Perawan Terberkati Maria

Kisah Maria ditemukan pada Perjanjian Baru dan berbagai catatan Apokrif (kitab Yahudi dan Kristen purba yang tidak termasuk dalam daftar kanon – Red), tetapi masih banyak rincian hidupnya yang masih samar-samar. Sebagai seorang gadis Yahudi yang saleh yang merupakan putri dari Hana dan Yoakhim, Maria (atau Mariam dalam Bahasa Yahudi-Aram) menghabiskan masa kecilnya di Bait Allah (tertutup kemungkinan, karena Bait Allah adalah benteng laki-laki pada saat-saat patriarkal tepat sebelum periode awal Kekristenan).

Injil Matius dan Lukas menyatakan bahwa Maria adalah seorang perawan tak bercela pilihan Allah untuk melahirkan Yesus. Catatan Matius menghubungkan persalinan sang perawan dengan nubuat Ibrani nabi Yesaya: “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia “Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.” (Matius 1:23-25)
Immanuel berarti “Allah berserta kita”. Bapa gereja mula-mula, Irenaeus, yang hidup sejak 120 M sampai 202 M, menulis bahwa Tuhan sendiri yang memberikan tanda yang tidak diminta manusia sebelumnya; yaitu, seorang anak dara akan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan disebut “Allah beserta kita” dan bahwa ia akan tetap perawan. Akan tetapi, beberapa ahli membantah kata Almah, dalam Bahasa Ibrani memiliki arti perawan, dan menegaskan bahwa kata itu berarti seorang gadis belia pada usia menikah.

Injil Matius mengungkapkan bahwa setelah Yusuf bertunangan dengan Maria namun belum hidup sebagai suami-isteri, ia mengetahui bahwa Maria mengandung. “Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.” (Matius 1:19) Ketika ia mempertimbangkan maksud itu, ia dikunjungi oleh malaikat yang menjelaskan kebenaran tentang kehamilan Maria.

“Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka." (Matius 1:20 21)

Yusuf dan Maria belum menikah, dan Yusuf tetap mengambil Maria sebagai isterinya serperti yang direncanakan. Akan tetapi, Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria, menurut Injil Matius, “tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki.” (Matius 1:25)

Matius Menunjukkan Keterkaitan dengan Raja Daud

Berdasarkan 2 Samuel 7:12-13, Yesus akan datang melalui garis keturunan Raja Daud. Injil Matius 1:1-17 mendaftar empat puluh dua generasi dalam silsilah Yesus, terbentang dari Abraham melalui Daud kepada Kristus dan termasuk para perempuan. Injil Lukas 3:23-38 mengurai silsilah Yesus dalam urutan yang terbalik, menelusuri ke generasi sebelumnya sampai kembali ke Adam. Nabi Yesaya menghubungkan keluarga Daud dengan kelahiran seorang anak dari perawan di masa depan yang akan disebut Immanuel. Nabi Yesaya bernubuat bahwa Sang Mesias di masa depan akan memiliki ikatan dengan keluarga Daud. Kitab Yesaya di Perjanjian Lama menyatakan, “Lalu berkatalah nabi Yesaya: "Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:13-14) Immanuel dalam Bahasa Ibrani berarti “Allah beserta kita.”

Apa Saja Gelar-gelar Maria?

Berbagai nama untuk Maria telah berkembang menurut cara ia digambarkan, baik sebagai Santa Perawan Terberkati, pendoa syafaat penuh kasih, seorang ibu yang berduka, santa dari semua orang kudus atau Madonna. Beberapa gelarnya meliputi: Bunda Dukacita, Bunda Medali Wasiat, Ratu Surga, Bunda Allah, Bunda dari Guadalupe, Bunda dari Gunung Karmel, Bunda dari Fatima dan Bunda Penolong Abadi.

Malaikat Gabriel Menampakkan Diri kepada Maria

Injil Lukas menyatakan bahwa malaikat Gabriel menampakkan diri di hadapan Maria dan mengatakan bahwa ia beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Maria takut, dan bertanya-tanya mengapa dia yang terpilih untuk kunjungan tersebut. Malaikat itu memintanya untuk tidak takut, tetapi bahwa Roh Kudus akan turun atasnya, menaunginya dan mengaruniakannya seorang Anak yang “Akan disebut kudus, Anak Allah.” (Lukas 1:26-35) Maria menjawab, “Jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Lukas 1:38)

Maria Mengunjungi Elisabet

Malaikat Gabriel juga memberitahukan Maria bahwa sepupunya Elisabet, yang mandul setelah sekian lama, mengandung pada hari tuanya. Lalu malaikat itu menyatakan dengan lantang: “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37) Maria meninggalkan Nazaret ke pegunungan untuk mengunjungi sepupunya di sebuah kota di Yehuda. Injil Lukas menyatakan bahwa pada saat kedatangan Maria, ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.” (Lukas 1:40-42)
“Terpujilah engkau di antara wanita, dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus.” – itulah penggalan kalimat yang telah dilafalkan selama berabad-abad dalam doa salam Maria (Ave Maria dalam Bahasa Latin). Doa tersebut adalah penggabungan salam Gabriel yang ditemukan pada Lukas 1:28 dan salam Elisabet untuk Maria pada Lukas 1:42. Doa ini telah terkenal dan digunakan banyak orang sejak abad kesebelas, dan merupakan salah satu doa yang diperlukan dalam doa rosario.

Maria Mendampingi Yusuf ke Betlehem

Maria tinggal di rumah Elisabet selama tiga bulan sebelum kembali ke rumahnya sendiri. Augustus, Kaisar Romawi, menuntut semua orang untuk dikenakan pajak, dan bahwa setiap orang harus membayar pajak di kotanya sendiri (Lukas 2:1-3). Yusuf pergi dari Galilea di Nazaret ke Betlehem di tanah Yudea (di sini sekali lagi, Lukas 2:4 kembali menyatakan bahwa Yusuf berasal dari keluarga dan keturunan Daud) untuk dikenakan pajak bersama dengan Maria. Sungguh luar biasa, karena Maria saat itu sedang hamil sembilan bulan, semua penginapan penuh dan tidak ada tempat baginya untuk memiliki ketenangan dan kenyamanan.

Maria Melahirkan

Injil Matius tidak menyebutkan pajak atau sensus, tetapi menyatakan tentang tiga orang majus yang mencari tahu bagaimana cara menemukan Raja orang Yahudi untuk memberikan persembahan kepada-Nya. Hal inilah yang menyebabkan kelahiran Yesus menarik perhatian Raja Herodes. Orang-orang majus ini mengikuti bintang di Timur dan tiba di Betlehem untuk memberi penghormatan kepada Sang Bayi yang baru lahir dan ibu-Nya. Herodes meminta orang-orang majus itu untuk memberitahunya di mana bayi itu berada supaya dia juga bisa pergi ke sana untuk menyembah-Nya. Matius 2:11 mengungkapkan bahwa mereka menemukan Maria dan Anaknya, dan tersungkur menyembah Dia. Setelah kunjungan itu, orang-orang majus itu memperoleh mimpi yang meminta mereka untuk tidak kembali kepada Herodes, sehingga mereka meninggalkan kota dengan menggunakan rute yang berbeda untuk kembali ke Negara mereka. Yusuf diperingatkan untuk membawa Maria dan bayinya ke Mesir. Beberapa lama kemudian, ketika Herodes meninggal, malaikat memberi tahu Yusuf untuk kembali ke Israel.

Maria Menyerahkan Bayinya

Hana, yang disebut di Injil Lukas sebagai “nabiah, putri Fanuel, dari suku Aser,” berada di Bait Allah ketika Maria dan Yusuf membawa Yesus untuk diserahkan, menurut kebiasaan Ibrani. Anna telah menjadi janda selama bertahun-tahun (Lukas 2:36 37). Dia memang tidak tinggal di bait Allah, tetapi ia menghabiskan seluruh waktunya di sana untuk melayani Tuhan melalui puasa dan doa, dan menunggu kedatangan Mesias yang dinanti-nantikan. Pada hari Yesus diserahkan, Hana berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan penebusan (Lukas 2:38).

Maria Mengungkapkan Kasih dan Kepeduliannya Kepada Yesus

Ketika Yesus berusia dua belas tahun, Maria dan Yusuf membawa Dia ke Yerusalem. Yesus hilang, dan ketika orang tuanya akhirnya menemukan Dia di Bait Allah, Maria sangat prihatin. Dia menghampiri Yesus, lalu bertanya, “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” (Lukas 2:48) Yesus menjawabnya dengan bertanya mengapa dia tidak tahu bahwa Ia harus berada di dalam rumah Bapa. Ketika Yesus sudah dewasa dan memulai pelayanan-Nya, Maria, dengan beberapa perempuan lain (kemungkinan adalah saudara-saudara perempuannya), mengikuti Anaknya dalam perjalanan-Nya mengelilingi Palestina.

Maria Meminta Bantuan Yesus di Kana

Pada saat perkawinan di Kana, di mana Maria dan Yesus adalah tamu, sang tuan rumah kehabisan anggur untuk perayaan itu. Injil Yohanes mengisahkan apa yang terjadi selanjutnya: “Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” (Yohanes 2:1-3) Maria tidak meminta mujizat, tetapi itulah yang Yesus lakukan, Ia merubah air menjadi anggur, mujizat-Nya yang pertama. Dan anggur-Nya memiliki kualitas yang luar biasa. (Yohanes 2:10)

Ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” Di situ ada enam tempayan. Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu -- dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya -- ia memanggil mempelai laki-laki. (Yohanes 2:5-7,9)

Maria Berduka dan Berjaga-jaga di Bawah Kayu salib

Setelah tiga tahun pelayanan Yesus berakhir dengan sengsara dan penyaliban, Maria berdiri berjaga-jaga di kaki salib-Nya berdampingan dengan Murid Terkasih, Maria Magdalena dan yang lainnya. Yesus memanggil Maria dari salib, sambil berkata, “Ibu, inilah, anakmu!” Bukan mengacu kepada diri-Nya sendiri, tetapi untuk Yohanes muridnya terkasih. Dia juga mengatakan kepada muridnya, “Inilah ibumu!” (Yohanes 19:26-27)

Via Dolorosa (atau “Jalan Penderitaan”) juga dikenal sebagai Jalan Salib. Empat belas perhentian ini masing-masing melambangkan dan memperingati peristiwa tertentu selama penderitaan Yesus di jam-jam terakhir sebelum Ia disalibkan. Maria sering digambarkan dalam karya seni sebagai ibu yang berduka, menggendong tubuh anaknya yang telah meninggal.

Maria Bergabung dengan yang Lainnya di Ruang Atas

Nama Maria pernah disebutkan dalam Kitab Kisah Para Rasul sebagai yang hadir di ruang atas, tempat di mana sekitar 120 pengikut Yesus telah berkumpul untuk memilih murid yang akan menggantikan Yudas. (Kisah Para Rasul 1:14) Setelah itu, dia tidak disebutkan di dalam Alkitab. Beberapa keterangan menyatakan bahwa ia menghabiskan waktu di Efesus dengan Yohanes, dan mungkin bersama Maria Magdalena, tetapi beberapa arkeolog menyatakan bahwa tidak ada bukti untuk hal tersebut. Tradisi lain mengatakan bahwa ia menetap di Yerusalem.

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Netplaces
Alamat URL : http://www.netplaces.com/women-of-the-bible/remarkable-mothers/the-bless...
Judul asli artikel : The Blessed Virgin Mary
Penulis : Meera Lester
Tanggal akses : 8 Maret 2013
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar