RENUNGAN

" Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."
Matius 4:4

Seperti biasanya, setiap pagi saya mengantar anak saya yang masih TK ke sekolahnya. Karena terburu-buru, dia duduk di sebelah saya dengan masih memegang roti sarapannya yang belum habis dimakan. Terlintas dalam pikiran saya untuk mengingatkannya akan salah satu ucapan Tuhan Yesus dalam Matius 4:4.

Sayang,

Beberapa minggu terakhir ini, Bunda sering berpikir tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Raja Salomo. Ia memiliki keluarga yang besar (1 Raja-Raja 11:1-3), tinggal di istana yang besar (1 Raja-Raja 7:1-12, 10:14-21), beribadah di bait yang besar (1 Raja-Raja 6:1-38, 7:13-51, 8:1-66, 9:25; 2 Tawarikh 3:2-7), memerintah kerajaan yang besar dengan populasi rakyat dan pasukan tentara yang besar (1 Raja-Raja 4:20-21)

"Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!" (Mazmur 118:24)

Tuhan, hari ini adalah milik-Mu. Buatlah hatiku melekat pada-Mu hari ini. Bebaskanlah aku dari pikiran-pikiran, urusan-urusan, dan kekhawatiran duniawi. Angkatlah aku ke suasana ilahi yang penuh dengan iman, percaya, dan harapan. Kiranya damai sejahtera-Mu melingkupiku dan memenuhi pikiranku.

"Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku." (Yohanes 5:30)

Wahyu 22:16-21

Pengkhotbah terkenal, F.B. Meyer, pernah bertanya kepada penginjil D.L. Moody, "Apa rahasia keberhasilan Anda?" Moody menjawab, "Selama bertahun-tahun, saya tidak pernah memberikan alamat tanpa kesadaran bahwa Tuhan datang sebelum saya selesai."

Bisakah Anda membayangkan dunia tanpa peperangan, perkelahian, dan permusuhan? Tentu akan menjadi sangat indah, bukan?

Tapi keindahan akan sulit dicapai jika manusia tidak memiliki kasih. Dalam hidup ada tiga daerah kasih:

1. Kasih kepada Allah.

Berarti dalam hidup ini tidak ada allah lain selain Allah yang benar. Allah lain dapat berupa suatu kebiasaan, seseorang, sebuah benda, atau apa pun yang lebih menguasai hidup.

"... Demikian pula orang bebas yang dipanggil Kristus, adalah hamba-Nya." (1 Korintus 7:22)

Sebagai seorang misionaris baru, kami menerima banyak nasihat tentang melayani. Hingga akhirnya Yun Ssi berada di rumah kami, di Korea, selama 6 tahun. Dari pembantu wanita kecil yang tidak pernah bersekolah ini, saya belajar tentang pelayanan.

"Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12)

Minggu itu adalah minggu terakhir saya bekerja. Saya pensiun! Oh, senangnya! Akhirnya! 35 tahun sudahlah cukup! Meskipun demikian, saya menyukai pekerjaan saya sebagai kepala perawat, ketentuan perawatan kesehatan semakin sulit, dan dana yang disediakan selalu dipotong. Sekarang kami jarang dapat memenuhi persyaratan kepegawaian.

"Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita." (Yohanes 1:14)

Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Dengan datang ke dalam dunia, Dia menyatakan Bapa Surgawi kepada kita. Itulah yang dimaksud oleh Yohanes ketika dia mengatakan bahwa "Firman itu telah menjadi manusia".

Biasanya ketika seseorang berbicara tentang kasih Kristus, segera pembicaraan itu akan diarahkan kepada kayu salib, karena di kayu salib itulah kasih Allah dinyatakan secara luar biasa dengan menyerahkan Anak Tunggal-Nya sebagai kurban untuk pengampunan dosa manusia. Di kayu salib itu pun, Anak Allah karena kasih-Nya rela tunduk dan taat kepada kehendak Bapa untuk menumpahkan darah, memecahkan tubuh, dan menyerahkan nyawanya demi keselamatan manusia.

Yesus Berbicara kepada Satu Jiwa

Suasana Natal sudah terasa di mana-mana. Baik di gereja, juga di mal. Lampu-lampu Natal dan hiasan-hiasannya mulai terpasang dan terpajang. Kumandang lagu-lagu Natal pun semakin bisa terdengar kalau kita berjalan di sepanjang koridor toko-toko di pusat perbelanjaan modern. Itukah semangat Natal?

Beberapa waktu lalu saya menonton film yang mencoba mengangkat cerita klasik karya Charles Dicken "A Christmas Carol", ke alam modern. Kisah ini menampilkan sosok Scrooge yang membenci Natal karena hanya menghambur-hamburkan uang. Melalui serangkaian mimpi yang dialaminya -- ia dibawa ke masa lalunya, berpindah ke masa sekarang, dan akhirnya ke saat kematiannya -- ia disadarkan telah kehilangan hal berharga selama ini, yaitu semangat Natal untuk memberi dan berbagi dengan keluarganya (keponakannya) dan dengan orang-orang lain. Jadi semangat Natal adalah berbagi dan memberi?

Apakah wanita harus tetap melayani suaminya? Perdebatan ini tampaknya muncul sebagai perdebatan yang tidak berujung -- khususnya akhir-akhir ini.

Terkadang saya bertanya-tanya apakah kita tidak merindukan kebersamaan kita dalam perang yang panas ini. Dalam Efesus 5, Paulus mengawali tegurannya kepada para suami serta istri, "Hormatilah Kristus dengan saling melayani." (Efesus 5:21, FAYH) Para pria akan segera sadar, bahwa dalam pernikahan, Paulus memberikan waktu dan perhatian kepada tanggung jawab para pria dua kali lebih banyak daripada tanggung jawab para istri.

"Terpujilah Allah, yang tidak menolak doaku dan tidak menjauhkan kasih setia-Nya dari padaku." (Mazmur 66:20)

Tuhan, Engkau telah memberikan anak-anak

Untuk kuasuh dan kukasihi;

Untuk menjalani kehidupan kelak

Dan dipersiapkan untuk surga nantinya.

Aku tak punya bakat atau keterampilan;

Tak ada petunjuk yang datang dengan kelahiran mereka.

Jadi aku terus berjuang di sepanjang jalan

Menjadi orang tua yang baik di dunia ini.

Wanita yang Sibuk

"Banyak wanita telah berbuat baik, tetapi kau melebihi mereka
semua." (Amsal 31:29)

Wanita karier pergi ke pasar.
Wanita kreatif tinggal di rumah.
Wanita bijak mengerjakan keduanya dan mengasuh anak.
Wanita yang sudah berkecukupan memilih tidak melakukan apa-apa.
Wanita yang masih bimbang belajar dari keempat wanita itu,
dan pulang dengan hati gembira.

Pages