Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Mengasuh Anak Tanpa Rasa Takut

Hapuskanlah Kecemasan Anda dan Belajarlah untuk Memercayai Allah

"Jonathan, jangan lari terlalu cepat!" seru Andrea ketika kami duduk di bangku taman sambil mengawasi anak kami yang berusia tiga tahun sedang bermain. Cukup sulit menemukan kata yang tepat di antara semua peringatannya kepada anaknya. Ketika ia menyadari bahwa saya lebih sedikit berkata, "Awas!" kepada putri saya, Andrea berbalik ke arah saya dan berkata, "Aku rasa kamu berpikir bahwa aku agak paranoid. Mereka bisa terluka dengan mudah karena Jonathan tidak melihat arah jika berjalan."

Andrea tidak sendirian dalam kecemasannya. Beberapa tingkat ketakutan merupakan hal biasa bagi para orang tua. Kita sangat mengasihi anak-anak kita sehingga pemikiran tentang hal-hal buruk yang mungkin terjadi kepada mereka membuat kita terjebak dalam kepanikan. Namun, jika kita tidak berhati-hati, kewaspadaan ini justru dapat menekan. Ketika kita membiarkan rasa takut mendominasi pengasuhan kita, kita sebenarnya dapat membentengi anak-anak kita dari segala sesuatu yang harus mereka hadapi.

Penting bagi kita untuk mengusir rasa takut dalam mengasuh anak jika kita ingin anak-anak kita yakin dan bertanggung jawab. Dengan bertindak seperti "anjing pengawas", kita mengambil risiko membesarkan anak-anak yang tidak dapat memelihara diri mereka sendiri. Rasa takut dapat mematikan naluri-naluri yang diberikan Allah kepada kita untuk membedakan apa yang benar dan apa yang salah, yang aman dan tidak aman.

Sambil menyadari masalah-masalah keamanan, kita harus tahu kapan menentukan batas dan mengizinkan anak-anak kita mengalami kehidupan, bahkan untuk hal-hal yang menyakitkan. Hal itu mungkin berarti membiarkan anak balita Anda merangkak ke tiang panjatan di taman, bahkan ketika Anda takut kalau-kalau anak balita Anda tersandung. Atau, Anda mungkin perlu membiarkan anak Anda yang berusia 10 tahun mengendarai sepedanya ke rumah temannya yang berada di beberapa gang dari rumah Anda daripada mengantarkannya ke sana. Pada akhirnya, hanya Allah yang dapat menjaga anak-anak kita seutuhnya. Ia memercayai kita untuk melindungi mereka dan mengasihi mereka, tetapi seperti yang disebutkan dalam Yeremia 29:11, "... Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." Inilah pengharapan kita sebagai orang tua Kristen: Allah berkuasa dan kita dapat memercayai-Nya. Dia benar-benar hanya memiliki rencana terbaik untuk anak-anak kita.

Dunia adalah tempat yang menakutkan. Sekilas membaca apa yang ada di surat kabar mengingatkan kita akan berapa banyak bahaya yang dihadapi anak-anak kita. Ketika Anda menyadari pergumulan untuk melenyapkan ketakutan Anda, lakukanlah langkah-langkah ini untuk membantu Anda menyerahkan anak-anak Anda ke dalam tangan Allah dengan iman dan keyakinan.

Serahkanlah Anak-Anak Anda kepada Allah

Mudah bagi kita berpikir bahwa kita berkuasa atas masa depan anak-anak kita. Kenyataannya adalah sering kali, kehidupan anak-anak kita berubah dan benar-benar berbeda dari apa yang kita rencanakan.

Evelyn Christenson, penulis buku "What Happens When We Pray for Our Families (Victor)", mendorong para orang tua untuk mengucapkan "doa penyerahan" bagi anak-anak mereka. Dengan menyerahkan anak-anak Anda kepada Allah dalam doa-doa Anda, Anda sedang mengakui kecukupan yang diberikan-Nya atas masa depan yang menakutkan. Bagaimana jika kita menyerahkan anak-anak kita hanya untuk mendapatkan respons Allah yang melakukan sesuatu yang mengerikan? Saya harus mengucapkan doa penyerahan ketika saya menggendong putra saya yang berusia sebulan, Christopher, pada suatu pagi saat ia menjalani operasi jantungnya. Saya menyerahkan anak saya kepada Allah, dan lima hari kemudian, Christopher meninggal dunia. Namun, kini saya tahu bahwa doa saya tidak menyebabkan kematian Christopher. Sebaliknya, doa itu mempersiapkan saya untuk rasa kehilangan ini karena saya sudah mengakui bahwa Christopher adalah milik Allah. Alih-alih kemarahan, yang ada justru kedamaian.

Syukurlah, kebanyakan dari kita tidak akan memiliki anak yang mati muda. Akan tetapi, Allah meminta Anda untuk melepaskan anak-anak Anda dengan cara yang lain. Saya sudah mengenal para orang tua yang berdoa sungguh-sungguh kepada Allah untuk memakai anak-anak mereka, asal bukan sebagai misionaris. Kita harus dipersiapkan untuk memercayai Allah, entah Ia memilih untuk mengutus anak-anak kita ke hutan-hutan di Afrika, ke dalam kota Chicago, atau rumah sepi di sekitar sudut jalan.

Hidup dengan Pengharapan

Langkah berikutnya adalah membentuk konsep pengharapan kita sesuai dengan konsep Allah. Pengharapan yang sejati tidak mengharapkan sesuatu, melipat tangan kita, dan menahan napas kita sampai pengharapan kita terwujud. Memiliki pengharapan yang sejati berarti percaya bahwa Allah akan memakai anak-anak kita dan membimbing mereka melewati kehidupan mereka, bahkan apabila Ia tidak pernah menyingkapkan bagaimana atau mengapa.

Dengan perspektif ini, mudah bagi kita untuk melihat kesulitan-kesulitan anak-anak kita sebagai pembangun karakter daripada sebagai penghalang-penghalang. Saya yakin orang tua Joni Eareckson Tada tidak pernah membayangkan putri mereka akan lumpuh dalam kecelakaan waktu menyelam. Mereka mungkin juga tidak pernah membayangkan putri mereka akan memberi dampak bagi kehidupan ratusan atau ribuan orang. Hidup Tada membuktikan bahwa Allah bahkan dapat memakai situasi yang paling menyedihkan untuk kebaikan. Setiap hari, Tada menunjukkan paradoks bahwa kuasa Allah "menjadi sempurna dalam kelemahan" (2 Korintus 12:9).

Orang tua yang memiliki pengharapan harus memahami bahwa kondisi-kondisi yang dihadapi anak-anak mereka bukanlah tujuan final, melainkan lebih kepada sarana-sarana yang dipakai untuk membentuk karakter mereka.

Tanggung Jawab Pemeliharaan

Untuk dapat mengasuh dengan pengharapan, kita harus mengubah sikap kita dari orang yang terlalu melindungi menjadi orang yang mengajarkan tanggung jawab. Sekali kita membiarkan anak-anak kita mengalami dampak dari tindakan-tindakan mereka sesuai usia mereka, bahkan jika hal itu berarti bahwa kita harus melihat mereka sedikit terluka, kita memberi mereka kesempatan untuk belajar lebih banyak tentang begitulah hidup. Terjatuh dari ayunan mengajar mereka untuk tidak terlalu sembrono. Kemalasan belajar membuat nilai buruk. Melalui pengalaman-pengalaman itulah, anak-anak kita belajar tentang pilihan mana yang berguna dan yang tidak.

Rebecca, putri kami yang berusia 4 tahun, selalu berlari ke arah kami setiap kali ada anak yang tidak mau berbagi dengannya. Karena kami ingin dia belajar memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri, kami jarang menyela dan mendesak agar anak lain berbagi. Kami malah mendorong Rebecca menyelesaikan masalahnya sendiri dengan teman-temannya dan memintanya untuk memikirkan bagaimana caranya untuk bergaul dengan baik, entah ia berhasil atau tidak dengan caranya tersebut.

Seorang anak yang belajar bertanggung jawab dan mandiri, sesungguhnya adalah anak yang tahu bagaimana bisa berhasil dalam hidup. Akan tetapi, sebagai orang tua, sulit untuk mengetahui kapan anak-anak Anda siap untuk mendapatkan kebebasan yang lebih besar. Penting untuk mengizinkan anak Anda semandiri mungkin tanpa membahayakan keselamatannya. Ketika Anda mengawasi anak Anda bertumbuh dalam keyakinan dan kemampuan, Anda sebaiknya memercayai penilaiannya. Dan, lebih banyak Anda mengizinkan anak-anak Anda membangun keterampilan-keterampilan hidup, semakin banyak Anda akan mendapati rasa takut Anda semakin berkurang.

Berdoalah, Berdoalah, Berdoalah

Langkah terakhir dalam mengatasi rasa takut sebenarnya adalah hal yang paling penting: berdoalah lebih sering dan berdoalah dengan tujuan. Daripada hanya meminta Allah menjaga anak-anak kita dari bahaya, kita perlu memfokuskan doa kita untuk pembentukan karakter yang Allah lakukan atas anak-anak kita.

Ketika Paulus berdoa untuk anak-anak rohaninya, jemaat Filipi, ia tidak meminta agar mereka diselamatkan dari penganiayaan. Sebaliknya, ia memberi tahu mereka, "Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus." (Filipi 1:9-10)

Dengan berdoa secara demikian, Anda sedang memperkuat kebenaran dasar: menjadi orang Kristen tidak menjamin bahwa hidup ini akan mudah dan bebas dari kesakitan. Ketika Anda menunjukkan kepada anak Anda bahwa Anda percaya bahwa Allah berjalan di sisi keluarga Anda, tidak masalah apa yang terjadi dalam hidup, Anda akan menunjukkan kepada mereka bahwa mereka juga dapat memercayai Allah untuk masa depan mereka. (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Today's Christian Woman
Alamat URL : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2000/july/7.51.html?start=1
Judul asli artikel : Parenting Without Fear
Penulis : Sheila Wray Gregoire
Tanggal akses : 10 Juli 2014
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar