Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 1 week 1 day ago

Pengalaman Magang di YLSA: Seni Menerjemahkan

Fri, 11/08/2019 - 12:06

Oleh: Nike

Perkenalkan saya Eunike. Teman-teman saya biasanya memanggil saya dengan nama Nike. Saya adalah mahasiswi jurusan Sastra Inggris di Universitas Kristen Satya Wacana. Saya sudah magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) bersama tiga teman saya, yaitu: Senda, Gabriel, dan Maya.

Selama magang, banyak hal yang saya pelajari: mulai dari menerjemahkan subtitle, rekaman artikel, membuat caption, membuat quotes, dan yang paling utama menerjemahkan artikel. Bahan-bahan yang diberikan kepada kami untuk diterjemahkan adalah artikel Kristen. Pada minggu pertama, setiap kami diberi tiga artikel untuk diterjemahkan selama satu minggu. Tidak sampai di situ, artikel yang sudah diterjemahkan tidak langsung dianggap selesai, masih ada proses selanjutnya, yaitu pair editing. Artikel yang sudah selesai diterjemahkan harus diberikan kepada salah satu teman kami untuk diedit atau dicek hasil terjemahannya supaya jika ada kesalahan atau ada kata yang tidak tepat terjemahannya, dapat diperbaiki. Pada awalnya, sulit bagi saya dan teman-teman untuk menerjemahkan artikel Kristen karena banyak istilah kekristenan yang jarang kami temui. Saat kuliah, kami lebih banyak menerjemahkan artikel akademis, bahasa yang digunakan pun berbeda dengan yang ada di artikel Kristen. Namun, seiring waktu berjalan, kami mulai terbiasa dengan istilah-istilah yang ada.

Tidak hanya itu, kami juga belajar membedah hasil terjemahan. Tujuannya adalah untuk melihat kualitas hasil terjemahan apakah sudah baik atau belum, dan bisa memberikan masukan-masukan untuk terjemahan tersebut. Salah satunya dengan mengetahui kesalahan-kesalahan dalam terjemahan. Kegiatan ini tidak hanya diikuti oleh anak-anak magang, tetapi ada mentor dan tim penerjemah SABDA yang ikut terlibat di dalamnya. Biasanya, butuh waktu 30 menit sampai 1 jam untuk melakukan bedah terjemahan. Manfaat yang saya dapatkan dari kegiatan ini adalah saya menjadi tahu kesalahan-kesalahan besar maupun kecil dalam hasil terjemahan saya, seperti: kesalahan teknis dalam penulisan, kalimat yang tidak sesuai dengan konteks, dan penggunaan EYD yang tidak tepat. Dengan kegiatan ini, kami didorong untuk terus mengerjakan tugas terjemahan agar lebih baik lagi.

Perjalanan magang kami dievaluasi setiap akhir minggu dan akhir bulan. Semoga ke depannya, melalui semua hal yang sudah dipelajari ini, dapat membantu kami lebih baik dalam mengerjakan tugas-tugas terjemahan. Tuhan menolong kita.

Dua Bulan Magang yang Tak Terlupakan

Fri, 11/01/2019 - 11:48

Oleh: Maya

Waktu berlalu begitu cepat. Itulah perasaan saya ketika magang selama dua bulan di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) berakhir. Saya, Gabi, Senda, dan Nike merasa sangat beruntung mendapat kesempatan dari Tuhan untuk belajar banyak hal di YLSA. Bukan hanya dari segi keterampilan ataupun kreativitas, tetapi saya juga bertumbuh secara rohani. Saya memiliki banyak teman baru dengan karakter yang berbeda-beda. Di sini, saya belajar untuk membangun relasi yang baru dengan para staf. Awalnya, saya masih malu-malu. Namun, setelah mulai membaur, saya justru merasa sebagai staf tetap di sini dan sudah seperti keluarga sendiri. Selain itu, saya juga bersyukur dan sangat berterima kasih kepada ketiga mentor saya, Bu Evie, Mbak Santi, dan Mbak Okti yang telah membimbing saya dan teman-teman selama kami magang di YLSA. Secara khusus juga untuk Ibu Yulia yang dengan tangan terbuka mau membina saya dan teman-teman selama dua bulan ini. Begitu banyak pelajaran, nasihat, dan masukan yang kami dapat selama berada di YLSA dan itu sangat bermakna serta berguna bagi saya secara pribadi.

Jika diuraikan satu per satu dari hal yang paling berkesan, saya akan memulai dari #SABDA25. Saya merasa senang karena pada kesempatan kali ini, saya turut terlibat dalam acara ulang tahun ke-25 SABDA. Dari acara ini, saya dapat belajar bagaimana bertanggung jawab atas pekerjaan yang diberikan, kesabaran, dan kerja tim. Bukan hanya itu, saya juga belajar bagaimana mengesampingkan ego saya dan belajar memahami orang lain. Selain itu, selama di SABDA, saya dan teman-teman juga diajarkan bagaimana menjadi seorang translator yang baik, terlebih dalam memperhatikan tata kaidah #penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selama magang, saya juga belajar bagaimana menggunakan waktu saya dengan bijak sehingga dapat menyelesaikan setiap tugas yang diberikan tepat waktu. Bagian penting yang harus diperhatikan dalam mengerjakan setiap tugas yang diberikan adalah ketelitian. Saya dan teman-teman magang harus bekerja dengan teliti dan cepat. Di YLSA, ada istilah QC (Quality Check) untuk memeriksa lagi kualitas pekerjaan yang sudah dikerjakan. Selama dua bulan ini, saya juga belajar mengerjakan tugas yang tidak hanya berkaitan dengan jurusan saya, tetapi saya berkesempatan membuat IG Swipe, Quotes, dan GIF, yang menuntut kreativitas tinggi.

Dari semua pekerjaan yang sudah dikerjakan selama dua bulan ini, ada beberapa pekerjaan yang saya sukai, yaitu ITL (Interlinear), menerjemahkan artikel, dan mentoring. Alasannya, karena dari ITL dan menerjemahkan, saya dilatih lagi untuk bisa menguasai bahan yang saya terjemahkan serta menambah kosakata baru saat proses mengerjakannya. Selain itu, dalam mengerjakannya juga dibutuhkan ketelitian dan konsentrasi yang penuh. Saya juga akhirnya menyadari bahwa seorang translator yang baik harus menguasai bahasa ibu terlebih dahulu, lalu bahasa asing. Sebab, menjadi translator yang baik bukan berdasarkan seberapa hebat ia menguasai bahasa asing, melainkan bagaimana hasil terjemahannya dapat dipahami dengan mudah ketika dibaca. Melalui mentoring, saya belajar untuk bisa lebih terbuka, memotivasi, dan sharing pengalaman-pengalaman pribadi untuk saling membangun. Selama dua bulan ini, saya juga diajar untuk menerapkan prinsip Freely Receive, Freely Give! yang adalah prinsip pelayanan di YLSA. Allah sudah memberikan anugerah-Nya dengan cuma-cuma, maka kita juga harus dapat membagikan berkat dengan cuma-cuma. Amin.

Celebrating God Works — #SABDA25: Now, New, and Next

Wed, 10/30/2019 - 14:59

Oleh: Pingkan

Shalom, perkenalkan nama saya Pingkan, staf baru di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) yang masih dalam masa percobaan. Saat saya bergabung pada akhir September 2019, suasana kantor ternyata sedang hectic karena persiapan acara Ultah #SABDA25 yang akan diadakan pada 14 Oktober 2019. Kendati demikian, saya senang sekali bisa ikut berpartisipasi mempersiapkan acara besar tersebut. Dalam waktu yang singkat, saya belajar banyak hal, baik mengenai SABDA, lingkup pelayanannya, hingga kerendahan hati untuk mendengar isi hati Tuhan. Menurut saya, masa persiapan acara Ultah SABDA ini tidak kalah penting dari acara itu sendiri. Kami bergumul untuk banyak hal dan bersandar sepenuhnya kepada Tuhan yang punya acara. Kami juga memohon agar hati kami terus dimurnikan dan membawa kemuliaan bagi Dia melalui segala hal yang kami lakukan.

Tanggung jawab utama saya dalam acara ini adalah mempersiapkan booth Alkitab Kuno yang terdiri dari berbagai versi Alkitab berbahasa Indonesia dari yang paling kuno sampai yang paling modern, dan berbagai Alkitab bahasa daerah. Dua minggu sebelumnya, saya tidak tahu apa pun tentang Sejarah Alkitab di Indonesia. Oleh sebab itu, saya bersyukur mendapatkan kesempatan "terpaksa harus" belajar untuk dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab saya dengan baik. Tentu saja hal tersebut tidak terlepas dari bantuan dan perhatian staf-staf lain yang dengan sabar membimbing saya.

Booth Alkitab Kuno lebih banyak dikunjungi oleh para hamba Tuhan dan mahasiswa STT, walaupun ada pula beberapa pengunjung awam yang datang berkunjung. Para hamba Tuhan sangat tertarik untuk membandingkan satu versi Alkitab berbahasa Indonesia dengan versi lainnya, untuk melihat perbedaan dan persamaan dari segi bahasa, istilah, ejaan, dan esensinya. Sementara para mahasiswa STT cenderung tertarik pada Alkitab versi bahasa daerah karena pada umumnya, mereka adalah pemuda-pemudi yang berasal dari luar pulau dan senang melihat Alkitab bahasa daerah mereka terpajang di booth. Para pengunjung booth juga gemar berfoto dan merekam video, terutama dengan latar belakang timeline Sejarah Alkitab Indonesia. Beberapa pengunjung lainnya sesekali membuka-buka Alkitab yang dipajang di meja, dan juga sangat antusias minta difotokan dengan latar belakang timeline Sejarah Alkitab Indonesia maupun dengan Alkitab Kuno yang dipajang sebagai display.

Puji Tuhan, peserta yang datang melampaui jumlah yang kami harapkan. Dengan segala keterbatasan kami sebagai manusia, kami berusaha melayani peserta dengan sebaik mungkin. Saya tidak bisa berhenti tersenyum pada saat acara berlangsung karena saya merasakan campur tangan Tuhan yang memberikan sukacita, baik kepada panitia maupun peserta. Kelelahan panitia dalam rangka persiapan pun terasa menguap digantikan dengan semangat dan kekuatan dari Tuhan untuk melayani Dia dan umat-Nya. Antusias peserta dalam acara pun terlihat dari partisipasi games dan permintaan instalasi serta semua booth yang ramai dikunjungi.

Pada saat pembicara utama, Bapak Sri Hastjarjo, menyampaikan materi, secara pribadi saya sangat diberkati. Materi yang paling mengena adalah bahwa teknologi bukanlah musuh gereja. Justru dengan memanfaatkan teknologi, gereja dapat menjangkau lebih banyak hati dan jiwa-jiwa demi kemuliaan nama-Nya. Dan, yang paling berkesan adalah momen ketika Ibu Yulia menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan YLSA kepada Mbak Evie. Beliau berkata kurang lebih demikian, "Dalam melayani Tuhan, tidak ada kata 'pensiun', tetapi kita harus tahu kapan waktunya untuk step down dan memberikan kesempatan kepada generasi yang lebih muda untuk meneruskan. Dengan demikian, ada jaminan agar pelayanan dapat terus segar dan tidak tergerus oleh zaman. Generasi tua harus terus bekerja untuk memastikan regenerasi pelayanan berhasil mewujudkan visi Tuhan sampai pada masa yang akan datang." Kata-kata beliau sungguh menyentuh hati saya, memang benar melayani Tuhan adalah suatu panggilan dan sekaligusprivilege. Namun, pekerjaan Tuhan tidak mungkin berhenti pada zaman kita saja. Dibutuhkan keberanian untuk memikul tanggung jawab pelayanan, tetapi dibutuhkan keberanian yang lebih besar untuk mau dengan rendah hati melepaskannya dan mendidik generasi selanjutnya untuk meneruskan tanggung jawab tersebut.

Menurut saya pribadi, keseluruhan rangkaian acara Ultah ke-25 SABDA berkohesi dengan baik satu sama lain (to God be the glory!). Harapan saya, ke depannya tidak ada lagi gereja atau umat-Nya yang menganggap teknologi hanya sebagai musuh karena teknologi dapat menjadi alat yang sangat powerful untuk memuliakan Tuhan. Selain itu, saya juga berharap semakin banyak hamba Tuhan yang membuka diri untuk mementori generasi muda baik di gereja maupun di komunitasnya, dan saling belajar bagaimana hidup berdampingan dengan teknologi tanpa harus menjadi korban teknologi. Seperti yang telah diteguhkan juga oleh Ibu Lay Hua bahwa zaman terus berubah dan perjuangan kita sebagai orang percaya juga harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman tersebut. Kiranya Tuhan memberkati pelayanan kita semua.