Tamar, Seorang Wanita yang Diabaikan yang Menuntut Hak-nya (Kej.38:6-30)

"Secara khusus, ketegasan dalam perempuan baik untuk laki-laki. Kami, para lelaki akan menjadi lebih baik jika perempuan pemberian Allah dengan giat mengasah talenta-talenta mereka demi kami dan memberitahu kami untuk mempertimbangkan di mana kami telah bertindak dengan egois atau tidak adil terhadap mereka atau orang lain." (John Scanzoni -- Diambil dari "Assertiveness for Christian Women" karangan John Scanzoni, Christianity Today, 4 Juni 1976, halaman 17. Hak cipta 1976 oleh Christianity Today. Digunakan dengan izin).

Tamar, namanya berarti "pohon kelapa", membetulkan pakaian panjangnya. Dikenakan dengan korset yang mengikat erat pinggangnya, lipatan-lipatannya, melambai di sekitar sosoknya yang ramping dan hampir menyentuh tanah. Ia termenung memandangi pakaian jandanya yang baru saja ia tanggalkan, kemudian ia ingat bahwa kerudungnya harus dikenakan dengan benar.

Lagi Tamar melihat dirinya. Bertahun-tahun yang lalu ia seringkali mengenakan pakaian yang berwarna-warni, tetapi sekarang ia hampir tidak mengingat peristiwa-peristiwa bahagia itu. Meskipun ia terlihat lebih muda dengan pakaian ini, tidak ada sukacita dalam pandangannya. Matanya serius, dan di sekitar mulutnya ada garis-garis kedukaan yang tidak terucapkan. Ia janda yang kesepian yang terabaikan.

Geraknya pasti; ia tahu apa yang ia inginkan. Ia telah menimbang konsekuensi dari keputusannya yang telah perlahan matang di dalam dirinya dan tahu harganya cukup mahal. Dengan hati yang berat, ia menjalankan rencananya yang ia ingin hindari sepenuhnya.

Saatnya sudah tiba baginya untuk meminta haknya, karena terpaksa, karena tidak ada orang lain lagi yang memperhatikan kepentingannya. Selama bertahun-tahun ia telah menunggu sebuah kata dari ayah mertuanya, Yehuda, tetapi kata tersebut tidak pernah datang. Yehuda, ia merenung, lebih memilih melupakan aku sepenuhnya. Oleh karena itu, ia sedang dalam perjalanan menemuinya.

Ketika Tamar mendekati pintu dari rumah di mana ia pernah tinggal, ia mengenang pengalaman yang pernah ia alami dengan Yehuda dan anak-anaknya.

Ia sungguh bangga ketika Yehuda memilihnya untuk menjadi mempelai wanita bagi Er, anak laki-laki Yehuda. Yehuda adalah anak laki-laki Yakub, pemimpin yang dihormati yang telah datang untuk tinggal di Kanaan dari negeri Mesopotamia. Di samping kekayaan dan banyaknya anak laki-laki, Yakub dikenal karena ia menyembah Allah langit dan bumi. Ia dan keluarganya tidak menyembah dewa-dewa matahari atau bulan, atau berhala-berhala dari kayu dan batu. Allah yang kekal adalah Tuhan mereka dan itu membuat mereka unik.

Wajar saja, faktor-faktor ini telah meninggikan harapan-harapan Tamar. Ia telah menganggap dirinya mempunyai hak istimewa menikah dengan Er. Tetapi segala sesuatunya telah terjadi berbeda dengan yang ia harapkan. Suaminya yang baru tidak membuktikan menjadi seorang laki-laki yang baik sama sekali. Pada kenyataannya, tingkah lakunya sudah menimbulkan amarah Allah sehingga Ia mengambil hidup Er.

Hukum dari suku di mana Tamar sekarang berada melarang seorang wanita yang tidak punya anak untuk tetap menjadi seorang janda. Para pemimpin yakin bahwa nama dari laki-laki tidak dapat, dalam segala hal, dilupakan.

Karena ia seorang menantu, Tamar tetap di bawah otoritas ayah mertuanya setelah kematian suaminya. Adalah tugas mertuanya untuk menyelenggarakan bagi Tamar pernikahan yang kedua, seperti yang pertama. "Menikahlah dengan kakak iparmu, Tamar", katanya kepada anak laki-lakinya yang kedua, Onan. "Hukum kita mewajibkan ini dari seorang saudara laki-laki yang sudah meninggal; sehingga anak-anaknya daripadamu akan menjadi ahli waris saudaramu laki-laki." (Kejadian 38:8)

Onan memenuhi tugasnya dan menikahi Tamar, tetapi hanya luarnya saja. Pernikahan mereka pada kenyataannya hanya pura-pura. Dengan tujuan mencegah agar istri barunya tidak hamil, Onan menolak untuk mempertahankan kenangan akan kakaknya tetap hidup dan membawa ahli waris ke dalam dunia.

Oleh karenanya ia menyebabkan Tamar sangat menderita. Ia tidak hanya menghina Tamar, tetapi juga melukai lembaga Allah tentang ikatan pernikahan yang kudus. Ia dengan sengaja menyabotase keberlangsungan keturunan Yehuda. Ia melakukan ini tidak hanya sekali, tetapi berulang-ulang.

Allah tidak dapat memaafkan dosa ini, khususnya karena Mesias yang dijanjikan akan datang dari keturunan Yehuda. Prediksi ini akan diceritakan dengan jelas kemudian, pada kematian Yakub (Kejadian 49:8-10). Seberapa besar Yehuda dan anak-anak laki-lakinya sudah menyadari kenyataan ini, tidak diketahui. Tetapi masa depan yang tidak diketahui ini tidak membuat tingkah laku Onan mereda kekejiannya.

Setelah Onan, seperti kakaknya Er, mati oleh Allah karena dosa-dosanya, Tamar menjadi seorang janda untuk kedua kalinya. Kepercayaannya terhadap agama tersebut dan pada laki-laki secara umum telah rusak parah. Satu-satunya orang yang tampaknya masih ia percayai adalah Yehuda, ayah mertuanya.

"Tunggulah untuk menikah lagi sampai anak laki-lakiku yang paling kecil, Syela, dewasa, kata Yehuda. "Maka ia akan menjadi suamimu." (Kejadian 38:11)

Jadi Tamar kembali ke rumah orang tuanya untuk menunggu Syela cukup dewasa untuk menikahinya. Itulah satu-satunya hal yang dapat dilakukan oleh seorang janda pada waktu itu. Ia tidak dapat menghidupi suatu hidup yang mandiri atau mengejar pengembangan pribadi yang lebih jauh. Seorang perempuan lajang atau janda hanya melakukan apa yang ia harus lakukan.

Hari menjadi minggu, minggu menjadi bulan, dan bulan menjadi tahun tanpa menghasilkan suatu perubahan dalam keadaan Tamar. Lama kelamaan nyatalah bagi Tamar bahwa Syela tidak akan pernah datang kepadanya. Yehuda takut kalau anak laki-lakinya yang bungsu juga akan meninggal setelah menikahi Tamar, jadi mencegah hal itu terjadi. Tamar menjadi mengerti bahwa orang-orang menyalahkan dia untuk kematian kedua suaminya. Bukannya mengakui perbuatan salah anak-anaknya, Yehuda menempatkan kesalahan itu pada Tamar.

Dengan penyingkapan pengakuan itu, Tamar berhenti mempercayai Yehuda. Tertekan oleh semua persoalan pernikahannya, ia tidak pernah ditanya untuk suatu pendapat. Tidak seorang pun bahkan menanyakan tentang perasaannya. Ia hanya diangap seorang perempuan tanpa hak, bebas diperlakukan oleh seorang laki-laki sesukanya. Kutukan yang dijatuhkan atas Hawa, bahwa laki-laki akan menguasai perempuan, juga tertimpakan kepadanya (Kejadian 3:16).

Tetapi Tamar tidak mau terus terlibat dalam perilaku tersebut. Meskipun terluka dengan perlakukan penghinaan yang ia terima, ia tidak mau mencari penghiburan dari suami yang lain. Ia menghormati permohonan ayah mertuanya, meskipun ia tahu bahwa Syela tidak akan menikahinya demi apa pun. Ia tahu kalau Yehuda mungkin ingin melupakan bahwa namanya pernah terdaftar dalam suku Yehuda.

Memahami bahwa ketika ia menyelesaikan masalah ini dengan tangannya sendiri maka semua tanggung jawab akan beralih kepadanya, Tamar menolak untuk mengabaikan tugasnya. Perintah untuk memenuhi bumi adalah tanggung jawab pertama yang diberikan kepada laki-laki dan perempuan dengan setara (Kejadian 1:28). Hanya karena laki-laki tersebut tidak memenuhi kewajiban yang diberikan Allah, ia merasa, tidak ada alasan baginya untuk mengabaikan tugas-tugasnya juga. Sebagai makhluk hidup, ia harus memberikan pertanggungjawaban pribadi atas tindakannya kepada Allah. Tanpa menghiraukan kebebasannya untuk lari dari kewajiban tersebut, Tamar menolak untuk berkompromi.

Kewajiban untuk melahirkan seorang ahli waris membebaninya dengan amat berat. Ia mengerti berdasarkan intuisinya kalau keunikan suku Yehuda harus dipertahankan berapa pun harganya dan menganggap apa yang ia lakukan adalah tugas keagamaan. Untuk alasan-alasan ini, Tamar mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan ayah mertuanya.

Sementara itu, Yehuda sedang dalam perjalanan dari Adulam ke Timna. Ia menantikan hari-hari yang sedang dijelangnya. Seperti nenek moyangnya, Abraham, Ishak, dan Yakub, ia adalah gembala yang kaya dan akan pergi ke Timna untuk mengawasi peristiwa *penggembalaan* tahunan. Setelah kerja keras mencukur domba-domba diselesaikan dengan tuntas, akan ada perayaan besar. Selama berminggu-minggu setiap orang akan membicarakan perayaan ini, karena akan ada makanan dan minuman khusus dalam jumlah yang berlimpah.

Yehuda bersukacita karena ia memikirkan tentang peristiwa yang akan tiba itu. Masa yang ada di belakangnya tidak dipedulikannya. Selama bertahun-tahun, ada kesengsaraan besar dalam hidupnya karena kematian anak-anaknya. Akhir-akhir ini kehilangan istrinya juga menambah satu beban lagi di pundaknya.

Tetapi masa perkabungan sekarang berlalu, dan Yehuda ingin bersantai. Ia ingin memunculkan dirinya di masyarakat sekali lagi. Jadi ia bepergian dengan bekal. Tanda pengenalnya yang tergantung di leher dengan tali perak dan emas menunjukkan kepada orang-orang yang lewat bahwa ia laki-laki yang berbeda. Di tangannya ada tongkat, suatu tanda harga diri yang menunjukkan bahwa ia adalah ketua dari sukunya.

Ketika ia berjalan, ia memperhatikan seorang perempuan di sisi jalan dekat pintu masuk desa Enaim. Kerudung menutupi wajahnya dan menjaga perjumpaan dengan seseorang. Ia seorang pelacur, pikir Yehuda. Kerudung perempuan itu tidak mengganggunya, karena ia tidak tertarik untuk berhubungan dengan seorang perempuan secara pribadi. Perempuan itu hanya membangkitkan nafsunya sebagai tujuan memuaskan kebutuhan seksualnya.

Dengan hadiah yang dijanjikan yaitu seekor kambing muda sebagai imbalan untuk layanan seksualnya, perempuan itu setuju untuk melakukan. Itu merupakan pembayaran yang lazim ditawarkan bagi dosa ini, dan Yehuda berharap bahwa itu akan dikorbankan di kuil dewi kesuburan, yang kepadanya para pelacur membaktikan diri mereka.

Perempuan itu, bagaimanapun, tidak siap untuk mempercayai kata-katanya. Jelas ia takut kalau kambing yang dijanjikan tidak akan datang. "Sumpah apa yang akan kau berikan kepadaku, sehingga aku bisa yakin kalau engkau akan mengirimkannya?" ia bertanya (Kejadian 38:17). Yehuda meninggalkan pilihan itu kepada perempuan itu. Ketika perempuan itu meminta tanda kehormatan dan martabatnya -- tanda pengenal dan tongkatnya -- Yehuda memberikan itu kepadanya tanpa ragu-ragu!

Setelah mereka bertemu, Yehuda melanjutkan perjalanannya menuju Timna. Tamar -- perempuan itu benar dia -- kembali ke rumah orang tuanya dan mengganti kerudungnya dengan pakaian jandanya. Kehidupan berlangsung seolah tidak ada sesuatu yang terjadi, setidaknya untuk beberapa saat.

Ketika Yehuda, dengan perantaraan seorang teman, mengirimkan kambing itu sebagai penukar tanda pengenal dan tongkatnya, ia tidak dapat menemukan perempuan itu. Ketika ia bertanya kepada orang-orang Enaim selama pencariannya di mana ia dapat menemukan pelacur tersebut, mereka heran. "Pelacur?" jawab mereka. "Kami tidak kenal dia. Kami tidak pernah menjumpai seorang pun di sini!"

Yehuda, yang tidak mengizinkan Allah memimpin tindakan-tindakannya dalam situasi ini, sekarang takut apa yang orang lain akan katakan. Jika mereka menemuka apa yang ia telah lakukan, ia tentu saja akan menjadi bahan tertawaan di antara kaumnya. Dengan pengaruh yang kuat hal itu membuatnya jelas bagaimana ia telah dibutakan oleh nafsu seksualnya. Ia telah bertindak tanpa pemikiran dan telah menempatkan reputasinya di ujung tanduk. Satu-satunya hal yang dapat dilakukan adalah melupakan situasi tersebut seluruhnya, berharap tidak akan ada konsekuensi lebih lanjut baginya. Ia berusaha melupakan bahwa wanita itu, juga, dapat dikenai pelanggaran. Ia tahu bahwa ia dapat kehilangan hidupnya karena dosanya. Kemudian hukuman itu akan diletakkan di bawah hukum Allah.

Tiga bulan kemudian badai menerpa Tamar. Saat itu, ayah mertuanya telah mendengar kalau ia hamil, jelas karena asusila. Kemarahan Yehuda keluar batas, dan ia benar. Tamar telah menodai sukunya. Ia adalah janda dari kedua anaknya dan masih dianggap untuk menjadi mempelai bagi anaknya yang bungsu. Sebagai kepala keluarga, ia memegang tanggung jawab untuk menghakimi dosa yang Tamar lakukan. Tidak seorang pun boleh mengabaikan lembaga pernikahan yang suci tanpa penghukuman (Ibrani 13:4).

Keputusannya kejam dan tidak dapat ditawar-tawar. Tamar mengalami hukuman terberat yang dapat ditimpakan atas pelanggarannya. Tanpa menanyakan fakta-fakta dari kasusnya, Yehuda memberikan hukuman mati kepadanya. "Bawa dia keluar dan bakar dia," teriaknya (Kejadian 38:24).

Apakah hukuman ini dicemari oleh tercampurnya ketakutan dan kemarahan? Apakah Yehuda mempertimbangkan pemikiran-pemikirannya sendiri terhadap Tamar dalam hubungannya dengan kematian anak-anaknya? Apakah dengan membakar Tamar juga akan membakar perasaan-perasaan terdakwanya sendiri, akibat dari pelanggaran janjinya soal Syela dengan Tamar?

Tenang dan bermartabat, Tamar muncul dalam pakaian jandanya. Sejenak sebelum ia tiba di area hukuman mati, ia memberikan sesuatu kepada salah satu laki-laki yang mengawalnya. "Bawa barang-barang ini kepada ayah mertuaku," katanya, dan menyerahkan kepada laki-laki itu sebuah tanda pengenal dan tongkat."Tanyakan kepadanya apakah ia mengenali barang-barang itu," lanjutnya dengan penekanan. "Katakan kepadanya bahwa laki-laki yang memiliki barang-barang itu adalah ayah dari anakku." (Kejadian 38:25)

Reaksi Yehuda terungkap. Ia terkejut. Dosanya sendiri terungkap dengan begitu sederhananya melalui milik pribadinya. Ia tidak dapat menyembunyikannya lebih lama. Ia harus mengakui dengan malu bahwa Tamar telah menuntut hak yang sah yang ia telah janjikan kepada Tamar. "Ia lebih benar daripada aku," akunya, "karena aku menolak menepati janjiku untuk memberikan kepadanya anakku Syela." (Kejadian 38:26)

Apakah Yehuda ingat bahwa dialah yang sebenarnya bersalah? Tamar tidak menggoda Yehuda; Yehudalah yang membawanya. Tindakannya dimotivasi oleh nafsu jasmani yang tidak sah, sementara motivasi Tamar adalah mulia. Ia memikirkan keberlangsungan keturunan Israel. Dari sudut pandangnya, ia semata-mata melakukan apa yang ia anggap sebagai kewajibannya.

Jika Yehuda lebih jujur dengan dirinya sendiri, ia akan mengakui bahwa ia telah menggunakan dua tongkat ukur. Ia menggunakan standar ganda dan ingin melihat Tamar terbunuh demi melindungi dirinya sendiri.

Enam bulan kemudian, Tamar melahirkan dua anak laki-laki ke dunia, Perez dan Zerah. Pernikahan dengan Syela tidak perlu dipertanyakan, juga dilebihkan. Yehuda telah menggantikannya. Syela tidak harus menikahi Tamar, karena keadilan telah dilakukan.

Bertahun-tahun kemudian, Matius menuliskan silsilah dari Yesus Kristus (Matius 1:1-17). Ada daftar panjang nama-nama, pada dasarnya laki-laki. Dari lima perempuan yang disebutkan, Tamar adalah yang pertama. Maria, ibu Yesus, dekat dengan daftar tersebut.

Tamar, perempuan yang diabaikan, adalah perempuan yang pertama yang terdaftar dalam silsilah Yesus Kristus. Anak laki-lakinya Perez menjadi nenek moyang dari garis keturunan Yesus dari Nazaret. Kenyataan ini bukan membuktikan bahwa Allah menyetujui dosa. Tetapi hal itu menegaskan kenyataan bahwa Ia menulis sejarah-Nya langsung melalui kejatuhan-kejatuhan manusia.

Alkitab bukanlah suatu galeri para pahlawan. Alkitab memberikan pemikiran atas orang-orang yang berdosa yang mengalami, lebih banyak dari kejutan sukacita mereka, yang mereka dapat sesuaikan dengan rencana yang Allah miliki bagi dunia ini. Rencana-rencana Allah terpenuhi awal, akhir, dan kepenuhannya, dalam Kristus Yesus.

Kasih Kristus bagi umat manusia juga dibuktikan oleh penulisan silsilah tersebut. Selama kehidupannya di dunia diperhatikan, Kristus tidak hanya dipersiapkan dari suatu keluarga atas laki-laki dan perempuan dari kualitas yang diragukan, tetapi juga ingin menekankan poin itu untuuk menunjukkan dalamnya kasih-Nya. Ia tidak takut diperkenalkan dengan setiap orang yang berdosa yang memainkan peran dalam latar belakang duniawi-Nya.

Kristus juga melakukan sesuatu yang sangat khusus bagi para perempuan secara umum sementara Ia ada di dunia. Ia mengembalikan posisi mereka, nilai mereka. Ia mengembalikan tempat yang Allah pada mulanya sudah buat bagi mereka sebelum kejatuhan Hawa di taman Eden. Ia mendekati mereka dengan hormat, tanpa prasangka, dan memperlakukan setiap perempuan dengan objektif dan kasih. Ia memakukan perlakukan tidak adil antara laki-laki dan perempuan di salib. Standar moral ganda adalah sesuatu yang asing dan menyakitkan bagi-Nya.

Suatu hari, misalnya, para pemimpin Yahudi membawa seorang perempuan kepada-Nya yang sudah tertangkap melakukan perzinahan yang berat (Yohanes 8:3-10). Di balik dalih mereka yang saleh untuk menaati hukum Musa yang mengatakan bahwa seorang perempuan seharusnya dibunuh karena pelanggaran tersebut, mereka juga berusaha menjebak Yesus dan menghukum perempuan itu pada saat yang bersamaan.

Yesus tidak memaafkan dosa yang perempuan itu lakukan. Ia justru menyingkap para pendakwanya. "Baiklah," kata-Nya dengan tegang. "Lempari dia batu sampai ia mati. Tetapi hanya dia yang tidak pernah berdosa yang boleh melemparinya terlebih dahulu!" (Yohanes 8:7)

Para pendakwa perempuan itu tidak mulai mengambil batu. Akan tetapi, mereka dengan diam-diam berjalan menjauh. Juruselamat sudah menyentuh mereka di kedalaman hati mereka dengan menyingkapkan ketidakjujuran mereka dan prasangka yang tanpa kasih.

Kisah Tamar hanya menghasilkan perspektif ketika sinar dari Yesus Kristus menyinarinya. Di luar segala sesuatu yang dapat dikatakan terhadapnya, Tamar menjadi perempuan yang patut ditiru. Yesus Kristus memberinya kehormatan dengan menjadi seorang ibu dalam sejarah awal dari keluarga duniawi-Nya.(t/Anna)

Diterjemahkan dari:

Judul asli buku : Her Name Is Woman
Judul asli artikel : Tamar, a Neglected Woman Who Vindicated Her Right
Penulis : Gien Karssen
Penerbit : Navpress, Colorado 1997
Halaman : 65--75
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar