RENUNGAN WANITA

Jangan bohong! Kita semua bergumul dengan masalah ini dan itu karena kita adalah manusia. Kita egois dengan waktu kita dan menginginkan semua hal selalu berjalan dengan baik.
Hadapilah kenyataan! Hidup tidak akan selalu dalam keadaan baik. Kita akan bergumul dengan permasalahan-permasalahan yang baik dan yang buruk selama kita masih bernapas. Hanya ketika kita tiba di surga saja pergumulan kita akan menjadi sejarah! Secara harfiah ....

Bayangkan jika Yesus mengetuk pintu rumah Anda pada malam Natal tahun ini karena memerlukan tempat untuk tinggal. Maukah Anda memberikan tempat tidur tambahan untuk ditawarkan kepada-Nya, dengan seprai yang bersih dan handuk yang baru? Mungkin sebuah sofa dengan selimut yang hangat? Bagaimana dengan futon (kasur tradisional dari Jepang - Red.) dari IKEA (perusahaan furnitur - Red.) yang layak pakai? Atau, akankah Anda menutup pintu rumah Anda yang terbuka, dengan rasa malu, dan meminta maaf sedalam-dalamnya. "Maaf, Tuhan. Tempat saya berantakan. Dan, saya benar-benar tidak memiliki apa pun untuk mempersilakan Anda masuk ...?" Benar. Begitulah. Hari Natal adalah tentang menyiapkan ruang untuk Yesus. Menyambut-Nya di rumah, keluarga, dan hidup kita. Membuka lebar-lebar pintu hati kita.

Kami tiga raja dari Timur
Dengan membawa hadiah kami melintas jauh,
Padang dan mata air, tempat berlabuh dan pegunungan,
Mengikuti bintang di atas sana.

Mengapa orang-orang majus ini melakukan perjalanan seperti itu?

Bacaan: Keluaran 2:1-10

Tidak terduga cara Allah bertindak dalam memelihara umat-Nya. "Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?" (Yesaya 40:13) Bagaimanakah Dia berkarya dalam perikop ini? Dengan memakai tiga wanita dalam kehidupan Musa.

Hari ini saya membaca sebuah kesaksian yang menyakitkan saya. Saya tersentak dan membenci kenyataan bahwa saya harus ikut merasa senang bersama dengan orang tua ini yang telah menerima jawaban atas doa mereka. Kesaksian itu menyakitkan saya karena saya masih menantikan Tuhan untuk menyembuhkan putri saya.

Ketika Diandra masih bayi, seorang wanita memberitahu saya bahwa Diandra akan disembuhkan dari Down Syndrome pada usia 3 tahun. Dia berusia 12 tahun Mei lalu, dan dia masih mengidap Down syndrome.

Kata pembuka khotbah itu adalah: "Apa yang Anda percayai tentang hidup memengaruhi segala sesuatu tentang bagaimana Anda menjalani hidup." Jemaat hening dan kemudian mendengarnya lagi, "Apa yang Anda percayai tentang hidup mempengaruhi segala sesuatu tentang bagaimana Anda menjalani hidup."

Saya terkesan sekali waktu membaca Kisah Para Rasul 8 baru-baru ini. Firman Tuhan membicarakan tentang Simon, si ahli sihir. Rasul Petrus, oleh ilham Roh Kudus berkata kepadanya, "hatimu tidak lurus di hadapan Allah."

Akar Penyebab

Saya ingin menjadi teman yang selalu hadir, yang mengingat setiap hari ulang tahun, yang membuat surat-surat tulisan tangan yang indah, dan yang melontarkan percakapan asyik di Pinterest. Namun sebaliknya, saya adalah teman yang lupa untuk menelepon. Saya adalah teman yang terus-menerus menghilang. Saya adalah teman yang menanyakan alamat Anda kepada Anda berulang kali karena saya tidak pernah ingat untuk mencatatnya.

Peristiwa hari itu masih terekam jelas dalam ingatan saya. Sebuah penembakan terjadi di kantin SMA anak laki-laki saya. Lokasi penembakan itu hanya berjarak beberapa meja saja dari tempatnya biasa melahap roti isi kalkunnya. Memang tidak ada korban jiwa, tetapi seluruh komunitas sekolah terguncang. Akan tetapi, ketika saya menjemputnya hari itu, anak saya segera masuk ke mobil dan sambil memegang lengan saya, ia memohon, "Jangan pindahkan aku dari sekolah ini."

Alkitab berkata bahwa setiap kita memiliki hubungan yang khusus dengan Allah, yang sudah dimulai sebelum kita dilahirkan. Yeremia menulis:

Firman Allah datang kepadaku, bunyinya: "Sebelum Aku membentuk engkau di dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:4-5).

"Saudara-saudara janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!" (1 Korintus 14 :20)

Wanita ... menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan, pernyataan tersebut sangat tepat karena umur tidak dapat menjadi patokan untuk menentukan sudah atau belum dewasanya seseorang.

Dalam Lukas 5:18-26, kita membaca ada sebuah rumah yang penuh dengan orang-orang yang berdatangan dari berbagai wilayah untuk mendengar Yesus mengajar. Beberapa teman dari seorang yang lumpuh mengangkatnya di atas matras menuju lokasi tempat Yesus berada. Mereka telah mendengar bahwa Yesus adalah Seorang penyembuh, dan mereka berjalan melintasi Galilea untuk menemukan-Nya. Kerumunan orang itu sangat banyak sehingga orang-orang yang membawa orang lumpuh itu tidak dapat berjalan ke depan.

Kesederhanaan itu awal kedamaian. Kegemerlapan adalah awal perseteruan. Jauh dari hiruk-pikuk gemerlap kemewahan, kesederhanaan mengawali kedamaian dengan keheningan, kesempatan nan luas untuk merenung, dan doa yang penuh kesadaran dan akal budi secara optimal. Keheningan untuk merenung itu sedemikian penting untuk memperluas kedamaian dan perdamaian. Seperti digagas Johan Galtung, perdamaian akan terwujud jika manusia memadukan hati dan pikirannya untuk berdialog dengan sesamanya. Namun, pemaduan hati dan pikiran, bahkan dialog itu, memerlukan keheningan.

Sukacita, itu membuat orang-orang ingin tahu apa rahasia Anda. Namun, sukacita bukanlah merupakan rahasia bagi orang Kristen yang percaya. Ketika kita memilih untuk bertumbuh lebih dekat kepada Allah, tinggal dalam karakter dan ketetapan-Nya, sukacita akan ditumpahkan ke dalam hidup kita sehingga orang lain tidak dapat berbuat apa-apa selain memperhatikannya.

"Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." (Roma 15:13)

Sobat wanita,

Kerinduan kita semua adalah memiliki perasaan damai sejahtera di dalam Allah Bapa. Sebab, saat kita hidup dalam ketaatan kepada firman-Nya, Allah Bapa akan menganugerahkan warisan damai sejahtera kepada kita.

Pages