Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

PERNIKAHAN

Mungkin persoalan dalam perkawinan akan dapat diselesaikan kalau saja setiap pasangan mengetahui kiat-kiat yang bisa dilakukan. Berikut kami sajikan beberapa petunjuk yang baik untuk diikuti.

  • Hindari percakapan yang menimbulkan perdebatan.

  • Bila kira-kira Anda tidak mampu mengontrol perbedaan pendapat yang muncul, lebih bijaksana tidak mendiskusikannya sama sekali. Apalagi kalau hanya soal sepele. Kalaupun perlu dibicarakan, tunggu sampai Anda atau pasangan Anda sudah memiliki kepala dingin, atau dapat mengontrol diri dengan berbicara tidak dengan nada tinggi.

    Ada empat rahasia yang perlu kita pelajari untuk menjaga rumah tangga kita agar tidak roboh di tengah-tengah hujan, angin ribut, dan banjir yang melanda rumah tangga kita.

    1. Menyadari arti dan pentingnya keluarga.
    2. Kembangkanlah kasih di dalam rumah tanggamu.
    3. Kembangkanlah kesetiaan sampai mati.
    4. Pusatkanlah keluargamu pada kristus.

    Kekacauan peranan dan tanggung jawab antara suami dan istri sangat berpotensi menyebabkan konflik serius dan menjadi sumber berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa suami adalah kepala bagi istri (Efesus 5:22-31) dan istri adalah penolong bagi suami (Kejadian 2:18). Namun tidak sedikit pasangan suami istri yang mengalami kebingungan bagaimana seharusnya menerapkan peranan tersebut dengan benar.

    Sebagai istri-istri, istri-istri Kristen, saya tidak berpikir bahwa kita menyadari kekuatan doa dan seberapa pentingnya dalam pernikahan. Kita memiliki tanggung jawab sebagai istri Kristen untuk menolong suami kita, dan bagian dari itu adalah berdoa untuk mereka setiap hari.

    Saya tahu bagi saya sendiri, sulit sekali berdoa untuk suami saya saat kami sedang marah. Saya berdoa pada Tuhan "Perbaiki dia!" Sayangnya, doa semacam itu tidak akan menguntungkan Anda, suami Anda, atau pernikahan Anda.

    Tuhan mengizinkan banyak ibu menghadapi persoalan dengan memunyai seorang suami yang tidak percaya, tidak ada simpati terhadap kekristenan. Menurut Ceil Rosen dalam sebuah artikel berjudul "My Fateful Choice" dalam majalah "The Christian Reader" edisi November/Desember 1977, jika Anda menghadapi persoalan yang sama, ada dua faktor yang dapat menolong Anda untuk mengatasinya dengan memuaskan.

    Hak dan Kewajiban Suami Istri

    Dengan telah dipersatukannya seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam suatu pernikahan, maka mereka yang dahulunya merupakan pribadi-pribadi yang "bebas" kini menjadi terikat satu sama lainnya. Masing-masing harus mulai membagi segala hal dengan pasangan hidupnya, dan dibatasi kebebasannya. Demi untuk terpeliharanya rumah tangga yang mereka bangun bersama, maka hukum memberi penuntun mengenai hak dan kewajiban suami istri. Beberapa hal yang penting ialah:

    Untuk berkomunikasi secara efektif kita tidak bisa hanya menyatakan apa yang kita terima melalui pancaindra, menuangkan pikiran, perasaan dan kemauan kita dalam bentuk perkataan atau tulisan, serta menjelaskan tindakan kita. Kita perlu belajar berbicara untuk diri kita sendiri dengan menggunakan kata ganti "aku, saya, -ku", atau menggunakan apa yang dinamakan pesan aku, bukan pesan kamu. Misalnya, "Saya saat ini masih harus menyelesaikan tugas ini dahulu. Bagaimana kalau kita membicarakannya setelah makan malam nanti?" "Saya ingin memikirkannya dahulu." "Ini harapanku." Dengan berbicara untuk diri sendiri bukannya kita lebih mementingkan diri sendiri, tetapi kita sendiri bertanggung jawab atas apa yang kita katakan. Setiap pribadi bertanggung jawab sendiri atas perkataannya sendiri. Dengan menggunakan pesan aku kita tidak membuat orang lain salah paham, bahkan marah, karena sebenarnya kita justru menghormati orang lain.

    Untuk Anda yang sedang bimbang di luar gerbang pernikahan.

    Dahulu, ada orang yang mengatakan bahwa pernikahan itu seperti sebuah benteng. Yang berada di dalam ingin keluar, tetapi yang berada di luar justru ingin masuk. Tampaknya, pendapat itu sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan sekarang ini karena banyak orang yang berada di luar ragu-ragu atau bahkan sama sekali tidak berkeinginan untuk masuk! Jika Anda termasuk salah satu dari orang-orang seperti ini, marilah kita bertukar pikiran.

    Ada seseorang yang pernah berdoa demikian, "Tuhan, berikanlah aku seorang suami. Namun tolong agar suamiku itu sudah tidak punya orang tua lagi." Mengapa ia berdoa demikian? Orang itu menjawab, "Karena saya sering menjumpai banyak keluarga yang mertuanya bersikap bukan sebagai penolong, tetapi perongrong." Memang, sering terjadi masalah antara mertua dengan menantu, khususnya antara mertua perempuan dengan menantu perempuannya.

    A: Siapa wanita dalam Alkitab yang paling bahagia?
    B: Ester, Miryam ....
    A: Salah! Yang betul adalah Hawa.
    B: Lho... mengapa Hawa?
    A: Karena Hawa tidak punya mertua!

    Itulah sebuah anekdot negatif tentang mertua. Banyak orang memunyai gambaran buruk tentang mertua. Biasanya mertua, lebih-lebih ibu mertua, digambarkan sebagai galak, bawel, cerewet, dan serba mau tahu. Akibatnya, hubungan menantu dan mertua sering digambarkan sebagai menegangkan dan sewaktu-waktu dapat meledak menjadi keributan.

    Pengertian sahabat adalah:

    1. Seseorang yang pertama-tama akan mendampingi.
    2. Seseorang yang akan melengkapi.

    Beberapa hal berikut ini dilakukan oleh seorang istri yang ingin menjadi sahabat bagi suaminya.

    "... sampai maut memisahkan kita. Amin," aku bergumam, tersipu malu dan mengalihkan pandangan ke bawah. Lalu, ia berbalik ke arahku dengan sorot matanya lembut menatap diriku, dan ia memberiku seuntai senyuman hangat yang menenteramkan. Senyuman yang sama itu sudah membuat hatiku berdebar-debar beberapa bulan yang lalu. Wajah yang sama itu telah mencuri hatiku sejak saat itu, bahkan aku terkenang akan dia dalam tidurku.

    Keberhasilan sebuah pernikahan tidak akan pernah bisa dipisahkan dari peran seorang istri. Derek Prince pernah mengatakan bahwa istri diibaratkan seperti leher bagi kepala suami. Kepala bisa berdiri karena ditopang oleh leher yang kuat. Dia menggambarkan bahwa seorang istri memiliki pengaruh yang sangat besar. Coba bayangkan apa yang akan terjadi dengan kepala kalau lehernya sakit? Apa jadinya kepala kalau leher tidak berfungsi? Kepala tidak bisa berbuat apa-apa, bukan? Saya sangat percaya bahwa istri memiliki peran signifikan bagi keberhasilan sebuah pernikahan.

    Ada pepatah kuno yang kini jarang kita dengar: "Kemurahan hati bermula di rumah." Pepatah ini merupakan nasihat yang bagus bagi kita, para istri.

    Ranjang Pernikahan

    Mari kita memulainya dari ranjang. Lingkup pernikahan merupakan hal yang penting bagi semua pernikahan Kristen yang baik. 1 Korintus 7:3-5 memberikan nasihat yang terbaik.

    Pendahuluan

    Seorang wanita Kristen akan dengan hati-hati memerhatikan bagaimana melayani kebutuhan pasangannya. Apakah pria dari Tuhan itu sudah hadir dalam hidup Anda, atau masih sedang diusahakan, Anda dapat belajar bagaimana memenuhi kebutuhannya dan mengalami kepenuhan dalam kesetiaan dan kasih. Dengan demikian, nantinya kebutuhan terbesar Anda sebagai wanita Kristen akan terpenuhi juga. Jack Zavada dari Inspiration-for-Singles.com menulis surat terbuka ini untuk para wanita Kristen, memberikan pandangan yang berguna atas kebutuhan pria. Wanita Kristen yang bijaksana akan memerhatikan hal-hal ini.

    Pages