Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 2 hours 54 min ago

Pengalaman Magang di Yayasan SABDA Selama Satu Bulan

Wed, 10/10/2018 - 13:35

Oleh: *Gevonny Dinda

Shalom, pertama-tama, perkenalkan nama saya Gevonny Dinda, biasa dipanggil Dinda. Saya adalah mahasiswa dari Universitas Kristen Satya Wacana, Fakultas Bahasa dan Seni dari program studi Sastra Inggris. Puji syukur, karena berkat Tuhan, saya mendapatkan kesempatan untuk magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Saat ini, saya sudah menjadi staf magang selama kurang lebih satu bulan bersama tiga teman lain dari kampus. Ini merupakan pengalaman bekerja yang pertama bagi saya. Karena itu, saya belajar banyak sekali hal penting.

Pada minggu pertama dan kedua, saya diberi banyak sekali orientasi pekerjaan yang akan saya lakukan selama magang di YLSA, seperti orientasi HRD, orientasi penerjemahan komik, orientasi rekaman, dan masih banyak lagi. Saya sangat bersyukur diberi banyak orientasi sebelum melaksanakan tugas-tugas di sini karena hal tersebut sangat membantu saya dalam melakukan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai staf magang. Ada beberapa tugas yang sudah saya kerjakan, yaitu tugas menerjemahkan komik, tugas rekaman artikel, tugas menulis kesaksian, tugas menulis pokok doa, dan PA Online. Prioritas minggu pertama di sini adalah menerjemahkan komik karena konsentrasi saya di kampus adalah translation.

Minggu pertama bekerja saya lewati dengan perasaan campur aduk. Senang, semangat, lelah, kaget, dan malu saya rasakan dan mungkin juga dirasakan oleh teman-teman lain. Senang dan semangat, sebab akhirnya hari-hari magang dimulai dan dapat merasakan pengalaman dan lingkungan baru. Lelah, sebab bekerja dari pagi sampai sore, jauh berbeda dengan aktivitas di kampus yang hanya saya lalui rata-rata dua sampai tiga jam per hari. Kaget, sebab tugas-tugas yang dikerjakan berbeda dari ekspektasi. Malu, sebab harus aktif berbicara di depan banyak orang seperti menjadi pemimpin persekutuan doa, menjadi instruktur senam, dan lain sebagainya. Namun, semua itu saya jalani dengan penuh rasa syukur karena hal tersebut jarang saya rasakan sebelumnya.

Peran para mentor juga sangat berpengaruh dalam membimbing saya mengerjakan tugas-tugas di sini. Saya sangat bersyukur kepada mereka karena dengan sabar membimbing dan menuntun saya yang masih sangat awam di dunia kerja. Selalu ada hal positif yang bisa diambil dari setiap kegiatan di yayasan ini. Untuk itu, saya selalu berusaha menikmati semua aktivitas supaya nanti setelah selesai bekerja, tidak akan ada penyesalan di hati. Saat ini pun, saya masih dalam proses adaptasi dengan pekerjaan, lingkungan, dan juga dengan para staf. Saya berharap, saya bisa semakin baik dalam mengerjakan tugas dan bersosialisasi dengan para staf di sini.

Selain mengerjakan tugas menerjemahkan, rekaman, ataupun menulis, YLSA juga mengajarkan kepada saya untuk bertumbuh dalam iman. Setiap pagi, saya selalu mengikuti persekutuan doa dan pemahaman Alkitab bersama staf lainnya. Kegiatan tersebut sungguh bermanfaat bagi saya sebagai orang Kristen yang memiliki tanggung jawab untuk belajar firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa lebih dekat dengan Tuhan setelah mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut dan berharap setelah selesai magang, saya tidak berhenti memahami firman Tuhan, tetapi justru lebih rajin lagi membaca Alkitab, berdoa, serta memberitakan firman Tuhan kepada teman-teman di luar sana. Rasanya, saya beruntung dapat belajar firman Tuhan di YLSA karena teman-teman yang magang di tempat lain tidak akan pernah mendapatkan pengalaman seperti yang saya dapatkan di sini. Saya berpikir, “Ah, aku yakin kalau aku jadi mereka, aku akan iri karena tidak bekerja di YLSA. Sungguh indah berkat Tuhan dapat mengirimku ke tempat penuh berkat seperti SABDA.”

Kiranya pengalaman yang saya bagikan ini dapat menjadi berkat kepada teman-teman yang membaca. Tuhan Yesus memberkati!

Selamat Ulang Tahun SABDA!

Fri, 10/05/2018 - 15:29

Pada 1 Oktober 2018, semua staf berkumpul untuk ibadah doa ucapan syukur dalam rangka ulang tahun YLSA ke-24. Acara ibadah ini merupakan awal dari rangkaian acara yang dipersiapkan untuk merayakan ulang tahun YLSA sepanjang Oktober 2018. Untuk itu, setiap staf diminta untuk membagikan tentang arti SABDA menurut mereka dan ucapan syukur kepada Tuhan dalam kesaksian doa. Saya sudah membayangkan bahwa suasana akan penuh dengan sukacita bercampur haru karena masing-masing staf akan menyaksikan kebaikan Tuhan dalam pelayanan di YLSA. Jika berbicara tentang kebaikan Tuhan di YLSA, tidak mungkin tidak, kami akan merasakan kasih-Nya yang besar sehingga rasa haru, bahkan air mata, tidak dapat disembunyikan lagi. Namun, satu hal yang pasti, hati penuh sukacita.

Pada hari H, acara dibuka dengan doa dan pujian riang gembira yang menceritakan tentang kebaikan Tuhan ketika membawa umat Israel keluar dari tanah perbudakan. Saya memilih lagu "Tabuh Gendang" dari Kidung Jemaat No. 292 karena lagu ini selalu membangkitkan ucapan syukur yang tidak terhingga dalam hati saya karena sudah dilepaskan dari dosa dan bisa menjadi umat-Nya. Dan, karena itu, saya pun bisa menjadi hamba-Nya dan melayani Dia di YLSA hingga saat ini. Teman-teman yang lain juga membagikan ucapan syukur mereka melalui sharing dan pujian. Berikut ini beberapa sharing dari teman-teman staf SABDA, kiranya dapat menjadi berkat bagi Pembaca semuanya.

"SABDA bukan hanya tempat untuk bekerja, tetapi tempat untuk beribadah; setiap pagi PA bersama, belajar skill baru, belajar hal baru bersama, dan berbagi. Di sini, saya mendapat pengetahuan baru dari training dan buku-buku yang melimpah." (Mei, Tim Pendidikan Kristen)

"SABDA adalah ladang pelayanan. Di ladang ini, kita sama-sama capek, berkeringat, menjadi bagian dari mengalami kasih Tuhan. Ketika di SABDA, saya bertemu dengan saudara seiman yang baru, belajar melayani di ladang yang panas." (Yudo, Tim Multimedia)

"SABDA adalah training center bagi orang-orang untuk bertumbuh, dibekali, dan bergabung dalam keluarga untuk menjadi berkat." (Tika, ITS)

"SABDA adalah tempat bertumbuh dan mengenal pribadi Kristus. Saat masuk, saya dipaksa untuk belajar Alkitab, saling membentuk sebagai tubuh Kristus (1 Timotius 1:12). Saya yakin dan percaya [bahwa saya] dipanggil untuk melakukan pelayanan ini, sekalipun dari segi skill, [saya] masih perlu didorong untuk menjadi lebih lagi." (Indah, Tim Penjangkauan)

"SABDA adalah sekolah yang membentuk saya. Di sekolah, kita pasti menghadapi masalah. Kita dapat saling menerima pelajaran dari teman-teman, dan pelajaran itu perlu diterapkan dalam kehidupan." (Ariel, Tim Pendidikan Kristen)

"SABDA adalah semacam 'purgatory', tempat saya menempa skill yang masih harus terus dikembangkan, dan memiliki karakter untuk menjadi lebih baik lagi. Ketika sudah mulai bertumbuh dan iman bertambah, saya akan dibenturkan lagi supaya tambah maju lagi. Semua bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi untuk Tuhan!" (Ody, Tim ApTek)

"SABDA adalah tempat magang dan alat yang dipakai dan dipilih Tuhan untuk mewartakan firman dan menumbuhkan iman." (Thesa, Magang UKSW)

"SABDA adalah media bertumbuh bagi kerohanian saya, seperti Kawah Candradimuka dalam kisah pewayangan. Gatotkaca, sebelum menjadi sakti, dibentuk terlebih dahulu. Saya dibentuk menjadi [seperti] sekarang di SABDA. Saya bukan orang dari Solo, tetapi SABDA adalah keluarga dan pendukung yang mendampingi saya." (Okti, Tim Pembinaan)

"SABDA adalah 'love'. Di sinilah, cinta saya bertumbuh kepada Tuhan. Saya melihat Tuhan dan kasih-Nya yang besar dan luar biasa. 'His love for us' bertumbuh dari kecil menjadi besar, dari tidak bisa menjadi bisa. 'Love is also a commitment' ..., komitmen terhadap pekerjaan Tuhan dalam segala keadaan. SABDA adalah kita semua. Melalui kita, Tuhan bekerja; kita, yang bukan siapa-siapa, tetapi Tuhan berkenan memberikan hak istimewa untuk melakukan tugas yang luar biasa dan memberikan dampak. Apa yang dianggap bodoh oleh manusia, ternyata Tuhan pakai untuk pekerjaan-Nya. SABDA [adalah] segalanya bagi saya, pemberian Tuhan yang sangat berharga. (Yulia, Ketua YLSA)

Setiap sharing di atas sungguh menorehkan rasa syukur dan sukacita tersendiri dalam hati kami semua, bahkan ada pula yang menitikkan air matanya. Tuhan sungguh baik!

Selain mendengarkan sharing dari teman-teman, kami juga merenungkan firman Tuhan yang diambil dari Yosua 1:5-9. Dari kisah mengenai perjalanan Yosua memimpin umat Israel memasuki tanah perjanjian ini, kami belajar untuk kuat dan lebih berani karena Tuhan akan terus memimpin kami kepada janji-Nya. Akan ada banyak tantangan pada tahun-tahun ke depan, tetapi kami harus lebih berani lagi untuk melakukan tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kami ke depan. Kami juga belajar untuk selalu menjalani pelayanan ini dengan bertindak sesuai hukum Tuhan dan taat melakukannya sesuai dengan firman-Nya. Yosua 1:5-9 mengingatkan kami mengenai 'calling' (panggilan), 'capacity' (kapasitas), 'character' (keberanian), serta 'companion' (komunitas orang percaya). Semua itu menjadi dasar yang menguatkan kami melewati tahun ke-24 dengan penuh iman dan pengharapan dalam Tuhan.

Keesokan harinya, kami semua juga mendapat kejutan dengan kiriman roti tar yang sangat cantik dan enak dari salah seorang Sahabat SABDA, yaitu Stefani. Awalnya, kami enggan memotong kuenya karena sangat cantik, tetapi ya pasti akan lebih enak kalau dimakan. Terima kasih ya, Stefani, atas tanda kasihnya kepada keluarga besar YLSA di Solo. Tuhan memberkati.

Ibadah ucapan syukur ini adalah pembukaan dari rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun ke-24 YLSA. Pada 7 Oktober 2018, YLSA juga menyampaikan sharing misi di GRII Karawaci mengenai pelayanan YLSA dan mendorong jemaat untuk memakai IT bagi Tuhan. Pada momen ulang tahun ini, YLSA juga rindu mendorong tubuh Kristus untuk makin serius menggarap ladang misi pada era digital ini dengan menjangkau generasi digital melalui program-program pelayanan digital dalam gereja. Beberapa pembaruan/produk baru juga sedang dikebut untuk diselesaikan, seperti beberapa proyek kerja sama YLSA dengan Alkitab Versi Borneo (AVB), aplikasi-aplikasi iOS dari SABDA, pembaruan teks AYT di Alkitab SABDA Android, ITL AYT/AVB, dan sebagainya. Lalu, pada 22 Oktober 2018, YLSA juga menyelenggarakan seminar "Digital Quotient" (Kecerdasan Digital) di Griya SABDA. Semua rangkaian peringatan ulang tahun ini bukan untuk menambah kesibukan, melainkan untuk menyatakan ucapan syukur kami kepada Tuhan dan kerinduan kami untuk membagikan berkat Tuhan melalui pelayanan digital yang telah dipercayakan Tuhan kepada YLSA selama 24 tahun ini. Kiranya semua yang kami kerjakan dapat menjadi berkat bagi Sahabat dan Pendukung YLSA semuanya. Selamat ulang tahun, YLSA! Kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus yang Mahabaik!

Pelajaran dari Artikel: Hindari Kebiasaan Kecil Perusak Otak

Tue, 10/02/2018 - 14:08

Oleh: Roma

Shalom,

Ini kedua kalinya saya menulis di Blog SABDA. Kali ini, saya rindu berbagi tentang artikel koran berjudul "Hindari Kebiasaan Kecil Perusak Otak" yang saya baca di YLSA. Saya tertarik dengan artikel tersebut karena saya merasa pola hidup saya selama ini memang kurang teratur, terutama dalam memfungsikan kinerja otak saya. Dari artikel ini, ada banyak pelajaran penting yang semuanya bertujuan agar saya bisa mengatur kinerja otak dengan baik, dengan pola hidup yang sehat pastinya.

Nah, kita pasti tahu bahwa otak sangat berperan penting dalam hidup kita. Sekalipun kecil, tetapi otak sangat memengaruhi seluruh bagian tubuh kita. Tanpa otak yang berpikir, kita pasti kesulitan untuk mengerjakan berbagai aktivitas dengan baik. Nah, untuk itu, kita harus berhati-hati terhadap sejumlah kebiasaan yang dapat berakibat buruk terhadap fungsi kerja otak kita. Kebiasaan apa saja sih? Artikel ini menjelaskan paling tidak ada lima kebiasaan yang bisa mengganggu fungsi kerja otak.

Pertama, pola makan. Saya sendiri memiliki hobi makan. Tidak dibatasi waktu, kapan saja saya lapar, saya akan makan. Tidak peduli itu pagi, siang, sore, atau bahkan tengah malam sekalipun. Saya menyediakan stok makanan atau camilan yang cukup agar saya bisa makan kapan pun. Namun, ternyata pola makan yang tidak teratur bisa memengaruhi kinerja otak. Makan terlalu banyak, atau tidak sarapan itu sangat berpengaruh terhadap kinerja otak. Tidak sarapan dapat membuat kita lemas dan lesu sehingga pekerjaan terganggu karena kita tidak bisa berkonsentrasi. Nah, saya sekarang sadar, pola makan saya memang tidak teratur, apalagi sejak kecil saya jarang sarapan di rumah. Saya lebih suka menghabiskan uang saku saya untuk beli camilan. Selain lemas, saya juga sering mengantuk di dalam kelas karena faktor tidak sarapan dan makan makanan yang berminyak pada pagi hari, seperti gorengan.

Hal kedua yang bisa mengganggu kinerja otak adalah waktu tidur. Jika kita kurang tidur atau terlalu banyak tidur, hal itu bisa membuat kerusakan pada sel-sel otak. Saya juga sadar sih pola tidur saya juga tidak teratur. Saya suka menonton drama. Kadang, pada waktu senggang, atau weekend, saya menghabiskan waktu untuk menonton drama. Kadang, saya tidur di atas pukul 01.00 WIB pagi karena terlalu asyik dengan drama yang saya tonton. Keesokan harinya, saya pasti mengalami pusing dan kelelahan pada bagian mata saya. Oleh sebab itu, kita harus menyeimbangkan waktu istirahat kita agar kerja otak tidak terganggu. Jadi, saat melakukan banyak pekerjaan, kita harus tetap fit sehingga otak kita bisa berpikir secara maksimal.

Ketiga, bekerja saat sakit. Itu juga fatal akibatnya, teman-teman, karena otak bisa rusak. Otak yang sedang tidak efektif dipaksa untuk bekerja/berpikir keras dapat membuat otak semakin rusak. Ada banyak orang beranggapan bahwa dengan bekerja, saat sakit, mungkin bisa membuat tubuh menjadi lebih baik. Tidak sedikit pelajar tetap sekolah walaupun mereka sedang sakit. Fatal sekali jika terlalu memaksakan otak berpikir saat sakit. Seharusnya, kita memberikan otak kembali berfungsi dengan baik, dengan cara istirahat yang cukup dan minum obat agar otak kembali bisa berfungsi dengan maksimal. Jadi, jika kita lagi sakit, jangan terlalu banyak berpikir keras, ya.

Keempat, kurang berpikir. Sering kali, saat banyak pekerjaan atau dalam kondisi lelah, membuat kita malas berpikir. Kita harus mulai banyak berpikir agar kinerja otak dapat bekerja secara maksimal. Perlu banyak berlatih berpikir agar fungsi kerja otak bisa berjalan, tetapi saat kita sehat, ya. Mungkin salah satu caranya ialah bermain gim. Saya suka bermain gim di HP saya yang gimnya tersebut membutuhkan waktu untuk berpikir. Ketika bermain gim tersebut, otak saya akan berpikir tentang jawaban dari soal-soal yang ada, itu membuat saya berpikir keras. Ini salah satu contoh saja agar kita banyak berpikir. Untuk itu, penting sekali untuk memfungsikan otak kita secara baik, dengan cara banyak berpikir.

Kelima, ialah komunikasi. Diperlukan kebiasaan komunikasi dua arah ataupun komunikasi melalui dunia maya agar semakin memperkaya fungsi kinerja otak. Sikap diam akan mudah membuat kita cemas dan depresi karena tidak bisa berbagi kesulitan yang kita alami kepada orang lain. Selain itu, komunikasi yang kurang juga bisa membuat kita semakin antisosial dan hanya sibuk memikirkan diri sendiri. Untuk itu, kita harus banyak berkomunikasi dengan orang lain, khususnya komunikasi langsung, agar kita bisa semakin memahami orang dan otak kita juga mendapat stimulasi yang baik agar otak bisa terus berlatih dan berfungsi dengan baik.

Jadi, kelima hal ini perlu kita perhatikan. Nah, jika kita memiliki kebiasaan-kebiasaan yang membuat fungsi otak kita jadi buruk, ayo saya ajak kita mempraktikkan pelajaran-pelajaran ini supaya otak kita berfungsi dengan baik. Lima hal itu cukup sederhana dan bisa langsung dicoba dalam kehidupan kita sehari-hari. Selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Tuhan Yesus memberkati.

Berkat Rohani dari #Ayo_PA! di GKI Ngupasan, Yogyakarta

Mon, 10/01/2018 - 09:03

Shalom,

Saya bersyukur diberi kesempatan lagi untuk menulis blog. Saya rindu membagikan berkat yang saya terima ketika mengikuti roadshow SABDA di GKI Ngupasan, Yogyakarta. Pada 10 September 2018, saya dan Tika berangkat ke Yogyakarta untuk memberikan pelatihan #Ayo_PA! dalam persekutuan kelompok PA GKI Ngupasan. Dari Solo, kami memanfaatkan transportasi kereta api dan ojek online dari Stasiun Tugu, Yogyakarta, ke GKI Ngupasan. Saat tiba di GKI Ngupasan, kami langsung mengecek tempat pelatihan dan bergegas mempersiapkan diri. Kami mempersiapkan booth SABDA di ruang pelatihan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal teknis. Ketika sedang mempersiapkan alat-alat, listrik sempat padam, dan saya jadi panik. Untung, Tika tidak terlihat panik he he he he .... Mungkin paniknya dalam hati.

Puji Tuhan, tidak lama kemudian, listrik menyala, sebelum acara pelatihan dimulai. Beberapa peserta mulai berdatangan dan mereka mengunjungi booth kami, lalu menanyakan tentang produk-produk yang ada di booth. Bersyukur, Tika dan saya bisa melayani dengan baik. Setelah banyak peserta hadir, majelis mempersilakan kami semua untuk makan malam terlebih dahulu agar nanti tidak mengganggu presentasi sampai selesai. Sambil makan, kami mengumumkan bahwa aplikasi-aplikasi SABDA (Alkitab SABDA, Tafsiran, AlkiPEDIA, Kamus Alkitab, dan Peta) harus sudah diinstal di HP mereka. Ada beberapa peserta yang belum mengunduh sehingga kami membantu menginstalkan ke HP mereka. Cukup cepat, sebab mereka memiliki paket data.

Setelah selesai makan, acaranya pun dimulai dengan bernyanyi dan berdoa. Setelah itu, Tika mempresentasikan tentang #Ayo_PA!. Saya sendiri mendapat berkat dari presentasi tersebut karena ini adalah kali pertama saya melihat presentasi tersebut. Peserta mendapat penjelasan mengenai pentingnya ber-PA dan metode yang dipakai untuk ber-PA. Ada 25 peserta yang hadir, saya melihat mereka cukup aktif dan antusias. Hal ini terlihat saat presentasi, mereka banyak bertanya. Beberapa dari mereka yang belum terlalu paham, dibantu oleh peserta di sebelah kanan atau kiri mereka. Saya juga "stand by" di belakang sambil membantu jika ada yang membutuhkan pertolongan.

Sebelum presentasi berakhir, saya memandu peserta untuk menyanyikan #Ayo_PA! dan mereka juga terlihat semangat dan antusias menyanyikannya. Sebelum menutup presentasi, Tika memberikan sebuah permainan kecil tentang presentasi yang dijelaskan, mereka aktif mencari jawabannya dalam aplikasi Alkitab mereka. Setelah selesai presentasi, kami berfoto bersama untuk menutup acara roadshow ini. Sambil bersalaman, saya mengajak beberapa peserta untuk memberikan kesaksian. Bapak Abdu Somad dan Ibu Eti bersedia memberi kesaksian setelah mengikuti pelatihan ini. Kami bersyukur mereka bisa menerima dengan baik apa yang dijelaskan dalam presentasi. Ada juga peserta yang masih mengunjungi booth kami. Saat menata kembali booth dan alat teknis untuk dimasukkan ke tas, Ibu Leni dan beberapa peserta lain membantu kami beres-beres. Saya sempatkan juga bertanya kepada salah seorang peserta tentang gereja dan pelayanan SABDA. Dia menjelaskan bahwa di GKI Ngupasan, PA memang bukan hal yang asing. SABDA bahkan sudah diundang beberapa kali untuk memberikan pelatihan #Ayo_PA! kepada kelompok PA yang lainnya dalam jemaat. Setiap hari, mereka melakukan PA melalui chatting via WA dan di-sharing-kan juga. Saya sangat bersyukur melihat semangat mereka dalam ber-PA. Setelah itu, kami kembali ke kamar tamu untuk beristirahat. Keesokan harinya, kami kembali ke Solo.

Berkat yang saya dapat dari perjalanan roadshow kali ini memang banyak. Pertama, untuk lebih tenang dalam kondisi yang kurang baik, seperti ketika listrik padam. Kedua, saya belajar tentang PA yang sebaiknya tidak bolong-bolong dan tanpa metode, saya harus lebih mendalami dan menghidupi firman itu dalam kehidupan saya hari lepas hari. Ketiga, saya belajar untuk tidak mengeluh dan belajar mengucap syukur. Melihat semangat peserta yang antusias, sekalipun mereka tidak muda lagi, saya belajar untuk bersemangat seperti mereka. Harusnya, saya yang masih muda lebih antusias dan semangat dalam menjalani hidup, bukan banyak mengeluh. Keempat, saya melihat kasih Tuhan yang nyata dalam orang-orang yang dipilih-Nya. Salah satu peserta bernama Bapak Abdu Somad berbagi berkat bagaimana dia menerima Kristus dalam hidupnya dengan cara Tuhan yang luar biasa. Saya diingatkan lagi untuk terus berjuang dalam hidup saya untuk membagikan kasih Tuhan itu kepada banyak orang yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Besar harapan saya, mereka dapat bertumbuh dalam iman dan pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Pengalaman Magang yang Berharga

Thu, 09/27/2018 - 12:36

Oleh: *Tata 

12 Juli 2018 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) sebagai staf magang. Tidak terasa, saya menghabiskan waktu dua bulan magang dengan cepat di SABDA. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Awalnya, saya memutuskan untuk magang di SABDA dengan alasan untuk mengisi waktu liburan kuliah yang terhitung cukup lama, kira-kita dua bulan. Selain itu, saya juga ingin menambah pengalaman dalam dunia pekerjaan. Namun, selama dua bulan di SABDA, saya baru menyadari bahwa yang saya lakukan sebenarnya adalah pelayanan untuk Tuhan. Banyak pelajaran rohani yang saya dapatkan di SABDA. Saya belajar untuk memahami firman Tuhan dan memahami kehendak-Nya dalam kehidupan saya. Melalui PA dan PD, saya juga belajar untuk mendalami Alkitab serta belajar memimpin.

Sebagai staf magang, selain pelajaran rohani, saya juga belajar menangani berbagai tugas yang cukup bervariasi dari hampir semua tim. Semua pekerjaan di SABDA sebenarnya bukanlah bidang yang saya geluti karena saya adalah mahasiswi jurusan farmasi. Namun, saya justru mendapatkan banyak ilmu lain yang tidak mungkin bisa saya dapatkan di kampus.

Pada minggu pertama, saya mendapat pengalaman untuk mentranskrip video, menulis blog, dan memberi stempel pada setiap buku di perpustakaan SABDA. Saya juga belajar untuk menulis pokok doa, walaupun awalnya sedikit kesulitan karena tidak terlatih untuk menulis. Namun, melalui proses, perlahan-lahan saya mulai terbiasa. Selain itu, saya juga mendapat pengalaman membuat teaser, mencari bahan-bahan kekristenan, mencari bahan untuk situs.co, dan masih banyak lagi. Pengalaman yang menarik bagi saya adalah ketika dilatih dengan kemampuan di bidang multimedia, yaitu membuat quote, mentranskrip video, dan membuat GIF. Sebelumnya, saya belum pernah membuat itu semua. Awalnya, quote gambar yang saya buat terlihat sangat sederhana dan tidak rapi, tetapi berkat Kak Pio, saya diajarkan bagaimana memasukkan background yang benar serta mengatur komposisi yang tepat. Perlahan, tetapi pasti, Kak Pio dengan sabar membimbing. Beruntungnya, Kak Pio tidak hanya sabar, tetapi juga humoris sehingga ketika dijelaskan saya tidak merasa tertekan. Selain membuat quote gambar, pengalaman menarik yang lain adalah membuat GIF. Saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan ilmu multimedia dengan gratis di SABDA, yang semula saya hanya melihat GIF di aplikasi chatting, sekarang saya tahu cara membuatnya. Membuat GIF tidak semudah membuat quote gambar, GIF memang lebih rumit. Berkat Kak Pio, saya bisa sedikit paham.

Pengalaman pertama lain yang menarik adalah membuat rekaman artikel. Ternyata, membuat rekaman tak semudah yang dibayangkan karena hanya orang yang sudah mahir yang dapat menghasilkan rekaman yang pas. Pertama kali mencoba rekaman, saya sangat kesulitan, sebab dalam merekam harus menggunakan nada dan intonasi yang tepat. Waktu itu Kak Kun adalah orang pertama yang memberikan tugas untuk rekaman artikel. Artikel yang diberikan ada dua halaman. Hasil rekaman artikel pertama saya terbilang cukup baik, walaupun banyak intonasi yang kurang pas, tetapi bersyukur saya bisa terus belajar. Kesulitan dalam merekam sangat bervariasi, contohnya jika ada gangguan suara bising, penggunaan nada yang tidak enak didengar, serta pembacaan yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Di SABDA, saya juga mendapatkan pengalaman menjadi moderator di Grup Facebook Walking With God (WWG). Ternyata, SABDA memiliki banyak sekali komunitas di Facebook mulai dari e-Santapan Harian (e-SH), e-Renungan Harian (e-RH), Walking With God (WWG), e-BinaAnak, e-BinaSiswa, Humor, dan masih banyak lagi. Dan, semua itu disediakan untuk peserta belajar memahami firman Tuhan setiap hari. Pengalaman lain yang saya dapatkan di SABDA adalah kegiatan rutin membaca artikel koran. Saya melihat hal ini sangat berguna dan jarang ada lembaga atau perusahaan yang memberi kesempatan kepada stafnya untuk membaca di sela-sela kesibukan pekerjaan.

Pada awal magang, saya merasa kesulitan dengan banyaknya tugas, terutama untuk memenuhi deadline yang sudah ditetapkan. Karena baru pertama kali bekerja di dunia nyata, saya sedikit kesulitan untuk membagi waktu dan untuk bisa fokus. Akan tetapi, lama-kelamaan saya mulai terbiasa dan terlatih. Selama masa magang, saya juga merasakan penyertaan Tuhan yang nyata dalam hidup saya. Dialah yang membuat saya bisa bertahan hingga akhir magang. Saya juga belajar beradaptasi dengan staf-staf lain di SABDA. Mereka tidak pernah sungkan membantu saat saya perlu bantuan atau saat saya bertanya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan yang berharga ini. Saya juga bersyukur karena melalui YLSA, saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, saya juga mendapat teman-teman baru. Sekali lagi, semua itu hanya karena anugerah Tuhan. Ada maksud Tuhan yang baik dengan menempatkan saya di YLSA. Tuhan sudah bekerja secara luar biasa dalam hidup saya selama dua bulan magang ini. Apa pun yang sudah saya dapatkan dari SABDA tidak akan saya lupakan, bahkan saya juga akan bagikan kepada orang-orang di sekitar saya agar mereka juga dapat merasakan berkat Tuhan seperti yang saya rasakan. Terlebih lagi, saya juga bisa merasakan betapa kerennya melayani Tuhan dengan media elektronik, yaitu dengan gadget kita. Bagi saya, magang di SABDA merupakan pengalaman yang luar biasa. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Pelayanan SABDA di Australia

Wed, 09/26/2018 - 14:19

oleh: Yulia

Ketika kami mendapat undangan dari GRII Sydney untuk memberikan seminar tentang "digital ministry", kami menawarkan enam topik seminar yang bisa dipilih. Namun, dari beberapa pembicaraan lewat email dan telepon, dan jadwal yang diatur sedemikian rupa, akhirnya disepakati untuk mengambil enam topik seminar sekaligus. Selain masing-masing topik saling berkaitan, kami juga melihat pentingnya membuka wawasan jemaat tentang dunia digital Kristen secara mendalam. Setelah pembicaraan lebih lanjut, GRII Melbourne ternyata juga tertarik untuk mendapatkan seminar yang sama (namun, dengan waktu yang lebih pendek). Karena itu, jadilah kami pergi ke Sydney dan Melbourne dengan total waktu tiga minggu (6 -- 22 Agustus) karena masing-masing seminar hanya bisa diadakan pada akhir pekan (Sabtu dan Minggu).

Keenam topik seminar tersebut adalah:

1. Digital Word for the Digital World
Pesan firman Tuhan (Alkitab) tidak pernah berubah dari zaman ke zaman karena firman Tuhan adalah kekal dan tidak akan lekang karena waktu. Akan tetapi, media (teknologi) yang tersedia untuk menyebarkan firman Tuhan selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Sebagai orang Kristen, bagaimana kita menyikapi perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini? Apakah teknologi itu dari Tuhan? Sejauh mana teknologi dapat dipakai dalam penerjemahan Alkitab dan penyebarannya?

2. Biblical Digital Quotient
Di samping memberi dampak yang sangat positif, dalam perkembangannya, teknologi ternyata juga memberikan dampak negatif yang cukup membahayakan. Namun demikian, tidak ada manusia yang dapat menghindar dari memakai produk-produk teknologi. Ada banyak usaha yang telah dilakukan oleh para pakar, baik dari dunia pendidikan atau psikologi sekuler, bahkan agama, untuk menolong manusia terhindar dari pengaruh buruk teknologi. Sebagai orang Kristen, kiat-kiat apa yang harus kita pegang agar tidak tersesat saat menggunakan teknologi?

3. Biblical Computing
Seni penggalian/pemahaman Alkitab (PA) secara lambat, tetapi pasti, mulai hilang dari kehidupan jemaat. Melimpahnya bahan-bahan khotbah dan artikel-artikel Kristen tidak seharusnya menggantikan kehidupan pribadi yang lekat berinteraksi dengan firman Tuhan (Scripture engagement). Apalagi, saat ini, kemajuan teknologi telah memungkinkan pengembangan "Biblical Computing" yang menghasilkan alat-alat dan metode-metode studi Alkitab yang lebih relevan bagi generasi milenial yang akrab dengan dunia digital. Mari kita kobarkan kembali semangat Reformasi untuk "back to the Bible" sehingga gereja berakar dengan kuat dan bertumbuh dengan lebih sehat.

4. 21st Century Discipleship
Inti perintah Amanat Agung adalah panggilan kepada gereja dan anak-anak Tuhan untuk menjadi murid-murid yang membuat murid-murid bagi Kristus. Perkembangan teknologi telah menyediakan sarana yang sangat luas yang seharusnya dapat mendorong anak-anak Tuhan untuk semakin giat menjalankan panggilan ini. Akan tetapi, mengapa baik "dengan" atau "tanpa" perkembangan teknologi, anak-anak Tuhan masih sulit menghayati dan memaknai hidup sebagai murid-murid Kristus yang menghasilkan murid? Bagaimana teknologi abad ke-21 dapat mendorong gereja dan anak-anak Tuhan untuk giat membuat murid-murid abad ke-21?

5. Digital Ministry: IT 4 God
Perkembangan teknologi, terutama teknologi informasi, telah merambah ke berbagai aspek kehidupan manusia. Dampak perkembangannya telah mengubah seluruh umat manusia, termasuk orang Kristen. Teknologi bukan saja mengubah bagaimana cara orang Kristen berkomunikasi, belajar, bergaul, dan berelasi, tetapi juga bagaimana orang Kristen hidup dan bagaimana gereja melayani pada era digital. Bagaimana gereja seharusnya mengikuti perkembangan zaman tanpa terseret ke dalam arus zaman?

6. Mission in the Digital Era
Akses internet telah membuat penduduk digital di dunia maya mengalami pertumbuhan yang eksponensial. Saat ini, ada lebih banyak penduduk dunia yang hidup dan berfungsi secara lebih nyaman di dunia maya daripada di dunia nyata. Pernahkah orang Kristen melihat penduduk dunia digital sebagai ladang misi baru pada era digital ini? Bagaimana gereja dapat membuka diri untuk menjangkau penduduk dunia digital dan mengembangkan pelayanan misi yang relevan pada era digital ini? Pelayanan misi digital apa saja yang dapat dilakukan oleh gereja abad ke-21 ini?

Perjalanan ke Australia ini adalah perjalanan pertama saya untuk mengunjungi benua Australia. Sebelum berangkat, kami sudah diberi tahu bahwa Australia sedang musim dingin, jadi kami berusaha menyiapkan mental agar tidak terlalu "menderita" selama di sana. Bersyukur karena kami pergi ke Sydney terlebih dahulu sehingga ada waktu untuk beradaptasi, karena dinginnya Melbourne ternyata lebih "menggigit" dibandingkan di Sydney. Di tengah kesibukan pelayanan di Sydney dan Melbourne, kami juga bersyukur karena diberi kesempatan untuk mengunjungi sahabat lama kami yang tinggal di Adelaide, Bapak/Ibu Norman. Di Adelaide, kami bisa berbagi cerita dan juga kesaksian tentang pelayanan SABDA di persekutuan keluarga dari gereja Bapak/Ibu Norman. Walaupun sempat masuk angin, saya bersyukur karena Tuhan sudah mengatur seluruh perjalanan kami dengan sangat baik sehingga semua lancar dan kami bisa sangat menikmati, khususnya persahabatan dengan saudara-saudara seiman di Sydney, Melbourne, dan Adelaide. "Terima kasih Tuhan untuk semua kebaikan-Mu. Engkau sungguh Allah yang Mahadahsyat. Kebaikan-Mu akan kukenang dan kuceritakan sepanjang hidupku."

Doakan untuk GRII Sydney dan GRII Melbourne agar kiranya Tuhan memakai gereja-gereja ini untuk memberitakan Injil dan mendewasakan jemaat Indonesia di sana. Menambahkan dan mengintegrasikan "pelayanan digital" di tengah pelayanan yang sudah ada sangat penting karena mereka rindu agar Tuhan membukakan pelayanan yang lebih luas, terkhusus untuk menjangkau generasi digital (yang saat ini menjadi generasi yang terhilang dari gereja Tuhan). Doakan agar Tuhan membuka kesempatan yang luar biasa di Sydney dan Melbourne supaya terjadi akselerasi penyebaran Injil melalui berbagai cara yang tersedia pada era digital ini. Terpujilah Tuhan yang empunya ladang pelayanan generasi ini.

Pelajaran dari Artikel Koran: “Mengakui Kesalahan”

Thu, 09/20/2018 - 11:24

Oleh: Mei

Saya bersyukur dipaksa untuk membaca artikel koran di YLSA. Karena melalui membaca ini, saya mendapat banyak pengetahuan. Salah satu artikel koran yang saya ingin bagikan berjudul "Mengakui Kesalahan". Saya setuju dengan salah satu pernyataan dalam artikel ini: "Cara terbaik untuk belajar dari kesalahan adalah dengan mengakuinya. Mengakui kesalahan adalah tanda orang yang berjiwa besar". Namun, terkadang kita sulit untuk mengakui kesalahan karena gengsi atau karena merasa diri benar. Kalau kita mengingkari kesalahan, reputasi kita justru akan buruk di mata orang lain. Sebaliknya, kalau kita jujur mengakui kesalahan, orang lain akan hormat dan respek kepada kita.

Dalam artikel tersebut dipaparkan beberapa poin, yaitu:
1. Mengakui kesalahan bukan indikasi kelemahan, melainkan justru indikasi kebesaran jiwa seseorang.
2. Mengakui kesalahan membuat kita dapat belajar dari kesalahan kita daripada sibuk membuang waktu menyangkal diri dan menimbulkan keretakan relasi atau menciptakan kebohongan yang lain.
3. Menunda mengakui kesalahan, hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi lebih buruk.

Dikatakan juga bahwa dalam kehidupan spiritual, mengakui kesalahan adalah salah satu unsur pertobatan. Di samping ada pengakuan, ada unsur penyesalan dan unsur lain, yaitu komitmen. Dalam unsur komitmen ini, jiwa besar kita ditantang untuk tidak mengeluarkan janji palsu, atau istilah ngetrennya "Tomat: Tobat Kumat". Kita harus memiliki komitmen untuk berusaha keras tidak mengulangi kesalahan itu sehingga kita tetap mendapat kepercayaan orang lain. Seperti kata pendeta dan penulis buku kepemimpinan, John Maxwell, "Setiap orang harus cukup 'besar' untuk mengakui kesalahannya, pintar mengambil hikmah dari kesalahan, dan kuat untuk memperbaikinya."

Di Alkitab juga sudah tertulis: "Jika kita mengakui dosa-dosa kita, Ia adalah setia dan adil untuk mengampuni dosa-dosa kita dan untuk membersihkan kita dari semua kejahatan" (1 Yohanes 1:9, AYT). Saya mengucap syukur karena mempunyai Juru Selamat yang telah menebus dosa saya. Walau saya masih belum bisa melepaskan diri dari sifat kedagingan, dan terkadang masih sering berbuat dosa atau melakukan kesalahan, tetapi saya bersyukur karena Roh Kudus senantiasa mengingatkan saya untuk kembali berjalan di jalan-Nya, membawa saya tidak terpuruk dengan dosa dan intimidasi iblis.

Melalui artikel ini, saya belajar untuk selalu memiliki keberanian saat harus mengakui kesalahan dan introspeksi, belajar dari kesalahan yang saya buat, merendahkan diri, mengakui dosa dan pelanggaran, baik kepada Tuhan maupun orang lain. Tidak mudah memang, tetapi saya akan terus berusaha melakukan hal itu untuk kebaikan diri saya, orang lain, dan khususnya agar kehidupan saya mencerminkan karakter Kristus, menjadi orang yang jujur dan dapat dipercaya orang lain. Soli Deo gloria!

Kategori: Pelayanan, Umum (Pelayanan)
Kata kunci:

Membaca Kliping Artikel Koran di SABDA

Sat, 09/15/2018 - 13:40

Oleh: Maskunarti

Surat Kabar atau yang lebih dikenal dengan koran masih menjadi salah satu media populer yang digunakan masyarakat untuk mendapatkan berbagai informasi. Koran tidak hanya dibaca oleh kalangan pejabat atau pengusaha, tetapi juga kalangan umum, seperti guru, pekerja swasta, pegawai negeri, mahasiswa, dan tukang becak. Selain untuk mengikuti berita perkembangan dunia aktual, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, koran juga bisa dipakai sebagai media pembelajaran.

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi mengenai kegiatan membaca artikel koran di SABDA. Berdasarkan pengalaman di tempat-tempat kerja sebelumnya, saya belum pernah menemui adanya kegiatan membaca artikel koran dalam pekerjaan. Namun, ketika saya bekerja di SABDA, kegiatan membaca artikel koran menjadi bagian dari budaya kerja di kantor SABDA, yang dilakukan setiap Selasa. Artikel koran yang diedarkan sudah berupa kliping dengan judul yang berganti setiap minggu. Biasanya, Ibu Yulia yang mempersiapkan artikel korannya. Saya bersyukur mempunyai pemimpin yang memiliki kepedulian terhadap kemajuan pengetahuan dan wawasan stafnya. Menurut saya, ini adalah budaya cerdas yang perlu didukung.

Selain itu, di tengah-tengah kesibukan, kami dilatih untuk meluangkan waktu membaca artikel yang diambil dari sumber koran nasional yang tepercaya. Menurut saya, kegiatan membaca ini sangat banyak manfaatnya, di antaranya untuk melatih kemampuan membaca cepat, selalu belajar untuk menambah wawasan mengenai isu-isu atau topik tertentu, dan mengembangkan kemampuan untuk berpikir kritis. Ketika membaca artikel koran, saya dan staf SABDA lainnya tidak sekadar membaca, tetapi juga harus bisa memberi tanggapan dari apa yang dibaca. Tanggapan bisa berupa blog, komentar, quote, atau membagikannya di acara persekutuan staf. Tugas menanggapi artikel ini cukup menantang karena saya harus membaca dengan teliti dan menemukan gagasan utama dari yang disampaikan oleh si penulis. Yang paling menarik adalah setelah membaca artikel, saya juga banyak merefleksi diri bagaimana mengaplikasikan apa yang saya baca.

Saya senang dapat membaca artikel koran dengan topik-topik yang bermanfaat. Saat ini, kebiasaan membaca berita koran maupun membaca pada umumnya perlahan-lahan mulai berkurang seiring dengan kehadiran internet. Harapan saya, kehadiran artikel koran yang beredar di SABDA, kiranya dapat menjadi pemicu bagi generasi muda (khususnya staf-staf SABDA yang baru) untuk mulai kembali menanamkan kebiasaan membaca supaya menjadi manusia yang cerdas. Mari bersama-sama kita tumbuh kembangkan minat membaca. Terima kasih. Tuhan memberkati.

Pengalaman Magang yang Berharga

Mon, 09/10/2018 - 10:59

Oleh: *Tata

12 Juli 2018 adalah hari pertama saya menginjakkan kaki di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) sebagai staf magang. Tidak terasa, saya menghabiskan waktu dua bulan magang dengan cepat di SABDA. Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan. Awalnya, saya memutuskan untuk magang di SABDA dengan alasan untuk mengisi waktu liburan kuliah yang terhitung cukup lama, kira-kita dua bulan. Selain itu, saya juga ingin menambah pengalaman dalam dunia pekerjaan. Namun, selama dua bulan di SABDA, saya baru menyadari bahwa yang saya lakukan sebenarnya adalah pelayanan untuk Tuhan. Banyak pelajaran rohani yang saya dapatkan di SABDA. Saya belajar untuk memahami firman Tuhan dan memahami kehendak-Nya dalam kehidupan saya. Melalui PA dan PD, saya juga belajar untuk mendalami Alkitab serta belajar memimpin.

Sebagai staf magang, selain pelajaran rohani, saya juga belajar menangani berbagai tugas yang cukup bervariasi dari hampir semua tim. Semua pekerjaan di SABDA sebenarnya bukanlah bidang yang saya geluti karena saya adalah mahasiswi jurusan farmasi. Namun, saya justru mendapatkan banyak ilmu lain yang tidak mungkin bisa saya dapatkan di kampus.

Pada minggu pertama, saya mendapat pengalaman untuk mentranskrip video, menulis blog, dan memberi stempel pada setiap buku di perpustakaan SABDA. Saya juga belajar untuk menulis pokok doa, walaupun awalnya sedikit kesulitan karena tidak terlatih untuk menulis. Namun, melalui proses, perlahan-lahan saya mulai terbiasa. Selain itu, saya juga mendapat pengalaman membuat teaser, mencari bahan-bahan kekristenan, mencari bahan untuk situs.co, dan masih banyak lagi. Pengalaman yang menarik bagi saya adalah ketika dilatih dengan kemampuan di bidang multimedia, yaitu membuat quote, mentranskrip video, dan membuat GIF. Sebelumnya, saya belum pernah membuat itu semua. Awalnya, quote gambar yang saya buat terlihat sangat sederhana dan tidak rapi, tetapi berkat Kak Pio, saya diajarkan bagaimana memasukkan background yang benar serta mengatur komposisi yang tepat. Perlahan, tetapi pasti, Kak Pio dengan sabar membimbing. Beruntungnya, Kak Pio tidak hanya sabar, tetapi juga humoris sehingga ketika dijelaskan saya tidak merasa tertekan. Selain membuat quote gambar, pengalaman menarik yang lain adalah membuat GIF. Saya sungguh bersyukur bisa mendapatkan ilmu multimedia dengan gratis di SABDA, yang semula saya hanya melihat GIF di aplikasi chatting, sekarang saya tahu cara membuatnya. Membuat GIF tidak semudah membuat quote gambar, GIF memang lebih rumit. Berkat Kak Pio, saya bisa sedikit paham.

Pengalaman pertama lain yang menarik adalah membuat rekaman artikel. Ternyata, membuat rekaman tak semudah yang dibayangkan karena hanya orang yang sudah mahir yang dapat menghasilkan rekaman yang pas. Pertama kali mencoba rekaman, saya sangat kesulitan, sebab dalam merekam harus menggunakan nada dan intonasi yang tepat. Waktu itu Kak Kun adalah orang pertama yang memberikan tugas untuk rekaman artikel. Artikel yang diberikan ada dua halaman. Hasil rekaman artikel pertama saya terbilang cukup baik, walaupun banyak intonasi yang kurang pas, tetapi bersyukur saya bisa terus belajar. Kesulitan dalam merekam sangat bervariasi, contohnya jika ada gangguan suara bising, penggunaan nada yang tidak enak didengar, serta pembacaan yang terlalu cepat atau terlalu lambat.

Di SABDA, saya juga mendapatkan pengalaman menjadi moderator di Grup Facebook Walking With God (WWG). Ternyata, SABDA memiliki banyak sekali komunitas di Facebook mulai dari e-Santapan Harian (e-SH), e-Renungan Harian (e-RH), Walking With God (WWG), e-BinaAnak, e-BinaSiswa, Humor, dan masih banyak lagi. Dan, semua itu disediakan untuk peserta belajar memahami firman Tuhan setiap hari. Pengalaman lain yang saya dapatkan di SABDA adalah kegiatan rutin membaca artikel koran. Saya melihat hal ini sangat berguna dan jarang ada lembaga atau perusahaan yang memberi kesempatan kepada stafnya untuk membaca di sela-sela kesibukan pekerjaan.

Pada awal magang, saya merasa kesulitan dengan banyaknya tugas, terutama untuk memenuhi deadline yang sudah ditetapkan. Karena baru pertama kali bekerja di dunia nyata, saya sedikit kesulitan untuk membagi waktu dan untuk bisa fokus. Akan tetapi, lama-kelamaan saya mulai terbiasa dan terlatih. Selama masa magang, saya juga merasakan penyertaan Tuhan yang nyata dalam hidup saya. Dialah yang membuat saya bisa bertahan hingga akhir magang. Saya juga belajar beradaptasi dengan staf-staf lain di SABDA. Mereka tidak pernah sungkan membantu saat saya perlu bantuan atau saat saya bertanya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus atas kesempatan yang berharga ini. Saya juga bersyukur karena melalui YLSA, saya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Selain itu, saya juga mendapat teman-teman baru. Sekali lagi, semua itu hanya karena anugerah Tuhan. Ada maksud Tuhan yang baik dengan menempatkan saya di YLSA. Tuhan sudah bekerja secara luar biasa dalam hidup saya selama dua bulan magang ini. Apa pun yang sudah saya dapatkan dari SABDA tidak akan saya lupakan, bahkan saya juga akan bagikan kepada orang-orang di sekitar saya agar mereka juga dapat merasakan berkat Tuhan seperti yang saya rasakan. Terlebih lagi, saya juga bisa merasakan betapa kerennya melayani Tuhan dengan media elektronik, yaitu dengan gadget kita. Bagi saya, magang di SABDA merupakan pengalaman yang luar biasa. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Kenangan di YLSA: A Moment to Remember

Tue, 09/04/2018 - 09:52

Oleh: Liza

Akhirnya, hari itu datang, 8 Agustus 2018.

Hari terakhir saya di Solo dan di SABDA. SABDA adalah tempat kerja pertama saya, di tim ITS SABDA, mulai November 2015. Dalam 2 tahun 9 bulan ini, saya belajar banyak hal. Saya mengalami pertumbuhan jasmani maupun rohani, mulai dari skill, hardskill, maupun softskill. Banyak training yang diberikan di internal SABDA maupun training di luar kantor. Saya juga mendapat kesempatan untuk ikut Hackchaton - Code for The Kingdom di Jakarta. Wah, ini pengalaman yang tidak akan saya lupakan. Dalam 3 hari 2 malam, orang-orang berkumpul dengan satu tujuan, mengembangkan ide maupun aplikasi seputar kekristenan. Begadang 2 malam untuk coding, bertemu dengan orang-orang yang punya ide-ide kreatif. Pengalaman lainnya adalah membantu membimbing teman-teman magang di tim ITS SABDA. Mereka mengerjakan proyek-proyek yang belum pernah saya kerjakan. Ini membuat saya ikut belajar bersama mereka. Mulai dari digital media library, elastic search, interlinear, dan sebagainya. Proyek yang mengesankan yang saya kerjakan adalah SABDA Bot. Saya bersama tim ITS mengembangkan chatbot di aplikasi chatting Telegram, Facebook, dan LINE. Namun yang paling up to date adalah di Telegram. Dengan SABDA Bot, kita bisa membaca Alkitab, membaca renungan, dan PA chatting dengan robot ini.

Saya juga belajar tentang berelasi dan kemampuan public speaking. Staf-staf di SABDA banyak dilatih kemampuan public speaking-nya melalui training maupun kesempatan menyampaikan presentasi di roadshow atau acara-acara SABDA. Selain itu, sejak 2016, SABDA memulai gerakan AYO_PA!. Gerakan ini untuk mengajak masyarakat Kristen Indonesia menyadari pentingnya pendalaman Alkitab secara pribadi maupun kelompok. Khususnya untuk generasi Z, bagaimana menggunakan gadget untuk belajar firman Tuhan. Karena itu, SABDA banyak mengadakan roadshow #Ayo_PA! ke gereja-gereja maupun sekolah. Saya bersyukur mendapat kesempatan mengikuti beberapa roadshow SABDA, baik di dalam maupun luar pulau Jawa. Pada saat roadshow, saya melihat realita bagaimana software, aplikasi, dan bahan-bahan SABDA sangat mendatangkan manfaat bagi masyarakat Kristen Indonesia. Prinsip unik di SABDA adalah agile -- fleksibel. Tetap merencanakan, tetapi juga fleksibel jika diperlukan perubahan atau penyesuaian. Ketika roadshow, kadang ada hal-hal di luar harapan yang terjadi. Saat itulah, kita ditantang untuk memiliki akal lain dalam mengatasi masalah. Tidak hanya di roadshow, tetapi juga dalam pengerjaan proyek-proyek di SABDA.

Di SABDA juga ada PA kelompok kecil. Bahan yang digunakan beragam. Yang paling berkesan adalah bahan dari Renungan Oswald Chambers. Selain itu, ada juga renungan dari Jesus Freak. Melihat kisah hidup orang-orang yang teguh memegang imannya pada Yesus, bahkan jika mereka harus mengakhiri hidupnya. Saya sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan belajar dan melayani di sini.

Kalau ditanya hal apa yang akan saya rindukan? Jawabannya banyak sekali. Pertama, Thanksgiving day. Ya, saat Thanksgiving day, SABDA punya acara khusus. Thanksgiving day biasanya jatuh pada Kamis terakhir November. Di sini, kita diingatkan untuk mengucap syukur atas apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita meskipun pada hari biasa kita juga sudah bersyukur. Selain itu, yang menyenangkan adalah setelah persekutuan, ada makan bersama. Menunya harusnya kalkun, tetapi karena di Indonesia susah sekali mencarinya, maka diganti ayam. Ayamnya disajikan dengan mash potato dan salad. Ya, saya suka sekali menu ini. Biasanya dimasak oleh Bu Yulia sendiri bersama Bu Reso. Saya juga akan kangen sekali dengan masakan ibu-ibu dapur SABDA. Ada Bu Reso, Bu Dikem, Bu Ros, dan Bu Tiwi. Mereka yang bertugas memberi gizi untuk stat-staf SABDA walaupun dengan sajian yang sederhana. Tidak lupa juga, ada tiga anjing kesayangan: Snoopy, Chika, dan Chiko. Melihat tingkah mereka adalah hiburan tersendiri buat saya, yang adalah pecinta anjing.

Saya juga tinggal di mess SABDA. Saya pasti sangat merindukan keseharian di mess, bersama teman-teman mess maupun sendiri. Yang saya lakukan pada waktu senggang biasanya adalah ke perpustakaan, main musik: piano atau gitar. Yang tidak kalah penting adalah komunitasnya. Kebersamaan yang tidak sebentar ini membuat saya merasa feeling home. Kalau boleh mengutip kalimat Dominic Toretto di film Fast and Furious 7, "I don't have friends, I got family". Saya sangat bersyukur untuk keberadaan teman-teman SABDA semuanya.

Akhir kata, terima kasih untuk SABDA, saya sudah boleh menjadi bagian dari keluarga SABDA dan terima kasih untuk SABDA yang sudah menjadi bagian dari proses hidup saya. Saya juga minta maaf karena pasti ada perkataan dan perbuatan saya yang tidak berkenan selama saya di sini. Secara khusus, saya berterima kasih kepada Bu Yulia, Pemimpin SABDA, dan Mas Hadi, Koordinator tim ITS. Terima kasih atas setiap bimbingan, nasihat, teguran yang sudah diberikan. Itu semua sangat berarti bagi saya. Tuhan tidak akan membawa kita sampai sejauh ini jika hanya untuk meninggalkan kita. Kalimat ini pertama kali saya dengar ketika bergumul di semester akhir kuliah saya. Saya percaya hal ini juga berlaku untuk SABDA. Tuhan sudah memberi banyak kesempatan sampai saat ini, Tuhan juga sudah memimpin dan menyertai SABDA sampai saat ini, pasti Tuhan akan terus melanjutkan pekerjaan-Nya melalui SABDA. Hudson Taylor mengatakan, "God's work done in God's way will never lack God's supply". Pekerjaan Tuhan yang dilakukan dengan cara Tuhan tidak akan pernah kekurangan penyertaan Tuhan. Tetap semangat #IT4GOD!. Tuhan yang hidup menyertai kita semua. Soli Deo gloria.

Staf SABDA Mengikuti Seminar Panggilan dan Nilai Guru

Mon, 08/20/2018 - 09:54

Oleh: *Lena

Saya bersyukur diberi kesempatan mengikuti Seminar & Workshop Guru KAA "PANGGILAN DAN GURU NILAI GURU" yang diselenggarakan oleh Gereja GUPdI Pasar Legi, Solo, pada 29 Juli 2018. Awalnya, saya menolak untuk mengikuti seminar dan workshop ini karena bertepatan dengan pelayanan saya di gereja. Untuk mengikuti acara ini, saya harus mengorbankan satu pelayanan, yaitu tidak melayani di pelayanan anak, awalnya hati berat untuk meninggalkan pelayanan tersebut. Namun, saya meminta hikmat Tuhan dan akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti seminar dan workshop ini. Dengan harapan, saya bisa membagikan kepada teman-teman di sekolah minggu mengenai panggilan dan nilai guru. Seminar ini diikuti oleh anggota tim Pendidikan Kristen SABDA, yaitu: Ariel, Tika, dan Lena.

Sesampainya di GUPdI Pasar Legi, kami disambut dengan ramah oleh panitia. Puji Tuhan, karena terlalu semangat untuk menghadiri seminar tersebut, kami adalah peserta pertama yang datang menghadiri acara seminar. Kami harus menunggu peserta yang lain, dan sempat berpikir hal apa yang harus saya lakukan dengan waktu yang cukup lama menunggu teman-teman yang lain, selain menggunakan smartphone ini? Bukan secara kebetulan, kami berkenalan dengan pasangan suami-istri yang bernama Budi dan Wati. Setelah kami memperkenalkan nama kami dan mengatakan bahwa kami adalah perwakilan dari SABDA, Bapak Budi langsung antusias dan menceritakan bahwa beliau juga memakai produk-produk SABDA. Beliau banyak terberkati dari pelayanan SABDA. Kepada mereka, kami juga memperkenalkan produk-produk SABDA yang baru yang dapat menolong untuk memperlengkapi pelayanan dan kehidupan mereka. Tidak terasa, kami menggunakan waktu cukup lama untuk berkenalan dan memperkenalkan pelayanan SABDA. Peserta pun berdatangan dan acara akan dimulai.

Acara dimulai dengan pujian dari panitia dan juga "ice breaker" pengakraban dari pembicara, yaitu Ibu Mercy. Menurut saya, permainannya cukup efektif untuk mengenal satu dengan yang lain. Acara yang dinantikan pun tiba. Ibu Mercy menyampaikan materi mengenai "PANGGILAN DAN NILAI GURU". Pada sesi I, beliau menyampaikan materi mengenai tantangan perubahan dunia yang telah merampas dan merusak generasi. Apa yang harus dilakukan gereja, orang tua, dan guru sekolah minggu? Kebanyakan guru sekolah minggu tidak menjadikan diri mereka sebagai sarana utama dalam mengajar, melainkan media sebagai alat utama untuk menghibur anak-anak sekolah minggu. Oleh sebab itu, anak-anak datang ke sekolah minggu karena ingin bermain, menonton film, dan mendapatkan hadiah. Sungguh, hal ini ironis! Saat Ibu Mercy menjelaskan materi tersebut, saya pribadi mengoreksi diri saya dan pelayanan saya selama ini. Saya lantas minta ampun kepada Tuhan karena saya melakukan seperti yang dikatakan Ibu Mercy. Setelah sesi 1 berakhir, kami pun istirahat untuk makan siang. Ketika makan siang berlangsung, ternyata ada diskusi yang membahas mengenai pelayanan dari gereja masing-masing. Dari share teman-teman, saya menyimpulkan bahwa guru-guru kurang persiapan untuk melayani anak-anak dan guru-guru lebih mengutamakan media film dan permainan dibandingkan guru itu sendiri.

Waktu istirahat pun usai, berlanjut untuk sesi II. Dalam sesi ini, Ibu Mercy menjelaskan mengenai "Tantangan Gereja, Orang tua, dan Sekolah Minggu". Iblis bekerja keras menghancurkan gereja, orang tua, dan sekolah minggu. Namun, mengapa gereja, orang tua, dan sekolah minggu tidak berbenah diri untuk membangun anak-anak? Ibu Mercy mengatakan bahwa masih banyak gereja yang belum dibukakan mati hatinya untuk jiwa anak-anak. Masih banyak gereja yang tidak peduli untuk sekolah minggu. Gereja tidak melihat bahwa anak-anak adalah masa depan gereja, yang menentukan mati-hidupnya gereja. Dari sisi orang tua, Ibu mercy menyoroti bahwa sering kali orang tua berpikiran bahwa yang bertanggung jawab untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak mereka adalah gereja dan guru sekolah minggu. Orang tua mengabaikan tugas utama mereka dalam mendidik anak-anak mereka untuk takut akan Tuhan. Dari sisi guru sekolah minggu, Ibu Mercy menyoroti bahwa banyak guru sekolah minggu yang kurang persiapan dan tidak punya beban untuk mendidik anak-anak.

Saya bersyukur mengikuti acara ini, sekalipun saya tidak mendapatkan pelatihan untuk guru sekolah minggunya, sebab waktu tidak cukup. Ada banyak hal yang saya dapatkan dari seminar ini dan memaksa saya untuk membenahi diri saya sebagai guru sekolah minggu. Terima kasih. Tuhan memberkati.

Diskusi Buku “Pencobaan” di Klub Buku SABDA

Mon, 08/13/2018 - 11:32

Oleh: Santi

Di tengah-tengah kesibukan tim SABDA mengerjakan proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT), tim Penjangkauan YLSA membuka diskusi buku pada pertengahan semester I lalu. Buku "Pencobaan" karya John Owen yang diterbitkan oleh Momentum menjadi bahan diskusi di Klub e-Buku SABDA periode Juni-Juli 2018. Dengan 32 peserta dan seorang moderator, diskusi KBS bisa berlangsung dengan lancar dan dinamika diskusi cukup menarik. Tidak hanya menjawab pertanyaan atau mendiskusikan isi buku, tetapi peserta juga menyelipkan pengalaman atau kesaksian pribadi terkait topik yang sedang dibahas. Inilah yang membuat diskusi menjadi hidup dan berkesan. Oh ya, jangan hanya saya yang memberi kesan, teman-teman yang lain juga ada yang mau memberi kesan atau kesaksian lho. Ini dia ....

Juni Liem:
Mau lebih banyak menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan dan berdoa. Karena sering kali di tengah kelelahan, firman Tuhan dan doa diabaikan dan memilih tidur.

Pertanyaan yang diberikan oleh moderator, membuat saya belajar untuk berpikir lebih kritis dan merenung karena tidak semua pertanyaan berasal dari buku. Dan, saya pun banyak belajar dari komentar teman-teman yang lain.

Suratman Aripin:
Aplikasi yang saya lakukan setelah mengikuti diskusi ini: belajar mencari titik lemah saya, membawanya dalam doa, dan tidak menyepelekan titik awal kejatuhan saya. Jadi, saya harus lebih berhati-hati (berjaga-jaga). Kesaksian saya selama mengikuti diskusi ini: saya sungguh bersyukur walaupun sebelumnya saya pernah membaca buku ini secara pribadi, tetapi melalui diskusi ini saya semakin dipertajam pemahamannya, khususnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh moderator dan juga masukan dari rekan-rekan lainnya. Sekali lagi, terima kasih diskusi ini sungguh bermanfaat bagi saya. Dan, terus kembangkan pelayanan ini.

Puji Arya Yanti:
Buku ini membawa saya untuk mengamini sekali lagi bahwa tetap berjaga-jaga dan berdoa adalah perlengkapan untuk mengadapi pencobaan.

Kesan selama diskusi: Tidak semua jawaban pertanyaan mengacu buku, tetapi berasal dari pendapat peserta dan itu semakin memperkaya isi buku ini. Terima kasih untuk peran aktif moderator dan teman-teman diskusi, dan mohon maaf saya sering terlambat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Terima kasih.

DanceYefrason Faah:
Ada hal-hal baru yang saya dapatkan dalam diskusi kali ini. Dan, hal-hal itulah yang saya pakai untuk kekuatan saya. Pokoknya sangat membantu saya dalam pertumbuhan/proses menjadi murid Kristus. Luar Biasa. Doa dan harapan saya, semoga Tuhan selalu memberkati semua tim YLSA agar selalu menjadi saluran berkat bagi orang lain. Amin!

Prilian Abet Nego:
Diskusi ini menolong saya memahami tentang pencobaan yang sangat berbahaya bagi kehidupan rohani. Saya harus bisa menyadari potensi pencobaan yang hadir. Kemudian, terus menyadari kelemahan yang sering membawa jatuh ke dalam pencobaan. Setiap pencobaan harus dilawan. Setiap waktu harus berdoa dan berjaga-jaga agar kuat menghadapi pencobaan. Terima kasih sudah bisa berdiskusi bersama, menambah wawasan, dan saling menguatkan.

Arief Kristianto:
Melalui diskusi ini, saya mendapat berkat kembali diingatkan untuk terus mendekat kepada Tuhan karena pencobaan (yang ternyata sangat berbahaya) selalu akan kita hadapi. Hanya dengan kekuatan dari Tuhanlah, kita bisa mengatasi semua pencobaan. Terima kasih kepada teman-teman yang sudah aktif berdiskusi. Tuhan memberkati kita semua.

Romauli Boru Marpaung:
Aplikasi bagi saya sendiri adalah saya bisa mengetahui kapan saat pencobaan itu mulai ada, dan bagaimana cara saya bisa menghadapinya. Kesannya, saya bisa lebih berhati-hati dan berjaga-jaga terhadap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Saya juga bisa memperlengkapi diri saat dengan siap melalui doa untuk menang menghadapi segala pencobaan jikalau Tuhan izinkan itu terjadi.

Sebagai penutup, ingatlah kutipan pendek ini, yang saya ambil dari buku "Pencobaan" karya John Owen, "Bertindak sesuai panggilan Yesus merupakan satu-satunya jalan yang telah Allah tetapkan untuk menjaga Anda agar tidak masuk ke dalam pencobaan dan jatuh ke dalam dosa." Doa saya, diskusi buku ini bisa menjadi berkat bagi peserta, terutama untuk mendorong mereka semakin dekat dengan Tuhan dan peka akan kehendak-Nya. Sekian kesaksian saya dan teman-teman dari Klub e-Buku SABDA tentang diskusi buku kali ini. Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati.

Hasil Belajar: “Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital”

Mon, 08/06/2018 - 14:05

Oleh: Santi

"Teladan berbicara lebih kuat daripada ribuan kalimat." Pesan ini masih membekas dalam hati saya, dan memang harus diakui bahwa hal ini benar. Baik sebagai orang tua, guru, maupun pemerhati anak, pesan ini berlaku bagi kita semua dalam mendidik anak-anak. Akan sangat tidak bijaksana jika kita menuntut anak untuk melakukan ini-itu atau melarangnya berbuat ini-itu, tetapi kita, sebagai orang tua, malah melakukannya, bahkan di depan mereka. Oops, sebelum saya lebih menggebu-gebu lagi melanjutkan topik ini, saya akan menceritakan latar belakang di balik tulisan saya ini ... tenang saja, tidak akan panjang kok.

Sabtu, 28 Juli 2018, saya dan Ody hadir di seminar parenting "Tantangan Mendidik Anak pada Era Digital" di Graha Anugrah, Surakarta. Seminar dimulai pukul 08.30 WIB yang dibuka dengan menyanyikan lagu pujian dan doa pembukaan, lalu dilanjutkan dengan pembahasan topik seminar oleh Ibu Vik. Mercy Matakupan, S.Th. selaku pembicara seminar. Beliau adalah seorang guru sekolah minggu dan pelayan Tuhan yang aktif dalam bidang parenting. Seminar ini terbagi menjadi 2 sesi; sesi 1 untuk mengenal generasi digital dan sesi 2 membahas tantangan mendidik anak pada era digital. Selama penyampaian materi, Ibu Mercy selalu menggunakan contoh-contoh nyata yang pernah beliau alami/temui ketika mengajar sekolah minggu ataupun mendidik anaknya.

Lanjut ke topik lagi ya. Mendidik anak pada era digital tidak mudah, ada banyak tantangan. Namun, orang tua/guru SM jangan melihat tantangan dari sisi era digitalnya saja, tetapi perlu disadari bahwa pada dasarnya kita adalah orang berdosa, dan anak kita juga orang yang berdosa. Kita tidak bisa mendidik dan menolong anak kita sendirian, kita perlu pertolongan Tuhan. Bahkan, sebelum kita menuntut anak-anak kita, Tuhan akan mengubahkan kita terlebih dahulu. Tujuan Tuhan bukan menjadikan kita orang tua yang berbahagia, tetapi menjadikan kita serupa dengan Kristus.

Sejak dahulu, esensi dosa adalah sama (tidak suka Tuhan, tidak taat, tidak suka firman Tuhan), tetapi kemasannya berbeda-beda. Pada era digital ini, kemasan dosa sangat menarik, bahkan sampai membuat anak-anak kecanduan. Mulai dari film, iklan, lagu, permainan, sampai musik, memberikan hiburan bagi anak-anak dan menjadi cara dunia merampas hati mereka. Lebih parahnya lagi, semuanya ini tidak menjadi hiburan belaka, tetapi menjadi sebuah budaya -- budaya hiburan, pop culture. Dalam mendidik anak, orang tua harus menyadari bahwa anak yang mereka didik saat ini merupakan bagian dari generasi yang lebih suka hiburan daripada didikan; generasi yang lebih suka menonton daripada mendengarkan; generasi yang cepat puas, cepat bosan, tidak suka proses, egois; dan generasi menunduk (karena selalu melihat smartphone). Ini adalah suatu peperangan rohani yang harus kita sadari. Secara tidak langsung, ada penghancuran karakter, moral, iman, melalui berbagai hal yang ditawarkan dunia ini, khususnya melalui hiburan dan kenyamanan yang disajikan. Karena itu, mendidik anak adalah suatu peperangan rohani. Lalu, bagaimana peran orang tua dalam mendidik anak pada era digital?

1. Orang tua mengisi kebutuhan rohani anak.
2. Mengembalikan sistem nilai yang rusak.
3. Menjadi teladan.
4. Disiplin dalam kasih dan konsistensi.
5. Mencari waktu terbaik untuk berbicara dengan anak.
6. Melibatkan anak dalam kegiatan sosial/bersama.

Ingat! Kita tidak bisa mengerjakannya sendirian. Kita memerlukan pertolongan Tuhan dan harus rela mengajarkan kebenaran kepada anak secara berulang-ulang (Ulangan 6:6-9). Pelajaran penting yang saya peroleh adalah orang tua harus memiliki visi dan meminta belas kasih kepada Tuhan supaya ketika mendidik anak-anak, orang tua tahu ke mana akan membawa mereka bertumbuh. Kiranya tulisan ini menjadi berkat bagi kita semua. Terpujilah nama Tuhan.

Hasil Belajar dari SPIK: “You Are What You Love”

Fri, 08/03/2018 - 09:47

Oleh: *Yunike

Pada 23 Juli 2018, saya bersyukur karena mendapat kesempatan dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) untuk mengikuti Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) dengan tema “You Are What You Love” di Adhiwangsa Hotel, Solo, oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Awalnya, saya tidak begitu berminat untuk mengikuti seminar. Namun, setelah saya pikir-pikir, mungkin akan ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari sana. Sekitar pukul 17.30 WIB, saya berangkat bersama staf SABDA yang lain. Sebelum seminar dimulai, panitia memberi kesempatan untuk peserta menikmati snack yang sudah disediakan.

Sekitar pukul 19.00 WIB, acara seminar dimulai oleh Vik. Heru Lin, M.Th.. Beliau membuka sesi dengan menjelaskan poin-poin apa saja yang akan dibahas selama sesi, yaitu sifat atau natur manusia, dan tugas manusia maupun tugas gereja. Selama sesi, saya merasa bahwa beliau menyampaikan materi terlalu cepat. Pada awalnya, apa yang disampaikan beliau mengenai sifat dan natur manusia dapat saya pahami. Tujuan manusia ketika diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berbicara tentang tugas manusia, sesuai yang tertulis dalam Kejadian 1:26. Yang pertama adalah memelihara ciptaan lain (dominion), lalu yang kedua adalah beranak cucu dan penuhilah bumi (reproduksi). Tuhan ingin manusia menjadi representasi Allah yang berkuasa atas seluruh bumi, menaklukkan bumi bagi Tuhan. Sebagai "image of God", ada dua kecenderungan dalam manusia berelasi, yaitu sebagai makhluk rasional dan emosional. Sebagai makhluk rasional, manusia pasti tahu alasan mereka menjalankan banyak hal. Beliau memberi contoh kepada peserta, jika diberi pilihan untuk makan nasi setiap hari atau pop corn, manusia pasti akan memilih nasi karena kebutuhan gizi dari nasi lebih diperlukan. Sebagai makhluk emosional, beliau mengaitkan dengan musik. Tanpa mengetahui tangga nada, keteraturannya, maupun struktur musik, manusia tetap dapat menikmati musik. “As long as it feels good,” begitulah beliau mengungkapkan filosofi manusia tentang musik.

Pada bagian selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa manusia tidak hanya makhluk rasional dan emosional, tetapi manusia juga adalah makhluk yang mencintai. Yang menggerakkan manusia melakukan sesuatu bukan hanya apa yang diketahui dan dirasakan, tetapi juga apa yang dicintai. Orang percaya tahu bahwa berdoa, membaca firman Tuhan, dan saat teduh adalah penting. Namun, kalau tidak mencintai Allah, manusia tidak akan melakukannya atau akan melakukan, tetapi dengan terpaksa. Beliau menjelaskan ketika Yesus mulai mencari murid-Nya, Dia berkata dalam versi bahasa Inggris, “What do you want?” Ketika Petrus menyangkal Yesus, dan Yesus kembali bertemu dengan Petrus, Yesus tidak bertanya apakah kamu menyesal, tetapi Yesus bertanya, "Apakah kamu mengasihi-Ku, Petrus?" Ketika Petrus sadar bahwa dia mengasihi Tuhan lebih dari apa yang dimiliki bahkan hidupnya, dia rela melakukan perintah Tuhan hingga mati disalib terbalik. Beliau mengutip Amsal 4:23 yang menjelaskan bahwa kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh hati, di mana hartamu berada (berkaitan dengan mengikut Yesus), di situ pula hati kita juga berada.

Beliau juga menjelaskan, love dan feeling adalah dua hal yang berbeda. Feeling ada saatnya naik dan turun, sedangkan love akan konstan naik. Love adalah habit, sesuatu yang selalu kita lakukan tanpa sadar. Membangun suatu habit (kebiasaan), yaitu dengan belajar dan berlatih. Selain latihan, hal lain yang memengaruhi habit adalah liturgi atau kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang memengaruhi kita tanpa sadar. Tugas gereja adalah mengerjakan liturgi yang membawa nilai-nilai yang berbeda dari dunia.

Dalam perjalanan kembali ke mess, saya kembali merefleksikan apa yang telah disampaikan melalui seminar tadi. Satu pertanyaan yang muncul dalam pikiran saya adalah “Di mana hati saya berada saat ini? Apakah saya akan sangat bersedih ketika saya kehilangan hadirat Tuhan?” Memang sulit untuk terus berkomitmen dan melekatkan hati kita hanya kepada Tuhan. Namun, seperti yang dikatakan Vik. Heru Lin, terus belajar dan berlatih adalah kunci untuk membangun habit atau kebiasaan untuk mencintai Tuhan lebih dari apa pun. Saya bersyukur karena melalui Roh Kudus-Nya, Tuhan mendorong saya untuk mengikuti seminar ini karena ada hal baru yang saya peroleh, yang dapat membuat saya mengerti bahwa "saya adalah apa yang saya cintai".