RSS Blog SABDA

Subscribe to RSS Blog SABDA feed
melayani dengan berbagi
Updated: 50 min 29 sec ago

Pengalaman Magang Dua Bulan

Mon, 11/20/2017 - 14:46

Oleh: *Lidya

Halo teman-teman semua. Perkenalkan nama saya Lidya Putnarubun, saya adalah mahasiswi Sastra Inggris dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Puji syukur, dengan penyertaan Tuhan pada semester ke-7 ini, saya mendapat kesempatan untuk magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) selama dua bulan. Saya magang tidak sendiri karena ada beberapa kawan magang lain, yaitu Dita, Jean, Ryan, dan Jessica. Walaupun belum saling mengenal dekat, tidak butuh waktu lama untuk kami saling akrab. Selain karena berasal dari program studi yang sama dan angkatan yang sama, kami juga dari kelas yang sama meskipun kami memilih konsentrasi yang berbeda.

Selama dua bulan menghabiskan waktu di YLSA, ada banyak suka maupun duka yang saya pribadi alami. Pada umumnya, banyak orang beranggapan bahwa mahasiswa/i magang biasanya hanya akan menjadi pesuruh, seperti membuatkan kopi, fotokopi, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Namun, berbeda dengan apa yang saya alami di YLSA. Di YLSA, saya didorong untuk mengembangkan semua kemampuan yang ada, mengombinasikan setiap ilmu yang didapat selama di kampus dan di YLSA ini, dan kesempatan menjadi pribadi yang aktif berorganisasi. Saya merasa begitu dirangkul di tempat ini sehingga merasa begitu sedih ketika harus berpisah dengan teman-teman di YLSA.

Sungguh sangat berharga mendapatkan tempat magang seperti di YLSA. Semua pengalaman dan kemampuan yang didapat selama magang ini akan saya terapkan saat nanti terjun dalam dunia pekerjaan. YLSA telah menjadi tempat yang sangat membantu saya untuk berkembang. Di kampus, saya belajar teknik penulisan cerita fiksi yang mengutamakan sisi-sisi kehidupan dan lain sebagainya. Di YLSA, saya dilatih untuk menciptakan sebuah karya fiksi yang alkitabiah. Karya fiksi yang berlandaskan nilai-nilai kekristenan dan Alkitab. Bahkan, ketika menulis naskah drama, puisi, dan karya sastra lainnya, tulisan yang mengutamakan nilai-nilai Alkitab sangat diperhatikan di tempat ini. Ketika saya dan kawan-kawan menulis, kami tidak dibiarkan asal menulis, kami diorientasi, dilatih, dan dibina agar mampu bekerja dengan sebaik mungkin oleh para mentor.

Tugas yang paling menarik bagi saya selama dua bulan ini adalah menulis renungan. Selama di kampus, saya hanya menulis isu-isu seputar kehidupan sesuai teori-teori sastra, tetapi di YLSA sedikit berbeda, yaitu dengan mengutamakan nilai-nilai atau unsur-unsur kekristenan. Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, saya harus melewati tiga kali revisi dan beberapa kali tinjauan dari para mentor. Hasilnya, penulisan renungan saya menjadi tulisan yang menarik dan memberkati orang lain agar mengenal kasih Kristus.

YLSA tidak semata-mata berfokus pada kinerja staf saja. Selama menjalani dua bulan magang di sini, saya mendapat pertumbuhan rohani karena adanya persekutuan staf setiap Senin dan Jumat, lalu pendalaman Alkitab setiap Selasa, Rabu, dan Kamis. Saya juga belajar tentang kedisiplinan dalam mengerjakan tugas dan memenuhi tenggat waktu (deadline). Tidak hanya itu, kedisiplinan dalam hidup sehari-hari juga harus saya perhatikan. Di tempat ini, saya belajar membangun relasi yang berkeluargaan. Saya mampu melihat sudut pandang yang berbeda dari setiap orang, dan melatih diri saya untuk secara cepat beradaptasi dengan orang-orang baru. Selain itu, saya juga bisa ikut roadshow untum gerakan #Ayo_PA! di salah satu acara retret universitas di Solo.

YLSA memberi dan membuka kesempatan bagi saya dan teman-teman untuk mencoba hal-hal baru yang mungkin belum pernah kami temui, dan saya sangat bersyukur akan hal itu. Dua bulan, meskipun singkat, sesungguhnya menjadi pengalaman yang sangat bermakna dan bernilai bagi saya dan teman-teman. Banyak yang terjadi selama dua bulan. Kesempatan yang sangat berharga untuk mempersipkan kami menapaki hari esok yang penuh dengan kejutan dan harapan. Terima kasih YLSA.

Pengalaman Mengikuti KKR Reformasi 500: Dibenarkan Hanya oleh Iman

Thu, 11/09/2017 - 13:37

Oleh: *Jessica

Kesempatan untuk datang menghadiri Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dengan tema "Dibenarkan Hanya oleh Iman", yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Stephen Tong, di Hotel Best Western Premiere, Solo Baru, merupakan pengalaman yang sangat berarti bagi saya. Kurang lebih 3000 orang hadir pada kebaktian ini. Sore itu, bersama dengan staf SABDA lainnya, saya datang lebih awal untuk mengikuti beberapa arahan terlebih dahulu karena saya akan membantu menjadi salah satu kolektan. Saya bersyukur, bisa ikut melayani dan mendengarkan khotbah dari awal hingga akhir.

Kebaktian dimulai pada pukul. 18.30 WIB. Gedung yang dipakai untuk kebaktian ini cukup besar sehingga tidak semua kursi terisi. Namun, kursi bagian depan terlihat padat, hanya satu dua kursi yang kosong. Dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan kakek-nenek, datang untuk mendengar khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong pada malam itu. Sebelum khotbah, kami diantar untuk menyanyikan beberapa lagu. Satu atau dua lagu diantaranya adalah lagu ciptaan Pdt. Dr. Stephen Tong sendiri.

Selama kurang lebih 2 jam, Pdt. Dr. Stephen Tong berbicara mengenai iman dan semangat reformasi. John Calvin dan Martin Luther adalah dua tokoh penting yang banyak disebut dalam acara memperingati 500 tahun reformasi ini. Saya sangat terkesan dengan semangat Martin Luther yang diceritakan secara singkat oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Martin Luther berjuang sendiri melawan dunia, melawan apa yang dunia katakan "benar". Namun, Martin Luther memiliki Tuhan yang besar dan penuh kuasa. Ketika dunia menghukumnya, Tuhan mengirim orang-orang baik yang mau membantu Marthin Luther tetap hidup. Pertolongan Tuhan nyata pada setiap umat-Nya yang percaya. Kemudian, yang sangat menarik bagi saya adalah ketika beliau memberi penjelasan mengenai iman dan anugerah dengan memakai ilustrasi air yang mengalir melalui pipa. Pdt. Dr. Stephen Tong menggambarkan air sebagai sebuah anugerah dan pipa adalah iman. Ketika manusia menerima anugerah, artinya ia juga memerlukan iman agar anugerah itu dapat tercurah. Inti yang saya dapatkan dari khotbah Pdt. Dr. Stephen Tong yang cukup panjang malam itu adalah kita sebagai orang Kristen perlu membakar terus semangat reformasi pada abad ke-21 ini agar perjuangan John Calvin dan Martin Luther tidak sia-sia.

Kebaktian pada malam itu ditutup dengan kolekte dan doa penutup. Kursi-kursi sebelah kiri gedung tidak terlalu dipenuhi oleh jemaat sehingga kantong-kantong persembahan yang saya bawa tidak banyak terisi. Meskipun begitu, pengalaman ini sangat memberikan kesan bagi saya. Banyak ilmu dan hal baru yang saya pelajari dari sana. Kiranya KKR ini boleh memberkati banyak orang dan menolong orang untuk menemukan kebenaran yang sejati. Tuhan Yesus memberkati.

Pelayanan SABDA di Tanjung Pinang dan Batam 2017

Fri, 11/03/2017 - 10:20

Oleh: *Jeffrey Lim

Puji syukur kepada Tuhan Yesus! Pada 11 -- 15 Oktober 2017, tim SABDA yang terdiri dari Ibu Yulia, Jesica, dan saya mendapat kesempatan untuk melakukan roadshow SABDA di Tanjung Pinang dan Batam. Karena saya memang berdomisili di Tanjung Pinang, saya bertugas untuk menjemput Ibu Yulia dan Jesica di Bandara Tanjung Pinang pada 11 Oktober 2017, sore hari. Dari bandara, kami langsung menuju ke Gereja Kristus Yesus cabang Tanjung Pinang.

Di GKY Tanjung Pinang, Ibu Yulia menyampaikan pentingnya firman Tuhan dan kuasa firman Tuhan yang dapat mengubah hidup manusia. Dari pesan ini, dilanjutkan bahwa Tuhan memakai teknologi terbaik pada tiap zaman untuk menyampaikan Firman Tuhan. Lalu, pada akhirnya, ada refleksi seberapa banyak kita sering belajar firman Tuhan setiap hari. Ibu Yulia menjelaskan bahwa tanpa membaca dan belajar firman Tuhan setiap hari, rohani kita akan menjadi lesu. Saya sendiri sebagai jemaat GKY Tanjung Pinang merasa bahwa pesan ini penting untuk konteks pergumulan jemaat yang ada. Kita tidak bisa mengandalkan khotbah pada hari Minggu saja. Kita perlu menggumuli firman Tuhan secara pribadi dan bersama-sama.

Keesokan harinya, Kamis, 12 Oktober 2017, Pinang. kami melayani di Gereja Bethel Indonesia (GBI) Tabgha cabang Tanjung Satu hal yang mengesankan dari gereja ini adalah kehangatan persekutuannya, baik Pdt. Heryanto selaku Gembala Jemaat maupun anggota jemaatnya. Pada kesempatan ini, Ibu Yulia memberikan pelatihan "PA dengan Menggunakan Gadget". Sebelum memulai acara, setiap peserta wajib menginstal lima aplikasi untuk belajar Alkitab, yaitu Alkitab SABDA/Yuku, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus Alkitab, dan Peta Alkitab. Kemudian, Ibu Yulia mengajarkan bagaimana menggunakan semua apps tersebut untuk belajar Alkitab. Jemaat memberikan respons yang positif terhadap pelatihan tersebut. Pdt. Heryanto juga bersyukur, bahkan tidak takut kalau jemaatnya bisa belajar banyak Alkitab sehingga mempunyai pengertian yang dalam akan firman. Ini adalah satu sikap yang baik dari seorang hamba Tuhan. Pada malam itu, saya dan Jesica berada di belakang menjaga booth SABDA. Kami bersyukur untuk setiap bahan yang boleh kami bagikan. Semoga bisa dibaca/didengar dan mendatangkan berkat bagi mereka.

Selanjutnya, pada Jumat, 13 Oktober 2017, kami melayani di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Tanjung Pinang yang terletak di sekolah Fawridge Christian Academy (FCA). Mayoritas yang datang selain jemaat adalah orangtua murid dan guru-guru sekolah FCA. Sehari sebelum acara ini dimulai, seluruh orangtua murid sekolah FCA sudah diberi surat undangan seminar dari SABDA dengan judul "Shepherding in Digital Age: Preparing Parents and Children in Facing Digital Age". Mr. Fentje Palit, sebagai wakil gembala, senang menyambut pelayanan SABDA. Pada siang harinya, kami saling berkenalan dan menceritakan pelayanan masing-masing sambil dijamu makan siang yang sangat lezat di pinggir laut. Pada sore harinya, pukul 18.30, acara seminar dimulai dan Ibu Yulia menyampaikan materi selama kurang lebih 50 menit. Melalui materi yang padat ini, Ibu Yulia hendak menekankan pentingnya DQ (Digital Quotient) pada zaman ini. Sebagai penutup seminar, Ibu Yulia menjelaskan bahwa sebagai orang Kristen, yang lebih penting dari DQ sebenarnya adalah Biblical Quotient. Ketika seminar berakhir, terlihat hampir seluruh peserta sangat antusias, terutama ketika mengunjungi booth SABDA. Bahan-bahan SABDA banyak dilihat, diambil, bahkan dipesan. Antusiasme juga terlihat ketika mereka memberikan persembahan kasih sebagai bentuk dukungan bagi pelayanan SABDA. Mr. Fentje Palit mendekati Ibu Yulia dan menanyakan apakah bisa ada kelanjutan dari acara ini. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terberkati dengan pelayanan SABDA.

Akhirnya, sampai pada pelayanan di kota berikutnya, yaitu Batam. Pada kali ini, kami bersyukur karena Dr. Laura Lee, yang adalah istri saya, bisa turut membantu pelayanan di Batam bersama dengan putri kami, Fidelia Charis. Dari Tanjung Pinang, pada Sabtu 14 Oktober 2017, kami menyeberang pulau menggunakan ferry untuk sampai di Batam. Pelayanan di kota Batam adalah atas undangan dari Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII). Kami dijemput oleh tim GRII Batam dan makan siang bersama sebelum akhirnya berangkat ke GRII Batam untuk persiapan memasang booth SABDA. Setelah istirahat sebentar, kami sudah harus siap untuk melayani lagi.

Sama seperti pelatihan di GBI Tanjung Pinang, kami juga meminta seluruh jemaat yang hadir menginstal lebih dahulu kelima Apps untuk belajar Alkitab dari SABDA. Di depan pintu gereja, sebelum acara dimulai, bukan hanya saya dan istri yang membagikan brosur Apps SABDA, anak kami, Fidelia Charis, juga sangat semangat membagikan brosur. Jesica ada di booth SABDA untuk melayani setiap pertanyaan dari pengunjung booth. Pengunjung cukup membludak karena lebih dari 200 orang yang hadir dari berbagai gereja dan pelayanan. Pada pukul 18.30, pelatihan #Ayo_PA! dimulai oleh Ibu Yulia. Melalui pelatihan ini, jemaat diajak untuk mempelajari Alkitab dengan menggunakan Gadget. Vik. Melinda Mesakh, hamba Tuhan di GRII Batam, sempat mengatakan kepada saya bahwa Apps SABDA itu seperti BibleWorks versi kecil yang ada di Gadget. Bagi orang yang terjun di bidang teologi dan seminari tahu apa itu BibleWorks, yaitu software untuk belajar Alkitab. Selain menyediakan software yang seperti ini, yaitu Software SABDA, SABDA juga diberi anugerah untuk membuat Apps supaya setiap orang percaya bisa mengakses Alkitab dan bahan-bahannya untuk menggali Alkitab. Bagi orang yang percaya teologi Reformasi, tentunya salah satu semangat Reformasi adalah semangat supaya setiap orang (baik imam maupun awam) membaca Alkitab sendiri dalam bahasa yang mereka pahami. Pelayanan SABDA yang interdenominasi sangat sejalan dengan prinsip gereja Reformed yang mementingkan firman Tuhan (Back to the bible). Acara selesai cukup malam, pkl. 21.30. Kami terus melayani booth SABDA yang dipenuhi oleh banyak orang yang ingin melihat, bertanya, mengambil, dan memesan bahan-bahan SABDA. Ini merupakan hari pertama pelayanan SABDA di GRII Batam.

Hari kedua pelayanan SABDA di GRII Batam (15 Oktober 2017) adalah sharing pelayanan misi SABDA oleh Ibu Yulia. Pesan yang disampaikan kali ini adalah bahwa ladang misi terbesar pada zaman ini adalah internet. Dan, SABDA dipanggil untuk melayani di dunia digital. Setelah selesai sharing misi dalam kebaktian I dan II, Ibu Yulia melanjutkan pelayanan untuk guru-guru sekolah minggu dengan memberikan pelatihan bagaimana menggunakan DVD Library SABDA Anak sebagai alat peraga digital untuk pelayanan anak. Pada hari minggu ini, kami pun berpisah. Jesica kembali ke Surabaya, saya dan keluarga pulang ke Tanjung Pinang, dan Ibu Yulia akan pulang keesokan harinya ke Solo.

Ini adalah pengalaman pertama mengikuti pelayanan roadshow SABDA. Saya bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terlibat dalam pelayanan ini. Semua materi dan sharing yang disampaikan kiranya dapat menginspirasi jemaat untuk menggunakan teknologi bagi kemuliaan nama Tuhan. Adalah satu sukacita ketika kami melihat jemaat diberkati dengan seminar dan juga bahan-bahan SABDA. Selain itu, saya juga bersyukur untuk persekutuan dalam tim pelayanan kami. Selain melayani bersama-sama, kami juga menikmati persaudaraan dalam Kristus Yesus. Kiranya semua hormat, puji, dan syukur hanya bagi nama Tuhan kita, Allah Tritunggal. Amin!

*Jeffrey Lim adalah staf partime YLSA yang bekerja di luar Solo

Staf SABDA Mengikuti Seminar “Akhir Zaman”

Thu, 10/19/2017 - 15:25

Oleh: Danang D.K.

Pada Senin, 16 Oktober 2017, seluruh staf SABDA menghadiri seminar tentang "Akhir Zaman" di Gereja Pengharapan Allah, Mangkubumen, Solo. Kami berangkat bersama-sama dari kantor pukul 07.30 WIB, walau ada juga yang langsung berangkat dari rumahnya masing-masing. Acara ini diadakan oleh persekutuan paguyuban hamba-hamba Tuhan se-Solo. Pembicara dari seminar ini adalah Pdt. DR. Paul G. Caram, seorang berkebangsaan Amerika Serikat. Beliau cukup produktif dalam menulis buku dan banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Yayasan Voice of Hope menjadi jembatan penghubung antara beliau dengan masyarakat Indonesia. Untuk seminar kali ini, beliau menjelaskan dari dua bukunya, "Menyingkap Rahasia Akhir Zaman" untuk sesi I dan "Pedoman bagi Hamba Tuhan" untuk sesi II.

Saat kami datang, belum banyak peserta yang hadir, masih banyak kursi kosong. Setelah menunggu sekitar 30 menit, peserta mulai berdatangan. Kalau dihitung, jumlah pesertanya hanya puluhan. Jadi, ruangan terasa lengang karena gedung itu bisa menampung 500-an orang. Setelah beberapa pujian, doa, dan sambutan dari pengurus, dimulailah sesi I tentang "Akhir Zaman". Beliau menyampaikan materinya dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Bapak Daniel Saragih, M.Th.

Awalnya, Bapak Paul banyak membahas perspektif Perjanjian Lama berkaitan dengan akhir zaman. Beberapa tokoh PL (Perjanjian Lama) sudah mendapat pencerahan tentang akhir zaman, seperti Abraham dan Ayub . Kemudian, dibahas juga perihal pertumbuhan rohani. Jemaat diharapkan menjadi dewasa supaya siap menyambut kedatangan Kristus. Masa kesukaran menjelang akhir zaman bertujuan untuk menguji manusia. Mereka yang lolos uji adalah mereka yang dewasa rohaninya. Adam dan Ayub diuji untuk membuktikan kesetiaan mereka, dan setan digunakan Tuhan untuk melakukan pengujian tersebut.

Pembahasan materi berlanjut pada peran kita di dunia ini. Kita harusnya memiliki nama baik dan karakter yang baik karena itu adalah tolok ukur kerohanian. Dengan kedua hal itu pula, orang akhirnya bisa menghasilkan buah. Buah yang penting adalah buah yang kekal, yaitu jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa merupakan mahkota kita, upah kita di surga. Semua orang yang percaya kepada Yesus akan masuk surga, tetapi di surga setiap orang memiliki takaran upahnya masing-masing. Ada orang yang upahnya besar, ada yang kecil. Setiap hasil pekerjaan orang akan diuji dengan api, yang lolos uji dengan api akan memperoleh upahnya. Jadi, pembicara mengajak semua orang untuk melakukan investasi yang bijak dan menguntungkan, yaitu investasi pada jiwa-jiwa. Kelak, mereka ini menjadi kemuliaan kita di hadapan Tuhan. Dan, cara kita melakukan investasi tersebut adalah dengan mengajar jemaat dengan ajaran yang sehat. Ajaran yang salah, sekecil apa pun, akan menjadi kesalahan yang berlipat ganda dalam jemaat. Jadi, kita mesti sangat hati-hati dengan apa yang kita ajarkan.

Pembicara juga menjelaskan tentang kemuliaan tubuh kebangkitan, yang memiliki kemuliaan berbeda dengan malaikat, dan dengan tubuh kita yang fana ini. Tubuh kemuliaan memancarkan kemuliaan sosok manusia yang sesungguhnya. Sama seperti kemuliaan Yesus terpancar dalam peristiwa transfigurasi di Bukit Zaitun. Dengan pengharapan demikian, kita akan menanti-nantikan kedatangan Yesus dengan sukacita. Mengasihi Tuhan dan sesama manusia menjadi teladan Yesus yang bisa ditiru untuk semua orang percaya. Kemegahan kita semestinya bukan karena semua hal yang fana, uang, kecerdasan, penampilan, dan keangkuhan, sebab semuanya tidak bisa dibawa mati.

Pada sesi II, pembicara membahas tentang sikap teladan hamba Tuhan dan kondisi pernikahan mereka yang semestinya menjadi panduan bagi jemaat. Orang yang dewasa rohani semestinya menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, ajakan ini menjadi renungan yang besar dalam seminar ini. Pemahaman tentang akhir zaman semestinya mendorong kita untuk lebih hidup kudus dan berkenan kepada Dia sebagai wujud kehidupan beriman yang dipraktikkan secara nyata. Selamat menyambut kedatangan Kristus dengan sukacita. Soli Deo Gloria!

Roadshow #Ayo_PA! di GSPII Solo

Tue, 10/17/2017 - 11:21

Oleh: Ariel

Setelah berulang kali tim SABDA melayani presentasi #Ayo_PA! di luar kota, bahkan di luar Pulau Jawa, kali ini tim SABDA diminta melakukan presentasi di dalam kota. Presentasi kali ini kami lakukan di Gereja Sidang Persekutuan Injil Indonesia (GSPII) Sumber, Surakarta. Yang melayani presentasi kali ini adalah saya dan Tika, dibantu dengan dua staf magang dari Universitas Kristen Satya Wacana, yaitu Rian dan Dita. "Nanti yang akan dilayani adalah para pemuda, guru sekolah minggu, dan juga beberapa majelis," kata Pdt. Beni, gembala sidang gereja tersebut, sewaktu menyampaikan permintaan presentasi untuk gerejanya. Hal itu cukup membuat "deg-degan", tetapi pelayanan harus tetap dilakukan dengan baik.

Pada Sabtu, 14 Oktober 2017, pukul 18.30 WIB, kami tiba di lokasi pelayanan sesuai dengan waktu yang disepakati. Sesampainya di sana, kami disambut oleh Pdt. Beni dan beberapa pemuda yang baru selesai latihan untuk ibadah pada Minggu pagi. Sayang, mereka tidak mengikuti pelatihan. Dibantu oleh Pdt. Beni, kami menyiapkan alat-alat yang diperlukan, kami segera menyiapkan booth, LCD, dan juga laptop untuk presentasi. Dengan teliti, kami menyiapkan semuanya. LCD kami coba, screen-cast juga kami coba, mouse, pointer, semuanya kami coba, dan semuanya berjalan lancar. Saya juga melihat Rian dan Dita sibuk menyiapkan meja booth.

Pukul 19.30 WIB, jemaat mulai berdatangan, tetapi hanya enam orang. Setelah kami tanya, ternyata banyak yang tidak bisa hadir pada malam itu karena banyak acara sekolah, kampus, dsb. Pada saat itu, hadir juga dua orang majelis dari gereja tersebut. Walaupun sedikit yang datang, kami tetap harus melayani mereka sepenuh hati karena pelayanan kami adalah untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Setelah menyanyikan dua lagu, tiba waktunya bagi kami untuk melakukan presentasi. Giliran pertama adalah saya, yang menyampaikan tentang "Tujuh Alasan Melakukan PA" dan "Mengapa Menggunakan Alkitab Digital". Tugas yang berat karena saya harus bisa membangun suasana supaya tidak terlalu tegang, tetapi juga tetap harus fokus. Saya menyampaikan materi ini dengan serius karena hal ini sangat penting. Ini adalah dasar melakukan PA (Pendalaman Alkitab). Ibarat bangunan, sebuah fondasi harus benar-benar kuat agar sebuah bangunan berdiri kokoh di atasnya. Puji Tuhan, semua peserta fokus dan perhatian, bukan kepada saya, melainkan kepada materi yang saya sampaikan. Ini terbukti pada sesi akhir ketika saya mengajukan pertanyaan seputar materi dan mereka bisa menjawabnya dengan baik.

Sesi kedua adalah metode PA S.A.B.D.A. yang disampaikan oleh Tika. Diawali dengan gangguan teknis, yaitu screen-cast yang tiba-tiba tidak bisa berfungsi, cukup membuat Tika khawatir. Pada saat terjadi "kekosongan" seperti itu, sebagai anggota, saya harus bertindak sigap dan fleksibel. Saya ambil alih waktu dan tempat untuk mengumumkan tentang booth, dilanjutkan dengan Rian yang mengumumkan tentang form yang harus diisi oleh peserta. Kemudian, walaupun screen-cast tidak bisa berfungsi, Tika tetap melanjutkan presentasinya. Dengan memanfaatkan situasi yang ada, dengan jumlah peserta yang sedikit, ia mengajak peserta untuk maju ke depan sampai bisa melihat handphone yang dipegangnya dengan jelas. Akhirnya, Tika memulai presentasinya tanpa memakai screen-cast, peserta pun memperhatikan dan mempraktikkan setiap instruksi yang diberikan oleh Tika. Di belakang, Rian menjelaskan tutorial SABDA kepada dua majelis yang hadir tadi. Tepat pukul 21.00 WIB, presentasi kami akhiri. Tika sempat meminta testimoni kepada beberapa peserta, dilanjutkan dengan sesi pengambilan foto bersama.

Dari roadshow kali ini, saya belajar beberapa hal antara lain: fleksibel (apa pun yang bisa dikerjakan pada saat itu juga harus segera dikerjakan), lihat peluang, dan manfaatkan kesempatan. Tidak perlu melihat ini tugas siapa dan itu tugas siapa, jika bisa dikerjakan, ya harus segera dikerjakan. Selain itu, kami juga belajar kerja sama dalam tim. Tidak ada yang lebih unggul antara satu dengan hal lain, semua adalah pelayan Tuhan. Oleh sebab itu, dalam satu tim harus saling membantu.

"Apa pun yang ditemukan oleh tanganmu untuk dikerjakan, lakukanlah itu dengan kekuatanmu. Sebab, tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, atau kebijaksanaan di dunia orang mati, tempat ke mana kamu pergi." Pengkhotbah 9:10(AYT).

SABDA di Konferensi Konseling Keluarga Indonesia: Pastoral dan Media Sosial

Sun, 10/15/2017 - 13:30

Oleh: * Harjono

Kesehatan mental adalah isu yang masih terkesan tabu di Indonesia. Banyak yang mengalami, tetapi sedikit yang mengakui.Contohnya bermacam-macam, baik stres berlebihan, depresi, anak berkebutuhan khusus, atau ketidakharmonisan relasi dengan keluarga. Menjawab kebutuhan ini, Konferensi Konseling Keluarga Indonesia 2017 menjadi event khusus bagi konselor untuk bersiap menghadapi tantangan zaman, khususnya zaman digital. Dengan mendasarkan diri pada iman Kristen dalam pelayanan konseling, tentu ada harapan bagi para konselor ini untuk menjadi berkat yang dapat menolong konsele hidup sesuai dengan rencana Allah. Bagaimana caranya? SABDA beserta beberapa narasumber dalam bidang psikologi dan teologi mengupasnya dengan saksama.

Tim SABDA yang terdiri dari saya dan Bu Yulia, hadir pada acara ini Minggu, 8 Oktober 2017, hari ketiga dari konferensi yang berlangsung mulai 6 Oktober 2017 di Lemo Hotel, Serpong, Tangerang. Acara terbilang ramai karena jumlah peserta yang lebih dari 350 orang. Selain menjadi narasumber, YLSA juga berkesempatan membuka booth untuk berbagi produk-produk pelayanan. Dengan bantuan panitia, ada dua meja besar yang disiapkan untuk men-display semua bahan SABDA yang "bejibun", seperti CD Alkitab Audio dengan lebih dari 30 bahasa (bahasa Indonesia, bahasa daerah di Indonesia, dan bahasa asing), DVD bahan pelayanan, SD Card SABDA yang penuh bahan multimedia Kristen, dan brosur-brosur pelayanan YLSA, termasuk brosur aplikasi SABDA Android, publikasi dan situs YLSA, Apps4God, PESTA, Anda Punya Waktu, dll.

Persiapan booth sudah selesai dan ada satu dua panitia yang mulai tertarik melihat booth kami. Pada sesi break, para peserta mulai mendatangi booth dan bertanya tentang bahan-bahan yang kami display di meja. Kami juga kadang-kadang menjelaskan isi masing-masing bahan dan bagaimana memakainya. Contohnya, CD Alkitab Audio yang bisa didengarkan dengan music player di mobil, CD player, atau diunduh file-nya agar bisa didengar melalui gawai mana pun. Kami perlu juga meyakinkan bahwa produk-produk SABDA itu gratis, tetapi bagi yang tergerak bisa memberi persembahan sukarela. Saking banyaknya permintaan, bawaan kami berkurang dengan cepat. Kami berusaha menolong agar peserta-peserta yang datang dan mengambil produk SABDA mengerti sepenuhnya manfaat dari bahan-bahan yang disediakan YLSA.

Pada pleno kedua, Bu Yulia bersiap untuk menjadi pembicara. Beliau membawa sesi "Pastoral dan Media Sosial" yang menurutku sangat manis tanpa kehilangan bobotnya. Topik zaman digital yang biasanya "njelimet" bisa dibawakan dengan lancar melalui contoh-contoh hidup sehari-hari. Yang paling menarik adalah contoh cara Bu Yulia berkomunikasi dengan putrinya yang masih remaja melalui emoticon. Pergumulan beliau yang kadang gaptek, sedangkan putrinya yang hi-tech, terkesan jujur dan membangun. Banyak peserta yang tertawa dan terbawa dengan obrolan Bu Yulia. Menit-menit awal terasa ringan, sampai suasana serius terlihat ketika beliau melontarkan kritik terhadap gereja-gereja dan khususnya konselor yang kurang memperlengkapi diri dengan "Digital Quotient" (Kecerdasan Digital - Red.) dan "Biblical Quotient" (Kecerdasan Alkitab - Red.). Konsep yang sangat penting ini menjadi penentu apakah seseorang akan menjadi pelayan Tuhan yang efektif pada masa depan, khususnya bagi generasi muda.

Respons atas presentasi Bu Yulia tampaknya masih terbawa sepanjang acara. Terbukti dengan diundangnya kembali Bu Yulia menjadi panelis dadakan di sesi Q & A bareng dengan Bu Jenny Lukito. Dalam sesi diskusi panel, para peserta semakin aktif bertanya mengenai isu keluarga, pelayanan, dan gawai yang membayangi kehidupan mereka. Secara keseluruhan, semuanya saling belajar, jawaban tiap panelis melengkapi yang lainnya. Yang penting, mereka siap untuk tidak takut pada teknologi, sebab pada akhirnya teknologi juga adalah untuk Tuhan.

Akhir kata, Tuhan telah memperlengkapi para konselor ini. Semoga mereka semakin siap dan sadar dengan tantangan zaman yang sekarang serba digital dan miskin rohani. Sadar akan anugerah Tuhan, yaitu teknologi yang diberikan pada abad ini untuk menjadi cara baru bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus.

Roadshow #Ayo_PA! KMK UNSA di Wisma INRI

Tue, 10/10/2017 - 14:35

Oleh: Aji

Wisma INRI, yang terletak di daerah Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, menjadi tempat saya dan beberapa teman dari Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) mengadakan roadshow #Ayo_PA!. Roadshow yang diadakan pada Sabtu, 7 Oktober 2017 yang lalu ini, digelar atas undangan panitia retret dari Keluarga Mahasiswa Kristen Universitas Surakarta (KMK UNSA), dengan tema retret "Stronger Together". Ini merupakan agenda tahunan bagi mereka, dan diikuti oleh seluruh mahasiswa Kristen UNSA yang berasal dari berbagai fakultas. YLSA diminta menjadi salah satu pengisi acara guna berbagi pengetahuan tentang penggunaan teknologi untuk mempelajari firman Allah.

Untuk mengisi acara tersebut, YLSA menugaskan saya dan keempat teman saya, yaitu Ody,  Mei,  Lydia,  dan  Manda. Saya dan Ody ditunjuk sebagai presentator, sedangkan Mei, Lydia, dan Manda bertanggung jawab atas booth, instalasi aplikasi, dan dokumentasi. Kami sampai di wisma INRI pukul 12.00 WIB, lalu disambut oleh panitia dengan perkenalan dan makan siang. Udara yang sejuk, pemandangan yang indah, dan menu makanan yang lezat menambah semangat saya untuk mengikuti kegiatan kali ini. Namun, saya harus segera melupakannya karena kami harus bersiap untuk acara presentasi yang dimulai pukul 13.30 WIB. Sebelum itu, kami sibuk dengan standar prosedur operasional setiap kali roadshow #Ayo_PA! diadakan, seperti: menyiapkan laptop dan alat-alat dokumentasi, pemasangan MMT, dan set-up booth. Kami bersyukur karena pihak panitia memperhatikan kebutuhan kami dan ikut membantu kami menyiapkan segala sesuatu. Ody menjadi presentator pertama memberikan penjelasan tentang "Pentingnya Mempelajari Firman Allah" dan "Peluang Penggunaan Teknologi Digital untuk Ber-PA". Sambil materi pertama disampaikan, kami menginstalkan lima aplikasi Android SABDA ke handphone para peserta karena pada sesi ke-2, cara-cara penggunaan aplikasi tersebut akan dipraktikkan bersama-sama. Saya pikir Ody sangat lancar dalam menjelaskan maksudnya. Konten berhasil disampaikan dengan padat-berisi, tetapi tidak kaku dan terkadang mengundang gelak tawa peserta

Sesi selanjutnya, saya isi dengan mengajarkan cara pakai kelima aplikasi Android SABDA dan langkah-langkah metode S.A.B.D.A.. Kelima aplikasi yang saya jelaskan, antara lain: aplikasi Alkitab, AlkiPEDIA, Tafsiran, Kamus, dan Peta Alkitab. Dan, diikuti dengan penyampaian metode PA S.A.B.D.A. (Simak, Analisa, Belajar, Doa+Diskusi, Aplikasi) yang dirancang oleh YLSA untuk ber-PA dengan bantuan alat-alat digital. Respons peserta cukup baik. Banyak dari mereka mencoba-coba fitur yang ada dalam aplikasi SABDA sambil mendengarkan penjelasan saya. Ketika saya memberi kuis untuk mencari berapa jumlah kata "firman" dengan aplikasi Alkitab SABDA, para peserta dengan antusias mencoba mencari jawaban di handphone mereka. Beberapa di antara mereka memberikan jawaban hingga 1000+ kata walaupun jawaban yang benar sebetulnya hanya puluhan kata. Namun, saya senang, mereka memberikan perhatiannya ketika materi yang saya bawakan adalah materi yang sebetulnya sangat teknis; berisi tutorial-tutorial pemakaian teknologi, bukannya suatu ceramah yang bertujuan untuk menggugah emosi pendengar. Saya menutup presentasi dengan menginformasikan mengenai gerakan #Ayo_PA! dan tautan video tutorial metode PA S.A.B.D.A. pada situs YouTube.


Pada acara ini, produk-produk di booth SABDA cukup laris diminati oleh para peserta retret. Produk yang banyak dibawa pulang adalah DVD Dengar Alkitab dan beberapa DVD Audio Alkitab. Kami juga membagikan brosur metode S.A.B.D.A. kepada semua peserta supaya sewaktu-waktu metode ini bisa dipelajari kembali oleh mereka. Besar harapan kami, bahan-bahan yang dibawa pulang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya, dan dibagikan kepada rekan-rekan peserta agar Kabar Baik dimengerti oleh semakin banyak orang.

Setelah puas mengambil foto dan beramah-tamah dengan para peserta retret, kami berlima memutuskan meninggalkan wisma INRI pada pukul 15.30 WIB. Kami merasa lelah, tetapi senang karena bisa menabur sesuatu yang bermanfaat untuk pertumbuhan iman para mahasiswa. Menjadi suatu kehormatan besar jika kami bisa hadir di tengah mereka dan berbagi informasi tentang penggalian kitab suci menggunakan alat dan cara PA pada abad ke-21. Saya berharap, uraian yang telah kami sampaikan bisa diterima dengan baik oleh peserta, dan diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan mereka agar bisa menjadi berkat untuk sesama. Tidak lupa, kami bersyukur kepada Allah yang memungkinkan acara ini berlangsung dengan sangat baik. Dialah yang memulai suatu pelayanan, dan Dia pula yang akan mengakhirinya dengan hasil yang gemilang. Segala kemuliaan hanya bagi Allah.

Perjalanan Awal dengan Duo “S” — SABDA dan SOLO

Fri, 10/06/2017 - 16:24

Oleh: Jean Amanda

Shalom, nama saya Manda, berasal dari Ambon, Maluku. Saya mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, yang sedang menjalani program magang di Yayasan Lembaga SABDA bersama dengan empat teman saya, yaitu Handa, Jessica, Dita, dan Lidya. Pada kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang awal perjalanan saya dalam menjalankan tanggung jawab di tempat yang baru. SABDA adalah keluarga yang menyambut kehadiran kami semua. Mulai dari staf hingga pemimpinnya menerima kami dengan sukacita, pada 4 September 2017.

Di SABDA, rasa kekeluargaan dan keakraban sangat terasa. Mulai dari Pendalaman Alkitab di kelompok kecil, Persekutuan Doa, senam, dan makan siang, semuanya dilakukan bersama-sama setiap hari. Banyak pula yang mengajak kami untuk makan bersama pada malam hari, baik dari staf maupun pemimpin SABDA. Saya dan teman-teman sangat antusias akan hal-hal baru tersebut, juga dengan keluarga baru yang kami temui di SABDA. Kami tidak menyangka akan mendapatkan pengalaman yang lebih daripada sekadar bekerja. Bagi saya, hal-hal tersebut adalah cara yang sangat tepat dan hangat bagi para calon magang yang "takut diusili".

Sejak minggu pertama menjalani magang, sudah banyak hal yang saya peroleh dan pelajari. Saya yang tadinya sering absen membaca Alkitab, apalagi melakukan Pendalaman Alkitab, kini mulai belajar untuk lebih tekun dan peka mendengar suara Tuhan. Tidak hanya mendengarkan, saya juga membuat komitmen pribadi setelah membaca firman Tuhan tersebut. Saya yang sebelumnya hanya mempelajari terjemahan dari kelas teori dan praktik yang sangat minim, kini menjadi lebih luas wawasannya dalam praktik terjemahan di dunia kerja. Menulis yang sebenarnya bukan konsentrasi studi saya, juga saya pelajari dan coba selama masa magang di sini. Semua hal ini saya pandang sebagai "bonus magang".

Saya tidak salah ketika memilih SABDA sebagai tempat untuk melayani pekerjaan Tuhan. Saya melihat magang di SABDA sebagai kepercayaan yang Tuhan berikan kepada saya. Tuhan ingin saya menggunakan talenta dari-Nya untuk pekerjaan kemuliaan nama-Nya. Benar saja, saya merasa semakin terberkati, dan dengan tuntunan Tuhan, saya berusaha menjadi berkat bagi orang lain.

Yayasan Lembaga SABDA yang berdomisili di kota Solo membuat saya dan teman-teman mau tak mau harus beradaptasi. Pada awal kedatangan, kami sempat dibuat bingung dengan tata kotanya yang menurut saya memiliki banyak gang besar maupun kecil. Masalah cuaca yang jauh lebih panas dari Salatiga, tempat saya "menimba" ilmu, juga membuat kami sering mengeluh pada awalnya. Puji Tuhan, mengenai makan tidak menjadi penghambat karena tersedianya banyak tempat makan di sekitar mess yang kami tempati. Proses adaptasi berlangsung cukup cepat karena orang-orang di sekitar kami yang turut mendorong dan membantu. Saya dan Lidya, yang berasal dari Ambon, sering ditanya tentang daerah asal kami. Kami senang memberikan jawaban kepada mereka karena kami sekaligus dapat memperkenalkan kebudayaan daerah kami kepada orang-orang yang baru kami kenal.

SABDA dan Solo adalah "duo S" yang cocok bagi orang percaya yang ingin memberikan waktu dan talenta mereka bagi perluasan pekerjaan Tuhan di dunia ini. Baik staf magang maupun staf tetap, semuanya dipersatukan dan dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Puji Tuhan!

Pengalaman Membimbing Staf Magang dari UK PETRA

Mon, 10/02/2017 - 16:07

Oleh: Hadi

Sehubungan dengan staf magang ITS pada tahun ini, respons saya pertama adalah bersyukur kepada Tuhan. Ini adalah keempat kalinya saya diberi kesempatan untuk membimbing teman-teman mahasiswa magang di Yayasan Lembaga SABDA. Pada tahun ini, jumlah mahasiswa magang lebih banyak dari tahun sebelumnya, yaitu enam orang, semuanya dari Universitas Kristen Petra Surabaya. Mereka menjalani masa magang selama 2 bulan, mengikuti setiap pola aktivitas yang dilakukan YLSA, mengerjakan proyek yang sudah ditentukan, dan setiap hari belajar untuk bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan keterampilan.

Persiapan magang kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena pada bulan pertama harus dilakukan tanpa kehadiran Bu Yulia, yang pada saat itu cuti selama satu bulan. Karena itu, kami menyempatkan waktu untuk pergi ke UK Petra Surabaya untuk bertemu dengan dosen pembimbing dan mahasiswa-mahasiswa magang serta mendiskusikan proyek dan aktivitas yang akan dikerjakan selama dua bulan nanti. Mereka adalah Andy, David, Cenius, Teddy, Wilson, dan Hendry.

Tema proyek magang yang dipersiapkan adalah "Alkitab Pintar". Ide dari Alkitab Pintar adalah menggabungkan antara Google Assistant dan Wolfram Alpha. Google Assistant berperan sebagai asisten pengguna yang selalu siap dan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Alkitab, sedangkan Wolfram Alpha bertindak sebagai knowledge engine, yang mempunyai banyak informasi seputar Alkitab untuk disajikan kepada pengguna sesuai topik-topik yang berkaitan. Adapun pembagian subtema proyek dibagi menjadi tiga, yaitu Intelligent Search, Topical System, dan Media Management System.

Selama tiga minggu pertama magang, mereka belajar banyak hal tentang perkembangan teknologi terkini yang saat ini dipakai untuk membangun sistem. Mereka harus secara aktif belajar tentang topik-topik yang sudah diberikan. Tugas yang akan mereka kerjakan adalah menulis artikel, mempresentasikan apa yang sudah mereka pelajari dengan teman-teman lainnya, dan demo proyek sebagai implementasi dari apa yang sudah dipelajari. Saya sebagai pembimbing juga harus melakukan persiapan untuk bisa mengarahkan mereka agar tugas-tugas yang dilakukan dapat sesuai dengan yang diharapkan. Selain saya, ada beberapa staf SABDA yang juga ikut ambil bagian, yaitu Evie sebagai scrum master, Liza, Ody, Danang, dan Tika sebagai pembimbing khusus sebelum mereka melakukan presentasi.

Setelah Ibu Yulia selesai dari cutinya, kami lebih fokus dan intensif mengembangkan proyek Alkitab Pintar. Mereka mulai membuat lean canvas, roadmap, dan strategi supaya proyek setiap tim dapat diselesaikan dengan baik. Dalam prosesnya, kami mengalami kesulitan karena banyak dari teman-teman magang yang masih kebingungan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Bersyukur, pada saat itu Pak Jeffrey datang satu minggu ke SABDA, dan setelah berdiskusi, kami memutuskan untuk mengarahkan teman-teman magang dan pembimbing untuk belajar elasticsearch. Elasticsearch adalah indexing engine yang mampu digunakan sebagai sistem pencarian canggih seperti sistem Google Search maupun Facebook sebagai Graph Engine yang memberikan sistem rekomendasi berdasarkan relasi. Kami belajar secara online dalam kelas udemy, dengan mengambil dua kelas, durasi waktu 5 jam dan 8 jam.

Keputusan untuk belajar elasticsearch membuahkan hasil, ada perkembangan yang baik karena semua ikut ambil bagian saling menolong. Proyek menjadi semakin jelas dengan fokus pada Elasticsearch for More Intelligent Biblical Search, Constructing Topical System with elasticsearc and Custom Analyzer, dan Biblical Media Management System with Elasticsearch and Metadata. Mereka semua belajar dan bekerja dari pagi hingga malam untuk bisa menyelesaikan tugas. Setiap tim harus mengimplementasikan elasticsearch sebagai dasar untuk memasukkan dan menstrukturkan data, dan menggunakan Angularjs untuk membangun user interface. Staf SABDA menolong mereka menyediakan data dan mengarahkan jika mereka mengalami kesulitan, baik dalam struktur data maupun scripting. Pada hari terakhir, mereka mempresentasikan apa yang sudah dibuat, sekaligus menjadi acara perpisahan.

Bersyukur kepada Tuhan karena pertolongan-Nya sehingga teman-teman magang mampu membuat prototype dan menyelesaikan tugas magangnya. Bagi kami, apa yang sudah dihasilkan cukup untuk membuktikan bahwa proyek ini bisa dijalankan. Untuk menyelesaikan proyek Alkitab Pintar, masih dibutuhkan waktu yang panjang dan kerja keras karena proyek ini merupakan pekerjaan besar. Kami tidak bisa mengerjakannya sendiri, harus ada lebih banyak orang yang terlibat, dan harus dipecah-pecah menjadi tugas-tugas yang lebih kecil. Karena itu, kami berdoa kiranya Tuhan mengirim orang-orang yang terpanggil untuk mengerjakan proyek ini bersama kami. Jika ada pembaca yang tergerak untuk membantu, silakan menghubungi kami. Mari bersama-sama mengerjakan proyek Alkitab Pintar untuk menolong orang-orang Kristen belajar firman Tuhan dengan pintar. Kiranya Tuhan menolong kita.

Persekutuan Staf yang Istimewa

Mon, 09/25/2017 - 14:08

Oleh : Indah

Kamis, 24 Agustus 2017, menjadi hari yang cukup berbeda dari hari biasanya. Selepas kerja, seluruh staf SABDA, ditambah teman-teman dari UK PETRA Surabaya yang sedang magang, berkumpul untuk mengadakan persekutuan staf. Acaranya pun cukup berbeda dari biasanya. Jika biasanya diisi dengan lagu puji-pujian, renungan, sharing, dan permainan, kali ini diisi dengan presentasi +TED dari staf SABDA dan presentasi hasil akhir proyek staf magang. Selain itu, kami juga mengadakan acara perpisahan dengan Andy, Teddy, Cenius, Hendry, Wilson, dan David yang sudah melakukan magang di YLSA sejak 28 Juni 2017. Tempat persekutuan yang kami pilih adalah ruangan baru, lantai dua kantor lama SABDA yang baru saja selesai dibangun. Ruang baru ini nantinya akan dipakai untuk kantor Alkitab Yang Terbuka (AYT). Meski belum sepenuhnya selesai, kami bersyukur bisa memakai ruang baru tersebut untuk bersekutu.

Pukul 16.45 WIB, kami sudah diingatkan untuk berkumpul. Setelah sejenak melepas lelah dengan menikmati makanan ringan dan minuman, kami memulai acara dengan menyanyikan lagu "Jangan Lelah". Setelah doa pembukaan, acara dilanjutkan dengan tiga presentasi menarik yang dibawakan oleh staf YLSA, dan dipandu oleh Ody sebagai moderatornya. Presentasi +TED @SABDA menjadi pembukaan yang sangat menyenangkan karena diawali dengan presentasi Lukas berjudul "Apa itu Instagram Stories?" dengan gaya penyampaian anak zaman. Lukas menjelaskan bahwa fitur terbaru dari Instagram ini dapat menambah nilai postingan kita melalui Instagram dan bisa juga dipakai untuk sarana promosi agar lebih banyak orang bisa mendapatkan bahan-bahan SABDA. Dalam penjelasannya, Lukas memaparkan bahwa sekarang kita juga dapat membuat video stories yang menarik untuk dibagikan melalui fitur ini.

Setelah Lukas selesai menjelaskan presentasinya, giliran Hadi menyampaikan presentasi tentang "Google Search" dengan gaya penyampaian yang terlihat lebih serius. Presentasi ini diawali dengan contoh-contoh dan cara praktis menggunakan fasilitas search saat kita akan berselancar di dunia maya. Hadi menjelaskan cara "smart" untuk menghasilkan pencarian yang optimal sesuai keinginan atau kebutuhan kita melalui mesin pencari Google. Banyak trik yang dipaparkan oleh Hadi dan sangat menolong kami dalam pelayanan di SABDA, khususnya ketika staf ingin melakukan pencarian referensi yang tepat.

+TED selanjutnya adalah "Public Speaking" yang dibawakan oleh Evi. Awalnya, Evie memaparkan bahwa setiap orang adalah "public speaker" karena kita adalah mahkluk sosial, dan saat kita menyampaikan gagasan atau ide kepada orang lain, kita sebenarnya sedang melakukan public speaking. Evie juga menjelaskan bagaimana kita bisa memanfaatkan kesempatan dan waktu yang ada untuk belajar menjadi "public speaker" yang baik, tentunya dengan banyak latihan dan jam terbang minimal 20 jam. Evie sering berlatih di depan suaminya, atau bahkan boneka atau cermin. Kalau perlu direkam supaya bisa mendengarkan kembali rekamannya supaya bisa tahu mana yang kurang baik dan memperbaikinya.

Setelah menikmati sajian materi yang dapat membantu kami melayani dengan lebih baik, kami melanjutkan acara dengan tiga presentasi dari staf magang. Mungkin lebih tepatnya, mereka menyampaikan laporan tugas yang sudah dilakukan selama dua bulan di YLSA. Selama mengerjakan proyek, mereka dibagi menjadi 3 tim dengan anggota masing-masing 2 staf magang. Puji Tuhan, tugas magang mereka bisa diselesaikan tepat waktu.

Ketiga proyek magang yang dikerjakan adalah Biblical Media Management System (oleh Andy dan Teddy), Topycal System (oleh Cenius dan Hendry), dan Intelegent Search (oleh David dan Wilson). Proyek yang mereka kerjakan ini adalah bagian dari Alkitab Pintar yang selama ini dikembangkan SABDA. Mereka masing-masing memaparkan bukan hanya hasil tugas mereka, melainkan juga hasil mereka belajar di YLSA. Dari sharing mereka, awalnya mereka sempat bingung dan bahkan frustrasi sehingga pada bulan pertama kerja mereka kurang berjalan dengan baik. Namun, melalui proses yang Tuhan izinkan, akhirnya mereka dapat mengerjakan proyek tersebut dengan kerja keras dan dibantu oleh staf ITS YLSA. Dibandingkan dengan presentasi-presentasi sebelumnya, presentasi mereka kali ini jauh lebih baik.

Setelah mereka selesai presentasi, Bu Yulia menyampaikan pesan bagi teman-teman magang agar mereka tidak melupakan setiap proses yang sudah Tuhan izinkan terjadi di YLSA. Yang paling penting, teruslah bertumbuh secara rohani dengan melakukan disiplin rohani membaca Alkitab seperti yang sudah mereka lakukan selama di YLSA. Jangan hanya saat magang mereka rajin PA, semoga dalam kehidupan pribadi mereka terus giat melakukannya. Pada malam itu, mereka semua meninggalkan Solo dengan naik kereta malam. Karena itu, kami berdoa agar mereka tiba di Surabaya dengan selamat. Selamat ya, untuk teman-teman magang.

Pengalaman Magang Mengerjakan Bagian dari Proyek “Alkitab Pintar”

Fri, 09/15/2017 - 10:58

Oleh:* Wilson Mark

Nama saya Wilson Mark. Saya adalah mahasiswa informatika di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Ketika memasuki semester enam ini, saya mendapat peluang untuk magang di SABDA. Saya magang di Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) bersama teman-teman, yaitu Andy, Cenius, David, Hendry, dan Teddy. Saya hanya mengenal beberapa saja dari lima orang itu sebelum magang, tetapi kami semua menjadi teman pada saat kita bertumbuh dan bekerja bersama di SABDA. Hari pertama masuk kerja, kami diorientasi oleh staf yang bekerja di SABDA. Setelah orientasi, kami ditugaskan untuk mempelajari sistem yang dibuat oleh SABDA, yaitu “SABDA Bible Engine”. Selama tiga hari pertama, yang kami pelajari adalah cara kerja atau logika sistem tersebut. Setelah tiga hari, kami mempresentasikan hasil dari pembelajaran atau penelitian kami selama tiga hari tersebut. Setelah itu, kami diberi tugas untuk mempelajari manajemen proyek dan materi-materi yang berkaitan dengan perkembangan teknologi. Tujuan diberi dua tugas ini adalah untuk menangkap dasar dari sistem yang telah dibuat oleh SABDA. Sistem ini dibuat untuk perkembangan teknologi masa kini dan masa yang akan datang, sebagai bekal yang akan membantu tugas-tugas kita ke depannya. Tahap pembelajaran ini berlangsung selama satu bulan (tiga minggu).

Setelah itu, kami dibagi menjadi tiga kelompok (dua orang per/kelompok) untuk mengerjakan beberapa bagian dari proyek “Alkitab Pintar” dan masing-masing kelompok diberi satu bagian. Saya berpasangan dengan David untuk mengerjakan Intelligent Search (pencarian pintar). Kami mengerjakan tugas kami sesuai dengan kemampuan dan pengertian kami, tetapi hasilnya belum sesuai dengan yang diharapkan SABDA sehingga kami diminta untuk memperbaikinya. Setelah beberapa kali konsultasi dan revisi ulang, tetap saja pekerjaan kami masih kurang baik. Namun, Ibu Yulia dan koordinator ITS, Hadi, dengan baik dan sabar memberikan pengarahan yang jelas agar dapat menyelesaikan proyek kami dan diperkenalkan dengan suatu hal, yang disebut Elastic Search. Elastic Search adalah sistem yang akhirnya kami pakai untuk melanjutkan proyek ini. Namun, sayangnya, kami tidak memiliki sisa waktu yang banyak untuk menyelesaikan proyek-proyek kami.

Bersyukur, ada ">staf SABDA, yaitu Pak Jeffrey, yang juga ingin mempelajari Elastic Search. Dan, kami (seluruh anak magang) diajak belajar bersama melalui kursus online yang telah dibeli oleh beliau. Setelah kami mengikuti dua kursus online dan melakukan uji coba, kami mulai mengerjakan lagi proyek kami. Untuk tampilan, kami disarankan dan diajarkan untuk menggunakan AngularJS yang digunakan dalam salah satu proyek Pak Jeffrey. Setelah mempelajari Elastic Search dan AngularJS, kami mendapat pengarahan tambahan, yaitu sistem rekomendasi, dengan menunjukkan sebuah demonstrasi sistem rekomendasi film yang menggunakan Elastic Search dari internet. Dari sana, saya dan David mempelajari cara kerja sistem rekomendasi film itu untuk membuat sistem rekomendasi ayat Alkitab. Pada saat memasukkan data, kami dibantu oleh Hadi yang menyediakan data sesuai dengan kebutuhan proyek yang sedang dikerjakan, yaitu isi ayat Alkitab dan referensi antar ayat yang mereka miliki. Dengan waktu yang terbatas, kami bekerja keras untuk menyelesaikan proyek ini, yaitu memasukkan semua data yang diperlukan dengan konfigurasi yang benar, mengatur tampilan, dan mempertajam sistem rekomendasi ayat Alkitab. Pada akhirnya, proyek kami dapat selesai dengan bantuan staf SABDA dan sesama anggota magang. Memang hasilnya belum sempurna, tetapi nanti akan diolah kembali oleh staf SABDA untuk proyek Alkitab Pintar.

Dari pengalaman magang di SABDA, saya dapat merasakan jalannya dunia kerja yang sesungguhnya. Saya mendapatkan pengalaman bahwa kemampuan untuk beradaptasi sangatlah penting dalam dunia kerja karena kita menghadapi lingkungan yang berbeda dari biasanya, dan banyak hal yang saya tidak pernah alami sebelumnya (seperti tuntutan kerja yang tinggi, segala sesuatu selalu berubah, dan sebagainya). Saya bersyukur kepada Tuhan karena dapat magang di Yayasan Lembaga SABDA dan menyelesaikan proyek yang diberikan. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua staf SABDA yang telah membantu kami menjalankan seluruh proses magang, juga dalam hal bersosialisasi, seperti menemani dan menerima kami sebagai anggota staf sementara. Semoga Yayasan Lembaga SABDA dapat dipakai Tuhan untuk terus melengkapi kebutuhan orang-orang Kristen di Indonesia dengan kebenaran firman Tuhan. Terus maju.

Mereka yang Haus pun Mengantre – Testimoni Roadshow SABDA di Surabaya

Tue, 09/05/2017 - 10:56

Oleh: *Jovita

"Weekend nanti waktunya istirahat," begitu pikir saya pada pertengahan minggu. Namun, ternyata Tuhan punya rencanalain yang jauh lebih indah daripada rancangan manusia, apalagi sekadar tidur siang akhir pekan. Dibawa-Nya kami, Ibu Yulia, Evie, dan saya untuk melayani di GKI Sulung Surabaya, 12 -- 13 Agustus 2017. Inilah perjalanan roadshow pertama saya bersama SABDA.

Terletak di daerah Alun-alun Contong, GKI Sulung merupakan GKI tertua di Surabaya. Desain interior aula kebaktiannya lumayan mengejutkan. Ketika gereja-gereja ortodoks biasanya mempertahankan gaya desain kolot yang simetris kanan kiri, tidak demikian halnya GKI Sulung. Dinding di belakang mimbar berhiaskan elemen kayu membentuk garis miring dari bawah ke atas dan sebaris pilar di sisi kiri yang tingginya juga berirama mengikuti garis miring itu. Kombinasinya memberikan kesan asimetris secara keseluruhan, tetapi tetap cocok dengan penempatan salib besar di tengah. Sebuah simbol Kristus sebagai sentral, pertumbuhan yang meningkat, serta kebaruan. Estetika inovatif ini -- setidaknya di antara gereja tua di Indonesia -- memanjakan mata desain yang rindu perubahan. Dengan perpustakaan yang cukup lengkap, kantin yang nyaman, serta lahan parkir indoor, tempat ini ideal untuk menjadi rumah kedua bagi jemaatnya, secara rohani maupun jasmani.

Di tepi lahan parkir itulah, yakni di depan perpustakaan, SABDA diberi tempat untuk menggelar booth tempat kami memajang produk-produk Alkitab audio(link) serta membantu instalasi aplikasi PA (Pendalaman Alkitab) SABDA untuk ponsel dan laptop, selama tiga kali kebaktian berturut-turut. Jadi, setelah Ibu Yulia memimpin jalannya ibadahdan berkhotbah, kami siap di lantai bawah untuk menyambut siapa saja yang mampir melihat dan mendapatkan bahan-bahan SABDA untuk pelayanan.

Ini bukan booth biasa karena semua yang tersedia diberikan secara cuma-cuma, tepat seperti pesan Yesus kepada murid-Nya. Inilah indahnya pelayanan kami, segala usaha "promosi" dan ramah tamah bukanlah topeng yang bertujuan untuk mencari keuntungan sendiri, melainkan murni demi "keuntungan" orang lain.

Hampir semua produk SABDA berbasis digital sehingga orang muda tentu sangat familiar dengannya. Namun ironis, mereka yang datang, dengan antusias menyisihkan waktu dan tenaga untuk mendapat sarana pembelajaran Alkitab digital justru bukan para digital native. Bapak, ibu, bahkan kakek-nenek usia senja yang sebagian besar hanya tahu cara menelepon dan mengetik, justru merekalah yang berwajah cerah dan mata berbinar yang dengan penuh semangat meminta aplikasi Alkitab untuk ponselnya, lengkap dengan tafsiran, kamus, dan aplikasi penunjang lain untuk belajar Alkitab. Merekalah juga yang mengisi tasnya penuh dengan DVD Alkitab audio berbagai bahasa, baik untuk didengar sendiri maupun dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan Injil. Mereka semualah yang selama ini -- sadar maupun tidak -- telah kami layani dari jauh lewat bahan-bahan teologi yang dirilis online. Berjumpa dengan mereka telah membuat kami melihat bagaimana karya yang kami kerjakan di kantor dapat menjangkau orang di luar sana, apa yang mereka butuhkan, apa yang bisa kami tingkatkan.

Melihat fenomena tersebut, saya sadar dunia digital adalah sebuah ladang misi, sama seperti kampung di pedalaman atau komunitas urban di luar negeri. Digital juga adalah sebuah bahasa dan budaya, sama seperti bahasa Afrika atau budaya Dayak. Jadi, menjangkau digital native adalah pekerjaan misi, tak kalah penting dibanding pekerjaan misi yang pergi secara fisik nun jauh ke sana. Kita para pendahulu harus belajar bahasa dan cara berpikir mereka untuk dapat mengantarkan Injil ke pulau digital agar generasi yang hidup di antara berbagai gawai yang tersedia berjumpa dengan Kristus. Terima kasih. Soli Deo Gloria!

Staf YLSA Mengikuti Training “Talent is Never Enough”

Thu, 08/31/2017 - 10:53

Oleh: Tika

Pada 22 -- 23 Juli 2017, saya beserta tiga rekan kerja saya di SABDA, yaitu Evie, Liza, dan Hadi, mendapat kesempatan untuk kembali mengikuti training kepemimpinan, training ini merupakan hasil kerja sama tim EQUIP dan tim TOTAL (Training and develOpment for TodAy Leader). Tema kali ini berjudul "Talent is Never Enough". Ini adalah tema terakhir dari enam seri tema training kepemimpinan yang diambil dari buku dan modul John C. Maxwell. Namun, bagi peserta yang belum mengikuti seluruh seri training ini, masih ada kesempatan untuk mengikutinya pada kesempatan berikutnya karena training ini akan terus berulang. Sementara itu, bagi peserta yang sudah menyelesaikan keenam training tersebut, seperti Evie dan Hadi, mereka mendapatkan mandat untuk membagikan ilmu yang didapat kepada orang lain dan ada kesempatan untuk mendapatkan sertifikat dari John C. Maxwell.

Pada training yang dibagi menjadi enam sesi ini, mentor yang mengajar tidak hanya Bapak Sunjoyo Soe dan Bapak Paulus Winarto, tetapi juga melibatkan dua pembicara dari tim TOTAL, Bapak Yusuf dan Bapak Ageng. Ini merupakan hal baru yang saya temui dibanding dengan training-training sebelumnya.

Banyak pelajaran yang saya dapatkan kali ini. Secara garis besar, training ini mengajarkan bahwa ada 13 hal yang dapat memaksimalkan talenta seseorang, yaitu:
1. Keyakinan: Untuk membangkitkan talenta kita.
2. Gairah: Untuk memberi energi talenta kita.
3. Inisiatif: Untuk mengaktifkan talenta kita.
4. Fokus: Untuk mengarahkan talenta kita.
5. Persiapan: Untuk memosisikan talenta kita.
6. Latihan: Untuk menajamkan talenta kita.
7. Ketekunan: Untuk mempertahankan talenta kita.
8. Keberanian: Untuk menguji talenta kita.
9. Kemauan untuk diajar: Untuk mengembangkan talenta kita.
10. Karakter: Untuk melindungi talenta kita.
11. Relasi: Untuk memengaruhi talenta kita.
12. Tanggung jawab: Untuk menguatkan talenta kita.
13. Kerja tim: Untuk memultiplikasi talenta kita.

Oleh karena itu, talenta saja tidak akan cukup jika seseorang tidak memandang tiga belas hal di atas, baik faktor internal maupun eksternal. Sesi terakhir ditutup dengan foto bersama, serta pemberian kenang-kenangan kepada setiap peserta yang telah mengikuti training kepemimpinan selama enam kali.

Saya pribadi belajar banyak, khususnya tentang persiapan (poin nomor 5). Dikatakan bahwa talenta akan membawa seseorang kepada permulaan, tetapi persiapan akan membawanya ke garis finish. Saya belajar bahwa persiapan yang baik selalu dimulai dengan memikirkan target, hal-hal yang dibutuhkan, serta tantangan yang akan dihadapi. Persiapan juga perlu mengevaluasi tujuan yang ingin dicapai dengan kenyataan yang ada. Selain itu, persiapan akan menuntut sikap yang benar, yaitu keyakinan pada diri sendiri, pada apa yang sedang dikerjakan, serta yakin bahwa Tuhanlah yang memampukan saya.

Kiranya setiap kita akan menjadi seorang servant-leader yang akan menjadi berkat bagi orang lain dan memuliakan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan Yesus memberkati.

Pemahaman yang Diubahkan — Konvensi Nasional Reformasi 500, Semarang

Mon, 08/21/2017 - 14:42

Oleh: Hilda

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan ikut Grand Concert Tour Jakarta Simfonia Orchestra yang diadakan di Solo. Saya sangat terkesan dengan pribadi Pdt. Stephen Tong yang sangat mengapresiasi musik serta cara beliau memanfaatkan setiap kesempatan untuk memberitakan Injil. Muncullah ketertarikan saya untuk mengenal lebih dalam tentang pengajaran reformed dan bagaimana pengajaran tersebut dapat mengubahkan pribadi dan sudut pandang beliau. Berangkat dari rasa penasaran tersebut, Tuhan menjawab doa saya. Saya diberi kesempatan bersama Ibu Yulia, Aji, dan Maskunarti untuk mengikuti acara Konvensi Nasional Reformasi 500 -- "Reformasi dan Dinamika Sejarah" yang diadakan di Hotel UTC, Semarang.

Acara dibuka dengan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Stephen Tong. Beliau menceritakan bahwa Semarang adalah kota tempat beliau mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang pertama, yaitu 66 tahun yang lalu. Sekarang Semarang dipilih untuk menjadi salah satu tempat memperingati 500 Reformasi. Semangat beliau saat ini tetap sama seperti 66 tahun yang lalu. Kiranya semangat ini membakar kembali semangat gereja untuk tetap setia kepada firman Tuhan.

Ada dua poin penting yang dikerjakan oleh Reformasi. Pertama, Tuhan merobohkan sistem gereja yang salah melalui pelayanan Martin Luther. Kedua, Tuhan membangun kembali sistem gereja yang benar melalui pelayanan John Calvin.

Sesi 1 dan 2 dibawakan oleh Pdt. Jimmy Pardede yang membahas tentang Soli Deo Gloria (Kemuliaan Hanya bagi Tuhan) dan Fungsi Gereja di Dunia. Pada zaman Marthin Luther, gereja mengajarkan bahwa Allah adalah hakim yang menghukum dan pemberi surga. Luther menentang konsep ini karena ia tahu bahwa Tuhan yang dikenalnya adalah Tuhan yang justru ingin dekat dan mengenal manusia lebih dari keinginan manusia untuk dekat kepada-Nya. Kedekatan inilah yang menghasilkan pertobatan, yang akan memampukan kita memaknai kemuliaan Allah yang tertinggi, yaitu menjadi yang terendah dengan mati di kayu salib. Saat itu, gereja yang seharusnya bertugas menyatakan Kristus di tengah-tengah jemaat malah sibuk mengurus soal materi duniawi.

Sesi 3 dan 4 dibawakan oleh Pdt. Ivan yang membahas tentang bagaimana Reformasi Protestan muncul dan bagaimana dampak sosialnya. Reformasi lahir karena adanya keresahan yang dikerjakan oleh Roh Kudus dalam diri orang-orang yang setia kepada Tuhan terhadap penyelewengan yang dilakukan oleh gereja dalam pengajaran dan praktiknya. Munculnya teknologi mesin cetak juga semakin mempermudah viralnya semangat perubahan sehingga semakin banyak jemaat yang menyerukan "REFORMASI!" Ketika anak-anak Tuhan mencintai Tuhan dengan mengerti firman-Nya, dunia akan diubahkan. "Gereja yang ber-impact" inilah tujuan utama Reformasi. Reformasi gereja tidak hanya berdampak pada gereja, tetapi juga dunia. Reformasi telah memengaruhi cara manusia bersikap terhadap dunia, etika kerja, supremasi hukum, demokrasi, kesetaraan, dan desentralisasi kekuasaan dll.

Pada sesi 5 dan 6, kami sempat dibuat tegang dengan pembahasan yang dibawakan oleh Pdt. Agus Marjanto karena beliau begitu berapi-api. Topik yang dibawakannya adalah Sola Scriptura (Only the word of God) dan Sola Christus (Only Christ). Berkali-kali beliau menegaskan bahwa isu sesungguhnya dari reformasi adalah pentingnya kata SOLA (Only). Gereja pada zaman Martin Luther mengakui Alkitab sebagai otoritas kebenaran, dan Kristus sebagai Juru Selamat. Namun, gereja tidak mengakui bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas bagi iman dan hidup orang Kristen. Gereja mengajarkan Alkitab tidak cukup. Karena itu, perlu ditambah dengan tradisi (banyak aturan gereja). Reformasi menegaskan bahwa karya Kristus telah sempurna dan satu-satunya untuk menyelamatkan manusia dari hukuman dosa dan Alkitab adalah satu-satunya otoritas final.

Kemudian, sesi 7 oleh Pdt. Antonius Un yang membahas tentang Sola Gratia (Hanya oleh Anugerah). Ada tiga aspek anugerah, yaitu anugerah kasih Kristus yang datang untuk mati menanggung dosa manusia, anugerah kasih Bapa yang merelakan Anak-Nya Yang Tunggal itu, dan anugerah kasih Roh Kudus yang dengan sabar membuka hati manusia untuk menerima keselamatan. Sesi 8 dilanjutkan dengan nonton bersama film kisah pertobatan Martin Luther yang memperjuangkan reformasi gereja dan penerjemahan Alkitab dalam bahasa Jerman.

Saya bersyukur bisa mengikuti dan belajar banyak dari Konvensi 500 Tahun Reformasi ini. Saya menyadari bahwa pemahaman tentang doktrin gereja saya sangatlah dangkal.Belajar dari sikap Luther, saya perlu lebih kritis terhadap pengajaran gereja, "Apakah gereja saat ini masih setia pada Alkitab?" Saat ini, gereja sebenarnya juga sedang menghadapi isu-isu yang sama, tetapi dengan kemasan "kekinian". Aplikasi yang paling praktis bagi saya adalah mendekat kepada Tuhan dengan menikmati firman-Nya sehingga saya tidak lagi diombang-ambingkan angin pengajaran. Ayo lahirkan reformasi baru! Tuhan Martin Luther adalah Tuhan kita juga! Ia bisa memakai kita seperti Ia telah memakai Luther!

Semoga tulisan saya ini dapat membangkitkan semangat dan menjadi berkat bagi pembaca setia Blog SABDA. Soli Deo Gloria!

Pengalamanku Mengikuti Progsif: Alkitab vs. Deuterokanonika

Fri, 08/11/2017 - 07:00

Oleh:*Jovita

Hari pertama Agustus 2017 belum berakhir, tetapi beberapa staf YLSA beserta enam mahasiswa magang dari Universitas Kristen Petra telah bersiap di depan kantor SABDA begitu jam menunjukkan pukul 18.00 WIB. Program Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) memang terlalu berharga untuk dilewatkan. Di jalanan yang tidak terlalu ramai, kami meluncur menuju hotel Megaland Solo, tempat acara diadakan. Di sana, saudara-saudara seiman yang rindu belajar kebenaran-Nya sudah duduk rapi menghadap layar proyektor yang sebentar lagi akan menampilkan "life-relay" seminar yang digelar di Surabaya.

Tepat pukul 18.30 WIB acara dimulai. Dengan intonasi yang tenang, tetapi tegas, Pdt. Aiter, M.Div. menyampaikan topik Alkitab vs. Deuterokanonika, sebuah tema sensitif yang tak lazim dibahas, baik oleh kaum Protestan maupun Katolik sendiri. Beliau mulai dengan menjelaskan istilah-istilah penting yang akan dipakai sepanjang pembahasan materi, antara lain kanon, protokanonika, deuterokanonika, apokrifa, pseudepigrafa, dan septuaginta (LXX).

- Kanon, secara harfiah artinya tongkat pengukur, merupakan ketetapan daftar kitab yang diakui sebagai firman Allah (diinspirasikan oleh Roh Kudus).

- Protokanonika adalah proses kanonisasi yang pertama (Yunani: protos - first). Protokanonika menetapkan atau mengakui kitab orang Yahudi (yang sekarang menjadi seluruh PL dalam Alkitab kita) sebagai firman Allah. Kitab Yahudi tersebut terbagi menjadi 3 kategori: Torah (T), Nebiim (N), Ketubim (K).

- Apokrifa mencakup kitab-kitab yang tidak diakui otoritas ilahinya dan ditolak dalam protokanonika.

- Deuterokanonika ialah kanonisasi kedua karena rupanya ada bapa-bapa gereja yang tidak puas dengan protokanonika. Mereka beranggapan ada kitab-kitab lain yang seharusnya diakui sebagai firman Allah. Maka, deuterokanonika memasukkan apokrifa ke dalam kanon mereka.

- Pseudepigrafa merupakan tulisan yang dibuat dengan mengatasnamakan orang lain yang berpengaruh pada zamannya.

- LXX adalah Alkitab PL versi bahasa Yunani (kitab-kitab Yahudi yang berbahasa Ibrani).

Para penulis Injil, rasul-rasul, bahkan Yesus sendiri, sering mengutip bagian tertentu dari kategori T, N, maupun K. Artinya, kitab protokanonika tersebut diakui keabsahannya, Tuhan mengonfirmasi semua sebagai Firman-Nya. Sementara, tak satu pun dari kitab Apokrifa pernah dikutip dalam PB. Pdt. Aiter mengupas satu per satu kejanggalan dan kontradiksi dalam Apokrifa, serta ucapan penting yang menjadi doktrin Katholik.

Pertama, ada Tobit yang mengklaim dirinya sebagai orang saleh. Ia mengaku pergi ke Yerusalem sendiri untuk merayakan ibadah pada hari raya Yahudi. Ia sering menguburkan mayat orang sebangsanya yang terhampar di tempat umum (dari sini muncullah keyakinan bahwa orang mati memerlukan pertolongan dari orang hidup). Belakangan, Tobit buta karena matanya tertimpa kotoran burung, sementara menantunya, Sara, kerasukan setan. Ia menyuruh anaknya, Tobia, pergi ke Gabael meminta perak yang pernah dititipkan dengan jaminan surat perjanjian tertentu (bentuk perjanjian semacam ini tak pernah dicatat dalam fakta sejarah zaman PL). Lalu, muncullah tokoh malaikat Rafael yang berbohong mengenai nama dan asalnya, ia mendampingi perjalanan Tobia (dari sini berkembang kepercayaan adanya malaikat pelindung). Padahal, tak pernah ada dalam kisah PL mana pun bahwa malaikat yang diutus Allah tinggal lama di bumi, bahkan berbohong. Dalam Tobit juga diajarkan bahwa bersedekah bisa melepaskan orang dari maut.

Selain itu, ada kitab Sirakh. Di sana, tertulis bahwa menghormati bapa (bapa manusia, bukan Allah) akan memulihkan dosa. Hal ini bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri.

Dalam 2 Makabe 12:42-43 muncul ajaran untuk mendoakan orang mati secara lebih eksplisit, serta uang persembahan untuk menghapus dosa.

Lalu, ada juga Tambahan Kitab Ester, yang banyak bagiannya justru bertentangan dengan Ester yang sudah ada. Misalnya, dalam kitab Ester dicatat bahwa Mordekhai tidak mendapat apa pun atas laporannya yang menyelamatkan nyawa raja. Baru belakangan ia diarak sebagai bentuk penghormatan. Sementara itu, Tambahan Ester menuliskan bahwa Mordekhai memperoleh hadiah besar atas tindakan tersebut.

Kitab Yudit sangat meninggikan seorang wanita Ibrani. Hal ini tidak pernah ada dalam kebiasaan maupun sastra Yahudi mana pun. Di sana dikisahkan Yudit berbohong, serta membunuh seorang pemimpin besar musuh Israel bernama Holofernes. Nama itu juga tidak ditemukan dalam catatan sejarah mana pun, berbeda dengan kisah Alkitab lain yang dapat dikonfirmasi lewat dokumen Timur Tengah Kuno.

Apokrifa sarat dengan nuansa mengutamakan perbuatan baik manusia, amal dapat menyelamatkan, dan sejenisnya. Pesan teologis ini bertentangan dengan kanon yang pertama. Secara struktur literer dan narasi peristiwa, banyak terdapat keganjilan. Itulah yang membuat sebagian orang menolak otoritas deuterokanonika meski banyak juga kelompok lain yang mengakuinya.

Sebagai orang beriman, hendaknya dengan tekun kita mempelajari Alkitab -- sebab dari sanalah iman timbul -- bukan hanya untuk memuaskan intelektual, tetapi demi mengejar pengenalan akan Allah dan Firman-Nya. Kiranya yang saya bagikan ini bisa menolong dan membukakan hati dan pikiran kita. Soli Deo Gloria!

+TED @SABDA: PEMURIDAN ABAD 21

Wed, 08/09/2017 - 07:00

Oleh: Davida

Tiga tahun terakhir dari masa hidupnya 33 tahun di dunia, Yesus memfokuskan pelayanannya untuk memuridkan 12 murid-Nya supaya mereka bisa melanjutkan tugas pelayanan yang telah dimulai-Nya di bumi. Sebelum Yesus naik ke surga, Dia memberikan perintah untuk menjadikan seluruh bangsa murid-Nya. Perintah ini berlaku bagi kita semua sampai hari ini, abad ke-21 ini. Sayangnya, masih banyak orang percaya dan gereja yang tidak melihat perintah ini sebagai panggilan utama orang percaya. Seiring perkembangan zaman, Amanat Agung Tuhan Yesus ini gaungnya semakin hilang dari pendengaran kita. Seorang yang sudah mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus dipanggil untuk menjadi murid-Nya supaya mereka pun bisa memuridkan orang lain. Seharusnya, ini menjadi hal yang alami terjadi dalam kehidupan pengikut Kristus sejati.

Melihat krisis pemuridan pada abad ke-21 ini, Yayasan Lembaga SABDA (YLSA) tergerak untuk menggaungkan kembali arti pemuridan dan bagaimana pemuridan dapat dilakukan dengan efektif pada era digital ini. Maka, pada 4 Agustus 2017, YLSA mengadakan +TED @SABDA dengan tema "Pemuridan Abad 21". Sebelum diadakan event ini, YLSA sudah memulai dengan membuat infrastruktur untuk mengampanyekan pemuridan melalui situs Murid21 dan komunitas @pemuridan21 (Facebook, Twitter, dan Instagram). Melalui infrastruktur ini, tubuh Kristus dapat berkolaborasi untuk mencari jawaban atas krisis dan kesempatan yang dikandung dalam pemuridan pada abad ke-21 ini.

Ada tujuh presentasi yang disajikan dalam +TED @SABDA Pemuridan Abad 21, yang materinya bisa didapatkan dalam situs murid21. Berikut ini adalah topik, pembicara, dan ringkasan dari ketujuh presentasi tersebut:

1. Arti Pemuridan Era Digital (Yulia Oeniyati)
Arti pemuridan secara alkitabiah dimulai dari Yesus yang mengundang manusia untuk mengikut Dia "follow me" (Mat. 4:19). Lalu, Ia melanjutkan dengan perintah agar kita juga mengikut teladan-Nya, membuat murid (Mat. 28:19-20). Itulah perintah terakhir yang Ia berikan agar kita semua mengerjakan pemuridan hingga hari ini.

2. Hilangnya Seni Pemuridan pada Era Digital (Hudiman Waruwu)
Pemuridan sangat penting. Setiap pengikut Yesus Kristus dipanggil menjadi murid dan memuridkan. Namun, pada era digital ini, pemuridan tidak dilaksanakan atau diprioritaskan dalam kehidupan berjemaat dengan berbagai alasan. Padahal, ada kesempatan besar untuk memanfaatkan era digital untuk pelayanan pemuridan yang bisa menjangkau siapa saja dan di mana saja dengan model dan modul yang sesuai kebutuhan konteks saat ini.

3. Pemuridan ala Kambium (Novita Andriani)
Kambium adalah metode pemuridan berbasis kurikulum yang menggunakan presentasi di kelompok besar untuk pemaparan pengajaran dan sharing di kelompok kecil untuk pelatihan penerapan dan evaluasinya.

4. Pemuridan ala U.K. PETRA Surabaya (David Kristian)
Pengalaman pribadi ketika terlibat dalam pemuridan di Universitas Kristen PETRA. Dalam pemuridan, saya mengalami dimuridkan dan memuridkan.

5. Kualitas Hidup Murid Menjadi Dasar Pelayanan Digital (Haryo K.A.)
Bahwa pelayanan digital sangat besar potensinya untuk menjangkau banyak orang dan akhirnya bisa memuridkan. Karena itu, pelayan Tuhan harus mau dimuridkan terlebih dahulu supaya dapat menjangkau orang lain. Hal ini penting untuk memperlengkapi hidup seorang murid yang hendak melayani di bidang ini supaya memiliki kuasa dalam pelayanannya.

6. Tantangan Era Digital terhadap Pemuridan (Elizabeth Nathania W.)
Setiap tantangan selalu menawarkan tersedianya peluang/kesempatan. Teknologi yang berkembang pada era digital juga menawarkan kesempatan yang besar dalam memenuhi Amanat Agung.

7. Pemuridan untuk Digital Native (Davida)
Pemuridan untuk digital native adalah panggilan bagi murid Kristus pada era digital ini. Digital native tanpa pemuridan alkitabiah adalah ancaman bagi masa depan gereja.

Saya dan teman-teman bersyukur karena acara +TED @SABDA ini dihadiri oleh hampir 100 orang. Wow, suatu "sinyal" yang bagus bagi gerakan pemuridan abad 21. Ditambah lagi, separuh dari yang hadir adalah generasi digital native (usia 24 tahun ke bawah). Sungguh menggembirakan!! Kiranya mereka mendapatkan pemahaman yang benar mengenai makna pemuridan dan bagaimana mereka HARUS melakukannya. Pertanyaan, "Apakah kita sudah menjadi murid?" dan "Bagaimana teknologi yang ada di tangan dapat menolong kita untuk menjalani proses pemuridan dan memuridkan generasi selanjutnya. Saya sendiri belajar banyak dari materi-materi yang sudah disampaikan. Intinya, pemuridan tidak hanya berbicara tentang program, tetapi sesuatu yang hidup dan berlangsung secara alami di sepanjang hidup kita sebagai pengikut Kristus. Pemuridan adalah perintah Allah bagi setiap orang percaya, dan teknologi diciptakan Allah untuk menolong agar pemuridan lebih efektif dijalankan.

Tahun ini, sudah tiga kali SABDA mengadakan +TED secara rutin setiap 3 bulan sekali, Penjangkauan yang Kreatif (Januari), Passion for Christ (April), dan Pemuridan Abad 21 (Agustus). Puji Tuhan! Pada Oktober 2017 yang akan datang, dalam rangka ulang tahun YLSA yang ke-23, SABDA akan mengadakan Seminar "Alkitab Pintar (Alkitab yang Terbuka)". Nantikan informasi selanjutnya, dan saya mengundang Pembaca Blog SABDA untuk mendoakan serta hadir dalam acara tersebut. Terima kasih.

Adaptasi Awal di Tempat Magang (SABDA)

Tue, 08/08/2017 - 10:20

Oleh:*David Kristian

Perkenalkan, saya David, salah satu mahasiswa dari U. K. PETRA yang sedang melakukan magang di YLSA sampai 24 Agustus 2017. Tidak terasa, sebentar lagi saya akan menyelesaikan masa magang di Yayasan Lembaga SABDA. Dalam blog ini, saya ingin membagikan pengalaman awal proses magang di YLSA.

Pada awal proses magang, perasaan saya campur aduk dan bingung. Saat mendaftar magang, kiriman email saya lama tak kunjung mendapat balasan, bahkan sempat membuat saya berpikir ulang tentang kemungkinan magang di SABDA. Akhirnya, surat konfirmasi dari SABDA saya terima. Saya sangat bahagia karena sekarang saya jelas mendapat tempat magang. Eh, ternyata pergumulan masih belum selesai karena dengan magang di SABDA, saya harus mengorbankan tanggung jawab pelayanan di kampus. Namun, saya tetap bersyukur karena saya menganggap keberadaan saya di sini sudah melalui penyertaan Tuhan yang memiliki rencana buat saya dan teman-teman di sini.

"Alkitab Pintar" merupakan dua kata yang akan menjadi tema besar magang kami di SABDA. Dalam pemikiran dan perkiraan saya, hal ini adalah topik yang mudah, hanya mengembangkan apa yang sudah ada dari Alkitab SABDA, yang pada dasarnya sudah cukup pintar. Memang kami sudah diberi gambaran besar tentang apa yang akan kami lakukan untuk Alkitab Pintar nanti. Namun, ternyata persepsi saya tentang Alkitab Pintar bisa dibilang salah, saya terus terpikir “pintar" itu apa maksudnya? “Apa beda smartphone dan handphone biasa? Apa yang membedakan pintar atau tidak? Apakah berarti mengerti apa yang kita mau, atau memiliki otak yang bisa berpikir sendiri dan mendatangkan kehancuran bagi umat manusia?" Jadi, kami harus mengerti dulu konsep Alkitab Pintar, lalu memikirkan apa yang akan kami kerjakan.

Pada 27 Juni 2017, kami berenam, yaitu David, Cenius, Andy, Wilson, Hendry, dan Teddy, berangkat ke SABDA. Pengalaman magang yang bakal kami lalui selama dua bulan akhirnya bisa mulai kami rasakan. Ekspektasi saya mengenai tempat magang ini sebetulnya sangat baik karena saya sudah mendapat cerita dari Ko Cleming bahwa SABDA adalah tempat magang yang menyenangkan dan akan menolong bertumbuh secara rohani. Banyak wejangan dan cerita dari ko Cleming yang membuat saya terkesan dan sangat menantikan proses magang di SABDA ini. Bisa dikatakan saya tidak mengalami kekecewaan yang berarti meskipun tidak semua pengalaman merupakan pengalaman yang positif. Kesan saat saya tiba di sini adalah tempat ini cukup baik. Namun, kesan ini tidak bertahan lama karena saya harus tidur di tempat yang tinggi (tempat tidur susun), padahal saya takut ketinggian. Pada hari pertama, kami juga mendapat sambutan kejutan dari segerombolan semut yang menetap di langit-langit kamar yang berasal dari pohon yang tumbuh di samping kamar kami.

Karena kami tiba pada dini hari dan ketidakmampuan kami untuk tidur nyenyak, maka hari pertama magang pun kami masuki dengan kebingungan. Ada hal yang sangat baru bagi sebagian besar kami, yaitu Pendalaman Alkitab setiap pagi. Setelah itu, kami mengikuti scrum bersama staf ITS . Sempat bingung dengan apa yang mereka bicarakan, tetapi akhirnya kami mengerti apa itu scrum. Kami juga menjalani orientasi HRD dan Administrasi serta dijelaskan apa saja yang harus kami taati. Sesudah itu, kami ada banyak sekali tugas untuk belajar, khususnya hal-hal yang akan membantu kami bisa mengerjakan bagian dari proyek Alkitab Pintar yang akan kami kerjakan selama magang di SABDA ini. Hal-hal yang harus kami pelajari kebanyakan merupakan hal yang baru bagi kami. Akan tetapi, saya sendiri merasa excited untuk mendapat hal yang baru dari magang ini. Jadi, bagi saya ini merupakan pengalaman yang menyenangkan.

Hari pertama magang berakhir. Kami kembali ke mess dan memiliki ekspektasi untuk bisa beristirahat dengan tenang. Ketika kami tiba di kamar, ternyata harus bergumul mengusir semut. Namun, sekali lagi ekspektasi tidak sesuai dengan realita karena kami disambut oleh teman setia lainnya, yaitu nyamuk dan tomcat. Meskipun kami sempat melewati hari-hari dengan kekhawatiran tentang magang dan serangga, kami bersyukur bisa melewati hari-hari dengan baik di sini.

Pengalaman magang kami di SABDA tentu saja tidak bisa dilepaskan dari bertemu dengan para Staf YLSA. Staf di SABDA menyenangkan dan friendly. Dari pertama datang, saya merasa disambut dengan baik. Pertanyaan yang kami lontarkan seputar pekerjaan kami, ataupun seputar Solo dijawab dengan ramah, dan mereka beberapa kali mengantar kami makan dan menunjukkan tempat makan yang mereka rekomendasikan. Saya baru tahu juga ternyata makanan di Solo enak dan murah (bila dibandingkan dengan Surabaya tentunya), sampai-sampai saya bahagia dan makan banyak karena makanannya menggoda sekali.

Bersyukur saya menjalani hari-hari di Solo dengan baik. Saya bisa menikmati setiap hal baru yang Tuhan izinkan saya lakukan. Berharap melalui proses magang di SABDA dan beberapa waktu tinggal di Solo, saya boleh mendapat pengetahuan baru dan beradaptasi dengan budaya di kota ini. Kiranya tulisan saya ini memberkati para pembaca setia blog SABDA. Tuhan Yesus memberkati.