Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

Feed aggregator

Diskusi Buku “Pencobaan” di Klub Buku SABDA

RSS Blog SABDA - Mon, 08/13/2018 - 11:32

Oleh: Santi

Di tengah-tengah kesibukan tim SABDA mengerjakan proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT), tim Penjangkauan YLSA membuka diskusi buku pada pertengahan semester I lalu. Buku "Pencobaan" karya John Owen yang diterbitkan oleh Momentum menjadi bahan diskusi di Klub e-Buku SABDA periode Juni-Juli 2018. Dengan 32 peserta dan seorang moderator, diskusi KBS bisa berlangsung dengan lancar dan dinamika diskusi cukup menarik. Tidak hanya menjawab pertanyaan atau mendiskusikan isi buku, tetapi peserta juga menyelipkan pengalaman atau kesaksian pribadi terkait topik yang sedang dibahas. Inilah yang membuat diskusi menjadi hidup dan berkesan. Oh ya, jangan hanya saya yang memberi kesan, teman-teman yang lain juga ada yang mau memberi kesan atau kesaksian lho. Ini dia ....

Juni Liem:
Mau lebih banyak menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Karena sering kali di tengah kelelahan, firman Tuhan dan doa diabaikan dan memilih tidur.

Pertanyaan yang diberikan oleh moderator, membuat saya belajar untuk berpikir lebih kritis dan merenung karena tidak semua pertanyaan berasal dari buku. Dan, saya pun banyak belajar dari komentar teman-teman yang lain.

Suratman Aripin:
Aplikasi yang saya lakukan setelah mengikuti diskusi ini: belajar mencari titik lemah saya, membawanya dalam doa, dan tidak menyepelekan titik awal kejatuhan saya. Jadi, saya harus lebih berhati-hati (berjaga-jaga). Kesaksian saya selama mengikuti diskusi ini: saya sungguh bersyukur walaupun sebelumnya saya pernah membaca buku ini secara pribadi, tetapi melalui diskusi ini saya semakin dipertajam pemahamannya, khususnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh moderator dan juga masukan dari rekan-rekan lainnya. Sekali lagi, terima kasih diskusi ini sungguh bermanfaat bagi saya. Dan, terus kembangkan pelayanan ini.

Puji Arya Yanti:
Buku ini membawa saya untuk mengamini sekali lagi bahwa tetap berjaga-jaga dan berdoa adalah perlengkapan untuk mengadapi pencobaan.

Kesan selama diskusi: Tidak semua jawaban pertanyaan mengacu buku, tetapi berasal dari pendapat peserta dan itu semakin memperkaya isi buku ini. Terima kasih untuk peran aktif moderator dan teman-teman diskusi, dan mohon maaf saya sering terlambat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Terima kasih.

DanceYefrason Faah:
Ada hal-hal baru yang saya dapatkan dalam diskusi kali ini. Dan, hal-hal itulah yang saya pakai untuk kekuatan saya. Pokoknya sangat membantu saya dalam pertumbuhan/proses menjadi murid Kristus. Luar Biasa. Doa dan harapan saya, semoga Tuhan selalu memberkati semua tim YLSA agar selalu menjadi saluran berkat bagi orang lain. Amin!

Prilian Abet Nego:
Diskusi ini menolong saya memahami tentang pencobaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan rohani. Saya harus bisa menyadari potensi pencobaan yang hadir. Kemudian, terus menyadari kelemahan yang sering membawa jatuh ke dalam pencobaan. Setiap pencobaan harus dilawan. Setiap waktu harus berdoa dan berjaga-jaga agar kuat menghadapi pencobaan. Terima kasih sudah bisa berdiskusi bersama, menambah wawasan, dan saling menguatkan.

Arief Kristianto:
Melalui diskusi ini, saya mendapat berkat kembali diingatkan untuk terus mendekat kepada Tuhan karena pencobaan (yang ternyata sangat berbahaya) selalu akan kita hadapi. Hanya dengan kekuatan dari Tuhanlah, kita bisa mengatasi semua pencobaan. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah aktif berdiskusi. Tuhan memberkati kita semua.

Romauli Boru Marpaung:
Aplikasi bagi saya sendiri adalah saya bisa mengetahui kapan saat pencobaan itu mulai ada, dan bagaimana cara saya bisa menghadapinya. Kesannya, saya bisa lebih berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Saya juga bisa memperlengkapi diri saat dengan siap melalui doa untuk menang menghadapi segala pencobaan jikalau Tuhan izinkan itu terjadi.

Sebagai penutup, ingatlah kutipan pendek ini, yang saya ambil dari buku "Pencobaan" karya John Owen, "Bertindak sesuai panggilan Yesus merupakan satu-satunya jalan yang telah Allah tetapkan untuk menjaga Anda agar tidak masuk ke dalam pencobaan dan jatuh ke dalam dosa." Doa saya, diskusi buku ini bisa menjadi berkat bagi peserta, terutama untuk mendorong mereka semakin dekat dengan Tuhan dan peka akan kehendak-Nya. Sekian kesaksian saya dan teman-teman dari Klub e-Buku SABDA tentang diskusi buku kali ini. Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati.

Hasil Belajar: “Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital”

RSS Blog SABDA - Mon, 08/06/2018 - 14:05

Oleh: Santi

"Teladan berbicara lebih kuat daripada ribuan kalimat." Pesan ini masih membekas dalam hati saya, dan memang harus diakui bahwa hal ini benar. Baik sebagai orang tua, guru, maupun pemerhati anak, pesan ini berlaku bagi kita semua dalam mendidik anak-anak. Akan sangat tidak bijaksana jika kita menuntut anak untuk melakukan ini-itu atau melarangnya berbuat ini-itu, tetapi kita, sebagai orang tua, malah melakukannya, bahkan di depan mereka. Oops, sebelum saya lebih menggebu-gebu lagi melanjutkan topik ini, saya akan menceritakan latar belakang di balik tulisan saya ini ... tenang saja, tidak akan panjang kok.

Sabtu, 28 Juli 2018, saya dan Ody hadir di seminar parenting "Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital" di Graha Anugrah, Surakarta. Seminar dimulai pukul 08.30 WIB yang dibuka dengan menyanyikan lagu pujian dan doa pembukaan, lalu dilanjutkan dengan pembahasan topik seminar oleh Ibu Vik. Mercy Matakupan, S.Th. selaku pembicara seminar. Beliau adalah seorang guru sekolah minggu dan pelayan Tuhan yang aktif dalam bidang parenting. Seminar ini terbagi menjadi 2 sesi; sesi 1 untuk mengenal generasi digital dan sesi 2 membahas tantangan mendidik anak pada era digital. Selama penyampaian materi, Ibu Mercy selalu menggunakan contoh-contoh nyata yang pernah beliau alami/temui ketika mengajar sekolah minggu ataupun mendidik anaknya.

Lanjut ke topik lagi ya. Mendidik anak pada era digital tidak mudah, ada banyak tantangan. Namun, orang tua/guru SM jangan melihat tantangan dari sisi era digitalnya saja, tetapi perlu disadari bahwa pada dasarnya kita adalah orang berdosa, dan anak kita juga orang yang berdosa. Kita tidak bisa mendidik dan menolong anak kita sendirian, kita perlu pertolongan Tuhan. Bahkan, sebelum kita menuntut anak-anak kita, Tuhan akan mengubahkan kita terlebih dahulu. Tujuan Tuhan bukan menjadikan kita orang tua yang berbahagia, tetapi menjadikan kita serupa dengan Kristus.

Sejak dahulu, esensi dosa adalah sama (tidak suka Tuhan, tidak taat, tidak suka firman Tuhan), tetapi kemasannya berbeda-beda. Pada era digital ini, kemasan dosa sangat menarik, bahkan sampai membuat anak-anak kecanduan. Mulai dari film, iklan, lagu, permainan, sampai musik, memberikan hiburan bagi anak-anak dan menjadi cara dunia merampas hati mereka. Lebih parahnya lagi, semuanya ini tidak menjadi hiburan belaka, tetapi menjadi sebuah budaya -- budaya hiburan, pop culture. Dalam mendidik anak, orang tua harus menyadari bahwa anak yang mereka didik saat ini merupakan bagian dari generasi yang lebih suka hiburan daripada didikan; generasi yang lebih suka menonton daripada mendengarkan; generasi yang cepat puas, cepat bosan, tidak suka proses, egois; dan generasi menunduk (karena selalu melihat smartphone). Ini adalah suatu peperangan rohani yang harus kita sadari. Secara tidak langsung, ada penghancuran karakter, moral, iman, melalui berbagai hal yang ditawarkan dunia ini, khususnya melalui hiburan dan kenyamanan yang disajikan. Karena itu, mendidik anak adalah suatu peperangan rohani. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak pada era digital?

1. Orang tua mengisi kebutuhan rohani anak.
2. Mengembalikan sistem nilai yang rusak.
3. Menjadi teladan.
4. Disiplin dalam kasih dan konsistensi.
5. Mencari waktu terbaik untuk berbicara dengan anak.
6. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial/bersama.

Ingat! Kita tidak bisa mengerjakannya sendirian. Kita memerlukan pertolongan Tuhan dan harus rela mengajarkan kebenaran kepada anak secara berulang-ulang (Ulangan 6:6-9). Pelajaran penting yang saya peroleh adalah orang tua harus memiliki visi dan meminta belas kasih kepada Tuhan supaya ketika mendidik anak-anak, orang tua tahu ke mana akan membawa mereka bertumbuh. Kiranya tulisan ini menjadi berkat bagi kita semua. Terpujilah nama Tuhan.

Hasil Belajar dari SPIK: “You Are What You Love”

RSS Blog SABDA - Fri, 08/03/2018 - 09:47

Oleh: *Yunike

Pada 23 Juli 2018, saya bersyukur karena mendapat kesempatan dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) untuk mengikuti Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dengan tema “You Are What You Love” di Adhiwangsa Hotel, Solo, oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Awalnya, saya tidak begitu berminat untuk mengikuti seminar. Namun, setelah saya pikir-pikir, mungkin akan ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari sana. Sekitar pukul 17.30 WIB, saya berangkat bersama staf SABDA yang lain. Sebelum seminar dimulai, panitia memberi kesempatan untuk peserta menikmati snack yang sudah disediakan.

Sekitar pukul 19.00 WIB, acara seminar dimulai oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Beliau membuka sesi dengan menjelaskan poin-poin apa saja yang akan dibahas selama sesi, yaitu sifat atau natur manusia, dan tugas manusia maupun tugas gereja. Selama sesi, saya merasa bahwa beliau menyampaikan materi terlalu cepat. Pada awalnya, apa yang disampaikan beliau mengenai sifat dan natur manusia dapat saya pahami. Tujuan manusia ketika diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berbicara tentang tugas manusia, sesuai yang tertulis dalam Kejadian 1:26. Yang pertama adalah memelihara ciptaan lain (dominion), lalu yang kedua adalah beranak cucu dan penuhilah bumi (reproduksi). Tuhan ingin manusia menjadi representasi Allah yang berkuasa atas seluruh bumi, menaklukkan bumi bagi Tuhan. Sebagai "image of God", ada dua kecenderungan dalam manusia berelasi, yaitu sebagai makhluk rasional dan emosional. Sebagai makhluk rasional, manusia pasti tahu alasan mereka menjalankan banyak hal. Beliau memberi contoh kepada peserta, jika diberi pilihan untuk makan nasi setiap hari atau pop corn, manusia pasti akan memilih nasi karena kebutuhan gizi dari nasi lebih diperlukan. Sebagai makhluk emosional, beliau mengaitkan dengan musik. Tanpa mengetahui tangga nada, keteraturannya, maupun struktur musik, manusia tetap dapat menikmati musik. “As long as it feels good,” begitulah beliau mengungkapkan filosofi manusia tentang musik.

Pada bagian selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa manusia tidak hanya makhluk rasional dan emosional, tetapi manusia juga adalah makhluk yang mencintai. Yang menggerakkan manusia melakukan sesuatu bukan hanya apa yang diketahui dan dirasakan, tetapi juga apa yang dicintai. Orang percaya tahu bahwa berdoa, membaca firman Tuhan, dan saat teduh adalah penting. Namun, kalau tidak mencintai Allah, manusia tidak akan melakukannya atau akan melakukan, tetapi dengan terpaksa. Beliau menjelaskan ketika Yesus mulai mencari murid-Nya, Dia berkata dalam versi bahasa Inggris, “What do you want?” Ketika Petrus menyangkal Yesus, dan Yesus kembali bertemu dengan Petrus, Yesus tidak bertanya apakah kamu menyesal, tetapi Yesus bertanya, "Apakah kamu mengasihi-Ku, Petrus?" Ketika Petrus sadar bahwa dia mengasihi Tuhan lebih dari apa yang dimiliki bahkan hidupnya, dia rela melakukan perintah Tuhan hingga mati disalib terbalik. Beliau mengutip Amsal 4:23 yang menjelaskan bahwa kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh hati, di mana hartamu berada (berkaitan dengan mengikut Yesus), di situ pula hati kita juga berada.

Beliau juga menjelaskan, love dan feeling adalah dua hal yang berbeda. Feeling ada saatnya naik dan turun, sedangkan love akan konstan naik. Love adalah habit, sesuatu yang selalu kita lakukan tanpa sadar. Membangun suatu habit (kebiasaan), yaitu dengan belajar dan berlatih. Selain latihan, hal lain yang memengaruhi habit adalah liturgi atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang memengaruhi kita tanpa sadar. Tugas gereja adalah mengerjakan liturgi yang membawa nilai-nilai yang berbeda dari dunia.

Dalam perjalanan kembali ke mess, saya kembali merefleksikan apa yang telah disampaikan melalui seminar tadi. Satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya adalah “Di mana hati saya berada saat ini? Apakah saya akan sangat bersedih ketika saya kehilangan hadirat Tuhan?” Memang sulit untuk terus berkomitmen dan melekatkan hati kita hanya kepada Tuhan. Namun, seperti yang dikatakan Vik. Heru Lin, terus belajar dan berlatih adalah kunci untuk membangun habit atau kebiasaan untuk mencintai Tuhan lebih dari apa pun. Saya bersyukur karena melalui Roh Kudus-Nya, Tuhan mendorong saya untuk mengikuti seminar ini karena ada hal baru yang saya peroleh, yang dapat membuat saya mengerti bahwa "saya adalah apa yang saya cintai".

SABDA dalam Kegiatan Bible Fellowship di Yayasan Berita Hidup

RSS Blog SABDA - Mon, 07/16/2018 - 09:36

Oleh: *Agatha

Shalom,

Suatu kebanggaan tersendiri, khususnya bagi saya, karena diberi kesempatan untuk menulis blog ini. Jika ada peribahasa mengatakan "tak kenal, maka tak sayang", izinkan saya untuk memperkenalkan diri. Nama saya Agatha Ria Budiyana, saya adalah staf magang di Yayasan Lembaga SABDA. Saya ingin membagikan pengalaman pertama saya ketika mengikuti roadshow SABDA pada acara Bible Fellowship di STT Berita Hidup. Pada hari kedua magang, Kak Evi mengajak saya untuk mengikuti acara 'briefing' mendadak. Awalnya, saya bingung, kemudian Kak Evi menjelaskan bahwa SABDA akan roadshow di STT Berita Hidup, yaitu untuk mengajar anak-anak sekolah minggu, remaja-pemuda, serta guru sekolah minggu tentang bagaimana belajar Alkitab dengan menggunakan gadget. Saya belum pernah mengikuti roadshow SABDA sehingga saya tidak ada gambaran bagaimana acara tersebut dilakukan. Untung ada rekan-rekan staf SABDA lain yang menolong saya. Kami pergi berenam, yaitu saya, Steven (staf magang juga), Kak Evi, Kak Tika, Kak Kun, serta Kak Ariel.

Sehari sebelum roadshow, kami melakukan berbagai persiapan, mulai dari persiapan bahan materi, cara penyampaian materi, serta alat-alat yang akan dibawa untuk acara nanti. Kami dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu saya, Steven, dan Kak Evi masuk ke kelas guru sekolah minggu. Kak Kun dan Kak Ariel masuk ke kelas remaja-pemuda, lalu Kak Tika dibantu oleh Oci ke kelas anak sekolah minggu. Saat hari roadshow tiba, yaitu pada Jumat, 13 Juli 2018, saya, Steven, dan Kak Evi datang lebih awal untuk menyiapkan booth SABDA di dekat tempat anak-anak beribadah. Kami menata traktat-traktat untuk anak-anak, CD-CD Alkitab audio, dan brosur-brosur pelayanan YLSA. Menariknya, anak-anak sangat tertarik dengan traktat Tuhan Yesus Menyelamatkanmu. Mungkin karena traktat tersebut memiliki banyak gambar. Ceritanya juga menarik, yaitu tentang bagaimana kita, walaupun masih anak-anak sudah penuh dengan dosa. Puji Tuhan, Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan kita melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Mereka antusias melihat traktat itu. Saya dan Steven juga mendapatkan pengalaman yang berkesan saat membantu anak-anak menginstal aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Tafsiran, AlkiPEDIA, dan Peta) ke dalam HP mereka. Kami dapat melakukannya dengan baik walaupun menghadapi beberapa kesulitan, misalnya ketika ada HP yang tidak memiliki aplikasi SHAREit dan tidak memiliki paket data. Kalau memakai bluetooth instalasi, akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Sebenarnya, ada Wi-Fi di lokasi STT Berita Hidup, tetapi entah kenapa Wi-Fi-nya kurang bersahabat. Kesulitan lain adalah ketika memori HP penuh saat diinstal. Itu semua merupakan pengalaman yang mengesankan bagi saya.

Ketika acara pelatihan dimulai, teman kami, Oci, tidak bisa hadir karena ada urusan yang perlu diselesaikan di kampus. Nah, hal itu mengubah posisi saya yang awalnya berada di zona agak nyaman, yaitu di kelompok guru sekolah minggu, harus pindah ke kelompok anak-anak sekolah minggu. Pada awalnya, saya sedih karena saya tidak punya persiapan apa pun untuk menghadapi anak-anak sekolah minggu. Namun, akhirnya, saya bisa maju mendampingi Kak Tika untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Anak-anak sekolah minggu yang imut-imut mulai masuk ke dalam ruangan dengan sangat ribut. Namun, puji Tuhan, ketika Kak Tika mulai menyampaikan materi, mereka bisa duduk diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh Kak Tika. Kak Tika menceritakan kepada anak-anak sekolah minggu bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, dan manfaat firman Tuhan menurut 2 Timotius 3:16 ada empat, yaitu untuk mengajar, memperbaiki kelakuan, menyatakan kesalahan, serta mendidik orang dalam kebenaran. Beberapa anak antusias ketika ditanya, "Siapa yang belum dapat traktat?" Banyak anak yang mengacungkan jarinya, dan saya membantu Kak Tika untuk memberikan traktat tersebut kepada anak-anak. Saya sangat senang melihat mereka yang sudah mendapatkan traktat langsung membacanya dan ingin tahu apa isinya. Mereka terlihat sangat serius dan tenang ketika membaca isi traktat tersebut. Itulah pengalaman saya ketika mengikuti roadshow di STT Berita Hidup, walaupun sebenarnya masih banyak pengalaman lain yang tidak dapat saya tuliskan semua di sini.

Melalui kegiatan roadshow SABDA pada acara Bible Fellowship di STT Berita Hidup ini, saya mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran. Pertama, saya belajar untuk sabar ketika mencoba membantu anak-anak dalam menginstal aplikasi SABDA dengan berbagai macam kondisi HP. Kedua, saya belajar untuk mencari akal bagaimana caranya agar aplikasi SABDA dapat terinstal di kondisi HP yang kurang mendukung. Ketiga, bersikap fleksibel terhadap situasi yang berubah. Kiranya melalui roadshow SABDA ini, banyak anak-anak serta para guru sekolah minggu terberkati dengan adanya aplikasi Alkitab SABDA di HP mereka masing-masing. Tuhan Yesus memberkati.

Raker Mini YLSA 2018 — Melayani dan Mengasihi Lebih Sungguh

RSS Blog SABDA - Tue, 07/10/2018 - 09:47

Oleh: Markus

Setelah mengawali Juni 2018 dengan kegiatan piknik ke Kedung Ombo, awal Juli seluruh staf SABDA mempersiapkan dengan sungguh-sungguh rapat kerja (raker) mini 2018. Suasana piknik sepertinya membawa kesegaran bagi semua staf untuk mempersiapkan raker. Seluruh staf, termasuk saya, bahu-membahu menyusun laporan kerja sepanjang semester I 2018 dengan kompak. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Yulia, raker seharusnya menjadi sukacita kami bersama karena dapat melihat dan memetik buah-buah pelayanan SABDA yang dikerjakan selama satu semester kemarin. Raker mini YLSA, yang diadakan pada 2 — 3 Juli 2018 ini adalah raker mini pertama yang saya ikuti sejak menjadi staf di SABDA. Yang istimewa, raker kali ini juga dihadiri oleh Bapak Tjahjadi selaku Badan Pembina YLSA.

Hari I: 2 Juli 2017: Laporan dan Rencana Kerja: Tim ITS, IT4GOD, PAS, AYT, Proyek Komik dan Video Tetelestai

Raker hari pertama dibuka dengan makan nasi kuning plus lauk-pauknya, yang menurut beberapa staf beda dari menu raker biasanya. Sebelum memulai raker, moderator menyampaikan gambaran singkat isi raker hari I, yaitu laporan dan rencana dari tim ITS, IT4GOD, PAS, AYT, dan Komik. Selama raker berjalan, seluruh staf harus aktif memberi pertanyaan atau komentar kepada presenter. Hal ini akan sangat berguna sekali, khususnya karena hari I akan diisi dengan banyak laporan dan penjelasan proyek baru yang YLSA kerjakan.

Untuk membuka raker, Pak Tjahjadi, sebagai ketua Badan Pembina, memberikan kata-kata penyemangat kepada kami. Pak Tjahjadi merasa bangga karena YLSA mengerjakan pekerjaan yang bernilai kekal. Sebagai staf YLSA, meskipun terdiri dari orang-orang biasa, kita dapat turut ambil bagian melakukan pekerjaan yang bernilai kekal dalam kesementaraan kita. Apalagi jika melihat buah-buah pelayanan YLSA yang telah banyak dipakai mulai dari orang desa sampai orang kota dari seluruh Indonesia. Pak Tjahjadi mengutip Kolose 3:23 bahwa YLSA mengerjakan pekerjaan Tuhan, suatu anugerah yang patut disyukuri. Oleh sebab itu, Pak Tjahjadi merasa terbeban untuk turut ambil bagian dalam karya pelayanan YLSA. Beliau sebenarnya sudah tahu apa yang dikerjakan SABDA sejak lama, tetapi baru saat ini beliau melihat momen yang tepat untuk terlibat secara langsung, yaitu dalam pengerjaan proyek Bible Engine. Mendengar kabar baik ini, kami sungguh berlimpah dengan sukacita.

Laporan hari pertama difokuskan untuk proyek-proyek seputar Alkitab. Kualitas diskusi raker semakin mengasyikkan karena kami melihat potensi-potensi di bidang teknologi yang dapat dikembangkan dalam pelayanan YLSA. Satu per satu anggota tim ITS melaporkan dengan antusias perkembangan proyek tim ITS. Kami juga ikut melihat bagaimana Tuhan bekerja lewat kursus "IT4GOD" yang dilakukan oleh Bapak Jeffrey Liem untuk anak-anak dan remaja di Tanjung Pinang. Setelah itu, ada laporan dari proyek khusus ITL Builder dan aplikasi Alkitab SABDA untuk bahasa India. Puji Tuhan! Dari laporan ini, saya melihat bahwa dari Indonesia, Tuhan bergerak untuk memberi pengaruh ke negara-negara lain untuk memakai teknologi menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan.

Perkembangan teknologi membawa YLSA untuk melangkah lebih maju dengan strategi-strategi baru, yang tidak saja mengedepankan bahan-bahan teks, tetapi menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi sekarang. Apa itu? Eiit, tunggu tanggal mainnya. Puji syukur, strategi-strategi baru ini semakin membuat kami semangat, terutama menyaksikan laporan dari tim IT4GOD, PAS, dan AYT, yang semuanya menunjukkan bagaimana Allah sungguh bekerja melalui proyek-proyek ini. Terlebih proyek AYT yang sebentar lagi mendekati proses akhir tahap 5. Raker hari I ditutup dengan laporan dan rencana kerja proyek-proyek baru, yaitu komik-komik Alkitab dan video Tetelestai. Meskipun kami melihat banyaknya panenan yang dituai, kami juga menyadari adanya kebutuhan penuai-penuai yang lebih banyak lagi. Jadi, dukunglah dan doakan kami terus, ya!

Hari II: 3 Juli 2018: Laporan dan Rencana Kerja: Tim Multimedia, Penjangkauan, Pembinaan, Pendidikan Kristen, dan Administrasi

Pada hari II ini, Pak Jeffrey membuka raker dengan memberikan renungan yang diambil dari Efesus 2:10. Seperti yang juga disampaikan oleh Pak Tjahjadi, sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus, kita tidak saja menikmati keselamatan. Ada pekerjaan mulia yang dapat kita lakukan untuk Allah. Hal ini karena rasa syukur kita kepada Allah sehingga kita bekerja bagi-Nya. Pelayanan YLSA merupakan anugerah, sebab staf YLSA dapat melayani semata-mata karena kasih Tuhan. Oleh sebab itu, Pak Jeffrey mengingatkan supaya kita semakin tekun bekerja bagi Allah. Bapak Jeffrey menambahkan bahwa di dunia IT ada namanya 'continous learning', yaitu terus belajar supaya tidak ketinggalan perkembangan teknologi. Itu berarti setiap staf YLSA harus terus belajar, belajar bagaimana mengembangkan dan memajukan pekerjaan Tuhan.

Laporan hari II dimulai dari tim Multimedia yang akan menjadi salah satu fokus pelayanan YLSA. Jalur-jalur baru seperti komik menjadi andalan YLSA pada semester II. Di sisi lain, kami mengakui masih ada hambatan untuk menerapkan "media first" di YLSA karena keterbatasan sumber daya manusia. Akan tetapi, dengan semangat baru, masing-masing tim berusaha membantu tim multimedia untuk maju bersama. Syukur kepada Tuhan, kami melihat proyek-proyek multimedia tidak harus dikerjakan oleh tim multimedia sendiri, karena setiap tim akan ambil tugas multimedia sehingga tim multimedia akan lebih kuat. Laporan dilanjutkan oleh tim Penjangkauan, Pembinaan, dan Pendidikan Kristen. Masing-masing tim ini sepakat untuk mengembangkan publikasi lewat jalur aplikasi, seperti yang sudah tersedia di apps Publikasi SABDA.

Akhirnya, acara raker ditutup dengan kesaksian yang diambil Ibu Yulia dari hasil menyunting buku The Great Mission. Renungan ini mendorong saya untuk tetap bersemangat dalam melayani dan mengasihi Tuhan sebesar apa pun tantangan yang harus saya hadapi. Kami pun menutup raker dengan membuat lingkaran sambil menyanyikan "Melayani, Melayani Lebih Sungguh". Harapan saya, seluruh staf, volunter, mitra, donatur, sahabat, dan pendukung YLSA mengaminkan lagu tadi. Mari kita giat melayani karena Tuhan telah lebih dahulu melayani kita. Mari kita bersatu hati berseru TGBTG (to God be the glory)! Segala kemuliaan bagi Tuhan!

Pengalaman Mengerjakan Komik Alkitab di SABDA

RSS Blog SABDA - Mon, 07/02/2018 - 12:37

Oleh: Yudo

Sejak April 2018, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) mengerjakan sebuah proyek yang sama sekali berbeda dari proyek-proyek sebelumnya. Jika selama ini SABDA dikenal sebagai penyedia Alkitab dan bahan-bahan biblika, kini Tuhan menantang SABDA untuk melakukan sesuatu yang sedikit berbeda, penerjemahan komik Alkitab!

Saya baru melamar kembali ke SABDA tepat saat Tuhan memberikan proyek ini untuk dikerjakan di SABDA, dan saya sangat bersyukur dapat menjadi bagian untuk mengerjakan proyek yang sangat menarik ini. Suka membaca komik dan memiliki pengalaman menerjemahkan, sangat menolong saya untuk jatuh hati pada proyek ini. Namun demikian, menikmati sebuah komik sangat jauh berbeda dengan menerjemahkannya.

Sejauh ini, ada tiga komik yang sedang dikerjakan SABDA:

1. Komik Jezus Messiah: Naskah dan ilustrasi komik bergaya franco-belgian ini dibuat oleh Willem de Vink, seorang seniman komik dari Belanda. Komik ini diterbitkan oleh Wycliffe Netherlands dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Komik Jezus Messiah menitikberatkan ceritanya pada perjalanan pelayanan Tuhan Yesus, mulai dari baptisan-Nya di Sungai Yordan, penyaliban-Nya, sampai kenaikan-Nya ke surga. Komik ini juga dilengkapi dengan panduan pendalaman Alkitab yang dikembangkan dari halaman-halaman komiknya. Dengan demikian, pembacanya tidak hanya terhibur dengan gambar dan cerita yang indah, tetapi juga beroleh pengenalan yang lebih dalam tentang pribadi Yesus, Sang Mesias.

2. Komik Super Bible: Super Bible adalah kumpulan komik yang diterbitkan oleh Kingstone Comics. Berbeda dengan Yesus Mesias, komik-komik terbitan Kingstone Comics sangat bergaya Amerika; baik dari segi ilustrasi, kecepatan cerita, dan formatnya. Komik Super Bible terdiri atas 72 judul, mulai dari Penciptaan sampai Wahyu, yang dijabarkan dalam sekitar 2.000 halaman full-color. Penggemar komik Amerika terbitan Marvel Comics maupun DC Comics pasti akan menyukai komik-komik ini karena ilustrasinya dikerjakan dengan apik oleh seniman-seniman komik senior, seperti Danny Bulanadi, Sergio Cariello, dan Kyle Hotz.

3. Singa Yehuda: Secara umum, Singa Yehuda dapat disebut sebagai Injil Markus dengan ilustrasi. SABDA menggunakan Alkitab ilustrasi yang diterbitkan oleh Scripture Union Malaysia ini sebagai basis untuk memperkenalkan Injil Markus Ilustrasi versi AYT.

SABDA percaya bahwa Komik Kristen dengan ilustrasi yang apik dan cerita yang menarik memiliki kekuatan untuk mengarahkan pembaca kepada Alkitab. Karena itu, komik-komik ini pun tidak hanya diterjemahkan untuk sekadar menjadi bacaan hiburan. SABDA juga berusaha menciptakan ekosistem pendukung (seperti situs, panduan pendalaman Alkitab, berbagai format distribusi, dll.) supaya komik-komik ini juga menjadi bagian dari ekosistem biblika SABDA yang akan terus bertambah. Dengan demikian, kisah-kisah dan kebenaran alkitabiah yang terkandung dalam komik-komik ini dapat dipelajari dengan lebih dalam lagi oleh para pembacanya. Terus terang, ketika sedang membahas ekosistem pendukung ini, saya teringat dengan beberapa komik Kristen yang memiliki ilustrasi keren, tetapi kini sudah tidak tahu lagi riwayatnya, seakan sudah tidak dapat ditemukan lagi. Mungkinkah komik-komik itu "hilang" karena tidak ditunjang oleh ekosistem yang memadai? Sangat mungkin.

Ada banyak hal menarik yang saya pelajari selama terlibat dalam proses penerjemahan komik Alkitab ini. Dari kru editor AYT, saya belajar tentang standar akurasi terjemahan dan penerapan 'quality control' yang ketat. Tahap-tahap penerjemahan seperti 'reading pair' dan diskusi antarpenerjemah sangat menolong saya dan tim untuk mengevaluasi hasil terjemahan sehingga siklus tahap berikutnya menjadi lebih cepat dan bersih. Dari tim Baca Tepat AYT, saya pun belajar untuk menghasilkan terjemahan naskah komik yang enak dibaca, luwes, dan menarik.

Proyek penerjemahan komik Alkitab ini memang baru seumur jagung, masih jauh dari kata selesai. Namun, ada banyak mimpi dan harapan yang terkandung dalam proyek ini. Secara pribadi, saya berharap melalui proyek komik ini, orang tua dan gereja semakin menyadari bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang kreatif. Dia adalah Pencipta bahasa dan Tuhan yang berbicara dalam banyak bahasa, termasuk bahasa visual zaman milenial ini. Kiranya Tuhan memakai komik-komik ini untuk memenangkan hati dan pikiran generasi milenial kepada Allah. Teruslah berdoa bagi kami. Soli Deo Gloria!

Mari Piknik Biar Tidak Panik

RSS Blog SABDA - Sun, 06/10/2018 - 08:35

Oleh: Hadi

Beberapa kali, kantor SABDA merencanakan untuk pergi piknik ke suatu tempat. Namun, karena jadwal kegiatan yang padat, rencana tersebut belum terealisasi. Nah, pada awal minggu Juni 2018, akhirnya rencana piknik terealisasi, seluruh penghuni kantor SABDA mengadakan piknik ke Kedung Ombo. Yee .... Rencana piknik kali ini terealisasi sekaligus untuk mengajak tamu, Leland, sahabat lama SABDA. Sudah hampir 12 tahun, dia tidak mengunjungi Indonesia, dan kali ini dia bisa kembali bersama kami.

Kedung Ombo adalah salah satu daftar tempat yang menjadi target wisata kami. Nama tempat itu sepertinya tidak asing bagi saya, oh ternyata benar, saya baru ingat kalau dahulu staf SABDA juga pernah piknik ke sana pada tahun 2014. Mbak Evie dan teman-teman yang mengatur waktu, tempat, dan acara piknik. Sebenarnya, minggu itu adalah minggu padat bagi kami karena selain Leland, ada beberapa tamu dari luar negeri yang juga akan berkunjung ke SABDA. Puji Tuhan, kami masih bisa menyisipkan acara piknik di sela-sela hari-hari sibuk ini. Sesuai dengan keputusan bersama, akhirnya kami pergi piknik pada Selasa pagi sebelum tamu-tamu yang lain datang.

Pada hari 'H', ternyata vertigo Bu Yulia kambuh sehingga beliau harus istirahat di rumah. Demikian juga mertua Yudo sedang sakit, dan beliau harus ditemani pergi ke rumah sakit. Karena itu, sebelum berangkat, kami berdoa untuk Bu Yulia dan mertua Yudo supaya Tuhan memberi kesembuhan dan penghiburan.

Kami berangkat bersama-sama menggunakan satu mobil dan beberapa sepeda motor. Rombongan sepeda motor, seperti layaknya 'touring', berangkat beriring-iringan supaya kalau ada yang bermasalah bisa saling menolong. Saya ikut bersama rombongan yang naik sepeda motor, dan kami dipandu oleh Google Maps untuk menuju ke lokasi piknik. Secara pribadi, saya cukup menikmati perjalanan karena melalui jalan yang berkelok-kelok dan naik turun, memberikan sensasi yang berbeda dari perjalanan biasa. Namun, kami sempat harus berhenti menunggu di bengkel tambal ban karena ban kendaraan Mei bocor saat dalam perjalanan. Bersyukur, akhirnya kami bisa sampai di Warung Apung Kedung Ombo dalam keadaan baik. Rombongan pertama yang menggunakan mobil sudah datang terlebih dahulu di tempat lokasi piknik.

Sesuai namanya, warung itu terletak di tengah-tengah kedung (danau) sehingga kami harus memakai perahu untuk menyeberang. Sembari menunggu perahu, saya bisa melihat hamparan air yang sangat luas, saya menikmati suasana yang menyegarkan, menyenangkan, dan menenangkan. Setelah perahu datang, kami menaiki perahu yang mengantar kami ke warung apung. Pengemudi perahu, seorang wanita, dan sekaligus pemilik warung, mengatakan bahwa perahu hanya bisa membawa maksimal dua belas orang penumpang. Wah, jadi ingat cerita Alkitab, jumlah yang sama dengan murid-murid Tuhan Yesus.

Setelah semua berkumpul, acara segera dimulai. Selain menyanyikan beberapa pujian, kami juga melakukan dua permainan yang dipimpin oleh Roma dan Rode. Kami senang sekali karena bisa merasakan kebersamaan dan sukacita dalam Tuhan. Lalu, acara yang menarik bagi kami adalah ketika kami diminta menceritakan ulang cerita Injil dengan skenario yang sama dengan situasi dan kondisi yang kami alami saat itu. Berada di danau, di tengah hamparan air, melihat beberapa perahu nelayan, melihat banyak ikan, dll.. Dalam satu kelompok yang terdiri dari tiga orang, kami semua dapat menceritakan Injil dengan beragam variasi; ada yang dengan cerita, drama, musik, dan pujian dll.. Sungguh bersyukur, kami bisa menceritakan kembali cerita Injil dengan cara yang berbeda-beda, bahkan di tengah menikmati waktu piknik kami. Tuhan bisa berbicara dalam banyak cara. Injil bisa didengarkan kapan pun dan di mana pun, dan itu memberikan sukacita dan kebahagiaan yang besar bagi kami. Syukur kepada Allah.

Selanjutnya, kami beristirahat dan menikmati berkat dari Tuhan melalui warung yang telah menyediakan makanan bagi kami, yaitu ikan bakar segar yang diambil langsung dari danau. Waoo mantap! Setelah menikmati berkat makanan, kami menghabiskan sisa waktu kami untuk menikmati pemandangan sekitar, duduk tenang menikmati kesegaran angin dan indahnya gerak ikan-ikan yang menggemaskan. Tak lupa, kami berfoto-foto ria mengabadikan momen yang indah, yang beda dari hari-hari biasa.

Bersyukur punya kesempatan untuk piknik, menikmati karya indah Sang Pencipta. Kesempatan yang menyegarkan dan membangkitkan kembali pikiran, motivasi, semangat untuk mengerjakan panggilan Tuhan. Sama seperti penjala ikan, kami juga harus menjadi penjala manusia supaya mereka juga boleh mendengar cerita Tuhan yang memberikan kebahagiaan dan sukacita sejati.

Pengalaman Mengikuti Seminar “Narasi Subversif Kitab Keluaran”

RSS Blog SABDA - Sat, 06/02/2018 - 15:28

Oleh: *Rode

Saya bersyukur diberi kesempatan mengikuti seminar Narasi Subversif Kitab Keluaranyang diselenggarakan oleh MRII Solo di Hotel Adhiwangsa pada 21 Mei 2018. Saya mengikuti seminar tersebut dengan teman-teman dari SABDA. Sebelum acara dimulai, peserta seminar dapat bertegur sapa dengan peserta lainnya dengan menyantap snack dan minuman yang sudah disediakan. Cukup banyak peserta yang mengikuti seminar ini. Selain rombongan SABDA, ada juga rombongan dari STT di Solo, dan juga rekan-rekan dari MRII Solo sendiri.

Acara dimulai dengan menyanyikan pujian, dan kemudian waktu diserahkan kepada Pdt. Eko Arya yang menjadi pembicara seminar. Dari kesan pertama, saya pikir beliau akan menyampaikan materi dengan kaku dan terburu-buru. Namun, meski kecepatan berbicaranya cukup tinggi, beliau menyampaikan materi dengan luwes dan menarik. Materi dimulai dengan penjelasan salah satu gambaran besar Perjanjian Lama dari kitab Keluaran yang dikaitkan dengan zaman Perjanjian Baru. Contohnya adalah sakramen Perjamuan Kudus. Hal ini pertama kali dilaksanakan pada kisah keluarnya bangsa Israel dari Mesir. Beliau juga menjelaskan bagaimana kisah Keluaran ini berkaitan erat dalam hubungan antara Musa dan Yesus, seperti peristiwa kanak-kanak Musa dan pembantaian bayi sehingga keduanya dibawa ke Mesir, Musa yang diangkat dari air dan Yesus yang dibaptis, mengembara di padang gurun, dan saat Yesus dicobai. Bahkan, tugas pelayanannya sama, yaitu membebaskan umat-Nya. Perbedaannya adalah Musa membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir ke Kanaan dan Yesus membebaskan manusia dari hukuman kekal menuju pada kehidupan yang kekal.

Musa merupakan sosok proklamator Israel yang tujuannya bukan untuk menciptakan agama baru, melainkan mendirikan kerajaan baru yang letak tanahnya belum diketahui oleh orang Israel sama sekali. Namun, Musa melakukan hal tersebut dalam usia yang sudah tidak produktif, yaitu saat berusia 80 tahun. Saya terkesan ketika pembicara mengatakan bahwa pada usia 40 tahun, ketika Musa sedang dalam puncak kejayaannya sebagai pangeran dan pemimpin perang, Musa justru tidak menuliskan kisah-kisah tersebut di kitab yang ditulisnya. Sebaliknya, Musa lebih bangga memakai nama Musa dibanding nama Mesirnya, lebih berani mengambil risiko demi kemuliaan nama Allah dan bangsanya, dan lebih banyak menuliskan kelemahan dan kegagalannya saat memimpin bangsa Israel. Di tengah berlangsungnya proses mendirikan kerajaan baru umat Tuhan yang diawali dengan keluarnya mereka dari tanah Mesir, mengapa bangsa Israel begitu bebal sehingga tidak dapat melihat kebaikan Tuhan? Pdt. Eko Arya menjelaskan hal itu dikarenakan Israel lebih suka tinggal menumpang dan menjadi pekerjaan rodi di Mesir karena Mesir adalah bangsa termakmur kala itu.

Sepulang dari seminar, saya sungguh bersyukur mendapat banyak pelajaran rohani pada malam itu. Saya belajar gaya hidup Musa serta sikap Musa dalam menghadapi Mesir dan juga bangsa Israel. Dari hal tersebut, saya belajar bukan kesuksesan yang harus kita banggakan, jauh lebih baik kalau kita bangga memiliki Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Dari bangsa Israel sendiri, saya belajar Tuhan mengikis sikap kekerasan hati dan ketidakpercayaan kepada rencana Allah. Seminar ini sangat berkesan bagi saya karena ini seminar pertama yang saya ikuti yang berkaitan dengan studi Alkitab. Seminar ini tidak membuat saya bosan, tetapi justru menolong saya lebih mengerti maksud dari penulisan kitab Keluaran. Pembicaranya sangat bagus dalam mengemas bahan seminar sehingga pendengar bisa menangkap dengan baik. Terima kasih atas kebaikan Tuhan sehingga saya dapat dibekali lebih lagi dengan kebenaran dari Alkitab. Biarlah segala syukur puji dan hormat bagi Tuhan saja.

Studi Alkitab pada Era Digital di STT AIMI (Pertemuan II)

RSS Blog SABDA - Sat, 05/12/2018 - 13:44

Oleh: Aji

Sebagai yayasan yang bergerak dalam bidang Biblical Computing, YLSA terus menggalakkan pentingnya pendalaman Alkitab, khususnya dengan memanfaatkan teknologi dan alat-alat digital abad ini. Banyak hal yang sudah dilakukan, salah satunya dengan penyelenggaraan pelatihan "PA dengan Gawai" yang bertajuk #Ayo_PA!. Pada tahun ini, YLSA mendapat kesempatan istimewa untuk mengembangkan pelatihan ini di STT AIMI, Solo. Saya katakan "istimewa", sebab untuk pertama kalinya penyampaian materi #Ayo_PA! "Studi Alkitab pada Era Digital" dikemas dalam bentuk kurikulum untuk dilaksanakan dalam empat kali pertemuan. Materi yang disampaikan berpusat pada pengenalan alat dan bahan PA digital, serta penerapan metode S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa+Diskusi, Aplikasi). Pelatihan pertama sudah dilaksanakan pada Mei lalu, seperti yang bisa Anda simak pada tulisan Sdr. Danang.

Pertemuan II membahas langkah ANALISA. Saya mendapat tugas bersama Danang dan Ody sebagai pembicara. Selain itu, Tika dan Roma serta Bu Yulia juga ikut untuk membantu menjaga booth, membuat dokumentasi, dan teknis. Tugas saya dalam pertemuan ini adalah mengingatkan peserta tentang apa yang sudah dipelajari pada pertemuan I, di antaranya:
a. Mengapa orang percaya perlu ber-PA,
b. Alat dan bahan PA digital
c. Metode S.A.B.D.A. dan
e. Langkah SIMAK.

Presentasi berikutnya dipandu oleh Ody dan Danang yang memaparkan langkah Analisa dengan apps:
a. Tafsiran
b. Kamus
c. Alkipedia dan
d. Peta.

Mereka juga menjelaskan fitur "Search" untuk mencari kata-kata tertentu dalam Alkitab menggunakan apps Alkitab SABDA. Pertemuan ini berjalan dengan lancar karena peserta sudah mendapatkan bekal pengetahuan dari pertemuan sebelumnya. Itu sebabnya, ketika penjelasan teknis apps SABDA diberikan oleh Danang dan Ody, kebanyakan peserta tidak menemui kendala yang berarti. Penggunaan teknologi ChromeCast juga membuat peserta bisa mengamati langkah-langkah penggunaan apps dengan lebih jelas. Saya pun terkesan dengan antusiasme para peserta, bahkan ada peserta yang datang dari luar kota untuk bisa mengikuti pelatihan ini. Booth kami juga ramai dikunjungi hamba-hamba Tuhan garis depan dan para mahasiswa teologi.
Ibu Yulia melanjutkan presentasi dari Danang dan Ody dengan memberikan kuis penggunaan apps Alkitab dan Kamus, di antaranya untuk mencari kata-kata tertentu dalam Alkitab. Kuis ini memaksa peserta untuk mengaplikasikan fitur-fitur yang sudah dipelajari. Tidak hanya mengikuti jalannya kuis ini dengan penuh perhatian, para peserta berlomba-lomba untuk menjadi yang tercepat dalam menjawab pertanyaan kuis yang diberikan. Di sini, saya kembali diingatkan bahwa interaksi dan relasi dengan peserta perlu sekali ditampilkan agar peserta mau melibatkan diri dalam proses belajar mengajar ini.

Kemudian, Ibu Yulia juga mengajak seluruh hamba Tuhan yang hadir memanfaatkan teknologi di tangan mereka guna menjangkau generasi muda. Banyak gereja saat ini kehilangan para pemudanya, sebab gereja-gereja menolak kemajuan teknologi. Firman memang tidak berubah, tetapi zaman dan teknologi terus berkembang. Itu sebabnya, firman Tuhan harus bisa disampaikan sedemikian rupa agar tetap relevan bagi para pembacanya. Teknologi bisa menjadi jembatan agar firman relevan diterima oleh generasi zaman ini. Dengan Alkitab dan bahan-bahan studi digital di HP mereka, generasi abad ini bisa belajar firman Tuhan dengan cara yang selaras dengan gaya hidup kekinian. Kiranya seruan beliau menjadi pengingat dan motivasi bagi kita untuk memanfaatkan teknologi bagi kemuliaan Tuhan.

Bila Anda tertarik mendapatkan pelatihan serupa, silakan Anda mengundang tim #Ayo_PA! dengan mengisi form berikut. Jika waktu memungkinkan dan Tuhan menghendaki, kami akan datang ke gereja atau komunitas Saudara untuk berbagi lebih jauh tentang kurikulum "Studi Alkitab pada Era Digital".

#Ayo_PA! di Kelompok Persekutuan di Karanganyar (1)

RSS Blog SABDA - Mon, 05/07/2018 - 15:41

Oleh: Santi

Yey, akhirnya saya menulis blog lagi. Kesempatan berharga bagi saya untuk berbagi kebaikan Tuhan kepada Anda semua. Kali ini, Tuhan memberi saya kesempatan melayani di salah satu persekutuan karyawan di Karanganyar untuk melakukan Pendalaman Alkitab (PA) secara digital. Pelayanan ini dilakukan pada Jumat, 13 April 2018, pukul 12.00 WIB - 13.00 WIB. Meski durasi hanya satu jam, tetapi saya beserta tim, yaitu Mei dan Pio, bisa mengemasnya dengan baik sehingga selama satu jam ini keseluruhan acara bisa dilakukan dengan maksimal. Puji Tuhan!

Acara diawali dengan menyanyikan lagu "Pertolongan-Mu" yang pernah dipopulerkan oleh Citra Skolastika, lalu dilanjutkan dengan berdoa. Hati saya "deg-deg'an" karena setelah doa pembuka, saya akan menyampaikan presentasi. Tuhan tolonglah saya! Saya mengawali presentasi dengan memperkenalkan sekilas tentang Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) supaya peserta mengenal pelayanan kami. Setelah itu, saya masuk ke sesi 1, yaitu alasan pentingnya melakukan PA. Ketika menyampaikan materi ini, saya kembali diingatkan bahwa jiwa kita harus setiap hari diberi makanan rohani supaya sehat dan bertumbuh dengan baik. Memasuki sesi 2, yaitu praktik PA dengan menggunakan smartphone, peserta menjadi semakin antusias. Mereka mengikuti arahan PA dengan baik dan terlihat senang ketika mendapati sesuatu yang baru tentang firman Tuhan.

Bersyukur pula karena Mei dan Pio bisa turut mengerjakan bagian mereka dengan baik. Mei bertanggung jawab untuk booth SABDA, dan Pio bertanggung jawab untuk dokumentasi dan hal-hal teknis selama presentasi. Saya senang bisa melayani bersama mereka berdua. Oh ya, selain aktif mengikuti PA, peserta juga aktif bertanya mengenai produk-produk SABDA yang ada di booth. Bahkan, beberapa peserta mengambil produk-produk SABDA untuk menolong pelayanan mereka/rekan mereka yang melayani di bidang tertentu. Bapak Pras, yang menjadi penanggung jawab persekutuan tersebut, sangat tertarik dengan produk DVD Library SABDA Anak dan traktat "Tuhan Yesus Menyelamatkanmu". Beliau mengambil DVD dan traktat ini untuk diberikan kepada para guru sekolah minggu di gerejanya. Kiranya peserta yang sudah mengambil produk-produk SABDA bisa memanfaatkannya dengan bijaksana untuk hormat dan kemuliaan Tuhan. Saya juga terus berdoa dan berharap supaya peserta yang sudah menerima materi dan pelatihan #Ayo_PA! semakin rindu untuk belajar firman Tuhan secara teratur. Amin.

Doa Semalam Ceria di SABDA — Apart from Me You Can Do Nothing!

RSS Blog SABDA - Thu, 05/03/2018 - 11:07

Oleh: *Roma

Shalom, perkenalkan nama saya Romauli br Marpaung. Pada Jumat, 27 April 2018, untuk pertama kalinya, saya mengikuti doa semalam ceria. Bukan hanya saya, melainkan seluruh staf YLSA dan juga pemimpin YLSA mengikuti kegiatan ini. Kegiatan tersebut dilakukan agar kami meletakkan segala mimpi, harapan, dan pekerjaan di atas doa. Doa adalah kebutuhan bagi setiap orang percaya. Tanpa doa, hidup kita ini akan terasa seperti "zombie" yang kelihatannya hidup, tetapi sebenarnya mati.

Pada kesempatan itu, doa semalam ceria tersebut dibagi dalam tiga sesi. Dalam sesi pertama, kegiatan ini dimulai dengan ramah tamah. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan dan doa pembukaan oleh HRD. Kemudian, ada puji-pujian yang dipandu oleh MC (Aji) dan sharing dari staf. Sharing ini juga dibagi atas tiga bagian, yaitu bernyanyi, kesaksian pribadi, dan berbagi qoute. Untuk sharing sesi pertama, dilakukan oleh Hadi (bernyanyi), Markus (qoute), Rode (kesaksian), Tika (bernyanyi), Mei (kesaksian), dan Liza (qoute). Kemudian, ada pemutaran video tentang Doa dari David Platt dengan durasi sekitar 60 menit. Setelah itu, kami diskusi bersama mengenai video yang diputar. Dalam diskusi, kami mendapatkan sesuatu yang baru mengenai doa. Tuhan berkuasa atas setiap doa yang kita naikkan kepada-Nya. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24) Diskusi selesai dan ditutup dengan doa yang dipandu oleh Ibu Yulia. Kemudian,saya dan seluruh staf break selama 15 menit setelah sesi pertama selesai. Dalam break tersebut, saya dan teman-teman makan Popmie, dan beberapa dari kami minum kopi, termasuk saya minum kopi luwak, untuk memulihkan tenaga kami kembali.

Lima belas menit terasa begitu cepat dan jam juga terus berputar. Acara dilanjutkan ke sesi kedua. Dipandu oleh MC (Mei), kami bernyanyi satu lagu pujian (Kubawa Hidupku Sekarang). Setelah itu, kami dibagi dalam beberapa kelompok untuk menaikkan setiap pokok doa yang telah di presentasikan oleh Hadi, Pioneer, dan Yudo. Dalam sekian menit, kami berdoa untuk setiap pokok doa yang disampaikan. Kemudian, kak Okti membagikan renungan dari sebuah artikel yang berhubungan dengan doa. Saya pribadi sangat diberkati lewat renungan tersebut. Renungan itu mengatakan bahwa semestinya hubungan yang kita jalin kepada Tuhan melalui doa merupakan doa yang rasional (realistis), bukan doa yang emosional. Setelah kami mendengar renungan, kami juga mendengar beberapa kesaksian lagi dari beberapa staf, yaitu Ariel (bernyanyi), Indah (kesaksian), Aji (qoute), Pio (Kesaksian), Lena (bernyanyi), Evie (bernyanyi), Elly (kesaksian), dan Santi (qoute). Beberapa kesaksian memberkati saya, baik itu berupa nyanyian, qoute, maupun kesaksian pribadi dari staf YLSA. Saya merasa bahwa rencana dan jawaban Tuhan kadang tidak bisa dimengerti. Namun, dalam hidup setiap orang, Tuhan sering memberikan sesuatu yang menarik dan istimewa bagi tiap-tiap orang. Saya sadar bahwa Tuhan itu sangat teratur sehingga Ia ingin supaya kita sebagai manusia juga teratur dalam menjalani hidup ini. Sesi 2 akhirnya usai dan ditutup dengan doa syafaat. Saya menunggu saat-saat di mana saya akan cerita tentang kehidupan saya bersama Tuhan melalui pujian.

Pada saat masuk sesi ketiga, seharusnya sesi terakhir ini dipandu oleh Ibu Evie. Namun, karena waktu, pujian untuk sesi 3 dan juga ice breaker akhirnya dihapuskan. Dan, langsung dilanjutkan doa syafaat dan kesaksian staf yang belum menyampaikan kesaksiannya. Saat itu, yang bersaksi ialah Yudo (kesaksian), Hilda (bernyanyi), Ody (kesaksian), Okti (qoute), Yoseph (kesaksian), Kun (qoute), Danang (kesaksian), dan saya sendiri (bernyanyi). Saya bersyukur bisa ikut berpartisipasi dalam doa semalam ceria kali ini. Yang saya syukuri bahwa dalam sepanjang acara, saya bisa menghilangkan rasa kantuk saya. Dalam kesaksian saya, satu hal yang membuat saya sadar juga bahwa saya ternyata dipanggil Tuhan melayani bukan karena saya hebat, saya kuat, atau saya bisa melakukan banyak hal, melainkan semata-mata karena anugerah Tuhan yang melimpah bagi saya. Dan, doa semalam ceria memberi saya banyak hal baru yang harus saya lakukan untuk kemajuan saya ke depannya. Semua ini tidak akan bisa saya lakukan tanpa meletakkan harapan di atas doa. Ya, berdoa dan berusaha. Itu yang saya dapatkan sejak pukul 20.00 WIB -- 04.30 WIB keesokan harinya dalam acara doa semalam ceria di SABDA. "Tetaplah berdoa." (1 Tesalonika 5:17)