Menjanda dan Kesepian

"Saya lelah merasa kehilangan dan sendirian, tetapi pikiran ini membuat saya merasa tidak setia pada mendiang suami saya. Apa yang harus saya lakukan?"

"Saya menjanda beberapa tahun yang lalu dan benar-benar hancur oleh kehilangan saya. Saya sangat lelah karena merasa kehilangan dan kesepian. Meskipun saya tidak punya keinginan untuk menikah lagi, saya ingin setidaknya memiliki persahabatan dengan lawan jenis. Tetapi, pikiran itu membuat saya merasa sangat bersalah dan tidak setia pada mendiang suami saya, yang kini bersama dengan Tuhan. Apa yang harus saya lakukan?"

Anda merasa kehilangan dan kesepian - kesepian karena Anda telah dipisahkan dari bagian yang hidup dari diri Anda sendiri, serta kehilangan karena Anda tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Anda tidak dapat membayangkan bagaimana sisa hidup Anda harus dilalui karena sekarang kehidupan Anda bersama dengan suami telah lenyap. Lalu, apa selanjutnya?

Ini adalah salah satu saat-saat dari arti kehidupan yang besar "Siapakah aku?", yang tidak kita harapkan untuk muncul kembali setelah kita menikah dan menetap. Setelah kita memulai hubungan yang sukses, kita mendapati bahwa hal tersebut memerlukan keberadaannya sendiri. Ketika persatuan ini menjadi rusak, pasangan yang masih hidup akan terhuyung-huyung kebingungan, merasa seperti orang yang diamputasi.

Tergantung kepada masyarakat sekitar untuk memberikan kepada orang yang berduka sebuah peran yang menolong, terhormat, dan memuaskan. Anda tidak mendapatkan ini. Bahkan, hanya beberapa orang yang lajang dalam budaya kita yang seperti itu, karena hidup berpasangan terus-menerus disodorkan sebagai satu-satunya pilihan. Orang-orang yang lajang terus didorong untuk bersama dan didesak untuk mencari pasangan, seolah-olah hidup tanpa memiliki pasangan itu kurang baik.

Orang Kristen sangat perlu untuk memperbaiki cara pandang terhadap kehidupan orang lajang, bahwa itu baik adanya, dan tidak hanya sebagai tangki penampungan. Meskipun keadaan 'tidak pernah-menikah' dibuat seolah-olah sebagai kegagalan, itu tidak akan menjadi penilaian sejarah terhadap teladan mereka yang agung, yaitu rasul Paulus. Dia mendapati hidupnya begitu memuaskan sehingga ia berkata, "Aku berharap semua orang seperti aku" (1 Kor 7: 7).

Paulus berbicara langsung tentang situasi Anda, juga. "Isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meninggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya. Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya." (1 Korintus 7: 39-40).

Menikah lagi jelas diperbolehkan, namun Paulus mengatakan bahwa tetap sendiri akan membuat seorang janda "lebih bahagia." Rasa kesepian Anda yang kuat membuat hal ini tidak mungkin, tetapi orang Kristen mula-mula hampir tidak merasa kesepian, apa pun status perkawinan mereka. Pada masyarakat yang erat, saling mengasihi adalah bukti yang jelas tentang kehadiran Kristus, bukan hanya “persekutuan” menyenangkan yang dangkal. Sedikit orang, memang, yang akan menjalani kehidupan yang menyendiri. Wanita Kristen (atau pria) lajang mungkin melemparkan undi mereka bersama-sama dengan menanggung bersama biaya dan tugas rumah tangga di lingkungan doa bersama, dimana orang yang lebih muda akan peduli terhadap mereka yang lebih tua karena mereka menemui kesulitan yang disebabkan oleh faktor usia. Pengaturan ini akhirnya dikenal sebagai "biara," tetapi pengaturan yang kurang formal pun juga dapat berjalan dengan baik.

Hari ini ada begitu banyak ketidaksabaran budaya dengan status lajang sehingga kita bisa lebih menitikberatkan pada sisi lain dari standar yang ada. Kasih karunia Allah lebih dari cukup untuk melihat kita melewati serangan kesepian kita. Namun, Anda tidak perlu merasa bersalah jika menginginkan persahabatan. Mintalah kepada Tuhan untuk mengisi kekosongan yang Anda rasakan. Jawabannya mungkin bukan seperti apa yang Anda harapkan, tapi itu akan selalu menjadi yang terbaik. (t/Jing Jing)

Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Today's Christian Woman
Alamat URL : http://www.todayschristianwoman.com/articles/2005/january/17.14.html
Judul asli artikel : Widowed and Lonely
Penulis artikel : Frederica Mathewes-Green
Tanggal akses : 20-10-2014
Tipe Bahan: 

Komentar