Skip to main content

Berpindah Iman, Hukuman Cambuk Adalah Konsekuensinya

Seorang wanita Somalia bernama Sofia Osman dihukum cambuk sebanyak 40 kali di depan ratusan penonton setelah berpindah agama menjadi Kristen. Hukuman ini dilakukan oleh kelompok ekstremis pada bulan Desember dan dia mengalami luka parah, bahkan sempat pingsan sebelum akhirnya dibawa pulang untuk perawatan. Kasus ini mencerminkan tantangan besar yang dihadapi oleh para pengikut agama minoritas di wilayah yang dikuasai oleh kelompok militan.

  • Hukuman cambuk
  • Warga Somalia
  • Berpindah agama
  • Sofia Osman
  • Kelompok ekstremis
  • Kota Janale
  • Agama "asing"
  • Seorang wanita Somalia, Sofia Osman, dihukum cambuk di depan umum karena berpindah agama menjadi Kristen.
  • Dia mendapat 40 cambukan di hadapan ratusan penonton sebagai bentuk sanksi dari kelompok ekstremis.
  • Hukuman ini terjadi setelah Osman ditangkap dan ditahan selama satu bulan.
  • Setelah hukuman, Osman mengalami luka parah dan harus mendapatkan perawatan akibat kondisinya yang kritis.
  • Osman, yang menjadi Kristen empat tahun lalu, merupakan anggota gereja bawah tanah di daerah yang dikuasai militan.
  • Kelompok militan berusaha menyerang gereja di Kenya sebagai respons atas tindakan militer Kenya terhadap mereka.
  • Masyarakat Kenya umumnya mendukung tindakan pemerintah untuk melawan ekstremisme.

Seorang Wanita Dihukum Cambuk di Depan Ratusan Orang karena Menjadi Kristen

Seorang warga Somalia yang berpindah agama menjadi Kristen diarak bersamaan dengan hiruk pikuk massa yang meneriakkan hukuman cambuk di depan masyarakat umum pada bulan lalu atas sanksi karena ia telah memeluk agama "asing".

Women to women

Sofia Osman (28), seorang Kristen dari daerah Janale, telah diserahkan ke penjara oleh kelompok ekstremis pada bulan November; Hukuman cambuk ini ditujukan sebagai tanda bahwa ia akan dibebaskan. Sementara ia dicemooh oleh penonton, dia telah menerima 40 cambukan pada 22 Desember.

”Osman dicambuk 4O kali pada pukul 3 sore, tetapi dia tidak menceritakan penghinaan dan tindakan buruk lainnya yang ia terima saat berada di tangan para militan," ungkap seorang saksi mata, mengatakan kepada Compass bahwa Osman ditinggalkan dalam keadaan berdarah usai menjalankan hukuman cambuk. "Saya melihat dia pingsan. Saya pikir dia telah meninggal, tetapi ia segera sadar kembali dan keluarganya membawanya pergi."

Hukuman cambuk ini dilakukan di hadapan ratusan penonton sesaat setelah Osman dibebaskan dari tahanan selama 1 bulan. Ia kemudian mendapatkan perawatan untuk luka-lukanya di rumah keluarganya. Pada hari-hari setelah hukuman dilangsungkan, dia tidak berbicara dengan siapa pun dan tampak linglung, menurut sebuah sumber yang dekat dengan keluarga itu. Sejak saat itu, Osman direlokasi.

"Tolong tetaplah berdoa untuk masa penyembuhannya," ungkap seorang sumber.

Janale adalah salah satu kota besar di Somalia, berjarak sekitar 2OO kilometer (124 mil} dari Mogadishu.

Osman menjadi seorang Kristen 4 tahun lalu, dan merupakan anggota gereja bawah tanah di wilayah Pantai Gading yang dilanda perang Afrika, dan sebagian besar wilayahnya dikuasai oleh kelompok militan.

Para militan sedang diburu oleh Angkatan Pertahanan Kenya di Somalia selatan setelah penyerangan yang dilakukan kaum ekstremis ke Kenya. Mereka telah membunuh dan menculik wisatawan serta para pekerja sosial di Kenya. Hal inilah yang memicu pasukan militer untuk secara resmi masuk ke dalam perang untuk mengamankan wilayah perbatasannya.

Sebagai tanggapan, kelompok militan telah menargetkan gereja-gereja di kota Kenya utara, seperti Garissa dengan tujuan untuk membagi Kenya menurut garis agama. Meski begitu, sebagian besar masyarakat Kenya mendukung keputusan pemerintah untuk mengejar militan ke dalam Somalia.

Diambil dari:
Judul buletin : Open Doors Frontline Faith
Edisi : September-Oktober 2016
Judul asli artikel : Berpindah Iman, Hukuman Cambuk Adalah Konsekuensinya
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Halaman : 8 -- 9
Tipe Bahan
kategori