Skip to main content

Mendidik Anak

Artikel ini membahas pentingnya mendidik anak di tengah tantangan sosial modern yang ditandai dengan pemberontakan dan masalah perilaku. Penulis menelusuri akar masalah pola asuh yang gagal, yang seringkali disebabkan oleh ketidakonsistenan aturan, pengabaian emosional, pembandingan, dan kurangnya waktu berkualitas dari orang tua. Untuk mengatasi hal ini, pendidikan anak harus dilakukan secara holistik dengan melibatkan tiga unsur: aturan, hukuman, dan hadiah. Selain itu, orang tua juga dituntut untuk melakukan upaya pencegahan, pemulihan hubungan yang rusak, serta menjadi teladan spiritual

  • Mendidik anak
  • Pola asuh
  • Disiplin
  • Aturan dan Batasan
  • Penggembalaan Teladan
  • Keluarga dan Spiritual
  • Mengidentifikasi tantangan sosial dan psikologis yang dihadapi anak-anak masa kini, termasuk isu pemberontakan dan gangguan perilaku.
  • Menyadari bahwa penyebab utama kegagalan pola asuh seringkali berasal dari ketidakonsistenan orang tua, kurangnya waktu emosional, dan cara didik yang tidak bijaksana (seperti membandingkan atau mengabaikan perasaan anak).
  • Menetapkan kerangka pendidikan yang efektif melibatkan tiga pilar utama: penetapan aturan yang jelas, pemberian hukuman yang mendidik rasa tanggung jawab, dan pemberian hadiah/apresiasi untuk memulihkan hati yang luka.
  • Menekankan pentingnya aspek hubungan (relasional) yang meliputi pencegahan (aturan dan disiplin), pemulihan hubungan yang rusak, dan menjadi teladan rohani (penggembalaan) secara berkelanjutan bagi anak.

Wawasan Wanita
Mendidik Anak

A. Keadaan Anak-Anak Zaman Ini

  • 1. Kenyataan di masyarakat:
    1. Pemberontakan, anarkisme, kerusuhan.
    2. Komunikasi yang terputus dengan orang tua.
    3. Perkelahian antarpelajar, demonstrasi.
    4. Obat-obatan dan seks/video porno.
  • 3. Penyebab Kerusakan Anak:
    1. Maleakhi 4:5-6: Hati orang tua tidak pada anaknya lagi.
    2. Hakim-Hakim 11:1-3: Penolakan dari saudara dan orang tua ... terlibat perampokan dan lingkungan (Yefta).
    3. 2 Samuel 13-17: Absalom menjadi pemberontak karena kekecewaan, ketidakadilan, dan sikap tidak tegas ayahnya.
    4. Kejadian 37:2-4: Pilih kasih orang tua:
      • Yusuf menjadi sombong dan suka menjelekkan saudaranya untuk mencari pujian orang tua.
      • Saudaranya menjadi jahat dan benci kepada Yusuf.
    5. 1 Samuel 7:15-17: Kesibukan orang tua, tidak ada waktu.
    6. 1 Samuel 8:1-3: Anak, mereka hidup menurut jalannya sendiri-sendiri.
    7. 1 Samuel 2:12, 29: Memanjakan, tidak menghajar, tidak mendidik, dan tidak memberikan teladan (Eli sendiri menggemukkan diri).
    8. Ayub 39:16-20: Mendidik terlalu keras dan tidak dengan hikmat Allah.

Gambar: Quote Donna McKee

B. Tambahan sumber kepahitan dan penolakan

  1. Tidak Adil: dalam manager, dalam menghukum, dalam membelikan mainan, baju, sepatu, dalam memberi tugas-tugas rumah. Tidak konsisten dalam aturan dan hukuman di rumah.
  2. Tidak ada waktu untuk memuji anak, untuk memperhatikan hasil karyanya, bakatnya, penampilan anak, mendengarkan anak, bermain/bersama dengan anak, untuk mengatakan "aku sayang kamu", untuk mengucapkan "terima kasih", untuk menjamah, memeluk anak (tetapi orang tua selalu ada waktu untuk pekerjaan, "pelayanan", hobi, surat kabar dan majalah, tv, dll.).
  3. Tidak menghargai anak sebagai pribadi.
    1. Ingkar janji.
    2. Lebih menjaga nama/martabat daripada mengasihi pribadi anak.
    3. Berkata "tidak" kepada anak tanpa memberi alasan, selalu berkata "pokoknya".
    4. Memuji/membanding-bandingkan dengan anak lain dengan berlebihan.
    5. Menganggap dan memperlakukan anak sebagai "anak kecil" terus.
    6. Menganggap lucu fisik dan penampilan anak.
"Mendidik di dalam Tuhan. Mendidik melibatkan 3 unsur, yaitu: aturan, hukuman, hadiah."

Facebook Twitter Telegram WhatsApp

C. Etika

  1. Menegur di depan orang lain/mempermalukan, membentak, menghukum ketika anak sudah terhukum dengan rasa salahnya.
  2. Tidak menghargai usul, pendapat anak.
  3. Mengungkit kesalahan yang dahulu untuk memojokkan kesalahan saat ini.
  4. Menjelekkan istri/suami kepada anak.

D. Cara Penanganan

  • 1. Pencegahan
  • Mendidik dalam Tuhan. Mendidik melibatkan tiga unsur, yaitu: aturan, hukuman, hadiah.
    1. Aturan: mendidik anak supaya tahu aturan, sopan santun, apa yang baik dan yang tidak baik, norma (Amsal 1:8; Ulangan 11:18-21; Ulangan 4:9; Efesus 6:4).
    2. Hukuman: menanamkan dengan lebih kuat suatu aturan dan mendidik anak untuk punya rasa tanggung jawab, jiwa satria (Amsal 13:24; 15:10; 19:8).
    3. Hadiah: membalut hati yang luka, dengan kasih menanamkan aturan dengan kesan untuk kebaikan, memotivasi untuk mendapatkan apresiasi diri/pengakuan/penerimaan (Kolose 3:21).
  • 2. Penyelamatan
    1. Pemulihan hubungan.
    2. Penggembalaan Teladan
      • 1) Yohanes 10:1-5, 11-15: suara kita didengar, ada wibawa, "mengenal" domba-domba sesuai namanya, menuntun, berjalan di depan/teladan, dan rela berkorban bagi domba-dombanya.
      • 2) Ulangan 11:18-21: orang tua harus memberi makan rohani terus-menerus (orang tua harus menjadi imam bagi anaknya).

E. Penutup

Tuhan Yesus bertanya kepada Petrus (dan kita), "Apa engkau mengasihi Aku?" dan jika kita menjawab, "Ya, Tuhan ...," Tuhan berkata "Gembalakanlah domba-dombaKu" (termasuk anak-anak kita). Tuhan berkata lagi dalam nats yang lain, "Kasihilah sesamamu (dan anak-anak kita) seperti Aku mengasihi kamu," dan juga perintah-Nya, "Kasihilah sesamamu manusia (juga anak anak kita) seperti kamu mengasihi dirimu sendiri."

(Dikutip dari: Diktat Manajemen, IKI)

Diambil dari:
Judul buletin : Gema Kalvari, Edisi 67, Mei -- Juni 2006
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Lembaga Pelayanan Terpadu "GEMA KALVARI", Salatiga
Halaman : 33 -- 36
Kategori Tips
Tipe Bahan