Penerimaan Anak dalam Keluarga

Ditulis oleh: N. Risanti

"Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka akan belajar untuk mencintai. Jika anak-anak hidup dengan dukungan, mereka akan belajar untuk menyukai dirinya sendiri." - Dorothy Law Nolte

Kutipan di atas adalah bagian dari puisi berjudul "Children Learn What They Live", yang ditulis oleh Alm. Dorothy Law Nolte, seorang penulis dan konselor keluarga di Amerika. Puisi yang sangat menginspirasi banyak orangtua di seluruh dunia tersebut menyampaikan pesan yang jelas kepada kita sebagai orangtua: pola asuh orangtua akan sangat berpengaruh pada pembentukan karakter anak. Anak akan bertumbuh menjadi pribadi yang mampu menghargai dirinya dan orang lain serta mengembangkan segenap potensi dirinya, jika mereka, pertama-tama, mendapat penerimaan dan dukungan yang positif dari orangtua dan anggota keluarga. Tanpa penerimaan dan dukungan dari keluarga, terutama orangtua, seorang anak akan sulit untuk mengembangkan rasa percaya diri serta konsep diri yang positif.

Dalam buku "Membesarkan Anak Dengan Kreatif", karya B.S. Sidjabat, dikatakan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang mesti dipikirkan, diperhatikan, dan dipenuhi oleh orangtuanya. Kebutuhan tersebut adalah kasih, rasa percaya diri, harga diri, aktivitas yang membangun, dan rasa aman. Semua kebutuhan tersebut akan nyata dirasakan oleh anak dalam bentuk penerimaan dan dukungan dari orangtua, bahkan semenjak anak masih berada di dalam kandungan. Meskipun kasih Allah adalah hal yang paling penting dalam kehidupan seseorang, tetapi dari orangtualah anak pertama-tama akan merasakan bentuk dan ungkapan dari kasih tersebut. Jika orangtua mampu menyatakan kasihnya dalam ungkapan yang benar, anak-anak tidak akan sulit pula dalam memahami dan menerima kasih Allah di kemudian hari.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa penerimaan terhadap anak bahkan perlu dilakukan semenjak anak masih berada di dalam kandungan. Sayangnya, banyak pemahaman yang salah dalam budaya kita yang menganggap bahwa kehidupan bayi dalam kandungan belumlah penting karena ia belum dilahirkan dan belum berwujud dalam rupa pribadi yang nyata. Sementara, dalam Mazmur 139:15-16 dinyatakan bahwa Allah telah mengenal kita semenjak kita menjadi bakal anak (dalam versi NASB dan KJV disebutkan sebagai "formless" dan "unformed", atau belum berbentuk - Red.) dan mengetahui hari-hari yang akan kita jalani. Hal itu menunjukkan bahwa Allah menganggap setiap pribadi adalah berharga, dan telah memiliki rencana terhadap hidup mereka semenjak mereka belum berbentuk di dalam kandungan.

Apa yang terjadi pada anak yang tidak mendapat penerimaan yang dibutuhkannya?

Anak yang tidak menerima dukungan dan penerimaan dari orangtua maupun lingkungannya pada masa pertumbuhan dan perkembangan akan mengembangkan konsep diri yang negatif. Konsep diri negatif adalah pemikiran yang memandang diri sendiri dengan cara yang negatif, yaitu: "saya tidak menarik", "saya terlalu gemuk", "saya terlalu kurus", "saya terlalu bodoh", atau bahkan "saya terlalu pintar", "saya terlalu tinggi", "saya terlalu rajin". Anak-anak yang bertumbuh dengan konsep diri negatif akan mengalami berbagai hambatan dalam hidup dan relasinya, sebab konsep dirilah yang menentukan bagaimana seseorang bereaksi atau menanggapi dunia di luar dirinya, serta sejauh mana ia puas dengan hidupnya.

Seseorang yang merasa tertolak atau tidak mendapat cukup penerimaan dan dukungan akan menafsirkan segala sesuatu sebagai penolakan terhadap diri mereka, bahkan dari tatapan mata maupun sikap yang tidak penting dari orang lain. Mereka akan mengembangkan sifat sensitif yang berlebihan serta terlalu fokus pada diri sendiri. Hal-hal tersebut akan menjadi penyebab kurang terampilnya mereka dalam mengelola relasi dengan yang lain, yang tampak dalam sikap kurang pandai bergaul, suka menarik diri, dan sukar untuk bersikap ramah kepada yang lain. Tak jarang, sikap suka merendahkan atau egois mereka perlihatkan guna menjadi benteng pertahanan atau cara menghindar dari perasaan tertolak. Selain mengalami luka-luka batin (kepahitan) serta menjadi pribadi yang bermasalah ketika dewasa, anak-anak yang memiliki perasaan tertolak akan sulit untuk mengembangkan potensi dirinya, mencapai prestasi, serta memiliki kepuasan dalam hidup.

Bagaimana orangtua dapat menerima anak-anak sebagaimana adanya mereka?

Pertama-tama, sadarilah bahwa Allah begitu mengasihi kita dengan tanpa syarat, seperti yang dinyatakan dalam Roma 5:8, "... oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Allah, yang Mahakuasa dan Mahasempurna, pencipta semesta alam, mengasihi kita. Ia mengasihi kita bukan di saat ketika kita telah bertobat, menjadi orang baik-baik, dan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Tidak, Ia mengasihi kita ketika kita masih berdosa, belum mengenal-Nya, bahkan jika kita sampai saat ini masih sering kali mendukakan hati-Nya. Tidak sampai di situ, Ia juga mengirimkan putera-Nya ke dalam dunia untuk menderita dan mati disalibkan sebagai tebusan atas dosa-dosa yang kita lakukan sehingga kita dapat diselamatkan.

Menyadari kenyataan tersebut, tidakkah seharusnya kita juga meneladani Allah yang telah mengasihi kita dengan tanpa syarat? Paulus yang telah sungguh-sungguh merasakan betapa besar anugerah yang ia peroleh dari Kristus berkata, "namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku." Seperti juga Paulus, hendaknya kita hidup di dalam Kristus dengan menunjukkan cinta kasih yang tulus dan tanpa syarat kepada anak-anak yang sudah Tuhan anugerahkan kepada kita.

Kedua, Allah melalui Kristus, sesungguhnya sudah memberikan landasan yang kuat bagi manusia untuk membangun konsep dirinya. Alkitab dengan jelas menyatakan hal tersebut dalam Markus 1:11: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan". Melalui pernyataan tersebut, Allah hendak memenuhi tiga kebutuhan manusia yang terdalam untuk membentuk konsep dirinya, yaitu: identitas diri ("Inilah anak-Ku"), perasaan aman ("yang Kukasihi"), dan merasa berharga ("kepada-Nyalah aku berkenan"). Ketika seseorang dapat merasakan bahwa dirinya diterima dan diakui sebagai anak oleh Allah, maka ia dapat memiliki konsep diri yang positif sebagai seorang pribadi. Konsep dirinya tidak lagi tergantung pada apa yang dikatakan oleh dunia, tetapi oleh jaminan kasih Allah yang tulus, yang sekaligus juga akan memampukannya untuk menjalani hidup sesuai dengan panggilan Allah.

Ketiga, Alkitab penuh dengan kisah kasih Allah terhadap umat-Nya di sepanjang sejarah, mulai dari kitab Perjanjian Lama hingga kitab Perjanjian Baru. Meskipun di dalam kitab Perjanjian Lama sering kali Allah digambarkan murka terhadap umat-Nya, tetapi Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya dan membiarkan mereka sendiri. Bahkan, murka dan hajaran dari Allah merupakan bentuk kasih dan didikan kepada anak-anak-Nya seperti yang dinyatakan dalam Ibrani 12:6 dan Amsal 13:24. Jika kita tidak pernah mendapat disiplin dari Allah, kita akan menjadi anak-anak gampang (Ibrani 12:28), yang tidak akan pernah belajar untuk bertumbuh dan memiliki karakter yang diinginkan Allah. Karena itu, jika anak-anak melakukan kesalahan, kita pun perlu melakukan tindakan untuk mendisiplin mereka. Namun, tentu saja cara-cara untuk mendisiplin anak harus disesuaikan dengan usia dan pemahaman dari masing-masing anak. Mendisiplin anak juga harus jauh dari unsur kekerasan, baik secara fisik maupun verbal. Anak-anak harus menyadari bahwa ketika orangtua menegur atau mendisiplin mereka, itu merupakan salah satu bentuk kepedulian dan kasih orangtua agar anak-anak belajar menghargai otoritas, bertanggung jawab, dan mampu membuat keputusan secara benar. Jika kita melakukannya dengan dorongan dan sikap yang benar, anak-anak dengan sendirinya akan mampu menangkap "pesan" tersebut dan tidak akan menganggap orangtua sebagai pribadi yang kejam atau tidak mengasihi dan mendukung mereka. Efesus 6:4 menjadi panduan terbaik bagi para orangtua untuk melakukan disiplin yang penuh kasih kepada anak-anak, yaitu berdasarkan ajaran dan nasihat dari Tuhan sendiri.

Lalu, apa yang dapat dilakukan orangtua untuk mengekspresikan penerimaan dan dukungan terhadap anak?

Kasihilah anak-anak sebagaimana adanya mereka. Jangan menuntut mereka untuk menjadi seperti yang orangtua inginkan, atau dalam standar-standar yang kita miliki. Dorong mereka untuk melakukan apa yang mereka sukai, untuk mencapai kepenuhan potensi mereka. Berikan kesempatan kepada mereka untuk membuat dan menentukan berbagai keputusan dari diri mereka sendiri, untuk kemudian bertanggung jawab atas keputusan yang mereka pilih. Fasilitasi mereka untuk selalu berkesempatan memberi pendapat, bertanya, berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di rumah, bahkan membuat aturan-aturan yang harus disepakati oleh setiap anggota keluarga. Milikilah waktu yang berkualitas bersama mereka, untuk bertumbuh dan belajar bersama mereka. Ketika mereka gagal, pastikan bahwa kita tetap mengasihi dan mendukung mereka, bahwa kegagalan merupakan pelajaran dan proses alami yang harus mereka miliki. Di atas semua itu, sertakanlah Allah selalu di dalam pengasuhan anak-anak kita. Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki oleh setiap orang, kita akan senantiasa membutuhkan anugerah dan belas kasih-Nya untuk menuntun kita dalam mendidik dan membesarkan anak-anak.

Sumber bacaan:

  1. Sidjabat, B.S. 2008. "Membesarkan Anak dengan Kreatif". Penerbit ANDI, Yogyakarta.
  2. Gunadi, Paul. 2011. "Konsep Diri". Dalam http://c3i.sabda.org/konsep_diri
  3. Omartian, Stormie. "Parental Love and Acceptance". Dalam http://www.familylife.com/articles/topics/parenting/foundations/spiritual-development/parental-love-and-acceptance
  4. Harefa, Andrias. 2015. "Revolusi Hati: Menjadi Manusia Bintang Lima". Dalam http://www.slideshare.net/sabda/revolusi-hati-2015sabdabintang-5
  5. Leman, Kevin. 1984. "Making Children Mind Without Losing Yours". Flemming H. Revell, Grand Rapids.
Tipe Bahan: 
Kolom e-Wanita: 
kategori: 

Komentar