RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 17 min 26 sec ago

Asyik, TED Staf YLSA Lagi!

Thu, 06/22/2017 - 15:00

Pada blog-blog sebelumnya, pernah ada pembahasan seputar +TED @SABDA. Kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai +TED @SABDA khusus staf YLSA teranyar yang harus Sahabat YLSA ketahui. Siap?

Salah satu rangkaian acara Persekutuan Doa (PD) staf YLSA Jumat, 16 Juni 2017, adalah +TED @SABDA yang disampaikan oleh staf YLSA. Ada 4 presentasi menarik yang disampaikan oleh Indah, Liza, Aji, dan Danang. Diawali dengan presentasi berjudul "Integritas", Indah mencoba menyampaikan materinya semaksimal mungkin. Beberapa tokoh Alkitab yang memiliki hidup berintegritas juga disinggung Indah, sebagai contoh, Abraham dan Musa. "Sebagai orang percaya, kita harus bisa melakukan yang terbaik sekalipun bos/pemimpin kita tidak ada di dekat kita," begitulah salah satu aplikasi yang bisa kita lakukan untuk hidup berintegritas. Dilanjutkan dengan presentasi "Six Thinking Hats" oleh Liza, kita semua dibekali dengan wawasan mengenai 6 cara berpikir menurut warna topi. Keenam warna topi tersebut adalah merah (emosi, perasaan), kuning (berpikir positif/mencari keuntungan), hijau (kreativitas, ide baru), hitam (berpikir negatif, kesulitan, kelemahan), putih (berfokus pada data), dan biru (mengatur proses berpikir). Intinya, dalam keadaan tertentu, seseorang diharapkan bisa memakai topi-topi tersebut secara bijaksana, sesuai kebutuhan.

Presentasi ketiga disampaikan oleh Aji dengan judul "Perfeksionis Maladaptive". Topik ini cukup berat, tetapi sangat menolong kita untuk mengetahui, mengenali, bahkan mengatasi sikap perfeksionis. Materi yang disampaikan cukup padat dan direlevansikan dengan kehidupan Kristen yang alkitabiah. Intinya, kita dapat berhenti berusaha untuk memperoleh "kesempurnaan" menurut dunia, dan tinggal tenang dalam Dia Yang Sempurna (Matius 11:28). Namun, di sisi lain, benar bahwa Alkitab memanggil kita untuk "menjadi sempurna seperti Bapa" (matius 5:48). Yang terakhir, kita semua diberi wawasan dan belajar bagaimana melakukan "PA dengan metode Etimologi". Wah, presentasi terakhir ini makin berat ya? Danang, sebagai presentator terakhir, menjelaskan mengenai metode etimologi ini dengan sangat antusias dan sukacita, seolah-olah dia sedang menceritakan cerita terbaik yang pernah ia baca. Meski judul presentasinya cukup horor (menurut beberapa staf), tetapi materi bisa kami tangkap dengan baik. Intinya, dalam membaca Alkitab, metode penelusuran suatu kata dalam Alkitab akan sangat menolong kita untuk melihat konsep pada masa itu dan mendapatkan maknanya dengan akurat dan lebih mendalam. Hmmm ... materi yang unik, menurutku.

Masih penasaran dengan apa yang terjadi terhadap keempat presentator setelah mereka presentasi? Mereka diberi pertanyaan dan harus menjawabnya saat itu juga. Sesi ini cukup mengasah mereka, terutama mengenai kedalaman penguasaan materi. Terlepas dari jawaban yang diberikan benar, setengah benar, atau salah, kami belajar banyak hal dari proses ini. Saya sangat tertarik dengan presentasi terakhir. Meski kesannya "kok mau-maunya PA dengan metode seribet itu", saya jadi penasaran dan tertantang untuk mencobanya. Kesan saya, +TED @SABDA untuk staf YLSA semakin lama topiknya semakin berat ... hehe. Tak apa, justru makin menantang dan memacu untuk banyak belajar hal-hal baru supaya kita lebih berkembang. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Kunjungan SABDA ke Kota Pelajar (GKI Ngupasan)

Tue, 06/13/2017 - 14:27

Shalom, Maskunarti kembali menyapa sahabat setia SABDA. Saya bersyukur bisa ikut roadshow tim SABDA bersama Ibu Yulia, Tika, dan Lukas. Kami berangkat ke Yogyakarta pada 13 Mei 2017, siang, dengan transportasi umum kereta api. Bersyukur, kami bisa dapat tempat duduk dan menikmati perjalanan dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 15.24 ketika kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, kami menggunakan taksi menuju GKI Ngupasan. Kondisi lalu lintas yang cukup lancar membuat kami tiba di lokasi sesuai jadwal.

GKI Ngupasan

Setibanya kami di GKI Ngupasan, kami dipersilakan menempati ruang pastori untuk meletakkan barang-barang dan beristirahat. Namun, karena waktu, kami memilih untuk menyiapkan meja booth SABDA lebih dahulu sebelum beristirahat dan mandi.

Saya melihat jemaat antusias mengikuti ibadah yang berlangsung pukul 17.30 sore itu. Mereka memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan sukacita terpancar dari wajah mereka. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Yulia diambil dari Kisah Para Rasul 7:55-60, berjudul "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat" (Belajar dari tokoh Stefanus). Saya dan rekan-rekan yang lain mengikuti ibadah di luar ruangan sambil menjaga booth SABDA, dan bersyukur karena khotbah bisa kami dengarkan dengan baik dari luar.

Dari firman Tuhan Kisah Para Rasul 7:55-60, saya belajar tentang empat kuadran bagaimana saya bisa jadi pengikut Tuhan sampai akhir hayat, yaitu:
1. Menjadi saksi yang aktif.
2. Menjadi saksi yang bertanggung jawab pada imannya.
3. Menjadi saksi yang setia.
4. Menjadi saksi yang berani mati.
Jika para Sahabat SABDA ingin melihat presentasi PPT khotbah tersebut, silakan mengunduhnya slide share SABDA

#Ayo_PA!

Pada Minggu, 14 Mei 2017, Ibu Yulia berkhotbah dalam tiga ibadah raya, pukul 06.30 WIB, 09.00 WIB, dan 16.30 WIB dengan tema khotbah yang sama,yaitu "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat". Pada pkl. 10.00, kami juga memberikan pelatihan #Ayo_PA! kepada jemaat remaja GKI Ngupasan. Namun, selain generasi muda, ada juga warga dewasa yang mengikutinya. Jumlah peserta sekitar 40 orang lebih. Peserta antusias mengikuti pelatihan yang dibawakan oleh Tika. Para peserta yang generasi muda sangat fasih dalam mempraktikkan yang disampaikan dan disimulasikan oleh Tika. Bagi warga dewasa, meski belum begitu terampil dalam pengoperasian gadget, mereka memiliki keingintahuan yang tinggi dan berusaha untuk mengikuti pelatihan ini dengan baik. Kami bersyukur dapat membantu mereka melakukan instalasi aplikasi SABDA Android (Alkitab SABDA, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, Peta) di HP mereka.

Ini merupakan pengalaman kedua saya mengikuti roadshow SABDA. Saya belajar banyak hal, khususnya dalam berinteraksi dengan jemaat, memberikan penjelasan tentang booth SABDA, dan menginstal aplikasi-aplikasi SABDA Android. Saya berharap, SABDA semakin dipakai Tuhan untuk menolong banyak orang di berbagai penjuru Indonesia untuk menggunakan teknologi dalam belajar firman Tuhan dan melayani Tuhan lebih maksimal lagi. Segala kemuliaan bagi Tuhan. Amin.

Bertumbuh dan Berkembang di SABDA

Fri, 06/09/2017 - 10:07

Hari-hari ini, saya merenungkan tentang kebaikan besar yang Tuhan lakukan dalam langkah iman dan hidup saya selama kurang lebih 2,5 tahun ini. Pada 7 Oktober 2014, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan pelayanan YLSA, saya masih sangat mengingatnya. Di tempat ini, saya disambut dengan baik dan diterima dalam sebuah komunitas teman-teman yang mayoritas masih muda. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali saya di tempat ini dan sekarang ini, saya jauh lebih bertumbuh dalam skill, jiwa, dan juga kerohanian. Selain itu, secara kepribadian saya juga berkembang.

Tuhan baik, saya beroleh kesempatan untuk berada dalam sebuah ladang yang tidak pernah saya pikirkan akan saya kerjakan, yaitu ladang digital. Ladang yang telah, sedang, dan akan terus digarap oleh YLSA. Saya seorang lulusan jurusan Pendidikan Agama Kristen yang ketika pertama kali berada di tempat ini merasa takut dan minder dengan banyak staf yang begitu pandai. Akan tetapi, di tempat ini saya diajari dan didorong untuk belajar mandiri dan mendapat banyak keterampilan. Tidak ada teman yang tidak mau menolong saya untuk berkembang, dan hal itu adalah sebuah kesempatan yang mahal. Saya dilibatkan dalam beberapa bidang pelayanan sehingga saya boleh banyak belajar sehingga pribadi dan potensi saya mengalami kemajuan di tempat ini. Saya bersyukur atas keberadaan pemimpin dan teman-teman saya, dalam suka dan duka, begitu menolong saya sehingga saya bisa terlibat dalam pelayanan ini. YLSA adalah alat Tuhan untuk menjangkau jiwa pada abad ke-21 ini.

Dari dalam hati saya, saya berdoa agar YLSA tetap melihat hati Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Terima kasih untuk YLSA yang telah menolong saya melihat hati Tuhan dan bangsa-bangsa yang sedang menantikan Kabar Baik.

Pengalaman Mengikuti Seminar “Gereja Misi Dunia”

Wed, 05/31/2017 - 13:15

"Yulia sedang cari you. Saya pikir, dia punya sesuatu yang pasti you akan suka."

Mendengar pernyataan tersebut, saya langsung bergegas menemui Ibu Yulia untuk menanyakannya. Ternyata, benar saja, beliau menawarkan sebuah kesempatan yang bagi saya tidak ternilai harganya: menjadi salah satu penerjemah dalam acara seminar misi di Yogyakarta. Itu sama sekali di luar dugaan saya; tentu saja ini kesempatan yang tidak akan saya lewatkan! Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menerima tawaran tersebut. Dan, sebagai persiapan untuk itu, beliau memberikan saya softcopy dari buku World Mission Church (Gereja Misi Dunia) yang pengarangnya akan menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar misi tersebut.

Demikianlah secuplik adegan yang menjadi prolog dari seluruh rangkaian episode yang akan saya tulis kali ini, yaitu tentang pengalaman saya mengikuti seminar misi di Yogyakarta pada 9 -- 10 Maret 2017 silam. Seminar misi ini sebenarnya bukanlah acara tersendiri, melainkan bagian dari acara rapat tahunan sinode Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI), yang diselenggarakan pada tanggal 8 -- 10 Maret 2017 di Villa Taman Eden 2 Kaliurang, Yogyakarta. Tim SABDA yang berangkat ke sana hanya Bu Yulia dan saya.

Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Kami berangkat dari Solo sekitar pukul 08.30 dengan bus dan mampir ke Klaten untuk mengambil cetakan buku terjemahan "Gereja Misi Dunia" untuk dibagikan kepada peserta. Kami tiba di tempat acara, di Villa Taman Eden 2, sekitar hampir pukul 12.00. Setibanya di sana, kami disambut oleh empat orang bule yang tampaknya sudah menantikan kedatangan kami. Mereka adalah Pak Paul Jenks dan istrinya, Ibu Lois Jenks, dari AMG International, dan Ps. David Anderson, pengarang buku World Missions Church yang sudah saya singgung sebelumnya, dan rekannya, Pak Wick Jackson, dari Envoy International. Dua orang yang disebutkan terakhir adalah para pembicara yang akan menyampaikan materi dalam seminar misi nanti.

Setelah berkenalan dan berbincang sejenak dengan keempat orang ini, Bu Yulia dan saya lantas menyiapkan booth dan menata berbagai bahan untuk para peserta -- seperti berbagai CD audio Alkitab, DVD Library Anak, traktat pelayanan anak, dll.. Namun, sebelum saya lanjutkan, ada kejadian menarik yang ingin saya ceritakan terlebih dahulu.

Sekitar satu jam sebelum berangkat ke Yogyakarta pagi itu, Pak Paul Jenks menghubungi Ibu Yulia, menginformasikan bahwa ada workbook untuk peserta seminar yang masih perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akibatnya, pagi itu kami mencoba menerjemahkan sebanyak mungkin isi workbook tersebut sebelum berangkat. Bahkan, dalam perjalanan bus ke Yogyakarta, Ibu Yulia sibuk mengetik dengan laptopnya dan saya dengan ponsel saya, untuk mengerjakan sebanyak yang kami bisa. Namun, karena workbook itu cukup banyak halamannya, maka tidak bisa cepat diselesaikan, bahkan sampai malam kami masih harus bekerja keras sambil menjaga booth dan menjelaskan tentang produk-produk SABDA saat ada yang berkunjung ke booth. Ada juga yang minta diinstalkan aplikasi-aplikasi Android ke ponsel mereka. Sedangkan Ibu Yulia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang pertemuan, mengikuti seminar, dan menerjemahkan beberapa sesi untuk para pembicara. Itulah hari pertama.

Pada hari kedua, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Para pembicara, Ps. David Anderson dan Pak Wick Jackson, sepertinya sangat senang jika Ibu Yulia yang menjadi penerjemah mereka. Tetapi masalahnya, Ibu Yulia tidak bisa tinggal lebih lama dan harus pulang siang itu karena harus mempersiapkan roadshow ke Lampung. Singkat cerita, setelah Ibu Yulia pergi, Ibu Lois meminta saya menjadi penerjemah untuk sesi kedua yang akan dibawakan oleh Pak Wick Jackson itu. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, dan dalam waktu kurang dari 5 menit, saya sudah berada di samping Pak Wick di depan dengan memegang mikrofon, siap untuk menerjemahkan meski sedikit ragu dan tidak yakin. Namun, dengan pertolongan Tuhan, sesi tersebut bisa berjalan dengan baik dan materi bisa disampaikan seluruhnya kepada para peserta. Saya sangat bersyukur dalam hati.

Seusai sesi, saya juga berkesempatan untuk duduk dan makan bersama-sama dengan mereka dan membicarakan tentang banyak hal, salah satunya tentang apa yang baru saja kita bahas pada sesi sebelumnya, yaitu tentang pelayanan misi jangka pendek. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya.

Sore harinya, saya harus kembali ke Solo. Saya ikut turun dari villa bersama-sama dengan rombongan Pak Paul, Ibu Lois, Pak David, dan Pak Wick, yang akan pulang ke hotel. Saya memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan mereka, sekaligus meminta tanda tangan Pak David untuk salinan buku Gereja Misi Dunia yang saya punya. Pada kesempatan itu, Pak Paul juga menawarkan supaya saya menjadi penerjemah lagi untuk mini seminar dengan topik yang sama yang akan diselenggarakan di STT Berita Hidup pada 13 -- 14 Maret 2017. Sungguh kesempatan yang tidak ternilai bagi saya. Kemudian, setelah berpamitan dengan keempat orang tadi, saya diantarkan ke dekat bandara untuk bisa naik bus pulang ke Solo.

Sangat senang rasanya bisa turut ambil bagian dalam pelayanan serta mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berharga ini. Terlebih, saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang seperti Pak David dan Pak Wick, yang benar-benar memiliki hati untuk misi dunia. Dari pengalaman mereka dan materi yang mereka bawakan dalam seminar ini, saya belajar banyak tentang bagaimana mengambil bagian secara pribadi dan bermakna dalam misi dunia. Kiranya segala sesuatu yang sudah terjadi boleh menjadi jalan bagi kemuliaan Allah untuk dinyatakan melalui umat-Nya. Haleluya!

Pelayanan SABDA di Pontianak

Wed, 05/31/2017 - 11:49

Bersyukur kepada Tuhan karena pada tanggal 26 -- 29 April 2017, tim SABDA (saya dengan Ibu Yulia) mendapat kesempatan mengadakan roadshow ke Pontianak di tiga tempat, yaitu di STT Pontianak, acara IVEC, dan GKNI Pniel. Kami berangkat dari tempat yang berbeda. Saya berangkat dari Solo, sedangkan Bu Yulia berangkat dari Kupang bersama rombongan peserta IVEC dari luar negeri (seperti Taiwan, Hongkong, Amerika, Kanada, dan lain-lain).

Sesampainya di bandara Supadio, Pontianak, saya bertemu Bu Yulia dan langsung keluar bandara untuk menjumpai tim dari STT Pontianak yang sudah siap menjemput kami. Di STT Pontianak, kami akan memberikan pelatihan Software SABDA dan #Ayo_PA kepada lebih dari 100 mahasiswa dan beberapa dosen yang ikut hadir. Saya dibantu oleh Ronny, salah satu mahasiswa di sana, untuk menginstal Software SABDA pada laptop para peserta dan membantu jika ada yang mengalami kesulitan. Saya berharap 4 jam presentasi yang dibawakan oleh Bu Yulia dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta dalam menggali firman Tuhan dan menyampaikan kebenaran di ladang yang Tuhan percayakan nanti.

Usai acara, kami diantar oleh Bapak Herwin, Dekan I STT Pontianak, ke rumah retret Tirta Ria, tempat berlangsungnya acara IVEC yang diselenggarakan tgl. 26 -- 28 April 2017. Jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut lebih dari 200 orang. Selain 30 peserta dari luar negeri dan 10 peserta dari Jawa, sebagian besar adalah peserta dari berbagai gereja di Pontianak (seperti GKNI Pniel, GKKB, GPPIK, dll.) dan luar Pontianak (Singkawang, Ngabang, dll.). Selama acara berlangsung, tim SABDA membuka booth untuk membagikan produk-produk SABDA agar para peserta dari Pontianak juga mendapat berkat.

Pada 27 April 2017, pkl. 11.00, Ibu Yulia menjadi pembicara untuk menyampaikan tentang bagaimana menjalankan "Misi pada Era Digital". Karena peserta dari luar negeri kebanyakan berbahasa Chinese, maka hampir seluruh acara diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, termasuk materi Bu Yulia. Meskipun penerjemah terbata-bata, hal itu tidak menghalangi materi disampaikan secara lengkap. Ini terlihat dari respons peserta setelah presentasi. Beberapa dari mereka menyampaikan ke Ibu secara langsung, sedangkan yang lain mendiskusikannya di depan booth tentang era digital dan mengaitkannya dengan bahan-bahan yang kami miliki. Di sana, saya melihat bagaimana Tuhan membukakan wawasan baru kepada mereka tentang ladang misi yang hampir terlupakan oleh mereka, yaitu ladang misi dunia digital.

Pada acara tersebut, saya juga mendapatkan beberapa teman baru yang memiliki ketertarikan dalam dunia pelayanan anak, yaitu Elisa (yang bergabung dalam pelayanan bimbel GKNI Pniel) dan Yudi (yang sedang aktif mencari bahan untuk panggung boneka bagi anak sekolah minggunya). Dari pengalaman mereka, saya turut merasakan pemeliharaan serta kasih Tuhan kepada anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Sungguh merupakan kesempatan berharga untuk melihat seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang mengasihi Tuhan.

Pada 28 April, pkl. 14.00, acara IVEC selesai. Para peserta dari luar kota, luar pulau, dan luar negeri kembali ke tempat masing-masing, sedangkan kami melanjutkan pelayanan ke GKNI Pniel. Di gereja ini, SABDA memberikan pelatihan #Ayo_PA! yang dihadiri oleh jemaat dan anak-anak muda GKNI. Beberapa peserta dari gereja itu juga menjadi panitia pada acara IVEC sehingga kami tidak merasa asing lagi. Selain itu, hadir juga Pak Dedi dari GPPIK. Acara dibuka dan ditutup oleh Ibu Liliana, Gembala Sidang gereja ini. Saya terkesan dengan perhatian para peserta dalam mengikuti pelatihan #Ayo_PA!. Kiranya dengan pelatihan ini, kecintaan akan firman Tuhan dapat semakin menguatkan jemaat, terutama dengan bantuan teknologi.

Pagi-pagi benar, pada 29 April 2017, kami bergegas ke bandara untuk kembali ke Solo melalui Yogyakarta. Pesawat sempat mengalami delay 2 jam lebih. Sesampainya di Yogyakarta, kami transit ke Solo dengan menggunakan kereta api. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman dan kesempatan, juga teman-teman baru yang Tuhan berikan selama roadshow di Pontianak. Kiranya semua yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

Akhirnya, SABDA di Kupang

Wed, 05/24/2017 - 13:42

Pada 22 -- 25 April 2017, saya dan Bu Yulia melakukan roadshow SABDA ke Kupang. Tujuan utama kami adalah menghadiri acara yang diadakan oleh K-Pact pada 24 -- 25 April, tetapi kami sengaja berangkat lebih awal, tgl. 22 April, dua hari sebelumnya, karena ingin menggunakan kesempatan ini untuk berbagi berkat kepada masyarakat Kristen di Kupang.

Gereja pertama yang kami layani adalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Kotabaru. GMIT adalah sinode gereja yang besar di Kupang. Karena tgl. 21 April YLSA menyelenggarakan TED@SABDA, dan saya menjadi ketua panitia, sedangkan Bu Yulia jadi salah satu pembicara, maka kami baru bisa berangkat malam itu dengan bus ke Surabaya supaya besoknya pagi-pagi sekali bisa berangkat dengan pesawat dari Surabaya ke Kupang. Pesawat kami tiba di Kupang pkl. 11.00, tgl. 22 April. Langsung kami menuju ke GMIT Kobabaru karena pelatihan Software SABDA untuk hamba-hamba Tuhan akan dilaksanakan pkl. 13.00. Peserta yang hadir mencapai lebih dari 100 orang. Selain hamba Tuhan, ada juga para aktivis gereja. Mereka berasal dari dalam maupun luar gereja tersebut. Hampir 90% dari peserta membawa laptop. Kami sempat kewalahan saat menginstal Software SABDA di laptop-laptop peserta. Karena jumlah peserta yang banyak, sangat terasa bahwa pelatihan tidak berjalan dengan kondusif. Ada peserta yang mengobrol sendiri. Gedung gerejanya pun cukup besar sehingga ada peserta yang duduk terlalu belakang. Hal ini menyulitkan untuk interaksi. Hanya 3 -- 5 baris terdepan saja yang aktif berinteraksi saat Ibu Yulia mengajukan pertanyaan. Pelatihan ini selesai pukul 16.00.

Pada pkl. 17.00, kami melanjutkan kegiatan dengan pelatihan guru sekolah minggu. Ketika Ibu Yulia memberi presentasi bahan untuk mengajar sekolah minggu, saya menginstal Software SABDA ke beberapa laptop peserta yang sebelumnya telah dikumpulkan. Peserta terdiri dari sebagian peserta pelatihan Software SABDA ditambah dengan peserta-peserta baru. Selesai pelatihan, saya sempat mengobrol dengan beberapa peserta sambil menunggu proses instalasi di laptopnya selesai. Mereka mengatakan bahwa mereka senang mendapat materi ini karena menolong mereka untuk mengajar dengan cara yang berbeda di sekolah minggu.

Minggu pagi, setelah ibadah, kami melakukan pelatihan Ayo_PA!. Saat pelatihan ini, saya sempat mengalami kendala dengan Chromecast yang digunakan untuk casting layar smartphone ke LCD karena masalah jarak. Karena itu, saya harus membawa smartphone yang saya gunakan mendekat ke Chromecast-nya, bersyukur akhirnya bisa kembali lancar. Seusai pelatihan, saya dan Bu Yulia bertemu dengan Pak Hijayas dan Pak Anjelo. Pak Hijayas sudah lama membantu SABDA dengan menjadi moderator di Facebook Grup e-Santapan Harian. Sementara, Pak Anjelo aktif bergabung dalam komunitas SABDA di Facebook. Senang bisa bertemu secara langsung dengan para mitra SABDA. Sebelum pulang, Pak Hijayas pun memberikan testimoninya. Selain Pak Hijayas, ada 2 orang lain yang bersedia memberikan testimoni. Masing-masing mereka melayani di kampus dan memimpin sebuah kelompok PA. Mereka bersyukur sekali dengan pelatihan Ayo_PA ini, mereka ingin menggunakan teknologi yang ada untuk melayani Tuhan. Harapannya, mereka akan menerapkan apa yang sudah mereka dapat dalam kelompok PA mereka agar adik-adik PA mereka pun bisa membagikannya.

Senin pagi, kami dijemput oleh Ezra, anak dari Pdt. Thomas Eny. Pdt. Thomas Eny adalah gembala sidang di Gereja Kemah Injil Efata Kupang, tempat kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA! pada hari itu. Peserta pelatihan kali ini berjumlah 25 orang. Mayoritas mereka adalah teman-teman Pdt. Thomas, hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja di Kupang. Selain itu, ada juga dosen di salah satu STT di Kupang. Jika di GMIT Kotabaru para pesertanya belum familiar dengan produk SABDA, beda halnya dengan pelatihan di gereja ini. Ada peserta yang sudah menggunakan Software SABDA sejak dari versi 3. Dari pelatihan di gereja ini, kami mendapat masukkan agar dokumentasi berupa video dari pelatihan SABDA bisa dibagikan juga kepada mereka. Jadi, jika mereka lupa, mereka bisa melihat video tutorial dari Software SABDA.

Selesai pelatihan, kami dijamu makan oleh Pdt. Thomas sekeluarga. Makanan yang tak mungkin dilupakan saat berada di Kupang adalah se'i atau daging babi asap serta jagung bose. Makanan ini merupakan makanan khas Kupang. Hampir di setiap kami diajak makan pasti ada menu se'i.

Sekitar pukul 15.00, kami diantar ke hotel tempat kami mengikuti acara dari K-Pact, yaitu Indonesia for God's Glory Vision Exploration Conference (IVEC). Setelah bertemu dengan panitia, kami menyiapkan booth SABDA. Peserta IVEC berasal dari dalam dan luar Indonesia. Acara ini dibuka dengan tarian daerah Kupang, vokal grup, dan kesaksian dari beberapa orang tentang mengapa mereka ada di Indonesia dan pelayanan yang telah mereka lakukan di negara mereka.

Sesi hari ke-2 IVEC banyak diisi dengan presentasi dari lembaga-lembaga Kristen yang melayani di Indonesia. Ada presentasi dari Our Daily Bread Ministries, Pak Hagai dari Iota Project, dan dari beberapa lembaga lainnya. Siangnya sebelum break, Bu Yulia memberikan presentasi tentang SABDA kepada para peserta. Respons peserta sangat positif. Saat break, beberapa peserta, terutama yang berasal dari luar Indonesia, mampir ke booth SABDA. Mayoritas peserta yang dari luar Indonesia fasih berbahasa Mandarin dan senang sekali bisa mendapatkan CD Alkitab audio berbahasa Mandarin. Ada juga yang membawa CD Alkitab Audio bahasa Indonesia untuk dibagikan kepada orang-orang Indonesia yang dia layani, baik di Taiwan maupun Hongkong.

Setelah makan siang, semua peserta diajak mengunjungi Kupang Christian Center (KCC), di mana ada sekolah Kristen dari TK hingga SMA. Sekolah ini dibuka sejak tahun 2012. Saat kami tiba dan diajak untuk keliling melihat sekolah itu, pembangunan kelas-kelas baru telah selesai. Selain sekolah, di tempat ini juga ada asrama bagi anak-anak yang sekolah di situ. Acara ini ditutup dengan tarian daerah Kupang yang dibawakan oleh anak-anak dari sekolah tersebut. Terakhir, mereka memakai pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia dan menyanyikan lagu "Indonesia bagi Kemuliaan-Mu" dalam tiga bahasa, yaitu Mandarin, Inggris, dan Indonesia.

Saya bersyukur mengikuti acara ini karena melihat pekerjaan Tuhan yang begitu besar di Indonesia. Dan, pekerjaan itu terlalu besar untuk dikerjakan sendiri. Kiranya SABDA bisa mengambil bagian dengan memperlengkapi mereka dengan bahan-bahan untuk menunjang kemajuan pelayanan mereka. Soli deo Gloria!

Sudahkah kita “Memiliki Hati Seperti Hati Tuhan Yesus”?

Mon, 05/22/2017 - 07:33

Dalam pengalaman hidup kita, pasti kita pernah bertemu dengan seseorang yang sakit parah. Bagaimana respons kita terhadapnya? Apakah kita hanya bergumam bahwa kondisinya memprihatinkan? Atau, kita meresponinya selangkah lebih maju dengan mendoakannya? Ketika mendoakannya, apakah kita mendoakan untuk kesembuhan fisiknya saja atau juga untuk kondisi rohaninya? Sebenarnya, seseorang bisa merespons dengan banyak cara sesuai dengan kepekaan dan sikap hatinya. Apa respons Yesus terhadap kondisi seperti ini?

Dari seminar "Memiliki Hati seperti Hati Tuhan Yesus", yang saya ikuti di Griya SABDA pada 3 April 2017, saya belajar lebih mendalam mengenai hati Yesus dari melihat berbagai pelayanan yang dilakukan-Nya. Penekanan materi yang disampaikan oleh Pdt. Yuzo Adinata (Rektor STTRI) dalam seminar ini adalah hati Yesus yang penuh dengan belas kasihan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan terhadap orang banyak, mulai dari orang yang sakit (Matius 14:14), orang yang lapar (Matius 15:32), orang yang buta (Matius 13), orang yang sakit kusta (Markus 1:41), orang yang kerasukan setan (Markus 9:32), seorang janda di Naim (Lukas 7:13), orang-orang yang terdapat dalam perumpamaan "orang yang berhutang banyak", "orang Samaria yang baik hati", "anak yang hilang", hingga orang-orang ("domba") yang membutuhkan kepemimpinan Kristus. Melalui pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menyingkapkan kepada kita bahwa ketika Ia berada di antara mereka, Ia tidak melihat keadaan mereka sebagai kesulitan, tetapi sebagai kebutuhan. Ketika Yesus bisa melihat adanya kebutuhan dalam diri orang-orang tersebut, Ia akan melakukan hal-hal yang sangat dibutuhkan mereka, bukan hanya memberikan kesembuhan, pemulihan, kebebasan, melainkan kasih.

Cara pandang manusia memang berbeda dengan cara pandang Yesus, dan cara pandang inilah yang akhirnya akan menentukan cara berpikir dan tindakan kita. Jika manusia melihat kondisi yang tidak menyenangkan sebagai kesulitan, Yesus justru melihatnya sebagai kebutuhan dan kesempatan untuk menyatakan kasih. Mari kita merenungkan sejenak, apakah kita sudah memiliki hati seperti Yesus ketika kita melayani? Apakah hidup kita dipimpin oleh Tuhan atau keinginan diri sendiri?

Melalui seminar ini, saya diingatkan betapa pentingnya memiliki hati yang berbelas kasih ketika melayani orang lain. Banyak hal bisa kita lakukan, tetapi melakukan dengan hati yang berbelas kasih jauh lebih berguna dan bernilai. Sebagai orang percaya, kita harus mendengarkan dan meneladani Kristus supaya cara pandang dan tindakan kita seturut dengan kehendak dan isi hati-Nya.

Perayaan Paskah YLSA dan +TED@SABDA Tim Pembinaan: Passion for The Christ

Fri, 05/05/2017 - 07:32

Ada yang berbeda dari acara Paskah YLSA tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya acara Paskah YLSA hanya dirayakan oleh staf YLSA saja, tahun ini acara Paskah YLSA dirangkai bersama dengan acara +TED @SABDA untuk dirayakan bersama-sama mitra dan Sahabat YLSA. Mengangkat tema "Passion for The Christ", Tim Pembinaan yang menjadi penyelenggara acara berharap peserta yang hadir akan semakin bergairah mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama dengan waktu, tenaga, pemikiran, dan talenta yang mereka miliki. Kristus sudah mati bagi kita, mari kita hidup bagi Dia.

Acara berlangsung sedikit terlambat sore itu karena hujan yang turun semenjak pukul setengah empat sore. Peserta yang tadinya diperkirakan akan hadir sekitar 50 orang menyusut menjadi sekitar 40 orang, khususnya peserta dari luar kota. Acara dimulai pada pukul 17.15. Tim Pembinaan yang diwakili oleh saya sebagai Koordinator membuka acara dengan sambutan dan perkenalan panitia, MC, dan moderator, lalu disambung dengan pemutaran video profile Tim Pembinaan. Acara yang dipandu oleh MC, yaitu Ayub, memulai dengan pujian dan doa pembukaan. Sesudah itu, moderator pertama, Tika, memulai +TED sesi satu dengan pemutaran video kesaksian Jim Caviezel, aktor utama dalam film Passion for The Christ. Walaupun saya sudah pernah menonton video ini sebelumnya, saya tidak pernah menjadi bosan, karena video ini sangat memberi dorongan untuk saya semakin menghargai dan memaknai karya pengorbanan Kristus yang begitu berharga.

Sesudah menyaksikan video, acara dilanjutkan dengan mendengar presentasi dari dr. Yudhie Chandra yang membawakan materi "Sisi Medis Penyaliban Tuhan Yesus" serta presentasi kedua dari Pdt. Andi Halim mengenai Teologi Reformed. Setelah tanya jawab dengan kedua presenter dan penyerahan kenang-kenangan dari panitia, acara kemudian beralih pada ibadah Paskah, yang diisi dengan pujian, renungan, dan doa Paskah. Renungan Paskah yang berjudul sama dengan tema acara, "Passion for The Christ" dibawakan oleh Wahyu Kriscahyanto. Beliau adalah sahabat YLSA yang juga mengambil bagian sebagai panitia sie acara pada +TED@SABDA ini dan pernah mengisi acara +TED Oktober 2016. Sesudah ibadah Paskah selesai, kami rehat sejenak untuk makan malam bersama.

+TED sesi dua, yang dimoderatori oleh Odysius, lebih banyak membahas tentang materi pembinaan sebagai wujud aplikasi dari panggilan Allah bagi orang-orang percaya. Bapak Arie Saptaji, seorang penulis Kristen dari Yogyakarta tampil untuk membawakan presentasi yang berjudul "Proses Kreatif Menulis Renungan". Sesudah itu, Ibu Yulia, ketua YLSA, mempresentasikan materi "Misi pada Era Digital". Presentasi ditutup dengan materi "Pemuridan abad 21" yang dibawakan oleh Santi, koordinator Tim Penjangkauan. Setelah acara tanya jawab dan pemberian kenang-kenangan dari panitia, acara kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama dengan seluruh peserta.

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan melalui acara Paskah dan +TED @SABDA kali ini. Pertama, saya jadi banyak tahu tentang seluk beluk mengatur acara setelah terlibat dalam sie acara. Kedua, saya belajar banyak dari sisi membuat strategi dan perencanaan untuk melangsungkan acara, dimulai dari menentukan tema acara, menentukan kepanitiaan, menentukan tugas-tugas untuk kepanitiaan, menghubungi pembicara, membuat konsep video, brosur, dan rundown acara, dengan memperhatikan detail-detailnya, dan juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada. Yang ketiga, saya mendapat berkat melalui materi-materi yang disampaikan oleh para pembicara, yang memberikan wawasan serta pertanyaan bahkan pergumulan baru di benak saya. Di atas semua itu, saya sungguh bersyukur untuk acara perayaan Paskah dan +TED@SABDA yang sudah terselenggara. Kiranya acara +TED yang menjadi media membagikan ide-ide kristiani bagi pelebaran kerajaan Allah ini akan terus menjadi berkat bagi banyak orang, dan menghasilkan dampak nyata bagi kemajuan Kerajaan Allah.

Sampai jumpa dalam +TED@SABDA pada 28 Juli 2017. Solus Christus!

Yang Terbuang Namun Pahlawan

Thu, 05/04/2017 - 12:29

Oleh: *Teti Zebua

"Dear Ibu Teti, terima kasih untuk partisipasi aktifnya dalam diskusi Yefta di FB Grup Bio-Kristi ..." saya mendapat pesan dari Mbak Okti sesaat setelah diskusi mengenai tokoh Yefta tersebut selesai. Meski saya tidak terlalu suka dipanggil ibu, namun saya sangat menyukai keramahtamahan yang beliau berikan pada semua peserta diskusi.

Mengupas tentang Yefta sebagai salah seorang hakim di antara bangsa Israel, ingatan saya melayang pada kisah seorang teman yang baru saja kehilangan semua hal berharga dalam hidupnya; sanak saudara, istri, dan pekerjaannya dikarenakan ia memutuskan untuk memercayai Yesus dan meninggalkan kepercayaan lamanya. Betapa menyakitkan dibuang oleh keluarga sendiri. Diusir dari rumah dan kehilangan segalanya. Bertolak dari kisah teman saya itu, saya membayangkan Yefta yang diusir dari rumah ayahnya oleh saudara-saudaranya. Ia pasti sangat sakit hati dan mungkin berjanji tidak akan kembali lagi ke rumahnya ataupun tanah kelahirannya. Namun, sesuatu hal lain terjadi dan itu sungguh mengubahkan hidupnya.

Saya membuka Alkitab saya berdasarkan ayat mula-mula yang dipaparkan oleh Mbak Okti, yakni di Hakim-Hakim 11:29-31. Dari sana, saya mengetahui bahwa kisah tentang Yefta ada dalam Kitab Hakim-Hakim. Meski awalnya, saya sempat kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana dan seperti apa jalannya diskusi tersebut karena poin materi yang diberikan langsung merujuk pada inti kehidupan Yefta. Sebagai orang awam yang belum mengetahui tentang detail keseluruhan kisah di Alkitab, saya merasa kebingungan awalnya, tetapi ketika menggunakan clue ayat yang ada, saya akhirnya dapat memahami kisah perjalanan kehidupan seorang tokoh pahlawan iman Yefta ini.

Hal yang saya pelajari tentang Yefta bahwa Allah menunjukkan kemurahan-Nya dengan memakai siapa pun, dengan latar belakang apa saja untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Kebanyakan adalah seseorang yang memiliki kehidupan masa lalu yang kelam, justru ketika tiba waktu-Nya, Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi seseorang tersebut sebuah kehormatan yang tidak terduga jika dipikirkan secara akal manusia. Dalam kasus Yefta, dulunya ia adalah anak seorang sundal, dan oleh anugerah Allah, ia ditemui kembali oleh kerabatnya dan diangkat menjadi pemimpin bagi suku bangsanya ketika mereka ketakutan menghadapi musuh orang Amon. Bahkan, Alkitab mencatat bahwa Yefta adalah salah seorang pahlawan yang gagah perkasa pada saat itu (Ibrani 11). Apa yang hina bagi pandangan manusia justru itulah yang dipakai Tuhan. Bukankah Allah itu sungguh setia dan adil? Pemurah juga penyayang?

Karakter Yefta yang tetap mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan juga memberikan peneguhan, bahwa dalam memulai sesuatu haruslah menyerahkan sepenuhnya di tangan Allah sumber segala kemenangan. Di sisi lain, sikap patuh dan setia yang dimiliki Yefta dalam menggenapi nazarnya kepada Allah, juga memberikan "insight" tersendiri bagi saya. Mengajarkan saya untuk tidak bermain-main dengan janji yang pernah saya ucapkan, dan itu harus ditepati.

Pada intinya, setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memulai segala sesuatu yang baru dalam hidup akan memimpin pada kehormatan dan kemuliaan yang Tuhan sendiri sediakan bagi kita. Hanya jika kita terus berpegang kepada-Nya, memercayai-Nya, dan terus mengarahkan pandangan kita hanya kepada-Nya. Taat dan setia pada pimpinan-Nya.

Meski akhirnya diskusi ini berakhir, saya bersyukur menjadi bagian dari pengalaman iman Yefta dan juga sharing pengalaman dari teman-teman peserta lainnya. Alangkah lebih baik jika di bagian akhir sesi diskusi, moderator memberikan kesimpulan dari semua rangkuman pendapat dalam diskusi tersebut.

Ad Maioreim Dei Gloriam.

Staf YLSA Mengikuti Seminar “Tetap Memberkati Walau Sendiri”

Tue, 04/04/2017 - 13:16

Keputusan hidup single (tidak menikah) adalah keputusan yang diambil sebagian orang, termasuk orang Kristen. Namun, pengambil keputusan ini tergolong minoritas sehingga diskusi mengenainya juga tak banyak diangkat. Gereja lebih sering mengadakan seminar mengenai kehidupan suami-istri atau keluarga, ketika subjek mengenai singleness ini penting bagi orang-orang yang sudah atau sedang mempertimbangkan untuk menjalani hidup selibat.

Bersyukur, ada seminar tentang topik singleness yang dapat dikatakan cukup langka ini. Seminar tersebut diadakan di Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Solo, pada Sabtu, 1 April 2017. Saya turut hadir dalam seminar tersebut karena ingin mengetahui bagaimana memanfaatkan masa single yang membawa berkat bagi sesama dan lingkungan. Seminar ini dibawakan oleh Ev. Asriningrum Utami, seorang dosen dari STTRI Jakarta, dan satu dari sedikit hamba Tuhan yang memutuskan untuk hidup selibat. Judul seminar tersebut: "Tetap Memberkati Walau Sendiri".

Ibu Utami membuka seminar ini dengan memaparkan satu fakta bahwa orang single sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan kondisi kesendirian mereka menjadi kondisi yang sepertinya patut mendapat belas kasihan dari orang lain. Pandangan tersebut salah, menurut beliau, karena hidup single adalah salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu berdasarkan maksud dan rancangan-Nya. Namun, akibat stereotip yang kurang baik ini, sebagian orang single menjadi kurang mampu menjalani kesendiriannya secara efektif bagi kemuliaan Tuhan.

Lalu, seperti apakah tanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat? Ibu Utami menjelaskan bahwa tanda ini bisa berupa: tiadanya kesempatan orang lain tertarik kepada kita atau tidak adanya pendekatan serius dari lawan jenis kita. Dalam hal ini, langkah terbaik adalah mencari kehendak Allah. Kita mesti berdoa dan bertanya apakah kondisi demikian adalah pertanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat. Selebihnya, tunggulah waktu Tuhan untuk menyatakan rancangan-Nya dalam kehidupan kita.

Ibu Utami lantas menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa orang-orang single eksis di tengah masyarakat, di antaranya: karena keterbatasan fisik dan psikis, pengalaman-pengalaman traumatis (ex: sexual violence), kemauan sendiri oleh karena Kerajaan Surga, dan ketetapan Allah bagi orang tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa ada pekerjaan Allah yang memang perlu dinyatakan melalui singleness. Misalkan, untuk melakukan pekerjaan Allah di daerah konflik, yang memerlukan seorang hamba Tuhan yang tidak dibebani oleh persoalan keluarga. Apa pun yang menjadi alasan, Ibu Utami mengatakan bahwa hidup single bisa dimanfaatkan sebaik mungkin bagi Kerajaan Allah, asalkan seorang yang single selalu bersandar pada Allah dan memohon bimbingan dalam menjalankan keputusan hidupnya.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah penjelasan beliau mengenai salah satu peranan orang single, yaitu sebagai cermin bagi pasangan yang menikah. Orang-orang yang menikah pada umumnya lebih terjebak pada menggantungkan diri pada pasangan, sementara orang single lebih condong bergantung pada Allah karena mereka hidup dalam kesendiriannya. Ini menjadi satu keuntungan orang single. Namun, di pihak lain, pasangan yang menikah juga bisa menjadi cermin bagi orang single untuk menunjukkan bahwa anak-anak Allah selalu membutuhkan persekutuan agar mereka merasa penuh sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Itu artinya, kedua kelompok ini sebetulnya bisa belajar satu sama lain, dan berdasarkan fakta ini, orang single tak seharusnya perlu merasa rendah diri kepada mereka yang memutuskan menikah/berkeluarga.

Materi terakhir yang Ibu Utami sampaikan adalah mengenai bagaimana menjalani singleness dengan berkelimpahan. Pertama, harus memiliki konsep yang benar dulu tentang singleness. Naikkan syukur untuk kondisi singleness karena kesendirian adalah salah satu karunia Tuhan, yang melaluinya kemuliaan Tuhan dapat dinyatakan. Kedua, harus melibatkan Tuhan dalam jatuh bangun menjalani tugas-tugas perkembangan hidup--mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa--sehingga orang-orang single bisa mengalami kekayaan pengalaman berjalan bersama Tuhan, dan membagikan kebijaksanaan yang didapat kepada orang lain. Ketiga, bangun support system. Masuklah ke dalam persekutuan yang saling mendukung dan mengasihi karena kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri, apalagi dalam konteks mengerjakan pelayanan. Dan, keempat, libatkan diri dalam pelayanan untuk Tuhan. Proaktif untuk mengerjakan pelayanan-pelayanan dengan memanfaatkan keleluasaan dan kemandirian sebagai orang single.

Dengan mengikuti seminar ini, saya bisa menyimpulkan bahwa orang single juga dapat dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan sebagian orang ditentukan Allah (untuk menjadi single) karena ada rencana-Nya yang harus dikerjakan melalui kesendirian orang tersebut. Orang-orang single bisa menjadi model kebergantungan kepada Allah bagi pasangan yang menikah, dan sebaliknya pasangan yang menikah bisa menjadi model persekutuan anak-anak Allah bagi orang single. Keduanya ada agar bisa saling belajar. Bagi orang single, kiranya apa yang disampaikan oleh Ibu Utami bisa menjadi peneguhan bahwa kesendirian mereka adalah sebagian rencana Tuhan untuk mendukung pekerjaan-Nya. Kiranya Tuhan sendiri akan memampukan sebagian kita yang memilih hidup single sehingga hidup kesendirian kita senantiasa dipenuhkan dan bisa membawa berkat bagi sesama.

Staf YLSA Mengikuti Seminar “Allah dan Kebebasanku”

Fri, 03/31/2017 - 08:27

Oleh: *Widodo

Seminar "Allah & Kebebasanku" oleh Vik. Harly Erikson Tambunan di Gedung Orient, Surakarta (20/3/2017), adalah seminar pertama yang saya ikuti sejak berada di YLSA. Kami tiba pukul 17.50 WIB, dan ternyata persiapan seminar masih berlangsung. Baru pada pukul 18.30 WIB, acara dimulai.

Ketika pembicara maju ke depan, "energi kebebasan" dari menunggu sekitar 40 menit seperti dikembalikan kepada kami bertiga yang hadir dari YLSA (saya, Kun, dan Benny). Pembicara yang sering melayani kaum muda di GRII Jakarta ini sangat pas membawakan tema "Allah & Kebebasanku". Beliau bersemangat, enerjik, dan ekspresif dalam menyampaikannya. Ilustrasi-ilustrasi yang diberikan juga sangat sederhana dan mudah dipahami oleh semua yang hadir. Ada sekitar tiga ratusan orang yang hadir, baik yang berlatar belakang awam, sekolah teologi, maupun aktivis gereja.

Tema yang awalnya terasa umum dan biasa saja, ketika digali, ternyata membuka sebuah pemahaman yang baru. Pada awal seminar, Pak Harly melemparkan dua pilihan pernyataan kepada peserta, yaitu "kebebasan yang mengikat" atau "ikatan yang membebaskan". Seperti biasa, dua pilihan yang sepertinya sama akan menimbulkan dilema. Audiens terbagi ke dalam dua kubu. Manusia diciptakan Allah dengan kebebasan, potensi daya cipta dan cinta. Kebebasan adalah tema yang sangat umum digunakan untuk menggalang massa. Pada waktu manusia masih berada di taman Eden, Iblis sudah melemparkan isu kebebasan untuk memperoleh massa. Hingga kini, kampanye-kampanye politik juga menyuarakan tema kebebasan untuk memperoleh hal yang serupa. Akan tetapi, ada satu kata kunci yang menentukan apakah kebebasan itu benar atau salah, memberi kepuasan atau justru keliaran. Kata kunci itu adalah "aturan". Ilustrasi yang diberikan adalah tentang keinginan seorang anggota geng motor untuk bebas. Ia ingin bebas berkendara tanpa aturan, tanpa helm, tanpa SIM, modifikasi motor sesukanya, dan tanpa lampu lalu lintas. Tentu saja, ilustrasi ini sangat mudah dipahami, tanpa helm dan lampu lalu lintas pasti akan fatal. Itulah perbedaan kebebasan yang ditawarkan Allah dengan kebebasan yang ditawarkan Iblis. Lalu, apakah aturan dari Allah? Tidak banyak, hanya satu, yaitu menggenapi tujuan yang telah ditetapkan Allah bagi manusia. Lalu, apakah tujuan hidup manusia? Tidak banyak juga, untuk menikmati (bukan menikmati berkat Tuhan, melainkan Sumber berkatnya) dan memuliakan keberadaan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup manusia. Keduanya disingkat menjadi RELASI dengan Tuhan. Jadi, kebebasan manusia adalah kebebasan untuk berelasi dengan Tuhan.

Saya sangat diberkati dengan pemaparan tersebut. Saya dibawa ke dalam sebuah kesimpulan bahwa manusia yang diciptakan Allah dengan potensi daya cipta dan kasih, bebas mengekspresikan diri dalam berelasi dengan Tuhan. Disadari atau tidak, manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah. Oleh karena itu, kalau Anda suka bermusik, bermusiklah untuk Tuhan. Bagi yang suka menulis, menulislah untuk kemuliaan Tuhan. Manusia bebas berekspresi, tetapi untuk satu tujuan yang telah ditetapkan sejak awal mula penciptaan, yaitu BERELASI DENGAN TUHAN. Tuhan Yesus memberkati.

Roadshow SABDA ke Lampung

Thu, 03/30/2017 - 13:06

Sabtu pagi. Pada 11 -- 13 Maret 2017, saya dan Ibu Yulia berangkat ke Lampung dalam rangka roadshow SABDA di Gereja Kristen Tritunggal (GKT), Bandar Lampung. Kami berangkat pada Sabtu pagi (11 Maret 2017). Ketika tiba di Bandara Radin Inten II, Lampung, kami dijemput oleh Boksu (panggilan Pendeta Gembala di GKT) Putut, Pak Candra (majelis di bidang misi), dan Pak Rudi (hamba Tuhan di GKT). Ini kali pertama saya pergi ke Lampung. Kesan saya, kota ini seperti Solo, tetapi lebih besar dan lebih ramai. Di Lampung juga sudah mulai macet meski tidak seperti Jakarta.

Dari mengobrol dengan Boksu Putut, tidak disangka ternyata ada orang-orang yang saya kenal, yang pernah melayani di GKT Lampung ini. Wah, dunia memang sempit ya. Setelah tiba di gereja, kami langsung melihat aula gereja yang akan dipakai untuk seminar malam harinya dan menata booth sampai selesai. Malam itu, saya sempat khawatir, bagaimana akan menjaga booth kalau pada saat yang sama saya juga harus membantu peserta menginstalasikan aplikasi ke HP-HP mereka. Bersyukur sekali, ada staf gereja yang dapat membantu kami, yaitu Laura dan Pak Wit. Laura membantu menjaga booth, sedangkan Pak Wit membantu menyiapkan hal-hal teknis, seperti LCD, monitor, tripod, dan lain-lain. Wah, mereka betul-betul menjadi penolong bagi kami.

Sabtu malam. Seminar dimulai pukul 18.30 dengan tema "Belajar Firman Tuhan pada Era Digital". Total peserta malam itu sekitar 60 orang. Kebanyakan yang hadir adalah "generasi X", tidak sebanding dengan peserta "generasi Z". Namun demikian, mereka semua antusias sekali mendengar seminar ini dan pada sesi tanya jawab mereka juga aktif bertanya. Sebelum dan sesudah acara, saya membantu beberapa peserta menginstal aplikasi-aplikasi SABDA di HP peserta, khususnya yang akan dipakai untuk pelatihan besok. Aplikasi tersebut adalah Alkitab, Tafsiran, Alkitab PEDIA, Kamus Alkitab, dan Peta Alkitab. Kalau memori HP-nya masih cukup, saya tambahkan aplikasi Renungan Oswald Chambers (ROC).

Malam itu, saya tidur agak larut karena saya harus mempersiapkan kesaksian untuk disampaikan di kebaktian remaja, Minggu jam 7 pagi. Saya bukan orang yang cakap berbicara di depan umum sehingga hal itu membuat saya gelisah. Apalagi permintaan ini mendadak sekali. Sore itu, sebelum seminar berlangsung, Boksu Putut minta agar Minggu pagi saya memberikan kesaksian dalam kebaktian remaja, dan pada saat yang sama Ibu Yulia sharing tentang Yayasan Lembaga SABDA di kebaktian umum.

Minggu pagi. Sebelum kebaktian mulai, saya sempat berbincang dengan pembina remaja mengenai keadaan remaja di gereja itu. Dia mengatakan bahwa remaja di situ masih perlu dibimbing supaya dapat menggunakan gadget/gawainya dengan bijaksana, apalagi saat ibadah di gereja. Hanya karena pertolongan Tuhan, saya dimampukan untuk berbicara di hadapan lebih dari 100 remaja. Saya berbagi kesaksian tentang mengapa saya melayani Tuhan dan tentang IT 4 God. Kita dapat melayani Tuhan melalui talenta kita masing-masing dan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melayani Tuhan. Pada akhir sharing, saya mengajak mereka untuk hadir dalam Pelatihan PA menggunakan Gadget.

Minggu siang. Saya dan Bu Yulia mempersiapkan booth dan alat-alat yang akan digunakan untuk pelatihan #Ayo_PA!. Bu Yulia membagi peserta menjadi 2 kelompok, kelompok yang disebut "high-tech", yang terdiri dari peserta remaja dan pemuda, dan kelompok "low-tech", yang terdiri dari orang tua yang tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi. Pembagian kelompok ini menambah semangat peserta karena di tengah pelatihan Bu Yulia mengadakan games kecil, yaitu siapa yang paling cepat bisa mempraktikkan tutorial yang telah diajarkan. Kedua kelompok ini sama-sama bersemangat mempraktikkan apa yang telah disimulasikan di depan. Pada akhir pelatihan, kami tidak lupa berfoto bersama dan ada dua peserta yang bersedia memberikan testimoninya.

Senin pagi. Pada 13 Maret 2017, kami bersiap untuk pelatihan selanjutnya, yaitu Pelatihan Software SABDA untuk para hamba Tuhan. Ternyata, gereja ini memiliki acara rutin setiap 2 bulan sekali, yaitu Seminar Misi Sehari (SMS) yang dihadiri pendeta-pendeta dari berbagai gereja. Kali ini, acara diisi dengan pelatihan dari SABDA. Para pendeta yang datang ternyata bukan dari Bandar Lampung saja, ada juga yang harus menempuh perjalanan 6 -- 7 jam. Tidak sedikit dari mereka yang rela berangkat pukul 1 pagi untuk sampai di gereja tepat waktu. Sungguh luar biasa semangat mereka. Sebelum pelatihan dimulai, saya dibantu Laura dan Pak Wit menginstalkan software SABDA di laptop mereka. Ada beberapa peserta yang tidak memiliki laptop, tetapi jika ada HP, kami tawarkan untuk diinstal aplikasi SABDA di HP-nya.

Respons peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat baik. Sembari mendengarkan tutorial penggunaan software SABDA di layar LCD, mereka juga mencoba di laptop masing-masing. Saat ada kesulitan, peserta yang sudah bisa mengajari peserta yang belum bisa. Pada akhir acara, saya sempat merekam 2 testimoni dari peserta, yaitu Pak Soni dan Pak Purwanto. Secara keseluruhan, mereka senang bisa mempelajari software SABDA. Mereka bisa menggali firman Tuhan lebih dalam dengan banyak bahan yang ada di dalamnya. Karena tidak semua peserta membawa laptop, Bu Yulia memutuskan untuk memberi pelatihan #Ayo_PA! menggunakan gadget.

Senin sore dan malam. Selesai pelatihan, kami diajak ke Pantai Sari Ringgung oleh Muse Asmini (hamba Tuhan GKT). Perjalanan sekitar 1 jam dari kota. Airnya masih jernih dan pemandangannya menyejukkan hati. Sepulang dari pantai, saya dan Bu Yulia diajak oleh istri Boksu Putut ke rumah Pak Andi. Pak Andi adalah jemaat GKA dan ketua yayasan sekolah Trinitas milik GKT. Dalam pertemuan sebelumnya, Pak Andi mengatakan bahwa ia tergerak memberi dua unit gitar kepada SABDA. Malam itu, kami ke rumahnya untuk mengambil gitar tersebut karena besoknya pagi-pagi kami akan pulang ke Solo. Di sana, saya diminta untuk memainkan piano. Dari melihat saya memainkan piano, Pak Andi memberi tip bagaimana main piano dengan "confident" dan langsung memberikan contohnya. Saya sangat kagum dengan permainan musiknya. Satu kalimat dari Pak Andi yang saya ingat adalah bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah orang yang belum menemukan kepandaiannya/keahliannya. Beliau juga menceritakan bagaimana berlatih main piano 2 -- 3 jam setiap pagi, dan bagaimana dia jatuh bangun dalam kehidupannya dan bisnisnya.

Saya bersyukur bisa mengikuti roadshow ini. Bertemu dengan orang-orang baru, suasana baru, dan lingkungan yang baru. Satu hal yang sangat menonjol adalah rasa kekeluargaan, kehangatan, dan keramahan dari para hamba Tuhan, majelis, dan jemaat di GKT Bandar Lampung. Bersyukur dapat membangun relasi baru untuk sama-sama melayani Tuhan. Saya berdoa untuk gereja ini dan orang-orang yang sudah mengikuti pelatihan ini semoga dapat menularkan semangat #Ayo_PA! dimulai dari diri sendiri. Kiranya melalui pelayanan ini, nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

PA Kitab Ayub di YLSA: Menemukan Allah dalam Kehilangan

Wed, 03/22/2017 - 07:52

Selama Februari 2017, staf YLSA telah melakukan pendalaman Alkitab (PA) dari tiga kitab hikmat, yaitu (Amsal, Pengkhotbah, dan Ayub). Dalam tulisan ini, saya hanya berbagi tentang pengalaman ber-PA kitab Ayub.

Kitab Ayub adalah kitab yang sangat jarang saya selidiki. Seperti PA sebelumnya, kami memakai media teks, visual, video, dan audio yang sangat menolong kami untuk memahami kitab Ayub secara global. Selain belajar tentang hikmat, kami juga belajar tentang sastra, tokoh-tokoh, dan alur cerita dalam kitab Ayub. Tema utama yang saya lihat dalam kitab Ayub adalah penderitaan dan anugerah Tuhan. Banyak orang salah paham ketika membaca kitab Ayub. Kitab ini sesungguhnya tidak sedang menceritakan Ayub sebagai tokoh utama yang harus dilihat, melainkan tentang TUHAN yang berada di balik segala sesuatu.

Kitab Ayub memiliki hikmat yang sangat berbeda dengan Amsal dan Pengkhotbah. Saya melihat ada dua jenis hikmat yang terdapat dalam kitab Ayub. Pertama, hikmat manusia seperti pemikiran-pemikiran Ayub dan para sahabatnya. Yang kedua adalah hikmat Ilahi, yaitu hikmat yang bersumber dari Sang Pemilik jagad raya, hikmat yang menjadi sumber kebaikan bagi manusia. Tuhan menguji iman Ayub melalui pencobaan yang berasal dari Iblis, yang akhirnya segala sesuatu yang Ayub miliki benar-benar habis, mulai dari keluarga, kekayaan, dan kondisi fisik. Saat para sahabat Ayub memberikan banyak nasihat kepada Ayub tentang penyebab keadaannya, nasihat tersebut tidak membuat Ayub menyadari keadaan dirinya yang sedang diperhatikan Tuhan. Namun, ketika Tuhan menjawab Ayub melalui penglihatan-penglihatan, barulah mata rohani Ayub terbuka lebar untuk melihat Tuhan yang begitu besar secara pribadi.

Dalam PA kali ini, saya sangat bersyukur belajar satu prinsip penting dalam ujian iman, yaitu bersikap jujur di hadapan TUHAN dan mengungkapkan semua pergumulan di hadapan Tuhan, sampai pada titik kesadaran diri secara utuh mengenai siapakah TUHAN dan siapakah diri kita. Sebelum mengalami pemulihan, Ayub hanya mengenal Tuhan melalui banyak hikmat dan sudut pandang orang lain dan dirinya, tetapi ketika Tuhan menyatakan diri kepada Ayub, perubahan terbesar terjadi dalam dirinya. Iman Ayub bertumbuh melalui hikmat TUHAN dan keadaannya dipulihkan pada akhir hidupnya. Yang mencari akan mendapat upah, yang memiliki imanlah yang tahan uji. Mari membaca dan mempelajari kitab Ayub secara mendalam. Tuhan Yesus memberkati!

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (Bagian II)

Mon, 03/13/2017 - 11:50

Paruh pertama kegiatan roadshow SABDA di Pulau Bali, 24 -- 26 Februari 2017, sudah kami lewati, seperti yang bisa Anda baca melalui blog yang ditulis oleh Elly. Namun, sepeninggal Hadi dan Elly, acara masih harus berlanjut sampai 28 Februari 2017 dengan hanya Bu Yulia dan saya. Menurut saya, dua hari terakhir justru lebih padat dan berat karena dalam sehari ada dua tempat pelayanan, bahkan pada hari terakhir ada tiga pelayanan yang harus kami lakukan.

Pada Senin pagi, 27 Februari 2017, kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA di STT Johanes Calvin. Satu hal yang menggembirakan kami adalah ketika mendengar bahwa sudah beberapa tahun terakhir mahasiswa memang diharuskan memakai Software SABDA. Karena itu, kedatangan kami sangat dinantikan oleh kira-kira 80 orang mahasiswa dan dosen untuk mendapatkan pelatihan dari sumbernya. Demikian juga di STTII Denpasar pada hari berikutnya, yang dihadiri oleh lebih dari 50 mahasiswa dan dosen. Mereka rata-rata sudah memakai Software SABDA sehingga sangat senang menyambut kedatangan kami. Selain Software SABDA, sebagai penekanan utama, kami juga memperkenalkan gerakan #Ayo_PA! sebagai kebutuhan setiap jemaat Tuhan untuk memakai teknologi untuk belajar firman Tuhan. Harapan kami, anak-anak muda ini dapat menularkan semangat ber-PA dengan gawainya kepada anak-anak muda yang lain yang mereka layani.

Sementara itu, untuk persekutuan umum di GKY Kuta Bali dan GPI Adonai, kami lebih berfokus pada pelatihan gerakan #Ayo_PA! Sayangnya, tak banyak anak muda yang ikut hadir pada acara ini. Kami melihat rata-rata peserta dari jemaat umum GKY sudah memakai aplikasi SABDA Android, tetapi setelah pelatihan mereka menyadari ternyata mereka belum memakai fitur-fitur yang ada dengan maksimal. Bahkan, mereka tidak menyadari bahwa kelima aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Alkitab PEDIA, Tafsiran, dan Peta) sudah terintegrasi sehingga bisa dipakai dengan sangat efektif. Banyak peserta senang sekali mengetahui informasi ini dan menjadi sangat bersemangat. Lain halnya dengan acara lansia di GKY Kuta Bali, pada Selasa pagi. Pada kesempatan ini, Bu Yulia memberikan presentasi tentang bahan-bahan SABDA audio. Jemaat lansia menjadi sangat tertarik untuk mendapatkan bahan-bahan audio. Sayang, karena waktu yang sangat mepet sekali, kami tidak bisa menolong menginstalkan bahan-bahan tersebut ke HP para lansia. Semoga ada jemaat kaum muda yang tergerak menolong.

Selama dua hari acara berlangsung, saya dan Ibu Yulia selalu bergantian dalam menyampaikan presentasi. Untuk presentasi Software SABDA di STT, tugas saya adalah menyampaikan materi pendahuluan, dan Ibu Yulia menyampaikan sesi penjelasan teknis. Dan, sebaliknya dengan presentasi #Ayo_PA!, Ibu Yulia menyampaikan materi pendahuluan, sedangkan saya menyampaikan sesi penggunaan aplikasi dan penjelasan metode S.A.B.D.A. Akan tetapi, untuk acara lansia dan jemaat umum, presentasi dibawakan oleh Ibu Yulia. Saya salut dengan cara Ibu Yulia menyampaikan materi karena beliau tidak hanya menekankan pada "what" dan "how" dari Software SABDA atau PA dengan gadget, tetapi juga "why", yaitu mengapa mereka harus mengaplikasikan kedua teknologi dalam pembelajaran Alkitab. Saya bisa melihat bahwa melalui presentasi seperti itu, para peserta jadi tahu kepentingan mereka menggunakan software SABDA ataupun aplikasi SABDA. Dengan demikian, peserta juga dibekali dengan pentingnya firman Tuhan. Puji syukur, mayoritas peserta menunjukkan minatnya dan mengikuti proses pembelajaran dengan tekun walaupun ada beberapa peserta mengakui bahwa mereka cukup lelah mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa saya petik. Jika roadshow SABDA harus dilakukan hanya dengan dua orang staf, dua orang ini harus cukup mahir dan fleksibel menjalankan semua peran dan tugas. Karena itu, persiapan harus dilakukan dengan matang, punya strategi sehingga bisa membekali staf yang melayani roadshow untuk bisa menangani berapa pun jumlah peserta. Kiranya ini bisa menjadi masukan yang baik bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).

Saya pribadi bersyukur, di tengah kekurangan di sana-sini, saya masih bisa mensyukuri banyak hal. Keseriusan peserta dalam belajar, ketertarikan mereka dengan bahan-bahan SABDA, dan doa-doa mereka yang tulus untuk kemajuan pelayanan kami, seakan menebus segala kekecewaan saya. Rasa lelah saya bisa terobati melihat begitu semangatnya mereka menerima materi yang kami sampaikan. Semangat mereka lantas menjadi dorongan bagi saya untuk memperbaiki cara kerja dan pelayanan saya pada masa mendatang.

Saya berdoa bagi para peserta roadshow yang sudah kami tinggalkan, kiranya mereka tidak lupa dan terus mempraktikkan apa yang sudah kami bagikan. Bahkan, mengajarkannya kepada hamba-hamba Tuhan yang lain. Teknologi telah merasuk ke dalam kehidupan banyak orang, mengubah wajah pelayanan dan cara seseorang membagikan firman. Mau tak mau, kita harus beradaptasi dengan kencangnya perkembangan teknologi agar tidak kehilangan ladang tuaian yang terbesar, yaitu dunia digital, di mana masyarakat modern saat ini berada. Mari kita semua memanfaatkan teknologi untuk melayani Tuhan dan mengabarkan karya keselamatan Allah kepada semakin banyak orang. Teknologi telah diciptakan oleh Tuhan, dan harus kita pergunakan kembali untuk memuliakan nama-Nya. Selamat melayani untuk kita semua.

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (I)

Thu, 03/09/2017 - 15:36

Tahun lalu, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) menerima permintaan pelayanan dari STT Kingdom (GBI Rock Lembah Pujian), Bali, untuk pelatihan Software SABDA kepada mahasiswa dan jemaat di sana. Bu Yulia, Ketua YLSA, menerima tawaran tersebut dan memutuskan untuk diadakan pada 25 Februari 2017. Setelah bertemu dengan Pdt. Jenik dari Bali dan menghubungi beberapa gereja serta sekolah teologi di Bali, kesempatan pelayanan pun menjadi berkembang hingga akhirnya diputuskan untuk berada di Bali sampai 28 Februari 2017. Puji Tuhan!

Tim SABDA yang berangkat adalah Bu Yulia, Aji, Hadi, dan saya. Karena keluarga dan kesibukan di kantor, diputuskan saya dan Hadi akan ikut pada 24 -- 26 Februari 2017 saja, sedangkan Bu Yulia dan Aji akan tinggal sampai tanggal 28 Februari. Kami berangkat Jumat pagi, 24 Februari 2017. Ini adalah perjalanan saya yang pertama dengan pesawat ke Bali. Setibanya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kami dijemput oleh tim penjemputan GBI Rock Bali untuk menuju ke lokasi pelatihan di STT Kingdom. Kami segera survei tempat dan menata booth. Kami sengaja melakukan persiapan awal agar keesokan harinya tidak perlu tergesa-gesa. Selesai mengerjakan itu semua, kami langsung ke "guest house" tempat kami akan menginap selama pelatihan di GBI Rock. Rencananya, kami akan segera mandi dan bersiap untuk pergi ke acara persekutuan Lansia GKA Zion (GKAZ) jam 18.00. Akan tetapi, baru 10 menit di "guest house", sebelum bisa mandi semua, kami sudah dijemput jam 17.00 oleh Ibu Henny (istri Pdt. Jenik dari GKAZ). Ibu Henny sangat ramah menjelaskan kepada kami hal-hal apa saja yang perlu diketahui untuk pelayanan di GKAZ sore itu dan Minggu nanti.

Setibanya di GKAZ, kami bersyukur karena acara diawali dengan makan malam sehingga kami bisa mengisi perut dan mulai mengenal beberapa lansia. Ibadah lansia dibuka dengan sharing dari jemaat dan dilanjutkan dengan khotbah oleh Ibu Henny tentang "Hidup yang Berdampak" (Kej. 12:13 & Mat. 5:16). Selesai berkhotbah, Ibu Henny memberi pengantar bahwa Ibu Yulia akan berbagi berkat Tuhan. Berkat tersebut adalah bahan-bahan audio dari YLSA yang bisa dinikmati lansia untuk bisa semakin dekat dengan Tuhan. Empat puluh anggota lansia yang hadir dapat menyimak dengan penuh perhatian dan bersemangat. Bahkan, sesekali saya melihat banyak yang setuju dengan keluhan-keluhan lansia ketika belajar firman Tuhan, yaitu susah membaca huruf-huruf Alkitab yang kecil-kecil dan cepat capai ketika membaca. Untuk itu, SABDA menyediakan bahan-bahan audio sehingga lansia tidak perlu membaca lagi, tinggal mendengarkan saja. Bahan-bahan Alkitab audio dari SABDA kami instalkan ke HP dan tablet jemaat setelah selesai ibadah. Tetapi sayang, hanya beberapa jemaat yang tinggal karena hari sudah keburu malam. Senang melihat antusiasme para lansia.

Pelatihan SABDA pada Sabtu, 25 Februari 2017 di STT Kingdom adalah pelatihan software SABDA dan #Ayo_PA dari pkl. 09.00 sampai 16.00 Wita. Akan tetapi, acara agak molor karena panitia masih harus mempersiapkan peralatan listrik di ruangan dan kami melakukan instalasi Software SABDA. Setelah mengisi buku tamu, peserta mendapat 1 paket DVD SABDA dan laptop diinstal dengan sofware SABDA. Di antara peserta, ternyata beberapa sudah pernah mengikuti pelatihan Software SABDA kira-kira 8 tahun y.l.. Mereka ikut lagi karena program SABDA belum banyak mereka pakai sehingga banyak yang lupa. Puji Tuhan, acara pelatihan Software SABDA yang dibawakan oleh Bu Yulia berlangsung dengan lancar dan peserta antusias mengikutinya. Bahkan, ketika pkl. 12.00 tiba (waktunya makan siang), mereka lebih memilih untuk menyelesaikan pelatihan Software SABDA daripada berhenti untuk makan siang. Tim SABDA diajak panitia makan siang Babi Guling, makanan khas Bali yang enak. Setelah makan siang, pelatihan dilanjutkan dengan materi #Ayo_PA! yang disampaikan oleh Aji. Saya bersyukur bisa melayani peserta dengan menjaga booth, sedangkan Hadi mengurus semua urusan teknis dan menjadi operator saat presentasi berlangsung. Bersyukur, kami bisa beristirahat pkl. 18.00 Wita. Namun, belum sempat mandi, kami sudah dijemput panitia untuk makan malam ikan bakar khas Bali yang juga sangat lezat. Kecapaian sepanjang hari ini dibalas dengan tidur pulas untuk persiapan keesokan harinya.

Pada Minggu, 26 Februari 2017, jam 06.00, kami sudah siap makan pagi dan memulai pelayanan dengan membuka booth bagi jemaat yang datang di ibadah pagi GBI Rock Lembah Pujian. Sayangnya, booth SABDA tidak terlalu banyak dikunjungi, mungkin karena gereja tidak memberikan penjelasan tentang adanya booth SABDA kepada jemaat.

Pada pkl. 11.00 Wita, kami dijemput mobil GKAZ untuk memberikan pelatihan #Ayo_PA! Puji Tuhan! Ada lebih dari 130 jemaat yang hadir siang itu untuk mengikuti pelatihan, baik remaja, pemuda, dewasa maupun lansia. Sebelum pelatihan, panitia telah menyediakan makan siang untuk semua peserta dan mereka juga harus menginstal 5 aplikasi SABDA Android di HP mereka. Sungguh menyenangkan melihat keluarga besar GKAZ berkumpul bersama memakai gadget untuk belajar firman Tuhan. Ketika pelatihan berlangsung, peserta diminta untuk mempraktikkan apa yang diajarkan. Rata-rata mereka dapat mengikuti dengan baik meski beberapa orang tua harus dibantu. Setelah selesai, Ibu Yulia diberi waktu untuk memberikan presentasi tentang DVD Library Anak kepada guru-guru SM. Sementara itu, Hadi dan Aji menolong peserta yang ingin mendapatkan Alkitab audio dan aplikasi Alkitab di HP mereka, dan saya melayani di booth untuk jemaat yang membutuhkan CD-CD Alkitab Audio.

Puji Tuhan! Acara sepanjang hari itu memberikan kelelahkan yang menyenangkan. Setelah beristirahat sebentar, pkl. 17.00 Wita saya dan Hadi diantar ke bandara untuk kembali ke Solo. Sementara itu, Ibu Yulia dan Aji masih akan tinggal sampai tanggal 28 Februari 2017.

Senang rasanya mengikuti roadshow kali ini. Melihat semangat peserta membuat saya ikut bersemangat, khususnya melihat para lansia yang punya kemauan belajar tinggi, bahkan belajar mengunduh aplikasi sendiri dan berbagi mengajari rekan-rekan samping kanan kirinya. Ini pengalaman pertama saya roadshow SABDA di luar Pulau Jawa Puji Tuhan!

Selanjutnya, silakan Anda membaca tulisan Aji dalam blog Roadshow SABDA di Pulau Dewata (II).

#Ayo_PA! di PPA GBI Banaran

Mon, 03/06/2017 - 10:17

Untuk ke sekian kalinya, tim #Ayo_PA! melayani anak-anak Pusat Pengembangan Anak (PPA). Kali ini, kami melakukan pelayanan di PPA IO-837 Banaran, Surakarta. Dalam roadshow kali ini, yang bertugas melayani adalah saya, Tika, dan Pio. Ibadah PPA dimulai pukul 16.00 sehingga kami harus bersiap-siap berangkat pukul 15.00 untuk menyiapkan booth dan peralatan teknis (LCD, laptop, cek sound). Setelah berdoa bersama, kami berangkat tepat pukul 15.00 dan dijemput oleh Ardi, staf PPA Banaran yang sering kami hubungi.

Pada pukul 15.45, anak-anak mulai berdatangan di lokasi ibadah, tetapi ada yang salah nih, kok yang datang masih kecil-kecil begitu ya? Namun, yang namanya pelayanan kepada Tuhan harus total, jadi siapa pun yang datang harus tetap dilayani walaupun harus fleksibel dalam menyampaikan presentasi. Ketika anak-anak datang, mereka langsung menuju ke booth, dan saya melayani mereka. Mereka tertarik dengan CD-CD audio Alkitab, dan ada yang ingin memberikan CD tersebut kepada tetangga mereka yang sudah tua dan tidak bisa membaca Alkitab lagi. Puji Tuhan, senang rasanya melihat ada anak yang peka dan memiliki kepedulian.

Ibadah dimulai tepat pukul 16.00. Ardi mengawali dengan doa dan memimpin beberapa lagu pujian. Setelah itu, Ardi mempersilakan kami untuk mulai memberikan presentasi. Presentasi yang pertama dibawakan oleh Tika. Tika tampil cukup akrab di hadapan anak-anak. Meskipun saat itu Tika sedang sakit, ia tetap berusaha melayani sebaik mungkin. Ia menjelaskan bahwa anak-anak termasuk dalam generasi digital native. Sebagai generasi digital native Kristen, anak-anak harus berbeda dengan teman-temannya. Salah satu perbedaannya adalah apa yang ada di dalam HP mereka? Apakah sudah ada Alkitab atau aplikasi-aplikasi lainnya yang dapat menolong mereka bertumbuh dalam Tuhan?

Selanjutnya, saya bertugas menyampaikan materi presentasi kedua. Awalnya, saya bingung karena dari 29 anak yang datang, hanya 1 anak yang membawa HP, padahal saya akan menyampaikan materi yang sangat teknis dan mereka harus langsung mempraktikkannya dengan HP-nya masing-masing. Kemudian, saya sadar bahwa metode PA S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, Aplikasi) yang saya bawakan bukanlah tentang masalah "device"-nya. Yang terpenting adalah bagaimana metode S.A.B.D.A ini dipahami oleh anak-anak dan mereka tertarik melakukan PA dengan metode tersebut, dengan atau tanpa device mereka. Akhirnya, saya memberi penekanan dalam melakukan metode S.A.B.D.A.

Memang, dalam roadshow kali ini, ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai perkiraan kami. Dari roadshow kali ini, saya belajar bahwa kita harus siap kapan pun dan dalam situasi apa pun untuk melayani Tuhan. Sebab, kita tidak tahu jika nanti ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana/persiapan kita. Tetap semangat melayani Tuhan! #Ayo_PA!