RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 1 hour 54 min ago

Pelajaran dari Artikel: Carilah Hobi dan Sunyi

Wed, 07/05/2017 - 11:09

Di SABDA, setiap staf YLSA disarankan untuk membaca artikel dari koran yang sudah disiapkan. Artikel tersebut akan dibaca oleh staf setiap hari secara bergilir. Ada juga artikel yang sudah dikumpulkan di dalam map, dan jika ada artikel yang menarik bisa diambil sendiri untuk dibaca. Salah satu artikel yang menarik bagi saya adalah artikel "Carilah Hobi dan Sunyi". Saya tertarik dua kata dari judulnya, yaitu "hobi" dan "sunyi", karena saya memiliki hobi dan saya juga suka dengan kesunyian. Saya ingin tahu lebih banyak tentang apa yang disampaikan oleh penulis, jadi saya mengambil artikel ini.

Setelah membaca, saya terkesan dengan artikel ini karena mencerminkan apa yang saya alami, bahwa ide-ide cemerlang akan muncul ketika berada pada situasi yang tenang. Ide-ide muncul ketika saya menikmati setiap hal yang saya lakukan. Bukan sebaliknya, ketika berada pada situasi yang ramai. Ketenangan atau kesunyian tidak hanya merujuk pada tempat atau lokasi fisik, tetapi juga pada pikiran.

Dalam artikel ini dijelaskan beberapa masalah yang terjadi pada diri seseorang. Pertama, bahwa sering kali pikiran kita tidak pernah berhenti, diistilahkan dengan kalimat "live streaming". Pikiran selalu bergerak, mengembara dari satu pikiran ke pikiran lain, tidak pernah berhenti. Kedua, pikiran yang terpola yang menyebabkan kita tidak bisa memiliki hal yang baru. Semua dilakukan hanya berdasarkan yang pernah dilakukan sebelumnya, dari generasi ke generasi. Ketiga, pikiran yang terus-menerus akan membuat pikiran menjadi penuh dengan dirinya sendiri sehingga tidak lagi memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Solusi yang diberikan dalam artikel ini adalah dengan memberikan jarak antara pikiran dan kesadaran. Jarak akan memungkinkan untuk mengendalikan pikiran dan mempertanyakan apa yang sedang dipikirkan sehingga tidak menjadi reaktif. Cara yang diberikan adalah melakukan sesuatu yang menarik sehingga bisa menikmati apa yang dilakukan.

Hobi menjadi salah satu cara untuk memunculkan ide-ide yang cemerlang. Saya juga memiliki hobi untuk memberikan perasaan dan pikiran yang tenang, di antaranya memelihara ikan dan bersepeda, termasuk juga menulis kode pemrograman ketika berada di tempat kerja, meskipun aktivitas ini harus menguras otak karena harus berpikir. Saat saya mengerjakan apa yang saya sukai, saya merasa damai, seakan ruang dalam pikiran saya menjadi lebih luas, tidak padat dengan lalu lintas yang bisa mengakibatkan kemacetan. Keadaan ini dapat memunculkan ide-ide solusi untuk hal-hal yang awalnya terasa sulit untuk ditemukan solusinya. Perasaan dan pikiran yang selalu diburu-buru bisa diredam sehingga mendapatkan kondisi yang stabil untuk bisa menikmati setiap hal. Bahkan, saat itu saya bisa memunculkan ide-ide, menciptakan kreativitas, dan membangun relasi yang bisa bermanfaat bagi kehidupan saya dan orang lain.

Pengalaman Mengikuti Raker Mini YLSA 2017

Mon, 07/03/2017 - 11:15

*Mei Budi Margowati

Pembaca Blog SABDA yang terkasih, perkenalkan nama saya Mei yang pada Mei 2017 mulai bergabung di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Motivasi saya adalah untuk melayani dan bekerja bagi Tuhan "dari balik layar" komputer. Sebelumnya, saya hanya mengenal SABDA dari Aplikasi Alkitab SABDA yang sudah lama saya pakai. Ternyata setelah bergabung di SABDA, saya baru tahu ada banyak macam produk SABDA yang sangat beragam dan sudah memberkati banyak orang. Saya beruntung karena tepat satu bulan setelah saya bergabung, YLSA mengadakan rapat kerja tengah tahun atau biasa disebut 'raker mini'. Saya bersyukur mendapatkan pengalaman saat mengikuti raker mini YLSA.

Raker mini YLSA 2017 dilaksanakan pada 7 dan 8 Juni 2017. Lukas mendapat tugas menjadi MC yang membuka raker hari pertama dengan doa dan pujian bagi Tuhan. Dilanjutkan dengan renungan oleh Ibu Yulia. Ayat yang dipakai sebagai landasan renungan diambil dari Yohanes 8:31 (AYT), "Kemudian, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, 'Jika kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku.'" Saya diingatkan untuk selalu belajar menjadi seperti Yesus, belajar melakukan apa yang Yesus lakukan dengan bertekun dalam pengajaran firman Tuhan dan mengaplikasikannya dengan bimbingan Roh Kudus.

Hari pertama raker mini, diisi dengan pemaparan laporan kerja dari semua tim pelayanan dari Januari sampai Mei 2017. Setiap divisi melaporkan semua hasil kerja dengan baik, dimulai dari Tim ITS, Tim PAS, Tim Aptek, Tim Pembinaan, Tim Penjangkauan, Tim Pendidikan Kristen, dan staf Administrasi (Humas, HRD, Keuangan).Setelah mempresentasikan laporannya, setiap tim akan menjawab pertanyaan dan tanggapan yang diajukan oleh tim lain. Cukup banyak pertanyaan yang muncul dan hal itu akan menjadi masukan bagi pelayanan semester yang akan datang. Demikian raker hari pertama berlangsung. Ada hal yang istimewa pada raker ini yaitu Pak Jeffrey tepat berulang tahun pada hari itu. Salah satu hal yang menyenangkan dari SABDA adalah ketika ada salah seorang berulang tahun, kami semua akan sama-sama berdoa dan memberi ucapan layaknya sebuah keluarga yang hangat.

Hari kedua dimulai dengan doa dan pujian yang dipimpin oleh saya. Dilanjutkan dengan renungan yang dibawakan oleh Bu Yulia tentang Pemuridan.Dalam renungan ini banyak quote yang membangun pertumbuhan rohani saya. Salah satunya "Iman seperti Wifi, tidak terlihat tetapi memiliki kekuatan untuk memberi apa yang kita butuhkan". Saya diingatkan untuk selalu memegang teguh iman sebagai jalan penghubung kepada apa yang saya butuhkan selama ini, yaitu kesatuan dengan Kristus.

Acara hari yang kedua adalah semua tim memaparkan rencana kerja yang akan dilakukan pada semester kedua. Banyak sekali program kerja yang disusun oleh masing-masing tim. Saya berharap program kerja yang sudah direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Dari masing-masing presentasi rencana tim, tim yang lain berpartisipasi dengan memberi pertanyaan atau masukan supaya rencana-rencana ini menjadi semakin baik.

Inilah pengalaman pertama saya yang berkesan saat mengikuti raker mini di YLSA. Raker di YLSA berbeda dengan raker yang saya ikuti sebelumnya di tempat lain. Di YLSA, kami semua dilibatkan baik sebagai petugas MC, Moderator, dan ikut ambil bagian dalam penyampaian pendapat. Saya merasakan raker mini ini adalah wujud pemeliharaan Tuhan dalam setiap pelayanan di SABDA. Tuhan menyertai setiap program kerja SABDA yang sudah terlaksana dan akan menyertai juga setiap program kerja yang akan dilaksanakan di semester depan. Saya melihat hasil rapat kerja ini menjadi bukti akan pemeliharaan Tuhan. Kiranya Tuhan terus menyertai setiap pelayan Tuhan di SABDA agar dapat melaksanakan pelayanan dengan hati yang selalu memandang kepada Tuhan.

"Apa pun yang kamu lakukan, dalam perkataan ataupun perbuatan, lakukan semua itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa, melalui Dia." Kolose 3:17 (AYT). Haleluya. Soli Deo Gloria!

Asyik, TED Staf YLSA Lagi!

Thu, 06/22/2017 - 15:00

Pada blog-blog sebelumnya, pernah ada pembahasan seputar +TED @SABDA. Kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai +TED @SABDA khusus staf YLSA teranyar yang harus Sahabat YLSA ketahui. Siap?

Salah satu rangkaian acara Persekutuan Doa (PD) staf YLSA Jumat, 16 Juni 2017, adalah +TED @SABDA yang disampaikan oleh staf YLSA. Ada 4 presentasi menarik yang disampaikan oleh Indah, Liza, Aji, dan Danang. Diawali dengan presentasi berjudul "Integritas", Indah mencoba menyampaikan materinya semaksimal mungkin. Beberapa tokoh Alkitab yang memiliki hidup berintegritas juga disinggung Indah, sebagai contoh, Abraham dan Musa. "Sebagai orang percaya, kita harus bisa melakukan yang terbaik sekalipun bos/pemimpin kita tidak ada di dekat kita," begitulah salah satu aplikasi yang bisa kita lakukan untuk hidup berintegritas. Dilanjutkan dengan presentasi "Six Thinking Hats" oleh Liza, kita semua dibekali dengan wawasan mengenai 6 cara berpikir menurut warna topi. Keenam warna topi tersebut adalah merah (emosi, perasaan), kuning (berpikir positif/mencari keuntungan), hijau (kreativitas, ide baru), hitam (berpikir negatif, kesulitan, kelemahan), putih (berfokus pada data), dan biru (mengatur proses berpikir). Intinya, dalam keadaan tertentu, seseorang diharapkan bisa memakai topi-topi tersebut secara bijaksana, sesuai kebutuhan.

Presentasi ketiga disampaikan oleh Aji dengan judul "Perfeksionis Maladaptive". Topik ini cukup berat, tetapi sangat menolong kita untuk mengetahui, mengenali, bahkan mengatasi sikap perfeksionis. Materi yang disampaikan cukup padat dan direlevansikan dengan kehidupan Kristen yang alkitabiah. Intinya, kita dapat berhenti berusaha untuk memperoleh "kesempurnaan" menurut dunia, dan tinggal tenang dalam Dia Yang Sempurna (Matius 11:28). Namun, di sisi lain, benar bahwa Alkitab memanggil kita untuk "menjadi sempurna seperti Bapa" (matius 5:48). Yang terakhir, kita semua diberi wawasan dan belajar bagaimana melakukan "PA dengan metode Etimologi". Wah, presentasi terakhir ini makin berat ya? Danang, sebagai presentator terakhir, menjelaskan mengenai metode etimologi ini dengan sangat antusias dan sukacita, seolah-olah dia sedang menceritakan cerita terbaik yang pernah ia baca. Meski judul presentasinya cukup horor (menurut beberapa staf), tetapi materi bisa kami tangkap dengan baik. Intinya, dalam membaca Alkitab, metode penelusuran suatu kata dalam Alkitab akan sangat menolong kita untuk melihat konsep pada masa itu dan mendapatkan maknanya dengan akurat dan lebih mendalam. Hmmm ... materi yang unik, menurutku.

Masih penasaran dengan apa yang terjadi terhadap keempat presentator setelah mereka presentasi? Mereka diberi pertanyaan dan harus menjawabnya saat itu juga. Sesi ini cukup mengasah mereka, terutama mengenai kedalaman penguasaan materi. Terlepas dari jawaban yang diberikan benar, setengah benar, atau salah, kami belajar banyak hal dari proses ini. Saya sangat tertarik dengan presentasi terakhir. Meski kesannya "kok mau-maunya PA dengan metode seribet itu", saya jadi penasaran dan tertantang untuk mencobanya. Kesan saya, +TED @SABDA untuk staf YLSA semakin lama topiknya semakin berat ... hehe. Tak apa, justru makin menantang dan memacu untuk banyak belajar hal-hal baru supaya kita lebih berkembang. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Kunjungan SABDA ke Kota Pelajar (GKI Ngupasan)

Tue, 06/13/2017 - 14:27

Shalom, Maskunarti kembali menyapa sahabat setia SABDA. Saya bersyukur bisa ikut roadshow tim SABDA bersama Ibu Yulia, Tika, dan Lukas. Kami berangkat ke Yogyakarta pada 13 Mei 2017, siang, dengan transportasi umum kereta api. Bersyukur, kami bisa dapat tempat duduk dan menikmati perjalanan dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 15.24 ketika kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, kami menggunakan taksi menuju GKI Ngupasan. Kondisi lalu lintas yang cukup lancar membuat kami tiba di lokasi sesuai jadwal.

GKI Ngupasan

Setibanya kami di GKI Ngupasan, kami dipersilakan menempati ruang pastori untuk meletakkan barang-barang dan beristirahat. Namun, karena waktu, kami memilih untuk menyiapkan meja booth SABDA lebih dahulu sebelum beristirahat dan mandi.

Saya melihat jemaat antusias mengikuti ibadah yang berlangsung pukul 17.30 sore itu. Mereka memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan sukacita terpancar dari wajah mereka. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Yulia diambil dari Kisah Para Rasul 7:55-60, berjudul "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat" (Belajar dari tokoh Stefanus). Saya dan rekan-rekan yang lain mengikuti ibadah di luar ruangan sambil menjaga booth SABDA, dan bersyukur karena khotbah bisa kami dengarkan dengan baik dari luar.

Dari firman Tuhan Kisah Para Rasul 7:55-60, saya belajar tentang empat kuadran bagaimana saya bisa jadi pengikut Tuhan sampai akhir hayat, yaitu:
1. Menjadi saksi yang aktif.
2. Menjadi saksi yang bertanggung jawab pada imannya.
3. Menjadi saksi yang setia.
4. Menjadi saksi yang berani mati.
Jika para Sahabat SABDA ingin melihat presentasi PPT khotbah tersebut, silakan mengunduhnya slide share SABDA

#Ayo_PA!

Pada Minggu, 14 Mei 2017, Ibu Yulia berkhotbah dalam tiga ibadah raya, pukul 06.30 WIB, 09.00 WIB, dan 16.30 WIB dengan tema khotbah yang sama,yaitu "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat". Pada pkl. 10.00, kami juga memberikan pelatihan #Ayo_PA! kepada jemaat remaja GKI Ngupasan. Namun, selain generasi muda, ada juga warga dewasa yang mengikutinya. Jumlah peserta sekitar 40 orang lebih. Peserta antusias mengikuti pelatihan yang dibawakan oleh Tika. Para peserta yang generasi muda sangat fasih dalam mempraktikkan yang disampaikan dan disimulasikan oleh Tika. Bagi warga dewasa, meski belum begitu terampil dalam pengoperasian gadget, mereka memiliki keingintahuan yang tinggi dan berusaha untuk mengikuti pelatihan ini dengan baik. Kami bersyukur dapat membantu mereka melakukan instalasi aplikasi SABDA Android (Alkitab SABDA, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, Peta) di HP mereka.

Ini merupakan pengalaman kedua saya mengikuti roadshow SABDA. Saya belajar banyak hal, khususnya dalam berinteraksi dengan jemaat, memberikan penjelasan tentang booth SABDA, dan menginstal aplikasi-aplikasi SABDA Android. Saya berharap, SABDA semakin dipakai Tuhan untuk menolong banyak orang di berbagai penjuru Indonesia untuk menggunakan teknologi dalam belajar firman Tuhan dan melayani Tuhan lebih maksimal lagi. Segala kemuliaan bagi Tuhan. Amin.

Bertumbuh dan Berkembang di SABDA

Fri, 06/09/2017 - 10:07

Hari-hari ini, saya merenungkan tentang kebaikan besar yang Tuhan lakukan dalam langkah iman dan hidup saya selama kurang lebih 2,5 tahun ini. Pada 7 Oktober 2014, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan pelayanan YLSA, saya masih sangat mengingatnya. Di tempat ini, saya disambut dengan baik dan diterima dalam sebuah komunitas teman-teman yang mayoritas masih muda. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali saya di tempat ini dan sekarang ini, saya jauh lebih bertumbuh dalam skill, jiwa, dan juga kerohanian. Selain itu, secara kepribadian saya juga berkembang.

Tuhan baik, saya beroleh kesempatan untuk berada dalam sebuah ladang yang tidak pernah saya pikirkan akan saya kerjakan, yaitu ladang digital. Ladang yang telah, sedang, dan akan terus digarap oleh YLSA. Saya seorang lulusan jurusan Pendidikan Agama Kristen yang ketika pertama kali berada di tempat ini merasa takut dan minder dengan banyak staf yang begitu pandai. Akan tetapi, di tempat ini saya diajari dan didorong untuk belajar mandiri dan mendapat banyak keterampilan. Tidak ada teman yang tidak mau menolong saya untuk berkembang, dan hal itu adalah sebuah kesempatan yang mahal. Saya dilibatkan dalam beberapa bidang pelayanan sehingga saya boleh banyak belajar sehingga pribadi dan potensi saya mengalami kemajuan di tempat ini. Saya bersyukur atas keberadaan pemimpin dan teman-teman saya, dalam suka dan duka, begitu menolong saya sehingga saya bisa terlibat dalam pelayanan ini. YLSA adalah alat Tuhan untuk menjangkau jiwa pada abad ke-21 ini.

Dari dalam hati saya, saya berdoa agar YLSA tetap melihat hati Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Terima kasih untuk YLSA yang telah menolong saya melihat hati Tuhan dan bangsa-bangsa yang sedang menantikan Kabar Baik.

Pengalaman Mengikuti Seminar “Gereja Misi Dunia”

Wed, 05/31/2017 - 13:15

"Yulia sedang cari you. Saya pikir, dia punya sesuatu yang pasti you akan suka."

Mendengar pernyataan tersebut, saya langsung bergegas menemui Ibu Yulia untuk menanyakannya. Ternyata, benar saja, beliau menawarkan sebuah kesempatan yang bagi saya tidak ternilai harganya: menjadi salah satu penerjemah dalam acara seminar misi di Yogyakarta. Itu sama sekali di luar dugaan saya; tentu saja ini kesempatan yang tidak akan saya lewatkan! Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menerima tawaran tersebut. Dan, sebagai persiapan untuk itu, beliau memberikan saya softcopy dari buku World Mission Church (Gereja Misi Dunia) yang pengarangnya akan menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar misi tersebut.

Demikianlah secuplik adegan yang menjadi prolog dari seluruh rangkaian episode yang akan saya tulis kali ini, yaitu tentang pengalaman saya mengikuti seminar misi di Yogyakarta pada 9 -- 10 Maret 2017 silam. Seminar misi ini sebenarnya bukanlah acara tersendiri, melainkan bagian dari acara rapat tahunan sinode Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI), yang diselenggarakan pada tanggal 8 -- 10 Maret 2017 di Villa Taman Eden 2 Kaliurang, Yogyakarta. Tim SABDA yang berangkat ke sana hanya Bu Yulia dan saya.

Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Kami berangkat dari Solo sekitar pukul 08.30 dengan bus dan mampir ke Klaten untuk mengambil cetakan buku terjemahan "Gereja Misi Dunia" untuk dibagikan kepada peserta. Kami tiba di tempat acara, di Villa Taman Eden 2, sekitar hampir pukul 12.00. Setibanya di sana, kami disambut oleh empat orang bule yang tampaknya sudah menantikan kedatangan kami. Mereka adalah Pak Paul Jenks dan istrinya, Ibu Lois Jenks, dari AMG International, dan Ps. David Anderson, pengarang buku World Missions Church yang sudah saya singgung sebelumnya, dan rekannya, Pak Wick Jackson, dari Envoy International. Dua orang yang disebutkan terakhir adalah para pembicara yang akan menyampaikan materi dalam seminar misi nanti.

Setelah berkenalan dan berbincang sejenak dengan keempat orang ini, Bu Yulia dan saya lantas menyiapkan booth dan menata berbagai bahan untuk para peserta -- seperti berbagai CD audio Alkitab, DVD Library Anak, traktat pelayanan anak, dll.. Namun, sebelum saya lanjutkan, ada kejadian menarik yang ingin saya ceritakan terlebih dahulu.

Sekitar satu jam sebelum berangkat ke Yogyakarta pagi itu, Pak Paul Jenks menghubungi Ibu Yulia, menginformasikan bahwa ada workbook untuk peserta seminar yang masih perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akibatnya, pagi itu kami mencoba menerjemahkan sebanyak mungkin isi workbook tersebut sebelum berangkat. Bahkan, dalam perjalanan bus ke Yogyakarta, Ibu Yulia sibuk mengetik dengan laptopnya dan saya dengan ponsel saya, untuk mengerjakan sebanyak yang kami bisa. Namun, karena workbook itu cukup banyak halamannya, maka tidak bisa cepat diselesaikan, bahkan sampai malam kami masih harus bekerja keras sambil menjaga booth dan menjelaskan tentang produk-produk SABDA saat ada yang berkunjung ke booth. Ada juga yang minta diinstalkan aplikasi-aplikasi Android ke ponsel mereka. Sedangkan Ibu Yulia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang pertemuan, mengikuti seminar, dan menerjemahkan beberapa sesi untuk para pembicara. Itulah hari pertama.

Pada hari kedua, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Para pembicara, Ps. David Anderson dan Pak Wick Jackson, sepertinya sangat senang jika Ibu Yulia yang menjadi penerjemah mereka. Tetapi masalahnya, Ibu Yulia tidak bisa tinggal lebih lama dan harus pulang siang itu karena harus mempersiapkan roadshow ke Lampung. Singkat cerita, setelah Ibu Yulia pergi, Ibu Lois meminta saya menjadi penerjemah untuk sesi kedua yang akan dibawakan oleh Pak Wick Jackson itu. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, dan dalam waktu kurang dari 5 menit, saya sudah berada di samping Pak Wick di depan dengan memegang mikrofon, siap untuk menerjemahkan meski sedikit ragu dan tidak yakin. Namun, dengan pertolongan Tuhan, sesi tersebut bisa berjalan dengan baik dan materi bisa disampaikan seluruhnya kepada para peserta. Saya sangat bersyukur dalam hati.

Seusai sesi, saya juga berkesempatan untuk duduk dan makan bersama-sama dengan mereka dan membicarakan tentang banyak hal, salah satunya tentang apa yang baru saja kita bahas pada sesi sebelumnya, yaitu tentang pelayanan misi jangka pendek. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya.

Sore harinya, saya harus kembali ke Solo. Saya ikut turun dari villa bersama-sama dengan rombongan Pak Paul, Ibu Lois, Pak David, dan Pak Wick, yang akan pulang ke hotel. Saya memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan mereka, sekaligus meminta tanda tangan Pak David untuk salinan buku Gereja Misi Dunia yang saya punya. Pada kesempatan itu, Pak Paul juga menawarkan supaya saya menjadi penerjemah lagi untuk mini seminar dengan topik yang sama yang akan diselenggarakan di STT Berita Hidup pada 13 -- 14 Maret 2017. Sungguh kesempatan yang tidak ternilai bagi saya. Kemudian, setelah berpamitan dengan keempat orang tadi, saya diantarkan ke dekat bandara untuk bisa naik bus pulang ke Solo.

Sangat senang rasanya bisa turut ambil bagian dalam pelayanan serta mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berharga ini. Terlebih, saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang seperti Pak David dan Pak Wick, yang benar-benar memiliki hati untuk misi dunia. Dari pengalaman mereka dan materi yang mereka bawakan dalam seminar ini, saya belajar banyak tentang bagaimana mengambil bagian secara pribadi dan bermakna dalam misi dunia. Kiranya segala sesuatu yang sudah terjadi boleh menjadi jalan bagi kemuliaan Allah untuk dinyatakan melalui umat-Nya. Haleluya!

Pelayanan SABDA di Pontianak

Wed, 05/31/2017 - 11:49

Bersyukur kepada Tuhan karena pada tanggal 26 -- 29 April 2017, tim SABDA (saya dengan Ibu Yulia) mendapat kesempatan mengadakan roadshow ke Pontianak di tiga tempat, yaitu di STT Pontianak, acara IVEC, dan GKNI Pniel. Kami berangkat dari tempat yang berbeda. Saya berangkat dari Solo, sedangkan Bu Yulia berangkat dari Kupang bersama rombongan peserta IVEC dari luar negeri (seperti Taiwan, Hongkong, Amerika, Kanada, dan lain-lain).

Sesampainya di bandara Supadio, Pontianak, saya bertemu Bu Yulia dan langsung keluar bandara untuk menjumpai tim dari STT Pontianak yang sudah siap menjemput kami. Di STT Pontianak, kami akan memberikan pelatihan Software SABDA dan #Ayo_PA kepada lebih dari 100 mahasiswa dan beberapa dosen yang ikut hadir. Saya dibantu oleh Ronny, salah satu mahasiswa di sana, untuk menginstal Software SABDA pada laptop para peserta dan membantu jika ada yang mengalami kesulitan. Saya berharap 4 jam presentasi yang dibawakan oleh Bu Yulia dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta dalam menggali firman Tuhan dan menyampaikan kebenaran di ladang yang Tuhan percayakan nanti.

Usai acara, kami diantar oleh Bapak Herwin, Dekan I STT Pontianak, ke rumah retret Tirta Ria, tempat berlangsungnya acara IVEC yang diselenggarakan tgl. 26 -- 28 April 2017. Jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut lebih dari 200 orang. Selain 30 peserta dari luar negeri dan 10 peserta dari Jawa, sebagian besar adalah peserta dari berbagai gereja di Pontianak (seperti GKNI Pniel, GKKB, GPPIK, dll.) dan luar Pontianak (Singkawang, Ngabang, dll.). Selama acara berlangsung, tim SABDA membuka booth untuk membagikan produk-produk SABDA agar para peserta dari Pontianak juga mendapat berkat.

Pada 27 April 2017, pkl. 11.00, Ibu Yulia menjadi pembicara untuk menyampaikan tentang bagaimana menjalankan "Misi pada Era Digital". Karena peserta dari luar negeri kebanyakan berbahasa Chinese, maka hampir seluruh acara diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, termasuk materi Bu Yulia. Meskipun penerjemah terbata-bata, hal itu tidak menghalangi materi disampaikan secara lengkap. Ini terlihat dari respons peserta setelah presentasi. Beberapa dari mereka menyampaikan ke Ibu secara langsung, sedangkan yang lain mendiskusikannya di depan booth tentang era digital dan mengaitkannya dengan bahan-bahan yang kami miliki. Di sana, saya melihat bagaimana Tuhan membukakan wawasan baru kepada mereka tentang ladang misi yang hampir terlupakan oleh mereka, yaitu ladang misi dunia digital.

Pada acara tersebut, saya juga mendapatkan beberapa teman baru yang memiliki ketertarikan dalam dunia pelayanan anak, yaitu Elisa (yang bergabung dalam pelayanan bimbel GKNI Pniel) dan Yudi (yang sedang aktif mencari bahan untuk panggung boneka bagi anak sekolah minggunya). Dari pengalaman mereka, saya turut merasakan pemeliharaan serta kasih Tuhan kepada anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Sungguh merupakan kesempatan berharga untuk melihat seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang mengasihi Tuhan.

Pada 28 April, pkl. 14.00, acara IVEC selesai. Para peserta dari luar kota, luar pulau, dan luar negeri kembali ke tempat masing-masing, sedangkan kami melanjutkan pelayanan ke GKNI Pniel. Di gereja ini, SABDA memberikan pelatihan #Ayo_PA! yang dihadiri oleh jemaat dan anak-anak muda GKNI. Beberapa peserta dari gereja itu juga menjadi panitia pada acara IVEC sehingga kami tidak merasa asing lagi. Selain itu, hadir juga Pak Dedi dari GPPIK. Acara dibuka dan ditutup oleh Ibu Liliana, Gembala Sidang gereja ini. Saya terkesan dengan perhatian para peserta dalam mengikuti pelatihan #Ayo_PA!. Kiranya dengan pelatihan ini, kecintaan akan firman Tuhan dapat semakin menguatkan jemaat, terutama dengan bantuan teknologi.

Pagi-pagi benar, pada 29 April 2017, kami bergegas ke bandara untuk kembali ke Solo melalui Yogyakarta. Pesawat sempat mengalami delay 2 jam lebih. Sesampainya di Yogyakarta, kami transit ke Solo dengan menggunakan kereta api. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman dan kesempatan, juga teman-teman baru yang Tuhan berikan selama roadshow di Pontianak. Kiranya semua yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

Akhirnya, SABDA di Kupang

Wed, 05/24/2017 - 13:42

Pada 22 -- 25 April 2017, saya dan Bu Yulia melakukan roadshow SABDA ke Kupang. Tujuan utama kami adalah menghadiri acara yang diadakan oleh K-Pact pada 24 -- 25 April, tetapi kami sengaja berangkat lebih awal, tgl. 22 April, dua hari sebelumnya, karena ingin menggunakan kesempatan ini untuk berbagi berkat kepada masyarakat Kristen di Kupang.

Gereja pertama yang kami layani adalah Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Kotabaru. GMIT adalah sinode gereja yang besar di Kupang. Karena tgl. 21 April YLSA menyelenggarakan TED@SABDA, dan saya menjadi ketua panitia, sedangkan Bu Yulia jadi salah satu pembicara, maka kami baru bisa berangkat malam itu dengan bus ke Surabaya supaya besoknya pagi-pagi sekali bisa berangkat dengan pesawat dari Surabaya ke Kupang. Pesawat kami tiba di Kupang pkl. 11.00, tgl. 22 April. Langsung kami menuju ke GMIT Kobabaru karena pelatihan Software SABDA untuk hamba-hamba Tuhan akan dilaksanakan pkl. 13.00. Peserta yang hadir mencapai lebih dari 100 orang. Selain hamba Tuhan, ada juga para aktivis gereja. Mereka berasal dari dalam maupun luar gereja tersebut. Hampir 90% dari peserta membawa laptop. Kami sempat kewalahan saat menginstal Software SABDA di laptop-laptop peserta. Karena jumlah peserta yang banyak, sangat terasa bahwa pelatihan tidak berjalan dengan kondusif. Ada peserta yang mengobrol sendiri. Gedung gerejanya pun cukup besar sehingga ada peserta yang duduk terlalu belakang. Hal ini menyulitkan untuk interaksi. Hanya 3 -- 5 baris terdepan saja yang aktif berinteraksi saat Ibu Yulia mengajukan pertanyaan. Pelatihan ini selesai pukul 16.00.

Pada pkl. 17.00, kami melanjutkan kegiatan dengan pelatihan guru sekolah minggu. Ketika Ibu Yulia memberi presentasi bahan untuk mengajar sekolah minggu, saya menginstal Software SABDA ke beberapa laptop peserta yang sebelumnya telah dikumpulkan. Peserta terdiri dari sebagian peserta pelatihan Software SABDA ditambah dengan peserta-peserta baru. Selesai pelatihan, saya sempat mengobrol dengan beberapa peserta sambil menunggu proses instalasi di laptopnya selesai. Mereka mengatakan bahwa mereka senang mendapat materi ini karena menolong mereka untuk mengajar dengan cara yang berbeda di sekolah minggu.

Minggu pagi, setelah ibadah, kami melakukan pelatihan Ayo_PA!. Saat pelatihan ini, saya sempat mengalami kendala dengan Chromecast yang digunakan untuk casting layar smartphone ke LCD karena masalah jarak. Karena itu, saya harus membawa smartphone yang saya gunakan mendekat ke Chromecast-nya, bersyukur akhirnya bisa kembali lancar. Seusai pelatihan, saya dan Bu Yulia bertemu dengan Pak Hijayas dan Pak Anjelo. Pak Hijayas sudah lama membantu SABDA dengan menjadi moderator di Facebook Grup e-Santapan Harian. Sementara, Pak Anjelo aktif bergabung dalam komunitas SABDA di Facebook. Senang bisa bertemu secara langsung dengan para mitra SABDA. Sebelum pulang, Pak Hijayas pun memberikan testimoninya. Selain Pak Hijayas, ada 2 orang lain yang bersedia memberikan testimoni. Masing-masing mereka melayani di kampus dan memimpin sebuah kelompok PA. Mereka bersyukur sekali dengan pelatihan Ayo_PA ini, mereka ingin menggunakan teknologi yang ada untuk melayani Tuhan. Harapannya, mereka akan menerapkan apa yang sudah mereka dapat dalam kelompok PA mereka agar adik-adik PA mereka pun bisa membagikannya.

Senin pagi, kami dijemput oleh Ezra, anak dari Pdt. Thomas Eny. Pdt. Thomas Eny adalah gembala sidang di Gereja Kemah Injil Efata Kupang, tempat kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA! pada hari itu. Peserta pelatihan kali ini berjumlah 25 orang. Mayoritas mereka adalah teman-teman Pdt. Thomas, hamba-hamba Tuhan dari gereja-gereja di Kupang. Selain itu, ada juga dosen di salah satu STT di Kupang. Jika di GMIT Kotabaru para pesertanya belum familiar dengan produk SABDA, beda halnya dengan pelatihan di gereja ini. Ada peserta yang sudah menggunakan Software SABDA sejak dari versi 3. Dari pelatihan di gereja ini, kami mendapat masukkan agar dokumentasi berupa video dari pelatihan SABDA bisa dibagikan juga kepada mereka. Jadi, jika mereka lupa, mereka bisa melihat video tutorial dari Software SABDA.

Selesai pelatihan, kami dijamu makan oleh Pdt. Thomas sekeluarga. Makanan yang tak mungkin dilupakan saat berada di Kupang adalah se'i atau daging babi asap serta jagung bose. Makanan ini merupakan makanan khas Kupang. Hampir di setiap kami diajak makan pasti ada menu se'i.

Sekitar pukul 15.00, kami diantar ke hotel tempat kami mengikuti acara dari K-Pact, yaitu Indonesia for God's Glory Vision Exploration Conference (IVEC). Setelah bertemu dengan panitia, kami menyiapkan booth SABDA. Peserta IVEC berasal dari dalam dan luar Indonesia. Acara ini dibuka dengan tarian daerah Kupang, vokal grup, dan kesaksian dari beberapa orang tentang mengapa mereka ada di Indonesia dan pelayanan yang telah mereka lakukan di negara mereka.

Sesi hari ke-2 IVEC banyak diisi dengan presentasi dari lembaga-lembaga Kristen yang melayani di Indonesia. Ada presentasi dari Our Daily Bread Ministries, Pak Hagai dari Iota Project, dan dari beberapa lembaga lainnya. Siangnya sebelum break, Bu Yulia memberikan presentasi tentang SABDA kepada para peserta. Respons peserta sangat positif. Saat break, beberapa peserta, terutama yang berasal dari luar Indonesia, mampir ke booth SABDA. Mayoritas peserta yang dari luar Indonesia fasih berbahasa Mandarin dan senang sekali bisa mendapatkan CD Alkitab audio berbahasa Mandarin. Ada juga yang membawa CD Alkitab Audio bahasa Indonesia untuk dibagikan kepada orang-orang Indonesia yang dia layani, baik di Taiwan maupun Hongkong.

Setelah makan siang, semua peserta diajak mengunjungi Kupang Christian Center (KCC), di mana ada sekolah Kristen dari TK hingga SMA. Sekolah ini dibuka sejak tahun 2012. Saat kami tiba dan diajak untuk keliling melihat sekolah itu, pembangunan kelas-kelas baru telah selesai. Selain sekolah, di tempat ini juga ada asrama bagi anak-anak yang sekolah di situ. Acara ini ditutup dengan tarian daerah Kupang yang dibawakan oleh anak-anak dari sekolah tersebut. Terakhir, mereka memakai pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia dan menyanyikan lagu "Indonesia bagi Kemuliaan-Mu" dalam tiga bahasa, yaitu Mandarin, Inggris, dan Indonesia.

Saya bersyukur mengikuti acara ini karena melihat pekerjaan Tuhan yang begitu besar di Indonesia. Dan, pekerjaan itu terlalu besar untuk dikerjakan sendiri. Kiranya SABDA bisa mengambil bagian dengan memperlengkapi mereka dengan bahan-bahan untuk menunjang kemajuan pelayanan mereka. Soli deo Gloria!

Sudahkah kita “Memiliki Hati Seperti Hati Tuhan Yesus”?

Mon, 05/22/2017 - 07:33

Dalam pengalaman hidup kita, pasti kita pernah bertemu dengan seseorang yang sakit parah. Bagaimana respons kita terhadapnya? Apakah kita hanya bergumam bahwa kondisinya memprihatinkan? Atau, kita meresponinya selangkah lebih maju dengan mendoakannya? Ketika mendoakannya, apakah kita mendoakan untuk kesembuhan fisiknya saja atau juga untuk kondisi rohaninya? Sebenarnya, seseorang bisa merespons dengan banyak cara sesuai dengan kepekaan dan sikap hatinya. Apa respons Yesus terhadap kondisi seperti ini?

Dari seminar "Memiliki Hati seperti Hati Tuhan Yesus", yang saya ikuti di Griya SABDA pada 3 April 2017, saya belajar lebih mendalam mengenai hati Yesus dari melihat berbagai pelayanan yang dilakukan-Nya. Penekanan materi yang disampaikan oleh Pdt. Yuzo Adinata (Rektor STTRI) dalam seminar ini adalah hati Yesus yang penuh dengan belas kasihan. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan terhadap orang banyak, mulai dari orang yang sakit (Matius 14:14), orang yang lapar (Matius 15:32), orang yang buta (Matius 13), orang yang sakit kusta (Markus 1:41), orang yang kerasukan setan (Markus 9:32), seorang janda di Naim (Lukas 7:13), orang-orang yang terdapat dalam perumpamaan "orang yang berhutang banyak", "orang Samaria yang baik hati", "anak yang hilang", hingga orang-orang ("domba") yang membutuhkan kepemimpinan Kristus. Melalui pelayanan-Nya, Tuhan Yesus menyingkapkan kepada kita bahwa ketika Ia berada di antara mereka, Ia tidak melihat keadaan mereka sebagai kesulitan, tetapi sebagai kebutuhan. Ketika Yesus bisa melihat adanya kebutuhan dalam diri orang-orang tersebut, Ia akan melakukan hal-hal yang sangat dibutuhkan mereka, bukan hanya memberikan kesembuhan, pemulihan, kebebasan, melainkan kasih.

Cara pandang manusia memang berbeda dengan cara pandang Yesus, dan cara pandang inilah yang akhirnya akan menentukan cara berpikir dan tindakan kita. Jika manusia melihat kondisi yang tidak menyenangkan sebagai kesulitan, Yesus justru melihatnya sebagai kebutuhan dan kesempatan untuk menyatakan kasih. Mari kita merenungkan sejenak, apakah kita sudah memiliki hati seperti Yesus ketika kita melayani? Apakah hidup kita dipimpin oleh Tuhan atau keinginan diri sendiri?

Melalui seminar ini, saya diingatkan betapa pentingnya memiliki hati yang berbelas kasih ketika melayani orang lain. Banyak hal bisa kita lakukan, tetapi melakukan dengan hati yang berbelas kasih jauh lebih berguna dan bernilai. Sebagai orang percaya, kita harus mendengarkan dan meneladani Kristus supaya cara pandang dan tindakan kita seturut dengan kehendak dan isi hati-Nya.

Perayaan Paskah YLSA dan +TED@SABDA Tim Pembinaan: Passion for The Christ

Fri, 05/05/2017 - 07:32

Ada yang berbeda dari acara Paskah YLSA tahun ini. Jika pada tahun-tahun sebelumnya acara Paskah YLSA hanya dirayakan oleh staf YLSA saja, tahun ini acara Paskah YLSA dirangkai bersama dengan acara +TED @SABDA untuk dirayakan bersama-sama mitra dan Sahabat YLSA. Mengangkat tema "Passion for The Christ", Tim Pembinaan yang menjadi penyelenggara acara berharap peserta yang hadir akan semakin bergairah mengasihi dan melayani Tuhan dan sesama dengan waktu, tenaga, pemikiran, dan talenta yang mereka miliki. Kristus sudah mati bagi kita, mari kita hidup bagi Dia.

Acara berlangsung sedikit terlambat sore itu karena hujan yang turun semenjak pukul setengah empat sore. Peserta yang tadinya diperkirakan akan hadir sekitar 50 orang menyusut menjadi sekitar 40 orang, khususnya peserta dari luar kota. Acara dimulai pada pukul 17.15. Tim Pembinaan yang diwakili oleh saya sebagai Koordinator membuka acara dengan sambutan dan perkenalan panitia, MC, dan moderator, lalu disambung dengan pemutaran video profile Tim Pembinaan. Acara yang dipandu oleh MC, yaitu Ayub, memulai dengan pujian dan doa pembukaan. Sesudah itu, moderator pertama, Tika, memulai +TED sesi satu dengan pemutaran video kesaksian Jim Caviezel, aktor utama dalam film Passion for The Christ. Walaupun saya sudah pernah menonton video ini sebelumnya, saya tidak pernah menjadi bosan, karena video ini sangat memberi dorongan untuk saya semakin menghargai dan memaknai karya pengorbanan Kristus yang begitu berharga.

Sesudah menyaksikan video, acara dilanjutkan dengan mendengar presentasi dari dr. Yudhie Chandra yang membawakan materi "Sisi Medis Penyaliban Tuhan Yesus" serta presentasi kedua dari Pdt. Andi Halim mengenai Teologi Reformed. Setelah tanya jawab dengan kedua presenter dan penyerahan kenang-kenangan dari panitia, acara kemudian beralih pada ibadah Paskah, yang diisi dengan pujian, renungan, dan doa Paskah. Renungan Paskah yang berjudul sama dengan tema acara, "Passion for The Christ" dibawakan oleh Wahyu Kriscahyanto. Beliau adalah sahabat YLSA yang juga mengambil bagian sebagai panitia sie acara pada +TED@SABDA ini dan pernah mengisi acara +TED Oktober 2016. Sesudah ibadah Paskah selesai, kami rehat sejenak untuk makan malam bersama.

+TED sesi dua, yang dimoderatori oleh Odysius, lebih banyak membahas tentang materi pembinaan sebagai wujud aplikasi dari panggilan Allah bagi orang-orang percaya. Bapak Arie Saptaji, seorang penulis Kristen dari Yogyakarta tampil untuk membawakan presentasi yang berjudul "Proses Kreatif Menulis Renungan". Sesudah itu, Ibu Yulia, ketua YLSA, mempresentasikan materi "Misi pada Era Digital". Presentasi ditutup dengan materi "Pemuridan abad 21" yang dibawakan oleh Santi, koordinator Tim Penjangkauan. Setelah acara tanya jawab dan pemberian kenang-kenangan dari panitia, acara kemudian ditutup dengan doa dan foto bersama dengan seluruh peserta.

Ada banyak pembelajaran yang saya dapatkan melalui acara Paskah dan +TED @SABDA kali ini. Pertama, saya jadi banyak tahu tentang seluk beluk mengatur acara setelah terlibat dalam sie acara. Kedua, saya belajar banyak dari sisi membuat strategi dan perencanaan untuk melangsungkan acara, dimulai dari menentukan tema acara, menentukan kepanitiaan, menentukan tugas-tugas untuk kepanitiaan, menghubungi pembicara, membuat konsep video, brosur, dan rundown acara, dengan memperhatikan detail-detailnya, dan juga belajar dari kesalahan-kesalahan yang ada. Yang ketiga, saya mendapat berkat melalui materi-materi yang disampaikan oleh para pembicara, yang memberikan wawasan serta pertanyaan bahkan pergumulan baru di benak saya. Di atas semua itu, saya sungguh bersyukur untuk acara perayaan Paskah dan +TED@SABDA yang sudah terselenggara. Kiranya acara +TED yang menjadi media membagikan ide-ide kristiani bagi pelebaran kerajaan Allah ini akan terus menjadi berkat bagi banyak orang, dan menghasilkan dampak nyata bagi kemajuan Kerajaan Allah.

Sampai jumpa dalam +TED@SABDA pada 28 Juli 2017. Solus Christus!

Yang Terbuang Namun Pahlawan

Thu, 05/04/2017 - 12:29

Oleh: *Teti Zebua

"Dear Ibu Teti, terima kasih untuk partisipasi aktifnya dalam diskusi Yefta di FB Grup Bio-Kristi ..." saya mendapat pesan dari Mbak Okti sesaat setelah diskusi mengenai tokoh Yefta tersebut selesai. Meski saya tidak terlalu suka dipanggil ibu, namun saya sangat menyukai keramahtamahan yang beliau berikan pada semua peserta diskusi.

Mengupas tentang Yefta sebagai salah seorang hakim di antara bangsa Israel, ingatan saya melayang pada kisah seorang teman yang baru saja kehilangan semua hal berharga dalam hidupnya; sanak saudara, istri, dan pekerjaannya dikarenakan ia memutuskan untuk memercayai Yesus dan meninggalkan kepercayaan lamanya. Betapa menyakitkan dibuang oleh keluarga sendiri. Diusir dari rumah dan kehilangan segalanya. Bertolak dari kisah teman saya itu, saya membayangkan Yefta yang diusir dari rumah ayahnya oleh saudara-saudaranya. Ia pasti sangat sakit hati dan mungkin berjanji tidak akan kembali lagi ke rumahnya ataupun tanah kelahirannya. Namun, sesuatu hal lain terjadi dan itu sungguh mengubahkan hidupnya.

Saya membuka Alkitab saya berdasarkan ayat mula-mula yang dipaparkan oleh Mbak Okti, yakni di Hakim-Hakim 11:29-31. Dari sana, saya mengetahui bahwa kisah tentang Yefta ada dalam Kitab Hakim-Hakim. Meski awalnya, saya sempat kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana dan seperti apa jalannya diskusi tersebut karena poin materi yang diberikan langsung merujuk pada inti kehidupan Yefta. Sebagai orang awam yang belum mengetahui tentang detail keseluruhan kisah di Alkitab, saya merasa kebingungan awalnya, tetapi ketika menggunakan clue ayat yang ada, saya akhirnya dapat memahami kisah perjalanan kehidupan seorang tokoh pahlawan iman Yefta ini.

Hal yang saya pelajari tentang Yefta bahwa Allah menunjukkan kemurahan-Nya dengan memakai siapa pun, dengan latar belakang apa saja untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Kebanyakan adalah seseorang yang memiliki kehidupan masa lalu yang kelam, justru ketika tiba waktu-Nya, Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi seseorang tersebut sebuah kehormatan yang tidak terduga jika dipikirkan secara akal manusia. Dalam kasus Yefta, dulunya ia adalah anak seorang sundal, dan oleh anugerah Allah, ia ditemui kembali oleh kerabatnya dan diangkat menjadi pemimpin bagi suku bangsanya ketika mereka ketakutan menghadapi musuh orang Amon. Bahkan, Alkitab mencatat bahwa Yefta adalah salah seorang pahlawan yang gagah perkasa pada saat itu (Ibrani 11). Apa yang hina bagi pandangan manusia justru itulah yang dipakai Tuhan. Bukankah Allah itu sungguh setia dan adil? Pemurah juga penyayang?

Karakter Yefta yang tetap mengandalkan Tuhan dalam segala keadaan juga memberikan peneguhan, bahwa dalam memulai sesuatu haruslah menyerahkan sepenuhnya di tangan Allah sumber segala kemenangan. Di sisi lain, sikap patuh dan setia yang dimiliki Yefta dalam menggenapi nazarnya kepada Allah, juga memberikan "insight" tersendiri bagi saya. Mengajarkan saya untuk tidak bermain-main dengan janji yang pernah saya ucapkan, dan itu harus ditepati.

Pada intinya, setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memulai segala sesuatu yang baru dalam hidup akan memimpin pada kehormatan dan kemuliaan yang Tuhan sendiri sediakan bagi kita. Hanya jika kita terus berpegang kepada-Nya, memercayai-Nya, dan terus mengarahkan pandangan kita hanya kepada-Nya. Taat dan setia pada pimpinan-Nya.

Meski akhirnya diskusi ini berakhir, saya bersyukur menjadi bagian dari pengalaman iman Yefta dan juga sharing pengalaman dari teman-teman peserta lainnya. Alangkah lebih baik jika di bagian akhir sesi diskusi, moderator memberikan kesimpulan dari semua rangkuman pendapat dalam diskusi tersebut.

Ad Maioreim Dei Gloriam.