Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Panggilan Mulia Kaum Wanita

Dalam huruf besar dan tebal pada sampul majalah TIME tanggal 20 Januari 1992 diajukan pertanyaan: "Mengapa Pria dan Wanita Berbeda?" Dalam huruf-huruf yang jauh lebih kecil, hampir seolah-olah ditutupi, pendapat di keterangan sampul menyatakan: "Ini bukan hanya pengasuhan. Studi baru menunjukkan mereka terlahir seperti itu."

Tidak diragukan lagi, sedikit informasi tersebut adalah berita bagi banyak orang yang telah menyerap doktrin feminis selama tiga puluh tahun sebelumnya. Tetapi bagi siapa pun yang akrab dengan ajaran Alkitab, penemuan-penemuan seperti itu tampaknya hampir tidak relevan. Allah merancang pria dan wanita untuk menjadi berbeda dan untuk memenuhi peran yang berbeda di rumah dan gereja.

Gambar: panggilan mulia

Sayangnya, perbedaan antara pria dan wanita telah digunakan untuk membenarkan perlakuan buruk terhadap "jenis kelamin yang cantik" sepanjang sejarah. Bahkan, dalam budaya yang dianggap maju dan beradab, wanita sering mengalami penindasan yang parah dan terkadang pelecehan.

Salah satu doa pagi yang dicatat dalam Talmud untuk membimbing pria (tentu saja) Yahudi pada awal hari menyatakan, "Terberkatilah Engkau, Tuhan, Allah kami, penguasa alam semesta yang tidak menciptakan saya sebagai seorang wanita." Berkat itu mirip -- meski tidak sama -- dengan sikap angkuh yang tercermin dalam sebuah surat yang ditulis oleh seorang pria Romawi yang sedang bepergian kepada istrinya yang sedang hamil di rumah pada 1 SM. Setelah menasihatinya untuk merawat janin yang semakin besar dalam kandungan istrinya, dia menulis, "Jika kamu melahirkan sebelum saya kembali, kalau itu laki-laki, biarkan dia hidup; kalau perempuan, tinggalkan dia," yang mengacu pada praktik meninggalkan anak di tempat umum baik untuk dipungut oleh orang lain atau mati.

Terhadap praktik misoginis (memiliki kebencian atau rasa tidak suka terhadap wanita secara ekstrem - Red.) semacam ini, Kekristenan muncul dengan etika yang sama sekali berbeda mengenai nilai dan status wanita. Banyak dari pengikut mula-mula Yesus adalah wanita, dan wanita ada di antara orang-orang yang berkumpul berdoa saat mereka menantikan Roh Kudus dicurahkan pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 1:14).

Rasul Paulus dengan simpatik memuji wanita-wanita tertentu (Rom. 16:1-16; Kol. 4:15; 2 Tim. 1:5) dan menggambarkan wanita di Filipi sebagai rekan kerja dalam pekerjaan Injil (Flp. 4:3). Dia juga membuat pernyataan tegas tentang kesetaraan spiritual pria dan wanita di Perjanjian Baru ketika dia menulis, "Tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, karena kamu semua satu dalam Yesus Kristus" (Gal. 3:28, AYT).

Penghormatan terhadap nilai dan martabat yang melekat pada kewanitaan ini adalah konteks ajaran Perjanjian Baru tentang peran-peran berbeda yang diberikan kepada pria dan wanita di dalam gereja. Kegagalan untuk mengenali ini dapat menyebabkan orang-orang yang jarang membaca Alkitab salah mengartikan beberapa pengajaran Paulus kepada Timotius sebagai chauvinistik. (kepercayaan irasional pada superioritas atau dominasi kelompok yang dianggap lebih kuat dan berbudi luhur, sementara yang lain dianggap lemah, tidak layak, atau inferior - Red.)

Sang rasul mengajarkan kepada rekannya yang masih muda apa yang harus dan tidak boleh dilakukan wanita dalam pertemuan ibadah di gereja. "Seorang perempuan haruslah belajar dalam ketenangan dan dalam segala ketaatan. Akan tetapi, aku tidak mengizinkan perempuan mengajar atau memerintah laki-laki. Namun, perempuan harus tetap tenang" (1 Tim. 2:11-12, AYT).

Penghormatan terhadap nilai dan martabat yang melekat pada kewanitaan ini adalah konteks ajaran Perjanjian Baru tentang peran-peran berbeda yang diberikan kepada pria dan wanita di dalam gereja.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Karena begitu kuatnya larangan dalam ayat 12, banyak yang sering melewatkan peringatan penting yang terdapat dalam ayat 11. Wanita Kristen harus menjadi pembelajar, sesuatu yang umumnya tidak disarankan oleh orang Yahudi. Di gereja, wanita didorong untuk bertumbuh dalam pengetahuan dan pemahaman. Sikap pendiam dan penurut yang menjadi ciri pembelajaran mereka bukanlah hal yang remeh untuk kepribadian perempuan. Di tempat lain Paulus mendorong semua orang percaya untuk mengembangkan kualitas yang pertama (2 Tes. 3:12) serta menganjurkan yang terakhir (2 Kor. 9:13).

Orang Kristen harus selalu menunjukkan ketaatan kepada otoritas yang tepat (Roma 13:1; Titus 3:1) termasuk mereka yang melayani sebagai penatua di gereja (Ibr. 13:17). Seperti yang Paulus jelaskan kemudian dalam suratnya yang pertama kepada Timotius, jabatan itu harus diisi hanya oleh seorang "suami dari satu istri" (3:2). Seperti yang dikatakan oleh Council on Biblical Manhood and Womanhood, meskipun "pria dan wanita adalah setara menurut gambar Allah", mereka tetap "mengakui perbedaan yang saling melengkapi dalam peran dan fungsi" di rumah dan di gereja.

Pembatasan yang melarang wanita mengajar pria atau memegang jabatan lebih tinggi dari pria di gereja bukanlah penyangkalan nilai rohani, itu adalah parameter pelayanan yang ditetapkan secara ilahi. Bolehkah wanita mengajar di gereja? Sangat. Bahkan, ada yang diperintahkan untuk melakukannya. "Perempuan-perempuan yang lebih tua ... harus mengajarkan apa yang baik. Dengan demikian, mereka dapat menasihati perempuan-perempuan muda untuk mencintai suaminya, mengasihi anak-anaknya" (Titus 2:3-4, AYT).

Meskipun pembatasan Paulus pada peran perempuan tidak sejalan dengan semangat egaliter zaman kita, dasar argumennya memperjelas bahwa ajarannya tidak dikondisikan secara budaya. "Karena Adam diciptakan pertama, baru kemudian Hawa; dan bukan Adam yang ditipu, melainkan perempuan yang ditipu dan jatuh dalam pelanggaran" (1 Tim. 2:13-14, AYT).

Urutan penciptaan dan urutan kejatuhan memberikan alasan bahwa wanita tidak boleh memegang jabatan lebih tinggi dari pria di dalam gereja. Sejak awal Allah menghendaki agar manusia memimpin di rumah dan di gereja. Ini bukan hal yang remeh bagi wanita. Adalah hikmat Allah yang menetapkan apa yang terbaik bagi umat-Nya dan dunia-Nya. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat situs : https://www.ligonier.org/learn/articles/high-calling-women/
Judul asli artikel : The High Calling of Women
Penulis artikel : Tom Ascol

Tipe Bahan: 
kategori: 

Komentar