Kekuatan Citra Diri Seorang Anak

Pada umumnya, kita menerima orang lain berdasarkan apa yang tampak. Kita sering menilai seseorang berdasarkan perilakunya yang dapat kita amati. Karena kebanyakan orang mengembangkan pola-pola perilaku yang spesifik dalam situasi-situasi tertentu, maka suatu klasifikasi tampaknya dapat menyederhanakan banyak hubungan antarmanusia. Jadi, suatu sistem yang didasarkan pada aktivitas luar adalah yang paling mudah diterapkan.

Karakter Anak

Namun, kebanyakan orang tidak senang jika dirinya dinilai dengan standar lahiriah yang sama seperti yang mereka terapkan pada orang lain. Hal ini disebabkan karena ia menyadari adanya segi-segi dalam dirinya yang tidak dapat dilihat orang lain. Jadi, sebenarnya, orang dewasa amatlah ahli dalam mengenakan topeng. Mereka hanya menunjukkan bagian-bagian kepribadian yang sesuai dengan situasi yang sedang mereka hadapi saat tertentu.

Anak kecil belum pandai memakai cara-cara seperti itu. Perasaan anak mudah tampak melalui ekspresi wajah, gerak tubuh, dan tindakannya. Pengamatan yang cermat terhadap perilaku anak menunjukkan bagaimana seluruh hubungan anak itu dengan kehidupan ini ditentukan oleh citra dirinya.

Anak yang diharapkan sukses, diberi dorongan dan pengarahan yang tepat, mampu mengembangkan keyakinan yang membuatnya berhasil. Anak yang terus-menerus melihat dan mendengar bahwa dirinya tidak mampu dan selalu gagal, memiliki hambatan besar yang harus diatasinya agar dapat meraih keberhasilan.

Karena proses pemikiran anak terbatas pada sudut pandangnya sendiri (orang lain diharapkan untuk melihat dan merasakan seperti yang ia lihat dan rasakan), jelas bahwa sikap anak terhadap dirinya sendiri menentukan perilakunya. Jika anak merasa bahagia dan menikmati keindahan masa kanak-kanaknya, ia tidak memiliki kecenderungan untuk berpendapat negatif tentang dirinya. Akan tetapi, jika anak merasa tidak berharga dan tidak dikasihi, tak ada kecenderungan lain selain pendapat negatif tentang dirinya.

Yang perlu ditambahkan dalam kerangka acuan yang terbatas ini adalah bahwa anak merasa orang dewasa itu mahatahu dan mahakuasa. Anak kecil memandang orang dewasa sebagai makhluk ajaib dengan kuasa yang mengagumkan. Tak ada alasan baginya untuk mempertanyakan apa saja yang orang dewasa katakan atau lakukan. Jika anak merasa kehadirannya diinginkan dan merupakan bagian yang penting dari kehidupan orang dewasa, ia tak perlu mempertanyakan nilai dirinya kepada mereka. Tetapi jika anak merasa dirinya sebagai pengganggu atau penghambat bagi orang dewasa, ia akan menerima pendapat orang dewasa itu sebagai keputusan yang tepat. Konsep diri anak merupakan pencerminan dari apa yang telah terpantul melalui sikap dan perilaku orang lain terhadapnya.

Anak yang terus-menerus mendengar bahwa ia "buruk", "nakal", "tukang bikin ribut", atau "tidak bisa apa-apa" akan menerima penilaian-penilaian semacam itu sebagai suatu gambaran yang tepat mengenai dirinya, dan cenderung mengembangkan karakter seperti itu. Lalu, bertitik tolak dari hal itu, anak akan memandang dunia dan Penciptanya sebagai musuh. Para orangtua dan guru yang terbeban membimbing seorang anak ke dalam iman Kristen perlu berhati-hati dan memikirkan dengan sungguh-sungguh betapa berpengaruhnya citra diri bagi anak tersebut.

Diambil dari:
Judul asli buku : Teaching Your Child About God
Judul buku terjemahan : Mengenalkan Allah kepada Anak
Judul bab : Anak dan Dirinya Sendiri
Judul asli artikel : Kekuatan Citra Diri Seorang Anak
Penulis : Wes Haystead
Penerjemah : Drs. Xavier Q. Pranata
Penerbit : Yayasan Gloria, Yogyakarta 1995
Halaman : 34 -- 36
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 

Komentar