Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Ketegasan yang Penuh Kasih Karunia

Jika Anda bertanya pada saya sewaktu SMA, bahkan di perguruan tinggi, apakah menurut saya, saya adalah orang yang tegas, saya akan menyangkalnya. Saya, adalah gadis kecil Kristen yang manis yang mengikuti semua aturan. Tentu saja saya bukan seorang yang tegas! Bersikap tegas, bagi saya pada saat itu, berarti memaksa, kasar, tidak sopan dan bermusuhan. Tidak seharusnya seorang wanita menjadi seperti itu. Dan, tentu saja tidak seharusnya seorang pengikut Kristus bersikap demikian.

Sekitar sepuluh tahun kemudian. Saya telah terlempar ke dalam karir yang tidak pernah saya harapkan, salah satu yang sangat cocok dengan kemampuan saya dan menantang saya secara signifikan. Anda tahu, beberapa orang dilahirkan bersifat tegas. Beberapa orang menjalani hidup mereka dengan mengusahakan supaya hal-hal terjadi dan mendapatkan apa yang mereka inginkan karena mereka memiliki kepribadian itu. Dulu, saya berpikir saya tidak seperti itu. Dulu, saya berpikir bahwa untuk bersikap tegas, orang harus dilahirkan dengan sifat itu. Saya emosional dan empatik, dan sangat mungkin bersifat terlalu sensitif. Sifat-sifat yang membuat saya menjadi orang yang menyenangkan, tapi tidak efektif.

Tetapi, selama sepuluh tahun terakhir ini, saya telah bertemu dengan dua wanita yang benar-benar mengubah pandangan saya tentang bagaimana wanita Kristen dipanggil untuk berperilaku. Mereka menantang saya, mendorong saya, melihat potensi di dalam diri saya, dan sangat tegas dengan saya. Dan, saya sangat bersyukur. Berikut adalah beberapa hal yang saya pelajari dari mereka sehingga sekarang saya sungguh mempercayai karir saya, hubungan saya dan kehidupan saya dengan segenap hati.

Menjadi tegas bukan berarti menjadi bermusuhan

Bahkan, saya tidak percaya jika ketegasan adalah hal yang negatif sama sekali. Menurut definisi, artinya adalah percaya diri dengan yakin. Hanya ketika ketegasan melintasi ambang pintu ke dalam perilaku negatif maka kita menjadi kasar atau sombong. Bagi saya, sebagai seorang Kristen, percaya diri berarti saya yakin akan identitas saya di dalam Kristus dan Dia yang telah membuat saya seperti ini. Saya yakin bahwa saya bekerja keras, saya jujur, dan saya membawa perspektif yang unik dan berbagai keterampilan untuk ditunjukkan. Ini bukan berarti saya selalu benar. Tapi itu berarti bahwa saya memiliki hak untuk berkomunikasi dengan berani dan terbuka, dan saya dengan penuh kasih karunia dapat menuntut, dengan alasan, sehingga saya dihormati dan diperlakukan dengan sangat baik melalui memperlakukan orang lain dengan cara yang sama secara terbuka.

Menjadi tegas yang penuh kasih karunia diperlukan agar menjadi efektif

Orang-orang akan melewatkan Anda jika Anda membiarkan mereka. Entah Anda hanya mencoba untuk menghubungi perusahaan untuk memperbaiki Internet Anda, atau memulai sebuah pelayanan baru, sulit untuk mencapai apa pun tanpa tekad dan keyakinan. Kita terus berhubungan dengan orang yang tidak berbagi gairah yang sama dengan apa yang kita lakukan, orang yang tidak mengenal Tuhan dan hanya mencoba untuk melewati hari, dan orang yang tidak memenuhi harapan kita. Dalam beberapa kasus, kita menemukan orang-orang yang tidak suka atau tidak peduli dengan pekerjaan mereka, sehingga menyulitan kita yang menjadi pelanggan atau rekan kerja mereka. Saya telah belajar dalam hal-hal ini, bahwa kita harus tetap menjadi perwakilan kasih Kristus dan mencoba untuk menemukan kekuatan orang-orang, tapi ini bukan berarti kita harus berhenti dari bergerak maju. Menuntut kesempurnaan dari orang lain dengan cara yang penuh kasih terkadang merupakan satu-satunya cara untuk mencapai apa yang harus kita lakukan.

Di Alkitab, banyak pahlawan iman yang tegas. Mereka berhasil dalam pelayanan mereka karena mereka yakin akan panggilan Tuhan dalam hidup mereka dan menolak untuk dihentikan. Dalam cara yang sama, kita tidak boleh membiarkan rasa takut memaksa untuk menghentikan kita berbicara dengan terus terang, meminta untuk berbicara dengan supervisor, dengan penuh kasih karunia menyatakan bahwa hasil tidak dapat diterima, dan mencapai apa yang kita yakini sebagai panggilan untuk kita lakukan.

Adanya ketegasan bukan berarti tidak adanya kerendahan hati

Ketegasan dapat dengan cepat menjadi negatif jika kita lupa untuk tetap rendah hati. Hal ini mungkin tampak seperti sebuah kontradiksi, tetapi bertindak dengan keyakinan dan tekad seharusnya tidak berarti asumsi kita lebih baik atau lebih penting daripada yang lain. Sebaliknya, itu berarti menjadi berani dan percaya diri dalam Kristus, tetapi masih terbuka dan jujur terhadap kesalahan dan kekurangan. Itu berarti mengakui ketika kita salah dan menghargai orang di sekitar kita, bahkan dengan mereka yang tidak mudah untuk diajak bekerja sama, karena juga memiliki tujuan dan nilai yang besar.

Kemampuan untuk bersikap tegas dipelajari

Beberapa pemimpin terbaik adalah mereka yang belum tentu tegas secara pembawaan. Saya suka mengaitkan Musa dalam hal ini. Dia takut dan tak percaya diri, tapi itu tidak menghentikan Tuhan untuk memakai dia. Musa belajar untuk bersikap tegas sebagai hasil dari panggilan Tuhan atas hidupnya. Mungkin Musa tidak merasa langsung merasa bahwa dia memiliki segalanya ketika untuk pertama kalinya berdiri di depan Firaun. Saya mulai mengembangkan kepercayaan diri sebagai hasil dari tanggung jawab di tempat kerja. Dulu saya benci berbicara dengan orang di telepon, benci menindaklanjuti ketika saya tidak mendapat jawaban dari seseorang, benci mengatakan kepada penjual keliling bahwa saya tidak senang dengan pekerjaan mereka.

Keterampilan-keterampilan itu membutuhkan latihan, dan satu-satunya cara untuk belajar adalah dengan melakukannya dan sekaligus bergantung pada kasih karunia Tuhan. Saya menangis di pertemuan, dimarahi, membuat rekan kerja saya marah, dan gagal melakukan tanggung jawab. Tak satu pun dari kita yang sempurna, tapi ini tidak bisa menghentikan kita dari berjuang untuk memenuhi harapan yang kita miliki untuk diri kita sendiri dan tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada kita.

Kita dipanggil untuk bersikap tegas

Sebagai wanita, kita sering mengacu pada Wanita di Amsal 31 sebagai contoh yang Alkitabiah. Bacalah lagi - dan temukan semua ayat yang menunjukkan kemampuan wanita ini untuk menyediakan bagi keluarganya, menyelesaikan tugas sehari-hari, dan setia melayani Bapa-nya. Sebutlah, "Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan...Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya. Ia mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya." (Ayat 25 - 27). Tidak mungkin Wanita di Amsal 31 dapat mencapai apa yang dia lakukan tanpa bertindak dengan berani dan percaya diri dalam peran yang diberikan kepadanya.

Sebagai orang Kristen, kita percaya hidup kita punya tujuan. Jika kita benar-benar percaya akan hal ini, kita harus waspada dalam membela kebenaran itu. Kita harus berani dalam hubungan kita, percaya diri dalam panggilan kita, dan tak kenal lelah dalam upaya kita untuk menjadi wanita sesuai dengan yang direncanakan. Kita harus selalu "cepat untuk mendengar dan lambat untuk berkata-kata" (Yakobus 1:19) - tapi ketika kita berbicara kita dipanggil untuk "buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." (Efesus 4:25).

Apakah orang-orang masih mengintimidasi saya? Ya. Apakah saya masih segan untuk bersikap tegas dalam situasi tertentu? Tentu saja. Apakah saya sering salah, bahkan ketika mengartikulasikan sesuatu yang saya percaya adalah benar? Ya. Tetapi semakin saya belajar, semakin Tuhan mencurahkan kasih karunia-Nya pada saya dan semakin saya percaya bahwa dalam bersikap tegas mengenai iman saya, panggilan saya, tanggung jawab saya, karunia saya, dan identitas saya di dalam Kristus, semakin Dia bisa menggunakan saya, mengajari saya dan membuat saya bertumbuh dalam ketergantungan pada-Nya. Menjadi seorang wanita percaya diri berarti mencari - dan bertindak – di dalam identitas kita sebagai Putri Raja.

“Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.”- 2 Korintus 3: 4–5. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : I Believe
Alamat Url : http://www.ibelieve.com/relationships/gracefully-assertive.html
Judul asli artikel : Gracefully Assertive
Penulis artikel : Chelsea Cote
Tanggal akses : 2 april 2014
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 

Komentar