Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Acara Minum Teh Natal

Menjadi orang yang pernah mengalami mukjizat berarti menjadi orang yang diubah. Itulah yang terjadi pada diriku pada bulan Desember 1993.

Pada bulan itu, aku mulai rajin ke gereja. Sebelumnya, aku jarang ke gereja semenjak masa kanak-kanakku. Tapi, tidak ada seorang pun yang memaksaku sehingga aku rajin pergi ke gereja. Agar aku lebih terlibat di gerejaku yang baru, Gereja Crossroads Baptist, aku bergabung dengan program pelayanan wanita. Agar lebih terlibat di dalamnya, aku membantu acara minum teh tahunan saat Natal secara sukarela.

Kelihatannya, aku bisa mengatur tugasku. Aku mendapat tugas untuk mempersiapkan makanan pada acara minum teh. Kusiapkan 220 roti lapis (sandwich) dan 220 kue kecil. Aku bersemangat. Selain jarang ke gereja, aku juga jarang menjadi pekerja sukarela dalam hidupku. Inilah kesempatanku untuk terjun dan betul-betul membantu dengan cara yang hebat. Aku bermaksud untuk mengerjakannya dengan sempurna.

Seminggu sebelum acara minum teh, aku memutuskan untuk membuat 220 kue gulung "angel food" kecil. Aku melihat resepnya di salah satu buku resepku. Biasanya, aku tidak memunyai waktu untuk mengerjakan hal semacam ini. Sekarang, aku mendapat kesempatan untuk itu. Kue-kue itu kelihatan indah dalam gambar dan cara membuatnya pun cukup mudah.

Caranya, ambil satu bongkah kue "angel food" dan potong memanjang menjadi empat lempeng. Olesi lempengan-lempengan itu dengan selai. Kemudian, gulung setiap lempeng lalu potong menjadi dua untuk membuat gulungan jeli mini. Setiap bongkah kue dapat dibuat menjadi delapan gulung jeli. Jadi, aku akan membutuhkan ... tiga puluh bongkah kue "angel food" untuk 220 orang. Untuk mencoba resep itu, aku memakai sebongkah kue "angel food" yang kubeli di toko bahan makanan. Rupanya, kue itu tidak terlalu jelek jadinya.

Aku memesan tiga puluh bongkah kue "angel food" dari toko roti setempat. Aku berencana untuk membuat kue-kue itu pada Kamis dan Jumat, jadi masih ada waktu untuk acara minum teh pada Sabtu sore. Aku mengambil kue "angel food" tersebut di toko roti pada Kamis pagi. Segera sesudah sampai di rumah, aku menggulung lengan bajuku dan mulai bekerja. Ini akan menjadi sesuatu yang hebat!

Ternyata, kondisinya tidak seperti yang kuharapkan. Kue "angel food" itu kurang matang di bagian tengahnya! Sambil berusaha untuk tidak panik, aku berlari kembali ke toko roti. Mereka cukup pemaaf dan mengatakan bahwa mereka masih punya dua puluh kue di lemari pembeku. Sisa sepuluh kue tersebut akan mereka panggang dan siap keesokan harinya. Aku merasa lega. Kemudian, aku berkendaraan pulang dan membawa dua puluh bongkah kue "angel food".

Lalu, mimpi buruk pun mulai terjadi. Ternyata, kue-kue itu tidak seperti yang kupakai sebagai percobaan. Pisaunya lengket. Kue-kuenya pecah. Hasilnya suatu malapetaka. Pada pukul 2.00 pagi, aku menyelesaikan 160 gulungan jeli yang hasilnya menyedihkan. Aku ingin menangis. Aku mengharapkan masakanku akan sukses dan mendapatkan pujian di acara minum teh Natal itu. Aku sudah berjanji untuk mewujudkannya. Namun hasilnya 160 gulungan jeli yang remuk, bergerigi, dan bentuknya cacat.

Pada Jumat pagi, aku memutuskan untuk memulai dari awal dengan kue "angel food" yang baru. Kutelepon toko roti setempat dan kubatalkan pesanan sepuluh bongkah "angel food"ku. Lalu aku mulai berkendaraan ke setiap toko roti di dalam kota. Banyak di antara toko-toko itu memunyai kue "angel food" berbentuk pipa. Tetapi, mereka jarang menyediakan kue berbentuk bongkahan. Setiap orang mengatakan bahwa mereka dapat memanggang kue berbentuk bongkahan tanpa gagal. Tetapi, aku sudah tidak punya waktu untuk itu. Acara minum teh diadakan keesokan harinya. Aku menjadi panik. Tinggal satu toko roti lagi. Ini adalah kesempatanku yang terakhir.

Aku belum lama menjadi jemaat gereja. Berdoa merupakan sesuatu yang belum menjadi kebiasaanku. Aku berpikir bahwa berdoa hanya untuk hal-hal yang besar. Anda tidak perlu merepotkan Tuhan untuk hal-hal yang kecil. Tetapi, dengan air mata bercucuran, aku mulai berdoa ketika aku berkendara menuju toko roti yang terakhir. "Tuhan yang terkasih, tolonglah supaya di sini ada kue 'angel food'. Bukan yang model pipa, tetapi model bongkahan, Tuhan. Tolonglah Tuhan. Acara teh Natal ini untuk-Mu." Kuparkir mobilku dan aku berjalan masuk ke toko roti. Ketika aku berjalan lewat pintu kaca sorong, terdapat deretan bongkahan kue "angel food" tepat di depanku. Aku sangat gembira. Kasir toko itu pasti mengira bahwa seorang wanita gila baru saja berjalan memasuki tokonya. Kue-kue ini adalah kue "angel food" yang paling lembut dan paling halus. Aku belum pernah melihat kue yang sebagus itu. Dengan menahan napas, aku mulai menghitung. Ada 17 kue di atas rak. Hatiku ciut. "Apakah Anda masih punya stok kue ini?" aku bertanya pada kasir.

"Biasanya kami tidak menjual yang semacam ini," jawabnya. "Kue-kue ini baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Aku baru sempat mengeluarkan 17 kue. Tentu saja, kami punya lebih banyak di belakang. Akan saya ambilkan." Kuisi mobilku dengan kue-kue "angel food" tersebut. Dalam perjalanan pulang, aku menangis karena kegirangan, bukan karena kegagalan.

Ketika aku memasang kembali meja kerjaku di dapur, aku tahu bahwa ini sudah hampir berakhir. Aku tidak merepotkan diri untuk menghitung. Aku tahu bahwa aku tidak punya kue ekstra untuk gagal. Bila ternyata nanti hasilnya kurang, aku memutuskan untuk membawa beberapa kue jelek yang kubuat sebelumnya dan akan kusajikan di mejaku. Pisauku memotong kue-kue yang baru itu seperti memotong mentega. Gulungan jeli kecil yang kubuat kali ini secantik gambar di dalam buku masak. Aku bekerja sepanjang siang dan sore dengan pisauku dan botol-botol selai. Aku menyelesaikan kue-kue yang terakhir pada Jumat malam pukul sepuluh. Lelah tetapi puas, aku mulai menghitung si kecil yang cantik satu demi satu. Tahukah Anda, berapa banyak kue yang kumiliki? Tepat 220 ... 220 gulungan jeli "angel food" yang cantik. Tidak lebih dan tidak kurang.

Empat tahun kemudian, aku masih terpesona oleh cerita ini. Aku masih mengeluarkan air mata bila kuingat acara minum teh Natalku yang pertama. Tuhan telah mengirim kue-kue "angel food" dari surga kepadaku. Tuhan pasti terlibat dalam setiap mukjizat. Aku pun tahu bahwa Ia juga terlibat dalam mukjizat yang kualami. Aku tidak sama seperti sebelumnya. Saat ini, hidupku dipenuhi perasaan damai. Ini hanya bisa kuperoleh karena iman kepada Tuhan. Cinta Tuhan ada di sekeliling kita. Cinta-Nya dapat ditemukan pada beberapa hal yang paling kecil. Selamat Natal. Jika suatu saat Anda datang ke kotaku, silakan singgah di acara minum teh Natal kami. Sekarang, aku menjadi penanggung jawab acara itu.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : The Magic of Christmas Miracle
Penulis : Lynne Hall (Mukilteo, Washington)
Penerjemah : Bambang Soemantri
Penerbit : PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
Halaman : 182 -- 186

Komentar