Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Hidup Berkemenangan

Pendahuluan

Kehidupan adalah sebuah anugerah yang Tuhan berikan. Setiap napas kehidupan adalah milik Tuhan. Kita adalah anak-anak Allah yang berhak atas janji-janji-Nya. Sejak kapan janji Tuhan menjadi hak milik kita? Sejak kita dengan hati percaya, dan dengan mulut mengakui Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. Melalui pembaptisan air kita telah mati bersama-sama Dia dan bangkit bersama-sama Dia. Pembaptisan air adalah bukti yang harus dideklarasikan dihadapan Bapa, umat manusia, dan iblis. Iblis tidak berhak lagi atas kehidupan kita. Yesus sudah menebus kita dengan darah dan tubuh-Nya. Kita adalah umat pilihan Allah, dipilih dari dunia.

Amanat Agung

Mengapa kita tidak langsung menemui Bapa di surga setelah diri kita dibaptis? Karena Yesus ingin kita mengemban Amanat Agung-Nya, hidup melayani dan memenangkan jiwa buat Dia. Setiap jiwa berharga dimata-Nya. Tuhan ingin hidup kita yang sementara ini mengalami transformasi kehidupan yang semula sia-sia menjadi berarti. Melalui kehidupan kita, Ia ingin kita menjadi saksi buat orang lain. Yesus ingin hidup kita berkemenangan di dalam dunia, namun bukan dengan norma-norma duniawi, tapi nilai-nilai Kerajaan Surga. Sesuatu hal yang bertolak belakang, namun bukan hal yang mustahil bagi kita, karena nilai-nilai Kerajaan Surga tak tergoyahkan dan Yesus sudah memberi teladan, dan menanamkan nilai itu didalam hati kita, melalui pekerjaan Roh Kudus ataupun firman-Nya.

Masalah adalah Kutuk

Tuhan Yesus tidak pernah berjanji akan menghilangkan setiap masalah yang dihadapi umat-Nya. Namun Ia berjanji untuk menyertai kita sampai akhir zaman. Masalah adalah kutuk yang harus kita tanggung semenjak manusia pertama jatuh dalam dosa. Konsenkuensi atau akibat manusia jatuh dalam dosa tetap ada. Namun Yesus memberi jalan buat kita sehingga kita dapat menang atas masalah itu. Yesus sudah menang, begitu juga dengan kita. Selama ada penyertaan-Nya, kita pasti mampu menghadapi masalah–masalah/goliat-goliat kita. Yesus ingin kita hidup berkemenangan. Hidup berkemenangan artinya hidup dalam penyertaan-Nya, hidup dalam anugerah-Nya, hidup dalam kasih karunia, hidup bebas dari kutuk dosa.

Ciri-Ciri Umat Pemenang

Bagaimana ciri umat pemenang atas masalah-masalah kita?

  1. Milik kerendahan hati

    Rendah hati dan rendah diri adalah dua hal yang berbeda. Dalam kamus bahasa Indonesia, rendah hati adalah tidak sombong atau tidak angkuh. Sedangkan rendah diri adalah merasa dirinya kurang. Kedua kata ini bertolak belakang, yang satu merupakan suatu sikap dan yang lain merasa kekurangan. Tuhan menginginkan kita memiliki sikap rendah hati. Dalam sikap rendah hati terdapat ucapan rasa syukur dan sukacita, dan inilah yang memudahkan kita menghadapi setiap masalah. Sikap rendah hati juga memudahkan kita melihat masalah itu dari sudut Allah. Kita tidak terjebak dalam sikap arogan atas masalah itu, tapi justru kita makin bertumbuh dengan adanya masalah itu. Inilah ciri umat pemenang. Ia mampu berpikir jernih dan dewasa atas masalah itu, dan mungkin merasakan sukacita dibalik masalah itu. Seperti Yesus yang rendah hati, patut kita teladani.

  2. Iman

    Tuhan punya banyak cara agar iman kita bertumbuh. Salah satunya melalui masalah-masalah dalam kehidupan kita. Tujuannya agar kita belajar memiliki iman yang kuat dan berakar dalam hati kita. Dengan iman, kita pasti mampu menghadapi persoalan. Iman biasanya bertumbuh dalam keadaan sukar. Bersukacitalah atas masalah yang menghampiri Anda, karena dengan demikian iman Anda akan diuji dan ketika Anda berhasil, iman Anda akan bertumbuh. Dan Anda menjadi umat pemenang.

  3. Cerdik

    Tuhan mengaruniakan akal budi pada kita. Dalam kamus bahasa Indonesia, akal budi adalah pikiran sehat. Kita memunyai banyak cara dalam menghadapi persoalan, namun Tuhan mengingatkan kita untuk memiliki pikiran sehat, artinya tidak sembrono mengambil sikap, tapi berpikir cerdik/smart.

    Terkadang seseorang dalam menghadapi masalah baik skala kecil atau besar dengan gegabah, ingin instan, sehingga tidak mampu lagi berpikir cerdik, padahal Allah adalah sumber hikmat dan pengetahuan. Bawalah dalam doa, dan izinkanlah Allah turut campur tangan. Orang-orang sering merasa terdesak oleh masalah besar, terutama menyangkut kebutuhan jasmani dan rohani, namun mereka memakai cara yang salah. Mereka datang pada allah lain, mengorbankan sesuatu yang berharga dalam hidup mereka, iman mereka, yang tentunya bukan cara yang cerdik dalam menyelesaikan masalahnya. Justru mereka mendatangkan masalah-masalah baru dalam hidup mereka. Kita sering keliru memakai cara kita sendiri, dan bukan cara yang baik, dan akhirnya kita menyalahkan Tuhan.

  4. Tepat sasaran

    Apa yang menjadi inti permasalah Anda? Konsultasikanlah dengan orang lain yang dapat Anda percaya. Masalah itu seperti benang kusut yang terurai dilantai, saling mengikat, dan seakan-akan tidak memiliki ujung pangkalnya. Untuk itu diperlukan bantuan orang lain untuk melihat titik persoalannya.

    Sebuah Ilustrasi Anak Panah

    Orang yang memegang busur adalah Allah. Kita adalah busur itu, dan anak panah adalah obat, papan sasaran adalah inti masalah. Jika yang memegang busur itu adalah Allah, maka dapat dipastikan masalah akan selesai, namun jika yang memegang busur itu kita sendiri, sasarannya tidak mengena, karena kita memakai sudut pandang yang salah atas semua persoalan. Kita akan melihat masalah secara obyektif, beda dengan Allah yang subyektif. Jadi saran yang bijak adalah janganlah menjadi allah sendiri dalam hidup kita, tetapi jadilah alat yang dipakai Tuhan untuk menyelesaiakan masalah kita.

Hiduplah di dalam anugerah Tuhan dan kasih karunia-Nya. Yesus sudah menang, dan kita adalah umat pemenang. Setiap masalah yang ada berpotensi memperbaiki kualitas hidup kita, iman kita pada Tuhan Yesus.

Penulis: Fidiakris

Taxonomy upgrade extras: