PERNIKAHAN

PERTANYAAN

Saya seorang wanita (38 th) dengan 3 anak, usia (10-14 th), karier yang sudah mapan, kedudukan lumayan dan seringkali tugas keluar kota bahkan keluar negeri. Walaupun sibuk namun kalau tidak keluar kota, saya selalu berusaha pulang sebelum jam 7 malam. Suami saya sejak tahun lalu, seringkali terlambat pulang, alasannya macam-macam. Kemudian suatu hari (bulan lalu) saya dikejutkan oleh telpon dari seorang wanita muda yang mengatakan bahwa ia simpanan suami saya. Shock, marah, benci, dendam yang saya rasakan; apalagi ketika saya tanyakan kepada suami dan itu benar (walaupun mulanya ia tidak mengaku), ia berjanji tidak akan melakukannya lagi. Sebulan ini saya sulit tidur, dada rasanya sesak, kadang-kadang panas berkobar-kobar, kemudian mendadak berdebar-debar tidak bisa dikontrol dan mau mati saja. Ingin rasanya marah kepada Tuhan dan siapa saja termasuk diri sendiri. Apa yang harus saya lakukan Bu?

Dalam hati nurani setiap orang beragama, termasuk tentunya Kristen, ada kesadaran bahwa beristri (atau bersuami) lebih dari satu adalah dosa. Poligami adalah hal yang tercela. Tidak heran jikalau hidup di tengah masyakarat yang agamanya "memberi peluang" untuk poligami sekalipun, poligami secara terang-terangan hanya dilakukan oleh segelinter orang yang perasaannya tidak terlalu peka terhadap suara hati nurani orang banyak.

Sebut saja mananya Lina. Wajahnya tegang dan suaranya menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan. Usianya 40 tahun dan ia hidup bersama dengan dua putranya, usia 12 dan 14 tahun. Sudah 4 tahun terakhir ini, Lina berpisah dengan suaminya yang memutuskan untuk hidup dengan seorang wanita lain dan jarang sekali menjenguk Lina serta anak-anaknya. Lina sekarang harus bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Ia mengeluh betapa sepi hidupnya sekarang dan betapa ia membutuhkan seorang rekan yang dapat membantu dia mengasuh anak-anaknya yang sudah remaja ini. Makin hari ia merasa makin lemah, seakan-akan semua energinya sudah terkuras habis. Ia pernah berpikir -- hanya berpikir -- untuk mengakhiri hidupnya, tetapi ia merasa kasihan kepada putra-putranya yang masih membutuhkannya. Entah nanti, pada waktu mereka sudah akil balig. Mungkin ia akan berpikir lain...mungkin ia akan melakukannya jika pertolongan tidak kunjung datang. Mungkin!

Oleh: Pdt.Yakub B.Susabda, Ph.D

Pernah dalam sebuah ceramah, penulis menekankan dengan sangat bahwa tujuan pernikahan Kristen bukanlah untuk meraih "kebahagiaan" tetapi untuk mengalami pertumbuhan/growth". Alasan utamanya ialah, bahwa kebahagiaan adalah anugerah umum yang Allah sediakan untuk siapa saja, dan tidak khusus untuk anak-anak Tuhan. Sebaliknya, pertumbuhan/growth" adalah salah satu bagian integral dari anugerah khusus yang disediakan Allah untuk anak-anak-Nya. Melalui "growth" mereka makin siap untuk menjadi partner-partner Allah yang akan mengerjakan tugas tanggung jawab panggilan Allah di muka bumi (Ef. 2:10).

Persoalan :

Seseorang bertanya kepada saya, apakah arti : "dipersatukan oleh Tuhan" tidak boleh dipisahkan oleh manusia? Sebetulnya dia tahu sendiri jawabnya, tapi ingin jawaban yang lebih konkret, saya serahkan mbak Dina saja yang lebih pakar untuk menjawabnya dan tambahan apakah juga mbak Dina merasa dipersatukan oleh Tuhan?

AYAT ALKITAB

Efesus 5:22-33
1 Korintus 7:3-4
Filipi 2:3-5
1 Petrus 3:7

Dari kesaksian berikut ini kita bisa belajar bahwa dalam sebuah perkawinan ada tiga hal yang harus diperhatikan agar dapat mewujudkan perkawinan yang langgeng, yaitu:

  1. Menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan kita.

  2. Kesepakatan untuk mencocokan berbagai hal dengan pasangan kita sehingga menumbuhkan rasa saling mengerti.

  3. Gereja mempunyai peran penting dalam pernikahan terutama dalam memberikan konseling pernikahan.

PERTANYAAN ANDA

Pertanyaan : Adakah saran supaya kami, sebagai suami istri, dapat berkomunikasi dengan lebih baik lagi?

Jawaban : Pertanyaan ini penting sekali sebab saya percaya, komunikasi merupakan aspek yang sangat berpengaruh dalam pernikahan. Saya mengatakan berpengaruh sebab komunikasi memang mempengaruhi begitu banyak aspek dalam kehidupan berkeluarga. Komunikasi adalah sarana menyampaikan isi hati kita kepada orang lain dan sarana ini sangat mempengaruhi orang lain mengerti isi hati kita. Untuk menekankan betapa pentingnya komunikasi ini saya akan melukiskan dengan satu ilustrasi. Misalkan saya ingin menghadiahkan istri saya sebuah baju yang diidam-idamkannya. Namun saya bukannya memberikan hadiah itu melalui uluran tangan saya melainkan melemparkannya kepadanya. Kira-kira bagaimana tanggapan istri saya menerima hadiah tersebut? Saya kira ia pasti tidak merasa senang bahkan dapat merasa terhina oleh pemberian saya. Dari ilustrasi ini kita dapat melihat, bahwa bahwa meskipun saya berniat memberikan suatu hadiah tapi kalau cara penyampaiannya tidak tepat maka niat saya itu tidakklah mencapai sasarannya. Bukannya saya membuat istri bahagia, malah membuatnya marah.


Evaluasi Untuk Para Suami

Para suami, Anda telah membaca pengajaran Alkitab mengenai peran dan tanggung jawab Anda dalam pernikahan. Pakailah waktu selama beberapa menit untuk mengevaluasi diri Anda sendiri. Nilai diri Anda dengan melingkari angka yang sesuai: 5 = sempurna; 4 = sangat baik; 3 = baik; 2 = buruk; 1 = sangat buruk.

Mungkin persoalan dalam perkawinan akan dapat diselesaikan kalau saja setiap pasangan mengetahui kiat-kiat yang bisa dilakukan. Berikut kami sajikan beberapa petunjuk yang baik untuk diikuti.

  • Hindari percakapan yang menimbulkan perdebatan.

  • Bila kira-kira Anda tidak mampu mengontrol perbedaan pendapat yang muncul, lebih bijaksana tidak mendiskusikannya sama sekali. Apalagi kalau hanya soal sepele. Kalaupun perlu dibicarakan, tunggu sampai Anda atau pasangan Anda sudah memiliki kepala dingin, atau dapat mengontrol diri dengan berbicara tidak dengan nada tinggi.

    Ada empat rahasia yang perlu kita pelajari untuk menjaga rumah tangga kita agar tidak roboh di tengah-tengah hujan, angin ribut, dan banjir yang melanda rumah tangga kita.

    1. Menyadari arti dan pentingnya keluarga.
    2. Kembangkanlah kasih di dalam rumah tanggamu.
    3. Kembangkanlah kesetiaan sampai mati.
    4. Pusatkanlah keluargamu pada kristus.

    Kekacauan peranan dan tanggung jawab antara suami dan istri sangat berpotensi menyebabkan konflik serius dan menjadi sumber berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa suami adalah kepala bagi istri (Efesus 5:22-31) dan istri adalah penolong bagi suami (Kejadian 2:18). Namun tidak sedikit pasangan suami istri yang mengalami kebingungan bagaimana seharusnya menerapkan peranan tersebut dengan benar.

    Sebagai istri-istri, istri-istri Kristen, saya tidak berpikir bahwa kita menyadari kekuatan doa dan seberapa pentingnya dalam pernikahan. Kita memiliki tanggung jawab sebagai istri Kristen untuk menolong suami kita, dan bagian dari itu adalah berdoa untuk mereka setiap hari.

    Saya tahu bagi saya sendiri, sulit sekali berdoa untuk suami saya saat kami sedang marah. Saya berdoa pada Tuhan "Perbaiki dia!" Sayangnya, doa semacam itu tidak akan menguntungkan Anda, suami Anda, atau pernikahan Anda.

    Tuhan mengizinkan banyak ibu menghadapi persoalan dengan memunyai seorang suami yang tidak percaya, tidak ada simpati terhadap kekristenan. Menurut Ceil Rosen dalam sebuah artikel berjudul "My Fateful Choice" dalam majalah "The Christian Reader" edisi November/Desember 1977, jika Anda menghadapi persoalan yang sama, ada dua faktor yang dapat menolong Anda untuk mengatasinya dengan memuaskan.

    Hak dan Kewajiban Suami Istri

    Dengan telah dipersatukannya seorang laki-laki dan seorang perempuan dalam suatu pernikahan, maka mereka yang dahulunya merupakan pribadi-pribadi yang "bebas" kini menjadi terikat satu sama lainnya. Masing-masing harus mulai membagi segala hal dengan pasangan hidupnya, dan dibatasi kebebasannya. Demi untuk terpeliharanya rumah tangga yang mereka bangun bersama, maka hukum memberi penuntun mengenai hak dan kewajiban suami istri. Beberapa hal yang penting ialah:

    Pages