Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Susanna Wesley

Susanna Wesley

Susanna Wesley: Ibu Orang Kristen

Susanna Wesley

Ketika Susanna Annesley, anak ke-25 Dr. Annesley lahir dari istri keduanya, mungkin tidak banyak pembicaraan tentang dia atau masa depannya. Hampir tidak terbayangkan oleh keluarganya bahwa dia akan menjadi ibu dari John dan Charles Wesley, pendiri Methodisme di seluruh dunia. Susanna adalah "wanita tua berusia 19 tahun" (pernikahan yang terlambat pada zaman itu) ketika ia menjadi istri Samuel Wesley, pendeta Anglikan.

Keluarga Wesley menelusuri garis keturunan mereka sampai abad ke-10, tetapi silsilah keluarga tidak banyak membantu masalah pernikahan 44 tahun mereka. Mereka menderita penyakit, kemiskinan, dan kematian anak. Api dua kali menghancurkan rumah mereka. Namun, melalui itu semua, Susanna menerima kehendak Allah dan menyerahkan dirinya dan keluarganya di tangan-Nya.

Secara politik, Samuel dan Susanna adalah pengikut partai Tory, tetapi sementara Samuel menerima William dari Orange sebagai Raja William III, Susanna menganggap James II sebagai raja yang sesungguhnya. Sekali waktu, pada tahun 1701, Susanna menolak untuk mengatakan "Amin" atas doa Samuel untuk Raja William. Ketegangan pun terjadi. Samuel berangkat ke London sebagai pengawas Convocation selama satu tahun. Ia kembali pada tahun 1702 ketika Ratu Anne, yang keduanya mengakui sebagai yang sah, naik takhta. Jadi, dalam arti sebenarnya, kita bisa mengatakan bahwa John adalah anak dari rekonsiliasi mereka.

Susanna melahirkan antara tujuh belas sampai sembilan belas anak-anak; sepuluh selamat. Ketidakhadiran suaminya yang sering pergi untuk urusan gereja membuat manajemen rumah tangga ada di tangannya. Melalui itu semua, dia tetap menjadi seorang Kristen teguh yang mengajar tidak hanya melalui Kitab Suci, tetapi juga melalui teladannya sendiri mengenai kepercayaan sehari-hari pada Allah. Dia pernah menulis: Kita harus mengenal Allah berdasarkan pengalaman supaya hati memandang dan mengenal Dia menjadi yang paling baik, satu-satunya kebahagiaan. Jiwa tidak akan merasa dan mengenal sehingga ia tidak dapat memiliki ketenangan, tidak ada damai, tidak ada sukacita, kecuali dalam mengasihi dan dikasihi oleh-Nya.

Anak-anaknya dibesarkan dengan ketat. Mereka diajarkan untuk menangis pelan, makan apa yang di hadapan mereka, dan tidak menaikkan suara mereka atau bermain dengan ribut. Hukuman fisik diterapkan, tetapi pengakuan kesalahan bisa menghindarkannya. Semua, kecuali satu, dari anak-anaknya belajar membaca dari usia lima tahun, termasuk anak-anak perempuan. (Susanna membuat aturan untuk dirinya sendiri, yaitu menggunakan satu jam sehari dengan masing-masing anak selama periode satu minggu.) Setelah kebakaran pada tahun 1709, disiplin keluarga rusak, tetapi Susanna berhasil mengembalikannya pada kemudian hari. Dia memberikan perhatian khusus kepada John, yang hampir hilang dalam kebakaran itu. John menyebut dirinya sebagai "yang direnggut dari api pembakaran", dan ibunya mengatakan bahwa ia dimaksudkan untuk menjadi lebih sangat hati-hati dengan jiwa anak ini yang "dengan murah hati telah Engkau berikan, lebih daripada yang aku alami sebelumnya, supaya kiranya aku berusaha untuk menanamkan dalam benaknya disiplin rohani dan kebajikan-Mu yang sejati."

Dikatakan bahwa pada usia enam atau tujuh tahun, John berpikir bahwa dia tidak akan pernah menikah "karena aku tidak pernah bisa menemukan seorang wanita seperti yang ayahku dapatkan". Setelah Samuel Wesley meninggal pada 1735, Susanna tinggal bersama anak-anaknya, terutama pada tahun terakhirnya, dengan John. Dia meninggal pada 23 Juli 1742 dan dimakamkan di London Bunhill Fields, tempat John Bunyan dan Isaac Watts juga dimakamkan. Anaknya memenangkan puluhan ribu jiwa bagi Kristus. Dia tidak akan berharap lebih lagi. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Christianity.com
Alamat situs : http://www.christianity.com/church/church-history/timeline/1701-1800/susanna-wesley-christian-mother-11630240.html
Judul asli artikel : Susanna Wesley: Christian Mother
Penulis artikel : Diane Severance, Ph.D.
Tanggal akses : 12 Oktober 2017
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar