Siapakah Sesamaku?

Pada hari Selasa, 28 Januari, turun hujan salju yang tidak diprediksi sebelumnya, suhu udara menjadi turun drastis, serta penutupan sekolah secara tiba-tiba, menjadi penyebab utama penundaan lalu lintas di banyak kota di bagian Selatan, termasuk kota asal saya, Birmingham, Alabama (salah satu negara bagian di Amerika Serikat - red.) Hanya dalam waktu beberapa jam setelah turunnya salju pertama, lalu lintas yang padat menyumbat jalan-jalan tol antar negara bagian, dan kecelakaan memblokir banyak jalan. Tanpa peringatan sebelumnya, puluhan karyawan terdampar di tempat kerja, sementara warga lainnya terjebak saat melakukan berbagai urusan mereka. Sementara waktu terus berjalan, kerumunan pengendara kehabisan bensin, menemukan jalan buntu, dan meninggalkan mobil mereka demi mencari perlindungan di rumah atau pertokoan yang buka sebagai tempat singgah yang hangat.

Berbeda sekali dengan cuaca yang terasa begitu dingin, tindakan kebaikan yang hangat dengan cepat mengubah orang asing menjadi teman. Di seluruh wilayah, siswa yang berjumlah ribuan harus terdampar dan harus menginap di sekolah, tetapi petugas-petugas administrasi menghibur para orang tua yang khawatir dengan mengatakan bahwa guru-guru akan menjaga murid-murid mereka sampai keluarga yang terakhir bertemu kembali.

Setelah berusaha untuk menjemput anak-anak kami dalam beberapa jam yang berbahaya, suami saya, Joe, berjalan pulang dengan empat anak kami. Ia mengatakan sebuah keluarga, dengan semangat untuk menolong, menyediakan mobil caravan mereka dengan melakukan 4 mil perjalanan, dan di sepanjang perjalanan, mereka membantu orang-orang lainnya di sepanjang jalan raya yang licin dekat rumah kami.

Saya meninggalkan kantor di sore hari bersama rekan kerja saya, Becky, yang bekerja di bagian divisi kami. Setelah hampir empat jam berada di jalan tol dan mendengarkan peringatan dari radio yang menyatakan bahwa kebanyakan dari kami yang masih berada di jalan pada saat itu akan bermalam di kendaraan kami, kami mencari perlindungan di rumah rekan kerja yang lain. Dari apartemennya, yang berjarak kurang dari 3 mil dari kantor kami, kami terus berhubungan dengan orang-orang yang kami kasihi serta para tetangga melalui ponsel dan media sosial.

Secara khusus, kami berdoa untuk seorang teman dari rekan kerja saya yang menghabiskan malam di pusat perbelanjaan Walmart bersama putranya yang cacat, yang berusia 18 tahun. Sang ibu menyiapkan kasur udara sebagai tempat tidur darurat, dan para karyawan di pusat perbelanjaan tersebut menawarkan makanan dan bantuan, sementara para tetangga membuat rencana untuk membawa keduanya ke rumah mereka di atas bukit yang bersalju, pada hari berikutnya.

Becky dan saya memulai perjalanan pulang kami pada hari Rabu, sekitar pukul 2 sore hari. Kami membuat perjalanan menjadi beberapa mil lebih dekat dengan mobil, sebelum kami meninggalkan mobil dan pergi dengan berjalan kaki. Seorang pria yang mengendarai truk menawari kami untuk menumpang di sepanjang sisa perjalanan kami. Tetapi, kami menyerahkan kursi kami ketika melihat seorang pria dengan gips di pergelangan kakinya berjalan dengan kedua anaknya yang masih memegang ransel mereka dari sekolah sehari sebelumnya.

Kami tidak dapat menahan tawa saat sopir menawarkan untuk membuka pintu bak truknya dan membawa kami menuju lingkungan rumah kami di bagian belakang truknya. Dia telah membawa banyak orang pulang ke rumah sepanjang hari itu.

Saya bersyukur dapat tiba di rumah sebelum matahari terbenam di hari Rabu itu. Perjalanan yang tidak diharapkan ini memberikan kepada masyarakat kami semacam pengingat yang tajam, bahwa Tuhan adalah setia, dan setiap orang yang berada di dalam perjalanan kami adalah sesama kami. (t/ N. Risanti)

Diambil dari:

Nama situs : Christian Woman Magazine
Alamat URL : http://www.gospeladvocate.com/christian-woman-magazine-march-april-2014-...
Judul asli artikel : Who is My Neighbor
Penulis artikel : Melissa Lester
Tanggal akses : 2 April 2014

Komentar