Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

KONSELING

Ada orang Kristen yang menikah, tapi ada juga yang tetap hidup membujang. Namun jelas bahwa ada lebih banyak orang yang menikah daripada yang membujang, sebab pernikahan merupakan rencana Tuhan untuk manusia. Banyak orang Kristen yang memilih hidup lajang (walaupun tidak semuanya) karena Tuhan telah memberikan kepada mereka karunia khusus untuk hidup lajang (the gift of celibacy). Allah telah menjadikan mereka sedemikian rupa sehingga dengan tetap hidup lajang mereka dapat melaksanakan kehendak-Nya dengan lebih baik.

Pada suatu tengah malam, saya bercakap-cakap dengan Tuhan begini:

Bapa, mereka minta saya berbicara mengenai hidup melajang. Mengenai kehidupan saya sendiri sebagai wanita yang melajang, sehubungan dengan iman Kristen saya.

PERTANYAAN:

Saya seorang ibu rumah tangga (36 th), menikah dan mempunyai 2 orang anak perempuan (9 th) dan (11 th). Entah mengapa belakangan ini saya merasa gagal dalam semua bidang. Bayangkan Bu, kalau teman-teman bisa berkarir dan sukses, saya tidak. Saya cuma kuliah sampai semester tiga saja, itupun saya tidak pernah serius. Terus terang saya memang kurang suka belajar. Orangtua sayapun tidak pernah mengeluh; setiap kali mereka menanyakan kenapa saya tidak kuliah, saya selalu mempunyai alasan, entah capai, sakit kepala atau tidak suka dengan mata kuliah hari itu.

Konseling -- sebuah trend yang baru-baru ini muncul dalam lingkungan Kristen -- meliputi segala sesuatu, mulai dari sebuah percakapan beberapa menit sampai pertemuan mingguan selama berbulan-bulan untuk menolong seorang pria atau wanita dalam mengatasi masalah pribadi yang sulit. Sayangnya, tujuan dan sasaran konseling pun telah menjadi lebih luas. Banyak konselor hanya sekadar menolong para konseli untuk menyesuaikan diri dalam masyarakat tanpa memberi pemecahan masalah-masalah yang lebih dalam.

Masalah aborsi merupakan persoalan kontroversial yang mesti dicermati dengan lemah lembut dan penuh kehati-hatian. Penyajian informasi yang tidak berimbang juga sering mengundang reaksi keras, seakan-akan semua pelaku aborsi bayi dalam janin adalah para pembunuh berdarah dingin.

Dampak Psikologis pada Pelaku Aborsi

Dampak psikologis pada pelaku aborsi (wanita yang mengandung) bervariasi, baik dalam jenis maupun intensitasnya. Sudah tentu akan ada sebagian pelaku yang akan berkata bahwa aborsi tidak memberi dampak negatif sedikit pun, malah aborsi memberikan rasa lega karena bebas dari masalah. Saya tidak menyangkali akan adanya reaksi seperti itu, sebab bagaimana pun peranan hati nurani sangatlah besar dalam hal dampak psikologis ini. Jika kita tidak memedulikan (membukakan mata terhadap) jeritan hati nurani, maka kita pun akan mampu membenarkan segala tindakan kita. Namun yang benar tetap benar dan yang salah tetap salah, ada atau tidaknya dampak psikologis tidaklah relevan. Di bawah ini saya akan menguraikan beberapa jenis dampak psikologis yang mungkin dialami oleh pelaku aborsi.

Depresi adalah penyakit klasik para wanita. Mengapa? Ganti dua huruf depan kata "depression" (depresi) sehingga menjadi "expression" (ekspresi). Bila kita tidak mengekspresikan apa yang kita rasakan -- apa yang menganggu kita -- dengan cara yang membangun dan memulihkan, sangat sering hasilnya adalah depresi: cara wanita menangis tanpa air mata.

Diringkas oleh: Yohanna Prita Amelia

Jika kita ingin mengendalikan depresi, maka kita harus mengenali gejalanya. Depresi bukanlah suatu penyakit yang bisa dikenali menggunakan bantuan termometer. Sering kali, depresi datang berangsur-angsur dan tidak diharapkan, sehingga beberapa wanita tidak dapat melihat penyebabnya.

Terminologi

Temperamen adalah kombinasi pembawaan yang kita warisi dari orang tua kita. Pembawaan ini diwariskan melalui gen. Secara sadar atau pun sering kali tidak sadar, temperamen memengaruhi seluruh aspek tindakan kita. Temperamen yang telah "dibudayakan" melalui pembentukan lingkungan disebut sebagai karakter. Sedangkan kepribadian adalah "sosok" yang kita tampilkan dalam relasi dengan orang lain. Bisa jadi, kepribadian sebagai "sosok" yang kita tampilkan berbeda dengan karakter kita yang sesungguhnya. Hal ini bergantung pada kejujuran kita dalam menampilkan diri.

Temperamen adalah kombinasi sifat-sifat yang kita warisi dari orang tua kita. Tidak ada seorang pun yang tahu di mana letak temperamen, tetapi tampaknya ia ada di suatu tempat dalam pikiran atau pusat emosi (sering dirujuk sebagai hati). Dari sana, bersama-sama dengan ciri-ciri manusia lainnya, dihasilkan penampakan dasar. Sebagian besar dari kita lebih menyadari ekspresinya daripada fungsinya.

... ketika penampilan bukanlah segalanya ...

Anda mengagumi lesung pipitnya dan mengingat lengkung bibirnya saat tersenyum. Anda menyukai seluruh penampilannya. Tetapi bagaimana Anda tahu apakah orang yang Anda sukai ini benar-benar tepat untuk kita?

Kita akui saja: kita semua tertarik pada wajah yang tampan, khususnya seseorang yang badannya harum. Tetapi di luar penampilannya yang menarik, apa lagi yang seharusnya kita pertimbangkan saat mencari orang yang tepat untuk menjalin kasih?

"Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya. Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi." (Mazmur 130:5-6)

Refleksi

Saudara-saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami pada acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso bersama Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi dari LBKK (Lembaga Bina Keluarga Kristen), telah siap menemani Anda dalam sebuah perbincangan. Kali ini kami akan berbincang-bincang tentang Kehidupan lajang dari perspektif wanita. Hadir bersama kami pada saat ini Ibu Esther Tjahja Sarjana Psikologi dari Universitas Gajah Mada, yang kini sebagai staf psikologi di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang dan juga hadir bersama kami Ibu Pdt. Dr.


Ditulis oleh: Ade Tanesia Pandjaitan

"Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (Lukas 10:41-42)

Apakah orang harus berkencan supaya dianggap normal? Bagaimana orang memulai berkencan? Apakah berpacaran merupakan ide yang baik? Sampai seberapa jauh petting (bercumbu-cumbuan) diperbolehkan? Bagaimana jika kita sudah melangkah terlalu jauh?

Pertanyaan lagi. Pertanyaan lagi. Sungguh banyak pertanyaan apabila sudah sampai pada pembicaraan tentang pacaran dan menentukan sampai di mana batas-batas yang diperbolehkan.

Pertolongan dari Alkitab

Pages