Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Diskusi Artikel "Mengapa Kita Mendidik Anak-Anak Perempuan Kita"

pendidikan bagi perempuan

Bulan Juli lalu, diadakan diskusi di Facebook Grup Wanita Kristen bertema "Mengapa Kita Mendidik Anak-Anak Perempuan Kita". Berkenaan dengan hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli, diskusi ini diselenggarakan dengan tujuan agar para wanita, khususnya ibu-ibu Kristen, semakin memahami peranan pendidikan bagi anak-anak perempuan. Berlangsung dalam waktu hampir 2 minggu, diskusi dipimpin oleh saya sebagai moderator, serta diikuti secara aktif oleh beberapa anggota komunitas Wanita Kristen.

Ada lima pertanyaan yang saya ajukan sebagai moderator kepada para peserta sebagai bahan dalam diskusi kali ini. Masing-masing adalah:

  1. Mengapa beberapa budaya dan agama di dunia menentang pendidikan bagi anak-anak perempuan?
  2. Bagaimana pendidikan bagi anak-anak, khususnya anak-anak perempuan, berperan dalam pengenalan mereka akan Allah?
  3. Dalam artikel paragraf terakhir disebutkan, "Allah tidak memanggil anak-anaknya, para pria atau wanita, ke dalam ketidakmatangan" Apa arti dari ketidakmatangan dalam konteks ini?
  4. Menurut Anda, apa tanggung jawab orang tua dan gereja dalam pendidikan anak?

Setiap pertanyaan dijawab dengan pemikiran serta pengalaman dari peserta diskusi, yang diharapkan akan menambah wawasan dan pemikiran bagi yang lain. Tentu saja, tujuan akhir dari diskusi bukanlah menarik satu kebenaran yang harus disepakati oleh yang lain, melainkan untuk berbagi pikiran dan pendapat atas satu isu yang dikemukakan. Dengan begitu, setiap peserta diskusi dapat menerima wawasan dan pemikiran dari pendapat yang lain, dan sebaliknya, saat mereka mengungkapkan pendapat atau pengalamannya. Dan, saya pikir, dalam diskusi komunitas Wanita Kristen semangat ini sudah dapat ditangkap oleh setiap peserta sehingga diskusi dapat berlangsung dengan cukup hidup dan dinamis.

Yang menarik, ada satu peserta yang berprofesi sebagai Guru PAUD dari kota Binjai, yang tentu sudah bergumul dan sudah menjadikan isu ini sebagai "makanan" sehari-hari. Selain itu, hampir semua peserta sudah memahami pentingnya peran pendidikan bagi anak perempuan, terutama untuk mendukung pertumbuhan rohani dan iman mereka kepada Tuhan. Sayang sekali, hanya ada beberapa gelintir anggota komunitas yang aktif mengikuti diskusi ini. Jika saja ada lebih banyak anggota komunitas yang berpartisipasi, tentu diskusi akan berlangsung dengan lebih hidup dan semakin memperkaya wawasan dari setiap peserta, termasuk saya sebagai moderator.

Berikut saya lampirkan beberapa kesan dan pesan dari anggota diskusi Wanita Kristen pada akhir diskusi:

Riani Brahmana: Saya juga sangat berterimakasih atas diikutsertakannya saya dalam diskusi ini sehingga bertambahlah wawasan saya akan pentingnya pengetahuan buat anak-anak perempuan dan lelaki akan pengajaran tentang Tuhan.

Melli Lo: Saya sangat bahagia menjadi bagian dalam grup ini, khususnya saat mengikuti diskusi pendidikan anak. Saya berharap e-Wanita mengadakan diskusi-diskusi lagi dengan topik berbeda, khususnya bagaimana kita harus hidup layak di hadapan Tuhan dan manusia sebagai WANITA ALLAH, agar grup ini benar-benar dapat memunculkan wanita-wanita teguh dan kukuh dalam iman. Juga menjadi ibu-ibu yang kuat dalam mempersiapkan generasi yang takut akan Tuhan, menjadi penolong bagi suami, dan pribadi yang melayani dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, bukan sekadar pelayan gereja. Saya berharap grup ini benar-benar menjadi wadah yang bermanfaat bagi kita semua, tidak sekadar buang-buang waktu percuma. Salam Kasih.

Magrita Indah: Kesan saya mengikuti diskusi ini: Seperti kalimat yang terdapat dalam artikel, "Dia memanggil mereka semua untuk mendapatkan pendidikan secara penuh", wanita juga berhak mendapatkan pendidikan yang penuh untuk mencapai kematangan sebagai pendidik generasi selanjutnya. Terima kasih.

Neti Estin Ria: "Nasib anak-anak ada di tangan Sang Ibu." - NN. Saya sendiri memperhatikan keluarga saya. Ibu yang memiliki iman yang kuat dan rajin/bertanggung jawab, punya anak-anak yang berhasil dibandingkan ibu yang malas dan malas juga ke gereja. Ibu yang mendidik anak-anaknya, meskipun mungkin dengan cara yang terlihat keras, anaknya juga berbeda. Saya sendiri melihat ibu angkat saya mendidik saya. Memang agak keterlaluan, tapi sekarang saya bisa melihat bahwa didikan ibu membuat saya jadi pejuang. Kadang orang tua tidak tega menyuruh anak, "melepas" anak berusaha sendiri, tapi justru itu yang mereka perlu. Ibu yang percaya Tuhan dan menaruh ke dalam tangan Tuhan segala yang terjadi dalam hidup anaknya, akan dituntun oleh Tuhan dalam mendidik anak-anaknya. Dan, kadang Tuhan sendiri yang menolong anak-anak kita. Ini pengalaman saya.

Nah, sampai jumpa lagi dalam diskusi komunitas e-Wanita maupun Wanita Kristen pada lain kesempatan. Kiranya para wanita Kristen akan semakin diperlengkapi dan berdampak melalui diskusi komunitas ini. Tuhan Yesus memberkati.

Komentar