Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Seorang Istri Khawatir Tidak akan Mendengar Suara Suaminya Lagi Selama 8 Tahun Ke Depan

Pemerintah Amerika tidak yakin Saeed Abedini akan dapat dibebaskan dari penjara Iran.

Musim Semi di Idaho, Colorado, 28 Januari 2013 (Sumber: World Watch Monitor) - Istri dari seorang warga negara Amerika berkebangsaan Iran yang dijatuhi hukuman 8 tahun penjara khawatir tidak akan dapat bertemu dengan suaminya lagi sampai tahun 2021, kecuali pemerintah Amerika sanggup membebaskannya. Naghmeh Shariat Panahi mengatakan pada World Watch Monitor bahwa terakhir kalinya ia mendengar suara Saeed Abedini adalah melalui sambungan telepon internasional selama 3 menit pada 9 Januari lalu. Keluarga Abedini di Teheran, Iran, menempelkan 2 telepon selular bersamaan -- satu telepon tersambung pada Naghmeh di Idaho, Amerika, sementara telepon yang lainnya tersambung pada Abedini di penjara Iran -- agar keduanya dapat saling bercakap-cakap. "Ia ingin mendengar suara anak-anak kami," ujar Naghmeh. Pasangan suami istri ini memiliki sepasang anak, Rebekka yang berusia 6 tahun dan Jacob yang berusia 4 tahun. Setelah percakapan telepon selama 3 menit itu selesai, Naghmeh mendengar bahwa ia tidak akan bisa menelepon suaminya lagi.

Saeed Abedini, 32 tahun, yang ditahan pada bulan September 2012 dan menjalani pengadilan sejak 21 Januari lalu, dijatuhi hukuman 8 tahun penjara karena dianggap mengancam stabilitas dan keamanan nasional Iran atas usahanya mendirikan gereja-gereja rumah. Ia adalah seorang berkebangsaan Iran yang meninggalkan Islam untuk menjadi pengikut Kristus pada tahun 2000, dan setelah itu giat melayani dalam pendirian gereja-gereja rumah kecil di Iran. Ia kemudian mendapatkan kewarganegaraan Amerika dan menetap bersama istri dan kedua anaknya di Idaho, Colorado. Pengacara Saeed mengatakan, ketika mendapat peringatan dari pemerintah Iran pada tahun 2009, kliennya telah setuju untuk berhenti mendirikan gereja-gereja rumah di Iran. Sejak itu, Saeed mengalihkan fokus pelayanannya pada pendirian panti asuhan umum dan ia telah berkali-kali mengunjungi Iran untuk menyelesaikan proyeknya tersebut.

Saat ini, berbagai macam cara sedang diupayakan oleh Tiffany Barrans, pengacara Saeed, agar Pengadilan Revolusioner Iran membatalkan hukuman dan membebaskan Saeed.

"Tindakan yang mungkin ampuh dalam membebaskan Saeed adalah bila pemerintah Amerika mengupayakan jalur diplomatik dalam kasus ini, yaitu dengan meminta bantuan negara-negara sekutu Amerika yang melakukan perdagangan dengan Iran agar memutuskan hubungan dan menghentikan perdagangan dengan negara tersebut," ujarnya kemudian. Saat ini, Iran memang sedang mengalami krisis perekonomian yang cukup parah. Sementara itu di Idaho, Amerika Serikat, Naghmeh yang menanti-nantikan suami yang dicintainya itu mengatakan bahwa pihak yang berwenang beberapa kali mengunjunginya untuk menyampaikan perkembangan terbaru dari kasus tersebut, sekaligus memberikan dukungan moril padanya. "Mereka bilang mereka sangat peduli pada keluarga kami, tetapi nampaknya tidak ada kejelasan dan kepastian tentang kasus suamiku ini," katanya pada Open Doors.

Naghmeh, yang dilahirkan di Iran, tetapi dibesarkan di Amerika Serikat dan menjadi warga negara di sana, bertemu dengan Saeed saat mengunjungi keluarganya di Iran. Mereka kemudian menikah pada tahun 2004 dan pindah ke Idaho setahun kemudian setelah Saeed diinterogasi oleh polisi Iran yang mencurigai aktivitas gereja rumah yang dilakukannya. Saat ini, Naghmeh tidak lagi dapat menghubungi suaminya via telepon maupun mengunjunginya di penjara Iran. "Inilah yang paling berat yang saya rasakan. Sebagai seorang Istri, tentunya saya sangat ingin mengunjungi suami saya. Namun, saya diancam akan dipenjarakan bila menginjakkan kaki di Iran. Bagaimana dengan anak-anak kami nanti? Kehilangan ayah dan ibu mereka ...," ujarnya sambil terisak. "Dukungan terbesar yang saya butuhkan adalah doa. Sebab, bila kami tidak berhasil membebaskannya dalam waktu dekat ini, selanjutnya akan sangat sulit untuk mengupayakan pembebasan suami saya. Mungkin baru bertahun-tahun lagi kami dapat bertemu dan berkumpul kembali sekeluarga," lanjut Naghmeh sembari memeluk putra bungsunya, Jacob.

Diambil dan disunting dari:

Judul buletin : Frontline Faith
Edisi buletin : Maret -- April 2013
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Open Doors Indonesia, 2013
Halaman : 7
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar