Metanoia

Pemahaman kita sebagai orang percaya mengenai pertobatan harus direvisi, sebab selama ini banyak pengertian pertobatan yang salah. Sesungguhnya, pertobatan bukan hanya memiliki perubahan kelakuan secara moral yang terlihat, artinya berhenti dari suatu perbuatan yang dinilai salah menurut moral. Pertobatan orang percaya juga bukan seperti pertobatan bangsa Israel. Pertobatan dalam Perjanjian Lama adalah berbaliknya (Ibrani: Syub) bangsa Israel kembali ke torat dan Yahwe setelah melakukan penyimpangan. Adapun pertobatan orang-orang Niniwe juga tidak jelas formatnya. Ini semua bukanlah standar pertobatan orang percaya.

Pertobatan orang percaya adalah perubahan cara berpikir. Dari cara berpikir tertentu ke cara berpikir yang lain. Dari cara berpikir anak-anak dunia ke cara berpikir anak Tuhan. Inilah yang disebut sebagai metanoia. Masalahnya, sejauh mana perubahan cara berpikir iru? Jika perubahan cara berpikir belum sampai seperti cara berpikir Tuhan, maka tidak boleh berhenti bertobat. Cara berpikir ini sangat ditentukan oleh apa yang didengar. Ingat! Iman datang dari pendengaran, pengaran akan Firman Kristus (Roma 10:17). Dalam hal mendengar firman yang benar akan mencerdaskan roh. Hal ini membangkitkan kepekaan terhadap kehendak Tuhan dan gairah melakukannya. Inilah iman kepada Tuhan Yesus itu. Oleh karena cara berpikir Tuhan adalah cara berpikir yang sempurna, maka pertobatan memang tidak pernah berhenti sampai kita mati. Selain itu oleh karena wilayah pikiran adalah wilayah yang sangat luas, maka kita tidak bolah berhenti mengisi pikiran dengan pengertian yang baik dari kebenaran Alkitab supaya kita semakin dapat berpikir seperti Tuhan. Untuk itu harus sungguh-sungguh ada usaha yang serius mengisi wilayah pikiran kita setiap hari. Usaha ini seperti sebuah penaklukkan wilayah. Tidak boleh ada wilayah pikiran kita yang diisi oleh suatu filosofi atau cara berpikir yang bertentangan dengan kebenaran Tuhan. Terkait dengan hal ini betapa berbahayanya adanya pemalsuan-pemalsuan kebenaran, yaitu hal-hal yang dianggap benar padahal bertentangan dengan kebenaran Tuhan. Harus diwaspadai bahwa barang palsu sering mirip dengan aslinya. Kebenaran yang asli pasti mengubah hidup, yang palsu tidak. Perubahan itu ditandai dengan kehidupannya yang semakin tidak bercela, selalu berorientasi pada masalah-masalah kekekalan dan kesungguhannya dalam melayani Tuhan atau memberla kepentingan pekerjaan Tuhan tanpa batas.

Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar