Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Ke Dalam Dunia: Apakah Anak-Anak Anda Siap Memberi Dampak Kepada Budaya Mereka Bagi Kristus?

Peristiwa hari itu masih terekam jelas dalam ingatan saya. Sebuah penembakan terjadi di kantin SMA anak laki-laki saya. Lokasi penembakan itu hanya berjarak beberapa meja saja dari tempatnya biasa melahap roti isi kalkunnya. Memang tidak ada korban jiwa, tetapi seluruh komunitas sekolah terguncang. Akan tetapi, ketika saya menjemputnya hari itu, anak saya segera masuk ke mobil dan sambil memegang lengan saya, ia memohon, "Jangan pindahkan aku dari sekolah ini."

Setiap hari, kita sebagai orang tua harus berhadapan dengan budaya yang mengancam keselamatan moral dan fisik anak-anak kita. Kita tidak dapat membuka surat kabar, menyalakan televisi, atau berselancar di Internet tanpa merasa diingatkan bahwa dunia yang kita diami ini adalah sebuah tempat yang berbahaya. Namun demikian, pokok masalah yang kita hadapi dengan budaya zaman ini sebenarnya tidak jauh berbeda dari pokok masalah yang dihadapi oleh para orang tua di generasi-generasi sebelum kita.

Bahkan, para orang tua pada zaman Perjanjian Lama harus mencari cara untuk menolong anak-anak mereka agar dapat hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak selalu menghormati keyakinan mereka. Di Kejadian 27:46, kita dapat membaca sebuah dialog antara Rebeka dan Ishak berkaitan dengan masa depan putera mereka, Yakub. Rebeka berkata, "...jikalau Yakub juga mengambil seorang isteri dari antara perempuan negeri ini...apa gunanya aku hidup lagi?" Perempuan yang beriman ini pun mengkhawatirkan dampak budaya yang tidak bersahabat terhadap anaknya.

Hal itu tidak bertambah baik di Perjanjian Baru. Penulis surat Roma 1:29-32 dan 2 Petrus 2:14-22 meratapi standar moral pada zaman mereka. Berulang kali, umat Tuhan seolah dipaksa untuk berdiri teguh di tengah dunia yang penuh bahaya, kejahatan, dan godaan.

Terlepas dari itu semua, Tuhan menganggap kita mampu mengatasinya. Berulang kali, Alkitab memberi kesaksian tentang umat Allah yang mencari Dia di tengah-tengah budaya zaman mereka, bukan di luar budaya itu. Dari bangsa Israel yang hidup di pembuangan sampai para rasul Kristus yang rela berhadapan dengan penganiayaan, melalui kisah saudara-saudara seiman kita ini, kita diajar untuk memahami budaya pada zaman kita, memengaruhinya, bersikap bijaksana terhadapnya, dan tentu saja mengajar anak-anak kita untuk melakukan hal yang sama.

Memahami Budaya

Allah yang sama, yang membentuk awal mula dari hari-hari kita di dunia (Mazmur 139:16) ini tahu apa yang dilakukan-Nya ketika Ia menciptakan kita untuk hidup pada zaman dan tempat yang kita hidupi sekarang ini. Kisah Rasul 17:26 mengatakan bahwa Tuhan, "menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka." Hal itu berarti bahwa Allah tahu tentang anak-anak yang tinggal di ujung blok, standar sekolah setempat, dan siapa saja yang berkumpul di pusat perbelanjaan.

Pemahaman ini akan menolong kita untuk sungguh-sungguh percaya bahwa Allah hadir bersama dengan kita, dalam budaya apa pun yang mengitari kita. Alkitab telah menyatakan dengan jelas bahwa kita perlu mencari Allah di tengah-tengah dunia kita. Salah satu cara terbaik untuk membantu anak-anak kita agar dapat hidup setia di tengah-tengah dunia ini adalah dengan mengetahui dan memahami dampak-dampak apa saja yang mungkin mereka hadapi. Hal ini akan menjadi semakin penting ketika anak-anak kita mulai beranjak remaja, sebab budaya hidup remaja sangat terikat dengan budaya pop pada zaman mereka. (t/Yudo)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Todays Christian Woman
Alamat URL : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2004/march/28.40.html
Judul Asli Artikel : Into the World: Are your children prepared to impact their culture for Christ?
Penulis : Letitia Suk
Tanggal akses : 30 Mei 2013
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar