Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

KELUARGA

Untuk apa menikah?

  1. Supaya dicintai.
  2. Supaya tidak lagi kesepian.
  3. Memiliki anak.
  4. Memiliki pasangan untuk berhubungan intim.
  5. Supaya lebih aman di bidang keuangan.
  6. Menjalani kehidupan normal seperti orang banyak.
  7. Untuk berbagi tugas kehidupan sehari-hari.
  8. Untuk memenuhi kebutuhan emosional paling mendalam.

Diringkas oleh: S. Setyawati

Terkadang, anak-anak menjadi nakal untuk mendapatkan perhatian. Ada banyak orang tua yang lebih tergugah oleh kelakuan yang buruk daripada yang baik. Oleh karena itu, ketika anak kita ingin mendapatkan perhatian kita dan menikmati kebersamaan dengan kita, ia akan melakukan keanehan-keanehan dan kenakalan-kenakalan yang ekstrem. Bagi anak-anak maupun remaja, bukti kasih orang tua dapat ditunjukkan dengan menyediakan waktu bersama mereka, entah itu waktu untuk bermain bersama, memasak bersama, maupun mendengarkan mereka ketika mereka ingin bercerita kepada kita.

Disadur oleh: S. Setyawati

Tokoh wanita dalam Perjanjian Lama ada banyak, salah satunya adalah Naomi. Siapakah Naomi? Naomi adalah istri Elimelekh. Nama Naomi memiliki arti "kesukaanku, manis, dan menyelenggarakan". Ia memiliki dua anak laki-laki yang bernama Mahlon dan Kilyon (Rut 1:2). Dari kedua putranya itu, ia mendapatkan menantu Orpa dan Rut (Rut 1:4-5).

Remaja, Tolaklah Segala Dampak Buruk bagi Dirimu!

Masalah perceraian bukanlah masalah baru dalam sejarah umat manusia. Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia cenderung mengabaikan ketetapan Allah tentang arti sebuah pernikahan. Terdapat kecenderungan pada masyarakat moderen dewasa ini yang memandang masalah perceraian bukanlah suatu tindakan yang dapat mendatangkan aib atau perlu ditutup-tutupi.

Bahkan di kalangan orang Kristen pun tingkat perceraian semakin hari semakin marak saja. Ada yang dilakukan secara terang-terangan, tetapi banyak juga yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Diringkas oleh: S. Setyawati

Pernikahan itu ibarat suatu perjalanan panjang yang penuh sukacita dan menyenangkan jika dipersiapkan dengan matang. Sebaliknya, pernikahan juga bisa menjadi suatu relasi yang menjengkelkan dan menjemukan jika masing-masing pasangan tidak mempersiapkan, membina, dan mempertahankannya.

Diringkas oleh: S. Setyawati

Dalam masyarakat yang modern, membesarkan anak yang sehat secara jasmani, rohani, dan emosi menjadi tugas yang semakin sulit. Banyaknya tantangan yang ada di dunia luar, seperti penggunaan obat-obatan terlarang dan tindak kekerasan di kota-kota besar, membuat orang tua kian resah dan was-was. Banyak orang tua akhirnya memilih untuk memberikan pendidikan kepada anak di rumah (Home Schooling).

Ditulis oleh: S. Setyawati

Yokhebed adalah salah satu tokoh wanita yang ada dalam Alkitab. Ia adalah putri Lewi, yang menikah dengan keponakannya, Amram. Dialah yang melahirkan Miryam, Harun, dan Musa (Keluaran 6:19; Bilangan 26:59). Ketika Yokhebed melahirkan Musa, keadaan di negerinya sedang tidak aman. Firaun, Raja Mesir, khawatir bahwa jumlah Bangsa Ibrani akan lebih banyak daripada jumlah penduduknya sendiri. Karena itu, Firaun mengeluarkan perintah agar semua anak laki-laki yang dilahirkan oleh Bangsa Ibrani harus dibunuh. Hal ini tentu membuat Yokhebed gusar dan sedih. Ia tidak ingin anak yang dilahirkannya mati. Ketika Musa lahir, Yokhebed melihat paras Musa begitu elok dan tubuhnya sehat. Ia merasa bahwa anaknya memiliki peran istimewa dalam rencana Allah. Musa begitu elok di mata Tuhan (Kisah Para Rasul 7:20). Dengan keyakinannya itu, Yokhebed mengambil keputusan untuk memperjuangkan nyawa Musa. Yokhebed dan suaminya adalah keturunan Lewi, keturunan yang diberi tugas istimewa untuk melayani Tuhan di Bait Allah. Karena itu, Yokhebed mengarahkan imannya kepada Allah. Dan, karena kesetiaannya itu, Yokhebed menerima pesan-pesan Allah dan meraih keyakinan yang mendalam tentang sesuatu yang akan dinyatakan kemudian.

Diringkas oleh: S. Setyawati

Saat ini, orang yang melakukan operasi pengguguran nonterapi semakin banyak. Pengguguran nonterapi adalah pengguguran yang dilakukan bukan untuk menyelamatkan jiwa ibu karena kehamilannya membahayakannya, melainkan untuk menutupi rasa malu dan melenyapkan tekanan batin karena kehamilan di luar nikah atau tidak direncanakan. Di Amerika Serikat, para dokter melakukan 1,5 juta pengguguran setiap tahun. Tragisnya, ada beberapa ahli kependudukan yang mengatakan bahwa pengguguran merupakan cara baru untuk mengendalikan kelahiran. Ini tidak benar! Pengguguran tidak sama dengan pengendalian kelahiran. Pengendalian kelahiran adalah sebuah cara untuk mencegah terbentuknya kehidupan, sedangkan pengguguran adalah usaha untuk melenyapkan kehidupan yang sudah terbentuk.

Diringkas oleh: S. Setyawati

Konsep tentang kesediaan berkorban dan saling melayani dapat menolong kita memperbarui aspek kerohanian dalam kehidupan suami istri. Dietrich Bonhoeffer menulis, "Pernikahan kristiani ditandai dengan disiplin dan penyangkalan diri.... Oleh sebab itu, ajaran kristiani tidak merendahkan nilai pernikahan, tetapi justru memurnikannya."(1) Sayangnya, selama ini spritualitas kristiani dalam pernikahan tidak banyak dikembangkan. Selama berabad-abad, kerohanian kristiani dianggap hampir identik dengan "kerohanian selibat". Menurut Mary Anne McPherson Oliver, hal ini "tidak memadai dan bahkan berbahaya dalam beberapa kasus, terutama bagi suami istri." Menurut Oliver, kerohanian selibat adalah semua gaya hidup agamawi yang sama sekali tidak melibatkan hubungan seksual, yang terpenting hanyalah bertanggung jawab untuk diri sendiri dan berelasi dalam hubungan yang fleksibel serta tidak terikat."(2) Pernyataan ini terkesan memojokkan kaum selibat. Dan, gambaran mereka tentang hidup yang berfokus pada diri sendiri menyadarkan kita bahwa hal itu bertentangan dengan ajaran Kristus untuk mengutamakan kepentingan orang lain. Pada satu sisi, kita pantas menghargai keputusan seseorang yang memberi diri sepenuhnya untuk melayani Tuhan. Di sisi lain, kita juga perlu memuji mereka yang memutuskan untuk memberikan diri untuk melayani Tuhan bersama dengan mitra mereka seumur hidup, bersepakat membesarkan anak-anak yang mengasihi dan melayani Tuhan, serta sesama.

"Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata." (Amsal 31:10)

Tidak hanya suami yang harus bersikap baik di dalam Kristus, istri juga memegang peranan penting dalam keharmonisan rumah tangga.

Firman Tuhan mengatakan bahwa istri yang cakap lebih berharga dibandingkan permata. Permata merupakan logam yang sangat berharga, jauh lebih berharga dibandingkan emas. Banyak sekali orang di dunia ini yang bangga jika mengenakan permata sebagai perhiasannya. Seorang istri yang cakap di dalam Tuhan jauh melebihi permata yang ada di dunia ini.

Mengapa kita kagum pada pelayanan Mother Teresa kepada orang-orang yang tak berpengharapan dan putus asa di Kalkuta? Mengapa kita kagum melihat dedikasi para misionaris di ladang-ladang pelayanan di berbagai negara? Mengapa kita bergidik ketika melihat seekor anjing diselamatkan dari sebuah tempat bertengger yang membahayakan dalam suatu banjir dan mengomentari mereka yang menolong dalam usaha tersebut?

Dalam penelitian terakhir tentang masalah rumah tangga, keberhasilan dalam pernikahan dan kebahagiaan keluarga sebagian besar bergantung pada peranan seorang ibu. Akan tetapi, kebanyakan dari mereka merasa bahwa pekerjaan ini tidak memuaskan, tidak menarik, dan sudah ketinggalan zaman. Sebab, pada zaman modern ini, mereka merasa perlu untuk merangkap suatu peranan penting di tengah-tengah masyarakat. Mereka berpikir bahwa mengurus rumah tangga hanya memerlukan sedikit pikiran dan menjadi seorang pengatur rumah tangga adalah sesuatu yang membosankan, malahan dianggap sebagai suatu kebodohan.

Kita sekarang memeriksa dua prioritas utama yang Allah berikan kepada seorang wanita melalui firman-Nya. Prioritas utama bagi seorang wanita adalah hubungan dan hidupnya bersama Tuhan. Hal ini jika dilakukan bersama Pemahaman Alkitab (PA) dan doa, akan menolongnya menjadi seorang wanita yang kata-kata dan tindakannya membawa kemuliaan bagi Allah dan berkat bagi orang lain. Prioritas kedua bagi seorang istri adalah untuk menjadi penolong suaminya. Ia harus mengasihi dan memperhatikan suaminya, menerima dengan penundukan diri peran yang Allah berikan kepadanya sebagai kepala, menghormati, dan menghargainya, serta menjadi pasangan yang baik baginya dalam hidup dan pelayanan.

Pernah dilakukan penelitian terhadap 2 orang bayi kembar, Helen dan Gladys, yang sejak usia 18 bulan dipisahkan satu dari yang lainnya. Helen dibesarkan dalam keluarga yang bahagia dengan lingkungan yang dinamis. Ia meraih gelar sarjana dalam bidang bahasa, yaitu Sastra Inggris. Sementara itu, saudara kembarnya Gladys, dibesarkan di daerah gersang, di lingkungan yang miskin "rangsangan intelektual", dan terpaksa putus sekolah karena sering sakit-sakitan.

Pages