Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Cara Menemukan Kedamaian Saat Anda Merasa Tersinggung

Kapan Anda merasa tersinggung?

Bertahun-tahun yang lalu, saya membantu mengatur retret wanita tahunan di gereja kami. Saya suka mengajar dalam acara dan konferensi wanita, dan dalam salah satu pertemuan perencanaan kami, wanita lain mengemukakan kemungkinan untuk meminta saya menjadi pembicara. Saya senang ketika semua orang tampak bersemangat tentang hal itu. Akan tetapi, beberapa minggu kemudian, tim memutuskan untuk meminta orang lain dari jemaat kami untuk mengajar, bukan saya.

Gambar: bersyukur

Respons awal saya adalah merasa sakit hati. Selama beberapa hari berikutnya, rasa sakit itu berkembang menjadi kemarahan dan ketersinggungan. Mereka pikir siapa mereka, memilih wanita lain ini daripada saya? Dia lebih muda -- dan kurang berpengalaman!

Namun, ketika saya berdoa tentang segala sesuatu yang berkecamuk dalam hati saya, Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa kesombongan ada di balik semua rasa sakit dan kemarahan saya. Saya sakit hati karena saya merasa ditolak -- emosi yang bisa dimengerti. Akan tetapi, saya marah dan tersinggung karena saya merasa berhak; Saya pikir saya hebat dan harus dihargai dengan undangan untuk mengajar.

Kesombongan Menghasilkan Ketersinggungan

Peluang untuk tersinggung -- dan kesombongan -- tetap ada dalam hubungan kita dengan orang lain. Di tempat kerja, kita mungkin tersinggung karena seorang manajer lebih memilih ide rekan kerja daripada ide kita, atau karena atasan kita pelit dengan pujian. Di rumah, rasa tersinggung mungkin muncul ketika pasangan kita tidak menunjukkan rasa terima kasih atas semua yang kita lakukan untuk menjaga fungsi keluarga. Kita bisa merasa tersinggung oleh seorang teman yang pandangan politiknya bertentangan dengan kita, atau oleh tetangga yang terus-menerus mengharapkan kita melakukan sesuatu untuknya tanpa pernah membalas budi.

Terkadang, tindakan orang lain itu berdosa -- dan kita memang benar telah dilukai. Akan tetapi, sama seringnya, kita menjadi tersinggung karena kita tidak percaya bahwa kita mendapatkan apa yang kita pikir seharusnya kita miliki, terutama jika itu adalah sesuatu yang diperoleh orang lain. Dan, itu menyinggung.

Sering kali, rasa tersinggung ditopang oleh kenyataan perasaan sombong yang buruk. Kita mungkin berpikir bahwa kita lebih baik daripada orang yang menyakiti kita -- entah karena kita lebih pintar, atau karena kita bekerja lebih keras, atau karena kita lebih dewasa secara rohani atau emosi.

Kerendahan Hati Melayani

Kedamaian datang ketika kita mengakui dan bertobat dari kesombongan kita sehingga kita dapat menghampiri Allah dan orang lain dengan kerendahan hati melalui pelayanan.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Dalam Markus 10:35-45, kita melihat kenyataan pelanggaran dan kesombongan diperlihatkan dengan jelas dalam hubungan di antara para murid. Yakobus dan Yohanes meminta kekuasaan dan posisi kepada Yesus berdasarkan persepsi mereka sendiri tentang kedudukan rohani: "Dan mereka berkata kepada [Yesus], 'Izinkan kami duduk, satu di sebelah kanan-Mu, dan yang satu lagi di sebelah kiri-Mu, bagi kemuliaan-Mu.'" (Markus 10:37, AYT). Sebagai orang-orang yang dekat dengan Yesus, kedua bersaudara itu merasa layak mendapatkan tempat terhormat di samping Tuhan. Akan tetapi, keadaan menjadi lebih buruk: "Ketika sepuluh murid mendengar hal itu, mereka menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes" (Markus 10:41, AYT).

Tanggapan Yesus terhadap murid-murid yang tersinggung dan berselisih ini adalah pengingat yang sama yang perlu kita dengar hari ini: "Sebaliknya, siapa yang ingin menjadi besar di antara kamu, harus menjadi pelayanmu, dan siapa yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, harus menjadi pelayan dari semuanya. Sebab, bahkan Anak Manusia pun datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang" (Markus 10:43-45, AYT).

Kristus menunjukkan perlunya umat-Nya untuk saling melayani dalam kerendahan hati sambil menunjuk pada kematian-Nya di kayu salib sebagai satu-satunya cara yang pada akhirnya mampu mengatasi ketersinggungan terbesar yang ada.

Injil Mengatasi Pelanggaran

Yang benar adalah, sebagai orang berdosa, tidak peduli seberapa pintar atau dewasanya kita, apa yang sebenarnya layak kita terima dalam hidup ini adalah murka dan penghukuman -- karena dosa pelanggaran kita terhadap Allah yang Kudus. Sebaliknya, melalui Kristus, kita menerima kasih karunia yang tak terukur dari Bapa surgawi kita:

"Akan tetapi, Allah, yang kaya dengan belas kasih dan karena kasih-Nya yang besar itu Ia mengasihi kita, bahkan ketika kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran kita, Ia menghidupkan kita bersama dengan Kristus -- oleh anugerah kamu telah diselamatkan -- , dan Ia membangkitkan kita dengan Dia dan mendudukkan kita bersama dengan Dia di tempat surgawi dalam Yesus Kristus" (Efesus 2:4-6, AYT)

Kabar baik ini ajaib dan luar biasa -- Allah telah menghapus dosa serta pelanggaran kita terhadap-Nya.

Namun, tetap saja, Injil tidak selalu memengaruhi cara kita melihat dan berinteraksi dengan orang-orang yang menyakiti kita. Setiap kali kita mendapati diri kita berpikir, "Beraninya dia!" atau, "Dia pikir dia siapa?" itu adalah sinyal bagi kita untuk melihat ke cermin dan merenungkan kembali siapa kita sebenarnya. Kita harus memandang diri kita sendiri dengan kerendahan hati, tidak menganggap diri kita lebih tinggi daripada diri kita yang sebenarnya (Roma 12:3).

Menemukan Kedamaian

Ketika kita memandang diri kita dengan benar -- sebagai orang berdosa yang putus asa yang membutuhkan Juru Selamat -- rasa sakit hati yang kita rasakan dari orang lain dapat mulai mencair. Yesus membawa kedamaian di antara mereka yang tersinggung, karena Dia meminta kita untuk memandang Dia sebagai standar kita, bukan satu sama lain.

Kedamaian datang ketika kita mengakui dan bertobat dari kesombongan kita sehingga kita dapat menghampiri Allah dan orang lain dengan kerendahan hati melalui pelayanan. Itulah posisi kebesaran sejati yang dicari oleh Yakobus dan Yohanes -- cara untuk memiliki jiwa yang damai dengan Allah dan sesama. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : The Gospel Coalition
Alamat situs : https://thegospelcoalition.org/article/peace-offended
Judul asli artikel : How to Find Peace When You Feel Offended
Penulis artikel : Ann Swindell

Komentar