Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Wanita

RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 23 min 23 sec ago

Roadshow #Ayo_PA! dalam Persekutuan Alumni Perkantas, Solo

Sun, 04/15/2018 - 15:32

Oleh: *Lena

Perkenalkan, nama saya Lena Lumbanraja, staf masa percobaan di Yayasan Lembaga SABDA. Saya ingin membagikan pengalaman pertama saya ketika mengikuti roadshow #Ayo_PA! di Griya Konseling, Solo, pada 4 Maret 2018. Sebelum mengikuti roadshow #Ayo_PA!, saya dan Yoel (staf magang) mendapat orientasi sesuai dengan tugas kami masing-masing. Indah memberikan orientasi mengenai booth dan penjelasan produk-produk SABDA, dan Yoel mendapat orientasi dari Pioneer mengenai hal-hal teknis seperti pemasangan LCD, cara merekam video, dokumentasi, dsb..

Acara dimulai pukul 11.00 WIB. Sebelum berangkat, saya dan Yoel memastikan lagi barang yang diperlukan untuk roadshow. Perjalanan menuju ke lokasi cukup terkendala karena macet, tetapi puji Tuhan kami bisa datang lebih awal dari waktu acara. Saya tidak khawatir bagaimana situasi dan kondisi tempat roadshow karena tempat diadakannya roadshow ini adalah tempat saya berkuliah. Setelah sampai di tujuan, kami langsung menyiapkan booth. Yoel segera menyiapkan LCD dan peralatan multimedia lainnya. Saya dan Bu Yulia menata booth SABDA yang awalnya ditata di luar ruangan, tetapi akhirnya bisa diletakkan di dalam ruangan sehingga saya bisa mengikuti jalannya acara. Proses perpindahan booth dari luar ke dalam ruangan cukup membuat saya panik karena barang-barang sudah tidak tertata dengan rapi, tetapi semua bisa diatasi dengan cepat karena saya ditolong oleh Bu Yulia.

Sebelum presentasi #Ayo_PA! disampaikan oleh Bu Yulia, perwakilan dari alumni Perkantas membuka acara dengan doa dan pujian. Acara pembukaannya cukup lama sekitar 30 menit. Acara hari itu dihadiri oleh lebih dari 30 peserta. Sesuai dengan tema yang diberikan, yaitu "Studi Tokoh Alkitab: Petrus", oleh Bu Yulia dipakai menjadi kesempatan untuk memperkenalkan gerakan #Ayo_PA!. Sebelum melakukan PA, Bu Yulia terlebih dahulu menyampaikan pentingnya PA dalam kehidupan para alumni PERKANTAS. Beliau menjelaskan bahwa seperti kita membutuhkan makanan dan minuman setiap hari untuk jasmani kita, begitu juga dengan rohani kita. Kita bisa menyajikan sendiri tanpa harus menunggu hari Minggu untuk mendengarkan khotbah di gereja. Firman Tuhan itu bisa disajikan dan dikonsumsi setiap hari. Masalahnya adalah kita belum ahli, dan ketidakahlian itu membuat kita ingin semuanya tersaji dengan cepat oleh orang lain, yaitu dengan mendengarkan khotbah dari pendeta atau pelayan-pelayan Tuhan yang disampaikan hanya seminggu sekali pada ibadah Minggu. Hal yang berkesan dari presentasi ini adalah penekanan bahwa sebenarnya kita bisa menyajikan makanan rohani setiap hari sendiri tanpa harus menunggu hari Minggu. Dan, hal inilah yang menjamin kita akan bertumbuh secara rohani, karena makan makanan rohani secara teratur setiap hari.

Setelah itu, Bu Yulia menyampaikan tentang bagaimana beberapa aplikasi Alkitab SABDA yang terintegrasi dapat dipakai sebagai alat bantu untuk melaksanakan PA secara mandiri. Untuk itu, Bu Yulia meminta peserta menginstal lima aplikasi yang akan memudahkan kita dalam melakukan PA, yaitu Alkitab, Kamus, Tafsiran, Alkipedia, dan Peta. Dengan cepat saya langsung menghampiri kelompok untuk memastikan apakah mereka sudah memiliki lima alat bantu itu, dan apakah mereka kesulitan dalam menggunakannya. Dari 30 lebih peserta, sebagian besar sudah memiliki Alkitab SABDA, tetapi belum memakai fitur-fitur yang ada untuk membantu PA. Saya dan Yoel membantu peserta yang belum bisa menggunakannya dan menginstal aplikasi di HP mereka. Setelah selesai penginstalan dan mengajarkan peserta menggunakan aplikasi dengan benar, selanjutnya setiap kelompok melanjutkan PA. Saya melihat semua peserta antusias dalam PA dan antusias juga memakai aplikasi dari SABDA, karena saya melihat mereka seakan-akan menemukan "mainan baru" dengan fitur-fitur dalam aplikasi Alkitab SABDA.

Sebagai praktik PA, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok kecil (masing-masing terdiri dari empat orang), dan dalam kelompok tersebut, mereka melakukan PA serta berdiskusi sesuai dengan ayat-ayat yang diberikan untuk masing-masing kelompok. Untuk mengetahui hasil PA-nya, masing-masing kelompok mempresentasikannya di depan semua peserta. Meskipun terkendala oleh waktu yang sangat singkat dan belum semua peserta terbiasa melakukan PA dengan alat-alat biblika yang telah tersedia dalam gawainya, proses PA dapat berlangsung dengan baik. Sebagian besar peserta mendapatkan pengalaman baru ketika melakukan PA ala SABDA ini dan peserta menjadi lebih antusias dalam melakukan PA. Setelah presentasi, Bu Yulia juga menawarkan bahan-bahan SABDA untuk sekolah minggu, remaja, konseling, dan audio Alkitab bahasa daerah, PL dan PB, dll.. Mendengar hal itu, semua peserta antusias dan langsung menemui saya dan Yoel untuk mengambil bahan yang mereka perlukan.

Kesan saya mengikuti roadshow #Ayo_PA! di Griya Konseling yang dihadiri alumni PERKANTAS, yaitu ternyata masih banyak orang yang perlu tahu pentingnya melakukan PA dan memanfaatkan teknologi untuk belajar firman Tuhan. Saya sendiri masih baru di SABDA dan bersyukur dapat belajar tentang pentingnya melakukan PA dan bagaimana kita dapat memperkenalkan PA dengan metode S.A.B.D.A., baik kepada para digital native maupun kepada para digital imigran. Kiranya pengalaman saya ini dapat menjadi berkat bagi kita semua. #Ayo_PA!

Ibu-Ibu di Dapur YLSA

Thu, 04/12/2018 - 07:50

Oleh: Davida

"Kami juga berdoa untuk ibu-ibu di dapur yang telah menyiapkan makan siang pada hari ini, kiranya Tuhan Yesus memberkati mereka ...."

Kalimat di atas hampir selalu terucap oleh staf SABDA yang mendapatkan giliran berdoa sebelum kami menyantap makan siang. Ya, kami menyadari bahwa tanpa tangan-tangan para ibu yang sudah mengolah bahan-bahan mentah dari pasar, kami tidak dapat menyantap makan siang untuk memulihkan tenaga kami. Ada empat orang ibu yang menolong pekerjaan-pekerjaan rumah tangga di YLSA. Dua orang ibu, yaitu Ibu Reso dan Mbak Dikem, bertugas untuk meracik bahan-bahan mentah, memasaknya, dan menghidangkannya untuk staf SABDA. Sementara itu, dua ibu lainnya, yaitu Mbak Ros dan Mbak Tiwi, memiliki tugas utama yang lain di luar tugas memasak. Namun, terkadang, mereka berdua juga terjun ke dapur untuk membantu memasak apabila Ibu Reso atau Mbak Dikem berhalangan masuk.

Setiap siang, kami menyantap makanan yang bergizi bagi tubuh kami. Namun, masakannya bukan masakan ala resto berbintang, masakan Ibu Reso adalah masakan rumahan yang "ngangenin". Salah satu jawaban terbanyak dari teman-teman yang pernah bekerja di SABDA ketika diberi pertanyaan apa yang mereka rindukan dari SABDA adalah: "Kangen masakan Ibu Reso!" Salah satu masakah favorit yang disukai hampir semua staf SABDA adalah "nasi goreng". Masakan-masakan lainnya adalah soto ayam, kare, tumpang, sayur bening sawi, tempe mendoan, semur ayam, tongseng, dan sebagainya. Setiap hari, sepertinya Ibu Reso dan Mbak Dikem melakukan "scrum" atau "daily meeting" untuk membahas akan masak apa hari ini dan mengevaluasi apa yang sudah dimasak kemarin. Beberapa kali, saya juga mendengar mereka merencanakan masak apa hari ini berdasarkan suhu, cuaca, dan kondisi kesehatan staf. Betapa mereka sangat perhatian, ya. Yang lucu adalah terkadang menu yang sudah direncanakan bersama akan berubah ketika hasil belanjaan Ibu Reso tidak sesuai dengan rencana masak hari ini, hahaha. Meski begitu, mereka tidak kapok untuk membahas akan masak apa hari ini sebelum Ibu Reso berangkat ke pasar.

Mbak Tiwi dan Mbak Ros akan datang ke dapur SABDA menjelang makan siang setelah mereka selesai mengerjakan tanggung jawabnya masing-masing; Mbak Tiwi di kantor Griya SABDA, sedangkan Mbak Ros mengerjakan tugas rumah tangga untuk area kantor lama dan AYT Center. Mereka berdua datang untuk membantu menata piring untuk semua staf SABDA dan setelah itu akan membantu mencuci piring. Keempat ibu ini sangat riang. Kalau mereka sudah berkumpul bersama, biasanya mereka akan membicarakan apa saja seputar anak, cucu, maupun keseharian mereka. Sambil bekerja, mereka saling sharing.

"Makasih Buk," begitulah kata-kata yang dilontarkan oleh staf SABDA ketika mereka memasuki ruang dapur untuk meletakkan piring kotornya di tempat cuci piring. Dan, senyum dari bibir ibu-ibu itu pun merekah ketika melihat piring-piring kami bersih ludes tanpa ada sisa .... Mereka senang ketika melihat kami kenyang dan kembali segar melanjutkan tugas kami melayani Tuhan di kantor.

Saya bersyukur karena melalui ibu-ibu ini, saya belajar tentang tubuh Kristus. Semua orang punya peran yang berbeda dalam tubuh Kristus sesuai dengan bagian yang Tuhan tetapkan bagi mereka. Dan, ibu-ibu di dapur YLSA ini menjadi salah satu bagian penting untuk menjaga kami tetap sehat dan bertenaga sehingga dapat terus melayani Tuhan di YLSA. Sekali lagi, "Terima kasih Ibu Reso, Mbak Dikem, Mbak Tiwi, dan Mbak Ros, Tuhan Yesus mengasihi dan memberkati Ibu-Ibu semua."

Serangan Pasukan Rayap di Griya SABDA

Mon, 04/02/2018 - 09:35

Oleh: Maskunarti

Shalom, pembaca setia blog SABDA yang terkasih dalam Kristus!

Pada Jumat, 16 Maret 2018, seusai acara persekutuan doa, seluruh staf SABDA dikejutkan dengan munculnya pasukan rayap yang menyerbu beberapa rak buku di perpustakaan. Kak Elly yang pertama berteriak: "Ada rayap!" sembari menunjukkan foto rayap di beberapa rak buku yang diambil melalui kamera handphone-nya. Hal itu membuat kami terkejut dan panik. Saya bertanya-tanya, "Dari mana ya rayap-rayap tersebut datang?" Kepanikan kami ada alasannya. Ruang training di Griya SABDA (GS) juga merupakan perpustakaan YLSA yang penuh dengan buku. Kalau ada rayap, itu berarti buku-buku tersebut sedang terancam keselamatannya.

Kami pun tidak tinggal diam. Kami langsung bergegas mengecek rak-rak mana saja yang sudah diserbu rayap. Ada beberapa titik di lantai aula SABDA yang sedikit berlubang, bisa jadi itu merupakan celah bagi pasukan rayap untuk datang dan akhirnya memakan buku-buku beserta raknya. Tidak perlu menunggu lama, teman-teman cowok bergegas mengangkat beberapa rak dan buku keluar dari ruangan. Rak dan buku yang terkena serangan pasukan rayap harus segera ditangani supaya tidak menular ke rak dan buku yang masih dalam kondisi baik. Setelah rak dan buku di halaman luar, saya dan teman-teman cewek bergegas membuka buku-buku yang ada satu per satu dan membersihkannya dengan kuas. Untuk itu, kami menyediakan ember-ember yang diisi dengan air, dan semua rayap disapu dimasukkan ke air dalam ember. Saya dan teman-teman yang lain bahu-membahu. Beberapa orang membersihkan rayap di rak dan buku, dan beberapa orang yang lain menyapu ruang training. Tidak lupa, kami juga memakai obat penyemprot rayap untuk membasmi pasukan rayap. Lalu, kami memisahkan antara buku-buku yang kondisinya masih baik dengan buku-buku yang kondisinya sudah termakan rayap. Dan, karena waktu sudah sore, rak-rak buku yang di luar dimasukkan kembali ke dalam ruangan. Bersyukur kami semua bisa mengerjakannya dengan baik sampai sore hari.

"Lega," itulah kata yang terucapkan oleh saya. "Setidaknya, pasukan rayap yang kelihatan sudah berhasil kami basmi," itu pikir saya. Jadi, tugas saya dan teman-teman SABDA tinggal menata ulang buku-buku yang sudah dibersihkan untuk diletakkan kembali di dalam rak buku. Dan, ternyata dugaan saya keliru. Beberapa hari kemudian, tepatnya Kamis, 22 Maret 2018, ketika kami semua sedang merapikan dan mengategorikan buku-buku yang sudah bersih dari pasukan rayap, ada salah satu teman kami, yaitu Kak Hadi, yang berkata, "Di sini juga ada rayap!" Kami sempat panik, jangan-jangan masih ada pasukan rayap yang tertinggal. Kami semua langsung bergegas melihat ke rak buku tersebut. Dan, puji Tuhan, rak buku dan buku-buku masih dalam kondisi aman, setidaknya kondisinya tidak separah seperti sebelumnya. Teman-teman cowok segera mengeluarkan rak buku tersebut dan membersihkannya. Sama seperti saat pembersihan yang pertama, lantai yang ada disemprot obat rayap ditambah dengan minyak solar, lalu lantai dialasi dengan seng. Lantai dialasi dengan seng supaya dapat mengantisipasi pasukan rayap datang kembali. Sementara itu, rak buku disemprot dengan obat rayap dan buku dibersihkan, dan sebagian yang lembab dijemur. Saya dan teman-teman bahu-membahu dalam membersihkannya. Bersyukur, pembersihan kedua ini tidak separah seperti saat pembersihan yang pertama. Kami bisa jauh lebih cepat membersihkannya karena buku-buku yang terkena pasukan rayap tidak sebanyak seperti pembersihan pertama. Proses pembersihan sudah selesai dan kami tinggal mengembalikan buku-buku dan rak-raknya di tempatnya seperti sediakala. Kesempatan ini kami pakai untuk sekalian menata ulang buku-buku di rak buku.

Koleksi buku yang beraneka ragam di SABDA merupakan "harta" yang harus dirawat karena buku-buku tersebut adalah jendela dunia. Dari buku-buku tersebut, saya dan teman-teman SABDA bisa memperoleh informasi dan belajar banyak hal. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari SABDA. Itu berarti saya juga harus ikut merawat dan menjaga kebersihan perpustakaan. Selain itu, momen bersih-bersih seperti ini menjadikan saya dan teman-teman SABDA lain semakin akrab. Kami bekerja sama dan bahu-membahu. Capek dan kotor sudah pasti, tetapi hal tersebut tidak membuat kami kelelahan yang berlebih karena kami mengerjakannya bersama-sama. Kiranya kita semua bersedia merawat dan menjaga setiap koleksi yang kita miliki. Ayo, budayakan menjaga tempat agar aman dari rayap, mengamati kalau ada tanda-tanda rayap datang, dan bersihkan secepat mungkin sebelum menular ke tempat lain! Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Roadshow SABDA di Tana Toraja: “Pelayanan Digital untuk Generasi Digital”

Mon, 03/26/2018 - 15:52

Oleh: Davida

Sejak 1994, Tuhan telah memimpin YLSA untuk berfokus pada pelayanan digital. Meskipun pada saat itu teknologi digital belum dikenal di Indonesia, bahkan internet pun belum masuk, dengan jelas Tuhan menyatakan kepada pendiri YLSA untuk mulai mempersiapkan bahan-bahan dengan cara mengetik semua bahan mentah yang kami dapatkan dari beberapa mitra, lalu memprosesnya secara digital. Bahan-bahan yang kami ketik pada awal pelayanan YLSA adalah Alkitab dan bahan studi Alkitab. Hal ini mengingatkan saya akan cerita Nuh yang membuat bahtera di daratan. Ketika banjir besar tiba, keluarga Nuh selamat karena perkenanan Tuhan dan karena Nuh taat untuk membuat bahtera walaupun belum melihat awan hujan. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Ia menolong staf YLSA mula-mula untuk setia dan tekun mengerjakan "proyek masa depan" Tuhan bagi bangsa Indonesia. Ketika teknologi digital akhirnya muncul, YLSA sudah siap dengan bahan-bahan digital untuk diintegrasikan dengan semua bentuk pelayanan digital yang ada hingga saat ini.

Kesaksian di atas saya bagikan untuk membuka sharing saya mengenai pelayanan YLSA dalam Pertemuan Pekerja KIBAID Indonesia di Tana Toraja, 22 Februari 2018. Pada kesempatan itu, tim YLSA (diwakili oleh saya dan Ody)) diundang untuk menyampaikan seminar tentang "Pelayanan Digital" yang dihadiri oleh sekitar 280 hamba Tuhan sinode KIBAID dari seluruh Indonesia. Acara ini adalah acara tahunan sinode KIBAID untuk memperlengkapi hamba Tuhan agar dapat melayani Tuhan dengan lebih baik. Pada kesempatan ini, saya menyampaikan materi "Pelayanan Digital untuk Generasi Digital". Inilah yang menjadi "passion" pelayanan YLSA, yaitu menjangkau generasi yang hidup pada era digital bagi Tuhan. Materi ini juga saya gabung dengan materi +TED @SABDA "Pemuridan untuk Digital Native" dan seminar Ibu Yulia di UPH Surabaya mengenai "Digital Word for Digital World".

Secara garis besar, materi membahas mengenai perkembangan teknologi yang sangat memengaruhi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi tidak hanya melahirkan inovasi-inovasi baru, tetapi juga melahirkan generasi "digital native", yaitu "penduduk asli" era teknologi. Pemerintah dan industri di Indonesia mengetahui bahwa generasi digital native adalah aset utama bagi negara yang ingin maju. Presiden Jokowi tidak henti-hentinya menyerukan agar ekonomi digital dimasukkan sebagai salah satu mata kuliah atau jurusan dalam pendidikan tinggi di Indonesia agar bangsa kita menjadi kuat dalam revolusi industri abad ke-21 ini. Melek teknologi juga harus menjadi perhatian penting dalam pendidikan di Indonesia, mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi. Pemerintah tahu benar bahwa melalui pendidikanlah, mereka dapat mengedukasi digital native untuk menggunakan teknologi demi kepentingan bangsa dan negara. Sekarang, pertanyaannya: bagaimana dengan gereja? Apakah saat ini gereja sudah menjadi gereja yang ramah digital native? Apakah saat ini gereja memperlengkapi jemaat untuk menggembalakan/memuridkan digital native agar mereka tahu bagaimana melayani dengan memakai teknologi untuk Kerajaan Allah? Apakah digital native dilibatkan dalam penyusunan program gereja era digital ini? Itulah tantangan yang diberikan kepada seluruh peserta pada saat itu. Jika gereja tidak lebih peduli dibandingkan pemerintah mengenai generasi digital native-nya, gereja harus bersiap kehilangan generasi tersebut! Tentu saja, ini sangat menyedihkan bagi masa depan gereja.

Setelah itu, materi dilanjutkan dengan tugas gereja sebagai alat Tuhan untuk membawa digital native memahami bahwa teknologi berasal dari Tuhan dan harus dipakai terutama untuk kemuliaan Tuhan. Alkitab telah memperlihatkan secara jelas bagaimana teknologi batu dan teknologi papirus dipakai untuk menyebarkan firman Tuhan pada zamannya. Setelah itu, ada mesin cetak Guttenberg yang digunakan untuk mencetak Alkitab. Lalu, pada saat ini, ada teknologi gawai yang harus dipakai untuk kepentingan firman Tuhan. Salah satu cara yang dapat menolong gereja untuk membawa generasi digitalnya menggunakan teknologi untuk Tuhan adalah gerakan #Ayo_PA!. Oleh karena itu, sesi kedua menjadi kesempatan pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan yang hadir untuk belajar menggunakan HP mereka untuk melakukan PA dengan metode S.A.B.D.A..

Kami bersyukur karena tidak ada kendala yang berarti selama proses pelatihan tersebut. Satu hari sebelumnya, melalui grup WA yang beranggotakan lebih dari 400 hamba Tuhan KIBAID, panitia menolong kami dengan mengumumkan kepada peserta untuk memasang aplikasi Alkitab, Tafsiran, Kamus, AlkiPEDIA, dan PETA Alkitab pada gawainya masing-masing. Oleh karena itu, ketika harinya tiba, hanya sedikit peserta yang belum sempat memasang aplikasi-aplikasi tersebut. Sebelum pelatihan berlangsung, beberapa peserta juga datang ke booth SABDA untuk dilatih menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut. Tidak sedikit pula yang sudah menggunakannya selama ini, hanya saja mereka belum tahu bagaimana memakainya secara maksimal.

Setelah pelatihan selesai, beberapa peserta mendatangi kami dan memberikan kesaksian bahwa materi ini membuka mata mereka mengenai pelayanan bagi digital native untuk menolong mereka menggunakan gawainya bagi Tuhan. Puji Tuhan, ada satu peserta yang bahkan mendorong seluruh peserta untuk tidak anti terhadap HP yang dibawa ke dalam gereja. Gereja seharusnya berada di depan untuk mendorong jemaat, khususnya digital native, untuk menggunakan HP dengan bijak, terutama untuk belajar firman Tuhan karena ada banyak keuntungan yang didapatkan.

Saya sendiri mendapatkan banyak berkat dari Tuhan melalui pelayanan ini. Selain bisa mudik ke kampung halaman saya, Tana Toraja, saya juga semakin melihat pentingnya melayani tubuh Kristus, baik itu secara organisasi maupun perorangan. Masih banyak hamba Tuhan yang melihat teknologi hanya sebagai alat untuk memudahkan hidup mereka, dan itu tidak ada hubungannya dengan pelayanan dan pertumbuhan rohani. Namun, saya bersyukur karena Tuhan mencerahkan pengurus dan banyak hamba Tuhan sinode KIBAID untuk lebih serius memikirkan dan menindaklanjuti pelayanan digital untuk generasi digital, dimulai dari diri sendiri. Kiranya menjadi berkat bagi Pembaca sekalian pula. Salam IT 4 GOD!

Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan!

Magang di SABDA — Magang Rasa Staf

Sat, 03/10/2018 - 15:55

Oleh: *Yoel

Perkenalkan, nama saya Yoel Bastian, saya staf magang YLSA dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, dari program studi Sastra Inggris. Tidak terasa, selama dua bulan, saya sudah menjalani masa magang di SABDA, yaitu 9 Januari -- 9 Maret 2018. Saya mengucap syukur atas penyertaan Tuhan sehingga saya bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan baik. Magang di SABDA merupakan rencana awal dan kemauan saya sendiri yang hasilnya melebihi ekspektasi saya. Alasan saya memilih magang di SABDA karena dari awal saya memang bertumbuh dalam komunitas pendidikan rohani. Selain itu, jarak kantor SABDA relatif dekat dengan rumah saya. Sebelum ini, saya hanya mengenal SABDA dari salah satu produknya, yaitu Alkitab elektronik di sistem Android. Ketika pertama kali datang ke SABDA, saya agak skeptis karena tempatnya tidak seperti ruang kerja yang saya bayangkan. Kantor SABDA terdiri dari dua bangunan yang saling berhadapan, sebelah barat merupakan kantor lama, dan sebelah timur adalah kantor baru, yang biasa disebut "GS" (Griya SABDA). Rasa skeptis saya berubah menjadi rasa kagum saat mengetahui apa saja yang sudah dikerjakan SABDA. Begitu banyak publikasi yang dibagi dalam situs-situs khusus, serta Software Alkitab SABDA dan pustakanya yang memang sangat tepat guna untuk masyarakat Kristen.

Pada saat wawancara, Kak Evie memberi syarat bahwa walaupun saya akan ditempatkan dalam tim penerjemah, saya juga akan diberi tugas-tugas lain. Saya menyetujuinya karena saya pikir tugas-tugas tersebut pasti masih berhubungan dengan menulis. Ternyata, jauh lebih luas dari yang saya pikirkan. Tugas-tugas lain yang saya kerjakan antara lain adalah menerjemahkan subtitle video dari The Bible Project, mencari bahan untuk situs-situs, rekaman audio artikel publikasi, aktif dalam Grup Renungan Harian, dan lain-lain. Ini adalah sesuatu yang positif supaya saya dapat mempelajari kemampuan baru. Namun, ironinya, saya jadi tahu ternyata saya tidak menguasai Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD). Walaupun mengambil jurusan penerjemah, entah mengapa EYD dan tata bahasa Indonesia justru tidak dibahas saat kuliah, mungkin karena mahasiswa dianggap sudah bisa. Solusinya, saya langsung membeli buku EYD dan mempelajarinya. Kendala lain muncul, yaitu saya tidak tahu istilah-istilah khusus tentang kerohanian Kristen dalam bahasa Inggris. Solusinya, saya harus banyak membaca artikel rohani Kristen dalam bahasa Inggris.

Mengenai suasana kerja, tidak seperti dugaan saya, kerja kantoran pasti bisa santai-santai dan sebagainya. Ternyata SABDA berbeda, setiap tugas harus diselesaikan sesuai ketentuan deadline sehingga semua staf fokus bekerja. Jika sudah selesai mengerjakan satu tugas, akan ada tugas baru lagi. Saya tidak membayangkan bahwa ternyata SABDA tidak seperti yang lain, yang stafnya malas-malasan. Atau, seperti suasana kuliah yang santai dan mahasiswa bisa main HP kapan saja. Di SABDA pula, saya temui kelemahan saya ketika bekerja, yaitu harus diperintah dahulu, baru mengerjakan.

Saya juga diberi kesempatan untuk ikut roadshow #Ayo_PA! di Perkantas Alumni, Solo, sebagai sie dokumentasi. Salah satu pelajaran penting adalah ketika menjalankan tugas dalam roadshow, saya harus lebih proaktif. Tidak perlu menunggu orang lain menyuruh saya melakukan ini dan itu jika itu sudah menjadi tanggung jawab saya. Selain itu, kegiatan lain yang saya ikuti adalah kelas DIK PESTA. Dalam kelas tersebut, saya diajarkan tentang teologi berdasarkan Alkitab.

Saya bersyukur dan merasa bahagia bisa magang di SABDA. Saya berterima kasih kepada semua staf yang menerima saya, yang saya anggap seperti keluarga kedua saya. Terima kasih atas setiap bimbingan, tuntunan, dorongan, teguran, yang membuat saya berkembang menjadi lebih baik. Saya mendapat banyak pelajaran dan kemampuan baru di sini. Saya beruntung bisa merasakan bekerja di dua kantor, bulan pertama di kantor lama dan bulan kedua di kantor baru. Ini menjadikan saya bisa akrab dengan hampir semua staf. Di kantor lama, ada Kak Kun, Kak Elly, dan Kak Pio yang terkadang bercanda supaya suasana tidak tegang. Di kantor baru (GS), ada Kak Ariel dan Kak Indah pada waktu siang, juga Kak Tika dan Kak Ody pada waktu sore. Tentu saja semua staf saling menghormati dan tidak ada "gangs" yang terbentuk. Tidak ada jarak walaupun semua berbeda usianya, semua seperti keluarga sendiri.

Selain staf yang menyenangkan, ada satu hal lagi yang saya dapat dari magang di SABDA, yaitu bertumbuh secara rohani. PA setiap Selasa, Rabu, dan Kamis serta PD setiap Senin dan Jumat membuat saya semakin hari semakin kaya dalam merenungkan firman Tuhan. PA dengan orang lain itu membuat kita semakin kaya karena kita mendapat pandangan baru dari apa yang orang lain dapatkan dari firman. Saya belajar bagaimana benar-benar menggali Alkitab. Persekutuan doa mengajarkan pentingnya berdoa bagi orang lain. Sebelumnya, saya tidak terlalu percaya akan kuasa doa, tetapi melalui PD saya dibukakan pengertian berdoa untuk orang lain.

Magang di SABDA, kita dapat merasakan bagaimana menjadi staf beneran karena sesungguhnya kita diberi beban yang kurang lebih sama dengan staf tetap dan kita dilibatkan dalam seluruh jenis kegiatan yang ada. Banyak pelajaran yang saya dapat dan kembangkan lagi di dunia kerja nanti. Terima kasih YLSA.

PA Perdana di SABDA Membawa Dampak Besar

Fri, 03/02/2018 - 15:20

Oleh:*Nehemia

Shalom, Perkenalkan nama saya Nehemia Meirardfeldin Krisprianugraha. Saya adalah staf magang dari SMK Bhina Karya, Karanganyar. Puji Tuhan, saya ditempatkan di SABDA, dan sudah berada di SABDA selama beberapa minggu. Kali ini, saya akan berbagi pengalaman selama di SABDA. Di SABDA, saya belajar banyak hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Di sini, saya tidak hanya belajar bekerja, tetapi belajar bertumbuh secara rohani.

Sebelum mulai bekerja, semua staf melakukan Pendalaman Alkitab (PA). Nah, dari kegiatan ini, kami dapat saling berbagi hasil pembelajaran firman Tuhan. Inilah pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Menurut saya, pengetahuan duniawi penting, tetapi pengetahuan rohani jauh lebih penting. Misalnya, ketika saya sedang ditimpa masalah yang sangat berat, kemampuan duniawi yang saya miliki tidaklah selalu menjadi solusi yang baik untuk mengatasi masalah tersebut. Bahkan, kemungkinan malah bisa semakin memperburuk keadaan. Akan tetapi, jika saya mengatasinya dengan sikap rohani yang benar, yaitu dengan cara mendekatkan diri kepada Tuhan, cara ini sangat menolong saya. Selain itu, Yesus tidak hanya menolong anak-anak-Nya dalam kesulitan dan kesesakan, tetapi justru menyelamatkan kita dari belenggu dosa. Dengan demikian, kita tidak jatuh dalam kematian kekal, tetapi justru beroleh hidup yang kekal bersama Bapa kita di surga.

Saya mulai belajar betapa pentingnya pertumbuhan rohani. Saya akan terus berusaha untuk mencari kebenaran yang sejati, yang ada dalam pribadi Yesus.

Sebelum magang di SABDA, saya jarang membaca Alkitab, selain ketika sedang mazbah keluarga. Namun, di SABDA, saya harus setiap pagi membaca dan merenungkan firman Tuhan walaupun awalnya saya melakukan semuanya itu dengan hati yang berat karena belum terbiasa. Namun, waktu terus berjalan dan saya pun mulai terbiasa dengan hal itu. Hasilnya, kebiasaan buruk yang selama ini berada dalam diri saya mulai hilang. Di satu sisi, saya mulai belajar dan membiasakan diri untuk membaca dan mempelajari firman Tuhan. Bagi saya, hal itu bukan hanya kebiasaan atau rutinitas, melainkan suatu kegiatan yang akan selalu memperbarui diri saya.

Inilah pengalaman perdana yang paling berkesan bagi saya selama magang di SABDA. Di SABDA, saya belajar banyak hal dan mendapatkan saudara-saudari yang baru. Selain itu, saya juga belajar bekerja sama dan mengusahakan kekompakan dalam dunia kerja. Kekompakan sangat dibutuhkan dalam hal ini karena masalah yang berat dapat diselesaikan dengan kerja sama dan kekompakan. Hal itu juga merupakan salah satu pengajaran yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan di tempat lain.

Kiranya cerita saya ini dapat mengingatkan kita semua betapa pentingnya firman Tuhan dalam kehidupan kita. Fiman Tuhan adalah kebenaran yang sejati sampai selama-lamanya. Tuhan memberkati.

Pengalaman Mengikuti Pelatihan Bahasa Ibrani

Sun, 02/25/2018 - 09:56

Oleh: Aji

Mempelajari bahasa asing selalu memberi tantangan tersendiri bagi saya. Terlebih lagi, mempelajari suatu bahasa yang benar-benar baru dan menggunakan alphabet non-Latin. Hal inilah yang saya temui ketika mengikuti pelatihan struktur dasar bahasa Ibrani pada Kamis, 8 Februari 2018. Pelatihan yang digelar di Griya SABDA ini diadakan dalam rangka menunjang bisa Anda baca di Berita YLSA 136. bahasa Ibrani sehingga bisa lebih baik lagi dalam menyunting draf AYT Perjanjian Lama (Selengkapnya mengenai proyek AYT [Alkitab Yang Terbuka] bisa Anda baca di Berita YLSA 136. Seluruh peserta pelatihan ini adalah para editor AYT, yang kebanyakan masih awam dengan struktur dasar bahasa Ibrani.

Pada saat pelatihan dilaksanakan, materi disampaikan oleh Danang Dwi Kristiyanto. Danang adalah salah satu editor AYT yang sudah banyak mempelajari dan menguasai bahasa Ibrani. Pelatihan diawali dengan penjelasan mengenai jenis-jenis alphabet Ibrani yang seluruhnya ada empat jenis , yaitu proto-sinaptic script, Phoenician alphabet, Aramaic alphabet, dan Hebrew alphabet. Dari antara keempat alphabet tersebut, Hebrew alphabet adalah jenis alphabet Ibrani yang banyak digunakan oleh orang Yahudi pada zaman modern. Materi ini diikuti dengan pengenalan huruf-huruf bahasa Ibrani dan cara pelafalannya. Dan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai prefiks (imbuhan awal) dan sufiks (imbuhan akhir) dalam bahasa Ibrani.

Bagian paling menarik dalam pelatihan ini adalah materi yang membahas prefiks dan sufiks oleh karena kompleksitasnya. Prefiks dalam bahasa Ibrani adalah seperti imbuhan me-, di-, pe-, dan ter- dalam bahasa Indonesia. Fungsinya antara lain, untuk membentuk kata depan, kata sambung, atau membentuk kalimat tanya. Contoh-contoh dari prefiks Ibrani adalah "Aleph", "Bet", "Vav", "Yud", "Kaf", "Lamed", "Mem", "Nun", "Shin", dan "Tav". Prefiks jika diimbuhkan pada suatu kata akan mengubah lafal dan maknanya. Misalkan: kata "Judah", jika ditambahkan prefiks "bet", akan dibaca "bihudah" yang berarti "di Yehuda". Di pihak lain, sufiks dalam bahasa Ibrani sejajar dengan akhiran "kan", "lah", "ku", "mu" dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Ibrani, sufiks digunakan untuk membentuk kata sifat, menunjukkan kepemilikan, gender, dan jumlah, serta membentuk kata kerja, khususnya kata kerja yang bersifat lampau (past tense). Salah satu contoh penggunaan sufiks adalah pemberian akhiran pada kata "susan", yang berarti "kuda". Kata "susan", jika diberi akhiran "he", "mim", dan "tav", akan berubah menjadi "susa" (feminim tunggal), "susim" (maskulin jamak), dan "susot" (feminim jamak). Memahami cara kerja prefiks-sufiks sangatlah penting dalam proses editing teks Ibrani supaya perubahan sifat kata yang diakibatkan oleh pemberiaan prefiks-sufiks ini bisa diterjemahkan dengan benar.

Bahasa Ibrani, menurut pandangan saya, merupakan salah satu bahasa yang sangat rumit untuk dipelajari. Selain memiliki gender, bahasa ini memiliki banyak sekali ragam imbuhan yang mengubah makna dan pelafalan. Beberapa kata harus dilafalkan dengan "suara tenggorokan" seperti pelafalan bahasa Perancis; dan beberapa huruf yang sama jika dilafalkan dengan cara pengucapan yang berbeda bisa jadi menghasilkan makna yang berbeda. Namun demikian, bentuk alphabetnya tidak serumit alphabet bahasa-bahasa di kawasan Asia Timur atau Jazirah Arab; kurang lebih sedikit lebih rumit ketimbang alphabet Cyrillic yang bentuk alphabetnya sama-sama kaku.

Saya sendiri bersyukur bisa mengikuti pelatihan ini karena bisa belajar lagi satu bahasa yang baru. Saya juga semakin mengerti bahwa pemahaman bahasa ini adalah syarat mutlak dalam proses editing draf AYT untuk kitab PL. Walaupun masih banyak hal lagi yang perlu saya pelajari, tetapi paling tidak saya sudah mendapatkan pengantar sebelum mendalami lebih jauh bahasa Ibrani.

Bagi Anda yang tertarik untuk mempelajari bahasa Ibrani, Anda bisa mengakses bahan-bahan yang kami gunakan dalam pelatihan ini melalui tautan berikut:
a. Hebrew Alphabet,
b. Suffixes in Hebrew, dan
c. Prefixes in Hebrew.

Demikian "sharing" dari saya. Kiranya materi yang saya bagikan bisa bermanfaat bagi Anda semua. Doakan pula proyek AYT yang masih terus berjalan: Kiranya seluruh editor AYT diberi hikmat agar bisa menghasilkan teks Alkitab yang setia, jelas, dan relevan bagi generasi zaman ini. Tuhan Yesus memberkati.

Pengalaman Mengerjakan AYT: “Tuhan Menolong Kita”

Thu, 02/15/2018 - 09:15

Oleh: *Markus

Shalom, Saudara-Saudari yang terkasih dalam Kristus Yesus. Perkenalkan, nama saya Markus, yang sejak November 2017 bergabung menjadi staf di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Saya ingin berbagi pengalaman ketika saya terlibat dalam proyek Alkitab Yang Terbuka (AYT). Proyek ini adalah proyek penerjemahan ulang Alkitab yang memiliki prinsip setia, jelas, dan relevan. Informasi lengkap mengenai AYT dapat Saudara lihat di Berita YLSA 136. AYT sejatinya sudah mulai dikerjakan oleh YLSA sejak 2012. Namun, hanya Alkitab Perjanjian Baru, jadi belum menyelesaikan teks untuk Perjanjian Lama. Oleh karena itu, pada 2018 ini, dengan komitmen yang serius, pengerjaan Perjanjian Lama akan dikerjakan dalam kurun waktu 4 bulan untuk tahap 5. Tentu masih ada tahap-tahap berikutnya.

Saya bersyukur mendapat kesempatan untuk ikut terlibat dalam proyek AYT. Selama hampir 2 bulan pengerjaan proyek ini, saya mendapat banyak pengalaman yang berisi hambatan, tantangan, dan sukacita, terutama yang dialami oleh para editor AYT. Setiap hari, tim editor mengerjakan AYT pada pukul 09.00 -- 15.00 WIB, dengan diselingi pertemuan "scrum" dan makan siang. Ini cukup berat karena harus fokus mengerjakan editing AYT selama kurang lebih 5 jam setiap hari! Pada minggu pertama, tim editor mengalami tantangan untuk beradaptasi dengan rutinitas harian kantor yang juga harus diatur dan dikerjakan agar tidak terbengkalai.

Pengalaman baru lainnya bagi saya adalah mengikuti scrum AYT setiap hari. Scrum AYT merupakan pertemuan dengan semua editor untuk mengevaluasi hasil kerja hari sebelumnya, kesulitan yang dihadapi masing-masing editor, dan rencana kerja untuk hari berikutnya. Melalui scrum ini, kami mendiskusikan kesulitan kata, istilah, terjemahan, dan hal-hal lainnya, dan mencari solusinya agar dapat meningkatkan kualitas teks AYT. Setiap minggunya, yaitu setiap Senin, kami melakukan retrospektif untuk mengevaluasi hasil kerja selama seminggu. Retrospektif juga diwarnai dengan sharing tentang pelajaran yang diperoleh selama menyunting dan membaca masing-masing kitab yang sedang dikerjakan.

Masing-masing editor tidak mengerjakan editingnya sendiri. Pada akhir hari, selama 30 menit kami melakukan kegiatan yang disebut "pairs". Dalam proses ini, dua orang editor akan berpasangan untuk saling membacakan dan mendiskusikan hasil editing mereka hari itu, terutama untuk mencari solusi kalau ada masalah penerjemahan yang dihadapi. Bagi saya, "pairs" dengan teman sebelah membantu untuk melancarkan pengerjaan proyek AYT. Selama ini, proses pairs sangat membantu karena masing-masing editor memiliki kelebihan dan kemampuan yang bisa melengkapi editor lainnya.

Kesulitan lain yang kami hadapi dalam minggu-minggu pertama pengerjaan proyek AYT adalah kendala dengan infrastruktur, mulai dari internet yang mati dan lemot, atap bocor karena hujan, komputer yang bermasalah, dan kendala teknis lainnya. Namun, bersyukur kepada Tuhan untuk pengurus infrastruktur, yaitu Mas Hadi, yang dengan sigap turun tangan mengatasi kendala infrastruktur ini. Selain itu, saya juga bersyukur karena pada akhirnya kantor AYT Center dapat digunakan dengan maksimal. Sebelumnya, kantor ini hanya dipakai oleh sedikit staf. Namun, sekarang, ketika tim editor AYT mengerjakan proyek di AYT Center, ruangan yang dahulu sepi, menjadi "penuh" dan "hidup".

Pada awalnya, saya merasa takut ketika diminta untuk terlibat dalam proyek AYT. Namun, hari lepas hari, ketakutan saya makin berkurang karena saya melihat bahwa tangan Tuhan bekerja untuk menolong kami. Meski pada awalnya saya takut dan bingung, tetapi Tuhan menolong saya untuk tetap tekun mengerjakan bagian saya. Seperti yang kami doakan dan serukan setiap sehabis scrum AYT, saya percaya bahwa "Tuhan menolong kita". Kiranya teman-teman semakin bersemangat mengerjakan AYT. Tuhan Yesus memberkati.

"Sebab, Yesus sendiri menderita ketika dicobai, maka Ia dapat menolong mereka yang sedang dicobai." (Ibrani 2:18, AYT)

Pengalaman Baru Mengerjakan Tugas Membuat Gambar untuk Quote

Fri, 02/02/2018 - 15:21

Oleh: Indah, Mei, dan Kun

Berdasarkan keputusan bersama pada rapat akhir tahun 2017 di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), tugas membuat quote gambar akan dilakukan oleh masing-masing tim. Hal ini perlu dilakukan untuk meringankan beban tim Multimedia yang personelnya terbatas, sedangkan tugasnya sangat banyak. Oleh karena itu, dengan teknologi yang ada, seperti Quote Generator atau Power Point, diharapkan anggota-anggota tim dapat membuat sendiri gambar quote secara mandiri. Hal ini adalah pengalaman baru bagi beberapa orang yang mendapatkan tugas ini. Berikut ini adalah cerita dari Indah, Mei, dan Kun yang juga mendapatkan tugas baru tersebut.

"Shalom, saya Indah, dari tim Penjangkauan. Saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman mengerjakan tugas membuat quote yang saya terima pada awal tahun ini. Awalnya, saya bergumul karena merasa kurang paham dalam mengerjakan tugas ini. Namun, dengan semangat yang Tuhan beri, saya mendorong diri untuk belajar dan mencari cara guna mendapatkan hasil yang maksimal. Saya mendapat tugas untuk membuat quote gambar bidang e-Wanita. Bahan untuk membuat quote, berupa kumpulan quote teks, saya dapatkan dari Mbak Okti sebagai pemimpin redaksi publikasi e-Wanita.

Hal pertama yang menjadi kesulitan saya adalah cara pembuatan quote. Banyaknya masukan dari beberapa teman terhadap quote yang sudah dikerjakan membuat saya semakin bingung. Saya pernah membuat quote memakai aplikasi di handphone, tetapi hasilnya tidak sebaik jika menggunakan CorelDraw, sementara saya belum begitu menguasai CorelDraw. Akan tetapi, saya bersyukur karena teman-teman menolong saya belajar menggunakan PPT untuk membuat quote gambar. Terima kasih untuk teman-teman yang bersedia berbagi ilmu dalam pembuatan quote, kiranya apa yang kalian bagikan dapat saya terapkan.

Quote pertama yang saya buat adalah quote untuk bulan Januari. Namun, hasil kerja saya mendapat banyak masukan dan perbaikan dari tim Multimedia. Akhirnya, saya merasakan juga apa yang dirasakan oleh teman-teman tim Multimedia ketika mendapatkan feedback quote dari para pemimpin redaksi, termasuk saya. Dari proses quality control (QC), rasanya sulit sekali mendapat kata "OK" untuk quote gambar yang saya kerjakan. Saya juga pernah harus mengganti background berkali-kali dan tetap saja harus direvisi. Puji Tuhan, ada yang menolong saya dalam proses perbaikan quote. Tuhan kirimkan Lukas untuk memberi masukan dan mencarikan background yang sama seperti yang saya mau. Oh ya, ada satu teman lagi yang memberikan masukan mengenai jenis tulisan (font) yang saya pakai dan dia bersedia menyediakannya. Terima kasih Kak Hadi.

Ya, beginilah suasana pengerjaan quote, semakin saya bingung semakin banyak teman yang Tuhan kirim untuk menolong. Dan, masih ada satu kesulitan lagi yang saya temui, yaitu bagaimana cara memadumadankan warna antara gambar dan font karena terkadang background yang penuh warna mempersulit pemilihan warna untuk jenis tulisan. Mencari background pun juga tidak boleh sembarangan karena background harus mewakili maksud tulisan.

Saya bersyukur karena quote bulan Januari dan Februari sudah terpasang di Facebook dan Instagram SABDA_ YLSA. Banyak hal dan cara baru yang saya dapatkan dalam proses belajar kali ini. Puji Tuhan!"

---
Shalom, saya Mei, dari tim Pendidikan Kristen. Saya bersyukur karena dipercaya untuk membuat quote gambar bidang e-BinaAnak dan e-Humor. Pekerjaan ini merupakan hal baru bagi saya. Akan tetapi, saya bersyukur karena sebelumnya sudah pernah berlatih membuat quote setiap hari Selasa dalam rangka menanggapi kliping artikel koran yang wajib dibaca untuk menambah wawasan kami. Walau tugas ini merupakan hal baru, tetapi saya bersemangat mengerjakannya. Awal mengerjakan tugas ini, saya dibantu beberapa staf yang tidak pelit dalam berbagi ilmu mereka. Hingga akhirnya, saya mulai terbiasa mengerjakan sendiri. Ada kepuasan ketika quote itu jadi dan lolos cek dari tim Multimedia. Saya bersyukur karena di SABDA, saya belajar banyak hal baru, salah satunya tugas membuat quote. Saya berharap quote yang sudah saya dan teman-teman buat dapat memberkati orang-orang yang membacanya."

----

Shalom, saya Kun, dari tim Pembinaan. Senang rasanya mendapat tugas baru yang belum pernah saya kerjakan. Tugas baru ini menuntut kreativitas dan kesabaran dalam membuatnya. Tugas ini adalah membuat quote gambar. Dalam pembuatan quote gambar, saya dipercaya untuk membuat quote bidang Misi dan Doa. Setiap bulannya, tim Pembinaan menerbitkan dua quote untuk setiap bidang. Menurut saya, pembuatan quote gambar ini tidak begitu sulit karena saya sudah mendapatkan training sehingga saya tinggal menerapkannya. Meski demikian, ada juga kendalanya, yaitu dalam proses QC dari tim Multimedia. Ketika mendapat feedback dari mereka, saya merasa kewalahan karena masih bingung juga dalam perbaikannya. Kadang dalam perbaikan, saya harus lebih detail dalam "mengutak-atik" ikon-ikon yang ada di PPT. Mari menjadi insan yang terus kreatif dan berkarya. Inilah pengalaman yang bisa saya bagikan. Terima kasih. Tuhan memberkati."

Pengalaman PA dengan Mendengarkan Lagu Rohani

Sun, 01/21/2018 - 11:18

Oleh: Maskunarti

Shalom, salam sejahtera bagi kita semua. Bersyukur kepada Tuhan Yesus, Maskunarti kembali menyapa pembaca setia blog SABDA. Dalam kesempatan ini, saya akan berbagi sedikit tentang pengalaman saya mengikuti Pendalaman Alkitab (PA) di SABDA, pada November 2017 yang lalu. PA tersebut sungguh berbeda dengan PA sebelumnya. Mengapa berbeda? Kali ini kami melakukan PA dengan sarana lagu (musik).

Musik (lagu) adalah bunyi yang teratur memiliki nada dan irama yang dapat menolong pendengarnya masuk dalam suasana atau perasaan tertentu. (Nama situs: yuksinau.id). Lagu dapat menjadi penghibur saat dalam kesedihan, dapat memotivasi dan memberi semangat dalam menjalankan aktivitas. Secara khusus dari kacamata rohani, lagu (musik) adalah sarana penyembahan kepada Tuhan mengungkapkan kebaikan, keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Tuhan. Dalam Alkitab, kita juga dapat melihat bagaimana musik menjadi salah satu alat yang dipakai Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Sebagai contoh, dengan musik, Yosua dan bangsa Israel dapat menghancurkan tembok Yerikho (Red: Yosua 6).

PA menggunakan lagu ini kami lakukan dengan terlebih dahulu mendengarkan lagu (musik) rohani. tersedia juga lirik lagunya, yang kami baca untuk mengantar kita kepada pendalaman Alkitab. Lagu-lagu yang dipilih diambil dari album Stefanie Limanputri "Sepanjang Jalan Tuhan Pimpin" karena lagu-lagu yang dinyanyikan alkitabiah dan dinyanyikan dengan sangat bagus. Setelah mendengarkan lagu tersebut, kami diminta untuk merenungkan dan memikirkan ayat yang terkait dengan lagu, dan belajar apa dari lagu beserta aplikasinya. Dalam kelompok kecil, kami mendiskusikan lirik-lirik lagu yang menuntun kami kepada firman Tuhan. Lalu, kami mensharingkan hasil diskusi kami dalam kelompok besar.

Bersyukur sekali, saya dan teman-teman staf SABDA bisa mendengarkan lagu-lagu hymne yang berkualitas. Beberapa lagu yang berkesan, antara lain: "Sepanjang Jalan Tuhan Pimpin", "Speak, O Lord", "Sungguh Besar Kau Allahku", "Grace Alone". Pengalaman saya, saat lagu-lagu tersebut diputar, irama dan lirik dari lagu-lagu tersebut mampu menggetarkan hati saya. Lirik lagunya memiliki makna yang dalam, karena penulis hendak menceritakan pengalaman pribadinya bersama Tuhan, dan dituangkan dalam lirik-lirik lagu yang indah. Lagu-lagu tersebut menyadarkan saya bahwa Tuhan itu ada dan sungguh nyata, Dia selalu ada bagi umat-Nya yang senantiasa bergantung dan mengandalkan-Nya.

Dalam PA dengan lagu ini saya belajar beberapa hal, antara lain: Salah satu variasi metode PA yang baru bagi saya dan teman-teman staf SABDA. Lebih 'refreshing' karena mendengarkan lantunan yang membuai. Lalu, saya juga diingatkan bahwa kehendak Tuhan bisa dinyatakan kepada manusia dari banyak cara. Melalui lagu-lagu tersebut, saya begitu dikuatkan dalam menghadapi pergumulan hidup dan peka mendengar firman Tuhan. Saya merasa Tuhan berbicara kepada saya melalui lirik-lirik dalam lagu tersebut. Praise the Lord! Selain itu, dalam PA kali ini, saya diajak untuk belajar kritis. Saya, yang sebelumnya ketika menyanyikan lagu-lagu dalam ibadah di gereja hanya sebatas menyanyi dan kurang mendalami lirik-lirik lagu dan latar belakangnya, sekarang saya diajak untuk mendalami dan memaknai setiap lagu dengan baik.

Ini yang bisa saya bagikan untuk pembaca setia blog SABDA, kiranya menjadi berkat. Segala kemuliaan dan hormat hanya bagi Tuhan Yesus Kristus.

Roadshow #Ayo_PA! di SMK Warga, Solo

Mon, 01/08/2018 - 15:40

Oleh: *Irene

Pada 24 November 2017, saya diberi kesempatan untuk mengikuti acara roadshow #Ayo_PA! di SMK Warga, Solo. Jujur, saya sedikit khawatir karena saya belum begitu paham tentang acara ini. Saya belum pernah menggunakan aplikasi-aplikasi yang digunakan YLSA untuk pendalaman Alkitab, dan saya khawatir apakah saya bisa membantu teman-teman di sana. Pukul 10.45 WIB, saya berangkat menuju SMK Warga bersama Okti, Santi, Hadi, dan Pio. Sebelumnya, saya diberi tahu bahwa tugas saya nanti adalah membuat dokumentasi dan menjaga booth.

Sesampainya di sana, ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan harapan kami, seperti ruangan yang masih digunakan, kursi yang belum ditata, tidak adanya mike, dll. Akan tetapi, saya salut dengan teman-teman YLSA karena tetap tenang dan mulai mengerjakan hal yang bisa dilakukan terlebih dahulu. Kami mulai dengan memasang banner, mempersiapkan bahan presentasi, menata booth dan kursi, sambil menunggu Pak Iwan (guru pembimbing). Selang beberapa menit kemudian, aula yang tadinya sepi mulai penuh dengan siswa-siswa yang akan mengikuti persekutuan siang hari itu. Ada sekitar 100-an siswa yang datang. Kami juga meminta bantuan salah satu siswa untuk memainkan gitar saat pujian pembuka.

Sesi pertama tentang "Tujuh Alasan Pentingnya Mempelajari Alkitab" disampaikan oleh Kak Okti, dan dilanjutkan oleh Kak Santi pada sesi kedua tentang "Penggunaan Teknologi Digital untuk ber-PA". Selain itu, pada sesi kedua ini juga dijelaskan tentang metode PA yang telah dikembangkan oleh YLSA, yaitu S.A.B.D.A (Simak, Analisa, Belajar, Doa/Diskusi, dan Aplikasi). Kedua presenter menyampaikan materi dengan sangat baik meskipun ada waktu-waktu tertentu mereka harus menegur beberapa siswa karena tidak fokus dan ramai. Siswa-siswa yang membawa HP dan memiliki paket data rata-rata berhasil mengunduh lima aplikasi yang telah dijelaskan, yaitu aplikasi Alkitab, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, dan Peta Alkitab. Mereka tidak sungkan untuk bertanya pada saat mengalami kesulitan, dan teman-teman YLSA dengan sigap membantu. Pada akhir presentasi, Santi memberi kuis untuk siswa-siswa tersebut. Mereka diberi instruksi untuk mencari berapa jumlah kata "firman" dalam kitab-kitab Injil. Para siswa SMK ini sangat antusias, mereka berebut untuk bisa menjawab. Namun, banyak dari mereka yang tidak mendengarkan instruksi dengan baik sehingga jawaban mereka kurang tepat, dan Santi harus mengulang instruksi. Alhasil, ada satu siswa yang bisa menjawab dengan tepat dan mendapatkan hadiah dari YLSA.

Saya sangat bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini. Mungkin pada awal acara, banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan kami, tetapi Tuhan menolong kami. Saya percaya bahwa Roh Kudus akan membimbing mereka dan memberikan pertumbuhan. Saya pun bersukacita karena setelah persekutuan selesai, ada beberapa siswa yang menghampiri booth kami. Mereka mengambil brosur "Anda Punya Waktu 60 Hari" yang bisa membantu mereka untuk menyelesaikan membaca Alkitab PB dalam waktu enam puluh hari. Saya berdoa kiranya mereka bisa berkomitmen dalam melakukannya dan bisa membagikan apa yang mereka dapat ke orang-orang di sekitar mereka.