Katharine Bushnell (1855-1946)

Katharine Bushnell adalah wanita paling berpengaruh dalam mengungkapkan tentang bagaimana banyak ayat dari Kitab suci telah dilucuti dari kesetaraan gender sebagaimana yang dimaksudkan ayat-ayat tersebut. Ketika dia menyelidiki bahasa Ibrani dan Yunani, Katharine menemukan bias mengenai subordinasi perempuan yang digunakan penerjemah laki-laki dalam interpretasi mereka, khususnya dalam terjemahan tulisan-tulisan Paulus. Dia sangat berpengaruh dalam proklamasi kesetaraan wanita, bukan superioritas atau inferioritas, dalam semua relasinya, baik mengenai pernikahan maupun peranannya dalam rencana Allah.

Katharine Bushnell

Warisan Katharine Bushnell ditemukan dalam bukunya, God’s Word to Women (Firman Allah kepada Perempuan), yang menguak motif penerjemah dari perspektif teologis. Bushnell adalah seorang dokter medis, sarjana bahasa Alkitab yang terpelajar, dan misionaris di China. Ketika Tuhan memanggilnya ke China, dia mengatakan kepada Tuhan bahwa dia akan pergi jika Dia bisa menunjukkan bahwa Paulus tidak menentang perempuan berkhotbah. Selama di China, dia merasa harus lebih dalam mempelajari Alkitab, khususnya pada bidang yang berhubungan dengan dominasi laki-laki. Dia mulai melihat bahwa pandangan yang merugikan memang telah memengaruhi orang-orang yang menerjemahkan kitab suci.

Bushnell meninggalkan China pada tahun 1882 karena salah satu rekannya, Ella Gilchrist, sakit keras. Kembali ke Denver, Katharine tinggal bersamanya sampai dia meninggal. Meskipun ia mendirikan sebuah praktik medis di Denver, panggilannya untuk pelayanan membawanya ke Chicago untuk menjadi Evangelis Nasional di Departemen Kemurnian Sosial dari Women's Christian Temperance Union dan bekerja dengan para pelacur. Bushnell tidak hanya tergabung dalam pekerjaan penyelamatan untuk misi kota, dia juga mendirikan Anchorage Mission di Chicago, melayani sekitar 5.000 wanita per tahun.

Bushnell mendapati bahwa sumber pelecehan perempuan berasal bukan hanya dari alkohol, melainkan juga dari salah tafsir Alkitab yang disengaja oleh penerjemah laki-laki. Ia kemudian menambahkan dimensi mendidik semua wanita sesuai dengan Alkitab sehingga maksud asli dari ayat-ayat yang kontroversial dapat dipahami dengan jelas.

Setelah mendengar desas-desus tentang kondisi di perkemahan kayu di Wisconsin Utara yang tidak akan diselidiki oleh para pejabat, Bushnell memutuskan untuk mencari tahu sendiri kebenaran itu. Dia mendapati bahwa perempuan muda dan gadis-gadis itu diculik dan dipenjarakan di rumah bordil. Ketika ia melaporkan temuannya ke pertemuan WCTU di Chicago, ia sangat dikecam oleh surat kabar dan pejabat negara. Katharine menghebohkan masalah "perbudakan kulit putih" di seluruh negeri. Sensasionalisme masalah itu menjadi penghalang panggilannya dalam penginjilan, dan ia mencari Tuhan untuk meminta arahan. Mengikuti sebuah mimpi, dia merasa terkesan bahwa Tuhan menginginkannya pergi ke Inggris untuk membantu Josephine Butler dan Departemen Kemurnian Sosial di WCTU sana.

Katharine Bushnell

Ketika diketahui bahwa tentara Inggris membuka bordil di India, desas-desus dan penolakan terjadi. Bushnell dan seorang rekan merencanakan untuk menjadikan India sebagai bagian dari tur penginjilan mereka ke seluruh dunia. Setelah mewawancarai 395 pelacur, ia mengirim laporannya ke Inggris, yang segera menimbulkan tuduhan dan bantahan. Namun, tuntutan terbukti benar. Ketua Komandan pasukan Inggris di India, Lord Roberts, juga bertanggung jawab atas perizinan dan regulasi prostitusi. Peraturan ini bukan untuk pencegahan penyakit, melainkan untuk melindungi orang-orang yang datang ke rumah bordil. Bushnell dan rekannya sepenuhnya dibenarkan dari semua tuduhan dan menerima permintaan maaf tertulis dari Lord Roberts.

Bushnell menemukan sikap yang sama di antara para pejabat pemerintah Inggris, beberapa dari mereka mengaku Kristen, di China dan Hong Kong ketika mereka menemukan prostitusi paksa. Setelah bertahun-tahun di ladang misi, Katharine mulai menyadari "penderitaan para wanita itu berakar pada fakta bahwa Alkitab tampaknya mendukung degradasi dan penindasan perempuan. Kesimpulannya adalah Alkitab perlu ditafsir ulang ...."[1] Pertempuran terakhirnya, dilakukan di atas kertas, "God’s Word to Women" (Firman Allah kepada Perempuan), yang pada dasarnya telah diabaikan oleh para sarjana Alkitab.

Dana Hardwick menulis, "Bushnell berpihak pada kebebasan dan kesetaraan semua perempuan di mana-mana. Dia memperjuangkan hak dan tanggung jawab perempuan untuk menempatkan posisi mereka di samping laki-laki dan untuk didengar dalam setiap bidang kehidupan. Dia memperjuangkan tanggung jawab perempuan untuk mendidik mereka secara memadai untuk memenuhi tanggung jawab mereka, dan dia memandang dengan jijik kepada mereka yang menghindari tanggung jawab itu."[2] Para perempuan berutang kasih dan penghargaan kepada Katharine Bushnell untuk pengorbanannya yang telah membuka jalan. (t/Jing-Jing)

1. Hardwick, Dana, Oh Thou Woman That Bringest Good Tidings – The Life and Work of Katharine C. Bushnell, Morris Publishing and Christians for Biblical Equality, 1995, p. 83.
2. Ibid, p. 106.

Diterjemahkan dari:
Nama situs : International Christian Women's Histroy Project and Hall of Fame
Alamat situs : http://www.icwhp.org/cameo-katharine-bushnell.html
Judul asli artikel : Katharine Bushnell (1855 - 1946). "Hung as A Flag"
Penulis : Barbara Collins
Tanggal akses : 4 Mei 2017
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar