RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 2 hours 15 min ago

Mereka yang Haus pun Mengantre – Testimoni Roadshow SABDA di Surabaya

Tue, 09/05/2017 - 10:56

Oleh: *Jovita

"Weekend nanti waktunya istirahat," begitu pikir saya pada pertengahan minggu. Namun, ternyata Tuhan punya rencanalain yang jauh lebih indah daripada rancangan manusia, apalagi sekadar tidur siang akhir pekan. Dibawa-Nya kami, Ibu Yulia, Evie, dan saya untuk melayani di GKI Sulung Surabaya, 12 -- 13 Agustus 2017. Inilah perjalanan roadshow pertama saya bersama SABDA.

Terletak di daerah Alun-alun Contong, GKI Sulung merupakan GKI tertua di Surabaya. Desain interior aula kebaktiannya lumayan mengejutkan. Ketika gereja-gereja ortodoks biasanya mempertahankan gaya desain kolot yang simetris kanan kiri, tidak demikian halnya GKI Sulung. Dinding di belakang mimbar berhiaskan elemen kayu membentuk garis miring dari bawah ke atas dan sebaris pilar di sisi kiri yang tingginya juga berirama mengikuti garis miring itu. Kombinasinya memberikan kesan asimetris secara keseluruhan, tetapi tetap cocok dengan penempatan salib besar di tengah. Sebuah simbol Kristus sebagai sentral, pertumbuhan yang meningkat, serta kebaruan. Estetika inovatif ini -- setidaknya di antara gereja tua di Indonesia -- memanjakan mata desain yang rindu perubahan. Dengan perpustakaan yang cukup lengkap, kantin yang nyaman, serta lahan parkir indoor, tempat ini ideal untuk menjadi rumah kedua bagi jemaatnya, secara rohani maupun jasmani.

Di tepi lahan parkir itulah, yakni di depan perpustakaan, SABDA diberi tempat untuk menggelar booth tempat kami memajang produk-produk Alkitab audio(link) serta membantu instalasi aplikasi PA (Pendalaman Alkitab) SABDA untuk ponsel dan laptop, selama tiga kali kebaktian berturut-turut. Jadi, setelah Ibu Yulia memimpin jalannya ibadahdan berkhotbah, kami siap di lantai bawah untuk menyambut siapa saja yang mampir melihat dan mendapatkan bahan-bahan SABDA untuk pelayanan.

Ini bukan booth biasa karena semua yang tersedia diberikan secara cuma-cuma, tepat seperti pesan Yesus kepada murid-Nya. Inilah indahnya pelayanan kami, segala usaha "promosi" dan ramah tamah bukanlah topeng yang bertujuan untuk mencari keuntungan sendiri, melainkan murni demi "keuntungan" orang lain.

Hampir semua produk SABDA berbasis digital sehingga orang muda tentu sangat familiar dengannya. Namun ironis, mereka yang datang, dengan antusias menyisihkan waktu dan tenaga untuk mendapat sarana pembelajaran Alkitab digital justru bukan para digital native. Bapak, ibu, bahkan kakek-nenek usia senja yang sebagian besar hanya tahu cara menelepon dan mengetik, justru merekalah yang berwajah cerah dan mata berbinar yang dengan penuh semangat meminta aplikasi Alkitab untuk ponselnya, lengkap dengan tafsiran, kamus, dan aplikasi penunjang lain untuk belajar Alkitab. Merekalah juga yang mengisi tasnya penuh dengan DVD Alkitab audio berbagai bahasa, baik untuk didengar sendiri maupun dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan Injil. Mereka semualah yang selama ini -- sadar maupun tidak -- telah kami layani dari jauh lewat bahan-bahan teologi yang dirilis online. Berjumpa dengan mereka telah membuat kami melihat bagaimana karya yang kami kerjakan di kantor dapat menjangkau orang di luar sana, apa yang mereka butuhkan, apa yang bisa kami tingkatkan.

Melihat fenomena tersebut, saya sadar dunia digital adalah sebuah ladang misi, sama seperti kampung di pedalaman atau komunitas urban di luar negeri. Digital juga adalah sebuah bahasa dan budaya, sama seperti bahasa Afrika atau budaya Dayak. Jadi, menjangkau digital native adalah pekerjaan misi, tak kalah penting dibanding pekerjaan misi yang pergi secara fisik nun jauh ke sana. Kita para pendahulu harus belajar bahasa dan cara berpikir mereka untuk dapat mengantarkan Injil ke pulau digital agar generasi yang hidup di antara berbagai gawai yang tersedia berjumpa dengan Kristus. Terima kasih. Soli Deo Gloria!

Staf YLSA Mengikuti Training “Talent is Never Enough”

Thu, 08/31/2017 - 10:53

Oleh: Tika

Pada 22 -- 23 Juli 2017, saya beserta tiga rekan kerja saya di SABDA, yaitu Evie, Liza, dan Hadi, mendapat kesempatan untuk kembali mengikuti training kepemimpinan, training ini merupakan hasil kerja sama tim EQUIP dan tim TOTAL (Training and develOpment for TodAy Leader). Tema kali ini berjudul "Talent is Never Enough". Ini adalah tema terakhir dari enam seri tema training kepemimpinan yang diambil dari buku dan modul John C. Maxwell. Namun, bagi peserta yang belum mengikuti seluruh seri training ini, masih ada kesempatan untuk mengikutinya pada kesempatan berikutnya karena training ini akan terus berulang. Sementara itu, bagi peserta yang sudah menyelesaikan keenam training tersebut, seperti Evie dan Hadi, mereka mendapatkan mandat untuk membagikan ilmu yang didapat kepada orang lain dan ada kesempatan untuk mendapatkan sertifikat dari John C. Maxwell.

Pada training yang dibagi menjadi enam sesi ini, mentor yang mengajar tidak hanya Bapak Sunjoyo Soe dan Bapak Paulus Winarto, tetapi juga melibatkan dua pembicara dari tim TOTAL, Bapak Yusuf dan Bapak Ageng. Ini merupakan hal baru yang saya temui dibanding dengan training-training sebelumnya.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan kali ini. Secara garis besar, training ini mengajarkan bahwa ada 13 hal yang dapat memaksimalkan talenta seseorang, yaitu:
1. Keyakinan: Untuk membangkitkan talenta kita.
2. Gairah: Untuk memberi energi talenta kita.
3. Inisiatif: Untuk mengaktifkan talenta kita.
4. Fokus: Untuk mengarahkan talenta kita.
5. Persiapan: Untuk memosisikan talenta kita.
6. Latihan: Untuk menajamkan talenta kita.
7. Ketekunan: Untuk mempertahankan talenta kita.
8. Keberanian: Untuk menguji talenta kita.
9. Kemauan untuk diajar: Untuk mengembangkan talenta kita.
10. Karakter: Untuk melindungi talenta kita.
11. Relasi: Untuk memengaruhi talenta kita.
12. Tanggung jawab: Untuk menguatkan talenta kita.
13. Kerja tim: Untuk memultiplikasi talenta kita.

Oleh karena itu, talenta saja tidak akan cukup jika seseorang tidak memandang tiga belas hal di atas, baik faktor internal maupun eksternal. Sesi terakhir ditutup dengan foto bersama, serta pemberian kenang-kenangan kepada setiap peserta yang telah mengikuti training kepemimpinan selama enam kali.

Saya pribadi belajar banyak, khususnya tentang persiapan (poin nomor 5). Dikatakan bahwa talenta akan membawa seseorang kepada permulaan, tetapi persiapan akan membawanya ke garis finish. Saya belajar bahwa persiapan yang baik selalu dimulai dengan memikirkan target, hal-hal yang dibutuhkan, serta tantangan yang akan dihadapi. Persiapan juga perlu mengevaluasi tujuan yang ingin dicapai dengan kenyataan yang ada. Selain itu, persiapan akan menuntut sikap yang benar, yaitu keyakinan pada diri sendiri, pada apa yang sedang dikerjakan, serta yakin bahwa Tuhanlah yang memampukan saya.

Kiranya setiap kita akan menjadi seorang servant-leader yang akan menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus memberkati.

Pemahaman yang Diubahkan — Konvensi Nasional Reformasi 500, Semarang

Mon, 08/21/2017 - 14:42

Oleh: Hilda

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ikut Grand Concert Tour Jakarta Simfonia Orchestra yang diadakan di Solo. Saya sangat terkesan dengan pribadi Pdt. Stephen Tong yang sangat mengapresiasi musik serta cara beliau memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberitakan Injil. Muncullah ketertarikan saya untuk mengenal lebih dalam tentang pengajaran reformed dan bagaimana pengajaran tersebut dapat mengubahkan pribadi dan sudut pandang beliau. Berangkat dari rasa penasaran tersebut, Tuhan menjawab doa saya. Saya diberi kesempatan bersama Ibu Yulia, Aji, dan Maskunarti untuk mengikuti acara Konvensi Nasional Reformasi 500 -- "Reformasi dan Dinamika Sejarah" yang diadakan di Hotel UTC, Semarang.

Acara dibuka dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Stephen Tong. Beliau menceritakan bahwa Semarang adalah kota tempat beliau mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang pertama, yaitu 66 tahun yang lalu. Sekarang Semarang dipilih untuk menjadi salah satu tempat memperingati 500 Reformasi. Semangat beliau saat ini tetap sama seperti 66 tahun yang lalu. Kiranya semangat ini membakar kembali semangat gereja untuk tetap setia kepada firman Tuhan.

Ada dua poin penting yang dikerjakan oleh Reformasi. Pertama, Tuhan merobohkan sistem gereja yang salah melalui pelayanan Martin Luther. Kedua, Tuhan membangun kembali sistem gereja yang benar melalui pelayanan John Calvin.

Sesi 1 dan 2 dibawakan oleh Pdt. Jimmy Pardede yang membahas tentang Soli Deo Gloria (Kemuliaan Hanya bagi Tuhan) dan Fungsi Gereja di Dunia. Pada zaman Marthin Luther, gereja mengajarkan bahwa Allah adalah hakim yang menghukum dan pemberi surga. Luther menentang konsep ini karena ia tahu bahwa Tuhan yang dikenalnya adalah Tuhan yang justru ingin dekat dan mengenal manusia lebih dari keinginan manusia untuk dekat kepada-Nya. Kedekatan inilah yang menghasilkan pertobatan, yang akan memampukan kita memaknai kemuliaan Allah yang tertinggi, yaitu menjadi yang terendah dengan mati di kayu salib. Saat itu, gereja yang seharusnya bertugas menyatakan Kristus di tengah-tengah jemaat malah sibuk mengurus soal materi duniawi.

Sesi 3 dan 4 dibawakan oleh Pdt. Ivan yang membahas tentang bagaimana Reformasi Protestan muncul dan bagaimana dampak sosialnya. Reformasi lahir karena adanya keresahan yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang-orang yang setia kepada Tuhan terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh gereja dalam pengajaran dan praktiknya. Munculnya teknologi mesin cetak juga semakin mempermudah viralnya semangat perubahan sehingga semakin banyak jemaat yang menyerukan "REFORMASI!" Ketika anak-anak Tuhan mencintai Tuhan dengan mengerti firman-Nya, dunia akan diubahkan. "Gereja yang ber-impact" inilah tujuan utama Reformasi. Reformasi gereja tidak hanya berdampak pada gereja, tetapi juga dunia. Reformasi telah memengaruhi cara manusia bersikap terhadap dunia, etika kerja, supremasi hukum, demokrasi, kesetaraan, dan desentralisasi kekuasaan dll.

Pada sesi 5 dan 6, kami sempat dibuat tegang dengan pembahasan yang dibawakan oleh Pdt. Agus Marjanto karena beliau begitu berapi-api. Topik yang dibawakannya adalah Sola Scriptura (Only the word of God) dan Sola Christus (Only Christ). Berkali-kali beliau menegaskan bahwa isu sesungguhnya dari reformasi adalah pentingnya kata SOLA (Only). Gereja pada zaman Martin Luther mengakui Alkitab sebagai otoritas kebenaran, dan Kristus sebagai Juru Selamat. Namun, gereja tidak mengakui bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas bagi iman dan hidup orang Kristen. Gereja mengajarkan Alkitab tidak cukup. Karena itu, perlu ditambah dengan tradisi (banyak aturan gereja). Reformasi menegaskan bahwa karya Kristus telah sempurna dan satu-satunya untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa dan Alkitab adalah satu-satunya otoritas final.

Kemudian, sesi 7 oleh Pdt. Antonius Un yang membahas tentang Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah). Ada tiga aspek anugerah, yaitu anugerah kasih Kristus yang datang untuk mati menanggung dosa manusia, anugerah kasih Bapa yang merelakan Anak-Nya Yang Tunggal itu, dan anugerah kasih Roh Kudus yang dengan sabar membuka hati manusia untuk menerima keselamatan. Sesi 8 dilanjutkan dengan nonton bersama film kisah pertobatan Martin Luther yang memperjuangkan reformasi gereja dan penerjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman.

Saya bersyukur bisa mengikuti dan belajar banyak dari Konvensi 500 Tahun Reformasi ini. Saya menyadari bahwa pemahaman tentang doktrin gereja saya sangatlah dangkal.Belajar dari sikap Luther, saya perlu lebih kritis terhadap pengajaran gereja, "Apakah gereja saat ini masih setia pada Alkitab?" Saat ini, gereja sebenarnya juga sedang menghadapi isu-isu yang sama, tetapi dengan kemasan "kekinian". Aplikasi yang paling praktis bagi saya adalah mendekat kepada Tuhan dengan menikmati firman-Nya sehingga saya tidak lagi diombang-ambingkan angin pengajaran. Ayo lahirkan reformasi baru! Tuhan Martin Luther adalah Tuhan kita juga! Ia bisa memakai kita seperti Ia telah memakai Luther!

Semoga tulisan saya ini dapat membangkitkan semangat dan menjadi berkat bagi pembaca setia Blog SABDA. Soli Deo Gloria!

Pengalamanku Mengikuti Progsif: Alkitab vs. Deuterokanonika

Fri, 08/11/2017 - 07:00

Oleh:*Jovita

Hari pertama Agustus 2017 belum berakhir, tetapi beberapa staf YLSA beserta enam mahasiswa magang dari Universitas Kristen Petra telah bersiap di depan kantor SABDA begitu jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Program Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) memang terlalu berharga untuk dilewatkan. Di jalanan yang tidak terlalu ramai, kami meluncur menuju hotel Megaland Solo, tempat acara diadakan. Di sana, saudara-saudara seiman yang rindu belajar kebenaran-Nya sudah duduk rapi menghadap layar proyektor yang sebentar lagi akan menampilkan "life-relay" seminar yang digelar di Surabaya.

Tepat pukul 18.30 WIB acara dimulai. Dengan intonasi yang tenang, tetapi tegas, Pdt. Aiter, M.Div. menyampaikan topik Alkitab vs. Deuterokanonika, sebuah tema sensitif yang tak lazim dibahas, baik oleh kaum Protestan maupun Katolik sendiri. Beliau mulai dengan menjelaskan istilah-istilah penting yang akan dipakai sepanjang pembahasan materi, antara lain kanon, protokanonika, deuterokanonika, apokrifa, pseudepigrafa, dan septuaginta (LXX).

- Kanon, secara harfiah artinya tongkat pengukur, merupakan ketetapan daftar kitab yang diakui sebagai firman Allah (diinspirasikan oleh Roh Kudus).

- Protokanonika adalah proses kanonisasi yang pertama (Yunani: protos - first). Protokanonika menetapkan atau mengakui kitab orang Yahudi (yang sekarang menjadi seluruh PL dalam Alkitab kita) sebagai firman Allah. Kitab Yahudi tersebut terbagi menjadi 3 kategori: Torah (T), Nebiim (N), Ketubim (K).

- Apokrifa mencakup kitab-kitab yang tidak diakui otoritas ilahinya dan ditolak dalam protokanonika.

- Deuterokanonika ialah kanonisasi kedua karena rupanya ada bapa-bapa gereja yang tidak puas dengan protokanonika. Mereka beranggapan ada kitab-kitab lain yang seharusnya diakui sebagai firman Allah. Maka, deuterokanonika memasukkan apokrifa ke dalam kanon mereka.

- Pseudepigrafa merupakan tulisan yang dibuat dengan mengatasnamakan orang lain yang berpengaruh pada zamannya.

- LXX adalah Alkitab PL versi bahasa Yunani (kitab-kitab Yahudi yang berbahasa Ibrani).

Para penulis Injil, rasul-rasul, bahkan Yesus sendiri, sering mengutip bagian tertentu dari kategori T, N, maupun K. Artinya, kitab protokanonika tersebut diakui keabsahannya, Tuhan mengonfirmasi semua sebagai Firman-Nya. Sementara, tak satu pun dari kitab Apokrifa pernah dikutip dalam PB. Pdt. Aiter mengupas satu per satu kejanggalan dan kontradiksi dalam Apokrifa, serta ucapan penting yang menjadi doktrin Katholik.

Pertama, ada Tobit yang mengklaim dirinya sebagai orang saleh. Ia mengaku pergi ke Yerusalem sendiri untuk merayakan ibadah pada hari raya Yahudi. Ia sering menguburkan mayat orang sebangsanya yang terhampar di tempat umum (dari sini muncullah keyakinan bahwa orang mati memerlukan pertolongan dari orang hidup). Belakangan, Tobit buta karena matanya tertimpa kotoran burung, sementara menantunya, Sara, kerasukan setan. Ia menyuruh anaknya, Tobia, pergi ke Gabael meminta perak yang pernah dititipkan dengan jaminan surat perjanjian tertentu (bentuk perjanjian semacam ini tak pernah dicatat dalam fakta sejarah zaman PL). Lalu, muncullah tokoh malaikat Rafael yang berbohong mengenai nama dan asalnya, ia mendampingi perjalanan Tobia (dari sini berkembang kepercayaan adanya malaikat pelindung). Padahal, tak pernah ada dalam kisah PL mana pun bahwa malaikat yang diutus Allah tinggal lama di bumi, bahkan berbohong. Dalam Tobit juga diajarkan bahwa bersedekah bisa melepaskan orang dari maut.

Selain itu, ada kitab Sirakh. Di sana, tertulis bahwa menghormati bapa (bapa manusia, bukan Allah) akan memulihkan dosa. Hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri.

Dalam 2 Makabe 12:42-43 muncul ajaran untuk mendoakan orang mati secara lebih eksplisit, serta uang persembahan untuk menghapus dosa.

Lalu, ada juga Tambahan Kitab Ester, yang banyak bagiannya justru bertentangan dengan Ester yang sudah ada. Misalnya, dalam kitab Ester dicatat bahwa Mordekhai tidak mendapat apa pun atas laporannya yang menyelamatkan nyawa raja. Baru belakangan ia diarak sebagai bentuk penghormatan. Sementara itu, Tambahan Ester menuliskan bahwa Mordekhai memperoleh hadiah besar atas tindakan tersebut.

Kitab Yudit sangat meninggikan seorang wanita Ibrani. Hal ini tidak pernah ada dalam kebiasaan maupun sastra Yahudi mana pun. Di sana dikisahkan Yudit berbohong, serta membunuh seorang pemimpin besar musuh Israel bernama Holofernes. Nama itu juga tidak ditemukan dalam catatan sejarah mana pun, berbeda dengan kisah Alkitab lain yang dapat dikonfirmasi lewat dokumen Timur Tengah Kuno.

Apokrifa sarat dengan nuansa mengutamakan perbuatan baik manusia, amal dapat menyelamatkan, dan sejenisnya. Pesan teologis ini bertentangan dengan kanon yang pertama. Secara struktur literer dan narasi peristiwa, banyak terdapat keganjilan. Itulah yang membuat sebagian orang menolak otoritas deuterokanonika meski banyak juga kelompok lain yang mengakuinya.

Sebagai orang beriman, hendaknya dengan tekun kita mempelajari Alkitab -- sebab dari sanalah iman timbul -- bukan hanya untuk memuaskan intelektual, tetapi demi mengejar pengenalan akan Allah dan Firman-Nya. Kiranya yang saya bagikan ini bisa menolong dan membukakan hati dan pikiran kita. Soli Deo Gloria!

+TED @SABDA: PEMURIDAN ABAD 21

Wed, 08/09/2017 - 07:00

Oleh: Davida

Tiga tahun terakhir dari masa hidupnya 33 tahun di dunia, Yesus memfokuskan pelayanannya untuk memuridkan 12 murid-Nya supaya mereka bisa melanjutkan tugas pelayanan yang telah dimulai-Nya di bumi. Sebelum Yesus naik ke surga, Dia memberikan perintah untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Perintah ini berlaku bagi kita semua sampai hari ini, abad ke-21 ini. Sayangnya, masih banyak orang percaya dan gereja yang tidak melihat perintah ini sebagai panggilan utama orang percaya. Seiring perkembangan zaman, Amanat Agung Tuhan Yesus ini gaungnya semakin hilang dari pendengaran kita. Seorang yang sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus dipanggil untuk menjadi murid-Nya supaya mereka pun bisa memuridkan orang lain. Seharusnya, ini menjadi hal yang alami terjadi dalam kehidupan pengikut Kristus sejati.

Melihat krisis pemuridan pada abad ke-21 ini, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) tergerak untuk menggaungkan kembali arti pemuridan dan bagaimana pemuridan dapat dilakukan dengan efektif pada era digital ini. Maka, pada 4 Agustus 2017, YLSA mengadakan +TED @SABDA dengan tema "Pemuridan Abad 21". Sebelum diadakan event ini, YLSA sudah memulai dengan membuat infrastruktur untuk mengampanyekan pemuridan melalui situs Murid21 dan komunitas @pemuridan21 (Facebook, Twitter, dan Instagram). Melalui infrastruktur ini, tubuh Kristus dapat berkolaborasi untuk mencari jawaban atas krisis dan kesempatan yang dikandung dalam pemuridan pada abad ke-21 ini.

Ada tujuh presentasi yang disajikan dalam +TED @SABDA Pemuridan Abad 21, yang materinya bisa didapatkan dalam situs murid21. Berikut ini adalah topik, pembicara, dan ringkasan dari ketujuh presentasi tersebut:

1. Arti Pemuridan Era Digital (Yulia Oeniyati)
Arti pemuridan secara alkitabiah dimulai dari Yesus yang mengundang manusia untuk mengikut Dia "follow me" (Mat. 4:19). Lalu, Ia melanjutkan dengan perintah agar kita juga mengikut teladan-Nya, membuat murid (Mat. 28:19-20). Itulah perintah terakhir yang Ia berikan agar kita semua mengerjakan pemuridan hingga hari ini.

2. Hilangnya Seni Pemuridan pada Era Digital (Hudiman Waruwu)
Pemuridan sangat penting. Setiap pengikut Yesus Kristus dipanggil menjadi murid dan memuridkan. Namun, pada era digital ini, pemuridan tidak dilaksanakan atau diprioritaskan dalam kehidupan berjemaat dengan berbagai alasan. Padahal, ada kesempatan besar untuk memanfaatkan era digital untuk pelayanan pemuridan yang bisa menjangkau siapa saja dan di mana saja dengan model dan modul yang sesuai kebutuhan konteks saat ini.

3. Pemuridan ala Kambium (Novita Andriani)
Kambium adalah metode pemuridan berbasis kurikulum yang menggunakan presentasi di kelompok besar untuk pemaparan pengajaran dan sharing di kelompok kecil untuk pelatihan penerapan dan evaluasinya.

4. Pemuridan ala U.K. PETRA Surabaya (David Kristian)
Pengalaman pribadi ketika terlibat dalam pemuridan di Universitas Kristen PETRA. Dalam pemuridan, saya mengalami dimuridkan dan memuridkan.

5. Kualitas Hidup Murid Menjadi Dasar Pelayanan Digital (Haryo K.A.)
Bahwa pelayanan digital sangat besar potensinya untuk menjangkau banyak orang dan akhirnya bisa memuridkan. Karena itu, pelayan Tuhan harus mau dimuridkan terlebih dahulu supaya dapat menjangkau orang lain. Hal ini penting untuk memperlengkapi hidup seorang murid yang hendak melayani di bidang ini supaya memiliki kuasa dalam pelayanannya.

6. Tantangan Era Digital terhadap Pemuridan (Elizabeth Nathania W.)
Setiap tantangan selalu menawarkan tersedianya peluang/kesempatan. Teknologi yang berkembang pada era digital juga menawarkan kesempatan yang besar dalam memenuhi Amanat Agung.

7. Pemuridan untuk Digital Native (Davida)
Pemuridan untuk digital native adalah panggilan bagi murid Kristus pada era digital ini. Digital native tanpa pemuridan alkitabiah adalah ancaman bagi masa depan gereja.

Saya dan teman-teman bersyukur karena acara +TED @SABDA ini dihadiri oleh hampir 100 orang. Wow, suatu "sinyal" yang bagus bagi gerakan pemuridan abad 21. Ditambah lagi, separuh dari yang hadir adalah generasi digital native (usia 24 tahun ke bawah). Sungguh menggembirakan!! Kiranya mereka mendapatkan pemahaman yang benar mengenai makna pemuridan dan bagaimana mereka HARUS melakukannya. Pertanyaan, "Apakah kita sudah menjadi murid?" dan "Bagaimana teknologi yang ada di tangan dapat menolong kita untuk menjalani proses pemuridan dan memuridkan generasi selanjutnya. Saya sendiri belajar banyak dari materi-materi yang sudah disampaikan. Intinya, pemuridan tidak hanya berbicara tentang program, tetapi sesuatu yang hidup dan berlangsung secara alami di sepanjang hidup kita sebagai pengikut Kristus. Pemuridan adalah perintah Allah bagi setiap orang percaya, dan teknologi diciptakan Allah untuk menolong agar pemuridan lebih efektif dijalankan.

Tahun ini, sudah tiga kali SABDA mengadakan +TED secara rutin setiap 3 bulan sekali, Penjangkauan yang Kreatif (Januari), Passion for Christ (April), dan Pemuridan Abad 21 (Agustus). Puji Tuhan! Pada Oktober 2017 yang akan datang, dalam rangka ulang tahun YLSA yang ke-23, SABDA akan mengadakan Seminar "Alkitab Pintar (Alkitab yang Terbuka)". Nantikan informasi selanjutnya, dan saya mengundang Pembaca Blog SABDA untuk mendoakan serta hadir dalam acara tersebut. Terima kasih.

Adaptasi Awal di Tempat Magang (SABDA)

Tue, 08/08/2017 - 10:20

Oleh:*David Kristian

Perkenalkan, saya David, salah satu mahasiswa dari U. K. PETRA yang sedang melakukan magang di YLSA sampai 24 Agustus 2017. Tidak terasa, sebentar lagi saya akan menyelesaikan masa magang di Yayasan Lembaga SABDA. Dalam blog ini, saya ingin membagikan pengalaman awal proses magang di YLSA.

Pada awal proses magang, perasaan saya campur aduk dan bingung. Saat mendaftar magang, kiriman email saya lama tak kunjung mendapat balasan, bahkan sempat membuat saya berpikir ulang tentang kemungkinan magang di SABDA. Akhirnya, surat konfirmasi dari SABDA saya terima. Saya sangat bahagia karena sekarang saya jelas mendapat tempat magang. Eh, ternyata pergumulan masih belum selesai karena dengan magang di SABDA, saya harus mengorbankan tanggung jawab pelayanan di kampus. Namun, saya tetap bersyukur karena saya menganggap keberadaan saya di sini sudah melalui penyertaan Tuhan yang memiliki rencana buat saya dan teman-teman di sini.

"Alkitab Pintar" merupakan dua kata yang akan menjadi tema besar magang kami di SABDA. Dalam pemikiran dan perkiraan saya, hal ini adalah topik yang mudah, hanya mengembangkan apa yang sudah ada dari Alkitab SABDA, yang pada dasarnya sudah cukup pintar. Memang kami sudah diberi gambaran besar tentang apa yang akan kami lakukan untuk Alkitab Pintar nanti. Namun, ternyata persepsi saya tentang Alkitab Pintar bisa dibilang salah, saya terus terpikir “pintar" itu apa maksudnya? “Apa beda smartphone dan handphone biasa? Apa yang membedakan pintar atau tidak? Apakah berarti mengerti apa yang kita mau, atau memiliki otak yang bisa berpikir sendiri dan mendatangkan kehancuran bagi umat manusia?" Jadi, kami harus mengerti dulu konsep Alkitab Pintar, lalu memikirkan apa yang akan kami kerjakan.

Pada 27 Juni 2017, kami berenam, yaitu David, Cenius, Andy, Wilson, Hendry, dan Teddy, berangkat ke SABDA. Pengalaman magang yang bakal kami lalui selama dua bulan akhirnya bisa mulai kami rasakan. Ekspektasi saya mengenai tempat magang ini sebetulnya sangat baik karena saya sudah mendapat cerita dari Ko Cleming bahwa SABDA adalah tempat magang yang menyenangkan dan akan menolong bertumbuh secara rohani. Banyak wejangan dan cerita dari ko Cleming yang membuat saya terkesan dan sangat menantikan proses magang di SABDA ini. Bisa dikatakan saya tidak mengalami kekecewaan yang berarti meskipun tidak semua pengalaman merupakan pengalaman yang positif. Kesan saat saya tiba di sini adalah tempat ini cukup baik. Namun, kesan ini tidak bertahan lama karena saya harus tidur di tempat yang tinggi (tempat tidur susun), padahal saya takut ketinggian. Pada hari pertama, kami juga mendapat sambutan kejutan dari segerombolan semut yang menetap di langit-langit kamar yang berasal dari pohon yang tumbuh di samping kamar kami.

Karena kami tiba pada dini hari dan ketidakmampuan kami untuk tidur nyenyak, maka hari pertama magang pun kami masuki dengan kebingungan. Ada hal yang sangat baru bagi sebagian besar kami, yaitu Pendalaman Alkitab setiap pagi. Setelah itu, kami mengikuti scrum bersama staf ITS . Sempat bingung dengan apa yang mereka bicarakan, tetapi akhirnya kami mengerti apa itu scrum. Kami juga menjalani orientasi HRD dan Administrasi serta dijelaskan apa saja yang harus kami taati. Sesudah itu, kami ada banyak sekali tugas untuk belajar, khususnya hal-hal yang akan membantu kami bisa mengerjakan bagian dari proyek Alkitab Pintar yang akan kami kerjakan selama magang di SABDA ini. Hal-hal yang harus kami pelajari kebanyakan merupakan hal yang baru bagi kami. Akan tetapi, saya sendiri merasa excited untuk mendapat hal yang baru dari magang ini. Jadi, bagi saya ini merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Hari pertama magang berakhir. Kami kembali ke mess dan memiliki ekspektasi untuk bisa beristirahat dengan tenang. Ketika kami tiba di kamar, ternyata harus bergumul mengusir semut. Namun, sekali lagi ekspektasi tidak sesuai dengan realita karena kami disambut oleh teman setia lainnya, yaitu nyamuk dan tomcat. Meskipun kami sempat melewati hari-hari dengan kekhawatiran tentang magang dan serangga, kami bersyukur bisa melewati hari-hari dengan baik di sini.

Pengalaman magang kami di SABDA tentu saja tidak bisa dilepaskan dari bertemu dengan para Staf YLSA. Staf di SABDA menyenangkan dan friendly. Dari pertama datang, saya merasa disambut dengan baik. Pertanyaan yang kami lontarkan seputar pekerjaan kami, ataupun seputar Solo dijawab dengan ramah, dan mereka beberapa kali mengantar kami makan dan menunjukkan tempat makan yang mereka rekomendasikan. Saya baru tahu juga ternyata makanan di Solo enak dan murah (bila dibandingkan dengan Surabaya tentunya), sampai-sampai saya bahagia dan makan banyak karena makanannya menggoda sekali.

Bersyukur saya menjalani hari-hari di Solo dengan baik. Saya bisa menikmati setiap hal baru yang Tuhan izinkan saya lakukan. Berharap melalui proses magang di SABDA dan beberapa waktu tinggal di Solo, saya boleh mendapat pengetahuan baru dan beradaptasi dengan budaya di kota ini. Kiranya tulisan saya ini memberkati para pembaca setia blog SABDA. Tuhan Yesus memberkati.

Pengalaman Mengikuti Grand Concert Tour 2017

Mon, 07/31/2017 - 11:36

Oleh: *Andy Gunawan

Nama saya Andy Gunawan. Saya kuliah di Universitas Kristen Petra, Surabaya, dan sedang mengikuti program magang di Yayasan Lembaga SABDA Solo, mulai dari 28 Juni 2017 sampai 24 Agustus 2017 nanti. Pada Kamis, 13 Juli 2017, saya dan teman-teman magang saya, yaitu Cenius Sanjaya, David Kristian, Hendry Gozali, Teddy Yudono, dan Wilson Mark, diberi kesempatan untuk menolong menjadi usher dan kolektan di konser orchestra Pdt. Stephen Tong yang dinamakan “Grand Concert Tour 2017”. Konser tersebut diadakan di hotel Best Western, Solo Baru, pada pukul 18.30 WIB. Beberapa Staf YLSA (Tika, Liza, Aji, Kun, dan Mei) juga ikut serta dalam pelayanan ini.

Pada hari itu, kami selesai kerja lebih awal, yaitu pukul 15:30 WIB, karena kami harus berangkat pada pukul 16.00 untuk mengikuti briefing pada pkl. 16.30. Setibanya di lokasi acara, kami langsung bergegas makan dan selanjutnya mengikuti briefing. Setelah itu, kami diberi kartu identitas dengan warna tali yang berbeda-beda. Setiap warna tali memiliki titik jaga yang berbeda-beda. Ada yang harus berjaga di lobby, di depan pintu ruangan tempat konser diadakan, hingga di dalam ruangan konser. Saya juga diminta untuk membantu menyiapkan beberapa peralatan konser terlebih dahulu. Peralatan-peralatan tersebut harus diatur dan diletakkan di atas panggung sesuai dengan perintah supervisor kami. Setelah itu, barulah saya bisa bersiap di posisi saya.

Pada pukul 18.30 WIB, konser pun dimulai. Para musisi segera bersiap naik ke atas panggung diikuti oleh Pdt. Stephen Tong sebagai conductor. Sebelum memulai konser, Pdt. Stephen Tong memberikan pengantar bahwa masih banyak orang Indonesia yang kurang menghargai musik, padahal musik adalah sesuatu yang indah dan mahal. Karena alasan itulah, Pdt. Stephen Tong rela mengadakan sebuah Concert Tour secara gratis untuk memperkenalkan keindahan musik kepada orang-orang Indonesia. Beliau bahkan rela mengeluarkan uang untuk membeli peralatan musik yang harganya milyaran rupiah demi kualitas musik yang baik. Setelah itu, konser pun berjalan dengan sangat baik dan lancar. Pdt. Stephen Tong memperkenalkan setiap simfoni yang akan dimainkan sehingga para penonton bisa benar-benar mengenal latar belakang dan sejarahnya. Setelah beberapa simfoni, para penonton dipersilakan untuk memberikan persembahan secara sukarela, saya dan para kolektan lain pun segera menjalankan tugasnya. Setelah selesai persembahan, kami dipersilakan untuk kembali ke ruangan konser untuk menikmati sisa acara konser tersebut. Sisa acara konser diisi dengan persembahan lagu-lagu dari paduan suara yang diiringi musik yang sangat indah selama kurang lebih 30 menit, lalu diakhiri dengan simfoni “Haleluya” dan seluruh penonton berdiri untuk menunjukkan rasa hormatnya.

Walaupun saya bukan penggemar musik orchestra dan ruangan yang digunakan bukanlah ruangan yang terbaik untuk menikmati sebuah konser musik, tetapi saya tetap dapat menikmati konser ini. Saya kagum dengan para musisi yang mampu memainkan setiap alat musik dengan lancar dan sesuai dengan bagian masing-masing. Selain itu, jumlah penonton yang datang banyak sehingga ruangan penuh, bahkan ada penonton yang berdiri. Selama acara konser berlangsung panitia mengumumkan kalau penonton tidak diizinkan untuk mengambil gambar berupa foto dan video ataupun audio. Jika saya diberi kesempatan untuk memberi nilai, saya akan memberi nilai 8/10 untuk konser ini. Selain bisa menikmati permainan musik yang katanya menduduki posisi nomor 4 terbaik di dunia, saya juga bisa belajar mengapresiasi musik-musik berjenis orchestra. Saya berharap tujuan Pdt. Stephen Tong mengadakan Concert Tour ini tercapai, dan orang-orang Indonesia belajar lebih menghargai musik.

Inilah sedikit pengalaman yang bisa saya bagikan. Tuhan Yesus memberkati.

Pelajaran dari Artikel: Carilah Hobi dan Sunyi

Wed, 07/05/2017 - 11:09

Di SABDA, setiap staf YLSA disarankan untuk membaca artikel dari koran yang sudah disiapkan. Artikel tersebut akan dibaca oleh staf setiap hari secara bergilir. Ada juga artikel yang sudah dikumpulkan di dalam map, dan jika ada artikel yang menarik bisa diambil sendiri untuk dibaca. Salah satu artikel yang menarik bagi saya adalah artikel "Carilah Hobi dan Sunyi". Saya tertarik dua kata dari judulnya, yaitu "hobi" dan "sunyi", karena saya memiliki hobi dan saya juga suka dengan kesunyian. Saya ingin tahu lebih banyak tentang apa yang disampaikan oleh penulis, jadi saya mengambil artikel ini.

Setelah membaca, saya terkesan dengan artikel ini karena mencerminkan apa yang saya alami, bahwa ide-ide cemerlang akan muncul ketika berada pada situasi yang tenang. Ide-ide muncul ketika saya menikmati setiap hal yang saya lakukan. Bukan sebaliknya, ketika berada pada situasi yang ramai. Ketenangan atau kesunyian tidak hanya merujuk pada tempat atau lokasi fisik, tetapi juga pada pikiran.

Dalam artikel ini dijelaskan beberapa masalah yang terjadi pada diri seseorang. Pertama, bahwa sering kali pikiran kita tidak pernah berhenti, diistilahkan dengan kalimat "live streaming". Pikiran selalu bergerak, mengembara dari satu pikiran ke pikiran lain, tidak pernah berhenti. Kedua, pikiran yang terpola yang menyebabkan kita tidak bisa memiliki hal yang baru. Semua dilakukan hanya berdasarkan yang pernah dilakukan sebelumnya, dari generasi ke generasi. Ketiga, pikiran yang terus-menerus akan membuat pikiran menjadi penuh dengan dirinya sendiri sehingga tidak lagi memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

Solusi yang diberikan dalam artikel ini adalah dengan memberikan jarak antara pikiran dan kesadaran. Jarak akan memungkinkan untuk mengendalikan pikiran dan mempertanyakan apa yang sedang dipikirkan sehingga tidak menjadi reaktif. Cara yang diberikan adalah melakukan sesuatu yang menarik sehingga bisa menikmati apa yang dilakukan.

Hobi menjadi salah satu cara untuk memunculkan ide-ide yang cemerlang. Saya juga memiliki hobi untuk memberikan perasaan dan pikiran yang tenang, di antaranya memelihara ikan dan bersepeda, termasuk juga menulis kode pemrograman ketika berada di tempat kerja, meskipun aktivitas ini harus menguras otak karena harus berpikir. Saat saya mengerjakan apa yang saya sukai, saya merasa damai, seakan ruang dalam pikiran saya menjadi lebih luas, tidak padat dengan lalu lintas yang bisa mengakibatkan kemacetan. Keadaan ini dapat memunculkan ide-ide solusi untuk hal-hal yang awalnya terasa sulit untuk ditemukan solusinya. Perasaan dan pikiran yang selalu diburu-buru bisa diredam sehingga mendapatkan kondisi yang stabil untuk bisa menikmati setiap hal. Bahkan, saat itu saya bisa memunculkan ide-ide, menciptakan kreativitas, dan membangun relasi yang bisa bermanfaat bagi kehidupan saya dan orang lain.

Pengalaman Mengikuti Raker Mini YLSA 2017

Mon, 07/03/2017 - 11:15

*Mei Budi Margowati

Pembaca Blog SABDA yang terkasih, perkenalkan nama saya Mei yang pada Mei 2017 mulai bergabung di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA). Motivasi saya adalah untuk melayani dan bekerja bagi Tuhan "dari balik layar" komputer. Sebelumnya, saya hanya mengenal SABDA dari Aplikasi Alkitab SABDA yang sudah lama saya pakai. Ternyata setelah bergabung di SABDA, saya baru tahu ada banyak macam produk SABDA yang sangat beragam dan sudah memberkati banyak orang. Saya beruntung karena tepat satu bulan setelah saya bergabung, YLSA mengadakan rapat kerja tengah tahun atau biasa disebut 'raker mini'. Saya bersyukur mendapatkan pengalaman saat mengikuti raker mini YLSA.

Raker mini YLSA 2017 dilaksanakan pada 7 dan 8 Juni 2017. Lukas mendapat tugas menjadi MC yang membuka raker hari pertama dengan doa dan pujian bagi Tuhan. Dilanjutkan dengan renungan oleh Ibu Yulia. Ayat yang dipakai sebagai landasan renungan diambil dari Yohanes 8:31 (AYT), "Kemudian, Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, 'Jika kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku.'" Saya diingatkan untuk selalu belajar menjadi seperti Yesus, belajar melakukan apa yang Yesus lakukan dengan bertekun dalam pengajaran firman Tuhan dan mengaplikasikannya dengan bimbingan Roh Kudus.

Hari pertama raker mini, diisi dengan pemaparan laporan kerja dari semua tim pelayanan dari Januari sampai Mei 2017. Setiap divisi melaporkan semua hasil kerja dengan baik, dimulai dari Tim ITS, Tim PAS, Tim Aptek, Tim Pembinaan, Tim Penjangkauan, Tim Pendidikan Kristen, dan staf Administrasi (Humas, HRD, Keuangan).Setelah mempresentasikan laporannya, setiap tim akan menjawab pertanyaan dan tanggapan yang diajukan oleh tim lain. Cukup banyak pertanyaan yang muncul dan hal itu akan menjadi masukan bagi pelayanan semester yang akan datang. Demikian raker hari pertama berlangsung. Ada hal yang istimewa pada raker ini yaitu Pak Jeffrey tepat berulang tahun pada hari itu. Salah satu hal yang menyenangkan dari SABDA adalah ketika ada salah seorang berulang tahun, kami semua akan sama-sama berdoa dan memberi ucapan layaknya sebuah keluarga yang hangat.

Hari kedua dimulai dengan doa dan pujian yang dipimpin oleh saya. Dilanjutkan dengan renungan yang dibawakan oleh Bu Yulia tentang Pemuridan.Dalam renungan ini banyak quote yang membangun pertumbuhan rohani saya. Salah satunya "Iman seperti Wifi, tidak terlihat tetapi memiliki kekuatan untuk memberi apa yang kita butuhkan". Saya diingatkan untuk selalu memegang teguh iman sebagai jalan penghubung kepada apa yang saya butuhkan selama ini, yaitu kesatuan dengan Kristus.

Acara hari yang kedua adalah semua tim memaparkan rencana kerja yang akan dilakukan pada semester kedua. Banyak sekali program kerja yang disusun oleh masing-masing tim. Saya berharap program kerja yang sudah direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Dari masing-masing presentasi rencana tim, tim yang lain berpartisipasi dengan memberi pertanyaan atau masukan supaya rencana-rencana ini menjadi semakin baik.

Inilah pengalaman pertama saya yang berkesan saat mengikuti raker mini di YLSA. Raker di YLSA berbeda dengan raker yang saya ikuti sebelumnya di tempat lain. Di YLSA, kami semua dilibatkan baik sebagai petugas MC, Moderator, dan ikut ambil bagian dalam penyampaian pendapat. Saya merasakan raker mini ini adalah wujud pemeliharaan Tuhan dalam setiap pelayanan di SABDA. Tuhan menyertai setiap program kerja SABDA yang sudah terlaksana dan akan menyertai juga setiap program kerja yang akan dilaksanakan di semester depan. Saya melihat hasil rapat kerja ini menjadi bukti akan pemeliharaan Tuhan. Kiranya Tuhan terus menyertai setiap pelayan Tuhan di SABDA agar dapat melaksanakan pelayanan dengan hati yang selalu memandang kepada Tuhan.

"Apa pun yang kamu lakukan, dalam perkataan ataupun perbuatan, lakukan semua itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur kepada Allah Bapa, melalui Dia." Kolose 3:17 (AYT). Haleluya. Soli Deo Gloria!

Asyik, TED Staf YLSA Lagi!

Thu, 06/22/2017 - 15:00

Pada blog-blog sebelumnya, pernah ada pembahasan seputar +TED @SABDA. Kali ini, saya akan berbagi cerita mengenai +TED @SABDA khusus staf YLSA teranyar yang harus Sahabat YLSA ketahui. Siap?

Salah satu rangkaian acara Persekutuan Doa (PD) staf YLSA Jumat, 16 Juni 2017, adalah +TED @SABDA yang disampaikan oleh staf YLSA. Ada 4 presentasi menarik yang disampaikan oleh Indah, Liza, Aji, dan Danang. Diawali dengan presentasi berjudul "Integritas", Indah mencoba menyampaikan materinya semaksimal mungkin. Beberapa tokoh Alkitab yang memiliki hidup berintegritas juga disinggung Indah, sebagai contoh, Abraham dan Musa. "Sebagai orang percaya, kita harus bisa melakukan yang terbaik sekalipun bos/pemimpin kita tidak ada di dekat kita," begitulah salah satu aplikasi yang bisa kita lakukan untuk hidup berintegritas. Dilanjutkan dengan presentasi "Six Thinking Hats" oleh Liza, kita semua dibekali dengan wawasan mengenai 6 cara berpikir menurut warna topi. Keenam warna topi tersebut adalah merah (emosi, perasaan), kuning (berpikir positif/mencari keuntungan), hijau (kreativitas, ide baru), hitam (berpikir negatif, kesulitan, kelemahan), putih (berfokus pada data), dan biru (mengatur proses berpikir). Intinya, dalam keadaan tertentu, seseorang diharapkan bisa memakai topi-topi tersebut secara bijaksana, sesuai kebutuhan.

Presentasi ketiga disampaikan oleh Aji dengan judul "Perfeksionis Maladaptive". Topik ini cukup berat, tetapi sangat menolong kita untuk mengetahui, mengenali, bahkan mengatasi sikap perfeksionis. Materi yang disampaikan cukup padat dan direlevansikan dengan kehidupan Kristen yang alkitabiah. Intinya, kita dapat berhenti berusaha untuk memperoleh "kesempurnaan" menurut dunia, dan tinggal tenang dalam Dia Yang Sempurna (Matius 11:28). Namun, di sisi lain, benar bahwa Alkitab memanggil kita untuk "menjadi sempurna seperti Bapa" (matius 5:48). Yang terakhir, kita semua diberi wawasan dan belajar bagaimana melakukan "PA dengan metode Etimologi". Wah, presentasi terakhir ini makin berat ya? Danang, sebagai presentator terakhir, menjelaskan mengenai metode etimologi ini dengan sangat antusias dan sukacita, seolah-olah dia sedang menceritakan cerita terbaik yang pernah ia baca. Meski judul presentasinya cukup horor (menurut beberapa staf), tetapi materi bisa kami tangkap dengan baik. Intinya, dalam membaca Alkitab, metode penelusuran suatu kata dalam Alkitab akan sangat menolong kita untuk melihat konsep pada masa itu dan mendapatkan maknanya dengan akurat dan lebih mendalam. Hmmm ... materi yang unik, menurutku.

Masih penasaran dengan apa yang terjadi terhadap keempat presentator setelah mereka presentasi? Mereka diberi pertanyaan dan harus menjawabnya saat itu juga. Sesi ini cukup mengasah mereka, terutama mengenai kedalaman penguasaan materi. Terlepas dari jawaban yang diberikan benar, setengah benar, atau salah, kami belajar banyak hal dari proses ini. Saya sangat tertarik dengan presentasi terakhir. Meski kesannya "kok mau-maunya PA dengan metode seribet itu", saya jadi penasaran dan tertantang untuk mencobanya. Kesan saya, +TED @SABDA untuk staf YLSA semakin lama topiknya semakin berat ... hehe. Tak apa, justru makin menantang dan memacu untuk banyak belajar hal-hal baru supaya kita lebih berkembang. Segala kemuliaan hanya bagi Tuhan.

Kunjungan SABDA ke Kota Pelajar (GKI Ngupasan)

Tue, 06/13/2017 - 14:27

Shalom, Maskunarti kembali menyapa sahabat setia SABDA. Saya bersyukur bisa ikut roadshow tim SABDA bersama Ibu Yulia, Tika, dan Lukas. Kami berangkat ke Yogyakarta pada 13 Mei 2017, siang, dengan transportasi umum kereta api. Bersyukur, kami bisa dapat tempat duduk dan menikmati perjalanan dengan baik. Waktu menunjukkan pukul 15.24 ketika kami tiba di stasiun Tugu Yogyakarta. Dari sana, kami menggunakan taksi menuju GKI Ngupasan. Kondisi lalu lintas yang cukup lancar membuat kami tiba di lokasi sesuai jadwal.

GKI Ngupasan

Setibanya kami di GKI Ngupasan, kami dipersilakan menempati ruang pastori untuk meletakkan barang-barang dan beristirahat. Namun, karena waktu, kami memilih untuk menyiapkan meja booth SABDA lebih dahulu sebelum beristirahat dan mandi.

Saya melihat jemaat antusias mengikuti ibadah yang berlangsung pukul 17.30 sore itu. Mereka memuji Tuhan dengan sungguh-sungguh dan sukacita terpancar dari wajah mereka. Firman Tuhan yang disampaikan oleh Ibu Yulia diambil dari Kisah Para Rasul 7:55-60, berjudul "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat" (Belajar dari tokoh Stefanus). Saya dan rekan-rekan yang lain mengikuti ibadah di luar ruangan sambil menjaga booth SABDA, dan bersyukur karena khotbah bisa kami dengarkan dengan baik dari luar.

Dari firman Tuhan Kisah Para Rasul 7:55-60, saya belajar tentang empat kuadran bagaimana saya bisa jadi pengikut Tuhan sampai akhir hayat, yaitu:
1. Menjadi saksi yang aktif.
2. Menjadi saksi yang bertanggung jawab pada imannya.
3. Menjadi saksi yang setia.
4. Menjadi saksi yang berani mati.
Jika para Sahabat SABDA ingin melihat presentasi PPT khotbah tersebut, silakan mengunduhnya slide share SABDA

#Ayo_PA!

Pada Minggu, 14 Mei 2017, Ibu Yulia berkhotbah dalam tiga ibadah raya, pukul 06.30 WIB, 09.00 WIB, dan 16.30 WIB dengan tema khotbah yang sama,yaitu "Menjadi Saksi Tuhan Sampai Akhir Hayat". Pada pkl. 10.00, kami juga memberikan pelatihan #Ayo_PA! kepada jemaat remaja GKI Ngupasan. Namun, selain generasi muda, ada juga warga dewasa yang mengikutinya. Jumlah peserta sekitar 40 orang lebih. Peserta antusias mengikuti pelatihan yang dibawakan oleh Tika. Para peserta yang generasi muda sangat fasih dalam mempraktikkan yang disampaikan dan disimulasikan oleh Tika. Bagi warga dewasa, meski belum begitu terampil dalam pengoperasian gadget, mereka memiliki keingintahuan yang tinggi dan berusaha untuk mengikuti pelatihan ini dengan baik. Kami bersyukur dapat membantu mereka melakukan instalasi aplikasi SABDA Android (Alkitab SABDA, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, Peta) di HP mereka.

Ini merupakan pengalaman kedua saya mengikuti roadshow SABDA. Saya belajar banyak hal, khususnya dalam berinteraksi dengan jemaat, memberikan penjelasan tentang booth SABDA, dan menginstal aplikasi-aplikasi SABDA Android. Saya berharap, SABDA semakin dipakai Tuhan untuk menolong banyak orang di berbagai penjuru Indonesia untuk menggunakan teknologi dalam belajar firman Tuhan dan melayani Tuhan lebih maksimal lagi. Segala kemuliaan bagi Tuhan. Amin.

Bertumbuh dan Berkembang di SABDA

Fri, 06/09/2017 - 10:07

Hari-hari ini, saya merenungkan tentang kebaikan besar yang Tuhan lakukan dalam langkah iman dan hidup saya selama kurang lebih 2,5 tahun ini. Pada 7 Oktober 2014, untuk pertama kalinya saya bergabung dengan pelayanan YLSA, saya masih sangat mengingatnya. Di tempat ini, saya disambut dengan baik dan diterima dalam sebuah komunitas teman-teman yang mayoritas masih muda. Jika dibandingkan dengan saat pertama kali saya di tempat ini dan sekarang ini, saya jauh lebih bertumbuh dalam skill, jiwa, dan juga kerohanian. Selain itu, secara kepribadian saya juga berkembang.

Tuhan baik, saya beroleh kesempatan untuk berada dalam sebuah ladang yang tidak pernah saya pikirkan akan saya kerjakan, yaitu ladang digital. Ladang yang telah, sedang, dan akan terus digarap oleh YLSA. Saya seorang lulusan jurusan Pendidikan Agama Kristen yang ketika pertama kali berada di tempat ini merasa takut dan minder dengan banyak staf yang begitu pandai. Akan tetapi, di tempat ini saya diajari dan didorong untuk belajar mandiri dan mendapat banyak keterampilan. Tidak ada teman yang tidak mau menolong saya untuk berkembang, dan hal itu adalah sebuah kesempatan yang mahal. Saya dilibatkan dalam beberapa bidang pelayanan sehingga saya boleh banyak belajar sehingga pribadi dan potensi saya mengalami kemajuan di tempat ini. Saya bersyukur atas keberadaan pemimpin dan teman-teman saya, dalam suka dan duka, begitu menolong saya sehingga saya bisa terlibat dalam pelayanan ini. YLSA adalah alat Tuhan untuk menjangkau jiwa pada abad ke-21 ini.

Dari dalam hati saya, saya berdoa agar YLSA tetap melihat hati Tuhan dan menjalankan kehendak Tuhan. Terima kasih untuk YLSA yang telah menolong saya melihat hati Tuhan dan bangsa-bangsa yang sedang menantikan Kabar Baik.

Pengalaman Mengikuti Seminar “Gereja Misi Dunia”

Wed, 05/31/2017 - 13:15

"Yulia sedang cari you. Saya pikir, dia punya sesuatu yang pasti you akan suka."

Mendengar pernyataan tersebut, saya langsung bergegas menemui Ibu Yulia untuk menanyakannya. Ternyata, benar saja, beliau menawarkan sebuah kesempatan yang bagi saya tidak ternilai harganya: menjadi salah satu penerjemah dalam acara seminar misi di Yogyakarta. Itu sama sekali di luar dugaan saya; tentu saja ini kesempatan yang tidak akan saya lewatkan! Tanpa berpikir panjang, saya pun langsung menerima tawaran tersebut. Dan, sebagai persiapan untuk itu, beliau memberikan saya softcopy dari buku World Mission Church (Gereja Misi Dunia) yang pengarangnya akan menjadi salah satu pembicara utama dalam seminar misi tersebut.

Demikianlah secuplik adegan yang menjadi prolog dari seluruh rangkaian episode yang akan saya tulis kali ini, yaitu tentang pengalaman saya mengikuti seminar misi di Yogyakarta pada 9 -- 10 Maret 2017 silam. Seminar misi ini sebenarnya bukanlah acara tersendiri, melainkan bagian dari acara rapat tahunan sinode Gereja Kristen Alkitab Indonesia (GKAI), yang diselenggarakan pada tanggal 8 -- 10 Maret 2017 di Villa Taman Eden 2 Kaliurang, Yogyakarta. Tim SABDA yang berangkat ke sana hanya Bu Yulia dan saya.

Singkat cerita, hari yang ditunggu pun tiba. Kami berangkat dari Solo sekitar pukul 08.30 dengan bus dan mampir ke Klaten untuk mengambil cetakan buku terjemahan "Gereja Misi Dunia" untuk dibagikan kepada peserta. Kami tiba di tempat acara, di Villa Taman Eden 2, sekitar hampir pukul 12.00. Setibanya di sana, kami disambut oleh empat orang bule yang tampaknya sudah menantikan kedatangan kami. Mereka adalah Pak Paul Jenks dan istrinya, Ibu Lois Jenks, dari AMG International, dan Ps. David Anderson, pengarang buku World Missions Church yang sudah saya singgung sebelumnya, dan rekannya, Pak Wick Jackson, dari Envoy International. Dua orang yang disebutkan terakhir adalah para pembicara yang akan menyampaikan materi dalam seminar misi nanti.

Setelah berkenalan dan berbincang sejenak dengan keempat orang ini, Bu Yulia dan saya lantas menyiapkan booth dan menata berbagai bahan untuk para peserta -- seperti berbagai CD audio Alkitab, DVD Library Anak, traktat pelayanan anak, dll.. Namun, sebelum saya lanjutkan, ada kejadian menarik yang ingin saya ceritakan terlebih dahulu.

Sekitar satu jam sebelum berangkat ke Yogyakarta pagi itu, Pak Paul Jenks menghubungi Ibu Yulia, menginformasikan bahwa ada workbook untuk peserta seminar yang masih perlu diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Akibatnya, pagi itu kami mencoba menerjemahkan sebanyak mungkin isi workbook tersebut sebelum berangkat. Bahkan, dalam perjalanan bus ke Yogyakarta, Ibu Yulia sibuk mengetik dengan laptopnya dan saya dengan ponsel saya, untuk mengerjakan sebanyak yang kami bisa. Namun, karena workbook itu cukup banyak halamannya, maka tidak bisa cepat diselesaikan, bahkan sampai malam kami masih harus bekerja keras sambil menjaga booth dan menjelaskan tentang produk-produk SABDA saat ada yang berkunjung ke booth. Ada juga yang minta diinstalkan aplikasi-aplikasi Android ke ponsel mereka. Sedangkan Ibu Yulia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruang pertemuan, mengikuti seminar, dan menerjemahkan beberapa sesi untuk para pembicara. Itulah hari pertama.

Pada hari kedua, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

Para pembicara, Ps. David Anderson dan Pak Wick Jackson, sepertinya sangat senang jika Ibu Yulia yang menjadi penerjemah mereka. Tetapi masalahnya, Ibu Yulia tidak bisa tinggal lebih lama dan harus pulang siang itu karena harus mempersiapkan roadshow ke Lampung. Singkat cerita, setelah Ibu Yulia pergi, Ibu Lois meminta saya menjadi penerjemah untuk sesi kedua yang akan dibawakan oleh Pak Wick Jackson itu. Semuanya terjadi dengan begitu cepat, dan dalam waktu kurang dari 5 menit, saya sudah berada di samping Pak Wick di depan dengan memegang mikrofon, siap untuk menerjemahkan meski sedikit ragu dan tidak yakin. Namun, dengan pertolongan Tuhan, sesi tersebut bisa berjalan dengan baik dan materi bisa disampaikan seluruhnya kepada para peserta. Saya sangat bersyukur dalam hati.

Seusai sesi, saya juga berkesempatan untuk duduk dan makan bersama-sama dengan mereka dan membicarakan tentang banyak hal, salah satunya tentang apa yang baru saja kita bahas pada sesi sebelumnya, yaitu tentang pelayanan misi jangka pendek. Itu adalah pengalaman yang menyenangkan dan sangat berkesan bagi saya.

Sore harinya, saya harus kembali ke Solo. Saya ikut turun dari villa bersama-sama dengan rombongan Pak Paul, Ibu Lois, Pak David, dan Pak Wick, yang akan pulang ke hotel. Saya memanfaatkan kesempatan untuk berbincang dengan mereka, sekaligus meminta tanda tangan Pak David untuk salinan buku Gereja Misi Dunia yang saya punya. Pada kesempatan itu, Pak Paul juga menawarkan supaya saya menjadi penerjemah lagi untuk mini seminar dengan topik yang sama yang akan diselenggarakan di STT Berita Hidup pada 13 -- 14 Maret 2017. Sungguh kesempatan yang tidak ternilai bagi saya. Kemudian, setelah berpamitan dengan keempat orang tadi, saya diantarkan ke dekat bandara untuk bisa naik bus pulang ke Solo.

Sangat senang rasanya bisa turut ambil bagian dalam pelayanan serta mendapatkan pengalaman dan kesempatan yang berharga ini. Terlebih, saya sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang seperti Pak David dan Pak Wick, yang benar-benar memiliki hati untuk misi dunia. Dari pengalaman mereka dan materi yang mereka bawakan dalam seminar ini, saya belajar banyak tentang bagaimana mengambil bagian secara pribadi dan bermakna dalam misi dunia. Kiranya segala sesuatu yang sudah terjadi boleh menjadi jalan bagi kemuliaan Allah untuk dinyatakan melalui umat-Nya. Haleluya!

Pelayanan SABDA di Pontianak

Wed, 05/31/2017 - 11:49

Bersyukur kepada Tuhan karena pada tanggal 26 -- 29 April 2017, tim SABDA (saya dengan Ibu Yulia) mendapat kesempatan mengadakan roadshow ke Pontianak di tiga tempat, yaitu di STT Pontianak, acara IVEC, dan GKNI Pniel. Kami berangkat dari tempat yang berbeda. Saya berangkat dari Solo, sedangkan Bu Yulia berangkat dari Kupang bersama rombongan peserta IVEC dari luar negeri (seperti Taiwan, Hongkong, Amerika, Kanada, dan lain-lain).

Sesampainya di bandara Supadio, Pontianak, saya bertemu Bu Yulia dan langsung keluar bandara untuk menjumpai tim dari STT Pontianak yang sudah siap menjemput kami. Di STT Pontianak, kami akan memberikan pelatihan Software SABDA dan #Ayo_PA kepada lebih dari 100 mahasiswa dan beberapa dosen yang ikut hadir. Saya dibantu oleh Ronny, salah satu mahasiswa di sana, untuk menginstal Software SABDA pada laptop para peserta dan membantu jika ada yang mengalami kesulitan. Saya berharap 4 jam presentasi yang dibawakan oleh Bu Yulia dapat menjadi bekal berharga bagi para peserta dalam menggali firman Tuhan dan menyampaikan kebenaran di ladang yang Tuhan percayakan nanti.

Usai acara, kami diantar oleh Bapak Herwin, Dekan I STT Pontianak, ke rumah retret Tirta Ria, tempat berlangsungnya acara IVEC yang diselenggarakan tgl. 26 -- 28 April 2017. Jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut lebih dari 200 orang. Selain 30 peserta dari luar negeri dan 10 peserta dari Jawa, sebagian besar adalah peserta dari berbagai gereja di Pontianak (seperti GKNI Pniel, GKKB, GPPIK, dll.) dan luar Pontianak (Singkawang, Ngabang, dll.). Selama acara berlangsung, tim SABDA membuka booth untuk membagikan produk-produk SABDA agar para peserta dari Pontianak juga mendapat berkat.

Pada 27 April 2017, pkl. 11.00, Ibu Yulia menjadi pembicara untuk menyampaikan tentang bagaimana menjalankan "Misi pada Era Digital". Karena peserta dari luar negeri kebanyakan berbahasa Chinese, maka hampir seluruh acara diterjemahkan dalam bahasa Mandarin, termasuk materi Bu Yulia. Meskipun penerjemah terbata-bata, hal itu tidak menghalangi materi disampaikan secara lengkap. Ini terlihat dari respons peserta setelah presentasi. Beberapa dari mereka menyampaikan ke Ibu secara langsung, sedangkan yang lain mendiskusikannya di depan booth tentang era digital dan mengaitkannya dengan bahan-bahan yang kami miliki. Di sana, saya melihat bagaimana Tuhan membukakan wawasan baru kepada mereka tentang ladang misi yang hampir terlupakan oleh mereka, yaitu ladang misi dunia digital.

Pada acara tersebut, saya juga mendapatkan beberapa teman baru yang memiliki ketertarikan dalam dunia pelayanan anak, yaitu Elisa (yang bergabung dalam pelayanan bimbel GKNI Pniel) dan Yudi (yang sedang aktif mencari bahan untuk panggung boneka bagi anak sekolah minggunya). Dari pengalaman mereka, saya turut merasakan pemeliharaan serta kasih Tuhan kepada anak-anak yang dipercayakan kepada kami. Sungguh merupakan kesempatan berharga untuk melihat seorang anak dapat bertumbuh dan berkembang menjadi orang yang mengasihi Tuhan.

Pada 28 April, pkl. 14.00, acara IVEC selesai. Para peserta dari luar kota, luar pulau, dan luar negeri kembali ke tempat masing-masing, sedangkan kami melanjutkan pelayanan ke GKNI Pniel. Di gereja ini, SABDA memberikan pelatihan #Ayo_PA! yang dihadiri oleh jemaat dan anak-anak muda GKNI. Beberapa peserta dari gereja itu juga menjadi panitia pada acara IVEC sehingga kami tidak merasa asing lagi. Selain itu, hadir juga Pak Dedi dari GPPIK. Acara dibuka dan ditutup oleh Ibu Liliana, Gembala Sidang gereja ini. Saya terkesan dengan perhatian para peserta dalam mengikuti pelatihan #Ayo_PA!. Kiranya dengan pelatihan ini, kecintaan akan firman Tuhan dapat semakin menguatkan jemaat, terutama dengan bantuan teknologi.

Pagi-pagi benar, pada 29 April 2017, kami bergegas ke bandara untuk kembali ke Solo melalui Yogyakarta. Pesawat sempat mengalami delay 2 jam lebih. Sesampainya di Yogyakarta, kami transit ke Solo dengan menggunakan kereta api. Saya bersyukur untuk setiap pengalaman dan kesempatan, juga teman-teman baru yang Tuhan berikan selama roadshow di Pontianak. Kiranya semua yang sudah dibagikan dapat menjadi berkat dan nama Tuhan dimuliakan. Soli Deo Gloria!