RENUNGAN

Bisakah Anda membayangkan dunia tanpa peperangan, perkelahian, dan permusuhan? Tentu akan menjadi sangat indah, bukan?

Tapi keindahan akan sulit dicapai jika manusia tidak memiliki kasih. Dalam hidup ada tiga daerah kasih:

1. Kasih kepada Allah.

Berarti dalam hidup ini tidak ada allah lain selain Allah yang benar. Allah lain dapat berupa suatu kebiasaan, seseorang, sebuah benda, atau apa pun yang lebih menguasai hidup.

"... Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya." (1 Korintus 7:22)

Sebagai seorang misionaris baru, kami menerima banyak nasihat tentang melayani. Hingga akhirnya Yun Ssi berada di rumah kami, di Korea, selama 6 tahun. Dari pembantu wanita kecil yang tidak pernah bersekolah ini, saya belajar tentang pelayanan.

"Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12)

Minggu itu adalah minggu terakhir saya bekerja. Saya pensiun! Oh, senangnya! Akhirnya! 35 tahun sudahlah cukup! Meskipun demikian, saya menyukai pekerjaan saya sebagai kepala perawat, ketentuan perawatan kesehatan semakin sulit, dan dana yang disediakan selalu dipotong. Sekarang kami jarang dapat memenuhi persyaratan kepegawaian.

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." (Yohanes 1:14)

Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Dengan datang ke dalam dunia, Dia menyatakan Bapa Surgawi kepada kita. Itulah yang dimaksud oleh Yohanes ketika dia mengatakan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia".

Biasanya ketika seseorang berbicara tentang kasih Kristus, segera pembicaraan itu akan diarahkan kepada kayu salib, karena di kayu salib itulah kasih Allah dinyatakan secara luar biasa dengan menyerahkan Anak Tunggal-Nya sebagai kurban untuk pengampunan dosa manusia. Di kayu salib itu pun, Anak Allah karena kasih-Nya rela tunduk dan taat kepada kehendak Bapa untuk menumpahkan darah, memecahkan tubuh, dan menyerahkan nyawanya demi keselamatan manusia.

Yesus Berbicara kepada Satu Jiwa

Suasana Natal sudah terasa di mana-mana. Baik di gereja, juga di mal. Lampu-lampu Natal dan hiasan-hiasannya mulai terpasang dan terpajang. Kumandang lagu-lagu Natal pun semakin bisa terdengar kalau kita berjalan di sepanjang koridor toko-toko di pusat perbelanjaan modern. Itukah semangat Natal?

Beberapa waktu lalu saya menonton film yang mencoba mengangkat cerita klasik karya Charles Dicken "A Christmas Carol", ke alam modern. Kisah ini menampilkan sosok Scrooge yang membenci Natal karena hanya menghambur-hamburkan uang. Melalui serangkaian mimpi yang dialaminya -- ia dibawa ke masa lalunya, berpindah ke masa sekarang, dan akhirnya ke saat kematiannya -- ia disadarkan telah kehilangan hal berharga selama ini, yaitu semangat Natal untuk memberi dan berbagi dengan keluarganya (keponakannya) dan dengan orang-orang lain. Jadi semangat Natal adalah berbagi dan memberi?

Apakah wanita harus tetap melayani suaminya? Perdebatan ini tampaknya muncul sebagai perdebatan yang tidak berujung -- khususnya akhir-akhir ini.

Terkadang saya bertanya-tanya apakah kita tidak merindukan kebersamaan kita dalam perang yang panas ini. Dalam Efesus 5, Paulus mengawali tegurannya kepada para suami serta istri, "Hormatilah Kristus dengan saling melayani." (Efesus 5:21, FAYH) Para pria akan segera sadar, bahwa dalam pernikahan, Paulus memberikan waktu dan perhatian kepada tanggung jawab para pria dua kali lebih banyak daripada tanggung jawab para istri.

"Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku." (Mazmur 66:20)

Tuhan, Engkau telah memberikan anak-anak

Untuk kuasuh dan kukasihi;

Untuk menjalani kehidupan kelak

Dan dipersiapkan untuk surga nantinya.

Aku tak punya bakat atau keterampilan;

Tak ada petunjuk yang datang dengan kelahiran mereka.

Jadi aku terus berjuang di sepanjang jalan

Menjadi orang tua yang baik di dunia ini.

Wanita yang Sibuk

"Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka
semua." (Amsal 31:29)

Wanita karier pergi ke pasar.
Wanita kreatif tinggal di rumah.
Wanita bijak mengerjakan keduanya dan mengasuh anak.
Wanita yang sudah berkecukupan memilih tidak melakukan apa-apa.
Wanita yang masih bimbang belajar dari keempat wanita itu,
dan pulang dengan hati gembira.

Kasih Itu Sabar

Sekalipun kita menginginkan supaya kebutuhan-kebutuhan kita terpenuhi dan mimpi-mimpi kita menjadi kenyataan, kita tidak menuntut pemenuhan semua keinginan kita itu terjadi dengan segera. Kita ingatkan diri kita bahwa hubungan yang tidak terus bertumbuh akan mati. Hubungan kita bertumbuh -- karena pernikahan kita itulah kekuatan dan perhatian kita.

Pembacaan Alkitab: Rut 1:11-19

"Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya Tuhan menghukum aku, bahkan lebih lagi daripada itu, jikalau sesuatu apa pun memisahkan aku dari engkau, selain daripada maut" (Rut 1:16-17)

"... Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini .... " (Markus 16:6)

Jikalau Anda telah membaca keseluruhan Injil Markus, Anda akan merasakan kepentingan Markus menuliskan kitabnya, bahwa ia seakan-akan hanya ingin memaparkan fakta-fakta penting yang harus diketahui oleh pembacanya. Karena itu, tidak tampak adanya usaha untuk menyampaikannya secara menarik dan persuasif, apalagi bombastis, seperti layaknya para reporter zaman sekarang, yang menghendaki beritanya dibaca oleh banyak orang. Sebagian besar tulisan Markus bernada datar, jujur, dan apa adanya.

"Dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus." (Kolose 1:20)

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Korintus 13:13)

Pages