Dua Kata untuk Menghentikan Menyalahkan Diri Sendiri

Saya tidak baik hati. Saya seharusnya begitu, tapi tidak.

Itulah yang saya pikir saat masuk ke garasi dan menutup pintu di belakang saya, duduk aman di kepompong rumah saya dan bebas dari pendapat orang lain.

Saya baru saja memikirkan seseorang yang baik hati, dan betapa saya menyukainya, dan betapa saya berharap diri saya sendiri baik hati. Saya tidak bisa menemukan cara untuk bersembunyi dari semua pikiran, dari semua pikiran mengutuk dari semua yang tidak terjadi pada diri saya.

Jika kedengarannya seperti saya telah melalui hal sebelumnya, itu karena saya memang pernah melaluinya. Pikiran-pikiran itu berbicara begitu keras sehingga tampak nyata dan benar.

Saya tidak cukup baik hati.
Saya tidak cukup bagi teman-teman saya dan suami saya.
Saya harusnya berbuat lebih banyak.
Saya kurang menjadi ibu yang baik.
Saya terlalu banyak melakukan hal-hal yang salah dan kurang melakukan hal-hal yang benar.
Saya bukan orang Kristen yang cukup baik untuk dipakai oleh Allah.
Saya tidak mungkin melangkah di luar jalan yang telah dikaruniakan Allah kepada saya, karena semua orang akan melihat kegagalan dan kelemahan saya dan mereka kemudian akan menyalahkan saya.

Saya telah berbicara dengan cukup banyak perempuan untuk menyadari bahwa saya bukanlah satu-satunya yang terjebak dalam lumpur "tidak cukup." Kita yang keras pada diri kita sendiri, dengan cepat menunjukkan jari menuduh ke dalam, dan cenderung untuk percaya bahwa pikiran kita yang mengutuk itu ditunjukkan oleh Allah sendiri.

Berpikir Tentang Berpikir

Jadi apa yang kita lakukan ketika rasa bersalah kelas-rendah itu mengintai di sepanjang hari sehingga akhirnya menjadi keras dan memaksa? Apa yang kita lakukan saat sifat membandingkan tiba-tiba menyelinap dan membuat kita berharap menjadi sesuatu yang bukan kita? Apa yang kita lakukan ketika kita diliputi dengan perasaan "tidak cukup baik"?

Kita harus membiasakan untuk berpikir tentang apa yang kita pikirkan, untuk menolak mempercayai setiap pikiran yang bertahan. Salah satu kebenaran yang paling bermanfaat dan melegakan jiwa dalam memerangi perasaan "tidak cukup baik" adalah bahwa Roh Kuduslah yang menghukum - bukan kita yang menghukum diri kita sendiri.

Ada perbedaan besar antara penghukuman dari diri sendiri dan penghukuman dari Roh Kudus. Ketika Tuhan menghukum, Dia mengemukakan secara spesifik kepada kita tentang dosa kita. Sebagai contoh: "Kau salah tidak memberikan pengampunan ketika temanmu memintanya" Dia menggunakan ayat Kitab Suci tertentu. Dan kebaikan-Nya kepada kita mengarah pada akhir yang penuh harap akan pertobatan dan kepercayaan.

Penghukuman diri sendiri dan penghukuman dari musuh, sebaliknya, bersifat luas, mengutuk, dan mengalahkan. Ini mengarah kembali ke diri sendiri: "Berusahalah lebih keras dan lakukan yang lebih baik" Saya bisa membuat daftar hal-hal yang harus dilakukan, menulis catatan tempel untuk mengingatkan diri tentang hal-hal itu, dan bersumpah untuk mengubah diri saya sendiri, tetapi saya hanya akan segera berakhir dengan kembali di mana saya mulai - tenggelam dalam rasa bersalah dan penghukuman.

Menolak Mengutuk Diri Sendiri

Ketika kita merasakan kecaman, tanggapan langsung kita adalah menopang diri dengan kata-kata basi tentang percaya diri atau beralih ke orang lain yang mungkin memberikan kita pujian. Hal-hal ini adalah penopang. Kebenarannya adalah kita tidak cukup baik.

Apakah Anda membaca di Alkitab apa yang Yesus minta dari kita? Bersukacita senantiasa. Menganggap cobaan sebagai berkat. Mengasihi musuh. Selalu menempatkan kepentingan orang lain di atas kepentingan kita sendiri.

Jadi, bagaimana cara saya menolak untuk mengutuk diri sendiri dan mengaplikasikan kebenaran Alkitab? Fakta yang sulit adalah saya tidak bisa melakukannya. Saya benar-benar tidak cukup baik.

Ini mungkin tampak kontra-intuitif untuk melawan "tidak cukup baik" dengan menyetujui bahwa kita tidak cukup baik, tapi ini adalah langkah pertama menuju sukacita abadi.

Akan tetapi, itu bukan langkah terakhir. Untuk mendapatkan sukacita ini kita membutuhkan bantuan. Alih-alih berputar kembali ke sumpah dan usaha sendiri, kita harus belajar untuk melihat ketidakmampuan kita dan kemudian menambahkan dua kata di ujungnya: Tetapi Tuhan atau Tetapi Kristus.

Tetapi Tuhan

Hal itu diaplikasikan seperti ini (dalam lima contoh):

  1. Saya sudah mati secara rohani dalam dosa saya, tetapi Tuhan telah membuat saya hidup secara rohani.

    “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita” (Efesus 2:4).

  2. Saya dipanggil untuk menaati perintah-perintah Allah yang benar, yang gagal saya penuhi, tapi Tuhan telah memberikan saya Roh Kudus untuk menolong saya. Saya sekarang memiliki semua pertolongan yang saya butuhkan dan akan mengandalkan pertolongan itu.

    "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain... Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu” (Yoh.14:15-18).

  3. Saya tidak cukup baik, tetapi Kristus dalam diri saya membuat saya bukan hanya cukup baik, tapi dibenarkan dan layak di hadapan Allah. Karena Kristus, saya tidak akan pernah menghadapi hukuman Allah.

    “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Korintus 5:21).

  4. Saya tidak bisa menjalani hidup Kristen dengan usaha sendiri, tetapi Kristus senang hidup di dalam saya. Saya hidup dengan iman, bukan usaha sendiri.

    “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

  5. Ada hal-hal yang saya tidak akan ahli dalam hal itu, tetapi Allah telah menciptakan dan memanggil saya untuk melayani Dia dengan sukacita dengan cara tertentu.

    “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10).

Betapa indahnya damai untuk diam dalam pekerjaan Kristus daripada menguraikan, mengevaluasi, dan membela-diri kemampuan kita sendiri! Betapa sukacita mengetahui bahwa Allah telah menyediakan bukan hanya keselamatan kita, tapi juga kehidupan kita sehari-hari! Dan ini adalah buah yang pasti - damai dan sukacita - untuk diperhatikan bagi kita bahwa "tetapi Tuhan" yang mengerjakan yang "tidak cukup baik" dari kita.

Saat masuk ke garasi hari itu dan duduk berdoa dalam keheningan, saya memilih untuk melepaskan ketakutan saya dari penghukuman. Saya memilih untuk mengubah pikiran saya dari segala sesuatu yang bukan saya, menjadi segala sesuatu yang adalah saya - semua karena kasih karunia dari "tetapi Tuhan".

Oleh kasih karunia saya dibebaskan untuk melihat peran saya, tanggung jawab saya, dan peluang saya melalui mata iman dan percaya kepada-Nya. Saya memilih untuk percaya bahwa saya sama sekali tidak memiliki alasan untuk takut, terutama terhadap orang-orang lain dan pendapat mereka tentang saya. Saya memilih untuk percaya pada janji "tetapi Tuhan" melebihi menghukum diri sendiri yang "tidak cukup baik". (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Desiring God
Alamat URL : http://www.desiringgod.org/articles/two-words-to-stop-self-condemnation
Judul asli artikel : Two Words to Stop Self-Condemnation
Penulis artikel : Christine Hoover
Tanggal akses : 19 Maret 2015
Kategori Tips: 
Tipe Bahan: