yesus ingin datang kepada kita lagi dan lagi, di sini dan saat ini. Seperti kepada Maria, Dia memanggil setiap kita dengan nama. Dan Dia bertanya kepada kita: Mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari? Apa yang dengan susah payah engkau cari? Apa yang begitu meresahkan engkau? Mengapa engkau takut? Dia berbicara ke dalam hati kita, secara pribadi, langsung, sehingga kita bisa melihat Dia sebagaimana Dia sebenarnya. Tuhan kita yang hilang menemukan kita.

Yesus datang kepada semua orang yang merasa terhilang tanpa Dia. Inilah keajaiban Paskah. Dengan diri kita sendiri, kita tidak akan pernah dapat menemukan Dia. Namun Dia sanggup menemukan kita. Nama kita terucap di bibir-Nya.(t/Jing Jing)

Diambil dari:

Nama situs : Plough
Alamat URL : http://www.plough.com/en/articles/2013/april/found
Judul asli artikel : Found
Penulis artikel : Charles E. Moore
Tanggal akses : 4 Februari 2014
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar