Kasih dalam Roh (Kolose 1:8)

Kasih terdapat di mana-mana. Kasih terdapat di balik setiap kisah cinta, menjadi tema setiap sajak dan setiap lakon pementasan yang menyentuh kalbu dan memesona perhatian manusia. Kasih telah menjadi dasar dari perjuangan patriotisme, usaha perikemanusiaan. Namun sesungguhnya, terdapat perbedaan besar antara "Kasih Manusiawi" (human love) dan "Kasih dalam Roh" atau "Kasih Ilahi" (divine love).

Kasih Manusiawi adalah suatu naluri (instinct) dan nafsu (passion) manusia. Kasih dalam Roh adalah buah yang dihasilkan Roh Allah dalam diri orang percaya. Walaupun kasih manusiawi lebih tinggi derajatnya daripada naluri kasih pada induk burung terhadap anaknya, atau kemesraan singa betina terhadap anaknya, namun kasih manusiawi berasal dari bumi dan akan lenyap bersama-sama bumi. Kasih dalam Roh berasal dari Allah, merupakan bagian dari sifat ilahi Allah yang tidak akan lenyap, tidak berkesudahan (1 Korintus 13:8 -- "Kasih tidak berkesudahan").

Kasih manusiawi bersifat mementingkan diri sendiri, sedang kasih dalam Roh tidak mementingkan diri karena yang dituju adalah kesejahteraan objek atau pihak yang dikasihinya. Karena itu, kasih manusiawi yang paling mendalam sekalipun, dapat berubah menjadi rasa benci yang paling mendalam, yaitu di kala kasih manusiawi itu dikecewakan. Kasih manusiawi dapat membalas dendam yang dahsyat, apabila pihak atau objek yang dikasihinya mengecewakannya. Sebaliknya, kasih dalam Roh melupakan dirinya sendiri, karena bertujuan membahagiakan yang dikasihinya. Kasih dalam Roh mengasihi agar objek yang dikasihinya tertolong, diselamatkan, dan ditingkatkan, sehingga tidak segan-segan berkorban, bahkan mengorbankan kebahagiaannya sendiri.

Kasih manusiawi didasarkan pada sifat-sifat menyenangkan yang ada pada pihak yang dikasihinya. Kasih dalam Roh berasal dari dorongan hati sendiri yang tidak terbendung -- mengalir ke luar. Kasih manusiawi tertarik pada kebaikan dan keindahan objek yang dikasihinya. Kasih dalam Roh mengasihi, walaupun pihak yang dikasihi tidak menarik sama sekali, tidak layak sama sekali untuk dikasihi. Kasih dalam Roh adalah kasih yang didasarkan dorongan hati sendiri dan bukan berdasarkan kebaikan, kelayakan, keindahan pihak yang dikasihi. Kasih dalam Roh adalah kasih ilahi, seperti kasih Allah yang dinyatakan dalam Roma 5:8, "Allah menunjukkan Kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa". Allah mengasihi kita karena atau berdasarkan dorongan kasih yang ada dalam diri-Nya. Apabila Roh-Nya mendiami kita, kita akan mengasihi karena dorongan Roh Kudus dalam diri kita, sehingga kita akan mengasihi siapa pun juga, terlepas ia layak atau tidak layak untuk dikasihi karena Allah mengasihi mereka.

Kasih manusiawi sangat perasa dan hidup dalam iklim mengharapkan balasan. Kasih dalam Roh bersifat panjang sabar, tidak mengharapkan balasan apa-apa, bersedia berkorban, dan menderita demi kebaikan pihak yang dikasihinya. Alkitab memberikan penjabaran mengenai kasih dalam Roh yang terdapat dalam 1 Korintus 13:4-7, "Kasih itu sabar; Kasih itu murah hati; ia tidak cemburu; ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong; ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu". Kasih dalam Roh tampak jelas pada kehidupan Yesus Kristus. Semakin musuh-musuh-Nya membenci-Nya dan menganiaya-Nya, semakin Ia merasakan betapa mereka memerlukan kasih-Nya, sehingga semakin Ia merelakan diri-Nya menderita, agar dapat menyelamatkan mereka. Kasih yang demikian menjadi ciri-ciri dari kasih Kristen.

Pada tahun 1896, ketika banyak penginjil dianiaya bahkan tidak sedikit yang menjadi martir di China Selatan, salah satu dari mereka yang selamat bercerita sebagai berikut: "pada waktu itu, ketika kami menghadapi maut, satu-satunya hal yang kami ingat adalah sukacita dan kasih mendalam yang memenuhi hati kami. Ketika berita pembantaian ini di dengar sahabat-sahabat kami di Inggris, pada mereka tidak terdapat rasa dendam. Kasih yang mengasihi mereka yang mengasihi kita adalah kasih manusiawi, sedang kasih yang mengasihi mereka yang tidak mengasihi kita, yang membenci kita, adalah kasih ilahi -- kasih yang dihasilkan Roh Kudus dalam diri orang-orang percaya. Kasih yang berdoa bagi keselamatan mereka yang menganiaya kita, bahkan rela mati bagi mereka yang ingin membunuh kita, adalah kasih yang berasal dari Allah, yang hanya Roh-Nya saja yang dapat menghasilkannya dalam hati manusia.

Kasih manusiawi bersifat tidak tetap, tidak menentu. Kasih dalam Roh bersifat tetap, tidak berubah, bersifat kekal untuk selama-lamanya. Kasih manusiawi kita tergantung pada suasana hati kita atau suasana hati mereka yang kita kasihi. Kasih dalam Roh adalah Yesus Kristus di dalam kita, yang mengasihi senantiasa pada segala waktu, baik dalam waktu suka maupun dalam waktu duka. Kasih Manusiawi bersifat eksklusif, memihak, atau subjektif. Kasih dalam Roh bersifat universal atau menyeluruh, bukannya mengasihi kesayangannya saja, tetapi mengasihi semua yang perlu dikasihi.

Kasih manusiawi sering bermusuhan, tidak menyukai mereka yang di luar lingkungan kerabatnya. Kasih dalam Roh bersifat jujur, benar, adil, universal, dan disertai kelembutan yang jauh lebih halus daripada perasaan terhalus atau sentimen terhalus kasih manusiawi. Kasih manusiawi tidak jarang bersifat berlebih-lebihan, tidak terkendali. Kasih dalam Roh tidak berlebih-lebihan, dapat membatasi diri atau menahan diri, bahkan berani untuk melakukan hal yang tidak menyenangkan demi kebaikan objek atau pihak yang dikasihinya. Demikianlah Allah mengasihi kita, sehingga Ia rela "melukai, menghukum, menyembuhkan, dan menyelamatkan" kita.

Kasih manusiawi didasarkan pada apa yang tampak saja. Kasih dalam Roh didasarkan pada iman, karena itu kasih ini percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu" (1 Korintus 13:7). Di kala "sifat indah" belum tampak pada objeknya, maka kasih ini berdoa agar Allah menumbuhkan sifat indah itu pada objeknya, dan karena percaya bahwa Allah memenuhi doanya itu, ia bertindak seperti Allah telah memenuhinya. Harapan ini dipadukan dengan iman, melihat penglihatan hari depan sampai penglihatan itu menjadi kenyataan nyata waktu kini. Karena itu, kasih dalam Roh memandang objeknya dalam segala keindahan yang akan dimiliki objek tersebut kelak di kemudian hari. Demikianlah Allah memandang masing-masing kita. Ia bukannya melihat kita sebagaimana keadaannya kita sekarang, tetapi sebagaimana keadaannya kita nanti, yaitu di kala kita memantulkan sempurna keindahan mahamulia Juru Selamat kita. Keindahan sempurna kita nanti, itulah yang kini dilihat Allah pada kita, yang memberikan kesukaan kepada-Nya. Ia kini memperlakukan kita seperti kita sudah mengenakan kemuliaan Kristus Yesus. Demikianlah seharusnya kita mengasihi sesama kita, yaitu dengan memandang mereka kini dalam keberadaan mereka kelak dalam terang kemuliaan Yesus Kristus.

Kasih manusiawi bersifat manusiawi. Kasih dalam Roh adalah kasih Allah di dalam diri kita di mana Roh Kudus memenuhi dan mengalir dalam hati kita. Kasih ini bukanlah berupa yang terbaik yang dapat kita rasakan, katakan, atau lakukan, melainkan kasih Kristus yang direproduksi dalam diri kita dan dipancarkan kembali melalui kehidupan kita, sehingga tepatlah apa yang dikatakan dalam 1 Korintus 13:4-7 -- "Kristus dalam diri kita itu sabar, Kristus dalam diri kita itu murah hati; Ia tidak cemburu; Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong; Ia tidak melakukan yang tidak sopan, dan tidak mencari keuntungan diri sendiri; Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain; Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran; Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu". Inilah yang Roh Kudus ingin ajarkan kepada kita, yaitu menyadarkan kita akan ketidakmampuan kita dan kemampuan Kristus, agar kita belajar menggantungkan kehidupan kita kepada kemampuan Roh-Nya yang berdiam dalam setiap orang percaya, sehingga seperti rasul Paulus, kita akan mengalami dan mengakui bahwa "bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Galatia 2:20)

Kasih dalam Roh adalah jumlah dari seluruh kebaikan, inti daripada kesucian. Roh Kudus datang mendiami setiap kita untuk melatih kita belajar mengasihi. Dari hari ke hari, Ia membimbing kita dalam latihan mengasihi. Di kala keadaan begitu sukar, begitu menekan kita, itu berarti pelajaran baru bagi kita, kesempatan baru bagi kita untuk memantulkan kehidupan Kristus, kesempatan baru untuk belajar bersabar, bermurah hati, belajar mengasihi seperti Kristus mengasihi. Marilah kita dalam setiap pengalaman yang kita jumpai, melihat tangan Allah, pelajaran dari Allah dan kasih-Nya, sehingga kehidupan kita merupakan suatu latihan belajar mengasihi. Allah memberikan kita kasih dalam Roh dan memberikan kita hukum baru, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34)

Alkitab mengajar: "Allah adalah Kasih, dan barang siapa tetap berada di dalam Kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (1 Yohanes 4:16) "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak memunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa Roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (Korintus 13:1-3; 8; 13)

Sumber asli: "The Holy Spirit", A.B. Simpson

Diambil dari:

Judul majalah : Hikmat Kekal, Edisi Mei/Juni 1986, No.30
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan MST, Jakarta 1986
Halaman : 19 -- 24
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar