Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Surat dari Bunda

Sayang,

Beberapa minggu terakhir ini, Bunda sering berpikir tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Raja Salomo. Ia memiliki keluarga yang besar (1 Raja-Raja 11:1-3), tinggal di istana yang besar (1 Raja-Raja 7:1-12, 10:14-21), beribadah di bait yang besar (1 Raja-Raja 6:1-38, 7:13-51, 8:1-66, 9:25; 2 Tawarikh 3:2-7), memerintah kerajaan yang besar dengan populasi rakyat dan pasukan tentara yang besar (1 Raja-Raja 4:20-21)

, menciptakan sistem administrasi yang besar (1 Raja-Raja 4:1-19), terlibat dalam perdagangan internasional berskala besar (1 Raja-Raja 3:1, 9:26-28, 10:1-29, 11:28-29), menghasilkan jumlah uang yang besar (1 Raja-Raja 10:14-15,22), mencapai prestasi yang besar dalam bidang pertanian dan konstruksi bangunan (Pengkhotbah 2:4-7), riset dan pendidikan (Pengkhotbah 1:13), serta bidang hiburan dan seni (Pengkhotbah 2:1-3,8,10). Salomo membentuk golongan tersendiri dalam susunan masyarakat -- kaya, terkenal, dan bijak -- tidak ada orang yang menyamainya pada masa hidupnya (1 Raja-Raja 3:13; Pengkhotbah 2:9). Ia dikagumi, dihormati, dan orang dari berbagai tempat datang mengunjunginya dengan membawa berbagai hadiah yang mahal untuk mendengarkan perkataannya (2 Tawarikh 9:22-24).

Namun, Raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Ia memiliki 700 istri dari kaum bangsawan dan 300 gundik (1 Raja-Raja 11:1-8) -- sungguh suatu kesalahan yang besar. Tetapi bagi seorang yang pada masa mudanya begitu dikasihi Allah dan selalu berusaha mendahulukan Allah di atas segalanya, ternyata hal ini bukanlah suatu masalah yang besar (1 Raja-Raja 3:7-9). Masalahnya ketika Salomo menjadi tua, para istrinya membuat hatinya berpaling kepada ilah-ilah lain dan ia menjadi tidak setia kepada satu-satunya Allah yang benar (1 Raja-Raja 11:4). Ia tidak merasa bersalah dengan membangun mezbah-mezbah untuk ilah-ilah palsu dan menyembahnya (1 Raja-Raja 11:5-8). Tak heran bila Tuhan menjadi sangat marah kepada Salomo, padahal semua itu seharusnya tidak terjadi. Alkitab mencatat, Salomo mendapatkan tempat di hati Tuhan sejak saat ia dilahirkan (2 Samuel 12:24-25).

Ketika ayahnya meninggal, Salomo menjadi raja. Salah satu prioritasnya adalah beribadah kepada Allah dengan seluruh bangsa Israel di Gibeon, tempat Kemah Pertemuan Allah didirikan. Di sana, Salomo mempersembahkan seribu korban bakaran (2 Tawarikh 1:6). Malam itu Tuhan menampakkan diri kepadanya dalam mimpi dan bertanya apakah yang diinginkannya. Salomo tidak meminta sesuatu bagi dirinya sendiri. Sebaliknya, setelah mengetahui bahwa Tuhan yang telah menempatkan ayahnya dan kini dirinya di atas takhta kerajaan, ia berdoa, "Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang paham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (1 Raja-Raja 3:5-9) Tuhan mengabulkan permohonan Salomo dan memberkatinya dengan "kekayaan dan kemuliaan" (1 Raja-Raja 3:12-13). Allah juga memberitahu Salomo, apabila ia berjalan dalam jalan-Nya dan menaati segala ketetapan dan perintah-Nya seperti yang dilakukan ayahnya, maka Allah akan memberinya umur panjang (1 Raja-Raja 3:14).

Ketika Salomo mempersembahkan "rumah Tuhan", yang dibangunnya menurut rencana ayahnya, Tuhan menampakkan diri kepadanya untuk kedua kalinya. Tuhan menerima doa Salomo dan menguduskan bait itu. Ia memberitahu Salomo, bila ia menjalani hidup yang saleh, Tuhan akan "meneguhkan takhta kerajaannya atas Israel untuk selama-lamanya" (1 Raja-Raja 9:1-8). Allah juga berkata, "Tetapi jika kamu ini dan anak-anakmu berbalik dari pada-Ku dan tidak berpegang pada segala perintah dan ketetapan-Ku yang telah Kuberikan kepadamu, dan pergi beribadah kepada allah lain dan sujud menyembah kepadanya, maka Aku akan melenyapkan orang Israel dari atas tanah yang telah Kuberikan kepada mereka" (2 Tawarikh 7:17-22; 1 Raja-Raja 9:6-9).

Sebagai orang tua, sikap Salomo yang tidak setia kepada Allah adalah sebuah mimpi buruk (1 Raja-Raja 11:9-11). Engkau dapat mengambil pelajaran melalui peristiwa yang terjadi setelah kematiannya. Ketika anaknya menggantikannya di atas takhta, rakyat menghadap sambil mengajukan permohonan, "Ayahmu telah memberatkan tanggungan kami, maka sekarang ringankanlah pekerjaan sukar yang dibebankan ayahmu dan tanggungan yang berat yang dipikulkannya kepada kami, supaya kami menjadi hambamu" (1 Raja-Raja 12:4).

Ada yang mengatakan, terlalu banyak mendapat hal yang baik dapat mendatangkan hal yang buruk. Apakah mungkin memang demikian setelah sekian waktu lamanya, Salomo membiarkan hikmat, kekayaan, dan kemuliaannya naik melebihi kepalanya? (Pengkhotbah 4:13) Apakah menurutnya ia mendapat pengecualian dalam ketetapan Allah? Misalnya, sekalipun Allah secara khusus melarang raja Israel untuk "memelihara banyak kuda dan janganlah ia mengembalikan bangsa ini ke Mesir untuk mendapat banyak kuda" (Ulangan 17:16), Salomo justru membanggakan kandang-kandang kudanya yang megah. Ia juga mengimpor kuda-kuda dari Mesir dan Kewe, dan mengekspornya kepada "semua raja orang Het dan kepada raja-raja Aram" (1 Raja-Raja 10:26-29).

Tuhan memberikan ketetapan dan peraturan lainnya, jauh sebelum bangsa Israel meminta seorang raja sama seperti bangsa-bangsa lain di dunia. Allah mengetahui apa yang akan terjadi dan Ia memberi umat-Nya pedoman yang teguh tentang hal memilih raja, dan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh raja (Ulangan 17:14-20). Tuhan menegaskan bahwa seorang raja Israel tidak boleh meniru kebiasaan yang berlaku pada masa-masa itu yaitu memiliki banyak istri (Ulangan 17:17). Pada masa itu seorang istri adalah sarana untuk memeteraikan perjanjian di antara raja-raja dan kerajaan. Salomo menikahi putri Firaun, raja Mesir dan membuat perjanjian dengannya (1 Raja-Raja 3:1). Ia juga membuat perjanjian dengan raja-raja lain. Salomo memiliki kekuasaan dan kesempatan untuk menaati Allah dan mengubah kebiasaan raja-raja lainnya. Namun, ia memilih untuk berkuasa dengan cara dunia dan ia semakin tenggelam di dalamnya.

Kekhawatiran akan kejatuhan anak ke dalam kekaburan rohani mencekam hati setiap orang tua yang peduli. Daud mengetahui hanya ada satu hal yang dapat mengubah tragedi tersebut. Ia memberi Salomo nasihat, "Kenallah Allah ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya." (1 Tawarikh 28:9)

Bunda berharap Salomo mau mendengarkan ayahnya dan Allahnya. Mungkin Salomo pun berharap ia dapat mendengarkan mereka. Dalam usia senja, Salomo menulis Kitab Pengkhotbah yang menimbulkan rasa sedih yang mendalam bagi pembacanya. Bagaimanapun, Salomo adalah orang yang paling bijak dalam dunia ini. Bunda ingin mengakhiri surat ini dengan doa, agar Tuhan memberikan engkau hati yang setia dan hati yang mau melayani-Nya dan mengenal-Nya seumur hidupmu (Pengkhotbah 12:13-14).

Sayang, Bunda.

Diambil dari:

Judul majalah : Warta Sejati, Edisi 40/Maret -- April 2004
Penulis : Tidak Dicantumkan
Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Indonesia
Halaman : 24 -- 27
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 

Komentar