Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Hagar

Hagar, yang paling dibutuhkannya dipenuhi oleh Yesus Kristus (Kejadian 16:1-16; Kejadian 21:1-21)

"Jika ia telah memberikan seorang pelayan untuk suaminya dan ia telah melahirkan anak-anak dan kemudian pelayan itu telah membuat dirinya sejajar dengan nyonyanya, karena ia telah melahirkan anak-anak yang nyonyanya tidak akan menjualnya demi uang, ia akan menurunkannya ke dalam perbudakan dan memperhitungkannya di antara budak-budak perempuan." (Hukum-Hukum Raja Hammurabi -- dari The Women of the Bible oleh Herbert Lockyer, halaman 62. Hak cipta tahun 1967 oleh Zondervan Publishing House. Digunakan dengan izin)

Hagar berjalan dengan lambat di sepanjang jalan setapak yang tidak rata. Kakinya panas dan pergelangan kakinya terluka dengan setiap langkah dan lipatan jubahnya yang panjang terjumbai dan terkoyak. Jantungnya berdetak kencang karena upaya perjalanannya yang panjang; matanya terbakar karena teriknya sinar matahari.

Padang belantara di mana ia berjalan dari hari ke hari tidak memberinya perlindungan. Selama hari itu terik yang amat sangat membuat pasir beruap dan angin yang panas menerbangkan debu ke mulut dan hidungnya. Di malam hari suhu udara turun dan tanah menjadi amat sangat dingin.

Meskipun berisiko, Hagar memaksa untuk menuju ke Mesir, negeri asalnya. Ia ingin kembali ke tempat di mana Sara, istri Abraham (demikian mereka dinamai), telah membelinya kira-kira 25 tahun sebelumnya dan kemudian membawanya ke Kanaan sebagai budak.

Sementara ia berjalan, ia merefleksikan tahun-tahun yang telah berlalu. Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun yang baik. Meskipun ia seorang budak perempuan, ia telah menikmati hidup yang baik. Di samping itu, ia pikir, aku telah memiliki hak istimewa untuk hidup dengan Abraham dan Sara, yang dengannya Allah pernah membuat janji yang khusus. Melalui teladan mereka, ia dapat berelasi dengan Allah yang hidup.

Di luar kenangan-kenangan indah dari masa lalunya, tidak ada pemikiran bersyukur berkecamuk di pikiran Hagar saat ini. Jauh dari itu! Merasa bahwa ia telah diperlakukan dengan tidak benar dan bahkan dihina, ia berada dalam kerangka kepahitan pikiran.

Dengan cara yang aneh, Hagar mengalami konsekuensi dari situasi yang buruk di dalam rumah tangga Abraham. Ketika ia pindah dari tanah antara Efrat dan Sungai Tigris ke Kanaan, Allah telah menjanjikan kepada Abraham seorang anak laki-laki. Melalui anak laki-laki tersebut, Abraham telah diberitahu bahwa ia akan menjadi bapa dari banyak bangsa (Kejadian 12:1-5).

Tetapi tahun-tahun berlalu dan anak laki-laki itu tidak muncul. Kuatir, Sara mendapat ide bahwa anak yang dijanjikan akan dilahirkan dari seorang gundik, istri yang kedua, bukan dirinya. Menurut hukum pada waktu itu, praktik seperti itu diperbolehkan. Nyatanya, seorang bayi lahir dari rencana ini secara sah dianggap menjadi anak dari istri yang sah dan ahli waris yang sah. Untuk menjalankan rencana tersebut, Sara mempertimbangkan Hagar, yang menduduki posisi yang menguntungkan dalam lingkaran keluarga. Setelah Hagar menjadi istri kedua Abraham, tidak lama kemudian ia memberitahukan kabar gembira, “Aku hamil!”

Sebelum kehamilan Hagar, Abraham, karena ia tidak memiliki seorang anak laki-laki (Kejadian 15:2-5), telah mengira bahwa kepala rumah tangganya, Eliezer, akan menjadi akhir warisnya yang sah. Tetapi sekarang, melalui Hagar, anak yang Allah telah janjikan kepadanya sekali lagi akan muncul ke permukaan. Meskipun Abraham memiliki alasan untuk berharap bahwa ahli warisnya adalah anak laki-laki dari Sara, sampai pada titik itu Allah tidak pernah menyebutkan kepadanya siapa ibunya. Ia telah menunggu 13 tahun untuk Allah memberikan kepadanya jawaban itu (Kejadian 17:15-13).

Segera, terbukti bahwa pemecahan Sara telah menjadi satu pemecahan yang benar-benar manusiawi. Berkat Allah terhadap Hagar tidak pernah dimintakan dan tidak diberikan. Karena tidak sabar dan meragukan kemampuan Allah untuk bekerja dalam situasinya, Sara telah memilih caranya sendiri dan Abraham telah menyetujuinya terlalu cepat terhadap rencananya. Tidak heran damai Allah meninggalkan rumah itu.

Pada waktu itu dalam sejarah, seorang perempuan yang tidak mempunyai anak dipandang rendah oleh semua orang. Sayangnya, Hagar tidak menanggapi kesempatan untuk mengkomunikasikan perasaan seperti itu terhadap Sara. Kemudian, sekarang, beberapa hal di dunia ini sangat tidak kentara dan disebarkan dengan amat jelas seperti perasaan antara satu perempuan dengan yang lainnya.

Sara sebaliknya bereaksi terhadap komunikasi non-verbal Hagar. Ia juga tahu senjatanya dan bagaimana menggunakannya. Sebagai seorang nyonya, ia memiliki hak yang pertama dan tertua, suatu kenyataan yang ditegaskan oleh hukum-hukum pada zamannya. Bahkan sekarang Hagar bertahan pada milik pribadinya, melakukan seperti yang ia suka.

Tidak dapat mendekati Hagar tanpa izin Sara, Abraham juga tidak dapat mencegah Sara menggunakan kekuasaannya untuk menghina Hagar.

Meskipun ketiganya semua telah melanggar hukum Allah dan sama-sama bersalah dalam pandangan-Nya, dapat dimengerti bahwa tindakan Hagar sangat melukai Sara. Luka ini sebagian menjelaskan perlakuan Sara yang mengerikan terhadap Hagar. Tetapi, pengetahuan atas ketidakpastian batin Sara tidak membuat penghinaan Hagar lebih mudah untuk kita terima.

Hagar, lelah atas perlakukan Sarah, akhirnya kehilangan kesabarannya. Tanpa izin, ia melarikan diri ke padang belantara. Dengan cara ini, ia, sesuai dengan namanya. Hagar secara harafiah berarti “berkelahi”.

Mengetahui sepenuhnya kalau ia dan anak yang belum lahir akan menghadapi kematian, ia keluar dari kemah itu. Sendirian, tanpa makanan, ia tahu bahwa ia mungkin tidak pernah mencapai tanah asalnya. Anaknya mungkin tidak pernah melihat kehidupan. Tetapi ia harus berusaha.

Dengan mengikuti naluri ia mulai berjalan ke selatan di jalan yang panjang menuju Mesir. Semakin jauh ia berjalan semakin ia mendekati bahaya. Ia telah meninggalkan komunitas tempat tinggalnya bagi padang belantara yang tidak berujung, tidak ramah. Tidak seorang manusia atau binatang buas satu pun terlihat selama bermil-mil; tidak ada seorang pun yang menolong dia.

Di suatu tempat di bagian timur laut Sinai Peninsula, Hagar mencapai sumber mata air gurun di sepanjang jalan menuju Sur. Sumber air itu menawarkan kesegaran dan kenyamanan, tetapi sumber air itu tidak meredakan kebutuhan batinnya.

Sendirian, terpisah dari keamanan dan pertemanan, ia berteriak dari keberadaannya yang paling dalam kepada Allah Abraham, satu-satunya Pribadi yang dapat menyelamatkannya. Dan Ia tidak menolaknya. Titik yang bergerak lambat di daerah gurun yang keras dari Sinai tidak lepas dari pandangan-Nya. Ia terus menatapkan mata-Nya pada Hagar sama seperti Ia terus-menerus lakukan bagi semua umat manusia.

"Hagar", Ia memanggil dengan keras, menyebutnya dengan namanya yang pertama (Kejadian 16:7-9). Ia tahu dengan tepat siapa dia.

"Hamba Sara", Ia menambahkan, menempatkannya ke dalam kerangka yang melaluinya Ia melihat dia. Di dalam mata-Nya, ia masih tetap hamba Sara. Ia tidak memulai percakapan dengan suatu omelan, meskipun di dalam keadaan itu Ia dapat melakukannya.

"Dari mana datangmu dan ke manakah pergimu?" Ia kemudian bertanya. Itu merupakan pendekatan yang tidak memperdaya yang memberi Hagar ruang untuk berbicara tentang pikirannya dengan terbuka. Yesus Kristus, yang selama tahun-tahun-Nya di dunia akan menggunakan pendekatan yang sama dengan perempuan-perempuan yang bersalah dan memenangkan hati mereka, sedang berbicara kepadanya (Yohanes 4:4-42; Yohanes 8:3-11). Yesus Kristus sendirilah yang sedang mengunjunginya dalam diri Malaikat Allah. Itu merupakan salah satu penampakan sebelum inkarnasi dari Tuhan Yesus dalam Perjanjian Lama.

Kemudian, Ia akan menyatakan Diri-Nya dalam cara yang sama kepada Abraham, bapa orang percaya (Kejadian 17:4-5), dan kepada Musa, pemberi Hukum (Keluaran 3:2-6), keduanya Alkitab menyebut sahabat-sahabat Allah (Yakobus 2:23; Keluaran 33:11). Kedua tua-tua yaitu Yakub dan Gideon, pahlawan iman, juga akan terkesan dengan amat dalam ketika mereka bertemu dengan Kristus di bawah keadaan yang sama (Kejadian 28:12-17; Hakim-Hakim 6:11-23).

Tetapi pertemuan pertama Yesus Kristus dengan seseorang yang dicatat adalah dengan Hagar, jauh sebelum Ia datang ke dunia untuk menebus manusia. Seorang wanita kafir muda yang bukan umat kepunyaan Allah, ia—ibu dari seorang anak yang belum lahir—telah datang di hadapan Allah dalam kebutuhan yang amat sangat. Allah sebaliknya menunjukkan kepadanya jalan untuk pembebasan. Dalam kerendahan dan pertobatan, ia menaati-Nya dan kembali ke kemah Abraham. Dosanya, seperti Hawa, adalah harga diri. Meninggalkan semangat kebanggaannya atas pemberontakan dan kemerdekaan yang disengaja, Hagar kembali kepada Sara nyonyanya.

Bukannya menyatakan dirinya atau mengatakan tentang hak-haknya sendiri, Hagar merendahkan dirinya sendiri. Tuhan sendiri telah memberinya suatu teladan kerendahan hati ketika Ia membungkukkan Diri untuk berbicara dengannya. Kemudian, Ia merendahkan diri-Nya lebih lagi untuk menyediakan suatu jalan lain kepada orang-orang berdosa terhadap kematian (Filipi 2:5-11). Ia memberikan hidup baru kepada setiap orang yang secara pribadi mempercayakan diri di dalam Dia untuk kemuliaan Allah.

Allah, yang memberikan berkat-berkat khusus bagi mereka yang memiliki semangat untuk merendahkan diri mereka sendiri (1 Petrus 5:6), menghargai ketaatan Hagar. “Bayi yang engkau nantikan adalah seorang laki-laki,” Ia berkata. “Engkau akan menamainya Ismael [nama itu berarti ‘Allah mendengar’]. Engkau akan mendapatkan banyak keturunan, Hagar, sangat banyak sehingga tidak bisa dihitung (Kejadian 16:10-12).”

Anak laki-laki yang dinantikannya tidak akan menjadi laki-laki yang mudah hidup bersama dengan orang lain. Ia akan memiliki karakter yang liar dan tidak tunduk. Tetapi bagaimana ia harus bersukacita dalam hatinya dengan kata-kata Allah ini. Ada harapan lagi. Bukannya mengharapkan kematian, ia sekarang memiliki perspektif kehidupan. Masa depan berkembang baginya dan anaknya yang belum lahir. Yesus memiliki rencana bagi hidup mereka dan telah datang untuk berbagi dengannya secara pribadi.

“O Allah yang melihat aku!” ia berseru dalam pemujaan dan penyembahan. Tetapi ia juga takut dan sangat kagum. Aku telah melihat Allah dan aku masih hidup, ia berpikir setelah Allah meninggalkannya. Aku bisa memberitahu yang lain.

Kemudian, sumber mata air di mana ia berjumpa dengan Allah dinamai Beer-lahai-roi (Kejadian 16:14), yang diterjemahkan berarti, “sumur dari Yang Hidup yang melihat aku.” Hagar telah mengalami Allah yang sejati yang melihat dan menjawabnya selama masa ia membutuhkan.

Sepanjang ia hidup, ia mengingatkan dirinya akan kenyataan ini: Allah yang hidup telah mendengar dan bertindak.

Kira-kira 17 tahun berlalu. Ismael sekarang telah menjadi laki-laki muda yang kuat. Ishak, anak laki-laki yang dijanjikan, sekarang telah dilahirkan dan berusia tiga tahun telah siap untuk disapih.

Penyapihan anak dalam masa itu membuat banyak perayaan, karena hal itu dianggap tonggak bersejarah dalam kehidupan masa muda. Seluruh rumah tangga Abraham dan banyak teman-temannya dari kota-kota sekitar datang merayakan dan melihat sendiri keajaiban yang Allah telah lakukan bagi Abraham dan Sara. Abraham yang berusia seratus tahun dan Sara yang berusia sembilan puluh tahun telah diberkati dengan seorang anak laki-laki dalam masa tua mereka, anak laki-laki yang dijanjikan dari padanya keturunan Mesias kemudian akan berasal.

Tetapi atmosfir pesta tidak seluruhnya menyenangkan. Ismael, anak laki-laki tertua, tidak dapat mentoleransi semua perhatian yang adik laki-lakinya dapatkan dan mulai menghinanya. Tentu saja, di sana, ada banyak adegan di balik layar yang terus terjadi daripada hanya sekedar persaingan tanpa dosa antara dua saudara laki-laki. Ismael, *anak laki-laki biasa* yang dihasilkan dalam ketidakpercayaan dan ketidaksabaran, merasa rendah terhadap Ishak, anak laki-laki perjanjian. Tidak ingin menerima posisi di tempat yang kedua, Ismael menolak untuk mengakui posisi hak istimewa Ishak. Tidak menyadari janji-janji Allah kepada ibunya di padang belantara beberapa tahun yang lalu, Ismael tidak dapat menerima posisi tunduknya.

Abraham sama-sama mencintai kedua anak laki-laki tersebut, sesuatu yang seorang ayah dapat lakukan. Hanya Sara memahami apa yang terpancang. “Buanglah hamba perempuan dan anak laki-lakinya itu!”, ia menuntut kepada Abraham. “Aku tidak menginginkan dia berbagi warisanmu dengan anak laki-lakiku." (Kejadian 21:10)

Dalam menanggapi pernyataan istrinya yang keras, Abraham menjadi sedih dan bingung. Ketika ia berdoa, Allah menunjukkan kepadanya bahwa perpisahan dari kedua anak laki-lakinya itu perlu. Garis patriaki dari suku yang Allah telah pilih untuk umat-Nya di masa depan, akan berasal dari Ishak. Ia satu-satunya anak laki-laki yang dijanjikan Allah (Kejadian 4:22-23) dan akan menjadi nenek moyang dari kedua belas suku. Dari sekarang, Abraham mulai mengerti, perbedaan antara kedua anak laki-lakinya menjadi jelas. Sara benar. Tetapi melalui kebingungan ini, janji Allah terhadap Hagar bahwa keturunannya akan menjadi besar tetap berlaku. Seperti Ishak, Ismael akan menjadi ayah dari dua belas suku karena ia adalah anak laki-laki dari Abraham (Kejadian 25:12-16).

Jadi Abraham menyuruh Hagar dan anak laki-lakinya pergi ke padang belantara. Setelah tinggal di rumah Abraham selama hampir 30 tahun, ia sekarang dipaksa untuk pergi. Ketika Abraham memenuhi kantong kulit dengan air untuk Hagar, ketiganya menyadari bahwa makanan dan air bagi Hagar dan Ismael tidak akan berlangsung lama. Namun demikian, perjalanan yang sulit dimulai.

Yang tidak terelakkan itu muncul dengan sangat cepat. Persediaan air habis dan, meskipun mereka susah payah mencari, Hagar dan Ismael tidak dapat menemukan sumber air. Ismael, lemah karena berjalan dan dehidrasi, pertama kali yang rebah ke tanah, kehausan. Ketika menjadi nyata bahwa anak laki-lakinya akan segera mati, Hagar menggunakan tenaganya terakhir untuk menyeretnya ke bawah semak yang aman. Itu adalah tugas terakhir yang dapat ia lakukan untuk anaknya.

Setelah melakukan semua yang ia dapat lakukan untuk anak laki-lakinya yang ia kasihi, Hagar tidak tahan hanya duduk dan melihatnya menderita lebih lama. Hampa karena kepenatan dan kepedihan, ia duduk agak menjauh dan menjerit seolah hatinya hendak hancur.

Tiba-tiba dari surga ia mendengar suara yang sama yang ia dengar di padang belantara bertahun-tahun sebelumnya. Sekali lagi, Malaikat Tuhan menanyainya satu pertanyaan, “Ada apa denganmu, Hagar? Jangan takut. Allah telah mendengar suara anak laki-laki itu dari mana ia berada. Bangunlah dan angkatlah anak itu, karena Aku akan membuat suatu bangsa yang besar dari keturunannya.” (Kejadian 21:17-18)

Terkejut, ia mendongak dan melihat sumur air segar hanya beberapa kaki jauhnya. Dengan tertatih, ia bergegas dan memenuhi kantong air kulit itu. Dengan air yang Allah telah sediakan, anak laki-lakinya minum dalam hidup yang baru.

Untuk kedua kalinya, Yesus Kristus telah mengunjungi Hagar dalam kesengsaraannya untuk menyelamatkan hidupnya dan hidup anak laki-lakinya. Lagi, ada janji masa depan yang berpengharapan bagi Ismael.

Ketika Ismael bertambah besar, ibunya pergi ke Mesir dan membawakan ia seorang istri. Melalui tindakan ini, ia membuktikan bahwa ia masih menyembah berhala di dalam hatinya. Waktunya yang panjang di sekeliling Abraham dan Sara tidak benar-benar mengubah itu. Bahkan kunjungan oleh Yesus Kristus tidak benar-benar mengubah hatinya. Tuhan yang ia panggil dalam saat ia membutuhkan, yang telah menolong dia, tidak menjadi Allah dalam hidupnya. Allah tidak diperbolehkan memiliki hatinya.

Karena Tuhan tahu bahwa ia akan memiliki berhala-berhala masa lalunya, Ia telah mengizinkan Hagar dipaksa pergi dari keluarga Abraham. Bukannya menikmati keadaan yang nyaman dan aman di dekat Abraham, ia telah memilih untuk hidup suatu kehidupan yang tidak menetap di padang gurun. Karena pilihan pilihan yang amat mengerikan dari Hagar dan Ismael untuk menyatakan diri mereka bukannya tinggal dalam iman di dalam Allah Abraham, keseluruhan sejarah dunia ini telah dipengaruhi. Ismael menjadi pendiri bangsa-bangsa Arab, sementara bangsa Israel adalah dari keturunan Ishak. Permusuhan di antara kedua suku ini masih berlanjut hingga sekarang dan situasi Timur Tengah tetap sangat mudah meledak.

Tetapi, di luar semuanya itu, Hagar tetap berada dalam sejarah sebagai bukti bahwa Yesus Kristus mengasihi manusia. Setiap laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang belum lahir dikasihi oleh-Nya. Demonstrasi-Nya kepada Hagar membuktikan bahwa setiap orang yang membutuhkan yang berseru kepada-Nya akan dijawab. Yesus Kristus, yang dahulu mau menyatakan Diri-Nya kepada seorang perempuan yang telah sampai di ujung kemampuannya, terlebih lagi sekarang tersedia bagi setiap orang yang mencari-Nya.

Pertanyaan-pertanyaan:

  1. Jelaskan dengan singkat kisah Hakim-hakim 13:3-24 dalam kata-kata Anda sendiri. Kemiripan apa yang Anda lihat dengan Hagar?
  2. Alkitab menceritakan kemunculan yang lain dari Malaikat Tuhan (Kejadian 32:24-30; Yosua 5:13-15; Hakim-hakim 6:11-24). Apa reaksi-reaksi dari orang-orang ini dan dalam cara apa hal-hal ini mirip dengan reaksi Hagar?
  3. Bagaimana dalamnya Yesus Kristus merendahkan Diri-Nya sendiri di hadapan manusia? (Filipi 2:5-11)
  4. Tujuan apa yang ada di benak-Nya ketika Ia datang ke dunia?
  5. Tingkah laku apa yang seharusnya orang-orang miliki antara satu dengan yang lainnya? (1 Petrus 5:5-6) Mengapa?
  6. Apakah Anda pernah mengalami perhatian Kristus secara pribadi di dalam Anda? Jika Anda mengalaminya, berikan satu contoh. (t/Anna)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Her Name Is Woman
Judul asli artikel : Hagar, Whose Extreme Need Was Met by Jesus Christ
Penulis : Gien Karssen
Penerbit : Navpress, Colorado 1997
Halaman : 19 -- 28
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar