PERNIKAHAN

Pernikahan, seperti persahabatan apa pun, dimulai dengan kesamaan. Namun, tekanan kehidupan normal sehari-hari -- anak-anak, pekerjaan, keuangan, penyakit, merawat orang tua yang lanjut usia -- dapat menyita kesatuan itu dan menyebabkannya semakin menjauh. Konseling pernikahan tradisional adalah salah satu cara untuk memperdalam persahabatan Anda, tetapi Anda juga dapat melakukan beberapa praktik sederhana.

Ketika Pendeta Howard Sugden memimpin upacara pernikahan kami, ia menekankan bahwa kami sedang terlibat dalam sebuah mukjizat. Kami memercayainya, tetapi kami tidak memahami seberapa besar mukjizat yang diperlukan untuk mengikat dua orang, apalagi menjadikan keduanya satu.

Diringkas oleh: S. Setyawati

Setelah saya menyampaikan pidato tentang infertilitas, ada sepasang suami istri makan siang bersama saya. Setelah beberapa saat, saya bertanya kepada si istri, "Ketika Anda menangisi masalah kesuburan Anda, apa rasa kehilangan terbesar Anda?" "Rasa kehilangan dari sebuah mimpi; kerinduan hati saya adalah memiliki anak dari suami saya dan membesarkannya bersama-sama," jawabnya. Lalu, saya bertanya kepada si suami, "Dan, Anda?" Ia memandang istrinya dan berkata kepadanya, "Jangan menganggap ini salah, Sayang, tetapi ...." Lalu, ia memandang saya. "Inilah rasa kehilangan istri saya -- ia bukan wanita yang sama dengan yang saya nikahi. Masalah ini benar-benar membebani kami."

Alkitab sangat adil mengenai kesuburan dan membesarkan anak. Anak-anak adalah berkat (Mazmur 127:3-5). Anak-anak diperlukan untuk memenuhi tujuan Allah bagi manusia agar kita "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi ..." (Kejadian 1:28). Setidaknya, dua kali Allah menggunakan kesuburan untuk menganugerahi atau menenangkan para perempuan (Kejadian 29:31; 2 Raja-raja 4:8-17). Namun, tidak ada bukti apa pun bahwa Allah menghukum seorang perempuan karena kemandulan. Hanya sekali Allah menggunakan "kemandulan" sebagai hukuman (2 Samuel 6:20-23). Sebab, sering kali, kemandulan diobati dengan kelahiran tokoh penting, termasuk Ishak (Kejadian 21:7), Esau dan Yakub (Kejadian 25:21), Simson (Hakim-hakim 13), Nabi Samuel (1 Samuel 1), dan Yohanes Pembaptis (Lukas 1).

"Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan." (Efesus 5:22) Masih berlakukah ayat itu? Betulkah istri harus tunduk kepada suami? Mengapa ada ayat seperti itu di Alkitab? Mungkin zaman dulu cocok, tetapi bagaimana zaman sekarang? Bukankah perempuan dan lelaki sama harkat dan martabatnya? Mengapa yang disuruh tunduk cuma istri? Bukankah itu merupakan pelecehan kepada perempuan?

"Seperti barang, kalau saat pertama kali dipakai ternyata tidak sesuai spesifikasi, kita kembalikan itu barang. Perkawinan juga begitu. Saya memutuskan cerai setelah empat hari karena ia tidak lagi perawan. Itu terlihat jelas dari reaksinya pada malam pertama. Reaksinya seperti wanita berpengalaman."

Selain mengubah sikap mental dirinya sendiri terhadap impotensi, seorang suami dapat mengetahui tersedianya obat yang paling mujarab, yang ada di dalam diri istrinya. Antara lain, seorang istri dapat ...

Ketika pasangan memahami dan berkomitmen untuk menjalani proses komunikasi, hal-hal baik akan terjadi, bukan hanya dalam kehidupan bersama suami istri, tetapi juga bagi pelebaran Kerajaan Allah.

Mavluda (nama samaran) mengenal Kristus dan menjadi pengikut-Nya lebih dari dua tahun lalu sejak ia masih tinggal di kampung halamannya di Tajikistan. Awalnya, semua berjalan dengan baik. Suami Mavluda mengizinkannya beribadah setiap minggu di gereja setempat. Akan tetapi, setelah beberapa lama, suaminya mengubah pendiriannya dan melarang Mavluda beribadah di gereja.

Mengapa kita kagum pada pelayanan Mother Teresa kepada orang-orang yang tak berpengharapan dan putus asa di Kalkuta? Mengapa kita kagum melihat dedikasi para misionaris di ladang-ladang pelayanan di berbagai negara? Mengapa kita bergidik ketika melihat seekor anjing diselamatkan dari sebuah tempat bertengger yang membahayakan dalam suatu banjir dan mengomentari mereka yang menolong dalam usaha tersebut?

Ada seorang laki-laki yang bernama Nabal. Dia adalah seorang yang kaya. Dia tinggal di Karmel. Karakternya bebal. Nabal mempunyai seorang istri yang bernama Abigail, yang cantik rupanya dan hatinya.

Meskipun Alkitab mengatakan bahwa karakter suami istri itu sangat berlawanan, namun tidak disebutkan adanya percekcokan atau masalah lain dalam rumah tangga mereka. Tidak disebutkan pula bahwa Abigail merasa tidak bahagia menjadi istri Nabal.

Menurut anggapan orang pada umumnya, mempunyai suami semacam Nabal akan membuat istri menjadi tidak bahagia. Bahkan jika memungkinkan, istri akan berusaha agar bisa bercerai dengan suami semacam itu. Namun, tidak ada pernyataan seperti itu dalam nas yang kita baca. Ini berarti walaupun suami bebal (tidak bisa diatur), istri tetap setia, hubungan suami istri tetap berjalan. Mengapa bisa terjadi demikian? Alasannya adalah karena Abigail tahu cara bergaul dengan suaminya yang bebal.

Pernahkah Anda memerhatikan tatapan kosong dalam mata seseorang ketika Anda mulai berbicara? Mungkin Anda merasa bahwa Anda memunyai sesuatu yang penting untuk disampaikan, atau mungkin ingin memberitahukan sesuatu yang berarti bagi Anda. Tetapi, Anda segera mempersingkat percakapan dan memutuskan untuk tidak mencobanya lagi dengan orang tersebut karena Anda dapat melihat dari tatapannya bahwa ia sama sekali tidak berminat mendengar Anda.

Pernikahan yang kokoh dan bertumbuh tidak terjadi begitu saja. Pasangan-pasangan yang menikah harus termotivasi untuk menempatkan prioritas yang tinggi bagi hubungan pernikahan mereka. Konsep pernikahan yang bertumbuh harus terus-menerus mendapat penekanan.

Empat Klasifikasi Pernikahan

Dr. J.A. Fritze mengatakan bahwa pengalaman klinis yang ia miliki mendorongnya untuk mengklasifikasikan pernikahan ke dalam empat jenis.

Kalau ditanya pada usia berapa kita ingin menikah, tentu sebagian besar akan menjawab di atas usia 20 tahun. Mungkin usia 21, 22, 25, 26, atau 30 tahun. Sebagai contoh, Ani dan Anto akan menikah pada usia 25 tahun. Mereka tentu menginginkan umur pernikahannya langgeng. Ani dan Anto dianugerahi panjang umur oleh Tuhan, usia mereka mencapai 75 tahun. Jadi, sebenarnya sampai usia 25 tahun, Ani dan Anto berada dalam proses pendewasaan untuk membangun 50 tahun usia pernikahan mereka kelak. Itu artinya, usia pernikahan mereka dua kali masa persiapan/lajang mereka.

"Allah menciptakan manusia itu menurut gambar Allah diciptakan-Nya: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka," kata penulis Kitab Kejadian. Menurut legenda Yunani, adalah Zeus yang pertama-tama menciptakan makhluk tanpa jenis kelamin. Kemudian, dalam kemarahan ilahinya, ia membagi makhluk ini menjadi laki-laki dan perempuan. Pembagian manusia ke dalam dua jenis kelamin ini, dipahami sebagai suatu keadaan yang tidak sempurna, suatu kekuatan manusia yang semakin melemah karena kedua jenis kelamin itu berjalan di dua jalur yang saling bertentangan.

Pages