Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 1 hour 3 min ago

Kisah Kasih Abadi: SABDA Komik dalam Natal SM GKI Nusukan

Thu, 12/20/2018 - 13:53

"Kita mau pelayanan ke mana nih untuk acara Natal Desember nanti?" Pertanyaan itu terucap dalam acara rapat Tim Pembinaan (PB) sekitar September, yang kemudian ditanggapi dengan berbagai ide oleh seluruh anggota tim. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini kami ingin melakukan aktivitas pelayanan ke luar untuk berbagi bahan-bahan SABDA melalui momen Natal. Rencana ini memang sudah masuk dalam rencana kerja 2018, tetapi sampai pada September, kami belum menemukan tempat yang sesuai untuk merealisasikan tujuan ini. Setelah melalui berbagai diskusi, akhirnya nama GKI Nusukan pun muncul sebagai gereja tujuan dengan fokus pelayanan kepada anak-anak sekolah minggu. Selain berlokasi relatif dekat dengan kantor, salah satu staf YLSA, Tika, juga menjadi aktivis pengajar sekolah minggu di sana sehingga semakin memudahkan jalan kami untuk mewujudkan rencana tersebut.

Serangkaian pembicaraan kemudian mulai dilakukan dengan pihak GKI Nusukan agar YLSA dapat menjalin kerja sama dan berbagi bahan Natal dengan mereka. Gayung bersambut. Kami pun mendapat kesempatan untuk melakukan pelayanan bersama komisi sekolah minggu GKI Nusukan pada acara perayaan Natal tahun ini. Namun, bahan atau materi apa yang akan kami bagikan kepada anak-anak sekolah minggu di sana? Bisa dikatakan, ini adalah pengalaman pertama kami menjalin kerja sama dengan komisi sekolah minggu di sebuah gereja. YLSA memiliki banyak bahan dan produk, tetapi kami harus memilih yang paling tepat untuk kebutuhan mereka sehingga perlu dipikirkan bentuk acara atau materi yang sesuai bagi perayaan Natal. Bukan suatu kebetulan kalau pada saat yang sama, YLSA tengah menggarap proyek komik Super Bible melalui kemitraan dengan Kingstone. Oleh karena itu, mengapa tidak materi komik ini saja yang kami ajukan untuk menjadi materi Natal? Selain berisi gambar-gambar visual yang menarik, komik Super Bible sendiri berisi kisah-kisah Alkitab yang sangat berguna bagi pertumbuhan literasi Alkitab pembacanya. Selain itu, sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman, komik tersebut layak diperkenalkan kepada generasi Milenial dan generasi Alfa sebagai cara baru untuk mengenal firman Tuhan. Beruntung, YLSA juga memiliki film animasi dari Super Bible berjudul "The Story" yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia agar dapat dicerna dengan lebih baik oleh penonton Indonesia. Singkat kata, film animasi "The Story" akhirnya disepakati untuk menjadi materi utama yang akan diberikan kepada anak-anak, sekaligus menjadi "launching" pertama animasi komik Super Bible kepada masyarakat Kristen Indonesia.

Kami sempat khawatir dengan proses pengalihbahasaan animasi komik "The Story". Namun, puji Tuhan, seluruh proses selesai tepat beberapa hari menjelang acara sehingga film animasi komik itu bisa diserahkan kepada panitia Natal ASM GKI Nusukan dengan hasil yang cukup memuaskan. "The Story" atau "Kisah Kasih Abadi" (demikian kami menyebut judulnya dalam bahasa Indonesia) bercerita tentang karya penebusan Allah bagi dunia yang telah dirancang semenjak kejatuhan manusia pertama dan yang digenapi melalui diri Kristus. Animasi komik ini sendiri dapat dikatakan sebagai rangkuman dari 72 komik Super Bible yang berisi kisah penciptaan hingga nubuat akhir zaman di kitab Wahyu. Dengan durasi video sekitar 17 menit yang ditampilkan dari potongan-potongan gambar komik yang dibuat dengan sangat apik, kami berharap anak-anak yang menyaksikannya dapat menyadari cinta kasih Allah yang begitu besar kepada manusia.

Akhirnya, pada 16 Desember, saya bersama empat teman yang lain, yaitu Santi, Kun, Pak Pram, dan Hadi, pergi melayani dalam acara Natal sekolah minggu GKI Nusukan yang bertema "Tuhan Yesus Juru Selamatku". Seluruh acara telah ditangani oleh tim sekolah minggu dari GKI Nusukan, sedangkan kami hanya mendampingi dengan membuka booth SABDA, membuat dokumentasi dan testimoni, serta ikut melayani anak-anak sekolah minggu bersama panitia. Lagi pula, kami juga perlu mengetahui dengan pasti bagaimana respons anak-anak terhadap animasi komik "Kisah Kasih Abadi" ini.

Dikemas dalam format ibadah, perayaan Natal saat itu berlangsung dengan apik dan mengesankan bagi anak-anak ataupun orang tua yang turut hadir. Nyanyian, puisi, gerak dan lagu, persembahan permainan biola solo, pemutaran animasi komik "Kisah Kasih Abadi", ulasan film serta komitmen, mengisi acara demi acara yang berlangsung di gedung gereja utama GKI Nusukan. Salut kepada seluruh panitia, pendeta, serta orang-orang yang terlibat dalam acara ini, yang telah berusaha maksimal dalam mengemas acara sehingga dapat mendatangkan sukacita bagi anak-anak. Saya dan teman-teman YLSA pun dapat merasakan sambutan dan kerja sama yang baik dari pihak GKI Nusukan, mulai dari awal pembicaraan untuk menjalin kerja sama hingga saat acara Natal ini berlangsung. Kiranya kerja sama yang sudah terjalin dapat terus berjalan dengan baik ke depannya, dan kami dapat terus berbagi pelayanan demi kemuliaan nama Tuhan. Saya sendiri belajar banyak melalui hubungan kerja sama ini, dan bertekad mengambil semua pelajaran yang saya dapat dalam prosesnya untuk menjadi lebih baik lagi dalam pelayanan ke depannya.

Selamat Natal untuk anak-anak sekolah minggu GKI Nusukan dan untuk seluruh gereja Tuhan di Indonesia. Kasih Tuhan beserta kita senantiasa. Imanuel!

Pengalaman Bergulat dengan Proyek Komik Super Bible dari Kingstone

Thu, 12/13/2018 - 12:58

Oleh: *Nikos

Natal sudah di depan mata. Biasanya, saya sudah mencium aroma Natal ketika sudah memasuki bulan yang berakhiran "ber". Dalam salah satu bulan dengan akhiran "ber" tersebut, saya bersyukur bisa diterima di SABDA dan terlibat dalam salah satu proyek baru mereka, yaitu proyek komik Super Bible dari Kingstone. Proyek yang dimulai SABDA sejak April ini melibatkan beberapa staf dengan beberapa proses pengerjaan. Ketika saya baru bergabung, saya lebih dikonsentrasikan ke proses penerjemahan teks komik karena latar belakang pendidikan saya yang relevan untuk tugas tersebut. Namun, karena tim proyek komik memutuskan untuk berkonsentrasi penuh mengerjakan bagian-bagian komik yang bertemakan Natal, saya akhirnya juga mulai dilibatkan dalam tim desain. Dalam tim ini, saya diberi tugas untuk "text-entering", yaitu proses memasukkan kalimat terjemahan bahasa Indonesia ke "word-balloon" dalam komik asli yang berbahasa Inggris. Selain itu, saya dan beberapa staf juga diberi tanggung jawab untuk mengelola komunitas komik, baik itu di Facebook, Twitter, Instagram, maupun Pinterest. Saya juga sempat mengambil bagian dalam pengisian suara untuk beberapa tokoh komik yang bukunya dianimasikan. Pada kesempatan ini, saya akan berbagi cerita mengenai pengalaman saya dalam proyek ini.

Selama saya berkuliah dahulu, saya sangat jarang menerjemahkan bahan-bahan (buku atau artikel) yang bernuansa Alkitab atau kekristenan. Namun, kali ini berbeda. Saya dihadapkan dengan dua hal yang selama ini tidak pernah saya temukan secara bersamaan, yaitu komik dan Alkitab. Alkitab bergambar atau Alkitab ilustrasi mungkin lebih akrab di telinga saya karena saya dahulu juga sering membaca model Alkitab seperti itu waktu kecil. Saya lumayan menyukai komik, tetapi lebih ke arah "manga" Jepang. Saya suka "artwork", alur cerita, dan juga gaya bahasa yang dipakai di dalamnya. Sebelum saya masuk ke SABDA, dan berjumpa dengan komik Alkitab Super Bible (yang terdiri dari 72 buku dan terbagi menjadi dua bagian, yaitu kisah-kisah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), belum pernah terpikirkan di benak saya bahwa membaca Alkitab bisa begitu menyenangkan. Ketika saya menerjemahkan teks, baik percakapan maupun narasi, saya merasa ada sesuatu yang berbeda dengan komik ini. Buku-buku ini menuntun saya untuk mendalami Alkitab dengan lebih dalam, tetapi tetap menyenangkan dengan adanya ilustrasi gambar yang keren. Sebelum ini, saya memang kurang rajin membaca Alkitab. Namun, setelah proses penerjemahan yang saya lakukan hampir setiap hari, secara perlahan, literasi Alkitab saya berkembang. Dalam menerjemahkan teks komik, saya belajar bahwa Alkitab itu tidak terbatas teks saja, tetapi juga bisa melalui media lain, di antaranya gambar. Di awal, saya sempat mengalami kesulitan dalam memahami ceritanya, sebab pengetahuan saya tentang cerita di Alkitab tidak terlalu luas. Contohnya, ketika saya menerjemahkan kisah Daniel. Dalam cerita Daniel, saya menemukan hal-hal baru, seperti nubuat Daniel, mimpinya tentang hewan-hewan mengerikan, dan hal-hal lain yang ternyata berkaitan dengan kisah Tuhan Yesus Kristus di Perjanjian Baru. Selain itu, saya juga jadi lebih sering membaca Alkitab secara urut karena teks komik yang saya terjemahkan memiliki alur yang serupa; pasal per pasal, ayat per ayat. Secara tidak sadar, saya justru melakukan PA (pendalaman Alkitab) sambil menerjemahkan. Saya juga merasa bahwa ini akan menjadi media yang sangat bagus untuk penjangkauan anak-anak muda, terlebih bagi mereka yang suka membaca komik atau suka dengan gambar dan grafis.

Selain penerjemahan, saya juga mulai dilibatkan dalam tim desain. Sejauh ini, saya baru mendapat tugas untuk melakukan "text entering". Salah satu kesulitan yang paling nyata adalah proses "fiting text to balloon" (menyesuaikan panjang dan pendeknya teks ke balon kata). Saya juga terlibat dalam proses "dubbing" (penggantian suara/audio dari bahasa sumber ke bahasa target) beberapa tokoh untuk salah satu komik yang berjudul "Kristus 1". Untuk tugas ini, kesulitannya terletak pada cara saya mengolah suara agar bisa cocok dengan tokoh yang saya perankan sekaligus kesesuaiannya dengan situasi yang sedang terjadi di sekitar tokoh yang perkataannya saya alih suarakan. Bersama beberapa staf, saya juga ditugaskan untuk mengelola komunitas komik yang aktif di beberapa media sosial. Itu berarti, saya juga terlibat dalam penyediaan bahan grafis dan teks untuk diunggah ke akun komunitas komik.

Saya bersyukur karena dalam salah satu momen hidup ini, saya boleh mendapatkan tugas yang sangat bernilai. Saya juga tersadar bahwa Tuhan tidak akan pernah kehabisan cara untuk menuntun kita mengabarkan Kabar Baik bagi orang-orang yang masih belum percaya. Salah satu nama besar di dunia komik Marvel, Stan Lee, pernah berujar, "Comic books to me are fairy tales for grown-ups." Kalau komik duniawi saja bisa membuat orang-orang terpengaruh dan bahkan bertumbuh, seharusnya komik Alkitab juga bisa melakukan hal yang sama atau bahkan lebih dari itu. Ladang yang baik akan menumbuhkan hasil yang baik, kalau dikerjakan oleh pekerja yang baik pula. Bagi teman-teman di tim proyek komik, semangat! Bagi para pembaca yang terkasih, selamat membaca hasilnya! Tuhan Yesus memberkati.

Pelayanan Roadshow SABDA ke Depok, Karawaci, dan Bandung

Sat, 12/08/2018 - 15:08

Sejujurnya, saya bukan tipe orang yang suka bepergian, apalagi kalau jarak yang harus ditempuh lumayan jauh. Karena itu, hampir setiap kali saya ditawari untuk ikut pelayanan roadshow ke suatu tempat, respons pertama saya biasanya adalah menarik napas panjang. Demikian pula respons awal saya saat ditawari ikut pelayanan roadshow ke tiga tempat di Jawa Barat pada awal Oktober lalu. Ya, bukan hanya satu, tetapi tiga tempat sekaligus. Baru membayangkan saja rasanya sudah letih. Meski begitu, pada akhirnya, saya memutuskan ikut, dan melalui pengalaman ini Tuhan mengizinkan saya mendapat teguran sekaligus banyak pelajaran baru, entah dari kejadian yang saya alami ataupun dari orang-orang yang saya temui di sepanjang perjalanan.

Berikut beberapa detail dari perjalanan roadshow kali ini: Perjalanan berlangsung mulai 6 Oktober s/d 8 Oktober 2018 untuk mengunjungi tiga tempat pelayanan, yaitu GKI Depok, GRII Karawaci, dan STT Baptis, Bandung. Yang berangkat roadshow adalah Ibu Yulia dan saya saja.

Sabtu, 6 Oktober 2018 -- GKI Depok
----------
Di GKI Depok, kami melakukan pelatihan #Ayo_PA! untuk kira-kira 50 peserta yang tidak semuanya berasal dari GKI Depok, karena ada juga yang dari beberapa gereja lain di wilayah sekitar. Seharusnya, pelatihan dimulai pada pukul 17.00. Akan tetapi, karena kami baru tiba di lokasi sekitar 10 -- 15 menit sebelum acara dan masih harus menyiapkan peralatan presentasi dan meja booth untuk produk-produk SABDA, maka pelatihan terpaksa mundur hingga pukul 17.30. Setelah sesi pujian dan penyembahan yang cukup singkat, pemimpin acara langsung meminta Ibu Yulia untuk menyampaikan pelatihan tentang bagaimana menggunakan gawai untuk belajar firman Tuhan.

Saya sangat terkesan dengan betapa responsif dan antusiasnya para peserta yang hadir. Sepanjang pelatihan, mereka memperhatikan dengan baik setiap materi yang disampaikan dan cukup aktif menjawab apabila ada pertanyaan yang dilontarkan kepada mereka. Mereka mengikuti langkah demi langkah yang dijelaskan dalam pelatihan, dan tidak malu bertanya apabila mengalami kesulitan. Berkat semuanya itu, kami bisa dengan mudah menjalin koneksi dengan mereka. Karena suasana pelatihan hidup, waktu terasa berlalu begitu cepat. Kiranya setiap materi yang sudah mereka dengar dapat mereka terapkan untuk semakin dekat dengan Alkitab dan dapat mereka bagikan kepada orang-orang di sekitar mereka. Acara berakhir kira-kira jam 21.00.

Minggu, 7 Oktober 2018 -- GRII Karawaci
----------
Tujuan utama kami ke GRII Karawaci adalah untuk sharing tentang pelayanan Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) dalam ibadah umum dalam rangka bulan misi gereja. Kami -- Ibu Yulia secara spesifik -- membagikan tentang panggilan YLSA dalam melayani pelayanan digital dalam dua kali kebaktian (pagi dan sore). Namun, selain mengisi ibadah umum, kami juga melakukan pelatihan #Ayo_PA! kepada anggota jemaat di sana. Pelatihan berlangsung dari jam 13.30 hingga pukul 16.00. Menariknya, meski pelatihan #Ayo_PA! sudah pernah dilakukan di gereja ini sebelumnya, ternyata masih banyak juga anggota jemaat yang tertarik untuk hadir (hampir 100 orang).

Sedikit berbeda dengan pelatihan di GKI Depok, suasana pelatihan terkesan lebih tenang. Namun, saya bisa melihat bahwa setiap peserta menyimak materi dengan baik dan mempraktikkan apa yang disampaikan dalam pelatihan ini. Semoga setiap peserta semakin menikmati firman Tuhan dengan gawai mereka di mana saja dan kapan saja.

Senin, 8 Oktober 2018 -- STT Baptis, Bandung
----------
Jika pada dua pertemuan sebelumnya pelatihan diberikan kepada jemaat awam, pelatihan di Bandung ditujukan kepada mahasiswa/i, alumni, dosen, dan staf STT Baptis. Materi yang disampaikan mencakup pelatihan Software Alkitab SABDA dan #Ayo_PA! Harapannya, dengan bantuan alat-alat studi Alkitab ini, setiap peserta dapat mempelajari firman Tuhan secara lebih mendalam, dan pada gilirannya, bisa mempersiapkan khotbah dengan lebih bertanggung jawab.

Yang menarik dari pelatihan kali ini adalah hadirnya beberapa orang dari Jakarta, seperti Pak Bambang dan temannya dari GRII Kelapa Gading, dan juga beberapa pendeta Gereja Baptis Jakarta. Ditambah lagi, pelatihan berlangsung cukup panjang (pukul 17.30 hingga 22.00), dan sebagian besar peserta tetap bertahan hingga akhir. Rasa ingin tahu peserta tinggi sehingga ada banyak hal baru yang mereka dapatkan. Hal ini ditunjukkan dari beberapa kesaksian peserta terhadap pelatihan ini. Akan tetapi, kami menyadari bahwa pelatihan ini sejatinya masih sangat mendasar, dan masih ada banyak hal yang belum tercakup di dalamnya. Apabila Tuhan memberi kesempatan, kami berharap bisa memberikan pelatihan lanjutan untuk membahas berbagai fitur yang belum sempat diajarkan dalam pelatihan dasar ini.

Setelah tiga hari yang melelahkan, saya sangat bersyukur bisa pulang dengan banyak pengalaman dan cerita untuk dibagikan kepada rekan-rekan yang senantiasa mendoakan kami dari Solo. Sebetulnya, ada lebih banyak hal yang terjadi sepanjang tiga hari tersebut, tetapi tentunya tidak semua bisa dimuat dalam satu tulisan yang singkat. Namun, yang perlu digarisbawahi dari semuanya itu adalah bahwa Tuhan sendiri yang bekerja melalui kami dan dalam orang-orang yang kami layani. Kalau bukan Tuhan sendiri yang memampukan kami, seberapa keras pun usaha yang kami lakukan tentu akan sia-sia. Karena itu, segala sesuatu yang sudah YLSA kerjakan kami kembalikan kepada Tuhan, kiranya Dia berkenan memakainya bagi kemuliaan nama-Nya.

Sekali lagi, saya sangat bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan dan pengalaman yang berharga ini. Kiranya Tuhan terus menambah-nambahkan hikmat dan berbagai kemampuan supaya Dia terus memakai kami untuk menjangkau tempat-tempat lain yang Dia kehendaki. Terpujilah nama Tuhan! (Odysius)

Pengalaman Magang di YLSA: Bertumbuh dalam Iman

Sun, 12/02/2018 - 12:02

Oleh: *Thesa

Shalom! Perkenalkan nama saya Abigail Thesa Padmasari, biasa dipanggil Thesa. Saya adalah mahasiswi Sastra Inggris dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW). Tidak terasa, selama dua bulan, saya dan teman-teman menyelesaikan tugas magang di YLSA, dari 10 September 2018 hingga 9 November 2018. Selama dua bulan magang di YLSA ini, ada banyak suka duka yang saya alami. Seperti yang ditulis oleh teman saya, Dinda, dalam blognya, kami mendapat banyak tugas dan harus bisa menyesuaikan diri. Namun, setelah satu bulan berlalu, saya sudah terbiasa dengan tugas-tugas tersebut dan bisa merasa ‘enjoy’. Bahkan, saya merasakan perbedaan pada diri saya, terutama dalam pertumbuhan iman.

Mengingat kembali perjuangan saya dalam mencari tempat magang, saya sangat bersyukur karena Tuhan menempatkan saya di YLSA. Saya sempat tidak mau mendengarkan Tuhan untuk magang di YLSA. Namun, Tuhan tetap mau saya berada di sini. Bukan hanya untuk mengembangkan kemampuan saya dalam bidang terjemahan, melainkan juga agar iman saya kembali bertumbuh. Terlebih lagi, pada bulan kedua ini, saya lebih merasakan iman saya bertumbuh tidak hanya melalui PD dan PA, tetapi juga dari tugas-tugas yang harus kami kerjakan. Mengapa seperti itu? Sebab, tugas utama kami sebagai staf magang berkaitan erat dengan konten Alkitab, sebut saja proyek Interlinear (ITL), "subtitling", dan membuat gambar untuk "quote". ITL adalah satu program yang dibuat untuk mengorelasikan kata-kata dalam suatu versi terjemahan Alkitab dengan bahasa aslinya. Melalui pengerjaan ITL, saya tidak hanya mengecek ketepatan terjemahan, tetapi juga ikut membaca dan memahami Alkitab. Ada pula beberapa nama tokoh Alkitab yang baru saya ketahui setelah melakukan tugas ini. Selain itu, saya dan teman-teman tidak hanya meningkatkan perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tetapi juga bahasa Melayu. Sebab, kami juga mengerjakan ITL untuk Alkitab Versi Borneo (AVB) yang menggunakan bahasa Melayu. Awalnya, cukup sulit bagi saya untuk mengorelasikan bahasa Melayu dengan bahasa asli Alkitab. Meskipun sebenarnya bahasanya hampir sama dengan bahasa Indonesia, tetapi terkadang artinya berbeda. Pada saat seperti itu, saya mengandalkan Google Translate untuk membantu saya mengerjakan ITL AVB.

Tugas lainnya adalah "subtitling" video pengajaran Alkitab untuk anak-anak. Tugas subtitling ini adalah salah satu tugas yang saya senangi pada aktivitas magang bulan kedua, sebab ini adalah hal yang baru bagi saya. Video yang disediakan cukup menarik sehingga terkadang saya menontonnya terlebih dahulu sebelum mulai mengerjakan "subtitle"-nya. Kalimat yang digunakan dalam video ini singkat, padat, dan mudah dipahami oleh anak-anak. Dalam tugas ini, saya dan teman-teman diberi kesempatan untuk menerjemahkan "subtitle" langsung dari bahasa Inggris, kemudian melakukan editing hasil terjemahan tersebut. Melalui tugas ini pun, saya berkesempatan mempelajari Alkitab. Karena penjelasan video yang dibuat singkat dan mudah dipahami, saya jadi lebih mengerti apa yang sebenarnya dikisahkan dalam Alkitab.

Tugas terakhir adalah membuat gambar "quotes". Pertama kali, saya membayangkan bahwa saya harus membuat sendiri "quotes" dalam bahasa Inggris, kemudian menerjemahkannya. Ternyata, yang saya pikirkan itu salah. Saya dan teman-teman harus mencari kutipan dalam bahasa Inggris dari tokoh-tokoh yang sudah ada. Kutipan ini kami terjemahkan, lalu kami buat desain gambarnya. Ini juga salah satu tugas yang saya senangi karena melaluinya saya dapat bermain dengan gambar-gambar dan tulisan-tulisan yang bagus.

Sungguh pengalaman magang yang berkesan bagi saya. Ada banyak tugas baru yang belum pernah saya dapatkan selama kuliah, dan hal itu membuat saya berkembang dalam bidang akademis dan kerohanian. Saya bersyukur karena Tuhan benar-benar menempatkan saya di YLSA. Tidak lupa, saya berterima kasih kepada YLSA karena mau menerima saya sebagai staf magang dan mempersiapkan saya untuk menghadapi hari esok setelah saya menyelesaikan studi saya. Semoga pengalaman magang yang saya bagikan ini dapat menjadi berkat bagi yang membacanya. Tuhan Yesus memberkati!

Pengalaman Menerjemahkan Komik Alkitab di YLSA

Thu, 11/15/2018 - 11:02

Oleh: *Sinara Tonda Vennata

Nama saya Sinara Tonda Vennata. Saya adalah mahasiswi dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Fakultas Sastra Inggris, jurusan Translation. Sejak September sampai November 2018, saya dan tiga teman saya, yaitu Dinda, Thesa, dan Zefanya, melakukan kerja magang di YLSA. Sesuai dengan bidang yang kami ambil, yaitu Translation, tugas yang diberikan kepada kami lebih diutamakan untuk menjadi penerjemah. Pada kesempatan ini, saya akan membagikan pengalaman mengerjakan salah satu tugas saya di YLSA, yaitu menerjemahkan komik.

Komik yang kami terjemahkan di sini adalah komik Alkitab. YLSA adalah organisasi Kristen nonprofit yang bergerak dalam bidang pelayanan media komputer dan internet. Pelayanan yang dilakukan terutama bersifat digital dan online. YLSA tidak terlalu banyak melakukan pelayanan tatap muka dengan para penggunanya, tetapi menjadi penyedia bahan, infrastruktur, dan sarana lainnya bagi orang Kristen pada era digital ini. Bahan-bahannya bisa diakses secara digital melalui situs atau aplikasi.

Komik Alkitab adalah salah satu proyek dari YLSA yang saat ini sedang dikerjakan. Tugas pertama kami adalah terlibat dalam pengerjaan komik ini selama tiga minggu pertama. Sebagai mahasiswa jurusan Translation, kami sudah memiliki pengalaman dalam menerjemahkan karya tulis, seperti artikel, cerita pendek, novel, dan puisi. Namun, menerjemahkan komik adalah pengalaman baru bagi kami. Mulai dari alur dan cara mengerjakannya yang sangat sistematis dalam menerjemahkan komik Alkitab ini, kami tidak dapat menerjemahkannya sebebas menerjemahkan karya sastra lainnya. Kami tidak dapat menerjemahkannya sedinamis mungkin. Teknik yang diajarkan kepada kami adalah menerjemahkannya dengan tetap setia pada teks bahasa Inggris asli (harfiah). Penerjemahan harfiah atau yang sering disebut "literal translation" merupakan teknik yang digunakan untuk menerjemahkan kata per kata dan mengikuti pola kalimat sesuai teks sumber. Namun, meski terjemahannya harfiah, kami juga diminta untuk tetap memperhatikan agar terjemahan komik ini natural dalam bahasa percakapan. Jika menerjemahkan teks narasi, kami diminta untuk tetap menggunakan bahasa yang baku dan formal. Ketika menerjemahkan percakapan, bahasanya harus lebih luwes dan tidak terlalu kaku, tetapi tetap harus setia pada arti dan pola teks sumbernya. Selain itu, ada beberapa istilah yang harus disesuaikan dengan Alkitab Yang Terbuka (AYT). AYT adalah proyek penerjemahan Alkitab yang dikerjakan oleh YLSA.

Pengalaman saya selama menerjemahkan komik Alkitab membuat kemampuan saya dalam menerjemahkan semakin diasah dan menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Selain diberikan training tentang cara menerjemahkan komik Alkitab ini, kami juga melakukan cek secara "in pair" dan juga baca tepat yang dilakukan bersama rekan kerja. Hal ini membuat saya lebih tahu akan kekurangan saya dalam menerjemahkan sehingga bisa memperbaikinya untuk lebih baik lagi. Hal lain yang tidak kalah penting adalah saya merasakan siraman rohani pada saat menerjemahkan komik tersebut. Menerjemahkan komik Alkitab mewajibkan saya untuk membaca Alkitab yang menjadi referensi dan acuan kami dalam menerjemahkan. Selain itu, secara tidak langsung, saya pun ikut membaca kisah-kisah karakter Alkitab dari komik tersebut. Hal ini membuat saya menjadi lebih bertumbuh dalam pemahaman firman Allah. Saya menjadi lebih mengenal perbuatan Tuhan, dan dari situ, saya bisa belajar lebih banyak tentang firman Tuhan dan apa yang menjadi perintah-perintah-Nya bagi umat manusia di dunia. Terima kasih.

Pelajaran dari Seminar “Digital Quotient” di YLSA

Thu, 11/08/2018 - 09:43

Oleh: *Iwan

Shalom,

Perkenalkan, nama saya Iwan Kristiawan Nugroho. Saat ini, saya sedang menjalani masa percobaan sebagai staf baru di YLSA. Pengalaman yang sangat berharga sebagai staf baru adalah ketika saya mengikuti seminar dalam rangka memperingati ulang tahun ke-24 YLSA. Biasanya, ulang tahun dirayakan dengan pesta yang penuh dengan kemewahan. Akan tetapi, kali ini sangat berbeda. YLSA justru merayakan ulang tahun dengan kegiatan yang sangat bermanfaat, yaitu dengan menggelar sebuah seminar dengan tajuk “Digital Quotient”. Seminar ini dihadiri oleh beberapa kalangan, baik orang awam, pelajar, mahasiswa, majelis atau pengurus gereja, bahkan hamba Tuhan/pendeta.

Yang berkesan lainnya adalah setelah beberapa hari bekerja, saya diberi kesempatan untuk terlibat dalam persiapan seminar ini. Sungguh irama kerja yang sangat menarik, semua staf YLSA mempersiapkan tugas sesuai dengan bagian masing-masing. Mulai dari cara pendaftaran, cara mengisi evaluasi dengan Google Form, dekorasi, permainan online, sampai cara melakukan presentasi yang menekankan kreativitas dan kolaborasi, suatu ciri khas dalam dunia digital. Saya belajar banyak dari proses persiapan ini karena semua bekerja sama dengan kompak untuk mempersiapkannya. Saya bersyukur kepada Tuhan, suatu kehormatan bagi saya ketika saya dipercaya untuk menyampaikan materi pula. Saya berkolaborasi dengan Mbak Santi untuk menyampaikan tentang "Teknologi pada Era Digital". Jika Mbak Santi memaparkan tentang dampak positif penggunaan teknologi, saya menyampaikan hasil riset saya tentang dampak negatif penggunaan teknologi. Bersyukur, sebelum hari H, ada simulasi untuk melakukan presentasi sehingga pada hari H, saya dan teman-teman lain bisa lebih siap dalam membawakan presentasi ini.

Pada hari H, di bagian pendaftaran, saya sudah bisa merasakan suasana yang kental dengan teknologi dan internet. Para peserta yang baru saja datang dipersilakan untuk berfoto di tempat yang sudah disediakan, yang tentunya sudah diperlengkapi dengan atribut-atribut yang berhubungan dengan teknologi dan media sosial. Peserta dapat berfoto dengan bingkai Instagram atau atribut lainnya.

Istilah “Digital Quotient” baru pertama kali saya dengar ketika saya mengikuti seminar ini. Dalam seminar ini, terlebih dahulu dipaparkan mengenai perkembangan teknologi sampai hari ini yang ternyata membawa sangat banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Banyak manfaat yang bisa dirasakan karena berkembangnya teknologi, tetapi tidak sedikit pula efek samping atau dampak negatif dari perkembangan teknologi jika kita tidak menggunakan teknologi dengan baik dan benar.

Dalam sesi “Digital Quotient”, saya mendapatkan penjelasan tentang IQ (Intellegence Quotient) dan EQ (Emotional Quotient), istilah yang sudah cukup familier di telinga saya. Lalu, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai SQ (Spiritual Quotient) atau kecerdasan spiritual. Setelah hal tersebut disampaikan, penjelasan berlanjut dengan apa yang dimaksud dengan “Digital Quotient”. “Digital Quotient” adalah suatu sikap interaksi dan sosial yang harus dimiliki oleh warga digital untuk menjadi warga digital yang baik dalam menghadapi era digital saat ini. Dalam sesi ini juga dijelaskan keterampilan apa saja yang harus dimiliki oleh warga digital sehingga warga digital mampu menggunakan teknologi dengan baik.

Sesi selanjutnya adalah sesi yang sangat menarik bagi saya. Ternyata, sebagai orang Kristen, saya tidak cukup hanya memiliki “Digital Quotient”. Akan tetapi, saya juga harus memiliki “Christian Digital Quotient”. Kecerdasan digital tidak boleh hanya didasari oleh keterampilan dan nilai-nilai dunia, tetapi utamanya harus didasari oleh mindset dari identitas saya dalam Kristus. Mindset yang harus saya bangun sebagai orang Kristen pada era digital ini, yaitu “Teknologi berasal dari Tuhan, teknologi tujuannya untuk Tuhan, dan harus digunakan untuk Tuhan” (Kolose 1:16-17). Saya baru mengerti bahwa Kecerdasan Digital harus didasarkan pada kebenaran firman Tuhan. Dari penjelasan tersebut, saya dibawa kepada pengertian DBQ (Digital Biblical Quotient). Ternyata, kebenaran firman Tuhan dan kabar keselamatan juga harus memberi warna pada era digital ini. Presentasi selanjutnya, YLSA mulai mengenalkan produk-produk SABDA, yang dapat menolong warga digital Kristen belajar Alkitab dengan berbagai platform digital. Bagi saya, hal ini seperti oasis di padang gurun, memberi jawaban bagi kebutuhan orang Kristen pada era digital ini.

Saya semakin tertarik ketika dihadirkan narasumber yang mewakili generasi milenial. Kesaksian mereka memberi tantangan bagi gereja untuk melek teknologi. Agar tetap menjadi tempat yang relevan bagi generasi milenial untuk mengalami tumbuh kembang dalam perjalanan menuju kedewasaan iman, gereja harus mau belajar dan melakukan transformasi dengan mulai menerima teknologi sebagai sarana atau alat dalam mengabarkan Injil dan menyampaikan kebenaran firman Tuhan.

Saya sangat terkesan dengan acara ini. Acara adalah rangkaian acara yang memberi informasi yang menarik serta kekinian, dilengkapi dengan penyediaan sumber untuk belajar Alkitab sebagai jalan keluar untuk hidup sebagai orang Kristen pada era digital ini dengan benar dan menjadi berkat. Saran saya, acara seperti ini sebaiknya dilakukan secara kontinu agar makin banyak orang tetap hidup benar dan makin memuliakan Tuhan pada era digital ini. Tuhan Yesus memberkati.

Pelajaran dari Artikel “Gandrung Menumpuk Barang”

Sat, 11/03/2018 - 16:03

Judul artikel yang kami baca secara bergilir di kantor minggu ini adalah "Gandrung Menumpuk Barang". Saya tertarik merespons artikel ini karena menurut saya, menumpuk barang adalah kebiasaan banyak orang yang susah dihilangkan, termasuk saya sendiri. Secara sekilas, tampaknya tidak masalah, tetapi sebenarnya hal itu sangat merugikan kehidupan seseorang. Akibat dari kebiasaan ini, tempat tinggal kita berantakan, suasana menjadi sumpek, ruang gerak menjadi kurang bebas, dan tentu saja menimbulkan rasa tidak nyaman. Para ahli menyebutkan bahwa kebiasaan menumpuk barang berkaitan dengan penyakit psikologis yang banyak ditemui pada orang berusia paruh baya. Beberapa ciri dari gangguan ini tampak dari barang-barang yang mendominasi rumah seseorang dan kebiasaannya "mengoleksi" barang yang sebetulnya sudah tidak dia perlukan. Penyebabnya bisa karena trauma, isolasi sosial, ataupun kebiasaan turunan. Artikel ini pada dasarnya hendak memberi solusi kepada pembaca yang mengalami gejala di atas atau yang ingin membantu orang lain yang punya kebiasaan menumpuk barang agar mereka bisa mengatur barangnya dengan lebih efektif.

Ada empat solusi yang penulis berikan dalam artikel ini:

1. Singkirkan barang yang tidak berguna sedikit demi sedikit.
Sisihkan waktu khusus untuk menyortir barang yang tidak perlu. Pisahkan barang-barang yang tidak perlu dengan yang masih diperlukan. Taruh kembali barang-barang yang masih diperlukan pada tempat yang dikehendaki, lalu buang yang tidak perlu.

2. Stop berpikir ulang.
Pada saat menyortir barang yang akan dibuang, segera putuskan barang yang masih sering digunakan dan yang sudah tidak diperlukan. Bersikaplah tegas dan hanya simpan barang yang benar-benar dibutuhkan.

3. Singkirkan kertas bekas.
Salah satu barang yang sering ditimbun oleh para penimbun barang adalah kertas bekas. Objek ini mencakup kertas-kertas bekas dari koran, majalah, atau brosur-brosur. Kumpulkan, lalu jual ke pengepul.

4. Buat sistem penyimpanan barang.
Sistem penyimpanan yang dimaksud adalah daftar barang yang kita perlukan, kemudian secara teratur mendaftarkan barang baru dan barang yang tidak lagi diperlukan. Ketiadaan sistem inilah yang umumnya membuat rumah kita menjadi berantakan.

Saya pribadi sependapat dengan semua tip yang diberikan oleh penulis. Akan tetapi, saya juga ingin menambahkan beberapa opini terkait subjek ini. Pertama, kategori barang yang bisa dibuang menurut saya adalah barang-barang yang tidak pernah lagi kita pakai dalam kurun waktu satu tahun. Pikirkan saja barang-barang yang tidak pernah kita sentuh atau gunakan selama waktu ini, maka sejatinya barang itu dapat dihibahkan, disingkirkan, atau dijual. Satu tahun, menurut hemat saya, adalah waktu yang cukup panjang untuk sebuah barang yang kurang berguna. Kedua, kita harus tegas membuang barang-barang yang sudah tidak diperlukan, sebab tanpa ketegasan ini, biasanya kita berpikir lagi dan lagi, dan akhirnya batal membuangnya. Ini biasanya terjadi untuk barang-barang yang kita anggap bernilai historis atau mengingatkan kita tentang peristiwa atau seseorang yang penting.

Lantas, bagaimana jika barang-barang yang harus dibuang berjumlah cukup banyak? Dalam hal ini, kita bisa menyewa tenaga orang lain untuk membantu. Misalnya dengan jasa angkutan barang untuk membawanya ke pengepul. Selain itu, barang-barang elektronik yang sudah tidak bisa diperbaiki seyogianya juga bisa dilupakan. Barang-barang ini bisa dijual ke pembeli barang elektronik bekas, seperti yang pernah saya lakukan. Di lingkungan saya, biasanya ada pengepul barang elektronik yang berkeliling dengan mobil pick-up untuk mencari orang yang ingin membuang barang. Kepada mereka, saya jual barang-barang elektronik yang sudah rusak dan hanya mangkrak di rumah, entah itu radio, kipas angin, printer, ataupun mesin cuci. Keuntungan bagi saya dan keluarga, selain ruangan menjadi lebih lapang, kami juga mendapatkan uang dari hasil penjualan barang.

Saya sendiri masih senang menumpuk dan sulit "membuang" buku-buku yang sudah selesai saya baca. Saya memang banyak mengumpulkan buku karena kebiasaan membaca yang saya miliki. Buku itu saya dapatkan selama bertahun-tahun dengan membelinya dari berbagai tempat. Setelah membaca artikel ini, saya mulai berpikir untuk menyumbangkan sebagian buku yang sudah saya baca, sebab mungkin saja ada orang lain yang membutuhkan dan lebih berguna jika mereka yang memilikinya.

Bagi sebagian orang, kebiasaan menumpuk barang barangkali sulit dihilangkan, padahal kebiasaan ini tidak sehat. Barang-barang tidak terpakai menjadi bertumpuk karena tidak ada yang membereskan. Oleh karena itu, bagi kita yang memiliki dan ingin menghilangkan kebiasaan ini, harus ada niat dan kesadaran yang sungguh untuk bisa melakukannya. Tidak ada keuntungan dari menumpuk barang yang menyebabkan tempat tinggal kita menjadi sumpek. Sebaliknya, memiliki rumah atau ruangan yang bebas dari tumpukan barang dapat memberi rasa lapang dan ringan bagi pikiran kita. Hitung-hitung, kita juga mengalihkan semua barang tersebut kepada orang lain yang mungkin saja lebih membutuhkan. Bagi Anda yang punya kebiasaan menimbun barang, cobalah mengikuti empat tip yang diusulkan oleh penulis artikel ini. Siapa tahu Anda berhasil, dan tempat tinggal Anda menjadi lebih nyaman.

Pengalaman Magang di Yayasan SABDA Selama Satu Bulan

Wed, 10/10/2018 - 13:35

Oleh: *Gevonny Dinda

Shalom, pertama-tama, perkenalkan nama saya Gevonny Dinda, biasa dipanggil Dinda. Saya adalah mahasiswa dari Universitas Kristen Satya Wacana, Fakultas Bahasa dan Seni dari program studi Sastra Inggris. Puji syukur, karena berkat Tuhan, saya mendapatkan kesempatan untuk magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Saat ini, saya sudah menjadi staf magang selama kurang lebih satu bulan bersama tiga teman lain dari kampus. Ini merupakan pengalaman bekerja yang pertama bagi saya. Karena itu, saya belajar banyak sekali hal penting.

Pada minggu pertama dan kedua, saya diberi banyak sekali orientasi pekerjaan yang akan saya lakukan selama magang di YLSA, seperti orientasi HRD, orientasi penerjemahan komik, orientasi rekaman, dan masih banyak lagi. Saya sangat bersyukur diberi banyak orientasi sebelum melaksanakan tugas-tugas di sini karena hal tersebut sangat membantu saya dalam melakukan pekerjaan dan tanggung jawab sebagai staf magang. Ada beberapa tugas yang sudah saya kerjakan, yaitu tugas menerjemahkan komik, tugas rekaman artikel, tugas menulis kesaksian, tugas menulis pokok doa, dan PA Online. Prioritas minggu pertama di sini adalah menerjemahkan komik karena konsentrasi saya di kampus adalah translation.

Minggu pertama bekerja saya lewati dengan perasaan campur aduk. Senang, semangat, lelah, kaget, dan malu saya rasakan dan mungkin juga dirasakan oleh teman-teman lain. Senang dan semangat, sebab akhirnya hari-hari magang dimulai dan dapat merasakan pengalaman dan lingkungan baru. Lelah, sebab bekerja dari pagi sampai sore, jauh berbeda dengan aktivitas di kampus yang hanya saya lalui rata-rata dua sampai tiga jam per hari. Kaget, sebab tugas-tugas yang dikerjakan berbeda dari ekspektasi. Malu, sebab harus aktif berbicara di depan banyak orang seperti menjadi pemimpin persekutuan doa, menjadi instruktur senam, dan lain sebagainya. Namun, semua itu saya jalani dengan penuh rasa syukur karena hal tersebut jarang saya rasakan sebelumnya.

Peran para mentor juga sangat berpengaruh dalam membimbing saya mengerjakan tugas-tugas di sini. Saya sangat bersyukur kepada mereka karena dengan sabar membimbing dan menuntun saya yang masih sangat awam di dunia kerja. Selalu ada hal positif yang bisa diambil dari setiap kegiatan di yayasan ini. Untuk itu, saya selalu berusaha menikmati semua aktivitas supaya nanti setelah selesai bekerja, tidak akan ada penyesalan di hati. Saat ini pun, saya masih dalam proses adaptasi dengan pekerjaan, lingkungan, dan juga dengan para staf. Saya berharap, saya bisa semakin baik dalam mengerjakan tugas dan bersosialisasi dengan para staf di sini.

Selain mengerjakan tugas menerjemahkan, rekaman, ataupun menulis, YLSA juga mengajarkan kepada saya untuk bertumbuh dalam iman. Setiap pagi, saya selalu mengikuti persekutuan doa dan pemahaman Alkitab bersama staf lainnya. Kegiatan tersebut sungguh bermanfaat bagi saya sebagai orang Kristen yang memiliki tanggung jawab untuk belajar firman Tuhan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya merasa lebih dekat dengan Tuhan setelah mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut dan berharap setelah selesai magang, saya tidak berhenti memahami firman Tuhan, tetapi justru lebih rajin lagi membaca Alkitab, berdoa, serta memberitakan firman Tuhan kepada teman-teman di luar sana. Rasanya, saya beruntung dapat belajar firman Tuhan di YLSA karena teman-teman yang magang di tempat lain tidak akan pernah mendapatkan pengalaman seperti yang saya dapatkan di sini. Saya berpikir, “Ah, aku yakin kalau aku jadi mereka, aku akan iri karena tidak bekerja di YLSA. Sungguh indah berkat Tuhan dapat mengirimku ke tempat penuh berkat seperti SABDA.”

Kiranya pengalaman yang saya bagikan ini dapat menjadi berkat kepada teman-teman yang membaca. Tuhan Yesus memberkati!

Selamat Ulang Tahun SABDA!

Fri, 10/05/2018 - 15:29

Pada 1 Oktober 2018, semua staf berkumpul untuk ibadah doa ucapan syukur dalam rangka ulang tahun YLSA ke-24. Acara ibadah ini merupakan awal dari rangkaian acara yang dipersiapkan untuk merayakan ulang tahun YLSA sepanjang Oktober 2018. Untuk itu, setiap staf diminta untuk membagikan tentang arti SABDA menurut mereka dan ucapan syukur kepada Tuhan dalam kesaksian doa. Saya sudah membayangkan bahwa suasana akan penuh dengan sukacita bercampur haru karena masing-masing staf akan menyaksikan kebaikan Tuhan dalam pelayanan di YLSA. Jika berbicara tentang kebaikan Tuhan di YLSA, tidak mungkin tidak, kami akan merasakan kasih-Nya yang besar sehingga rasa haru, bahkan air mata, tidak dapat disembunyikan lagi. Namun, satu hal yang pasti, hati penuh sukacita.

Pada hari H, acara dibuka dengan doa dan pujian riang gembira yang menceritakan tentang kebaikan Tuhan ketika membawa umat Israel keluar dari tanah perbudakan. Saya memilih lagu "Tabuh Gendang" dari Kidung Jemaat No. 292 karena lagu ini selalu membangkitkan ucapan syukur yang tidak terhingga dalam hati saya karena sudah dilepaskan dari dosa dan bisa menjadi umat-Nya. Dan, karena itu, saya pun bisa menjadi hamba-Nya dan melayani Dia di YLSA hingga saat ini. Teman-teman yang lain juga membagikan ucapan syukur mereka melalui sharing dan pujian. Berikut ini beberapa sharing dari teman-teman staf SABDA, kiranya dapat menjadi berkat bagi Pembaca semuanya.

"SABDA bukan hanya tempat untuk bekerja, tetapi tempat untuk beribadah; setiap pagi PA bersama, belajar skill baru, belajar hal baru bersama, dan berbagi. Di sini, saya mendapat pengetahuan baru dari training dan buku-buku yang melimpah." (Mei, Tim Pendidikan Kristen)

"SABDA adalah ladang pelayanan. Di ladang ini, kita sama-sama capek, berkeringat, menjadi bagian dari mengalami kasih Tuhan. Ketika di SABDA, saya bertemu dengan saudara seiman yang baru, belajar melayani di ladang yang panas." (Yudo, Tim Multimedia)

"SABDA adalah training center bagi orang-orang untuk bertumbuh, dibekali, dan bergabung dalam keluarga untuk menjadi berkat." (Tika, ITS)

"SABDA adalah tempat bertumbuh dan mengenal pribadi Kristus. Saat masuk, saya dipaksa untuk belajar Alkitab, saling membentuk sebagai tubuh Kristus (1 Timotius 1:12). Saya yakin dan percaya [bahwa saya] dipanggil untuk melakukan pelayanan ini, sekalipun dari segi skill, [saya] masih perlu didorong untuk menjadi lebih lagi." (Indah, Tim Penjangkauan)

"SABDA adalah sekolah yang membentuk saya. Di sekolah, kita pasti menghadapi masalah. Kita dapat saling menerima pelajaran dari teman-teman, dan pelajaran itu perlu diterapkan dalam kehidupan." (Ariel, Tim Pendidikan Kristen)

"SABDA adalah semacam 'purgatory', tempat saya menempa skill yang masih harus terus dikembangkan, dan memiliki karakter untuk menjadi lebih baik lagi. Ketika sudah mulai bertumbuh dan iman bertambah, saya akan dibenturkan lagi supaya tambah maju lagi. Semua bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi untuk Tuhan!" (Ody, Tim ApTek)

"SABDA adalah tempat magang dan alat yang dipakai dan dipilih Tuhan untuk mewartakan firman dan menumbuhkan iman." (Thesa, Magang UKSW)

"SABDA adalah media bertumbuh bagi kerohanian saya, seperti Kawah Candradimuka dalam kisah pewayangan. Gatotkaca, sebelum menjadi sakti, dibentuk terlebih dahulu. Saya dibentuk menjadi [seperti] sekarang di SABDA. Saya bukan orang dari Solo, tetapi SABDA adalah keluarga dan pendukung yang mendampingi saya." (Okti, Tim Pembinaan)

"SABDA adalah 'love'. Di sinilah, cinta saya bertumbuh kepada Tuhan. Saya melihat Tuhan dan kasih-Nya yang besar dan luar biasa. 'His love for us' bertumbuh dari kecil menjadi besar, dari tidak bisa menjadi bisa. 'Love is also a commitment' ..., komitmen terhadap pekerjaan Tuhan dalam segala keadaan. SABDA adalah kita semua. Melalui kita, Tuhan bekerja; kita, yang bukan siapa-siapa, tetapi Tuhan berkenan memberikan hak istimewa untuk melakukan tugas yang luar biasa dan memberikan dampak. Apa yang dianggap bodoh oleh manusia, ternyata Tuhan pakai untuk pekerjaan-Nya. SABDA [adalah] segalanya bagi saya, pemberian Tuhan yang sangat berharga. (Yulia, Ketua YLSA)

Setiap sharing di atas sungguh menorehkan rasa syukur dan sukacita tersendiri dalam hati kami semua, bahkan ada pula yang menitikkan air matanya. Tuhan sungguh baik!

Selain mendengarkan sharing dari teman-teman, kami juga merenungkan firman Tuhan yang diambil dari Yosua 1:5-9. Dari kisah mengenai perjalanan Yosua memimpin umat Israel memasuki tanah perjanjian ini, kami belajar untuk kuat dan lebih berani karena Tuhan akan terus memimpin kami kepada janji-Nya. Akan ada banyak tantangan pada tahun-tahun ke depan, tetapi kami harus lebih berani lagi untuk melakukan tugas-tugas yang Tuhan percayakan kepada kami ke depan. Kami juga belajar untuk selalu menjalani pelayanan ini dengan bertindak sesuai hukum Tuhan dan taat melakukannya sesuai dengan firman-Nya. Yosua 1:5-9 mengingatkan kami mengenai 'calling' (panggilan), 'capacity' (kapasitas), 'character' (keberanian), serta 'companion' (komunitas orang percaya). Semua itu menjadi dasar yang menguatkan kami melewati tahun ke-24 dengan penuh iman dan pengharapan dalam Tuhan.

Keesokan harinya, kami semua juga mendapat kejutan dengan kiriman roti tar yang sangat cantik dan enak dari salah seorang Sahabat SABDA, yaitu Stefani. Awalnya, kami enggan memotong kuenya karena sangat cantik, tetapi ya pasti akan lebih enak kalau dimakan. Terima kasih ya, Stefani, atas tanda kasihnya kepada keluarga besar YLSA di Solo. Tuhan memberkati.

Ibadah ucapan syukur ini adalah pembukaan dari rangkaian kegiatan peringatan ulang tahun ke-24 YLSA. Pada 7 Oktober 2018, YLSA juga menyampaikan sharing misi di GRII Karawaci mengenai pelayanan YLSA dan mendorong jemaat untuk memakai IT bagi Tuhan. Pada momen ulang tahun ini, YLSA juga rindu mendorong tubuh Kristus untuk makin serius menggarap ladang misi pada era digital ini dengan menjangkau generasi digital melalui program-program pelayanan digital dalam gereja. Beberapa pembaruan/produk baru juga sedang dikebut untuk diselesaikan, seperti beberapa proyek kerja sama YLSA dengan Alkitab Versi Borneo (AVB), aplikasi-aplikasi iOS dari SABDA, pembaruan teks AYT di Alkitab SABDA Android, ITL AYT/AVB, dan sebagainya. Lalu, pada 22 Oktober 2018, YLSA juga menyelenggarakan seminar "Digital Quotient" (Kecerdasan Digital) di Griya SABDA. Semua rangkaian peringatan ulang tahun ini bukan untuk menambah kesibukan, melainkan untuk menyatakan ucapan syukur kami kepada Tuhan dan kerinduan kami untuk membagikan berkat Tuhan melalui pelayanan digital yang telah dipercayakan Tuhan kepada YLSA selama 24 tahun ini. Kiranya semua yang kami kerjakan dapat menjadi berkat bagi Sahabat dan Pendukung YLSA semuanya. Selamat ulang tahun, YLSA! Kemuliaan hanya bagi Tuhan Yesus Kristus yang Mahabaik!