Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Wanita Karier vs Wanita DPR

Berbagai seminar mengenai wanita karier telah diadakan. Namun, toh hingga saat ini belum satu pun yang mampu menjawab pergumulan para wanita secara tuntas. Mereka tetap bermasalah: "karier" atau "DPR alias dapur", khususnya di Indonesia.

Munculnya wanita-wanita di posisi puncak, memang membuat kaum pria kagum sekaligus was-was. Sehingga, tidak heran bila sekelompok pria mencari-cari "titik rawan" mereka. Wanita dianggap kurang praktis cara berpikirnya, emosional, rentan, mudah terpengaruh keadaan, dan lain-lain. Di lain pihak, menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Montreal, Kanada, hal-hal yang dianggap rawan tadi justru menonjol pada kaum wanita. Aneh, bukan?

Tetapi bagaimanapun juga, seorang wanita dengan peran ganda: karier sekaligus dapur, memiliki kecenderungan terlibat lebih banyak masalah dibandingkan mereka yang belum/tidak berumah tangga. Kesehatan anak, tinggal serumah dengan mertua, suami sering bertugas ke luar kota dan seterusnya, semuanya itu dapat menjadi sebab stres yang berat. Hal ini sedikit banyak pasti memengaruhi pemikiran atau sikap di tempat kerjanya, sekalipun ia termasuk jenis wanita "besi" yang tak acuh terhadap lingkungan rumah tangga.

Mazmur 128:3 menyebut wanita bersuami sebagai "buah anggur" yang manis (tutur kata dan hatinya), dan yang dahannya tidak cukup kokoh untuk membangun fondasi bangunan. Jelas, bahwa istri tidak wajib bahkan tidak dianjurkan menjadi tulang punggung keluarga (yang harus bekerja mati-matian mencari nafkah dari pagi hingga malam hari) sementara suami dan anak-anak terabaikan.

Di bagian lain, 1 Petrus 3:1-7 memaparkan bahwa istri diwajibkan untuk menggali keindahan batiniahnya, menyerahkan harapannya sepenuhnya kepada Allah, serta mengasihi dan tunduk kepada otoritas suami sebagai wakil Allah di bumi. (Dan suami wajib tunduk pada Kristus, tentunya).

Walaupun begitu, Amsal 31:10-31 dengan jelas menggambarkan istri yang ideal: mengatur rumah tangganya sekaligus bekerja dengan rajin. Ia tahu persis kapan suami dan keluarganya membutuhkan kehadirannya. Begitu pula ia tahu kapan harus keluar rumah dan bekerja. Ia bukan hanya pandai membagi waktu, tetapi terlebih lagi ia mahir menyokong suaminya. Ia tunduk kepada suaminya, tetapi juga tidak malas memikirkan masa depan keluarganya. Sungguh luar biasa, suami dan anak-anaknya memuji dan menyebutnya berbahagia!

Wanita memiliki tanggung jawab yang sangat berat. Tapi sebenarnya hanya satu panggilannya: melayani. Di tangannya, porsi pilihan itu harus diambil; kapan ia memutuskan untuk lebih banyak melayani di dalam rumah tangganya, dan kapan ia harus berada di luar rumahnya. Masing-masing memiliki dasar pertimbangan sesuai dengan kondisi keluarga, usia anak-anak, kebutuhan masyarakat sekitar, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan, dan yang terpenting panggilan Tuhan.

Ada satu bagian dalam Alkitab yang menceritakan keperkasaan seorang wanita dalam hal menyelamatkan sebuah bangsa, dialah Ratu Ester. Ia mengambil peranan mahapenting untuk menolong rakyatnya, satu bidang pelayanan yang besar sekali. Pertimbangannya harus matang benar. Karena salah langkah sedikit, dapat mengorbankan rumah tangganya. Tetapi kita tahu bagaimana Allah akhirnya memakai Ester untuk melayani dan menyelamatkan bangsa Yahudi, sekaligus Allah juga memperkokoh rumah tangganya!

Melalui contoh-contoh di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pergumulan wanita bersuami tidak sesederhana berkata: "Aku ingin menjadi wanita karier!" atau sebaliknya. Masing-masing perlu berdoa, mempertimbangkan, lalu memutuskan pilihannya.

Sukses wanita tidak ditentukan oleh tempat maupun jenis pekerjaannya, tetapi oleh kesungguhannya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Manajemen Kristen: 29 Kiat Sukses dalam Karier
Judul artikel : Wanita Karier Vs Wanita DPR
Penulis : Arif Suryobuwono & M. Kurniawati Prayitno
Penerbit : Yayasan ANDI Yogyakarta - YASKI Jakarta
Halaman : 69 -- 71
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar