Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Wanita dalam Penginjilan: Talenta Gereja yang Terkubur?

Perjalanan saya ke beberapa bagian dunia telah mengarahkan saya kepada penemuan yang mengkhawatirkan: Adanya perhatian serius mengenai peran wanita dalam gereja, khususnya dalam misi penginjilan. Syarat-syarat ini tidak hanya diceritakan oleh para jemaat dan pendeta, tetapi juga para pemimpin dan pengurus. Pada masa lalu, kita sebagai gereja tidak menggunakan keterampilan dan kemampuan wanita dengan maksimal.

Saya tidak dapat melupakan hari ketika sebuah gereja mengundang saya untuk mengadakan serangkaian pertemuan penginjilan, sementara pada waktu yang sama, para penatua gereja meminta saya untuk tidak berkhotbah dari atas mimbar. Pendeta gereja tidak yakin bagaimana menangani situasi tersebut. Akan tetapi, setelah saya memberikan beberapa bujukan, saya diizinkan untuk menggunakan mimbar untuk berkhotbah pada hari Sabat pagi.

Pada kesempatan yang lain, di akhir serangkaian perkuliahan, lebih dari 60 orang memberi respons terhadap panggilan baptisan yang saya sampaikan dari altar. Akan tetapi, para penatua dan pendeta memutuskan untuk menunda pembaptisan untuk waktu yang akan datang ketika seorang penginjil laki-laki akan menindaklanjutinya dengan lebih banyak pertemuan.

Sangat menyenangkan ketika mengetahui bahwa baru-baru ini beberapa petugas gereja di semua tingkat sudah bertindak untuk melakukan perbaikan kesalahan terhadap keterlibatan penuh para wanita dalam kehidupan bergereja. Bahkan, berbagai departemen sedang mencari cara untuk mengintegrasikan para wanita ke dalam cara yang lebih langsung untuk memenuhi misi gereja. Ini merupakan sebuah langkah dengan arah yang benar. Jelas bahwa para wanita dapat membuat kontribusi yang penting dalam pesan dan misi lanjutan gereja.

Peran Wanita dalam Alkitab

Perjanjian Lama membicarakan beberapa wanita yang mempersembahkan waktu, rumah, pekerjaan, dan pelayanan mereka yang tidak mementingkan diri sendiri bagi jemaat Allah, memberikan teladan bagi wanita zaman sekarang. Sungguh, Kitab Suci mengakui bahwa di dalam Kristus, dan demikian juga di dalam pelayanan-Nya, laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang sama (Galatia 3:28).

Sepanjang sejarah, laki-laki dan perempuan telah memberikan kontribusi penting bagi pelaksanaan rencana Allah dengan berbagai cara yang berbeda.

Debora, seorang nabiah, memimpin bangsa Israel melewati berbagai pertempuran penting dan menghakimi umat Allah dengan bijaksana, yang menghasilkan kedamaian dan kebebasan dari orang-orang Kanaan selama 40 tahun (Hakim-hakim 4:4-7). Hulda, seorang utusan Allah, menyampaikan firman Allah kepada Yosia sekalipun pesan tersebut bukanlah pesan yang menyenangkan (2 Raja-raja 22:14-20). Elizabet, ibu Yohanes Pembaptis, dipenuhi oleh Roh Kudus dan memberitakan kepada Maria bahwa Anak yang dikandungnya akan menjadi Juru Selamat dunia (Lukas 1:39-45). Hana, seorang nabiah, melihat kesetiaan dan pengabdiannya kepada Allah mendapatkan anugerah ketika dia melihat seorang Anak yang akan menjadi Penebus (Lukas 2:36-38).

Pelayanan Yesus di dunia bukan hanya didukung oleh kedua belas murid-Nya, tetapi juga oleh beberapa murid perempuan yang mengikuti Dia dan melayani-Nya dengan aktif (Lukas 8:1-3).

Pada pagi hari, dalam peristiwa Kebangkitan, Yesus menampakkan diri pertama kali kepada Maria Magdalena. Demikianlah Allah memberikan kepadanya sebuah hak istimewa untuk menyampaikan berita kebangkitan yang sangat penting kepada para murid (Yohanes 20:11-18). Ada juga Dorkas, yang menunjukkan belas kasihan yang dibutuhkan dalam menyatakan Injil. Teman-teman sepelayanan Paulus termasuk beberapa wanita, beberapa di antara mereka disebutkan dalam Roma 16. Filipus, seorang penginjil yang memiliki empat anak perempuan yang dipakai Roh Kudus untuk menyampaikan nubuatan, mendukung misi bagi jemaat mula-mula (Kisah Para Rasul 21:8-9).

Semua contoh alkitabiah ini tidak hanya menunjukkan sebuah bukti dari peran para wanita di gereja, tetapi sebuah kontribusi penting yang dapat dan harus dilakukan wanita dalam kehidupan dan penjangkauan gereja.

Para Wanita di Gereja Advent

Mulanya, pada tahun-tahun berkembangnya Gereja Advent Hari Ketujuh (Seventh-day Adventist Church), para wanita memainkan peran yang penting.

Allah memilih seorang wanita, Ellen G. White, untuk membawa inspirasi, nasihat, dan pimpinan bagi gereja perintisan. Selama 70 tahun pelayanannya, pengaruhnya begitu banyak dalam hal peribadahan, iman, penginjilan, administrasi, kesehatan, kehidupan keluarga, pendidikan, dan banyak aspek pertumbuhan gereja yang lain. Dan, penting untuk diperhatikan bahwa peran wanita ini masih sangat penting, bahkan di tengah-tengah perdebatan tentang kekuasaan dan peran wanita di gereja.

Rachel Oaks, seorang dari Gereja Baptis Hari Ketujuh (Seventh-day Baptist), membawa doktrin Sabat ke gereja kami.

Ketika berkunjung ke Piedmont, daratan di Waldenses, saya berkenalan dengan Catherine Revel. Ia adalah salah seorang dari jemaat Gereja Advent Hari Ketujuh yang pertama di Eropa. Sendirian dengan keyakinannya selama hampir 20 tahun, dia tidak hanya tetap setia, tetapi juga membagikan imannya di antara tetangga-tetangganya. Sebagai hasil dari usahanya tersebut, sebuah gereja dibangun di Torre Felice pada tahun 1885.

Salah satu dari orang-orang pertama yang memotivasi kaum awam gereja untuk terlibat dalam misi gereja adalah Maria L. Huntley. Dia sangat yakin akan perlunya pelatihan bagi kaum awam, termasuk wanita, untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia.

Itu hanya beberapa contoh para wanita yang, selama bertahun-tahun, telah menginjil secara efektif di Gereja Advent Hari Ketujuh.

Pada zaman sekarang, partisipasi wanita dalam penginjilan pribadi dan umum serta kepemimpinan di gereja telah berkembang secara luar biasa. Pada tahun 1975, Betty Holbrook dan suaminya, Delmar, memimpin sebagai Direktur Pelayanan Rumah dan Keluarga (Home and Family Services) dalam General Conference. Sebagai pasangan, mereka memulai tim pelayanan dan menginspirasi banyak pekerja untuk mengikuti mereka.

Marie Spangler dan Ellen Bresee memulai program (pendidikan) pilot pada tahun 1984 untuk Shepherdess International. Bersama suaminya, ia menjalankan pelayanan kunjungan pastoral keluarga ke seluruh dunia.

Pada tahun 1990, General Conference menunjuk Rose Otis untuk menjadi direktur pertama di Departemen Pelayanan Wanita, untuk melatih dan memimpin para wanita di seluruh dunia dalam pelayanan gereja yang berbeda-beda, termasuk penginjilan pribadi dan umum.

Pada tahun yang sama, saya diteguhkan akan panggilan saya untuk mengerjakan penginjilan umum. Saya pun mulai mengadakan program minggu-minggu penginjilan di gereja-gereja di bawah persekutuan Greater New York Conference. Kemudian, pada tahun 1995, saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya di General Conference Ministerial Association dan mengabdikan waktu saya sepenuhnya untuk penginjilan umum.

Peran Wanita dalam Penginjilan Zaman Sekarang

Yesus memberikan Amanat Agung bukan hanya untuk murid-murid-Nya atau untuk anggota jemaat pria, tetapi kepada semua pengikut-Nya, termasuk wanita. (Matius 28:19-20)

Pemahaman Petrus terhadap proklamasi Injil bersifat kenabian dan universal (Kisah Para Rasul 2:17)

Sekarang, di Gereja Adven Hari Ketujuh, jumlah jemaat wanita hampir mencapai 72 persen dari seluruh jumlah jemaat. Betapa besarnya potensi kekuatan dan talenta untuk mengembangkan misi gereja! Itu akan terjadi hanya jika semua wanita ditantang dan dilatih untuk menjadi mitra dalam penggenapan pemberitaan Injil.

Para pendeta yang memiliki visi, mengetahui bagaimana menghargai wanita dalam jemaat mereka dan bagaimana memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengembangkan talenta mereka sebagai pengajar dan pengasuh anak-anak dan pemuda, pengurus musik dalam jam ibadah, dan pengurus Pelayanan Pribadi (Personal Ministries), dan pemimpin dalam berbagai kesempatan pelayanan yang lain.

Wanita, yang dilatih dan dimotivasi untuk bersaksi, dapat menjangkau wanita yang tinggal di rumah-rumah, yang tidak dapat dijangkau oleh penginjil pria. Mereka dapat melayani sebagai instruktur Alkitab, mengadakan pertemuan di rumah-rumah, dan memimpin penginjilan umum setiap kali ada kesempatan.

Barangkali, kita perlu mengetahui besarnya kebutuhan yang kita miliki untuk mendidik jemaat gereja untuk melihat partisipasi aktif kaum wanita dalam jam-jam ibadah.

Kehadiran wanita di mimbar gereja merupakan sebuah kesaksian tentang apresiasi kita terhadap mereka. Kolaborasi dan partisipasi mereka harus diterima dan dihargai. Ketika seorang wanita diundang untuk berkhotbah, ini membuktikan keterbukaan gereja dan pikiran pendeta yang sehat. Pengajaran terbaik yang dapat kita berikan kepada jemaat adalah keteladanan kita sendiri, dengan mempraktikkan apa yang kita percayai sebagai pemimpin gereja. Saya bersyukur kepada Allah untuk para pendeta yang memiliki sikap Kristen seperti ini kepada wanita.

Setiap gereja harus menjadi pusat pelatihan bagi para penginjil bagi semua orang. Setiap pendeta yang benar-benar menaruh perhatiannya pada aspek pelayanan pertobatan ini mengubah jemaat menjadi prajurit yang memenangkan jiwa, membawa mereka kepada pengalaman yang penuh sukacita dalam pelayanan mereka kepada Tuhan.

Beberapa tahun yang lalu, saya diundang untuk mengadakan kampanye penginjilan di Cape Town, Afrika Selatan. Seperti kebiasaan saya, sebelum saya tiba, saya mengirimkan satu set pelajaran Alkitab "Membangun Keluarga yang Bahagia" kepada pendeta yang akan saya datangi, yang akan digunakan jemaat sebagai dasar acara tersebut.

Pendeta secara efisien mengorganisasi seluruh gereja ke dalam kelompok-kelompok yang mengunjungi keluarga-keluarga dalam jemaat dengan tujuan untuk mempelajari Alkitab bersama mereka.

Ketika saya tiba di bandara, pendeta itu menyambut saya dengan berkata, "Bu Campos, jika kami tidak membaptis satu jiwa di akhir pertemuan penginjilan, saya akan tetap sangat bahagia dan puas." Ketika saya bertanya kepadanya mengapa dia mengatakan hal semacam itu, dia hanya menjawab, "Anggota jemaat sudah begitu sibuk mengerjakan pekerjaan Tuhan dalam penginjilan, sehingga mereka telah melupakan semua masalah mereka, dan orang-orang itu disatukan dalam satu tujuan: memenangkan jiwa."

Ellen White dan Para Wanita dalam Penginjilan

Meskipun Ellen White hidup pada abad ke-19, dia masih muda ketika berbicara tentang partisipasi wanita dalam pengajaran Injil dalam berbagai cara. Berikut ini beberapa contoh pernyataan Ellen White yang tertulis:

"Ada sebuah ladang yang luas. Di sana, saudara-saudara kita bisa mengerjakan pelayanan yang baik bagi Tuan dalam berbagai cabang pekerjaan yang berhubungan dengan tujuan-Nya."

"Pada saat krisis ini, Tuhan memiliki tugas bagi para wanita dan para pria. Mereka dapat mengambil tempat dalam pekerjaan-Nya pada krisis ini dan Dia akan bekerja melalui mereka. Jika mereka dikaruniai kesadaran akan tugas mereka, dan bekerja di bawah kuasa Roh Kudus, yang mereka butuhkan saat ini hanyalah penguasaan diri mereka sendiri. Sang Juru Selamat akan merefleksikan pengorbanan diri para wanita dalam terang wajah-Nya, dan akan memberi mereka kuasa sehingga dapat melebihi kaum pria. Mereka dapat mengerjakan sebuah tugas di rumah yang tidak dapat dilakukan pria, sebuah tugas yang menjangkau kehidupan di dalam. Mereka dapat masuk ke dalam hati orang-orang yang tidak dapat dijangkau oleh pria. Usaha mereka sangat diperlukan."

"Wanita dapat menjadi instrumen kebenaran untuk menciptakan ibadah yang suci. Marialah orang pertama yang diberi tahu tentang Yesus yang telah dibangkitkan. Jika ada dua puluh wanita dan salah satu di antaranya ada yang memutuskan untuk menjadikan misi suci ini sebagai tugas yang mereka hargai, kita pasti akan melihat lebih banyak orang yang bertobat kepada kebenaran. Wanita-wanita Kristen yang memurnikan, melembutkan, dan berdampak diperlukan dalam tugas besar mengajarkan kebenaran."

Dalam satu kesempatan, Ellen White berkata kepada salah satu jemaat gereja, "Ajarkanlah ini, Saudariku. Kamu memiliki banyak jalan yang terbuka di hadapanmu. Sapalah semua orang kapan pun kamu bisa, berikanlah setitik pengaruh yang dapat kamu berikan dengan semua hal yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperkenalkan ragi ke dalam makanan. Setiap pria dan wanita memiliki tugas yang harus dilakukan untuk Sang Tuan. Penyucian dan pengudusan pribadi bagi Allah akan tercapai, melalui metode-metode yang paling sederhana, lebih dari pertunjukkan yang paling menipu."

Semua perikop yang memberi inspirasi ini telah menuntun saya untuk berkomitmen pada penginjilan umum. Ketika saya dilahirkan dalam keluarga Kristen yang di dalamnya saya melihat ayah saya melakukan penginjilan, itu merupakan suatu hak istimewa. Dalam banyak kesempatan, saya berkolaborasi dengan seorang penyanyi penginjilan dalam pertemuannya.

Selanjutnya, pada masa-masa kuliah, saya mendedikasikan talenta ini hanya untuk memuji Allah. Pula, saya mendapatkan sukacita dengan menjadi istri pendeta dan ketika saya berkolaborasi dengan suami saya sebagai penyanyi dalam pertemuan penginjilannya.

Allah telah mengizinkan saya untuk bekerja dengan para penginjil internasional yang terkenal, seperti Elders Carlos Aeschlimann, Kenneth Cox, Milton Peverini, dan yang lainnya. Saya belajar dari mereka tentang cara menyampaikan Injil di hadapan orang dan membawa orang-orang ke kaki Yesus.

Akan tetapi, hal ini tidak bertahan hingga tahun 1990. Ketika saya diundang untuk memimpin dalam kegiatan seminggu berdoa kaum muda di New York, saya mengalami panggilan Allah untuk melakukan penginjilan umum. Sejak saat itu, 12 tahun pun berlalu. Allah telah membawa saya untuk menyajikan presentasi di auditorium dan stadion untuk mengajarkan Injil-Nya yang mulia kepada ribuan orang.

Secara pribadi, Allah telah menunjukkan kepada saya bahwa wanita tidak boleh membiarkan talenta mereka terkubur. Mereka memiliki satu peranan dalam kehidupan gereja dan Allah bersedia dan ingin memakai mereka jika mereka menanggapi panggilan penuaian. Roh Kudus akan menguatkan setiap orang yang merespons seperti Yesaya, "Ini aku, utuslah aku." (t/S. Setyawati)

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Ministry
Alamat URL : https://www.ministrymagazine.org/archive/2003/10/women-in-evangelism-the...
Judul asli artikel : Women in Evangelism: The Church's Buried Talent?
Penulis : Adly Campos
Tanggal akses : 26 November 2013
Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar