NATAL

Natal adalah tentang pengharapan. "Datanglah Engkau Yesus, yang lama dinantikan" adalah doa dari umat pilihan Allah karena mereka menunggu Sang Mesias. Dalam merayakan Adven, kita masuk ke dalam pengharapan-pengharapan itu dan bersukacita dalam pemenuhannya.

Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan." (Lukas 2:34)

Apa pendapat Anda tentang parafrase ini 2 Korintus 5:16: "Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."? Noël mengatakan kepada saya minggu lalu bahwa dia pergi ke toko untuk mencari beberapa dekorasi Natal, tetapi di sepanjang enam lorong toko tersebut hanya beberapa barang-barang kecil yang terkait dengan Kristus.

Bagaimana rasanya melihat Ia berdoa?

Bagaimana tanggapan-Nya ketika Ia melihat anak-anak lain cekikikan selama ibadah berlangsung di Sinagoge?

Ketika Ia melihat pelangi, apakah Ia pernah menyebut tentang sebuah banjir?

Apakah engkau pernah merasa canggung ketika mengajar-Nya pada bagaimana Ia menciptakan dunia?

Ketika Ia melihat seekor anak domba dituntun ke tempat penjagalan, apakah Ia berperilaku secara berbeda?

Tanyakan siapa saja yang merayakan Natal tentang di manakah Kristus sebagai anak lahir, dan sebagian akan menyebut Bethlehem. Lagu-lagu Natal seperti "0 Kota Mungil Betlehem" akan mengenang ketenarannya.

Tuhan telah memilih untuk menjelma sebagai manusia. Lidah-Nya yang membangkitkan orang mati adalah lidah seorang manusia. Tangan-Nya yang menjamah orang kusta adalah tangan yang berkalang tanah. Kaki-Nya yang dibasuh seorang wanita, kasar dan berdebu. Dan air mata-Nya....ya, air mata-Nya.....keluar dari hati yang hancur seperti hati Anda dan saya.

Lagu Natal lama menyatakan, "It’s the most wonderful time of the year". (Saat terindah di tahun ini - Red.) Dan, bagi orang Kristen, nyanyian itu harusnya bergema dengan benar. Namun, bagi banyak orang, Natal adalah waktu untuk bertahan. Depresi, kesedihan, dan kesepian yang kemudian sering kali diperburuk dengan keadaan keluarga yang hancur dan beban utang yang semakin menumpuk. Daftar acara Natal yang terlalu padat sehingga membuat kita berpikir untuk "mengakhiri hari raya". Kita menjadi bertanya-tanya apakah ucapan selamat Natal masih ada? Apa yang terjadi dengan suasana Natal yang damai di masa kanak-kanak?

Ditulis oleh: N. Risanti

Bertumbuh dalam keluarga Kristen yang sudah mengenal Kristus semenjak lama, membuat keluarga besar kami memiliki tradisi Natal yang kental di bulan Desember. Dimulai dengan memasang dan menghias pohon Natal besar di rumah nenek saya, membuat kue-kue khas Natal, membeli dan membungkus hadiah Natal, menjalani latihan drama atau paduan suara untuk acara Natal di gereja, sampai merayakan malam Natal bersama keluarga besar di rumah nenek yang penuh dengan nuansa keakraban dan kegembiraan. Semua tradisi dan kesibukan itu sungguh membawa kesan dan memori yang menyenangkan bagi saya sebagai anak-anak, yang bahkan masih terbawa hingga saat ini. Desember dan Natal kemudian bermakna sebagai masa-masa yang penuh dengan kesenangan dan kegembiraan berdasarkan kenangan indah saya semasa kanak-kanak.

Malam ini adalah malam Natal. Seisi rumah mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu sejak pagi tadi. Begitu juga dengan aku. Sesudah misa malam Natal, biasanya kami sekeluarga berkumpul untuk saling mengucapkan selamat Natal dan makan malam bersama.

Bayangkan jika Yesus mengetuk pintu rumah Anda pada malam Natal tahun ini karena memerlukan tempat untuk tinggal. Maukah Anda memberikan tempat tidur tambahan untuk ditawarkan kepada-Nya, dengan seprai yang bersih dan handuk yang baru? Mungkin sebuah sofa dengan selimut yang hangat? Bagaimana dengan futon (kasur tradisional dari Jepang - Red.) dari IKEA (perusahaan furnitur - Red.) yang layak pakai? Atau, akankah Anda menutup pintu rumah Anda yang terbuka, dengan rasa malu, dan meminta maaf sedalam-dalamnya. "Maaf, Tuhan. Tempat saya berantakan. Dan, saya benar-benar tidak memiliki apa pun untuk mempersilakan Anda masuk ...?" Benar. Begitulah. Hari Natal adalah tentang menyiapkan ruang untuk Yesus. Menyambut-Nya di rumah, keluarga, dan hidup kita. Membuka lebar-lebar pintu hati kita.

Kami tiga raja dari Timur
Dengan membawa hadiah kami melintas jauh,
Padang dan mata air, tempat berlabuh dan pegunungan,
Mengikuti bintang di atas sana.

Mengapa orang-orang majus ini melakukan perjalanan seperti itu?

Santa hidup di kutub utara
Yesus berada di mana saja

Santa mengendarai kereta kuda
Yesus mengendarai angin dan berjalan di atas air

Santa hanya datang sekali dalam setahun
Yesus adalah anugerah pertolongan yang selalu ada

Santa mengisi kaus kakimu dengan barang-barang
Yesus memenuhi segala kebutuhanmu

Santa datang tanpa diundang melalui cerobong asapmu
Yesus berdiri di depan pintumu dan mengetuk, dan kemudian memasuki hatimu jika diundang

Dasar Alkitab: Galatia 4:1-11

"Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak." (Galatia 4:4-5)

Setiap orang percaya mempunyai kedudukan sebagai anak-anak Allah sejak ia secara pribadi beriman kepada Yesus Kristus atau menerima Dia menjadi Juru Selamatnya (Yohanes 1:12). Dengan diangkat sebagai anak, yaitu melalui proses kelahiran kembali secara rohani oleh pekerjaan Roh Kudus pada saat kita beriman kepada Kristus, kita secara resmi dan sah menjadi anggota keluarga Allah.

Kesederhanaan itu awal kedamaian. Kegemerlapan adalah awal perseteruan. Jauh dari hiruk-pikuk gemerlap kemewahan, kesederhanaan mengawali kedamaian dengan keheningan, kesempatan nan luas untuk merenung, dan doa yang penuh kesadaran dan akal budi secara optimal. Keheningan untuk merenung itu sedemikian penting untuk memperluas kedamaian dan perdamaian. Seperti digagas Johan Galtung, perdamaian akan terwujud jika manusia memadukan hati dan pikirannya untuk berdialog dengan sesamanya. Namun, pemaduan hati dan pikiran, bahkan dialog itu, memerlukan keheningan.

Pikirkan kembali semua kenangan favorit Anda selama masa Natal. Apakah yang benar-benar bertahan setelah sekian lama?

Pages