Menangis dengan Orang yang Menangis

Ditulis oleh: Amidya

"Bersukacitalah dengan mereka yang bersukacita, dan menangislah dengan mereka yang menangis." (Roma 12:15)

Di sekitar kita, pastilah kita pernah menemukan orang-orang yang mengalami kesulitan hidup dan membutuhkan pertolongan. Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi sesama, saudara, maupun keluarga kita dalam keadaan seperti itu? Dalam hidup kekristenan, sangatlah penting untuk berempati terhadap sesama pengikut Kristen. Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain. Memosisikan diri seolah-olah kita sendiri yang tengah mengalami kesulitan tersebut.

Ayub

Alkitab pernah menuliskan beberapa orang yang menunjukkan empatinya kepada sesamanya. Pertama, ada Ayub dan sahabat-sahabatnya. Dalam Ayub 2:11-13, sahabat-sahabat Ayub mendengar kabar bahwa Ayub sedang ditimpa musibah. Karena itu, mereka bertiga datang ingin berbelasungkawa atas keadaan Ayub saat ini. Ketika mereka melihat Ayub dari jauh, menangislah mereka. Lalu, mereka duduk bersama-sama dengan Ayub di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Ketiga sahabat Ayub sangat berempati kepada Ayub. Kita dapat melihat reaksi ketiganya saat mereka memandang Ayub, mereka menangis dengan suara nyaring, bahkan ketiganya sama-sama menemani Ayub duduk di tanah selama tujuh hari tujuh malam. Ketiga sahabat Ayub telah memberikan contoh bahwa mereka telah menangis bersama Ayub, dan mereka menemani Ayub dalam kesusahan hebat yang dialaminya.

Contoh kedua, kita dapat melihat dari Nabi Yeremia. Nabi Yeremia hidup di masa akhir kerajaan Yudea (Israel Selatan). Ia melayani mulai masa Raja Yosia hingga Raja Zedekia. Dengan mata kepalanya, ia melihat bagaimana pasukan Babel yang dipimpin oleh Nebuzaradan, kepala pasukan Nebukadnezar, menghancurkan seluruh kota Yerusalem (2 Raja-Raja 25:2-10). Yeremia menjadi saksi bagaimana hancurnya ibu kota kerajaan Yudea. Bait Allah dihancurkan dan dibakar dengan api; semua penduduk Yerusalem juga dibunuh dan dibakar dengan api, seperti tidak ada pengampunan dari Tuhan bagi penduduk Yerusalem. Yeremia meluapkan seluruh rasa empatinya bagi kota dengan penduduk Yerusalem dengan menuliskan syair yang dapat kita baca dalam kitab Ratapan. Dikutip dari kitab Ratapan, Yeremia sangat berduka dan meratapi keadaan yang terjadi, "Akulah orang yang melihat sengsara disebabkan cambuk murka-Nya. Ia menghalau aku dan membawa aku ke dalam kegelapan yang tidak ada terangnya." (Ratapan 3:1-2) Rasa empati tidak hanya bisa ditunjukkan kepada sahabat maupun keluarga kita, melainkan juga bisa dinyatakan saat melihat kota yang kita diami hancur luluh lantak dan melihat penduduk kota yang kita diami dibunuh dan dibakar dengan keji.

Empati

Di masa sekarang ini, rasanya mudah bagi kita untuk mengucapkan, "Aku turut berempati dengan apa yang kamu alami saat ini." Namun, dalam kekristenan, ucapan saja tidaklah cukup. Empati dalam kekristenan perlu didasari dengan kasih. Di dalam Kristus, kita semua adalah anggota dari satu tubuh. Apabila satu anggota kesakitan dan menderita, maka anggota yang lain akan turut menderita (1 Korintus 12:24-26).

Kita harus selalu menunjukkan kebaikan, bahkan kepada orang yang menganiaya kita. Ketika orang lain sedang bersusah hati, kita ikut bersusah hati. Demikian pula sebaliknya, ketika orang lain bersukacita, kita pun larut di dalamnya. Simpati dan empati adalah dua kata yang amat dalam dan penting artinya di dalam memelihara kesatuan. Kita diminta untuk tidak merasa lebih unggul, lebih pandai, atau lebih penting daripada orang lain. Sikap demikian adalah penghancur kesatuan dan kesehatian. Prinsip dalam berelasi sesuai dengan Roma 12:15 adalah menempatkan diri dengan baik, "menangislah dengan orang yang menangis dan bersukacitalah dengan orang yang bersukacita". Dengan demikian, kita akan menjadi pribadi yang menyatakan kasih kepada sesama.

Segala hormat bagi nama Tuhan!

Sumber bacaan:

Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar