RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 58 min 42 sec ago

Staf YLSA Mengikuti Seminar “Tetap Memberkati Walau Sendiri”

Tue, 04/04/2017 - 13:16

Keputusan hidup single (tidak menikah) adalah keputusan yang diambil sebagian orang, termasuk orang Kristen. Namun, pengambil keputusan ini tergolong minoritas sehingga diskusi mengenainya juga tak banyak diangkat. Gereja lebih sering mengadakan seminar mengenai kehidupan suami-istri atau keluarga, ketika subjek mengenai singleness ini penting bagi orang-orang yang sudah atau sedang mempertimbangkan untuk menjalani hidup selibat.

Bersyukur, ada seminar tentang topik singleness yang dapat dikatakan cukup langka ini. Seminar tersebut diadakan di Gereja Kristen Kalam Kudus (GKKK), Solo, pada Sabtu, 1 April 2017. Saya turut hadir dalam seminar tersebut karena ingin mengetahui bagaimana memanfaatkan masa single yang membawa berkat bagi sesama dan lingkungan. Seminar ini dibawakan oleh Ev. Asriningrum Utami, seorang dosen dari STTRI Jakarta, dan satu dari sedikit hamba Tuhan yang memutuskan untuk hidup selibat. Judul seminar tersebut: "Tetap Memberkati Walau Sendiri".

Ibu Utami membuka seminar ini dengan memaparkan satu fakta bahwa orang single sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat, dan kondisi kesendirian mereka menjadi kondisi yang sepertinya patut mendapat belas kasihan dari orang lain. Pandangan tersebut salah, menurut beliau, karena hidup single adalah salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang tertentu berdasarkan maksud dan rancangan-Nya. Namun, akibat stereotip yang kurang baik ini, sebagian orang single menjadi kurang mampu menjalani kesendiriannya secara efektif bagi kemuliaan Tuhan.

Lalu, seperti apakah tanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat? Ibu Utami menjelaskan bahwa tanda ini bisa berupa: tiadanya kesempatan orang lain tertarik kepada kita atau tidak adanya pendekatan serius dari lawan jenis kita. Dalam hal ini, langkah terbaik adalah mencari kehendak Allah. Kita mesti berdoa dan bertanya apakah kondisi demikian adalah pertanda bahwa kita dipanggil untuk hidup selibat. Selebihnya, tunggulah waktu Tuhan untuk menyatakan rancangan-Nya dalam kehidupan kita.

Ibu Utami lantas menjelaskan bahwa ada beberapa alasan mengapa orang-orang single eksis di tengah masyarakat, di antaranya: karena keterbatasan fisik dan psikis, pengalaman-pengalaman traumatis (ex: sexual violence), kemauan sendiri oleh karena Kerajaan Surga, dan ketetapan Allah bagi orang tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa ada pekerjaan Allah yang memang perlu dinyatakan melalui singleness. Misalkan, untuk melakukan pekerjaan Allah di daerah konflik, yang memerlukan seorang hamba Tuhan yang tidak dibebani oleh persoalan keluarga. Apa pun yang menjadi alasan, Ibu Utami mengatakan bahwa hidup single bisa dimanfaatkan sebaik mungkin bagi Kerajaan Allah, asalkan seorang yang single selalu bersandar pada Allah dan memohon bimbingan dalam menjalankan keputusan hidupnya.

Satu hal yang menarik bagi saya adalah penjelasan beliau mengenai salah satu peranan orang single, yaitu sebagai cermin bagi pasangan yang menikah. Orang-orang yang menikah pada umumnya lebih terjebak pada menggantungkan diri pada pasangan, sementara orang single lebih condong bergantung pada Allah karena mereka hidup dalam kesendiriannya. Ini menjadi satu keuntungan orang single. Namun, di pihak lain, pasangan yang menikah juga bisa menjadi cermin bagi orang single untuk menunjukkan bahwa anak-anak Allah selalu membutuhkan persekutuan agar mereka merasa penuh sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Itu artinya, kedua kelompok ini sebetulnya bisa belajar satu sama lain, dan berdasarkan fakta ini, orang single tak seharusnya perlu merasa rendah diri kepada mereka yang memutuskan menikah/berkeluarga.

Materi terakhir yang Ibu Utami sampaikan adalah mengenai bagaimana menjalani singleness dengan berkelimpahan. Pertama, harus memiliki konsep yang benar dulu tentang singleness. Naikkan syukur untuk kondisi singleness karena kesendirian adalah salah satu karunia Tuhan, yang melaluinya kemuliaan Tuhan dapat dinyatakan. Kedua, harus melibatkan Tuhan dalam jatuh bangun menjalani tugas-tugas perkembangan hidup--mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa--sehingga orang-orang single bisa mengalami kekayaan pengalaman berjalan bersama Tuhan, dan membagikan kebijaksanaan yang didapat kepada orang lain. Ketiga, bangun support system. Masuklah ke dalam persekutuan yang saling mendukung dan mengasihi karena kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri, apalagi dalam konteks mengerjakan pelayanan. Dan, keempat, libatkan diri dalam pelayanan untuk Tuhan. Proaktif untuk mengerjakan pelayanan-pelayanan dengan memanfaatkan keleluasaan dan kemandirian sebagai orang single.

Dengan mengikuti seminar ini, saya bisa menyimpulkan bahwa orang single juga dapat dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya, dan sebagian orang ditentukan Allah (untuk menjadi single) karena ada rencana-Nya yang harus dikerjakan melalui kesendirian orang tersebut. Orang-orang single bisa menjadi model kebergantungan kepada Allah bagi pasangan yang menikah, dan sebaliknya pasangan yang menikah bisa menjadi model persekutuan anak-anak Allah bagi orang single. Keduanya ada agar bisa saling belajar. Bagi orang single, kiranya apa yang disampaikan oleh Ibu Utami bisa menjadi peneguhan bahwa kesendirian mereka adalah sebagian rencana Tuhan untuk mendukung pekerjaan-Nya. Kiranya Tuhan sendiri akan memampukan sebagian kita yang memilih hidup single sehingga hidup kesendirian kita senantiasa dipenuhkan dan bisa membawa berkat bagi sesama.

Staf YLSA Mengikuti Seminar “Allah dan Kebebasanku”

Fri, 03/31/2017 - 08:27

Oleh: *Widodo

Seminar "Allah & Kebebasanku" oleh Vik. Harly Erikson Tambunan di Gedung Orient, Surakarta (20/3/2017), adalah seminar pertama yang saya ikuti sejak berada di YLSA. Kami tiba pukul 17.50 WIB, dan ternyata persiapan seminar masih berlangsung. Baru pada pukul 18.30 WIB, acara dimulai.

Ketika pembicara maju ke depan, "energi kebebasan" dari menunggu sekitar 40 menit seperti dikembalikan kepada kami bertiga yang hadir dari YLSA (saya, Kun, dan Benny). Pembicara yang sering melayani kaum muda di GRII Jakarta ini sangat pas membawakan tema "Allah & Kebebasanku". Beliau bersemangat, enerjik, dan ekspresif dalam menyampaikannya. Ilustrasi-ilustrasi yang diberikan juga sangat sederhana dan mudah dipahami oleh semua yang hadir. Ada sekitar tiga ratusan orang yang hadir, baik yang berlatar belakang awam, sekolah teologi, maupun aktivis gereja.

Tema yang awalnya terasa umum dan biasa saja, ketika digali, ternyata membuka sebuah pemahaman yang baru. Pada awal seminar, Pak Harly melemparkan dua pilihan pernyataan kepada peserta, yaitu "kebebasan yang mengikat" atau "ikatan yang membebaskan". Seperti biasa, dua pilihan yang sepertinya sama akan menimbulkan dilema. Audiens terbagi ke dalam dua kubu. Manusia diciptakan Allah dengan kebebasan, potensi daya cipta dan cinta. Kebebasan adalah tema yang sangat umum digunakan untuk menggalang massa. Pada waktu manusia masih berada di taman Eden, Iblis sudah melemparkan isu kebebasan untuk memperoleh massa. Hingga kini, kampanye-kampanye politik juga menyuarakan tema kebebasan untuk memperoleh hal yang serupa. Akan tetapi, ada satu kata kunci yang menentukan apakah kebebasan itu benar atau salah, memberi kepuasan atau justru keliaran. Kata kunci itu adalah "aturan". Ilustrasi yang diberikan adalah tentang keinginan seorang anggota geng motor untuk bebas. Ia ingin bebas berkendara tanpa aturan, tanpa helm, tanpa SIM, modifikasi motor sesukanya, dan tanpa lampu lalu lintas. Tentu saja, ilustrasi ini sangat mudah dipahami, tanpa helm dan lampu lalu lintas pasti akan fatal. Itulah perbedaan kebebasan yang ditawarkan Allah dengan kebebasan yang ditawarkan Iblis. Lalu, apakah aturan dari Allah? Tidak banyak, hanya satu, yaitu menggenapi tujuan yang telah ditetapkan Allah bagi manusia. Lalu, apakah tujuan hidup manusia? Tidak banyak juga, untuk menikmati (bukan menikmati berkat Tuhan, melainkan Sumber berkatnya) dan memuliakan keberadaan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup manusia. Keduanya disingkat menjadi RELASI dengan Tuhan. Jadi, kebebasan manusia adalah kebebasan untuk berelasi dengan Tuhan.

Saya sangat diberkati dengan pemaparan tersebut. Saya dibawa ke dalam sebuah kesimpulan bahwa manusia yang diciptakan Allah dengan potensi daya cipta dan kasih, bebas mengekspresikan diri dalam berelasi dengan Tuhan. Disadari atau tidak, manusia sepenuhnya bergantung kepada Allah. Oleh karena itu, kalau Anda suka bermusik, bermusiklah untuk Tuhan. Bagi yang suka menulis, menulislah untuk kemuliaan Tuhan. Manusia bebas berekspresi, tetapi untuk satu tujuan yang telah ditetapkan sejak awal mula penciptaan, yaitu BERELASI DENGAN TUHAN. Tuhan Yesus memberkati.

Roadshow SABDA ke Lampung

Thu, 03/30/2017 - 13:06

Sabtu pagi. Pada 11 -- 13 Maret 2017, saya dan Ibu Yulia berangkat ke Lampung dalam rangka roadshow SABDA di Gereja Kristen Tritunggal (GKT), Bandar Lampung. Kami berangkat pada Sabtu pagi (11 Maret 2017). Ketika tiba di Bandara Radin Inten II, Lampung, kami dijemput oleh Boksu (panggilan Pendeta Gembala di GKT) Putut, Pak Candra (majelis di bidang misi), dan Pak Rudi (hamba Tuhan di GKT). Ini kali pertama saya pergi ke Lampung. Kesan saya, kota ini seperti Solo, tetapi lebih besar dan lebih ramai. Di Lampung juga sudah mulai macet meski tidak seperti Jakarta.

Dari mengobrol dengan Boksu Putut, tidak disangka ternyata ada orang-orang yang saya kenal, yang pernah melayani di GKT Lampung ini. Wah, dunia memang sempit ya. Setelah tiba di gereja, kami langsung melihat aula gereja yang akan dipakai untuk seminar malam harinya dan menata booth sampai selesai. Malam itu, saya sempat khawatir, bagaimana akan menjaga booth kalau pada saat yang sama saya juga harus membantu peserta menginstalasikan aplikasi ke HP-HP mereka. Bersyukur sekali, ada staf gereja yang dapat membantu kami, yaitu Laura dan Pak Wit. Laura membantu menjaga booth, sedangkan Pak Wit membantu menyiapkan hal-hal teknis, seperti LCD, monitor, tripod, dan lain-lain. Wah, mereka betul-betul menjadi penolong bagi kami.

Sabtu malam. Seminar dimulai pukul 18.30 dengan tema "Belajar Firman Tuhan pada Era Digital". Total peserta malam itu sekitar 60 orang. Kebanyakan yang hadir adalah "generasi X", tidak sebanding dengan peserta "generasi Z". Namun demikian, mereka semua antusias sekali mendengar seminar ini dan pada sesi tanya jawab mereka juga aktif bertanya. Sebelum dan sesudah acara, saya membantu beberapa peserta menginstal aplikasi-aplikasi SABDA di HP peserta, khususnya yang akan dipakai untuk pelatihan besok. Aplikasi tersebut adalah Alkitab, Tafsiran, Alkitab PEDIA, Kamus Alkitab, dan Peta Alkitab. Kalau memori HP-nya masih cukup, saya tambahkan aplikasi Renungan Oswald Chambers (ROC).

Malam itu, saya tidur agak larut karena saya harus mempersiapkan kesaksian untuk disampaikan di kebaktian remaja, Minggu jam 7 pagi. Saya bukan orang yang cakap berbicara di depan umum sehingga hal itu membuat saya gelisah. Apalagi permintaan ini mendadak sekali. Sore itu, sebelum seminar berlangsung, Boksu Putut minta agar Minggu pagi saya memberikan kesaksian dalam kebaktian remaja, dan pada saat yang sama Ibu Yulia sharing tentang Yayasan Lembaga SABDA di kebaktian umum.

Minggu pagi. Sebelum kebaktian mulai, saya sempat berbincang dengan pembina remaja mengenai keadaan remaja di gereja itu. Dia mengatakan bahwa remaja di situ masih perlu dibimbing supaya dapat menggunakan gadget/gawainya dengan bijaksana, apalagi saat ibadah di gereja. Hanya karena pertolongan Tuhan, saya dimampukan untuk berbicara di hadapan lebih dari 100 remaja. Saya berbagi kesaksian tentang mengapa saya melayani Tuhan dan tentang IT 4 God. Kita dapat melayani Tuhan melalui talenta kita masing-masing dan bagaimana teknologi dapat digunakan untuk melayani Tuhan. Pada akhir sharing, saya mengajak mereka untuk hadir dalam Pelatihan PA menggunakan Gadget.

Minggu siang. Saya dan Bu Yulia mempersiapkan booth dan alat-alat yang akan digunakan untuk pelatihan #Ayo_PA!. Bu Yulia membagi peserta menjadi 2 kelompok, kelompok yang disebut "high-tech", yang terdiri dari peserta remaja dan pemuda, dan kelompok "low-tech", yang terdiri dari orang tua yang tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi. Pembagian kelompok ini menambah semangat peserta karena di tengah pelatihan Bu Yulia mengadakan games kecil, yaitu siapa yang paling cepat bisa mempraktikkan tutorial yang telah diajarkan. Kedua kelompok ini sama-sama bersemangat mempraktikkan apa yang telah disimulasikan di depan. Pada akhir pelatihan, kami tidak lupa berfoto bersama dan ada dua peserta yang bersedia memberikan testimoninya.

Senin pagi. Pada 13 Maret 2017, kami bersiap untuk pelatihan selanjutnya, yaitu Pelatihan Software SABDA untuk para hamba Tuhan. Ternyata, gereja ini memiliki acara rutin setiap 2 bulan sekali, yaitu Seminar Misi Sehari (SMS) yang dihadiri pendeta-pendeta dari berbagai gereja. Kali ini, acara diisi dengan pelatihan dari SABDA. Para pendeta yang datang ternyata bukan dari Bandar Lampung saja, ada juga yang harus menempuh perjalanan 6 -- 7 jam. Tidak sedikit dari mereka yang rela berangkat pukul 1 pagi untuk sampai di gereja tepat waktu. Sungguh luar biasa semangat mereka. Sebelum pelatihan dimulai, saya dibantu Laura dan Pak Wit menginstalkan software SABDA di laptop mereka. Ada beberapa peserta yang tidak memiliki laptop, tetapi jika ada HP, kami tawarkan untuk diinstal aplikasi SABDA di HP-nya.

Respons peserta yang mengikuti pelatihan ini sangat baik. Sembari mendengarkan tutorial penggunaan software SABDA di layar LCD, mereka juga mencoba di laptop masing-masing. Saat ada kesulitan, peserta yang sudah bisa mengajari peserta yang belum bisa. Pada akhir acara, saya sempat merekam 2 testimoni dari peserta, yaitu Pak Soni dan Pak Purwanto. Secara keseluruhan, mereka senang bisa mempelajari software SABDA. Mereka bisa menggali firman Tuhan lebih dalam dengan banyak bahan yang ada di dalamnya. Karena tidak semua peserta membawa laptop, Bu Yulia memutuskan untuk memberi pelatihan #Ayo_PA! menggunakan gadget.

Senin sore dan malam. Selesai pelatihan, kami diajak ke Pantai Sari Ringgung oleh Muse Asmini (hamba Tuhan GKT). Perjalanan sekitar 1 jam dari kota. Airnya masih jernih dan pemandangannya menyejukkan hati. Sepulang dari pantai, saya dan Bu Yulia diajak oleh istri Boksu Putut ke rumah Pak Andi. Pak Andi adalah jemaat GKA dan ketua yayasan sekolah Trinitas milik GKT. Dalam pertemuan sebelumnya, Pak Andi mengatakan bahwa ia tergerak memberi dua unit gitar kepada SABDA. Malam itu, kami ke rumahnya untuk mengambil gitar tersebut karena besoknya pagi-pagi kami akan pulang ke Solo. Di sana, saya diminta untuk memainkan piano. Dari melihat saya memainkan piano, Pak Andi memberi tip bagaimana main piano dengan "confident" dan langsung memberikan contohnya. Saya sangat kagum dengan permainan musiknya. Satu kalimat dari Pak Andi yang saya ingat adalah bahwa sebenarnya tidak ada orang yang bodoh, yang ada adalah orang yang belum menemukan kepandaiannya/keahliannya. Beliau juga menceritakan bagaimana berlatih main piano 2 -- 3 jam setiap pagi, dan bagaimana dia jatuh bangun dalam kehidupannya dan bisnisnya.

Saya bersyukur bisa mengikuti roadshow ini. Bertemu dengan orang-orang baru, suasana baru, dan lingkungan yang baru. Satu hal yang sangat menonjol adalah rasa kekeluargaan, kehangatan, dan keramahan dari para hamba Tuhan, majelis, dan jemaat di GKT Bandar Lampung. Bersyukur dapat membangun relasi baru untuk sama-sama melayani Tuhan. Saya berdoa untuk gereja ini dan orang-orang yang sudah mengikuti pelatihan ini semoga dapat menularkan semangat #Ayo_PA! dimulai dari diri sendiri. Kiranya melalui pelayanan ini, nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!

PA Kitab Ayub di YLSA: Menemukan Allah dalam Kehilangan

Wed, 03/22/2017 - 07:52

Selama Februari 2017, staf YLSA telah melakukan pendalaman Alkitab (PA) dari tiga kitab hikmat, yaitu (Amsal, Pengkhotbah, dan Ayub). Dalam tulisan ini, saya hanya berbagi tentang pengalaman ber-PA kitab Ayub.

Kitab Ayub adalah kitab yang sangat jarang saya selidiki. Seperti PA sebelumnya, kami memakai media teks, visual, video, dan audio yang sangat menolong kami untuk memahami kitab Ayub secara global. Selain belajar tentang hikmat, kami juga belajar tentang sastra, tokoh-tokoh, dan alur cerita dalam kitab Ayub. Tema utama yang saya lihat dalam kitab Ayub adalah penderitaan dan anugerah Tuhan. Banyak orang salah paham ketika membaca kitab Ayub. Kitab ini sesungguhnya tidak sedang menceritakan Ayub sebagai tokoh utama yang harus dilihat, melainkan tentang TUHAN yang berada di balik segala sesuatu.

Kitab Ayub memiliki hikmat yang sangat berbeda dengan Amsal dan Pengkhotbah. Saya melihat ada dua jenis hikmat yang terdapat dalam kitab Ayub. Pertama, hikmat manusia seperti pemikiran-pemikiran Ayub dan para sahabatnya. Yang kedua adalah hikmat Ilahi, yaitu hikmat yang bersumber dari Sang Pemilik jagad raya, hikmat yang menjadi sumber kebaikan bagi manusia. Tuhan menguji iman Ayub melalui pencobaan yang berasal dari Iblis, yang akhirnya segala sesuatu yang Ayub miliki benar-benar habis, mulai dari keluarga, kekayaan, dan kondisi fisik. Saat para sahabat Ayub memberikan banyak nasihat kepada Ayub tentang penyebab keadaannya, nasihat tersebut tidak membuat Ayub menyadari keadaan dirinya yang sedang diperhatikan Tuhan. Namun, ketika Tuhan menjawab Ayub melalui penglihatan-penglihatan, barulah mata rohani Ayub terbuka lebar untuk melihat Tuhan yang begitu besar secara pribadi.

Dalam PA kali ini, saya sangat bersyukur belajar satu prinsip penting dalam ujian iman, yaitu bersikap jujur di hadapan TUHAN dan mengungkapkan semua pergumulan di hadapan Tuhan, sampai pada titik kesadaran diri secara utuh mengenai siapakah TUHAN dan siapakah diri kita. Sebelum mengalami pemulihan, Ayub hanya mengenal Tuhan melalui banyak hikmat dan sudut pandang orang lain dan dirinya, tetapi ketika Tuhan menyatakan diri kepada Ayub, perubahan terbesar terjadi dalam dirinya. Iman Ayub bertumbuh melalui hikmat TUHAN dan keadaannya dipulihkan pada akhir hidupnya. Yang mencari akan mendapat upah, yang memiliki imanlah yang tahan uji. Mari membaca dan mempelajari kitab Ayub secara mendalam. Tuhan Yesus memberkati!

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (Bagian II)

Mon, 03/13/2017 - 11:50

Paruh pertama kegiatan roadshow SABDA di Pulau Bali, 24 -- 26 Februari 2017, sudah kami lewati, seperti yang bisa Anda baca melalui blog yang ditulis oleh Elly. Namun, sepeninggal Hadi dan Elly, acara masih harus berlanjut sampai 28 Februari 2017 dengan hanya Bu Yulia dan saya. Menurut saya, dua hari terakhir justru lebih padat dan berat karena dalam sehari ada dua tempat pelayanan, bahkan pada hari terakhir ada tiga pelayanan yang harus kami lakukan.

Pada Senin pagi, 27 Februari 2017, kami mengadakan pelatihan Software SABDA dan Ayo_PA di STT Johanes Calvin. Satu hal yang menggembirakan kami adalah ketika mendengar bahwa sudah beberapa tahun terakhir mahasiswa memang diharuskan memakai Software SABDA. Karena itu, kedatangan kami sangat dinantikan oleh kira-kira 80 orang mahasiswa dan dosen untuk mendapatkan pelatihan dari sumbernya. Demikian juga di STTII Denpasar pada hari berikutnya, yang dihadiri oleh lebih dari 50 mahasiswa dan dosen. Mereka rata-rata sudah memakai Software SABDA sehingga sangat senang menyambut kedatangan kami. Selain Software SABDA, sebagai penekanan utama, kami juga memperkenalkan gerakan #Ayo_PA! sebagai kebutuhan setiap jemaat Tuhan untuk memakai teknologi untuk belajar firman Tuhan. Harapan kami, anak-anak muda ini dapat menularkan semangat ber-PA dengan gawainya kepada anak-anak muda yang lain yang mereka layani.

Sementara itu, untuk persekutuan umum di GKY Kuta Bali dan GPI Adonai, kami lebih berfokus pada pelatihan gerakan #Ayo_PA! Sayangnya, tak banyak anak muda yang ikut hadir pada acara ini. Kami melihat rata-rata peserta dari jemaat umum GKY sudah memakai aplikasi SABDA Android, tetapi setelah pelatihan mereka menyadari ternyata mereka belum memakai fitur-fitur yang ada dengan maksimal. Bahkan, mereka tidak menyadari bahwa kelima aplikasi SABDA (Alkitab, Kamus, Alkitab PEDIA, Tafsiran, dan Peta) sudah terintegrasi sehingga bisa dipakai dengan sangat efektif. Banyak peserta senang sekali mengetahui informasi ini dan menjadi sangat bersemangat. Lain halnya dengan acara lansia di GKY Kuta Bali, pada Selasa pagi. Pada kesempatan ini, Bu Yulia memberikan presentasi tentang bahan-bahan SABDA audio. Jemaat lansia menjadi sangat tertarik untuk mendapatkan bahan-bahan audio. Sayang, karena waktu yang sangat mepet sekali, kami tidak bisa menolong menginstalkan bahan-bahan tersebut ke HP para lansia. Semoga ada jemaat kaum muda yang tergerak menolong.

Selama dua hari acara berlangsung, saya dan Ibu Yulia selalu bergantian dalam menyampaikan presentasi. Untuk presentasi Software SABDA di STT, tugas saya adalah menyampaikan materi pendahuluan, dan Ibu Yulia menyampaikan sesi penjelasan teknis. Dan, sebaliknya dengan presentasi #Ayo_PA!, Ibu Yulia menyampaikan materi pendahuluan, sedangkan saya menyampaikan sesi penggunaan aplikasi dan penjelasan metode S.A.B.D.A. Akan tetapi, untuk acara lansia dan jemaat umum, presentasi dibawakan oleh Ibu Yulia. Saya salut dengan cara Ibu Yulia menyampaikan materi karena beliau tidak hanya menekankan pada "what" dan "how" dari Software SABDA atau PA dengan gadget, tetapi juga "why", yaitu mengapa mereka harus mengaplikasikan kedua teknologi dalam pembelajaran Alkitab. Saya bisa melihat bahwa melalui presentasi seperti itu, para peserta jadi tahu kepentingan mereka menggunakan software SABDA ataupun aplikasi SABDA. Dengan demikian, peserta juga dibekali dengan pentingnya firman Tuhan. Puji syukur, mayoritas peserta menunjukkan minatnya dan mengikuti proses pembelajaran dengan tekun walaupun ada beberapa peserta mengakui bahwa mereka cukup lelah mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir.

Ada beberapa pelajaran penting yang bisa saya petik. Jika roadshow SABDA harus dilakukan hanya dengan dua orang staf, dua orang ini harus cukup mahir dan fleksibel menjalankan semua peran dan tugas. Karena itu, persiapan harus dilakukan dengan matang, punya strategi sehingga bisa membekali staf yang melayani roadshow untuk bisa menangani berapa pun jumlah peserta. Kiranya ini bisa menjadi masukan yang baik bagi Yayasan Lembaga SABDA (YLSA).

Saya pribadi bersyukur, di tengah kekurangan di sana-sini, saya masih bisa mensyukuri banyak hal. Keseriusan peserta dalam belajar, ketertarikan mereka dengan bahan-bahan SABDA, dan doa-doa mereka yang tulus untuk kemajuan pelayanan kami, seakan menebus segala kekecewaan saya. Rasa lelah saya bisa terobati melihat begitu semangatnya mereka menerima materi yang kami sampaikan. Semangat mereka lantas menjadi dorongan bagi saya untuk memperbaiki cara kerja dan pelayanan saya pada masa mendatang.

Saya berdoa bagi para peserta roadshow yang sudah kami tinggalkan, kiranya mereka tidak lupa dan terus mempraktikkan apa yang sudah kami bagikan. Bahkan, mengajarkannya kepada hamba-hamba Tuhan yang lain. Teknologi telah merasuk ke dalam kehidupan banyak orang, mengubah wajah pelayanan dan cara seseorang membagikan firman. Mau tak mau, kita harus beradaptasi dengan kencangnya perkembangan teknologi agar tidak kehilangan ladang tuaian yang terbesar, yaitu dunia digital, di mana masyarakat modern saat ini berada. Mari kita semua memanfaatkan teknologi untuk melayani Tuhan dan mengabarkan karya keselamatan Allah kepada semakin banyak orang. Teknologi telah diciptakan oleh Tuhan, dan harus kita pergunakan kembali untuk memuliakan nama-Nya. Selamat melayani untuk kita semua.

Roadshow SABDA di Pulau Dewata (I)

Thu, 03/09/2017 - 15:36

Tahun lalu, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) menerima permintaan pelayanan dari STT Kingdom (GBI Rock Lembah Pujian), Bali, untuk pelatihan Software SABDA kepada mahasiswa dan jemaat di sana. Bu Yulia, Ketua YLSA, menerima tawaran tersebut dan memutuskan untuk diadakan pada 25 Februari 2017. Setelah bertemu dengan Pdt. Jenik dari Bali dan menghubungi beberapa gereja serta sekolah teologi di Bali, kesempatan pelayanan pun menjadi berkembang hingga akhirnya diputuskan untuk berada di Bali sampai 28 Februari 2017. Puji Tuhan!

Tim SABDA yang berangkat adalah Bu Yulia, Aji, Hadi, dan saya. Karena keluarga dan kesibukan di kantor, diputuskan saya dan Hadi akan ikut pada 24 -- 26 Februari 2017 saja, sedangkan Bu Yulia dan Aji akan tinggal sampai tanggal 28 Februari. Kami berangkat Jumat pagi, 24 Februari 2017. Ini adalah perjalanan saya yang pertama dengan pesawat ke Bali. Setibanya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, kami dijemput oleh tim penjemputan GBI Rock Bali untuk menuju ke lokasi pelatihan di STT Kingdom. Kami segera survei tempat dan menata booth. Kami sengaja melakukan persiapan awal agar keesokan harinya tidak perlu tergesa-gesa. Selesai mengerjakan itu semua, kami langsung ke "guest house" tempat kami akan menginap selama pelatihan di GBI Rock. Rencananya, kami akan segera mandi dan bersiap untuk pergi ke acara persekutuan Lansia GKA Zion (GKAZ) jam 18.00. Akan tetapi, baru 10 menit di "guest house", sebelum bisa mandi semua, kami sudah dijemput jam 17.00 oleh Ibu Henny (istri Pdt. Jenik dari GKAZ). Ibu Henny sangat ramah menjelaskan kepada kami hal-hal apa saja yang perlu diketahui untuk pelayanan di GKAZ sore itu dan Minggu nanti.

Setibanya di GKAZ, kami bersyukur karena acara diawali dengan makan malam sehingga kami bisa mengisi perut dan mulai mengenal beberapa lansia. Ibadah lansia dibuka dengan sharing dari jemaat dan dilanjutkan dengan khotbah oleh Ibu Henny tentang "Hidup yang Berdampak" (Kej. 12:13 & Mat. 5:16). Selesai berkhotbah, Ibu Henny memberi pengantar bahwa Ibu Yulia akan berbagi berkat Tuhan. Berkat tersebut adalah bahan-bahan audio dari YLSA yang bisa dinikmati lansia untuk bisa semakin dekat dengan Tuhan. Empat puluh anggota lansia yang hadir dapat menyimak dengan penuh perhatian dan bersemangat. Bahkan, sesekali saya melihat banyak yang setuju dengan keluhan-keluhan lansia ketika belajar firman Tuhan, yaitu susah membaca huruf-huruf Alkitab yang kecil-kecil dan cepat capai ketika membaca. Untuk itu, SABDA menyediakan bahan-bahan audio sehingga lansia tidak perlu membaca lagi, tinggal mendengarkan saja. Bahan-bahan Alkitab audio dari SABDA kami instalkan ke HP dan tablet jemaat setelah selesai ibadah. Tetapi sayang, hanya beberapa jemaat yang tinggal karena hari sudah keburu malam. Senang melihat antusiasme para lansia.

Pelatihan SABDA pada Sabtu, 25 Februari 2017 di STT Kingdom adalah pelatihan software SABDA dan #Ayo_PA dari pkl. 09.00 sampai 16.00 Wita. Akan tetapi, acara agak molor karena panitia masih harus mempersiapkan peralatan listrik di ruangan dan kami melakukan instalasi Software SABDA. Setelah mengisi buku tamu, peserta mendapat 1 paket DVD SABDA dan laptop diinstal dengan sofware SABDA. Di antara peserta, ternyata beberapa sudah pernah mengikuti pelatihan Software SABDA kira-kira 8 tahun y.l.. Mereka ikut lagi karena program SABDA belum banyak mereka pakai sehingga banyak yang lupa. Puji Tuhan, acara pelatihan Software SABDA yang dibawakan oleh Bu Yulia berlangsung dengan lancar dan peserta antusias mengikutinya. Bahkan, ketika pkl. 12.00 tiba (waktunya makan siang), mereka lebih memilih untuk menyelesaikan pelatihan Software SABDA daripada berhenti untuk makan siang. Tim SABDA diajak panitia makan siang Babi Guling, makanan khas Bali yang enak. Setelah makan siang, pelatihan dilanjutkan dengan materi #Ayo_PA! yang disampaikan oleh Aji. Saya bersyukur bisa melayani peserta dengan menjaga booth, sedangkan Hadi mengurus semua urusan teknis dan menjadi operator saat presentasi berlangsung. Bersyukur, kami bisa beristirahat pkl. 18.00 Wita. Namun, belum sempat mandi, kami sudah dijemput panitia untuk makan malam ikan bakar khas Bali yang juga sangat lezat. Kecapaian sepanjang hari ini dibalas dengan tidur pulas untuk persiapan keesokan harinya.

Pada Minggu, 26 Februari 2017, jam 06.00, kami sudah siap makan pagi dan memulai pelayanan dengan membuka booth bagi jemaat yang datang di ibadah pagi GBI Rock Lembah Pujian. Sayangnya, booth SABDA tidak terlalu banyak dikunjungi, mungkin karena gereja tidak memberikan penjelasan tentang adanya booth SABDA kepada jemaat.

Pada pkl. 11.00 Wita, kami dijemput mobil GKAZ untuk memberikan pelatihan #Ayo_PA! Puji Tuhan! Ada lebih dari 130 jemaat yang hadir siang itu untuk mengikuti pelatihan, baik remaja, pemuda, dewasa maupun lansia. Sebelum pelatihan, panitia telah menyediakan makan siang untuk semua peserta dan mereka juga harus menginstal 5 aplikasi SABDA Android di HP mereka. Sungguh menyenangkan melihat keluarga besar GKAZ berkumpul bersama memakai gadget untuk belajar firman Tuhan. Ketika pelatihan berlangsung, peserta diminta untuk mempraktikkan apa yang diajarkan. Rata-rata mereka dapat mengikuti dengan baik meski beberapa orang tua harus dibantu. Setelah selesai, Ibu Yulia diberi waktu untuk memberikan presentasi tentang DVD Library Anak kepada guru-guru SM. Sementara itu, Hadi dan Aji menolong peserta yang ingin mendapatkan Alkitab audio dan aplikasi Alkitab di HP mereka, dan saya melayani di booth untuk jemaat yang membutuhkan CD-CD Alkitab Audio.

Puji Tuhan! Acara sepanjang hari itu memberikan kelelahkan yang menyenangkan. Setelah beristirahat sebentar, pkl. 17.00 Wita saya dan Hadi diantar ke bandara untuk kembali ke Solo. Sementara itu, Ibu Yulia dan Aji masih akan tinggal sampai tanggal 28 Februari 2017.

Senang rasanya mengikuti roadshow kali ini. Melihat semangat peserta membuat saya ikut bersemangat, khususnya melihat para lansia yang punya kemauan belajar tinggi, bahkan belajar mengunduh aplikasi sendiri dan berbagi mengajari rekan-rekan samping kanan kirinya. Ini pengalaman pertama saya roadshow SABDA di luar Pulau Jawa Puji Tuhan!

Selanjutnya, silakan Anda membaca tulisan Aji dalam blog Roadshow SABDA di Pulau Dewata (II).

#Ayo_PA! di PPA GBI Banaran

Mon, 03/06/2017 - 10:17

Untuk ke sekian kalinya, tim #Ayo_PA! melayani anak-anak Pusat Pengembangan Anak (PPA). Kali ini, kami melakukan pelayanan di PPA IO-837 Banaran, Surakarta. Dalam roadshow kali ini, yang bertugas melayani adalah saya, Tika, dan Pio. Ibadah PPA dimulai pukul 16.00 sehingga kami harus bersiap-siap berangkat pukul 15.00 untuk menyiapkan booth dan peralatan teknis (LCD, laptop, cek sound). Setelah berdoa bersama, kami berangkat tepat pukul 15.00 dan dijemput oleh Ardi, staf PPA Banaran yang sering kami hubungi.

Pada pukul 15.45, anak-anak mulai berdatangan di lokasi ibadah, tetapi ada yang salah nih, kok yang datang masih kecil-kecil begitu ya? Namun, yang namanya pelayanan kepada Tuhan harus total, jadi siapa pun yang datang harus tetap dilayani walaupun harus fleksibel dalam menyampaikan presentasi. Ketika anak-anak datang, mereka langsung menuju ke booth, dan saya melayani mereka. Mereka tertarik dengan CD-CD audio Alkitab, dan ada yang ingin memberikan CD tersebut kepada tetangga mereka yang sudah tua dan tidak bisa membaca Alkitab lagi. Puji Tuhan, senang rasanya melihat ada anak yang peka dan memiliki kepedulian.

Ibadah dimulai tepat pukul 16.00. Ardi mengawali dengan doa dan memimpin beberapa lagu pujian. Setelah itu, Ardi mempersilakan kami untuk mulai memberikan presentasi. Presentasi yang pertama dibawakan oleh Tika. Tika tampil cukup akrab di hadapan anak-anak. Meskipun saat itu Tika sedang sakit, ia tetap berusaha melayani sebaik mungkin. Ia menjelaskan bahwa anak-anak termasuk dalam generasi digital native. Sebagai generasi digital native Kristen, anak-anak harus berbeda dengan teman-temannya. Salah satu perbedaannya adalah apa yang ada di dalam HP mereka? Apakah sudah ada Alkitab atau aplikasi-aplikasi lainnya yang dapat menolong mereka bertumbuh dalam Tuhan?

Selanjutnya, saya bertugas menyampaikan materi presentasi kedua. Awalnya, saya bingung karena dari 29 anak yang datang, hanya 1 anak yang membawa HP, padahal saya akan menyampaikan materi yang sangat teknis dan mereka harus langsung mempraktikkannya dengan HP-nya masing-masing. Kemudian, saya sadar bahwa metode PA S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, Aplikasi) yang saya bawakan bukanlah tentang masalah "device"-nya. Yang terpenting adalah bagaimana metode S.A.B.D.A ini dipahami oleh anak-anak dan mereka tertarik melakukan PA dengan metode tersebut, dengan atau tanpa device mereka. Akhirnya, saya memberi penekanan dalam melakukan metode S.A.B.D.A.

Memang, dalam roadshow kali ini, ada beberapa hal yang tidak berjalan sesuai perkiraan kami. Dari roadshow kali ini, saya belajar bahwa kita harus siap kapan pun dan dalam situasi apa pun untuk melayani Tuhan. Sebab, kita tidak tahu jika nanti ada hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana/persiapan kita. Tetap semangat melayani Tuhan! #Ayo_PA!

Staf SABDA Mengikuti Seminar “Answer in Genesis”

Tue, 02/21/2017 - 12:37

Sabtu, 11 Februari 2017, saya dan Ayub menghadiri seminar "Answer in Genesis" di Griya Konseling, Solo. Saya tertarik menghadiri seminar ini karena sebelumnya, sekitar awal Januari, Ibu Vivi dan anaknya datang ke SABDA untuk menginformasikan tentang seminar ini. Jadi, saya punya harapan seminar ini akan mengupas lebih dalam tentang argumentasi seputar teori Big Bang, teori evolusi, dan lainnya. Namun, materi yang saya sebutkan itu ternyata hanya dibahas permukaannya, tidak mendalam. Banyak sekali topik yang dibahas, tetapi pembahasan tidak mendalam. Penyampaiannya juga terkesan melompat-lompat dan kurang terstruktur.

Berikut beberapa hal yang saya belajar dari seminar ini: Pertama, setiap manusia dalam berpikir dan mengambil keputusan pasti dipengaruhi oleh cara pandangnya (worldview). "Starting point" akan memengaruhi kesimpulan akhir kita. Pembicara sempat memutar satu video tentang dua ilmuwan yang memiliki starting point berbeda. Ilmuwan pertama memulai dari sudut pandang naturalis, maka kesimpulan akhirnya adalah evolusi itu benar, kisah penciptaan di Alkitab itu salah. Namun, ilmuwan kedua yang memulai sudut pandangnya dari sisi Alkitab, pada akhir penelitiannya menyimpulkan bahwa Alkitab memang benar. Selain itu, pembicara juga menunjukkan alat peraga yang ia gunakan untuk mengajarkan Alkitab kepada anaknya dengan cara yang berbeda, sesuai dengan porsi untuk anak-anak. Tujuannya supaya sejak dari kecil, anak juga dapat belajar apologetika.

Seminar ini berdurasi 3 jam. Dua jam pertama berisi pembahasan materi, dengan waktu istirahat sekitar 10 menit di pertengahan. Setelah itu, 1 jam terakhir peserta diberi kesempatan untuk bertanya dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan disambut dengan antusias dan pertanyaannya menarik untuk dibahas. Beberapa pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan asal mula manusia purba, asal mula ras manusia, ada juga tentang bagaimana mengajarkan materi ini kepada anak-anak karena banyak di antara peserta adalah guru.

Sebagai lanjutan dari seminar ini, panitia akan mengadakan seminar dengan pembicara dari Amerika pada September mendatang. Semoga seminar selanjutnya dapat memaparkan materi dengan lebih baik lagi.

Pelatihan Kepemimpinan: Failing Forward

Mon, 02/20/2017 - 11:55

Mengucap syukur kepada Tuhan kalau saya bersama dengan teman-teman SABDA (Evie, Liza, Tika, Kunarti) bisa mengikuti acara pelatihan kepemimpinan yang diadakan oleh EQUIP dan TOTAL Solo. Acara ini diselenggarakan selama dua hari, yaitu pada 4 -- 5 Februari 2017 di Orient Solo, dengan pembicara Sunjoyo Soe dan Paulus Winarto. Pelatihan kali ini dihadiri oleh peserta dengan jumlah yang lebih banyak daripada pertemuan sebelumnya. Ada sekitar 70 peserta dari berbagai lembaga dan perusahaan. Ini adalah pelatihan kelima yang saya ikuti sejak pelatihan pertama yang diadakan pada 2015 yang lalu.

Pelatihan kali ini berjudul "Failing Forward", "Menjadikan Kegagalan sebagai Lompatan". Selama dua hari, Pak Sun dan Pak Paulus menyampaikan materi dengan baik. Ada enam pelajaran yang disampaikan oleh pembicara, yaitu Menjadikan Kegagalan sebagai Lompatan, Berpikir Ulang tentang Kegagalan, Kegagalan Bersumber dari Diri Sendiri, Mengubah Kesulitan Menjadi Keuntungan, Menjadikan Kegagalan sebagai Sahabat Anda, dan Kuasa Ketekunan. Topik pelatihan kali ini adalah kelanjutan dari topik-topik pelatihan sebelumnya, silakan lihat tulisan sebelumnya: Pemimpin 360 Derajat, Today Matters, Winning With People, Thinking for a Change.

Dari pelatihan tersebut, saya belajar banyak tentang definisi kegagalan dan cara menyikapi kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari hidup, dialami oleh semua orang, tak terkecuali seorang pemimpin, bahkan para penemu hebat. Persepsi dan respons terhadap kegagalan yang membuat perbedaan antara orang berhasil dengan orang biasa. Kedua hal tersebut adalah sikap yang harus dimiliki untuk menerima kegagalan sebagai batu loncatan menuju keberhasilan. Contohlah penemu bola lampu, Thomas Alfa Edison. Dia berhasil menemukan bola lampu yang menyala setelah melakukan sepuluh ribu kali percobaan, dan sebelum itu dia telah berhasil menemukan bola lampu yang gagal menyala. Kegagalan membawa kita untuk melakukan yang lebih baik daripada sebelumnya. Dengan kegagalan, kita akan memiliki banyak pengalaman sehingga mampu mengubah kegagalan menjadi sebuah keuntungan.

Dalam pelajaran terakhir, dijelaskan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi kegagalan adalah dengan cara melatih keuletan dan ketekunan. Kegagalan akan terjadi jika kita berhenti mencoba, tidak berani ambil risiko, dan meninggalkan tanggung jawab. Keberhasilan akan diraih jika kita mau berusaha terus-menerus dengan cara dan waktu yang tepat. Cara untuk terus maju di tengah kesulitan adalah memiliki sebuah tujuan. Tujuan adalah bahan bakar ketekunan, kita akan berkomitmen untuk membangun kebiasaan mengerjakan suatu hal meskipun mengalami kesulitan.

Sebagai seorang Kristen, kita harus menerima kegagalan atau kesulitan sebagai bagian dari rencana Tuhan. Kita harus melihat gambaran besar Allah dalam kehidupan kita masing-masing sehingga kegagalan bukan dijadikan alasan untuk meninggalkan tanggung jawab, tetapi menerimanya sebagai bagian dari proses yang harus dijalani. Kegagalan memaksa kita untuk belajar dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan sehingga di tengah-tengah kesulitan ada hikmat Tuhan, keputusan yang diambil bukanlah keputusan manusia lagi, tetapi Allah yang berdaulat atas seluruh hidup kita.

Demikian pelajaran yang saya dapat selama mengikuti pelatihan kepemimpinan. Kami juga telah membagikan pelajaran kepada rekan-rekan kerja di kantor YLSA. Kiranya kita semua dimampukan untuk menjadi seorang pemimpin yang takut akan Tuhan, yang memiliki visi dari Tuhan sehingga berani mengambil risiko, berani menerima kegagalan sebagai batu lompatan menuju keberhasilan. Tuhan memberkati!

Persekutuan Staf SABDA di Rumah Pio

Sun, 02/19/2017 - 11:19

Oleh: Maskunarti*

Shalom! Saya Maskunarti, kembali menyapa Anda semua pembaca setia blog SABDA . Dalam tulisan kali ini, saya mengucap syukur dan ingin berbagi cerita tentang persekutuan staf YLSA di rumah Pio. Pelaksanaan persekutuan staf kali ini bertepatan dengan Pilkada serentak di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu pada Rabu, 15 Februari 2017. Sore itu, cuaca cukup cerah. Saya bersama teman-teman berkumpul di kantor SABDA, dan pukul 16.30 kami semua berangkat ke rumah Pio.

Setibanya di sana, kami disambut hangat oleh keluarga Pio. Kami diterima baik dan dipersilakan masuk ke sebuah ruangan, yang adalah Gereja Parakleos, tempat orangtua Pio melayani sebagai pendeta. Persekutuan staf ini diikuti oleh 33 orang, yang terdiri dari staf SABDA dan keluarga. Sebelum acara dimulai, kami duduk dan saling mengobrol sambil menikmati snack dan minuman yang sudah tersedia .

Tepat pada pukul 17.00 acara dimulai. Kami bersama-sama memuji dan menyembah Tuhan yang dipandu oleh Liza sebagai MC. Setelah memuji dan menyembah Tuhan, kami mendengarkan renungan singkat yang disampaikan oleh Danang, salah satu staf YLSA dari divisi ITS. Renungan diambil dari Yakobus 1:2-4, beginilah firman Tuhan: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun." Dari firman TUHAN yang disampaikan tersebut, saya dan teman-teman belajar bahwa sebagai orang percaya, harusnya saya berbahagia ketika saya jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan. Mengapa begitu? Karena dengan jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, iman percaya saya diuji, apakah saya akan tetap tekun dalam iman atau tidak dalam menghadapi berbagai pencobaan tersebut. Selain itu, saya juga belajar untuk mengenali area-area mana dalam kehidupan saya yang mudah jatuh (misal dalam hal keuangan, relasi, atau perkataan). Dengan mengenali area-area tersebut, diharapkan agar saya waspada terhadap area-area tersebut dan berdoa meminta pertolongan Tuhan untuk lebih berhikmat. Dengan begitu, saya bisa terus berjuang untuk menaati Tuhan dalam kehidupan saya. Jangan pernah putus asa ya, kawan, ketika kita diizinkan untuk mengalami berbagai pencobaan. Ayo, kita bertekun agar iman kita teruji. Mari berjuang untuk hidup berkenan di hadapan Tuhan. Kasih Kristus akan menolong kita. Bersyukur karena Tuhan mengingatkan kembali lewat firman-Nya.

Setelah sesi renungan, kami memasuki acara selanjutnya. Karena pelaksanaan persekutuan staf ini berlangsung satu hari setelah tanggal 14 Februari 2017, yang notabene dikenal sebagai hari Valentine, kami semua membawa cokelat yang dibungkus dengan kertas koran. Di dalam bungkusan itu, kami memberi tulisan yang inspiratif dan membangun iman. Semua cokelat dikumpulkan, lalu dibagi-bagikan. Setiap orang mendapat satu cokelat. Dengan dipandu Hilda sebagai MC, kami semua membuka cokelat yang sudah kami terima sambil membacakan tulisan di dalamnya secara bergantian. Isi tulisannya bermacam-macam, tetapi pada intinya merupakan tulisan yang membangun dan memotivasi bagi setiap kami yang menerimanya.

Saya senang karena dari persekutuan staf ini saya dikuatkan oleh kebenaran firman-Nya dan bisa lebih dekat lagi dalam membangun relasi dengan teman-teman SABDA. Harapan saya, persekutuan staf ini akan terus dilakukan secara rutin pada waktu-waktu mendatang. Ayo, semangat bersekutu bersama saudara-saudara seiman. Tuhan Yesus memberkati.

Paradoks Kasih dan Keadilan Allah: Predestinasi

Fri, 02/17/2017 - 12:48

Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK), atau sering disebut "Progsif", merupakan salah satu kegiatan pembelajaran rohani yang saya nantikan dalam beberapa bulan terakhir. Sudah beberapa waktu lamanya, saya merindukan untuk belajar sesuatu, dan puji Tuhan, pada 23 -- 24 Januari 2017, kegiatan ini diadakan kembali. Tema kali ini sangat menarik, "Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah". Rekan saya, Okti, sudah menulis blog tentang progsif ini untuk hari pertama, tanggal 23 Januari 2017. Nah, sekarang saya membahas untuk hari yang kedua. Semula, saya hanya menebak bila inti yang disampaikan adalah tentang salib Kristus, tetapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Tema dari seminar tersebut malah mengerucut pada salah satu doktrin kontroversial yang sebenarnya justru adalah dasar dari iman Kristen. Topik ini dibahas pada hari kedua, yaitu "Predestinasi". Wah, tentu topik ini semakin membuat saya tertarik dan ingin belajar lebih.

Tentu tidak asing lagi bila mendengar istilah "Predestinasi". Predestinasi merupakan salah satu doktrin penting dan mendasar dalam iman Kristen. Predestinasi adalah keyakinan bahwa Tuhan sudah memilih seseorang untuk memperoleh anugerah keselamatan dan menjadi milik-Nya sejak sebelum dunia dijadikan.

Beberapa hal baru saya dapatkan melalui seminar ini, yaitu tentang predestinasi melalui kisah Kain dan Habel. Kisah tersebut cukup jelas mewakili keberadaan orang pilihan yang beriman dan orang bukan pilihan yang akan binasa. Salah satu pertanyaan yang begitu mengusik saya adalah, "Apakah ada orang yang sebenarnya layak untuk menerima anugerah keselamatan?" Seorang pun tidak! Tuhan memilih kepada siapa Ia berkenan memilih meskipun manusia telah melawan Tuhan dan diusir dari Taman Eden, seperti yang dinyatakan oleh kitab Kejadian, tetapi Tuhan tetap mengasihi. Semua orang pilihan adalah orang yang TIDAK LAYAK menerima pengampunan. Keselamatan hanya oleh anugerah yang dikerjakan melalui salib Kristus semata. Konsekuensi dari dosa tetap kita peroleh, yaitu keadilan Tuhan yang ditanggung oleh Kristus, supaya kita beroleh kasih kekal Bapa dan penyertaan Roh Kudus sepanjang zaman.

Pertanyaan lain yang muncul dalam seminar ini adalah, "Untuk apa menginjili ketika Tuhan sudah menentukan keselamatan seseorang?" Seseorang yang dipilih adalah seseorang yang mengalami penebusan oleh salib dan darah Kristus (1 Petrus 1:18,19), Injil menjadi pintu masuknya. Kita tidak akan pernah tahu siapakah orang di sekitar kita yang disebut orang pilihan. Belum tentu semua orang Kristen adalah orang pilihan, dan semua orang non-Kristen adalah bukan orang pilihan. Injil akan membawa seseorang pada pertobatan dan penemuan kepada Sang Juru Selamat Kristus Yesus, dan orang pilihan pasti akan mendengar dan menerima Injil dengan segenap hati.

Ketika Kristus menuju pada kematian di kayu salib, Dia mengatakan bahwa Dia mengampuni mereka semua, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tuhan memberikan pengampunan kepada semua orang, tetapi hanya orang yang dipilih-Nya yang akan beroleh keselamatan kekal. Seminar kali ini mengusik saya untuk lebih serius dan tidak buta dalam menginjili orang. Diperlukan hikmat dari Roh Kudus yang akan membawa saya untuk memberitakan Injil bagi orang-orang pilihan-Nya. Solus Christus!

Seminar Pembinaan Kristen: Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah

Thu, 02/09/2017 - 13:40

Senin sore itu (23 Januari 2017), sebenarnya saya urung berangkat ke Seminar Pembinaan Iman yang diadakan oleh MRII Surakarta. Selain karena cuaca yang buruk akibat senantiasa diguyur hujan, saya juga enggan meninggalkan anak sendiri di rumah. Namun, karena keinginan untuk mendengarkan tema "Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah" lebih besar dan didukung dengan akan ada yang dapat menemani anak saya di rumah, maka saya pun berangkat. Bersama dengan teman-teman kantor, yaitu Liza, Maskunarti, Hadi, Ayub, Aji, Pioneer, Andre, dan Danang, kami berangkat ke Orient Resto, tempat seminar diadakan. Keputusan saya untuk berangkat adalah keputusan yang tepat karena banyak berkat yang saya terima melalui seminar tersebut.

Acara seminar dimulai pada pukul 18.30 dan dibawakan oleh Pdt. Aiter M.Div dari MRII Jakarta. Memulai seminarnya, Pdt. Aiter mengajak kami untuk membuka kitab Wahyu 3:19 sebagai landasan utama dari kasih dan keadilan Tuhan. Dalam kasih-Nya, Allah dapat menghukum dan mendisiplin manusia sebagai ciptaan. Namun, perlu diingat bahwa kasih senantiasa mendahului peringatan dan hukuman. Contoh nyata dari kasih Allah adalah bahwa sebelum Adam dijadikan, Ia sudah menciptakan segala sesuatunya terlebih dahulu sehingga semua kebutuhan manusia sudah terpenuhi. Allah bahkan menciptakan Hawa sebagai penolong yang sepadan bagi Adam karena dilihat-Nya tidak baik jika Adam sendirian saja. Seiring dengan perintah untuk mengusahakan dan memelihara taman itu, manusia juga diberi peringatan untuk tidak memakan buah dari satu pohon di sana. Namun, manusia menolak untuk mematuhi Allah dan akhirnya memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu. Karena melanggar perintah Allah, mereka pun harus menerima hukuman, diusir dari Taman Eden, dan menanggung akibat dari pelanggaran mereka. Akan tetapi, setelah pengusiran itu, Allah masih mengasihi dan memedulikan mereka dengan mengenakan pakaian dari kulit binatang kepada mereka. Pakaian itu, selain lebih baik dari pakaian buatan manusia yang terbuat dari daun ara, juga mengandung teologi yang amat dalam bahwa anugerah keselamatan itu benar-benar berasal dari Allah. Tidak ada jasa manusia di dalam keselamatan karena bahkan Allah yang mengenakan pakaian itu kepada mereka.

Setelah kejatuhannya, Adam dan Hawa ternyata masih memiliki iman yang besar kepada Allah. Terbukti dalam peristiwa kelahiran Kain (Kej. 4:1), iman anak-anak mereka yang juga terarah kepada Allah (Kej. 4:3-4), dan kelahiran Set (Kej. 25). Semua peristiwa itu menjadi pernyataan bahwa mereka percaya kepada Allah, kepada kasih dan pemeliharaan-Nya, dan bahwa iman itu juga diturunkan kepada anak-anak mereka. Selanjutnya, manusia keturunan Adam menjadi semakin jahat dan rusak secara moral sehingga Allah harus menghukum dan memusnahkan seluruh dunia dalam peristiwa air bah, kecuali Nuh dan seisi rumahnya. Hukuman itu dilakukan Allah untuk kebaikan generasi manusia selanjutnya agar tidak menanggung akibat mengerikan yang sudah dibuat oleh manusia pada zaman itu, terutama karena perilaku seksual mereka. Namun, sebelum penghukuman itu dilakukan, Allah sudah memberi peringatan kepada manusia tentang kejahatan mereka melalui nama Metusalah, anak Henokh, yang berarti "ketika aku lahir, kiamatlah dunia". Artinya, peringatan itu sudah diberikan sekitar 900 tahun sebelum peristiwa banjir besar itu terjadi. Kisah serupa juga terjadi pada peristiwa tulah di Mesir, yang sudah dinubuatkan kepada Abraham (Kej. 18:20-21), peristiwa pemusnahan Sodom dan Gomora (Kej. 13:12-13), penumpasan terhadap bangsa Amalek (1 Sam. 15:1-3). Hal yang sama juga terjadi saat Allah menghukum bangsa-bangsa lain yang sangat berdosa dan melawan Allah (Amos 1:6,9,13; Amos 2:1-3).

Jelaslah bahwa ketika Allah menghukum dan menumpas suatu bangsa (atau manusia) pasti karena mereka sudah melakukan suatu kejahatan yang luar biasa keji dalam pandangan Allah. Mereka bukan hanya memberontak terhadap Allah dan menghalangi misi-Nya, tetapi juga melakukan kejahatan yang buruk. Akan tetapi, mengapa harus semua bangsa ditumpas, sampai kepada anak-anak dan hewan ternak yang mereka miliki? Dosa bersifat menular, diturunkan, dan menjalar. Karena itu, untuk tetap menjaga kekudusan umat-Nya serta generasi selanjutnya, Allah harus melakukan penghukuman seperti itu. Yang harus kita ingat adalah Allah tidak pernah menghukum tanpa kasih dan peringatan. Jika hukuman itu dilakukan-Nya, hal itu diberikan dalam kerangka kasih dan kesetiaan-Nya. Jika ada yang mengatakan bahwa Allah itu kejam karena menghukum dan menghabisi suatu bangsa, ia pasti belum mengenal Allah dan firman-Nya. Lagi pula, pribadi macam apa yang kita sembah jika Ia tidak bertindak untuk menegakkan keadilan dan kebenaran?

Nah, itu adalah rangkuman materi yang saya dapatkan dari seminar pembinaan iman Kristen "Paradoks: Kasih dan Keadilan Allah" pada hari pertama. Selanjutnya, silakan membaca blog dari rekan saya Ayub yang akan mengulas mengenai isi seminar pada hari kedua.

Blessings!

+TED @SABDA Tim Penjangkauan

Mon, 01/30/2017 - 07:31

Sesuai dengan kesepakatan rapat internal Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), diputuskan +TED @SABDA 2017 akan dilaksanakan setiap kuartal sekali, yaitu pada Januari, April, Juli, dan Oktober. +TED SABDA perdana tahun ini kami adakan pada tanggal 20 Januari 2017. Sedikit berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, penyelenggaraan +TED @SABDA tahun 2017 ditangani oleh tim-tim pelayanan YLSA. Salah satu tujuannya adalah supaya materi +TED bisa lebih fokus sesuai dengan bidang-bidang pelayanan YLSA.

Tim Penjangkauan terpilih untuk menjadi pelaksana penyelenggaraan +TED @SABDA pertama tahun 2017. Tim Penjangkauan, yang diwakili oleh bidang penulis, konseling, wanita, kepemimpinan, kesaksian, humor, dan biografi tokoh Kristen, memiliki fokus untuk memberitakan kebenaran firman Tuhan melalui tujuh bidang pelayanan umum tersebut. Karena itu, +TED @SABDA Tim Penjangkauan ini diisi oleh enam pembicara dengan materi-materi bidang penjangkauan.

Presentasi sesi satu disampaikan oleh tiga pembicara, yaitu: Odysius Bio Temara yang berbicara tentang "Menjangkau dengan Tulisan", Abraham Aji tentang "Menjangkau dengan Audio", dan Debora Istiawati tentang "Menjangkau dengan Pelayanan Pemulihan". Sebelum masuk ke sesi kedua, peserta diajak menikmati makan malam yang telah disediakan dan juga berdoa untuk salah satu staf YLSA, Hadi Pramono, yang berulang tahun tepat pada hari itu.

Presentasi sesi dua juga diisi oleh tiga pembicara, yaitu: Hariyono Wongsohadi tentang "Menjangkau dengan Multimedia", Dwi Erni Nugrohowati tentang "Kesaksian Pengacara Kristen", dan terakhir Jokanan Unus Prayitna tentang "Menjangkau dengan Tarian". Karena sebelum acara dimulai para pembicara sudah mendapat pengarahan terlebih dahulu tentang tata cara +TED (waktu presentasi, urutan pembicara, penyampaian pertanyaan, dan lain-lain), maka semua presentasi berjalan dengan lancar dan mencapai tujuannya, termasuk acara tanya jawab dari peserta, semua berlangsung dengan baik.

Salah satu materi yang sangat berkesan bagi saya adalah kesaksian dari Ibu Erni. Beliau memaparkan tentang lika-liku kehidupan seorang pengacara Kristen dalam menegakkan serta mengajarkan arti kebenaran firman Tuhan kepada para kliennya. Namun, secara pribadi, saya merasa puas dengan semua presentasi yang disampaikan oleh keenam pembicara. Melalui profesi sebagai penerjemah, konselor, praktisi multimedia, pengacara, juga seniman, Tuhan bisa pakai untuk melebarkan Kerajaan-Nya.

Puji Tuhan! Acara yang berlangsung kurang lebih 3 jam itu berakhir dengan baik. Berdasarkan form evaluasi yang terkumpul, para peserta merasa terberkati dan ingin kembali hadir di acara +TED @SABDA selanjutnya. Bahkan, ada beberapa peserta yang mengusulkan nama-nama untuk diundang sebagai peserta atau diundang sebagai pembicara di @TED SABDA berikutnya, yaitu April oleh Tim Pembinaan YLSA. Saya sangat diberkati. Karena itu, saya berharap orang lain juga diberkati.

#Ayo_PA! dalam Natal “ABA”

Wed, 01/25/2017 - 13:18

Kampanye #Ayo_PA! sudah berjalan lebih dari setahun, tetapi kampanye ini tampaknya masih jauh dari selesai karena banyak sekali yang masih harus kami jangkau agar kembali kepada kebiasaan ber-PA. Salah satunya, ketika kami diundang Bpk. Aris untuk melakukan roadshow #Ayo_PA! dalam acara Natal kelompok "ABA" yang diselenggarakan di CS Resto, 18 Januari 2017 lalu. ABA adalah singkatan dari Asyiknya Baca Alkitab. Bapak Aris adalah perintis kelompok ABA untuk wilayah Solo. Kegiatan ABA adalah membaca Alkitab secara teratur, setiap hari sebanyak 3 pasal, dan setiap peserta harus memberikan laporan bacaannya melalui group WA ABA. Pada tanggal 18 Januari 2017, diadakanlah Natal kelompok ini dan untuk mengisi acara tersebut, Bpk. Aris berinisiatif mengundang tim #Ayo_PA! Sebelumnya, Pak Aries sudah mengikuti presentasi yang sama ketika tim #Ayo_PA! melayani dalam pertemuan Youth FGBMFI di Orient Solo pada tanggal 13 Desember 2016. Karena merasa ini juga perlu untuk anggota ABA, beliau pun mengundang kami. Menurut beliau, gerakan #Ayo_PA! ini satu visi dengan kegiatan mereka dan diharapkan bisa melengkapi mereka dalam mempelajari Alkitab dengan bantuan teknologi abad ini.

Waktu itu, saya ditugaskan untuk melakukan roadshow bersama dengan mbak Evie dan Mas Danang. Mbak Evie bertugas sebagai pemateri pertama, saya pemateri kedua, dan Mas Danang didaulat untuk tugas-tugas multimedia dan persiapan alat. Kami bertiga juga mempersiapkan booth SABDA agar para peserta bisa melihat dan mendapatkan produk-produk pelayanan dari SABDA sesuai kebutuhan mereka dalam pelayanan.

Pkl. 19.00 acara dimulai dengan kata sambutan dari panitia dan makan malam. Sempat molor selama 30 menit, akhirnya pada pkl. 19.45 kami mulai memberikan presentasi tentang PA di Era Digital. Mbak Evie memulai presentasi dengan materi pertama tentang pentingnya melakukan PA dan mengapa kita perlu menggunakan teknologi untuk belajar firman Tuhan. Ia membawakan materi dengan sangat smooth, seakan tak perlu melihat lagi ke arah slide. Dalam hal ini, saya masih perlu belajar banyak dari beliau agar presentasi saya juga semakin baik lagi ke depannya.

Selanjutnya, giliran saya. Pada sesi kedua, saya membawakan materi tentang penggunaan lima aplikasi Android SABDA. Saya berusaha menerangkan dengan cukup jelas dengan sesering mungkin mengingatkan hadirin untuk mempraktikkan langsung cara penggunaan lima aplikasi tersebut pada gawai mereka. Saya senang karena sebagian besar peserta dengan serius mempelajarinya. Tak jarang, pandangan mereka terus beralih dari layar LCD ke gawai mereka, mengikuti satu per satu langkah yang saya paparkan. Ada yang menggunakan gawainya masing-masing, tetapi ada pula beberapa orang sekaligus yang menggunakan satu gawai karena mereka tidak membawa gawai atau memori gawainya sudah penuh.

Untuk lebih memantapkan materi, presentasi sesi kedua ini saya lengkapi juga dengan dua kuis, satu untuk mencari arti kata "mahkota" menggunakan aplikasi Kamus Alkitab, dan yang kedua adalah mencari jumlah kata "roti" dalam kitab Matius saja. Awalnya, peserta masih canggung dengan penggunaan aplikasi yang sudah dijelaskan, tetapi pada akhirnya mereka bisa belajar dengan cukup cepat dan menjawab dua pertanyaan yang saya ajukan sebelumnya. Kuis ini juga semakin meriah karena Bpk. Aris rupanya sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk peserta yang bisa memberi jawaban paling cepat.

Acara kemudian ditutup dengan sesi tanya-jawab dan beberapa kuis tambahan dari Pak Aris karena hadiah yang tersedia masih cukup banyak. Masing-masing peserta juga diminta memberi testimoni, baik tentang materi presentasi maupun tentang kegiatan dalam kelompok baca Alkitab. Tak lupa, kami juga melakukan "ritual" rutin tiap kali roadshow #Ayo_PA! diadakan, yaitu dengan berfoto bersama dengan para peserta, dan dengan MMT #Ayo_PA! yang kami bentangkan di barisan paling depan. Dengan demikian, selesailah sudah acara pada hari itu.

Kami bersyukur karena sudah memberikan yang terbaik untuk mengajarkan kepada peserta cara ber-PA dengan teknologi abad ini, dan berharap, materi yang sudah kami sampaikan tidak berlalu begitu saja, tetapi mampu menggugah peserta untuk terus belajar firman Tuhan secara disiplin. Memang benar, bahwa di setiap roadshow yang kami adakan, ada saja sebagian kecil peserta yang cuek dengan materi yang disampaikan. Akan tetapi, kami berusaha untuk tidak berkecil hati karena tugas kami hanyalah mengajak orang lain kembali memiliki kebiasaan ber-PA, dan selebihnya, Tuhanlah yang berkarya dalam mengetuk pintu hati setiap orang.

Menutup tulisan ini, saya ingin mengucapkan selamat ber-PA bagi kita semua, dan kiranya kita juga turut aktif membagikan berkat yang kita dapat dari ber-PA kepada orang lain. Anda pun bisa mempraktikkan roadshow #Ayo_PA! ini kepada orang lain di sekitar Anda. Informasi lebih jelas mengenai pelayanan #Ayo_PA! dapat Anda lihat dalam situs Ayo-PA.org dan Ayo-PA.net.

Mari manfaatkan teknologi dalam genggaman kita untuk belajar firman-Nya supaya kita memahami kehendak Allah dan boleh menjadi terang dan garam bagi orang-orang di sekitar kita. #Ayo_PA!

Sastra Oh Bahasa … Apa Kabar?

Mon, 01/23/2017 - 13:05

Akhir-akhir ini, saya bernostalgia lagi dengan sastra. Eitz ... tak hanya sastra, tetapi juga bahasa Indonesia. Jadi ingat masa-masa kuliah dulu yang setiap hari berkecimpung dengan itu .... Sastra itu asyik apalagi bahasa Indonesia. Namun, kita tidak boleh terlena dan hanya asyik menikmati karya-karya sastra dan bacaan-bacaan berkualitas dari penulis-penulis ternama, sampai-sampai kita tutup mata dengan keberadaan bahasa dan nasib sastra saat ini. Inilah kesimpulanku setelah membaca beberapa kliping artikel bertema sastra dan bahasa yang sempat diedarkan di kantor.

"Artikel ini harus dibaca semua staf. Bagi yang sudah baca, harus kasih tanda tangan di pinggir ya!" Itulah perintah perdana ketika sebuah kliping bertema sastra diedarkan di kantor Griya SABDA. Artikel pertama dan disusul beberapa artikel selanjutnya diedarkan dan dibaca dengan cepat oleh semua staf secara bergilir. Namun, untuk artikel yang terakhir, peredarannya cukup lambat ... he-he-he ... karena kami tak hanya membaca dan tanda tangan, tetapi harus menulis komentar mengenai artikel tersebut. Perintahnya semakin "kompleks" ya ... hmmm.

Di YLSA, semua staf selalu didorong, bahkan dipaksa, untuk membaca. Nah, kegiatan membaca artikel ini menjadi salah satu cara YLSA untuk menolong staf YLSA, khususnya staf publikasi, untuk bisa mengikuti perkembangan bahasa dan sastra saat ini, selain juga menambah pengetahuan dan membiasakan aktivitas membaca. Dari keempat artikel yang sudah diedarkan, saya jadi terusik dengan keberadaan sastra dan bahasa Indonesia saat ini. Sebenarnya, bukan hanya dari artikel ini saja sih. Ketika saya "blusukan" ke toko buku pun, saya sudah curiga dengan eksistensi sastra dan bahasa Indonesia sekarang ini. Banyak karya fiksi terpampang di sana, bahkan sampai didiskon tinggi, tetapi semuanya hanya menarik di cover-nya saja. Bahkan, ketika halaman pertama dibuka pun, bahasa-bahasa gaul dan bahasa Inggris sudah mendiami hampir di setiap paragrafnya. Tak heran juga jika Na'imatur Rofiqoh, penulis artikel yang berjudul "Nasib Bahasa Indonesia", mengkritik tentang pemakaian kata-kata dalam bahasa Inggris di iklan-iklan, instansi, tempat umum, dll., padahal kata-kata tersebut sudah memiliki terjemahan/padanannya dalam bahasa Indonesia.

Sedikit nostalgia ya, semasa kuliah, saya suka karya Marianne Katoppo, yang salah satu novelnya berjudul "Raumanen" -- kontennya kental dengan budaya, adat Batak, dan masalah-masalah adat, Remy Silado dengan puisi-puisi Mbeling, Kerygma dan Martyria, semua karya Mira W. yang selalu memuat istilah kedokteran di dalam novel-novelnya, Pudji Santosa dengan karya "Semiotika", dll.. Ketika membaca artikel "Hidupkan Sastra Lama Lewat Penulisan Ulang" yang diambil dari koran Solopos, 19 Desember 2016, saya jadi sedih juga, soalnya karya-karya sastra zaman lama kini kurang dilirik lagi. Seharusnya, karya-karya sastra Indonesia bisa dikenal juga oleh siswa-siswi zaman sekarang supaya menolong mereka mengenal karya sastra dan keunikan budaya Indonesia. Meski bahasa penyampaian disederhanakan tak masalah, yang penting karya sastranya bisa disampaikan dan dimengerti oleh siswa-siswi zaman ini. Apa sih keuntungannya? Menurut seorang guru SMAN 1 Karanganyar, Giyato, dalam artikelnya berjudul "Darurat Sastra di Sekolah", membaca sastra akan membentuk kecintaan dan adiksi membaca buku. Nilai estetik dan puitik dari sebuah sastra diyakini mampu memompa dan membangun karakter siswa. Saya berpikir bahwa Indonesia pasti akan sangat kehilangan keindahan dan keunikan sastra Indonesia dan bahasanya jika kita semua, terutama yang pernah menikmati keindahan dan keunikan itu sejak dulu, tidak ikut berjuang membangkitkan dan mensosialisasikannya kepada masyarakat. Kita adalah orang Indonesia, mari menggunakan bahasa Indonesia dengan benar dan mengenal karya-karya sastra Indonesia.

Sebagai orang percaya, kita harus menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dengan menghargai bahasa, budaya, dan karya sastra Indonesia. Mari kita budayakan menggunakan bahasa Indonesia dengan benar, mendukung gerakan gemar membaca, dan mengenal karya-karya sastra Indonesia supaya kita dan Indonesia dengan segala keindahan dan keunikannya bisa menjadi berkat bagi banyak orang.

"Gunakan bahasa yang kamu ingin gunakan, kamu tidak akan pernah mengatakan sesuatu, selain dirimu.
(Use what language you will, you can never say anything but what you are -- Ralph Waldo Emerson)