Skip to main content

Suara Hati

Menyajikan kisah nyata, kesaksian, dan refleksi dari wanita Kristen yang menolong Anda melihat karya Tuhan di tengah pergumulan dan keseharian hidup.

Penantian Panjang Sang Bunda

Cerita ini dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu seorang gadis kecil. Tidak seorangpun yang tahu nama aslinya, tetapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli kota itu., melainkan dibawa oleh suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakkan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka. Tidak sampa setahun di kota itu, mereka sudah kehabisan seluruh uangnya. Hingga suatu pagi mereka menyadari akan tinggal di mana malam nanti dengan tidak sepeser pun uang ada di kantong. Padahal mereka sedang menggendong seorang bayi berumur satu tahun. Dalam keadaan panik dan putusasa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya. Tiba saatnya di sebuah jalan sepi, di mana puing-puing dari sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.

Hadiah Terbaik

Bayangkan berjalan di tengah lembah kekelaman tanpa sebuah lampu.

Begitulah yang dirasakan oleh banyak keluarga Kristen di Iran saat mereka terpaksa meninggalkan rumah untuk mengungsi karena perang yang tak berkesudahan. Kekuatan yang didapat melalui firman Tuhan seperti tenggelam di antara tekanan yang dihadapi setiap hari. Ketakutan seperti tidak mau pergi dan kekhawatiran bertumbuh setiap jam seperti hantu yang mengintimidasi. Dari tengah-tengah kegalauan muncul sebuah pertanyaan, "Apakah masih ada pengharapan?"

Seimbangkah Anda?

Selama hampir delapan belas tahun lamanya saya terlibat dalam pelayanan, saya selalu memperhatikan dua bagian, saya selalu memeriksa dua instrumen di "dashboard" kehidupan saya. Sampai baru-baru ini, saya pikir itu sudah cukup.

Korban Aborsi Itu Kini Punya Masa Depan

Dua jari tangan kanan dan tiga jari tangan kirinya tumbuh tak sempurna, tanpa ruas pertama. Kakinya pun tak sempurna. Telapak kaki kanan separuh kaki normal sedangkan kaki kirinya hanya berbentuk bonggol, seperti tangan yang mengepal. "Batin saya tertekan dan saya sempat membenci Mama. Luka dalam hati saya begitu dalam. Syukur, itu tak lama. Roh Tuhan di hati saya bekerja, akhirnya saya dapat mengampuni Mama," ungkap Gloria Atmaja (42th.), wanita yang lahir cacat karena percobaan aborsi.

Wanita Karier dan Ibu Rumah Tangga

Dua sahabat, lama tak jumpa, suatu hari bertemu. Yang satu menjadi ibu rumah tangga, satunya lagi wanita karier. Setelah bernostalgia sejenak, mereka menanyakan pekerjaan masing-masing.

"Enak ya kerja di kantor, bisa cari uang sendiri, tak tergantung suami," kata ibu rumah tangga dengan nada agak iri.

"Justru kamu lebih enak. Tak perlu bekerja, semua dicukupi suami, bisa menikmati enaknya tinggal di rumah," sanggah wanita karier.

"Tapi, di kantor kan pergaulanmu lebih luas. Lagi pula ada acara makan siang bersama rekan dan atasan," bantah ibu rumah tangga.

"Di rumah kamu bisa menikmati saat-saat indah bersama anak-anak, bukan?" gerutu wanita karier. "Yah, sebaliknya di kantor kamu lebih terpandang: ikut rapat, pelatihan, dan diskusi dengan para eksekutif," sela ibu rumah tangga.

Anugerah Kristus Bagi "S" Di Iran

S, seorang perempuan dari Iran, adalah pengikut Kristus yang berlatar belakang agama lain. Beberapa tahun lalu, ia mengalami perampokan dan penembakan yang menyebabkan lehernya berlubang. Vonis medis pun menetapkan ia tidak akan bertahan hidup. Tuhan memberikan anugerah pemulihan kepada S -- fisik maupun spiritual, bahkan di tengah ketidakmungkinan yang dilihat dari mata manusia. Anugerah-anugerah Tuhan justru datang melalui cara-cara yang mengherankan dan tidak terduga. Berikut ini, sekelumit kisahnya.

Asya Bebas!

Bebas dari penjara dan kembali ke pelukan ibunya. Bagaimana perasaan seorang ibu ketika putri remajanya dirampas dan dimasukkan dalam penjara selama hampir 2 tahun? Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit karena mengetahui putrinya harus dipenjara karena membela dirinya? Inilah potret perjalanan seorang Mayan Jaffar Ibrahim ketika Asya (Maria) yang berusia 14 tahun dijatuhi hukuman oleh pengadilan bulan Juli 2006 karena telah membunuh pamannya yang menyerang keluarganya di rumah mereka di utara Irak.