Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Perempuan, untuk Dilindungi atau Berperan Aktif?

Sekali peristiwa, Daud kembali ke tempat tinggalnya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang lelaki yang kepayahan dan duduk bersandar di dekat batu. Daud turun dari kudanya dan menanyakan siapa dia. Orang itu memberitahukan bahwa belum lama berselang, tempat tinggal Daud telah dijarah orang. Wanita dan anak-anak telah ditawan.

Ia ditinggalkan di situ karena tidak mampu meneruskan perjalanan. Dalam waktu singkat, Daud menginterogasi orang itu dan menanyakan siapa yang menawan keluarganya, kapan, di mana kira-kira sekarang ini, berapa kekuatannya. Setelah Daud mengetahui dengan pasti, ia mengerahkan pasukannya untuk memburu penjarah itu. Daud dan pasukannya mengepung mereka yang sedang berkemah dan menyerang mereka saat lengah. Musuhnya dikalahkan secara telak. Ia membawa kembali keluarganya dan rakyat yang tertawan itu.

Sejak dulu di bawah "perlindungan" laki-laki?

Kawan-kawan Daud membawa kembali keluarga mereka. Itulah "harta" yang paling berharga bagi mereka. Dari peristiwa ini tersirat situasi dan posisi perempuan. Mereka ditawan karena tidak ada perlindungan dari kaum laki-laki. Ketika Daud dan pasukannya sedang melaksanakan misi dan keluarga mereka ditinggalkan tanpa pengawalan, malapetaka itu terjadi. Apa yang tersirat dari peristiwa ini? Sejarah kemudian menuliskan sebuah istilah yang kurang nyaman bagi wanita zaman modern sekarang ini, bahwa mereka adalah "kaum lemah yang patut dilindungi". Berabad-abad dalam sejarah kehidupan manusia, wanita diperlakukan sebagai pihak yang "lemah" dan harus "dilindungi". Di kalangan kaum primitif, mereka itu dianggap sebagai harta keluarga yang dapat "ditransaksikan" dengan barang tertentu.

Memang dalam sejarah dari abad ke abad, ada juga perempuan yang justru melindungi kaum laki-laki, tetapi jumlahnya tidak banyak. Peran tokoh perempuan yang sedikit ini sangat menonjol sehingga kaum laki-laki menuruti perintahnya. Mungkin secara fisik ia dianggap lemah, tetapi secara intelektual sebenarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Makanan yang dimakan perempuan sama dengan yang dimakan laki-laki. Hanya karena fisik dengan peran tertentu, secara alamiah perempuan itu diciptakan Tuhan dengan kemungkinan dapat hamil dan melahirkan anak. Laki-laki tidak memiliki kemungkinan seperti itu. Mungkin dalam situasi yang demikian, perempuan mengharapkan perlindungan dan kasih sayang dari pihak laki-laki, dalam hal ini suami dan keluarganya. Terlepas dari kondisi seperti itu, perempuan dan laki-laki sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang mencolok.

Superioritas kaum laki-laki kemudian ditunjukkan dalam hal pencarian nafkah. Karena laki-laki pada zaman primitif menjadi pemburu untuk mencari nafkah, maka perempuan menjadi pemasak hasil buruan itu dan menyediakan makanan untuk suami dan keluarganya. Peran ini kemudian dianggap kalangan laki-laki pada zaman tertentu sebagai peran sekunder. Yang primer adalah laki-laki yang berpenghasilan. Perempuan pun ditempatkan dalam posisi "dapur" yang tidak perlu mengejar pengetahuan yang tinggi. Tempat mereka terbatas di rumah sebagai penyedia makanan dan pengasuh bagi anak-anak.

Peran yang "Bergeser" Sesuai dengan Lingkungan

Sebagai "kaum yang lemah", perempuan pada umumnya menerima berbagai perlakuan dengan sikap pasrah. Segelintir perempuan berontak dan kemudian menjadikan mereka pemimpin pada kaumnya. Namun, sebagian besar tetap menerima peran "sekunder" itu. Alkitab seolah-olah membenarkan keadaan seperti itu. Tampaknya Alkitab "diam" terhadap peran perempuan dan menempatkannya sebagai makhluk yang perlu dilindungi demi kepentingan laki-laki.

Akan tetapi, kalau kita perhatikan dengan saksama, di dalam Alkitab peran perempuan cukup menonjol. Misalnya, Miriam, kakak Musa, ia berperan dalam keluarga sejak kecil. Dialah yang mengusulkan kepada putri Firaun supaya mencari pengasuh untuk bayi Musa yang diambil dari Sungai Nil itu. Saran cemerlang yang segera diterima putri Firaun. Dia pulalah yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Tampaknya, ia tidak menikah karena Alkitab tidak menceritakan ihwal keluarganya. Seumur hidupnya yang tidak berkeluarga itu, ia mengabdikan dirinya untuk memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir, mendampingi Musa. Harun bersamanya sebagai "triumvirat" yang kokoh.

Miryam, sebagai pemimpin biduan yang luar biasa, merangkai lagu dan membuat senandung yang menggugah bangsa itu ketika melintasi Laut Merah. Peran Miryam tidak kalah penting dari Musa, sekalipun ketiganya tidak selamanya sepakat dalam hal tertentu.

Dalam situasi yang luar biasa, saat laki-laki mulai gamang dan tidak berani tampil ke depan, selalu ada pemimpin perempuan yang tampil dan membebaskan umatnya dari kemelut. Mereka berjuang tanpa pamrih. Mereka menjadi pahlawan yang perkasa dan gagah berani, seperti singa yang melindungi anak-anaknya dari musuh, tidak peduli keselamatan diri sendiri. Ia berani berkorban demi keselamatan umat yang dipimpinnya.

Peran perempuan dari abad ke abad seolah-olah tenggelam di bawah bayang-bayang kaum laki-laki. Tetapi seiring perkembangan zaman, khususnya pada periode kemajuan teknologi, peran perempuan mulai bergeser, dari dapur ke ruang-ruang publik. Semakin banyak perempuan yang meninggalkan ruang dapur yang pengap dan menjadi tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah. Mereka menjadi pelopor dalam keluarga tanpa melupakan kodrat mereka sebagai perempuan. Bahkan pada abad ke-20, banyak perempuan yang bekerja di luar rumah dan menjadi pemimpin perusahaan.

Secara intelektual, mereka tidak kalah dari laki-laki. Mungkin malah lebih karena mereka dapat menggunakan otak kiri dan otak kanan dalam waktu yang bersamaan. Mereka dapat mengendalikan emosi, perasaan, otak, dan intelektual sesuai dengan kemampuan dan pendidikan yang diperolehnya. Di dalam dunia pendidikan, kaum perempuan lebih menonjol. Di mana pun di belahan bumi ini, kaum perempuan lebih banyak berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak supaya menjadi cerdas. Tidak mungkin orang yang tidak cerdas mencerdaskan orang lain. Maka, tidaklah mengherankan apabila ada pepatah yang mengatakan bahwa "surga ada di bawah telapak kaki ibu." Artinya, kebahagiaan itu diperoleh di tangan seorang ibu, bukan di kaki yang diinjak-injaknya. Kaki ibu yang berpijak dengan kukuh mendukung kebutuhan keluarga secara mantap.

Hampir tidak ada lowongan kerja yang tidak diisi oleh kaum perempuan. Dari dunia sekretaris sampai direktur, dari dunia industri sampai dunia angkasa luar, perempuan selalu tampil tanpa gamang. Di dalam dinas keamanan, tim medis ada yang terjun ke lapangan. Dari pengusaha sampai dunia pendidikan dan pemerintahan telah dirambah oleh perempuan. Laki-laki dan perempuan duduk bersama dan pimpinan rapat diambil oleh perempuan, tanpa penolakan dari kaum laki-laki.

Nuansa Kepemimpinan Perempuan

Nuansa yang tadinya patut "dilindungi" dan disamakan dengan "anak-anak" yang harus dilindungi, kini perempuan mengambil peran aktif sebagai penentu keluarga dan kemajuan bangsa. Kita tidak bisa menutup mata bahwa jumlah perempuan di negara tertentu lebih banyak dari laki-laki. Situasi seperti ini memacu mereka untuk bersaing secara ketat dan keras di antara sesama mereka sendiri, dan juga bersaing dengan kaum laki-laki. Dalam suasana seperti itu, kaum perempuan biasanya lebih unggul daripada kaum laki-laki yang merasa tidak perlu bersaing lagi.

Selain itu, kaum perempuan lebih peka terhadap lingkungannya. Ia seakan-akan memiliki indera keenam dengan intuisinya yang sensitif itu. Ibu yang memiliki anak dan memiliki posisi menentukan dalam sebuah perusahaan, misalnya, lebih tanggap kepada perasaan karyawannya ketimbang laki-laki. Sebagai pemimpin, ia memperlakukan bawahannya dengan rasa kodrat keibuannya yang tanggap terhadap sesamanya.

Tidak mustahil seorang pemimpin perempuan lebih tegas daripada seorang pemimpin laki-laki ketika melaksanakan sebuah keputusan yang sudah diambil. Umumnya, kalau seorang pemimpin perempuan sudah tiba kepada sebuah keputusan, ia akan melaksanakannya dengan segenap tenaga. Perasaan dan tekadnya berpadu, dan sekali ia menetapkan tujuan, tanpa ragu ia melaksanakannya dan menuntut bawahannya untuk berbuat yang sama!

Sejumlah tokoh di dalam Alkitab berwatak seperti itu. Deborah, Miryam, Abigail, Maria Magdalena, Rahab, Rut, Ester, dan sejumlah nama lainnya, mereka berperan aktif sebagai individu yang memiliki kepribadian yang teguh dan menentukan, sehingga tindakan mereka melebihi tindakan seorang laki-laki.

Perempuan pemimpin biasanya lebih terampil menciptakan lingkungan kerja serta tata lingkungan yang lebih baik dan kondusif, bagi orang yang dipimpinnya sehingga lebih berprestasi.

Di Mata Tuhan, Tidak Ada Diskriminasi

Sejak Hawa diciptakan sampai keturunan berikutnya, Tuhan membedakan laki-laki dari perempuan. Soal status tinggi rendahnya, itu hanyalah karena ego kaum laki-laki dan mitos bahwa kaum laki-laki adalah "kaum yang kuat", yang patut memberi perlindungan kepada "kaum lemah" yang disamakan dengan sikap terhadap "anak-anak".

Tuhan tidak bersikap diskriminatif sebagaimana Ia memberikan siang dan malam kepada siapa pun di dunia ini. Diskriminasi hanya dilakukan oleh manusia yang menganut prinsip bahwa perempuan lebih rendah dari laki-laki, dan juga karena ada perempuan yang menempatkan dirinya pada posisi yang lemah, dan menganggap laki-lakilah yang lebih hebat dan patut diberi kedudukan yang terhormat sebagai pemimpin. Cobalah pikirkan baik-baik, bahwa Tuhan mengirimkan Anak-Nya yang tunggal itu ke dunia, lahir melalui seorang perempuan bernama Maria. Bukankah itu merupakan sebuah kehormatan?

Diambil dari:

Judul majalah : Kalam Hidup/Oktober/2005/No.714
Penulis : Drs. Wilson Nadeak, MA.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005
Halaman : 32 -- 36
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar