Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Belajar Mengampuni

Pengampunan tidak dimaksudkan untuk keuntungan diri kita saja. Kita harus menjadi saluran dari kasih Allah. Kita yang telah mendapat pengampunan harus menjadi orang yang mau mengampuni -- mengampuni sesama atas kesalahan dan ketidakadilan yang mereka lakukan terhadap kita. Masing-masing kita perlu belajar untuk mengampuni (Matius 6:12; Efesus 4:32).

Kristus berharap agar kita mengampuni orang lain dengan sepenuhnya dan dengan rela (hati), dengan cara yang sama sebagaimana Dia mengampuni kita. Ia bercerita tentang pengampunan dan ketidaksediaan untuk mengampuni dalam Matius 18:23-35. Perikop ini berkenaan dengan seorang penguasa yang menjumpai salah satu hambanya yang berutang padanya sebesar 10.000 talenta. Ini adalah jumlah yang besar! Jumlah yang tak mungkin terbayar, bahkan kalau hamba itu bekerja seumur hidupnya untuk hal itu. Raja adalah gambaran dari Bapa Surgawi, sedangkan hamba adalah gambaran dari kita.

Karena hamba itu tidak memiliki apa pun untuk membayar utangnya, penguasa itu memerintahkan supaya ia, keluarganya, dan semua yang ia miliki, dijual. Maka sujudlah hamba itu menyembah tuannya. Hamba itu seharusnya sudah mengetahui ketidakmampuannya dan kira-kira berkata seperti ini, "Maafkanlah kiranya atas utang-utang itu. Aku mohon, janganlah menjual aku, keluargaku, dan milikku; kalau pun tuan mengambil itu semuanya, belumlah cukup untuk melunasi utangku." Tapi hamba itu tidak mengatakan begitu. Dia berkata, "Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunaskan." Acap kali dalam diri kita ada kecenderungan untuk menaruh percaya pada diri sendiri, merasa sombong dalam perkara-perkara yang kita kira dapat kita kerjakan. Sikap seperti ini tidak benar. Kita tak dapat berbuat sesuatu tanpa anugerah Allah.

Lalu tergeraklah hati tuan itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dari utangnya dan mengampuninya. Kemudian hamba itu keluar dan bertemu dengan seorang hamba lain (kawannya) yang berutang sedikit padanya -- 100 dinar (satu dinar sama dengan gaji satu hari). Hamba yang telah diampuni tersebut (hamba pertama) tidak mau mengampuni kawannya yang berutang padanya sebagaimana ia telah mendapat pengampunan, meskipun kawannya membuat permohonan yang sama seperti seperti dirinya. Hamba yang pertama tidak menaruh belas kasihan sedikit pun dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara, sehingga ia tidak akan mampu melunasi utangnya. Ada orang-orang, yang kalau saja kita mau bersabar terhadap mereka, ada kemungkinan anugerah Allah akan bekerja dalam diri mereka, mereka dapat berubah. Allah dapat mengubah mereka untuk hal-hal yang bagi kita tak dapat diampuni dan diterima.

Apa yang terjadi atas hamba yang telah mendapat pengampunan total, tetapi tidak mau mengampuni yang sedikit? Tuannya mendapati apa yang telah dia perbuat dan menyerahkan hamba yang jahat itu kepada algojo- algojo. Yesus tidak mengajarkan bahwa orang-orang Kristen yang tidak mengampuni orang lain tidak akan masuk surga, tetapi Tuhan mengajarkan bahwa dengan ketidaksediaan kita untuk mengampuni orang lain, akan mendatangkan banyak kesusahan dan siksaan bagi diri kita sendiri selama di dunia ini. Kita akan menjumpai bahwa kepahitan, kemarahan, dan ketidaksediaan untuk mengampuni, akan membuat tuntutan yang dahsyat atas kita secara jasmani dan emosi. Kita akan menjadi aus, bahkan menderita sakit jasmani, sebab hati kita penuh kebencian dan kepahitan.

Pada hakikatnya, kita bukanlah orang yang suka mengampuni orang lain. Kalau seseorang berbuat salah kepada kita, kita cenderung ingin membalasnya. Paulus mengingatkan, "Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan" (Roma 12:19). Bila kita membiarkan pikiran- pikiran yang tidak mengampuni tinggal dan tumbuh dalam hati kita, hal- hal ini akan menumbuhkan akar kepahitan (Ibrani 12:15).

Jauh lebih baik mengampuni dan melupakan daripada membenci dan mengingatnya. Meskipun hal tersebut tidaklah mudah dilakukan, namun hanya oleh anugerah Allah dan kuasa Roh Kudus, kita dapat mengampuni. Kita dapat mendoakan orang yang telah bersalah kepada kita. Dengan cara ini, kita menaruh berkat atas mereka dan bukan kutuk, memberi mereka yang baik bukan yang jahat (Amsal 19:11).

Jangan biarkan kesalahan yang dilakukan satu hari berkelanjutan menjadi dendam, suatu ketidaksediaan untuk mengampuni. Tiap hari, kita harus berlatih untuk mengampuni (Efesus 4:26).

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul majalah : Hidup dalam Kristus, Vol.18 No.2
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Pusat Hidup Baru, Solo
Halaman : 14 -- 15
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar