Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Mengembangkan Atau Menghancurkan Hubungan Anda?

Pernikahan yang kokoh dan bertumbuh tidak terjadi begitu saja. Pasangan-pasangan yang menikah harus termotivasi untuk menempatkan prioritas yang tinggi bagi hubungan pernikahan mereka. Konsep pernikahan yang bertumbuh harus terus-menerus mendapat penekanan.

Empat Klasifikasi Pernikahan

Dr. J.A. Fritze mengatakan bahwa pengalaman klinis yang ia miliki mendorongnya untuk mengklasifikasikan pernikahan ke dalam empat jenis.

1. Pernikahan yang Bahagia

Pernikahan jenis ini mencakup kemampuan yang maksimal dari dua orang dewasa, untuk menjalankan ketiga aspek cinta dan membangun inti sebuah pernikahan yang sebenarnya. Jenis ini menghasilkan hubungan timbal balik yang bahagia, sekaligus membawa kepuasan bagi masing-masing individu.

Pernikahan yang bahagia memiliki ciri: cinta yang dewasa, usaha, dan kebebasan yang penuh dalam komunikasi. Cinta yang dewasa adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan orang lain; memberi dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun; hasrat untuk memenuhi kebutuhan pasangannya; kedekatan dan tanggapan terhadap pasangannya, baik ketika amat dekat maupun saat berjauhan dan dalam konflik. Di dalam cinta, ada kemampuan untuk menerima cinta dari orang lain dengan senang hati. Ada banyak orang yang tidak menerima dan tidak mau menerima cinta maupun kasih sayang dari orang lain. Mereka beralasan (dengan kerendahan hati yang palsu, yang sebenarnya adalah sebuah kesombongan!) bahwa yang mereka butuhkan adalah memberikan cinta! Namun, jika seseorang mencintai pasangannya, orang itu harus mau menerima cinta dari pasangannya sebagai tanggapan atas kasih yang ia berikan. Ketidakmampuan untuk menerima cinta dari orang lain belum tentu merupakan sebuah masalah, tetapi dapat menjadi gejala dari masalah yang lain. Tunjukkanlah kasih sejati kepada pasangan Anda dengan cara berhenti menuntutnya untuk menjadi seseorang yang merupakan modifikasi dari pemikiran Anda -- versi revisi dari jati diri orang yang sebenarnya. Pernikahan yang bahagia juga dicirikan oleh usaha, yang berarti kerja keras! Pernikahan yang bahagia tidak terjadi begitu saja. Keadaan itu dapat diraih sebagai hasil dari dua individu yang bekerja keras untuk dapat berbagi, berhubungan, dan berkomunikasi.

2. Pernikahan yang Baik

Ciri-ciri pernikahan jenis ini mirip dengan pernikahan yang bahagia, hanya saja berada dalam tingkatan yang lebih rendah. Pernikahan yang baik memiliki kesamaan dengan pernikahan yang bahagia karena memiliki karakteristik yang sama, tetapi tidak memiliki intensitas sebanyak yang ditunjukkan oleh pernikahan yang bahagia. Tampaknya ada usaha yang dilakukan dalam pernikahan jenis ini, tetapi hasilnya tidak maksimal. Dalam pernikahan ini, pemahaman dan usaha dari kedua individu tampak sangat kurang. Tingkat kedewasaan dari salah satu atau kedua individu lebih rendah daripada pasangan yang berada dalam "pernikahan yang bahagia".

3. Pernikahan yang Berdasarkan Persetujuan

Ciri paling menonjol dari pernikahan ini adalah perjuangan. Dalam pernikahan semacam ini, terdapat kesulitan untuk meraih seni dalam mencintai. Pernikahan yang berdasarkan persetujuan memiliki ciri yaitu perjuangan, kesulitan untuk mencintai, dan belajar untuk saling mencintai. Pasangan yang berjuang ini memiliki sedikit sekali pengetahuan mengenai apa yang dibutuhkan untuk membangun sebuah pernikahan yang memenuhi syarat. Pasangan ini tidak termotivasi untuk menemukan cara baru dan lebih baik dalam membangun pernikahan mereka. Salah satu dari keduanya mungkin sangat tidak dewasa, sebuah sifat yang menjadi faktor penghambat sebuah hubungan. Orang-orang yang tidak dewasa menemui kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain.

4. Pernikahan yang Dapat Dipertahankan

Tanda terbesar yang dimiliki jenis ini adalah bahwa hubungan ini hanya murni sebagai pernikahan yang sah secara hukum, tetapi tidak memiliki "inti" yang sebenarnya. Pernikahan yang dapat dipertahankan, bukan hanya sebuah pernikahan yang "sah secara hukum", melainkan juga pernikahan yang kosong. Suami istri yang berada dalam pernikahan ini bermusuhan satu dengan yang lain, saling bersaing, dan sering kali saling menghancurkan. Mereka tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang arti pernikahan, dan tidak memiliki motivasi untuk menghadapi masalah. Suatu waktu, mereka akan saling membiarkan, tetapi di waktu yang lain mereka bertengkar secara terbuka. Dan seperti perang pada umumnya, yang menjadi korban adalah anak-anak. Anak-anak dalam pernikahan semacam ini (sama seperti anak-anak dalam pernikahan yang berdasarkan pada persetujuan) akan menderita. Perceraian secara hukum mungkin tidak terjadi, tetapi perceraian secara emosional telah terjadi. Anak-anak yang tinggal di keluarga yang bercerai secara emosional, kemungkinan akan lebih menderita daripada anak-anak yang mengalami perceraian yang sebenarnya.

Peranan Suami

Kejadian 2:7,15,19 mengisahkan penciptaan Adam dan maksud penciptaannya. Tuhan adalah Ilmuwan yang pertama. Tugas manusia adalah bekerja keras. Untuk memulai pekerjaan dengan mengurus taman Eden mungkin mudah. Tetapi, setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, tugas itu menjadi semakin sulit (Kejadian 3:17-19). Pernyataan "engkau harus bekerja keras seumur hidupmu" diungkapkan sebanyak dua kali, dan Tuhan tidak pernah menarik kembali perintah yang Ia berikan kepada manusia (Keluaran 20:8,9; Amsal 22:29; 2 Tesalonika 3:10-12). Sebagai orang percaya, kita harus menjadi pekerja yang terbaik. Tanggung jawab seorang pria adalah memimpin dan bertanggung jawab atas rumah tangganya. Ia juga harus memelihara dirinya sendiri. Ketika Adam dan Hawa berdosa, Adamlah, bukan Hawa, yang dimintai penjelasan oleh Tuhan (Kejadian 3:9).

Peranan Istri

Peran wanita berbeda dengan peran pria (Kejadian 1:27; Kejadian 2:18, 21-25). Wanita diciptakan dari pria karena dua alasan. Pertama, wanita berperan sebagai seorang teman/penolong (Kejadian 2:18). Tanggung jawab yang sesungguhnya dari wanita adalah bersama suaminya. Bagi pria, Allah sendiri yang menyatakan bahwa tidak baik bagi seorang pria hidup seorang diri. Oleh sebab itu, Allah memberikan pemecahan bagi masalah ini, yaitu dengan memberikan seorang istri. Sediakanlah waktu untuk bersama-sama, saling menikmati, berbicara, berbagi, tertawa, menangis, bermain, dan bekerja bersama. Kedua, wanita diciptakan untuk melengkapi pria. Pria tidak akan lengkap tanpa wanita (1 Korintus 11:8). Oleh karena itu, akan berbahaya jika suami istri terpisah. Apabila ini sering terjadi, pria akan mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan yang muncul. Hal itu bisa berupa pekerjaan, wanita, anggur -- apa pun yang ada saat itu.

Wanita diciptakan untuk pria dan wanita adalah mahkota kemuliaannya (1 Korintus 11:7). Matthew Henry berkata, "The man was dust refined, the woman was dust double-refined" (pria adalah debu yang disaring, wanita adalah debu yang disaring dua kali.) Istri tidak sepatutnya bersaing atau mengkritik suaminya. Dia harus membuat suaminya bangga atas dirinya, dan menjadikan itu sebagai hal yang utama dalam hidupnya. Ketundukan dan kerohanian seorang istri dapat memenangkan suaminya yang belum percaya Kristus. Kasih dan kepemimpinan seorang suami dapat memenangkan istri dan anak-anaknya yang belum percaya Kristus. Kesaksian keluarga Kristen dapat membawa orang lain kepada Kristus.

Tanggung Jawab Suami

1. Mencintai Istrinya (Efesus 5:25)

Cinta harus memiliki kemauan dari pihak individu yang terlibat di dalamnya untuk menunjukkannya. Cinta tidak menyamaratakan, namun memahami; cinta tidak membingungkan, namun mengomunikasikan dan menjelaskan. Cinta tidak menghakimi, tetapi mau mengerti. Cinta adalah perwujudan dari keinginan hati (Ulangan 6:5, 1 Yohanes 3:23). Cinta berdasar pada suatu pilihan, bukan berdasarkan emosi. Cinta ditunjukkan oleh perbuatan (Yohanes 14:21), selalu mementingkan orang lain (1 Korintus 13:4-7), menganggap orang lain lebih penting dari dirinya sendiri. Rasa aman yang muncul dari kasih sayang seorang suami adalah sebuah hal yang sangat penting bagi seorang istri. Rasa aman berarti memiliki seseorang untuk bersandar. Suami harus menyediakan rasa aman itu dan cinta bagi istrinya sebagai tempat untuk bersandar. Cinta adalah memiliki seorang istri, sahabat, dan kekasih dalam diri seseorang.

2. Memelihara Istrinya (Amsal 31:10; 1 Korintus 7:32-35)

Pria yang menikah harus menempatkan Tuhan di tempat pertama dalam sebuah pernikahan. Ia juga harus memenuhi kebutuhan istrinya secara materi (1 Timotius 5:8). Mintalah pertolongan Tuhan untuk dapat melaksanakannya. Pikiran mengenai kebutuhan-kebutuhan hidup dan memelihara keluarga adalah sesuatu yang amat penting; tetapi pikiran ini dapat berubah menjadi sebuah kekhawatiran, dan seperti yang Tuhan Yesus ingatkan, kekhawatiran ini dapat menghimpit benih iman di dalam hati seseorang (Lukas 8:14). Menghasilkan uang adalah sesuatu yang amat penting bagi kehidupan sehari-hari, tetapi menghasilkan uang dapat berubah menjadi cinta uang, dan kemudian hasutan-hasutan mengenai kekayaan mulai masuk dan merusak kehidupan rohani. Doa kita seharusnya adalah "Tuhan, tolonglah agar aku tetap peka terhadap Roh-Mu, sehingga aku tidak jatuh ke dalam nafsu dunia" (1 Yohanes 2:15-16).

Seorang suami harus memerhatikan istrinya secara fisik (Efesus 5:26-28). Sebuah pengakuan dan ucapan terima kasih atas sesuatu yang dilakukan oleh seorang istri akan berdampak luas. Yesus sangat mencintai gereja-Nya, hingga Ia mendampingi dan menolongnya melalui Roh Kudus. Seorang suami tidak seharusnya membuat istrinya menjadi penggerutu -- seseorang yang selalu mengatakan mengapa kamu tidak menyelesaikannya?, seorang yang buruk rupa -- seorang yang tidak terlalu memerhatikan penampilannya sendiri dan tampak seperti orang yang ceroboh, dan menjadi sebuah karung -- mengacu kepada seseorang yang makan terlalu banyak sehingga menjadi sangat gemuk! Sangat mungkin bagi seorang suami untuk mengubah istrinya menjadi seorang "penggerutu, wanita yang buruk rupa, dan menjadi sebuah karung", dengan tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukannya, sehingga istrinya harus terus-menerus mengomelinya! Dengan tidak memberi komentar terhadap penampilannya yang cantik, dan karena sang suami tidak tertarik dengan sang istri, membuat istri juga tidak tertarik terhadapnya; dan istri dapat menjadi "sebuah karung", karena ketika seseorang menjadi frustrasi dalam hidupnya, ia cenderung makan terlalu banyak dan mencoba memakan emosinya sendiri. Jagalah sebuah kepekaan akan perasaan seorang istri yang amat rapuh (1 Petrus 3:7). Seorang suami juga harus memerhatikan keadaan rohani istrinya (Efesus 5:26-27). Segarkan dan murnikan dia dengan berkomunikasi secara rohani seperti Kristus dengan gereja. Komunikasi ini berbicara mengenai mengasuh dan merawat (Efesus 5:29).

3. Memimpin Istrinya

Seorang suami tidak dapat mengalihkan tanggung jawab atas rumah tangga dan keluarga kepada istrinya. Kepemimpinan memiliki kaitan dengan cinta (Yohanes 13:3-5; 1 Korintus 11:3; Efesus 5:23). Seorang suami harus memimpin istri dan anak-anaknya melalui teladan. Pertanyaannya adalah, "Siapa yang memimpin secara rohani dalam sebuah rumah tangga?" Suamilah yang bertanggung jawab untuk berdoa, membaca Alkitab, dan mengajarkan kebenaran kepada anak-anaknya, sama seperti seorang imam besar memenuhi tanggung jawabnya. Ia harus memeriksa kemajuan rohani istrinya, menjalankan perannya sebagai seorang ayah (Efesus 6:4). Seorang suami haruslah menunjukkan teladan, mengajar dengan penjelasan (Ulangan 6:4), mendorong dengan nasihat (Kisah Para Rasul 16:29-34), mendisiplin melalui pengalaman (Amsal 3:12; 23:14; 1 Timotius 3:4,5).

Istri dan anak-anak hendaknya berdoa bagi suami dan ayah mereka. Seorang pria haruslah menjadi seorang suami yang baik dan memperlakukan istrinya seolah-olah ia masih sebagai pacarnya, menjadi ayah yang baik, menghadirkan Allah bagi keluarganya, dan lewat doa membawa keluarganya kepada Tuhan. Tetapi, pertama-tama ia harus mengenal Bapa Surgawi, menerima disiplin dari-Nya, mengetahui kehendak-Nya, barulah Ia dapat memampukannya melaksanakan ajaran-Nya.

Tanggung Jawab Istri

1. Tunduk dan Mengabdi pada Suaminya (1 Petrus 3:1; Efesus 5:22, 24; dan Kolose 3:18)

Istri harus selalu ingat bahwa peran yang mereka jalani tidak ditentukan oleh pilihan mereka. Peran mereka ditentukan oleh Allah dalam penciptaan, yang menciptakan wanita dan pria berbeda. Dalam istilah militer, arti literal dari "mengabdi" adalah "berada di bawah". Frasa yang sama muncul sebanyak empat kali dalam 1 Korintus 15:27-28. Ayat-ayat tersebut menyebutkan bahwa semuanya berada di bawah kendali Allah. "Memosisikan diri di bawah kendali" adalah kata kerja, bukan kata pokok. Kata ini mengacu pada bagaimana seharusnya kepemimpinan berfungsi di dalam sebuah keluarga.

Istri harus tunduk kepada suaminya sebagaimana dunia harus tunduk kepada Kristus. Allah telah menetapkan bahwa pria harus memimpin keluarga (sebuah tim) sebagaimana disebutkan dalam 1 Korintus 11:3 dan Efesus 5:23. Tunduk tidak menandakan bahwa Allah merendahkan istri. Fungsinya memang berbeda, tetapi nilainya tetaplah sama. Pria tidaklah superior atau inferior. Tuhan tidak pernah mengatakan bahwa seseorang superior atau inferior. Dia menetapkan peranan yang berbeda untuk kita jalani; Dia menjadikan pria sebagai pemimpin dan wanita sebagai pengikut. Dia menyatukan mereka untuk saling mendukung, menolong, menguatkan, memuji, dan melengkapi, bukan untuk bertengkar. Kepatuhan seorang istri muncul dari kasih Allah dan kerinduan akan keteraturan, serta keharmonisan dalam rumah tangga.

2. Memunyai Kehidupan Rohani

1 Petrus 3:1-6 menunjukkan bagaimana seorang istri perlu memunyai kehidupan rohani yang tulus. Dia harus menjadi wanita seperti yang Tuhan inginkan, menunjukkan perhatian yang nyata terhadap keselamatan suaminya, dan kekayaan rohani melalui kesederhanaan dan kecantikan jiwa.

3. Melayani

Amsal 31:10-31 memberikan gambaran penilaian Allah tentang istri yang cakap. Ayat 11-12 menyebutkan bahwa istri harus mendukung suaminya, termasuk dalam memberikan cinta kasih dan kesetiaan. Kepercayaan diberikan melalui kelangsungan dan air mata dalam kehidupan pernikahan. Ia berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya. Hal ini termasuk di dalamnya memenuhi kebutuhan suami dan mengimbangi kekurangannya (Kejadian 2:18). Carilah kekuatan yang dapat menopang kelemahan pasangan Anda.

Ayat 13-19 menunjukkan bagaimana seorang istri mengelola pekerjaan rumah tangga, termasuk tenaga, efisiensi, dan ekonomi. Mengelola rumah bagi pasangan sangatlah penting. Sebuah rumah berbeda dengan hotel. Rumah adalah tempat di mana orang tinggal dan saling berhubungan. Rumah membutuhkan peran yang dapat memenuhi dukungan, pengertian, dan rasa cukup (1 Timotius 6:6). Tidak ada tempat seperti rumah! Istri melayani keluarga seperti yang disebutkan dalam ayat 27 dan 28. Ayat 20-25 menggambarkan pertolongan yang diberikan istri kepada tetangga-tetangganya. Pertolongan itu berupa keramahan, ketelitian, dan sifat suka menolong.

Gambaran yang indah dan seimbang mengenai seorang istri Kristen adalah istri yang sibuk dalam melayani Tuhan dengan menjadi seorang istri, ibu, pengurus rumah tangga, dan tetangga yang baik. Jika hanya menekankan satu aspek, kemungkinan akan dapat mengabaikan aspek yang lain, sehingga dapat melemahkan hubungan kekeluargaan.

Apakah ada hal-hal tertentu dari seseorang yang perlu diluruskan? Lakukanlah semuanya dengan baik dan segera. Jangan mencoba menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Diperlukan usaha untuk menjadi seseorang yang Tuhan inginkan. Senangkanlah hati Allah dengan menyenangkan hati suami Anda -- jadikanlah hal ini sebagai tujuan Anda. Bagi para suami yang hendak mengatakan sesuatu kepada istrinya, bacalah terlebih dulu Efesus 5:25. Permata yang berharga bisa hilang begitu saja karena kecerobohan. (t/Uly -- Yudo)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : I Thee Wed
Judul asli artikel : Developing or Destroying Your Relationship
Penulis : Dr. Joseph Tan
Penerbit : Dr. Joseph Tan, Singapore 1991
Halaman : 39 -- 50
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar