Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

KELUARGA

Iman saat berhadapan dengan pengangguran dan tekanan finansial.

Saya duduk terkaget-kaget seakan tidak percaya, mencoba memproses kebenaran keras di balik kata-kata yang jauh lebih lembut yang baru saja disampaikan oleh bos saya. Saya dipecat.

Menjadi seorang ibu tunggal dapat terasa seperti Anda sedang berjalan melalui ladang ranjau. Di sekitar tiap tikungan, terdapat bahaya ledakan lainnya.

Saya adalah seorang penulis dan eksekutif utama di sebuah biro iklan ketika saya memutuskan untuk meninggalkan profesi saya untuk tinggal di rumah dan membesarkan anak-anak saya. Saya ingin menjadi orang yang mengasuh dan mendidik anak-anak kami, dan pekerjaan saya yang sibuk tidak memberi cukup waktu untuk melakukannya dengan baik.

Keluarga penting bagi Allah. Itu sebabnya, hanya sedikit hal yang lebih menyakitkan daripada konflik keluarga yang belum terselesaikan. Mertua yang mendominasi, remaja yang bandel, atau anak tiri yang cemburu dapat mengubah setiap keluarga yang bahagia menjadi zona perang.

Orangtua pada masa kini bertumbuh dalam budaya yang sama sekali berbeda dengan budaya anak-anak mereka. Teknologi telah secara radikal mengubah cara kita hidup.

Teknologi adalah realitas yang tidak akan berlalu. Penting mengajarkan kepada anak-anak untuk membuat keputusan yang baik tentang teknologi, membatasi frekuensi penggunaannya, dan menjaga akses pada konten yang sesuai dan aman.

Pada umumnya, kita menerima orang lain berdasarkan apa yang tampak. Kita sering menilai seseorang berdasarkan perilakunya yang dapat kita amati. Karena kebanyakan orang mengembangkan pola-pola perilaku yang spesifik dalam situasi-situasi tertentu, maka suatu klasifikasi tampaknya dapat menyederhanakan banyak hubungan antarmanusia. Jadi, suatu sistem yang didasarkan pada aktivitas luar adalah yang paling mudah diterapkan.

Firman Tuhan memerintahkan suami untuk mengasihi istrinya (Efesus 5:33). Meski tidak dikemukakan secara eksplisit, kita dapat menyimpulkan bahwa dikasihi merupakan kebutuhan wanita yang pokok (sama seperti kebutuhan dihormati bagi para pria). Terpenuhinya kebutuhan ini, sedikit banyak menjamin kehidupan suami istri yang harmonis. Namun, saya pun melihat bahwa kebutuhan untuk dikasihi tidak berlaku untuk relasi pernikahan saja. Pemenuhan kebutuhan ini juga berpengaruh besar pada pertumbuhan anak perempuan menjadi wanita dewasa, dan ternyata peranan ibu dalam proses ini tidaklah dapat disepelekan.

Ditulis oleh: N. Risanti

"Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka akan belajar untuk mencintai. Jika anak-anak hidup dengan dukungan, mereka akan belajar untuk menyukai dirinya sendiri." - Dorothy Law Nolte

Diringkas oleh: S. Setyawati

Setelah saya menyampaikan pidato tentang infertilitas, ada sepasang suami istri makan siang bersama saya. Setelah beberapa saat, saya bertanya kepada si istri, "Ketika Anda menangisi masalah kesuburan Anda, apa rasa kehilangan terbesar Anda?" "Rasa kehilangan dari sebuah mimpi; kerinduan hati saya adalah memiliki anak dari suami saya dan membesarkannya bersama-sama," jawabnya. Lalu, saya bertanya kepada si suami, "Dan, Anda?" Ia memandang istrinya dan berkata kepadanya, "Jangan menganggap ini salah, Sayang, tetapi ...." Lalu, ia memandang saya. "Inilah rasa kehilangan istri saya -- ia bukan wanita yang sama dengan yang saya nikahi. Masalah ini benar-benar membebani kami."

Alkitab sangat adil mengenai kesuburan dan membesarkan anak. Anak-anak adalah berkat (Mazmur 127:3-5). Anak-anak diperlukan untuk memenuhi tujuan Allah bagi manusia agar kita "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi ..." (Kejadian 1:28). Setidaknya, dua kali Allah menggunakan kesuburan untuk menganugerahi atau menenangkan para perempuan (Kejadian 29:31; 2 Raja-raja 4:8-17). Namun, tidak ada bukti apa pun bahwa Allah menghukum seorang perempuan karena kemandulan. Hanya sekali Allah menggunakan "kemandulan" sebagai hukuman (2 Samuel 6:20-23). Sebab, sering kali, kemandulan diobati dengan kelahiran tokoh penting, termasuk Ishak (Kejadian 21:7), Esau dan Yakub (Kejadian 25:21), Simson (Hakim-hakim 13), Nabi Samuel (1 Samuel 1), dan Yohanes Pembaptis (Lukas 1).

Hapuskanlah Kecemasan Anda dan Belajarlah untuk Memercayai Allah

Menyerahkan kembali anak Anda kepada Allah dapat menjadi keputusan yang sulit bagi para orang tua.

Ditulis oleh: S. Setyawati

Dalam kehidupan di dunia, manusia tentu tidak luput dari konflik. Hal ini juga terjadi dalam keluarga, terlebih keluarga campuran. Keluarga campuran (blended family) adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung dan tiri. Di dalam keluarga seperti ini, konflik yang terjadi antaranggota keluarga tentu lebih kompleks dibandingkan keluarga pada umumnya, apalagi jika pihak suami dan istri memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Mengapa? Sebab, masing-masing anggota keluarga memiliki latar belakang budaya dan kebiasaan keluarga yang berbeda. Misalnya, keluarga dari pihak suami memiliki kebiasaan piknik saat akhir pekan, sementara keluarga dari pihak istri terbiasa bersih-bersih rumah. Selain itu, rasa cemburu antara anak yang dibawa dari pihak suami dan yang dibawa dari pihak istri juga dapat memicu munculnya konflik di antara saudara tiri. Jika perbedaan dan persoalan semacam ini tidak dikomunikasikan dengan baik, intensitas meningkatnya konflik akan semakin tinggi.

Pages