Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Mari Bersyukur Kepada Tuhan!

Sebuah narasi panjang dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa, yang sarat dengan keluh-kesah, omelan dan pemberontakan, adalah narasi eksodusnya bangsa Israel dari Mesir. Sepanjang perjalanan mereka menyaksikan banyak peristiwa yang mencengangkan, mukjizat, namun hati mereka tetap tidak puas. Mereka menyaksikan bimbingan Tuhan siang maupun malam, tetapi bagi mereka itu hanyalah sebuah hal biasa yang tidak patut disyukuri!

Sejumlah bencana telah menimpa rakyat Firaun dan memaksa penguasa itu membiarkan bangsa Israel lepas dari perhambaan yang ratusan tahun lamanya. Sayang sekali, dalam perjalanan panjang menuju negeri yang dijanjikan, mereka justru jarang mengucap syukur kepada Tuhan. Segala sesuatu yang mereka terima, mereka anggap sebagai hal biasa dan tidak perlu disyukuri. Tidakkah wajar bangsa yang diperbudak ratusan tahun ini mengucapkan syukur kepada Tuhan setelah mereka dimerdekakan dan memiliki kebangsaan mereka sendiri? Mengapa mereka tidak memiliki rasa terima kasih kepada Tuhan yang memerdekakan mereka? Mengapa mereka justru membesar-besarkan masa lalu di negeri perhambaan dengan mengenangkan jenis makanan: bawang, daging, dan sejumlah makanan yang sangat berbeda dengan manna yang mereka terima secara gratis setiap hari, dikirim dari surga? Mengapa kemerdekaan ini dianggapnya sebagai sebuah pembuangan dan menjadikan gurun pasir sebagai "kuburan" sebagaimana yang diproteskan mereka kepada Musa?

Di manakah rasa syukur mereka? Ketika Laut Merah dipisahkan dan mereka melintasinya sampai di seberang dalam keadaan selamat, luput dari rasa takut, dan tidak lama kemudian mereka melupakannya dan menganggapnya sebagai angin lalu? Untuk sejenak mereka menyanyi di bawah pimpinan Miriam, kakak Musa, dan kemudian melupakannya!

Akibat tiadanya rasa syukur ini, bangsa Israel yang sudah berusia sekitar delapan belas tahun keluar dari Mesir, tidak sampai ke negeri Perjanjian. Padang gurun telah betul-betul menjadi kuburan mereka, karena hati mereka yang keras dan tidak mengenal rasa syukur yang sejati. Hanya Yosua dan Kaleb saja yang dewasa keluar dari Mesir dan sampai ke negeri Kanaan untuk memimpin bangsa itu. Selebihnya, mereka mati dalam rasa tidak bersyukur!

Ucapan Syukur dalam Tradisi

Bangsa Israel sebenarnya telah menciptakan tradisi "pengucapan syukur" yang sistematis. Tuhan telah melembagakannya dalam sistem persembahan korban bakaran dalam keimamatan. "Jikalau ia mempesembahkannya untuk memberi syukur, haruslah beserta korban syukur itu dipersembahkannya..." (Imamat 7:12). Persembahan syukur itu lahir sebagai pengakuan betapa Tuhan telah membimbing mereka dengan baik. Tanpa bimbingan Tuhan, mereka tidak akan pernah dapat melestarikan generasinya dan generasi berikutnya. Ada sesuatu yang nyata, sebagai "persembahan syukur" kepada Allah, karena perlindungan-Nya dalam suka dan duka. Ada pengakuan atas kuasa Tuhan yang mahatinggi, pemilik, dan pencipta alam semesta ini.

Raja Daud merasa gembira sekali ketika Tabut Allah kembali ke negerinya. Selama ini bangsa Filistin menguasainya. Kepulangan Tabut Allah ini merupakan peristiwa yang menggembirakan sehingga Raja Daud telah mengatur upacara pengucapan syukur yang meriah dan menyenangkan bagi bangsa itu. Sambutan yang luar biasa ini menunjukkan betapa berharganya Tabut itu di hadapannya. Ia menyadari bahwa Tabut Allah itu merupakan lambang komunikasi antara Tuhan dengan umat-Nya. Lambang kehadiran Tuhan itu amat penting di mata Raja Daud. Ia merasa aman tenteram apabila Tuhan hadir di tengah-tengah mereka seperti pada zaman Musa sebelumnya. "Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama- Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa," (1 Taw. 16:8). Sebuah lagu pujian syukur dikarang khusus untuk peristiwa penting itu dan bangsa itu menyanyikannya bertalu-talu, dengan tarian dan pujian, sorak-sorai yang memuliakan Tuhan. Maka tidaklah mengherankan apabila pengarang Mazmur memuliakan Allah dengan puisinya seperti berikut: "Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku..." (Mazmur 50:23).

Di antara umat dan bangsa masa kini

Pada waktu musim panen di Minahasa, ada kebiasaan suku setempat untuk mengadakan hari pengucapan syukur. Orang yang memanen hasil ladangnya menjamu siapa saja yang datang menghadiri pesta pengucapan syukur itu. Pengucapan syukur berlangsung bukan satu-dua hari saja, bahkan mungkin juga berlangsung satu minggu. Siapa saja yang mampir, dapat makan sepuas hati! Ucapan syukur ini menandai suatu rasa puas dan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberkati panen raya mereka, dan untuk itulah pernyataannya diungkapkan dengan membagikan berkat kepada orang lain atau sesama.

Barangkali ada orang yang menganggap ini sebuah pemborosan untuk masa kini. Dari sudut pandang ekonomi, ya ada benarnya. Tetapi hidup ini tidak selamanya dipandang dari sudut ekonomi, ada juga sudut pandang yang lain, yakni rasa sosial yang tinggi, yang hidup di dalam diri orang-orang yang beriman. Selain makna sosial, di dalamnya terdapat makna spiritual yang tinggi. Akan tetapi, kalau kesempatan ini dilakukan dengan semangat hura-hura, kemabukan dan sejenis dengan itu, makna yang sesungguhnya sudah hilang dan kebiasaan seperti ini tidaklah lebih dari sebuah tradisi.

Tujuan pengucapan syukur itu janganlah dinodai oleh keangkuhan, kemabukan, dan sifat duniawi yang tidak mencerminkan nilai sosial dan agama yang tinggi. Nila-nilai, spiritual perlu tetap dipelihara dalam upacara pengucapan syukur. Domba Paskah yang dipersembahkan/dipotong pada hari-hari keberangkatan mereka dari negeri perhambaan, terus dipelihara bangsa Israel. Ucapan syukur melalui korban domba anak sulung yang tidak bercacat cela itu menjadi lambang dari kematian Tuhan Yesus di salib Golgota. Dengan kematian, kemerdekaan yang sejati diberikan kepada umat-Nya, merdeka dari perhambaan dosa dan berhak beroleh kehidupan kekal.

Orang-orang Amerika menentukan sebuah hari Pengucapan Syukur karena mereka lepas dari penjajahan dan menjadi sebuah negara yang merdeka dan rakyat bebas melakukan tindakan yang sesuai dengan hati nurani dan Pernyataan Kemerdekaannya yang monumental itu.

Suku-bangsa Jawa memiliki tradisi pengucapan syukur atas panen yang berhasil dengan pemujaan kepada Dewi Sri. Upacara ini dilakukan dengan meriah, ditandai dengan pelbagai upacara dan penyerahan korban untuk penguasa laut selatan. Tradisi ini telah menjadi kebudayaan yang sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan keimanan agama tertentu. Persembahan syukur kepada Dewi Sri semacam pencerahan jiwa bagi orang tertentu, seperti orang Yunani memuja dewi kesuburan, atau seperti orang Mesir memuja Sungai Nil sebagai pemberian dewa kesuburan untuk Mesir. Di antara upacara pengucapan syukur ini ada sebuah persamaan yang tampak secara lahiriah, menyatakan sebuah pengakuan adanya kuasa yang lebih tinggi, yang melindungi.

Korban persembahan yang sejati sebagai pengucapan syukur

Yesus Kristus menjadi korban persembahan karena dosa kita, Ia mati sekali dan untuk selama-lamanya. Ucapan syukur atas kematian-Nya dapat dilakukan dalam doa-doa, nyanyian, pujian dan dalam kehidupan yang saleh.

Lazimnya, di dalam pelbagai kebaktian, selalu disertai dengan ucapan syukur, baik dengan persembahan untuk keperluan jemaat dan penginjilan, ucapan syukur kepada Tuhan atas berkat yang telah diberikan-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan syukur karena ulang tahun, kesehatan, kelepasan dari bencana yang mengancam, syukur kepada Tuhan karena berkat yang diberikan-Nya berkelimpahan, karena keberhasilan dalam karier, dan sebagainya.

Ucapan syukur yang sejati adalah ucapan yang dilakukan di dalam jalan yang benar. Kebenaran yang dipertanyakan Pilatus di dalam persidangan Yesus Kristus menjadi kebenaran sejati yang membawa keselamatan jiwa.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada orang Roma berkata seperti berikut: "Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah menaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu," (Roma 6:17). Banyak pengucapan syukur yang hanya sekadar upacara saja dan nilai spiritualnya tidak ada karena "Kebenaran, Jalan, dan Hidup" itu tidak ada di sana!

Hanya orang-orang yang telah dilepaskan dari perhambaan dosa, melalui korban di Golgota itu, yang diajarkan dalam kebenaran yang sejati, akan beroleh kemerdekaan yang benar-benar merdeka! Kepada orang-orang Korintus, Paulus menulis surat seperti berikut: "Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita," (1 Korintus 15:57).

Pengucapan syukur yang mendatangkan selamat hanyalah di dalam Yesus Kristus, Dialah yang memberikan kemenangan kepada kita. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita setiap saat mengucap syukur kepada-Nya. Bahkan setiap helaan napas kita hendaknya senantiasa menjadi bagian dari pengucapan syukur kepada Tuhan.

Diambil dari:

Judul artikel : Mari Bersyukur Kepada Tuhan!
Judul majalah : Kalam Hidup/Oktober/2005/no.714
Penulis artikel : Wilson Nadeak
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 12 -- 16
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar