Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

KEHIDUPAN ROHANI

Sebuah narasi panjang dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa, yang sarat dengan keluh-kesah, omelan dan pemberontakan, adalah narasi eksodusnya bangsa Israel dari Mesir. Sepanjang perjalanan mereka menyaksikan banyak peristiwa yang mencengangkan, mukjizat, namun hati mereka tetap tidak puas. Mereka menyaksikan bimbingan Tuhan siang maupun malam, tetapi bagi mereka itu hanyalah sebuah hal biasa yang tidak patut disyukuri!

Mana mungkin ada lembaga pengabar Injil luar negeri yang saat ini tidak melibatkan usaha-usaha kaum wanita yang tidak kenal lelah -- wanita-wanita yang didorong dan yang pekerjaannya dikoordinasi oleh pekerja-pekerja energik seperti Lucy Peabody, Hellen Barrett Montgomery, dan banyak lagi lainnya, yang kisahnya diceritakan dalam artikel ini.

Sejak dahulu, wanita sudah memiliki peran dalam dunia penginjilan. Dari zaman Perjanjian Baru, gereja mula-mula dan zaman Abad Pertengahan, sampai ke periode misi modern, pelayanan wanita sangat luar biasa. Para istri Moravia bahkan sangat menonjol dan berdedikasi terhadap dunia pelayanan, seperti juga para istri misionaris (misalnya, Adoniram Judson dan Hudson Taylor). Namun, ada juga para istri yang setia melayani meski sebenarnya tidak menyukai apa yang mereka lakukan.

"Melayani ... melayani ... lebih sungguh ...." Teks lagu ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagian besar dari kita. Dalam kehidupan bergereja, kita sering menggunakan istilah pelayanan. Dalam surat-suratnya, Rasul Paulus juga berbicara tentang orang-orang Kristen sebagai pelayan Tuhan. Sebenarnya, apa arti melayani itu sendiri?

Diringkas oleh: S. Setyawati

Kisah tentang Dorkas dapat dibaca dalam Kisah Para Rasul 9:36-42. Dorkas bukan seorang perempuan yang luar biasa. Satu-satunya keterampilan yang dimilikinya adalah menjahit. Tidak banyak orang yang menghargai kemampuannya dalam hal menjahit karena menurut anggapan umum, kemampuan menjahit memang sudah sewajarnya dimiliki oleh seorang wanita. Oleh karena itu, mudah bagi Dorkas untuk berpikir, "Aku bukan nabiah seperti Miryam dan aku tidak dapat memerintah sebuah negara seperti Debora. Aku bukan seorang perempuan yang akan memegang peranan besar dalam sejarah negaraku. Aku tidak tergolong perempuan yang mempunyai karunia."

Meskipun namanya berarti musang, untungnya Hulda tidak membiarkan arti nama itu mempengaruhi sifatnya. Hidupnya tidak mirip sedikit pun dengan binatang kecil yang pemalu itu. Pada zaman Hulda, diperlukan orang-orang yang berani mengemukakan pendirian dan yang berani bertindak. Hulda adalah seorang nabiah, seorang perempuan yang menyampaikan pesan Allah. Panggilannya yang khusus itu tidaklah membuatnya tersisih dari masyarakat sebab ia juga seorang ibu rumah tangga.

Pernahkah Anda mendengar perkataan "laki-laki atau perempuan sama saja"? Apakah perkataan itu dapat dipercaya seratus persen, ataukah hanya basa-basi? Paulus berkata, "Namun demikian, dalam Tuhan tidak ada perempuan tanpa laki-laki dan tidak ada laki-laki tanpa perempuan." (1 Korintus 11:11) Setiap insan membawa kodrat saat ia lahir ke bumi, entah laki-laki ataupun perempuan. Ada hal yang hanya dapat dilakukan oleh laki-laki, ada yang hanya dapat dikerjakan oleh perempuan, ada juga hal-hal yang dapat dilakukan oleh keduanya. Di bawah ini, ada tiga perempuan yang patut untuk diingat, baik karena kelebihannya maupun karena kekurangannya.

Dalam Yohanes 8:1-11, para Farisi dan ahli Taurat sengaja mengajak Yesus melakukan perdebatan, dengan menempatkan seorang wanita yang telah melakukan perzinaan. Kasus tersebut diangkat ke permukaan oleh para ahli Taurat dan Farisi dengan tujuan untuk menjebak Yesus, agar Ia melakukan suatu kesalahan dalam mempraktikkan hukum Taurat (Yohanes 8:6). Dari kisah ini, kita melihat betapa besar hikmat yang dimiliki oleh Yesus, sehingga masalah yang sangat rumit itu tidak sampai membuat-Nya melakukan suatu kesalahan, tetapi sebaliknya, menghasilkan suatu keputusan yang jelas bagaimana hukum kasih harus ditegakkan.

Suatu ketika, seorang pemburu ateis tersesat di tengah hutan. Ia kemudian bertemu sekelompok macan. Spontan, ia menembakkan senapannya ke arah macan-macan itu. Sayang, tembakannya meleset dan ia pun kehabisan peluru. Ia berlari sekencang mungkin. Beberapa ratus meter kemudian, ia terpeleset ke jurang. Beruntung, ia sempat meraih dahan pohon di tepi jurang itu.

Pengampunan tidak dimaksudkan untuk keuntungan diri kita saja. Kita harus menjadi saluran dari kasih Allah. Kita yang telah mendapat pengampunan harus menjadi orang yang mau mengampuni -- mengampuni sesama atas kesalahan dan ketidakadilan yang mereka lakukan terhadap kita. Masing-masing kita perlu belajar untuk mengampuni (Matius 6:12; Efesus 4:32).

Suatu saat dalam kehidupan ini, kita semua mengalami pengkhianatan yang menyakitkan dari seorang teman; dan juga mengalami rasa sakit dan kekecewaan yang ditinggalkan oleh pengkhianatan itu. Saat hal ini terjadi, wajar apabila kita merasakan gelombang amarah kian meninggi di dalam hati kita. Bahkan, kita mungkin ingin balas dendam. Tidak ada sesuatu pun dari pengalaman ini yang membuat kita nyaman. Pengalaman itu membuat kita merasa gelisah, terganggu, pedih, dan tegang yang disertai dengan dorongan fisik untuk melakukan pembalasan.

Mentalitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh mentalitas individu dalam suatu keluarga. Mentalitas yang sehat menjadi tiang penyangga yang membuahkan kualitas hidup kita. Kalau mentalitas kita rapuh, maka rapuh pula komunitasnya. Mentalitas berarti keadaan batin atau suasana jiwa seseorang. Sejauh mana suasana batin seseorang; atau keadaan batin sedang berbicara apa. Melalui wajah barangkali seseorang dapat diduga kedalaman batinnya, apakah ia sedang merana, merasa gersang, gundah-gulana, mengalami tekanan, atau sedang senang dan menikmati hidupnya.

Ada dua kisah yang akan menolong kita untuk memahami arti dari integritas. Kisah yang pertama adalah tentang seorang bapak yang memunyai kebiasaan membawa anak laki-lakinya ke toko setiap pagi untuk membeli koran. Suatu hari, tanpa sengaja si bapak mengambil dua buah koran, walaupun ia hanya membayar harga untuk satu koran. Setelah beberapa lama mereka berjalan, barulah ia menyadari akan hal tersebut. Apa yang ia lakukan? Ia memutuskan untuk kembali ke toko tersebut dan membayar sisanya. Mengapa ia tidak mengembalikan saja salah satu koran itu?

"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu aku buang dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7)

Jantung adalah bagian tubuh yang menjadi pusat peredaran darah. Oleh jantung, darah manusia dipompa ke seluruh tubuh agar bagian tubuh yang lain mendapatkan makanan dan oksigen, yang merupakan sumber bahan bakar untuk organ tubuh yang lain.

Bila seseorang mendapat gangguan jantung, maka bagian tubuh yang lain juga tidak dapat bekerja dengan baik karena tidak mendapat sumber bahan bakar yang cukup. Kenyataan ini bisa dilihat pada keluhan seseorang yang menderita sakit jantung. Biasanya, penderita jantung akan cepat sekali terengah-engah, letih lesu, kurang tenaga, dan tidak dapat melakukan pekerjaan seberat orang yang tidak memunyai penyakit jantung.

Pages