Skip to main content

Panggilan Kudus sebagai Perempuan

Dalam artikel ini, saya ingin menguraikan secara singkat hakikat panggilan sebagai perempuan -- bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu atau peran yang membebani, melainkan sebagai tujuan yang utuh, panggilan kudus dengan buah yang bernilai di dunia dan dalam kekekalan.

Saya suka memakai cerita sebagai ilustrasi untuk menyampaikan pemikiran saya. Jadi, izinkan saya membagikan kisah ini. Beberapa tahun setelah menikah, saya merasa sangat lelah setelah melewati hari Sabtu yang panjang dengan memasak, membersihkan rumah, dan mengurus rumah tangga kami. Suami saya, yang sedang sangat fokus mempersiapkan khotbah, menoleh ketika saya bertanya, "Sayang, apakah semua pekerjaan dapur ini benar-benar berarti bagi kekekalan?" Dia tertawa kecil dan dengan lembut mengingatkan saya bahwa setiap peran yang saya jalani sebagai perempuan memiliki nilai yang kudus. Meskipun saya sudah mengetahui kebenaran itu, saya tetap membutuhkan pengingat tersebut, terutama di tengah dunia yang sering lebih meninggikan pekerjaan di luar rumah daripada pekerjaan perempuan di rumah. Kadang-kadang, kita semua membutuhkan dorongan kecil ke arah yang benar. Jadi, mari berjalan bersama untuk menemukan kembali hakikat ilahi dari panggilan sebagai perempuan.

PANGGILAN KUDUS SEBAGAI PEREMPUAN

Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan ajaib dan dengan tujuan (Mazmur 139:14). Seperti laki-laki, perempuan juga diciptakan "... dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik ..." (Efesus 2:10, AYT). Pekerjaan baik ini melampaui dapur dan rumah, meskipun kedua ruang itu juga sangat penting. Setiap aspek kehidupan seorang perempuan -- imannya, keluarganya, kariernya, dan seluruh lingkup hidupnya -- memiliki makna dalam rancangan besar Allah. Di dalam Alkitab dan dalam kehidupan masa kini, kita melihat perempuan-perempuan saleh seperti Debora, Abigail, Ester, perempuan tanpa nama dalam Amsal 31, Florence Nightingale, Rosa Parks, dan Bunda Teresa memainkan peran luar biasa di rumah, di ruang publik, bahkan dalam pembebasan bangsa-bangsa.

Allah memiliki rencana besar ketika menempatkan perempuan dalam rancangan penciptaan-Nya. Perempuan tidak dirancang sebagai sekadar tambahan bagi laki-laki, dan mereka juga tidak dipanggil untuk bersaing dengan laki-laki. Dalam konteks pernikahan, perempuan diciptakan untuk menjalankan peran yang saling melengkapi dengan laki-laki (Kejadian 2:18), sekaligus untuk memimpin, memelihara, dan memengaruhi masyarakat dalam berbagai cara, sebagaimana terlihat di dalam Kitab Suci. Rencana besar Allah adalah penebusan dan transformasi rumah tangga serta masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan besar Visi 2028 The Church of Pentecost: sebuah gereja yang anggotanya bergerak untuk memengaruhi dan memenangkan dunia atau bangsa mereka dengan mengubah setiap pandangan hidup, pikiran, dan perilaku melalui nilai, prinsip, dan gaya hidup Kerajaan Allah, sehingga banyak orang datang kepada Kristus. Visi ini mengarahkan kita untuk memakai gaya hidup Kerajaan Allah yang telah kita bangun untuk memengaruhi pertama-tama rumah kita, kemudian gereja, dan akhirnya dunia secara luas sebagai duta-duta Kristus (Efesus 4-6; 2 Korintus 5:20). Dalam visi ini, juga dalam rencana besar Allah, perempuan memegang peran yang sangat penting.

Inserted image

Namun, masyarakat modern sering salah memahami panggilan sebagai perempuan, sehingga muncul dua ekstrem. Di satu sisi, ada yang menegaskan bahwa perempuan seharusnya hanya berfokus pada rumah, keluarga, atau pekerjaan rumah tangga. Di sisi lain, ada yang mendorong perempuan untuk memprioritaskan keberhasilan pribadi dan karier dengan mengorbankan keluarga. Kedua pandangan yang terlalu eksklusif ini sama-sama meleset dari sasaran. Padahal, jika keduanya dipahami secara seimbang, dampak perempuan dapat menjadi lebih utuh. Sayangnya, keseimbangan itu sering terasa jauh dari kenyataan. Dikotomi ini membuat sebagian perempuan, khususnya generasi muda, sulit merangkul keutuhan dan keindahan panggilan perempuan yang saleh. Hal ini juga menghambat sebagian perempuan dalam menjalankan mandat rohani mereka dalam rencana besar Allah bagi umat manusia karena mereka menganggap panggilan sebagai perempuan terlalu rumit dan kadang membatasi. Padahal, kewanitaan bukanlah dilema memilih satu dan menolak yang lain -- melainkan panggilan yang utuh dan ditetapkan oleh Allah.

Pertanyaannya kemudian: jika panggilan sebagai perempuan mencakup rumah dan kehidupan di luar rumah, bagaimana kita menjalani hidup sambil memenuhi panggilan yang utuh itu ketika kita berhadapan dengan begitu banyak tanggung jawab dan kerumitan dalam berbagai peran kita? Bagaimana kita menyelaraskan cara berpikir kita sehingga peran sebagai istri dan ibu dilihat sebagai sesuatu yang berharga, dan peran di ruang publik juga dilihat sebagai sesuatu yang kudus? Bagaimana kita menjadi pembawa nilai-nilai Kerajaan Allah dan meresapkan prinsip serta nilai ilahi ke dalam segala sesuatu yang kita lakukan?

Contoh terbaik tentang ruang pengaruh seorang perempuan terlihat dengan jelas dalam sosok perempuan Amsal 31 yang terkenal (Amsal 31:10-31). Perempuan ini memperlihatkan keutuhan panggilan sebagai perempuan dengan anggun dan tangguh. Dia tidak digambarkan sebagai pribadi yang lemah dan tidak mampu, yang hanya menunggu suaminya melakukan segala sesuatu. Sebaliknya, dia digambarkan sebagai sosok yang memelihara, bijaksana, gigih, dan berpengaruh, sekaligus pengelola rumah tangga yang sangat baik. Dia menjadi pelengkap yang indah bagi suaminya dan penopang yang tangguh bagi komunitasnya melalui perannya sebagai istri, ibu, pengusaha, dan dermawan. Dia memandang setiap perannya sebagai sesuatu yang kudus. Dia membuat rumahnya dan ruang publik begitu mulia sehingga pekerjaannya sendiri memujinya di pintu-pintu gerbang kota (Amsal 31:31).

Belajar dari perempuan ini, saya percaya langkah pertama untuk memenuhi panggilan yang Allah berikan kepada kita adalah menyadari bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu kudus dan memiliki makna kekal. Setelah itu, kita perlu bersedia membawa kehidupan sehari-hari kita -- betapapun biasa dan sederhana tampaknya -- lalu mempersembahkannya kepada Allah sebagai ibadah rohani kita (Roma 12:1-2; Kolose 3:17). Jadi, entah kita sedang menyusui bayi, berjualan di pasar, merawat pasien, mengajar di ruang kelas, atau memimpin perusahaan sebagai CEO, kita perlu melihat semuanya sebagai tindakan pelayanan rohani: menjangkau jiwa, melayani yang terhilang, dan membawa pengharapan.

Sekarang, mari kita melihat beberapa penerapan praktis dan alkitabiah tentang bagaimana hal ini dijalankan, dimulai dari rumah sebagai dasar dari setiap dampak yang kita hadirkan.

RUMAH SEBAGAI DASAR PENGARUH

Walaupun kontribusi perempuan di ruang publik tidak dapat disangkal, pengaruh mereka di dalam rumah tetap menjadi dasar yang utama. Seorang perempuan membangun rumah tangga (Amsal 14:1), tempat setiap orang -- besar maupun kecil -- dibentuk. Seorang perempuan memainkan peran penting dalam membentuk nilai rohani dan moral keluarga serta menciptakan lingkungan yang penuh kasih, disiplin, dan iman. Alkitab menyoroti peran penting perempuan di rumah sebagai pemelihara, pengajar, dan pemberi pengaruh rohani yang memakai hikmat, kasih, dan iman yang saleh untuk memengaruhi generasi yang akan datang. Perempuan merawat bayi-bayi yang kelak bertumbuh menjadi orang-orang yang memengaruhi bangsa. Seorang perempuan mengandung dan membesarkan Juru Selamat dunia. Setiap pemimpin yang dikenal dunia pernah dibesarkan oleh seorang perempuan.

Kewanitaan bukan sekadar status; kewanitaan adalah panggilan yang kudus.

Kisah Eunike, ibu Timotius, dan Lois, neneknya (2 Timotius 1:5), merupakan kesaksian tentang kuasa pengaruh yang saleh di dalam rumah. Kisah ini menegaskan bahwa kekudusan panggilan sebagai perempuan sering kali tampak dalam pemeliharaan iman yang tenang, konsisten, dan diteruskan kepada generasi berikutnya. Iman mereka membentuk Timotius menjadi hamba Allah yang tangguh. Dalam dunia kita, kita juga dapat belajar dari teladan luar biasa Susanna Wesley, yang membesarkan anak-anaknya menjadi orang-orang yang membawa perubahan besar bagi dunia. Penting untuk dicatat bahwa mengurus rumah tangga bukanlah tanggung jawab perempuan semata; laki-laki juga memiliki peran dalam memelihara rumah tangga. Namun, pengaruh seorang perempuan di dalam keluarga tidak tergantikan. Rumah tangga bukan ruang kelas dua dibandingkan dunia korporasi atau bahkan gereja; rumah tangga adalah pusat dampak Kerajaan Allah dalam kehidupan seorang perempuan. Jadi, jika Anda sedang melayani di rumah, baik sepenuhnya maupun sebagian, ketahuilah bahwa Anda sedang memenuhi panggilan dalam rencana besar Allah untuk penebusan dan transformasi. Anda dapat menjadi agen perubahan bahkan di tengah rutinitas rumah yang tampak biasa!

PENGARUH PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK

Sebagai perempuan, kita ikut membentuk masyarakat sebagai pemimpin, pendidik, wirausahawan, pembuat kebijakan, serta pemberi pengaruh di media dan pelayanan. Baik ketika memimpin bisnis dengan integritas, mendorong perluasan Kerajaan Allah, maupun membimbing generasi berikutnya, perempuan Kristen memikul tanggung jawab untuk menjadi terang di tengah dunia yang gelap (Matius 5:14-16). Kehadiran kita di ruang publik bukan untuk mencari kekuasaan demi keuntungan pribadi, melainkan untuk memenuhi panggilan Allah sebagai duta Kerajaan di setiap bidang kehidupan (2 Korintus 5:20). Namun, pelayanan di ruang publik tidak boleh mengorbankan rumah tangga. Dampak pelayanan yang utuh dimulai dari rumah yang terlebih dahulu mengalami pemulihan, lalu kasih karunia itu diperluas ke ruang publik.

Berikut beberapa contoh perempuan teladan yang meninggalkan warisan luar biasa di ruang publik, tetapi juga menjalankan panggilan luhur mereka di rumah:

Ester -- Suara bagi Keadilan dan Pembebasan

Sebagai ratu Persia, Ester mempertaruhkan nyawanya untuk menjadi perantara bagi bangsanya. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh selalu disertai tanggung jawab (Ester 4:16). Hikmat strategis, keberanian, dan imannya kepada Allah menjadi contoh bagaimana perempuan Kristen masa kini dapat memperjuangkan kebenaran dalam pemerintahan, hukum, dan hak asasi manusia.

Debora -- Pemimpin dalam Pemerintahan dan Strategi Militer

Debora adalah seorang hakim, nabi perempuan, dan pemimpin militer yang memberikan hikmat serta bimbingan kepada Israel (Hakim-hakim 4:4-9). Dia memimpin dengan integritas dan bekerja bersama Barak untuk membawa kemenangan bagi bangsanya. Dalam dunia masa kini, perempuan Kristen juga dapat melayani dalam peran kepemimpinan, memimpin organisasi, gereja, dan komunitas dengan hikmat yang berakar pada kebenaran Allah.

Hulda -- Penasihat dan Pemberi Arahan bagi Bangsa

Hulda, seorang nabi perempuan, dimintai nasihat oleh pejabat-pejabat tinggi, termasuk utusan Raja Yosia, untuk memperoleh hikmat dari Allah (2 Raja-raja 22:14-15). Dia dengan berani menyampaikan firman Tuhan yang memengaruhi kebijakan nasional. Pada masa kini, perempuan Kristen melayani sebagai penasihat, konselor, pendidik, dan pembuat kebijakan yang membawa perspektif Alkitab ke dalam ruang-ruang pengambilan keputusan penting.

Bidan-Bidan Ibrani -- Menentang Ketidakadilan dalam Profesi Mereka

Sifra dan Pua, bidan-bidan Ibrani, menentang perintah Firaun untuk membunuh bayi laki-laki bangsa Ibrani. Mereka menunjukkan keberanian besar dan keyakinan moral dalam profesi mereka (Keluaran 1:15-21). Sikap mereka yang membela kehidupan mengingatkan kita bahwa perempuan Kristen di bidang kesehatan, pekerjaan sosial, dan advokasi harus memperjuangkan etika, martabat manusia, dan prinsip-prinsip ilahi.

Lidia -- Pengusaha yang Mendukung Injil

Lidia, seorang pedagang yang berhasil, menggunakan sumber daya dan pengaruhnya untuk mendukung pelayanan Paulus dan mendirikan gereja rumah (Kisah Para Rasul 16:14-15). Teladannya menunjukkan bagaimana perempuan Kristen dalam dunia bisnis dan kewirausahaan dapat memakai kekayaan dan platform mereka untuk memajukan misi Allah.

Hal yang menyatukan para perempuan ini adalah komitmen mereka untuk memakai karunia, posisi, dan sumber daya mereka guna mengubah dunia mereka dengan nilai-nilai Kerajaan Allah. Mereka bermitra dengan laki-laki, bukan bersaing dengan mereka, dan memandang setiap kesempatan sebagai peluang untuk memajukan misi Allah.

KESIMPULAN

Kewanitaan bukan sekadar status; kewanitaan adalah panggilan yang kudus. Kita dipanggil untuk merangkulnya dengan sukacita, kekuatan, dan pengabdian yang teguh. Rasul Paulus mendorong orang-orang percaya, "untuk hidup sepadan dengan panggilan yang telah kamu terima" (Efesus 4:1, AYT). Ini berarti kita harus menghidupi hikmat, kemurnian, dan keberanian, bahkan ketika dunia menawarkan nilai-nilai yang bertentangan. Setiap perempuan Kristen memiliki mandat ilahi: memimpin dengan berani, memelihara dengan setia, dan berjalan teguh dalam mandat Kerajaan Allah untuk menghadirkan prinsip-prinsip Kerajaan-Nya ke dalam dunia, dimulai dari rumah dan meluas ke luar.

Ketika kita merangkul panggilan ini, kiranya kita mendapat kekuatan dari firman Tuhan, memengaruhi keluarga dan komunitas kita, serta menginspirasi generasi yang akan datang. (t/Jing-jing)

Diambil dari:
Nama situs:The Church of Pentecost
Alamat artikel:https://thecophq.org/the-sacred-calling-of-womanhood/
Judul asli artikel:The Sacred Calling Of Womanhood
Penulis artikel:Dr. (Mrs.) Cynthia Adom-Portuphy
Tipe Bahan
kategori